
"alesha apakah mulutmu juga sariawan? Sejak tadi kau hanya ham hem ham hem menjawab pertanyaanku. Menyebalkan!"
Jelas mas denis yang langsung teoat menuju topik permasalahan baginya tanpa adanya lagi basa basi.
"aku baik-baik saja mas" jawabku dengan kalimat karena aku tak ingin mas denis terus-terusan mengira aku sakit apalagi sariawan.
Mas denis langsung menuju nakas dimana ia yakini handphone nya tertinggal disana. Jantungku berdegup hebat, banyak doa ku panjatkan dalam untuk kebaikan diriku sendiri. Aku semakin membulatkan mata seraya detak jantung yang sudah tak beritme lagi saat mas denis meraih benda pipih itu.
"hmmm kenapa bisa ceroboh sekali aku meninggalkanmu disini" celotehnya yang membuatku langsung meleleh karena dia hanya menghidupkan layar utama handphonenya dan berbicara dengan handphone itu layaknya orang gila.
Aku menghela nafas lega meskipun sebenarnya nafasku masih sangat memburu.
"hey kamu kenapa? Apa naik tangga dari bawah kesini membuatmu menjadi ngos-ngosan seperti itu?"
Tanya mas denis saat mendapati aku yang sedang mengatur ritme nafas yang tak beraturan.
Aku menyunggingkan senyum yang kupaksakan. Orang sepertinya memang begitu mudah menyimpulkan sesuatu yang hanya terlihat oleh mata terbuka tanpa mau peduli apalagi bertanya baik-baik apakah yang sebenarnya terjadi.
Mas denis meninggalkan ku dan melupakan handphone nya itu untuk membersihkan diri. Aku menghela nafas panjang bahkan rasanya nyawaku hampir tercabut dari raga.
"benar-benar memicu adrenalin saat berhadapan dengan mas denis" ucapku saat ku fikir mas denis telah masuk kedalam kamar mandi.
"alesha kau memanggilku?" sahutnya yang ternyata masih mendengar suaraku dengan samar.
"eng_enggak mas" jawabku lalu beralih menjauh darinya.
Tak henti-hentinya aku merotok kecerobohanku yang hampir saja nyaris merenggut kepedulian dan kebaikannya. Entah semua itu ia lakukan dengan tulus atau terpaksa, setidaknya aku merasa bahwa aku akan tetap baik-baik saja saat melihat ia selalu bersikap seperti ini.
.
Ritual mandi mas denis pun telah usai. Ia memilih duduk di sofa setelah selesai memakai pakaian santai yang sudah ku siapkan.
"alesha, ambilkan handphoneku!"
Titahnya dengan nada sedikit meninggi karena ia tau bahwa aku pasti sangat fokus ketika sedang membaca novel seperti sekarang ini.
Jantung ku kembali berdetak hebat, bahkan kali ini sudah bisa ku bilang sedang berdentum hebat. Dengan langkah gemetar ku mengantarkan handphone itu ke hadapannya.
Mas denis segera meraih handphone itu dan mulai menyalakan layar utama. Andai jantung ini buatan manusia, mungkin saat ini jantung dan organ tubuhku lainnya sudah berserakan entah kemana. Karena kakiku pun terasa begitu lemah seperti tak bertulang saat ku lihat mas denis mulai membuka satu persatu aplikasi di handphonenya .
"jhon?" ucapnya lirih namun masih tertangkap jelas oleh indera pendengaranku.
"astaga apa mas denis sudah melihat jika tadi jhon menelphone?" batinku meraba-raba apa yang sedang ia lihat.
Tak lama kemudian ku dengar suara panggilan terhubung yang sedang dilakukan mas denis.
Apa mas denis menelphon jhon untuk menanyakan apa yang tadi ia sampaikan?
tapi bukankah mas denis memang berhak tau mengapa tadi jhon menghubunginya?
Alesha, kau harus siap untuk mengatakan yang sebenarnya jika memang pada akhirnya nanti mas denis akan tau. Berdamailah dengan takdir alesha, percayalah semua sudah kehendak Sang Maha Kuasa.
"hallo, kenapa jhon?" tanya mas denis saat suara panggilan terhubung itu telah berganti dengan suara tegas yang tadi ku dengar.
"ada problem dalam perusahaan yang dipimpin sepupu mu !" jelas jhon.
"maksud mu danang?" tanya mas denis.
"iyalah, siapa lagi sepupu yang kau percayai untuk menghandle salah satu perusahaanmu dinegeri ini" sahut jhon kesal.
Jhon memang sangat kesal jika membicarakan tentang danang yang begitu denis percaya untuk memegang kendali salah satu perusahaan miliknya. Jhon yang telah mengenal lebih jauh siapa danang memang tak pernah setuju jika denis membiarkan danang menghandle perusahaan yang sudah susah payah orang tua denis bangun.
Namun rasa iba yang dimiliki denis terhadap kakak sepupunya itu jauh lebih besar sehingga ia tak menghiraukan perkataan jhon yang dulu ia kira bahwa jhon hanya iri dengan danang atas kepercayaan yang ia berikan.
"bodoh !! Danang itu kan kakak mu jhon!!" sahut denis menimpali perkataan jhon yang terdengar begitu ketus kepadanya.
"itu dulu sebelum namanya ku hapus dari kartu keluarga" sahut jhon yang membuat denis tak tahan untuk tidak tertawa.
Sedangkan disebrang sana jhon mendengus kesal mendengar tawa denis yang secara tak langsung sedang mengolok-olok dirinya.
Jhon dan danang memanglah bersaudara. Mereka memiliki satu ayah namun berbeda ibu. Itulah salah satu alasan mengapa danang dan jhon tak pernah bisa akrab layaknya saudara kandung.
Ibu danang memang lebih dulu menikah dengan ayah mereka. Namun setelah danang berusia 5 tahun, ibu jhon datang menemui ayah mereka yaitu pak lukman dan mengaku tengah mengandung anak hasil hubungan gelap antara dia dan pak lukman. Alih-alih tak bisa menerima kenyataan, ibu danang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Sejak saat itu danang sangat membenci jhon dan ibunya begitupun sebaliknya. Namun semua itu tak berlaku bagi denis. Karena menurut denis. Danang tetaplah kakak sepupunya yang pertama, yang lebih dulu ia kenal. Ayah mereka kakak beradik dan sejak kecil denis cukup mengenal danang dengan baik. Oleh sebab itu, bagi denis danang dan jhon tak memiliki perbedaan karena mereka berdua adalah anak dari pamannya.
Jhon sudah banyak mengetahui semua keburukan danang. Namun, denis tak pernah mempercayai itu karena menurutnya danang selalu bersikap baik dengannya. Hingga ia lebih mempercayai danang untuk menghandle salah satu perusahaannya itu.
"lalu apa problem yang sedang dialami danang diperusahaan cabang?"
Tanya denis dengan santai karena baginya itu hanya salah satu bagian dari permasalahan kecil yang selalu ia hadapi.
"perusahaan cabang hampir bangkrut karena uangnya dibawa kabur oleh sekretaris pribadinya. Lihatlah, betapa bodohnya dia memilih sekretaris hingga bisa ditipu ratusan juta seperti itu"
Danang membulatkan mata. Padahal ia pun cukup mengenal siapa yang menjadi sekertaris danang di perusahaan cabang.
"suruh danang menemui ku sekarang!" titah denis tanpa mengingat bahwa dua kaka beradik itu tak pernah akur.
"lo suruh aja sendiri, gue mau tidur!"
Sahut jhon karena ia malas untuk menghubungi danang.
"jhon...!! Sekarang atau gaji lo gak akan turun!"
Ancam denis tanpa memikirkan bagaimana caranya jhon akan meminta danang untuk menemuinya.
"baiklah" jawab jhon malas.
Mas denis segera menutup panggilan telphon mereka. Wajahnya berubah menjadi kesal di selimuti kabut amarah. Aku dapat melihat bagaimana perubahan ekspresinya sebelum dan setelah menerima telpon. Apakah sedarurat itu? Gumam ku tanpa mau bertanya langsung dengannya.
.