I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 18



Cukup lama aku merenungi nasib yang terkadang membuatku hampir gila karena depresi. Ternyata kebahagiaan itu tak selalu bersumber dari ekonomi. Meski kini perekonomianku sudah sangat membaik, namun hatiku tetap saja terasa sepi.


Semua berbanding terbalik dengan hidupku yang dahulu. Meski perekonomianku saat itu begitu sulit tapi hatiku selalu ceria karena kebebasan yang ku terima.


Aku menoleh pada sebuah pintu toilet yang baru saja terbuka. Terlihat seorang wanita muda keluar dari dalam sana sambil memegang kepalanya.


aku menatap lekat wanita yang sepertinya tak asing lagi bagiku.


"mbak tolong ambilkan tisu" pintanya padaku yang masih terpaku menatapnya.


"oh iya" aku mengulurkan beberapa lembar tisu ke arahnya.


"maaf, hidung anda kenapa berdarah? " tanyaku saat melihat hidung wanita itu mengeluarkan darah segar.


"hah.." wanita itu nampak terkejut lalu berdiri disampingku dan menghadap kaca besar didepannya.


"yaAmpun" keluhnya sambil mengelap aliran darah itu dengan tisu.


Aku yang merasa mual karena melihat darah, memilih untuk pergi menjauh dari wanita itu.


Kakiku terus melangkah bersamaan dengan otak yang terus berusaha untuk mengingat wanita muda itu yang sepertinya pernah ku lihat tapi tak tau entah dimana. Kucoba berkali-kali memutar memori yang pernah terekam dalam ingatanku untuk menemukan siapakah wanita itu, namun ternyata aku kesulitan untuk mengingatnya.


tiba-tiba aku menoleh ke arah toilet yang sudah ramai orang berkerumun.


"mas kenapa?" tanyaku pada salah satu pertugas gedung yang juga ikut berlarian kesana.


"ada wanita pingsan mbak" jawabnya lalu pergi untuk membantu mengangkat wanita pingsan yang ku duga wanita itu adalah wanita yang tadi bertemu ku.


sejenak langkahku terhenti sambil menatap satu persatu orang yang berhambur mendatangi wanita itu. Sepertinya wanita muda tadi menjadi salah satu tamu penting dalam pertemuan ini.


Mataku tertuju pada sesosok wanita parubaya yang nampak cemas ikut berlarian kesana. Bersama seorang pria yang lebih dulu berlari didepannya wanita itu pun terlihat begitu khawatir saat tau bahwa ada seorang wanita yang pingsan di area toilet.


Mataku seolah terpaku dengan wanita parubaya yang bertubuh ramping terawat itu. Belum lagi sepertinya keadaan ekonomi yang menunjang penampilannya memperlihatkan wanita itu jauh lebih muda dari usianya.


"ibu..." gumamku lirih saat mendapati wanita yang berlari itu mirip seperti ibuku. Walau dia telah meninggalkanku sejak kecil, namun sosok wajah nya tak mungkin bisa terhapus begitu saja.


bagai kembali tertampar oleh kenyataan saat ku bertemu kembali dengab wanita yang sudah hampir ku lupakan. Memori alasan ibu meninggalkanku dan bapak satu per satu mulai bermunculan. Jujur aku sangat membenci hal itu !!


"ahh gak mungkin ! Pasti aku salah lihat !!" aku mensugesti otakku yang bekerja lebih keras. Meski hatiku sangat yakin bahwa ia adalah ibuku yang pergi puluhan tahun lalu namun fikiranku seolah menolak ingatan itu .


.


"hey kamu kenapa malah diam disini !!"


Aku menoleh pada mas denis yang tiba-tiba sudah berada didekatku.


"mas, ngapain kesini?" tanyaku padanya.


"nyariin kamu !" sahutnya.


"kamu ngapain berdiri disini ???!" tanyanya dengan tatapan tajam mengintimidasi .


"disana ada yang pingsan" netra mataku mengarah kerumunan orang yang mulai berhambur bubar setelah si tersangka wanita yang tak sadarkan diri tadi sudah diamankan dan dibawa ke rumah sakit terdekat.


"ku fikir kamu yang pingsan !"


cetus mas denis lalu berjalan kembali ke tempat duduk kami tadi. Aku mendengus kesal setelah menyadari jika ternyata mas denis mencariku bukan karena sepenuhnya ia merasa perhatian melainkan karena ia mengira bahwa aku lah wanita yang pingsan ditoilet tadi.


.


Kami kembali ke hotel setelah acara demi acara usai dilewati. Namun setelah pertemuanku dengan ibu, fikiranku menjadi terusik dan tak fokus lagi untuk menyimak setiap sambutan yang di bicarakan oleh para pembisnis tadi diatas podium.


"kamu kenapa?" rupanya mas denis memperhatikan perubahan sikapku yang lebih banyak diam dan melamun sejak mengikuti acara tadi.


"eng_enggak apa-apa" jawabku memalingkan wajah agar tak dapat terbaca kebenaran yang sedang ku sembunyikan.


"sejak tadi ku perhatikan kamu seperti sedang dalam masalah"


"aku baik-baik saja" jawabku datar sambil terus berpaling darinya.


"apa jangan-jangan kamu yang telah membuat wanita di toilet tadi pingsan ???"


Entah mendapat angin jahat dari mana mas denis tiba-tiba saja menuduhku seperti itu.


"heh mas... Memang mas kira aku sekriminal itu !!!" sanggahku tak membenarkan asumsi buruknya tentangku.


"ya habis kamu jadi berubah setelah melihat kejadian tadi"


Bahkan aku benar-benar terheran ketika mas denis terlalu memperdulikanku seperti ini. Mungkin ini bukan lebih ke peduli, melainkan lebih ke mengintrogasi.


aku memilih kembali terdiam karena saat ini hati dan otakku sedang berseteru memperdebatkan siapakah wanita tadi ?


Lalu siapa wanita muda yang tadi pingsan di toilet?


Kenapa wajah wanita itu terlihat begitu cemas dan memburu ??


Otakku seolah menjadi terbebani dengan banyak pertanyaan yang membuat kepalaku menjadi terasa nyeri.


sedangkan mas denis sesekali melirikku dengan tatapan aneh.


.


Aku segera masuk ke dalam hotel setelah merasa tak sanggup untuk berlama-lama larut dalam perang antara otak dan hati.


Aku ingin terlelap agar terhempas semua ingatan tentang masa lalu yang aku kira tak akan terputar kembali. Aku segera merebahkan tubuhku tanpa lagi peduli pada mas denis yang masih merasa aneh dengan perubahan sikapku.


.


.


lima hari sudah kami berada di bali. Rasa jenuh di pulau yang menawan ini sudah sangat tebal menyelimuti hati. Terlebih mas denis yang selalu sibuk dengan rutinitasnya dan memaksaku harus mengurung diri selama disini.


Pagi ini, seperti mendapat terpaan angin sejuk tengah menyapu tubuhku yang sudah panas bahkan hampir mendidih sampai ke ubun-ubun karena kelamaan terkurung diruang sepi .


Mas denis tiba-tiba mengajakku mengunjungi sebuah pantai terkenal yang menjadi salah satu rekomendasi destinasi wisata hingga ke mancanegara yang ada dipulau ini.


"memang mas hari ini libur?"


aku sekedar berbasa basi untuk menanyakan hal yang sebenarnya tak penting bagiku. Yang aku tau bahwa saat ini hatiku merasa begitu bahagia. Sepertinya mas denis memang sengaja memberi kejutan padaku yang ku fikir mungkin selama disini aku akan menjadi assisten pribadinya saja.


"aku juga butuh healing, tak selalu bergelut dengan lembaran berkas yang setiap hari aku baca" jawab mas denis.


"huuft aku fikir mas sudah tak memperhatikan kewarasan mas lagi"


aku menghela nafas lega karena yang selama ini ku lihat mas denis seperti orang kesurupan dalam bekerja. Dia benar-benar tak lagi ada waktu untuk sekedar berjalan-jalan seperti ini apalagi menghabiskan waktu berdua denganku. Meskipun baginya aku hanya replika boneka yang bernama yolanda. Namun setidaknya aku butuh waktu berdua dengannya karena aku adalah boneka yang berhati dan bernyawa.


"jadi kamu fikir selama ini aku gila?"


Ternyata mas denis salah mengartikan tentang ucapanku untuk tetap menjaga kewarasannya.