
Bagaimana bisa aku menganggap diriku pernah melukai dokter citra? Karena menurutku , pernikahan mas denis denganku yang telah membuatnya kecewa.
Aku pun turut merasa bersalah dalam hal ini. Karena dapat kulihat dari tatapannya tadi, masih tertinggal sisa-sisa cinta untuk mas denis di sorot matanya.
"baiklah. Ini obat yang harus anda tebus. Dan ini saya beri resep obat salep yang harus dioleskan di bagian kewanitaan istri anda. Sebaiknya anda harus dapat membantu istri anda menjaga pola makan dan rutin meminum obat agar lekas membaik"
saran dokter citra yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"baik dok" jawab mas denis yang kemudian menjabat tangan dokter citra
"saya tau tuan, anda pastinya tidak akan mau untuk berlama-lama berpuasa bukan?" dokter citra terkekeh wajahnya merona saat menggoda mas denis dengan candaannya.
Mas denis pun tersenyum simpul sambil berjalan beriringan mengantar dokter citra keluar rumah.
"terimakasih telah mengundang saya datang kemari. Semoga kerja keras anda segera membuahkan hasil" ucap dokter citra dipenghujung jalannya yang sudah tiba di teras rumah.
Mas denis mengerutkan dahi tak paham arti pembicaraan dokter cantik itu.
"maksud saya, semoga kalian cepat mendapatkan momongan. Dan ingat ! Pelan-pelan saja karena jika memang sudah dipercaya kalian pasti akan mendapatkannya"
dokter citra terkekeh, entah dengan perasaan getir atau tulus mendoakan. Setelah itu ia masuk kedaam mobil dan meninggalkan pelataran rumah kami.
.
.
mas denis kembali menemui ku yang masih terdiam di balik selimut.
"mau makan?" mas denis mendekat ke arahku dengan memberikan tawaran itu. Aku menggeleng, karena memang tak memiliki selera makan seperti biasanya.
"sebaiknya kamu makan dan setelah itu minum obat. Karena dokter citra bilang, dengan rutin meminum obat itu akan membuatmu lebih cepat pulih" kali ini tawarannya berubah menjadi perintah.
aku mengangguk tak mau lagi berdebat apapun dengannya.
"bagus..! Pak kirman sedang aku suruh ke apotek membeli obat untukmu"
Aku hanya mengangguk kembali tanpa berbicara sepatah katapun.
Mas denis membawa nampan berisi bubur ke arahku dan bersiap untuk menyuapiku. Aku merasa bahwa ini bukanlah mas denis yang ku kenal. Bahkan aku merasa takut jika dibalik perlakuan baiknya ini terselubung niat jahat untukku malam nanti.
"aku bisa makan sendiri"
Ucapku seraya meraih nampak yang berada di tangannya.
"baiklah" ucapnya tanpa menahan nampan itu.
Mas denis memilih duduk di sofa sambil melihat aku menyantap makananku sendiri.
tok tok tok
mas denis membuka pintu kamar yang diketuk oleh seseorang. pak kirman nampak tengah berdiri disana sambil membawa beberapa bungkus obat untukku.
"ini obat nya tuan" ucapnya sambil menyerahkan plastik obat itu.
"terimakasih" mas denis segera meraih obat itu dan kembali menutup pintu kamar.
ia meletakkan plastik obat itu diatas nakas samping ranjang tidur.
"minum obatnya dan istirahatlah" titahnya kembali acuh padaku. Mas denis pergi dari kamar begitu saja setelah mendapat anggukan dariku.
Aku yang sudah terbiasa dengan perlakuannya hanya bisa diam dan menuruti semua perintahnya.
Aku berjalan menuju kamar mandi meski dengan menahan sakit ini. Aku ingin mandi karena rasanya tubuhku begitu gerah, membuatku kesulitan untuk terlelap.
"kamu kamu kemana?" tanya mas denis yang barus saja masuk kedalam kamar dan langsung menyambar menompang tubuhku yang terhuyung bahkan hampir terjatuh.
"mandi" jawabku singkat.
"kenapa tidak memanggilku !!" ucapnya.
"aku bisa sendiri " jawabku
"bahkan disaat kamu hampir terjatuh seperti ini kamu masih bisa berkata aku bisa sendiri ?? Keras kepala !" umpatnya tapi dengan tangan yang tetap menuntunku berjalan ke kamar mandi.
aku terdiam, diaaat tubuhku tak berdaya seperti ini aku malas membuang-buang energiku dengan perdebatan.
" aku bantu mandikan" titahnya.
"aku bisa sendiri !!" sahutku
"aku tak suka dibantah !"
"mas mau apa?" bahkan disaat seperti ini aku merasa trauma bahwa mas denis akan melakukan hal gila seperti semalam lagi.
"aku ingin Membuka bajumu. Atau kamu ingin mandi basah-basahan?" ujarnya dengan tatapan tajam menatapku.
"sudah ku bilang aku bisa mandi sendiri. Cukup tunggu aku diluar dan bantu aku ketika telah selesai !" aku menaikkan nada bicaraku satu otaf dari sebelumnya.
"baiklah" mas denis menyerah dan menjauh dariku yang mulai naik darah.
"keras kepala" gumamnya lirih namun masih terdengar di telingaku.
bahkan aku tak peduli ketika dia menganggapku keras kepala atau pembangkang sekalipun. Perlakuan kasarnya benar-benar menyimpan rasa trauma tersendiri terlebih ketika aku mengingat betapa sakitnya luka ini.
Aku sedikit meringis saat air yang kusiramkan ditubuhku membuat lukaku semakin terasa perih.
mas denis pun berjalan kesana kemari menunggu ku usai membersihkan diri. sebenarnya ia cemas dan ingin membantuku namun dengan tegas aku menolak tawarannya itu.
"apa sudah selesai?" tanyanya yang sudah ia lontarkan entah berapa puluh kali saja sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"sebentar lagi" jawabku yang sedang bersusah payah meilitkan handuk ke tubuhku.
"sudah" lanjutku yang mulai melangkah perlahan membuka pintu untuknya.
"ayo aku bantu" mas denis menuntun langkahku dengan sangat telaten. Bahkan aku seperti tak mengenali sosok lelaki disampingku ini.
Terlintas dalam benakku apakah ini bukan mas denis yang aku kenal? Atau ini hanyalah jin yang menjelma menyerupai mas denis?
Aku kembali menatap ke wajahnya. namun wajahnya persisi mas denis sesungguhnya.
"kenapa? Jangan menatapku seperti itu" aku segera menoleh mengalihkan pandanganku.
"aku hanya memastikan"
sahutku.
"memastikan apa?" tanya nya
"memastikan apakah kamu benar mas denis atau bukan" jawabku polos apa adanya.
"hey, apa kamu fikir aku setan?" tanya nya balas menatapku tajam
"bisa saja" sahutku sekenanya.
"mana ada setan setampan aku"
Bahkan kali ini jawabannya tak seperti mas denis yang arogan ataupun dingin seperti biasanya.
Aku malah menjadi sedikit merinding ngeri saat harus satu kamar dengan lelaki ini.
Apa mungkin mas denis memiliki dua kepribadian yang berbeda?
Kali ini otakku memberi asumsi lain. Aku menggelengkan kepalaku perlahan yang sepertinya mulai konslet karena kelamaan terkurung dalam penjara tak kasat mata.
"yaTuhan jangan biarkan aku gila diusia muda" gumamku lirih namun ternyata mas denis masih mendengarnya.
"siapa yang gila?" tanya nya semakin menatapku dengan tatapan mengintimidasi.
"eh bukan" sahut ku menjadi salah tingkah.
"mas aku mau duduk disitu" aku mengalihkan pembahasan yang akan memancing amarahnya dengan meminta duduk di depan meja rias.
"duduk diatas tempat tidur, aku akan membantu mengobatimu !" tolaknya dan tetap menuntunku ke tempat tidur.
"tapi mas aku bisa minum obatku sendiri" sahutku merasa aneh ketika aku dianggap orang yang sakit sangat parah.
"bukan untuk diminum!"
"terus?"
"perintah dokter citra obat salep itu khusus dioles dibagian kewanitaanmu. Dan aku akan membantu mengoles nya" jelas mas denis.
"apaaaa...???"
Aku terkejut saat mendengar ia akan membantu mengoles salep ke bagian kewanitaanku yang membengkak itu.
.
.