I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 19



"ehh enggak gitu mas" aku menggaruk tengkuk leher yang tak gatal.


"duhh bisa gatot ini kalo mas denis sampai marah" batinku.


mas denis memilih diam setelah ia menyalah artikan maksud perkataanku.


"mas ayo, aku sudah siap"


Ajakku yang sudah berdiri didepannya. Mas denis segera beranjak dan berjalan mendahuluiku. Aku menghela nafas lega karena mas denis tak jadi membatalkan refreshing ini.


.


.


Hembusan angin pantai menyapu tubuhku. Membelai rambutku dengan mesra. Deburan ombak pun seolah menyambut kedatanganku dengan suka cita. Lambaian pepohonan seolah menyapa diriku dengan manja. Bertepatan dengan cuaca cerah secerah hatiku. Langit biru begitu kontras dengan warna air laut yang juga senada.


Aku merentangkan kedua tangan seraya memejamkan mata. Kali ini semua penat dan lelah yang selama ini tertumpuk dan terpendam dalam tubuhku seolah terhempas dan menghilang untuk sementara waktu.


Tanpa ku sadari mas denis yang sejak tadi berdiri di sampingku sedang tersenyum melihat ku yang begitu lepas tanpa beban.


Andai bisa ku kendalikan waktu, ingin sekali rasanya ku tekan tombol jeda di suasana seperti ini. bebas lepas laksana burung seperti kehidupanku yang dulu. Bahkan selama menikah baru kali ini aku rasakan ikatan tali pada leherku seperti terlepas tak lagi membelenggu.


Entahlah, mengapa aku selalu saja merasa bahwa mas denis mengikatku dengan sangat erat. Menjadikanku sebuah wayang yang harus selalu bisa ia mainkan setiap saat sesuai keinginan hatinya.


.


Saat ini, aku seperti sedang mengadukan keadaan dan keluh kesahku pada alam. Karena selama ini tak ada lagi tempatku untuk bercerita. Tak ada yang mengerti hati ini. Yang mereka lihat bahwa hidupku sudah bahagia.


Setelah cukup lama aku meresapi kebahagiaan seperti ini. Aku membuka mata dan tanpa sengaja ku lihat mas denis tengah menatapku dalam meski dari kejauhan. Teenyata selama mataku terpejam mas denis memilih untuk menyingkir karena terik matahari membuat kulitnya seperti terbakar. Semua itu berbeda dengan aku yang tengah bahagia hingga tak menyadari bagaimana rasanya terik matahari.


"mas" aku berjalan ke arahnya yang tengah duduk ditemani sebuah es kelapa muda.


"kok aku gak diajak minum es !" aku merajuk sambil menyilangkan kedua tangan didada.


"salah siapa kamu tiba-tiba langsung berjemur seperti tadi"


sahut nya sambil menyedot air es kelapa muda yang membuat tenggorokanku naik turun karena ingin merasakannya juga.


"jahat banget !!!" umpat ku kesal "yasudah aku beli sendiri" lanjutku sambil berjalan meninggalkan mas denis. Dalam hati aku sangat berharap mas denis akan mencegahku dan berkata "kamu tunggu sini, biar aku yang beliin" tapi itu semua hanyalah mimpi disiang hari yang tak kan terjadi. Karena realitanya mas denis tetap menikmati es buah kelapa muda miliknya tanpa memperdulikanku yang berjalan dibawah terik seorang diri.


.


"bang es kelapa muda satu ya"


Aku menghapus peluh di dahi hingga ke pelipis mata. Bayangan merasakan sentuhan dingin es bercampur segarnya air kelapa muda seolah sudah menari-nari di rongga mulutku.


sambil menunggu pesananku selesai dibuatkan. Aku mengambil beberapa gambar pada spot foto yang terlihat estestik dan bagus untuk ku dokumentasikan.


"ini mbak" pedagang es tersebut menyodorkan sebuah es kelapa muda kepadaku.


"terimakasih" aku memberikan selembar uang limapuluh ribu kepada pedagang itu.


.


Aku berjalan tergesa-gesa karena ingin segera duduk bersantai bersama mas denis. Karena moment seperti ini jarang sekali aku dapatkan bahkan sudah termasuk dalam kategori salah satu moment langka.


Bukan untuk mencari perhatiannya tapi setidaknya aku ingin menjalin hubungan yang baik sebagai pasangan suami istri.


"aduuuhhhh" tiba-tiba aku kehilangan fokus saat berjalan karena asyik melihat ke sekitar yang pemandangannya memang sangat mencuri perhatian.


"maaf nyonya" aku mendongakan kepala setelah meraih handphone yang tadi tersungkur ke bawah. Untunglah, tak ada pecah ataupun kerusakan karena memang pasir nya begitu lembut seolah menangkap handphone ku dengan mesra.


Sejenak aku terpaku menatap wanita yang tadi bertabrakan denganku.


"ibu....."


Gumamku lirih nyaris tak terdengar saat menatap wanita yang waktu itu pernah ku temui saat acara dinner di sebuah gedung bertepatan dengan adanya seorang wanita yang pingsan.


aku merasakam getaran hebat di hatiku yang tiba-tiba menjadi begitu sendu. Masih sekuat itukah ikatan batin antara aku dan ibu meski kami telah lama terpisah.


wanita parubaya itupun menatapku lekat seolah menelisik wajahku dengan dalam. Mungkin ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari wajah dan tubuhku. Namun aku yakin ia tak kan pernah lupa dengan ku anak kandungnya.


alesha kecil yang dulu memiliki tubuh gempal dan rambut ikal memang sangat berbeda denganku yang sekarang kurus dan berambut lurus. Belum lagi pipiku yang chubby kini menjadi tirus tergerus oleh keras nya hidup yang harus ku jalani.


ibu masih terus menatapku lekat seolah menelisik netra mataku yang tak mungkin berbeda sejak dulu. Aku pun balas menatap manik mata sendu itu sedalam mungkin, membuatku seolah masuk kedalam kenangan masa kecil indah yang dengan mudah ia hancurkan begitu saja.


"maaf nyonya !" aku memilih untuk pergi tanpa mau mengingatkan kenangan pahit yang pernah sangat menyayat hati.


"mama..." panggil seorang wanita muda yang ternyata dia adalah wanita yang pingsan waktu itu.


"iya sayang " sahut ibu ku lalu pergi menuju wanita itu.


"mama ?? Sayang ??" aku tersenyum pilu saat mengetahui kenyataan bahwa dia ibuku. Karena realitanya dia tak mengingat diriku dan telah memiliki seorang putri yang mungkin seusia denganku.


"alesha.. alesha.. Mengapa kamu terlalu berharap bahwa dia ibumu. Bukankah didunia ini banyak orang yang memiliki wajah serupa meski mereka tak sama"


Gumamku sambil kembali berjalan untuk menemui mas denis.


.


aku mulai menikmati sentuhan air kelapa muda yang langsung berseluncur di rongga mulutku dan berharap dapat menambah kesegaran dalam tubuh.


Fikiranku tetap saja memikirkan wanita itu meski sudah ku putuskan bahwa dia bukanlah ibu kandungku.


"alesha..."


Mas denis melambaikan telapak tangannya tepat dihadapanku yang sedang termenung. Fikiran ku benar-benar terusik setelah ku bertemu wanita itu.


"apaan sih mas !" aku menepis tangan mas denis yang melambai di depan wajahku.


"aku perhatiin perasaan kamu sering banget ngelamun !! Awas ntar kesambet "


Katanya sambil kembali menyeruput es kelapa muda miliknya.


"sejak kapan mas perhatian denganku?" sahutku tanpa memperdulikan mas denis yang memang dapat berubah kapan saja sesuka hatinya.


Hari ini dia baik bagai malaikat, esok dia akan berubah seperti singa yang jahat.


Entahlah, apakah dia memiliki kelainan atau dua kepribadian yang berbeda. Sampai saat ini aku belum dapat menemukan jawabannya.


yang aku tau aku hanya boneka wanita yang bisa ia perlakukan semaunya .


.


.