
Kali ini mas denis mengemudikan mobilnya sendiri tanpa minta bantuan supir. Ternyata ia cukup ahli bahkan kemampuannya dalam mengemudi hampir menyaingi pembalap hebat yang sering aku lihat di televisi.
Tak butuh waktu lama mobil yang kami tumpangi mulai memasuki area halaman gedung rumah sakit kasih husada.
Setelah memarkirkan mobil. Kami pun turun secara bersamaan dan mulai berjalan beriringan masuk kedalam lobi rumah sakit tersebut.
Aku sedikit terkejut saat tangan mas denis tiba-tiba menggandeng tanganku saat kami berjalan . Aku sedikit melirik ke arah kedua tangan yang saling bertautan itu. Namun kini hatiku sudah terbiasa hingga tak perlu lagi ku netralisir karena beginilah drama yang memang harus ku perankan.
Bahkan, dulu mas denis pernah menciumku didepan khalayak ramai hanya demi mempertahankan reputasinya sebagai suami idaman dan memiliki rumah tangga yang harmonis.
"jangan pernah terlalu berbangga hati jika aku begitu manis dengan mu di depan orang. Sejati nya itu hanya agar nama baik ku tetap terjaga. Aku harap kamu bisa membantuku untuk bekerja sama jika sedang berada diluar rumah"
Ucap mas denis setiba nya kami kembali berada didalam mobil setelah kejadian saat tadi ia menciumku.
sampai detik ini Kata-kata itu selalu aku ingat. Oleh karena itu, aku tak mudah menabur bunga di hatiku yang kapan saja diperlakukan manis olehnya. Karena itu semua hanya mimpi belaka yang tak akan benar menjadi nyata.
"permisi... saya ingin bertemu dokter citra" kataku pada resepsionis yang bertugas di rumah sakit itu.
"baik nona.. Sebaiknya anda menunggu terlebih dahulu karena saat ini dokter citra sedang menangani pasien lain"
Jawabnya dengan ramah.
Aku mengangguk seraya memilih tempat duduk disamping mas denis yang sudah duduk terlebih dahulu diruang tunggu.
"dokter citra ada?" tanya nya dengan tatapan lurus menatap layar handphone yang tak bisa ia alihkan pandangannya dari sana.
"ada tapi masih menangani pasien lain jadi harus menunggu" jawabku yang tak mau juga menatap ke arahnya.
"ckkk menunggu itu membosankan !" sahutnya yang sama sekali tak aku respon.
Sekitar setengah jam kami berdua menunggu pasien yang sedang berada didalam ruangan dokter citra selesai melakukan pemeriksaan.
tiba-tiba dering handphone mas denis berdering membuyarkan bosan yang mulai menghinggapi kami berdua.
mas denis segera beranjak menjauh dariku saat ada panggilan masuk meski aku tak tau siapa yang menghubunginya.
"aku harus ke kantor sekarang ! Kamu tunggu disini saja, karena aku tak akan lama" mas denis terlihat sedikit terburu-buru setelah menerima panggilan itu.
Aku mengangguk tanda setuju tanpa mau berdebat apapun atau bertanya tentang apa yang terjadi di kantor hingga memaksanya harus kesana sekarang juga.
"tetap disini ! Nanti aku jemput !!" tegas nya sebelum pergi meninggalkanku dirumah sakit ini sendiri menunggu pemeriksaan selanjutnya.
.
"nona alesha noura fathin" aku mendongakan kepala saat namaku dipanggil oleh salah satu perawat dan memintaku untuk segera masuk keruangan dokter citra.
Aku mulai menapakkan kaki masuk ke ruangan berdominasi cat berwarna putih itu.
Terlihat dokter citra yang cantik sedang duduk dikursi kebanggaannya.
"hey nona alesha. Silahkan duduk" sapa nya ramah dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya itu.
"hey dokter citra. Apa kabar?" tanyaku membalas sapaannya.
"alhamdulillah, luka nya mulai membaik dan semua itu berkat resep obat yang dokter berikan" aku terkekeh malu kala mengingat obat salep yang harus aku pakai dengan rutin agar bengkak di area kewanitaanku segera mengempis.
"syukurlah... Saya turut senang mendengar nya" jawab dokter citra.
"apakah anda datang sendiri?" dokter citra melirik ke arah pintu yang tak ada lagi orang yang menyusulku masuk.
"emmm tadi aku bersama mas denis, tapi sepertinya dia sedang ada urusan penting dikantor. Jadi dia meninggalkanku dan nanti akan kembali kemari untuk menjemputku" jelasku pada dokter citra yang seperti sedang mencari keberadaan sosok lelaki tampan yang dulu ia cintai itu.
Dokter citra tersenyum, namun terselip sedikit kecewa dari wajahnya yang tak bisa ia sembunyikan saat tau mas denis tak ikut masuk keruangan ini.
Dokter citra mulai melakukan pemeriksaan. Kami pun berbincang akrab layaknya sudah berteman lama meski baru dua kali berjumpa, itupun hanya sebatas dokter dengan pasiennya.
"baiklah.. Sudah selesai. Saran saya, nona harus lebih mengingatkan suami nona agar lebih berhati-hati saat melakukan hubungan suami istri" ucap dokter citra.
Aku tersipu malu mengingat betapa aneh nya penyakit yang ku derita. Untunglah dokter citra orang yang mudah untuk diajak berkonsultasi mengenai sakit yang ku alami.
"terimakasih dok" jawabku singkat.
"sepertinya tuan denis sudah tak tahan ingin memiliki momongan dari anda nona" dokter citra terkekeh kala melempar sebuah candaan yang membuatku melongok tak tau harus menjawab apa.
Seandainya dapat ku ceritakan bagaimana isi rumah tanggaku hingga kejadian seperti ini bermula. Mungkin akan aku ceritakan agar dokter citra tak memberi asumsi semanis itu pada mas denis.
Aku hanya bisa menyunggingkan senyum dan menarik kedua sudut bibirku dengan paksa setelah ku dengar candaan yang tak tau apa jawabannya.
Seandainya saja mas denis benar begitu, mungkin aku adalah orang paling bahagia yang akan menjawab semua itu dengan senang hati.
Namun saat ini, diriku hanya bagai 'pungguk merindukan bulan' dan semua harapan itu tak akan pernah terjadi . Terlebih setelah kejadian malam itu aku semakin rutin mengkonsumsi obat kontrasepsi untuk berjaga-jaga agar tak ada janin yang tumbuh dirahimku tanpa atas dasar cinta.
Aku segera keluar ruangan dokter citra setelah selesai melakukan pemeriksaan dan akan berganti dengan pasien lain yang telah mengantri.
Aku memilih menunggu mas denis di kantin rumah sakit setelah aku tak melihat keberadaan mobilnya tadi di area parkir.
"buk saya pesan bakso dan es teh" pesanku pada pemilik kantin. setelah itu aku memilih duduk di sebuah kursi kosong sambil menunggu makanan pesananku datang.
Setidaknya selama disini aku dapat mengisi perutku yang tadi tak sempat sarapan sambil menunggu mas denis datang.
"alesha" suara seorang lelaki yang sepertinya tak asing ditelingaku itu membuatku yang sedang asyik menikmati makanan pun menoleh ke arah sumber suara berasal.
"nickholas" kataku lirih saat melihat wajah yang masih sangat melekat dalam ingatan.
Lelaki itu berjalan ke arahku yang masih ternganga menatap ke arahnya.
"hey... Kamu ngapain disini?" sapa nya yang langsung duduk pada kursi kosong didepanku.
"kamu sendiri ngapain disini?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
"lhoo memang kamu lupa kalau aku kerja disini?" jawabnya seraya menatapku dengan intens.
"sepertinya aku tak berhak lupa andai saja kamu sempat memberitahuku kalau kamu bekerja disini !" sahutku.
Aku kembali memasukkan sebutir bakso ke dalam mulutku yang sejak tadi ternganga tak percaya bahwa aku dapat kembali bertemu teman lama ku ini disini.