I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 16



Aku menatap mas denis dalam. Mengapa dia tiba-tiba bisa berubah seperti yang sekarang aku lihat? Bahkan sisi arogannya tak nampak sedikitpun saat ia mengetahui nasi goreng ini hasil buatanku. Padahal yang aku tau dia melarang keras aku melakukan semua pekerjaan dapur termasuk memasak sesuatu.


"mas yakin, mas mau nasi goreng seperti ini?" tegasku meyakinkan apakah ini bukan mimpi.


"heem"


Mas denis terus melahap nasi goreng yang berada dipiringku hingga kini nasi gorengku habis tak tersisa lagi di dalamnya.


"mas, kok punya ku di habisin ! " aku mengerucutkan bibir saat mengetahui nasi goreng milikku sudah mas denis santap habis.


"habisnya kamu kelamaan buat ambilin aku nasi goreng yang baru" jawab nya seolah tak berdosa.


aku berjalan untuk mengambil nasi goreng baru untuk nya. Aku menghentakkan kaki merasa sebal karena perutku masih membutuhkan asupan nasi goreng itu namun mas denis telah menghabiskan. kini nasi goremg itu hanya tersisa satu porsi lagi dan itu pasti untuk dia.


mas denis segera melahap nasi goreng yang baru ku siapkan di hadapannya.


"aaakkk" mas denis menyuapkan sendok yang berisi nasi goreng itu ke arahku. Aku membulatkan mata bahkan kali ini mungkin bola mataku seperti hampir copot dari kelopaknya.


Tak biasanya ku jumpai mas denis yang bersikap sedemikian ini.


"kesambet setan apa sih ini orang pulang kerja. Kok tiba-tiba bisa sebaik ini !" batinku malah bergidik ngeri saat melihat mas denis yang baik seperti ini.


"ayo dimakan ! Kamu gak mau?" tanya nya balas menatapku.


aku mengerucutkan bibir saat mulutku sudah siap menerima suapan itu dan mas denis justru menariknya kembali memasukkan sendok berisi nasi goreng kedalam mulutnya.


"mas... Kan aku mau" aku merajuk untuk menutupi rasa maluku.


"kamu kelamaan bikin tanganku pegal saja !" sahutnya.


Aku mendengus sebal mengingat betapa bodohnya aku dengan mudah di kerjai begitu saja oleh mas denis yang sebenarnya pantang untuk bercanda.


Mas denis terkekeh namun ia sembunyikan tawanya itu didalam wajah acuhnya.


.


.


Pagi ini seperti biasa aku menyiapkan semua keperluan mas denis sebelum berangkat ke kantor.


"alesha " panggilnya padaku yang sedang sibuk mencari pakaian ganti untuknya.


"apa sih mas !" sahutku lalu berjalan menemui mas denis yang masih berada didalam kamar mandi.


"ambilkan handuk " pintanya sambil sedikit berteriak.


aku berjalan dengan langkah malas "orang mandi tapi gak bawa handuk ! Aneh " gerutuku padahal aku tetap saja menuruti perintahnya.


"jangan menggerutu ! Bukankah itu salah mu karena tak menyiapkan handuk untukku !!" sahut mas denis yang sepertinya menguping omonganku.


"ini handuknya "


Aku mengetuk pintu kamar mandi sambil menyodorkan sebuah handuk.


Mas denis membuka pintu kamar mandi tanpa ia sadari bahwa kini tubuhnya sama sekali tak berbusana.


"aaaaaaagghkkkkkkk"


Aku berteriak sambil memalingkan wajah dan menutup nya dengan satu tangan saat tanpa sengaja ku lihat sebuah tongkat panjang salah satu anggota tubuhnya.


"kamu kenapa?"


Tanya mas denis heran.


aku menunjuk ke bagian bawah dimana arah tongkat sakti miliknya berada meski dengan mata terpejam.


"astaga !!"


Mas denis segera menutup pintu. Dan aku pun dapat menghela nafas lega.


.


tiga bulan sudah menjalani rumah tangga yang tak mudah. Menjadi istri seorang pengusaha seperti mas denis jelas impian semua wanita. Namun untuk menjalankan peranku belum tentu semua wanita mau.


"besok aku akan mengajak mu ke bali" kata mas denis sambil mengancingkan lengan kemejanya.


"hah, apa jangan-jangan mas denis akan mengajak ku pergi bulan madu?" pikirku menjadi berkelana setelah mendengar penuturan itu.


Memang selama tiga bulan ini mas denis tak pernah mengajakku pergi kemana-mana.


Aku menoleh ke arah lelaki itu yang seperti bisa mendengar kata hatiku.


"ada urusan pekerjaan disana yang membuatku terpaksa mengajakmu. Karena semua klien bisnis ku juga mengajak keluarganya !"


Aku tersenyum kecut saat mendengar penjelasan darinya bahwa ini hanya karena terpaksa. Andai saja klien bisnis nya yang lain tak mengajak keluarga mereka, mungkin mas denis pun dengan senang hati tak akan mengajakku.


" kemas semua nya jangan sampai ada yang tertinggal !"


Aku mengangguk, sebagaimana seoarang assisten menuruti perintah majikannya.


"persiapkan juga dirimu karena nanti aku akan pulang lebih awal untuk kembali memeriksakan kesehatanmu dengan dokter citra" titahnya.


"mas tapi aku sudah sembuh loh !" sahutku


"aku tak suka dibantah !!"


.


.


Mas denis menepati ucapannya dengan pulang kerja lebih awal dari biasanya. Aku yang memang sudah mempersiapkan diripun segera masuk kedalam mobil mas denis yang berhenti di halaman rumah dan kami segera melesat menuju rumah sakit tempat dimana dokter citra bekerja.


.


.


"mas..." aku menahan lengan mas denis yang hendak berjalan masuk rumah sakit.


"ayo cepat... Nanti aku harus kembali lagi ke kantor" jawabnya sambil menggandeng tanganku untuk segera mengikutinya masuk keruangan dokter citra tanpa mengantri terlebih dahulu.


.


Dokter citra mulai melakukan pemeriksaan padaku yang sebenarnya sudah sembuh. Namun entah kesehatan seperti apa lagi yang harus aku periksakan di rumah sakit ini.


"bagaimana?" tanyaku setengah berbisik pada dokter citra yang menulis beberapa resep vitamin untuk menambah daya tahan tubuhku.


Untunglah mas denis memilih duduk sedikit menjauh dari tempat duduk ku yang berhadapan langsung dengan dokter citra.


"apanya?" tanya dokter citra balas menatapku.


"kedekatanmu dengan nickholas?"


"biasa saja. Dia tetap dingin seperti biasanya"


aku merasa miris dengan nasib dokter cantik satu ini yang sepertinya cintanya selalu saja bertepuk sebelah tangan. Meskipun sebenarnya saat ini dirikupun hampir bernasib sama. Namun aku tak terlalu kecewa seperti dirinya karena aku sendiripun tak tau apakah perasaan ku pada mas denis sudahkah pantas di sebut 'cinta'.


"apakah belum selesai" mas denis seolah memperhatikan gerak gerik kami dan segera membuyarkan obrolan kami berdua.


"sebentar lagi mas" jawabku semanis mungkin karena memang begitulah perintah mas denis yang selalu ia ingatkan padaku.


"nanti akan aku bantu ya" tawarku pada citra.


citra tersenyum padakumerasa bahagia atas tawaran yang ku berikan. Aku memang berniat ingin membantunya hanya saja masih terkendala karena aku belum memiliki akses nomor handphone nickholas untuk membicarakan semua dengannya.


"baiklah nona alesha, ini ada beberapa vitamin yang harus anda tebus. Semoga sehat selalu ya"


Dokter citra menyerahkan resep obat padaku dan berbicara layaknya seorang dokter kepada pasiennya.


"terimakasih dok" aku berjabat tangan dengannya setelah menerima resep obat itu.


Mas denis pun mendekat dan berjabat tangan dengan dokter citra. Tak lupa ucapan terimaksih pun terucap dari bibirnya yang sejak tadi setia menungguku.


Mas denis melingkarkan tangannya ke pinggangku membuatku merapat pada dirinya.


aku bersikap setenang mungkin untuk menjalani akting seperti ini agar dokter citra tak dapat mengendus hubungan buruk antara aku dan suamiku.


.


"mas mau langsung ke kantor lagi?" tanyaku.


"he'em" jawab mas denis yang mulai mengendurkan tangan yang sejak tadi merengkuh pinggangku.


"nickholas !!"


Ucapku tanpa sengaja saat berpapasan dengan dokter tampan yang pernah singgah di kehidupan masalalu ku.