
Aku segera menghapus air mata setelah berhasil ku tumpahkan semua isinya.
Aku menarik nafasku dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan, ku lakukan berulang kali agar diriku menjadi lebih tenang.
aku meraih handphone yang benar tertinggal didalam mobil ini dan segera pergi dari sana menuju kamar hotel.karena pasti mas denis sudah menunggu ku untuk menyiapkan semua keperluannya.
Kakiku bergegas masuk ke dalam kamar hotel setelah berjalan menyusuri koridor tempat perdebatan ku dan ibu tadi terjadi.
"mas.." sapaku saat masuk dan menutup handle pintu.
"darimana saja kamu !! Lama sekali " sergah mas denis yang kini sudah nampak segar sehabis mandi.
"maaf..." sahutku sambil terus menunduk menyembunyikan mata sembab ku dan berjalan menuju kamar mandi.
"alesha !" suara mas denis membuat langkahku terhenti dan mematung didepan pintu kamar mandi.
"ada apa ?" tanyaku tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya yang berad di belakangku. Hatiku berdetak hebat takut jika mas denis menyadari mata sembab ku ini.
"air yang berada di bak mandi nanti kamu buang dulu, karena tadi terkena busa sabun saat aku mandi" katanya yang membuat hatiku menjadi lega.
aku mengangguk lalu kembali berjalan masuk dan segera mengunci pintu.
Ritual mandiku pun telah usai. Disertai sedikit taburan air mata yang sudah berulang kali ku seka karena tak ku kehendaki kehadirannya. Namun isi hati tak dapat memungkiri bahwa aku tetaplah seorang wanita yang dalam hal kecilpun selalu pakai hati.
.
.
Kami akan terbang kembali ke jakarta setelah satu minggu berada di bali. Aku tersenyum simpul mengingat kenangan selama berada disini yang tak mungkin mudah kulupakan. Bertemu seorang ibu yang sejak dulu memang ku rindukan meski ku memperlakukannya dengan baik saat kamu bertrmu, setidaknya ada kerinduan yang terobati setelah melihatnya tetap cantik dan baik-baik saja. Meskipun kini aku harus benar-benar siap untuk melupakannya.
Penerbangan kami terasa sangat aman dan nyaman. Mas denis memilih penerbangan kelas pertama yang semua nya terfasilitasi dengan sebaik mungkin.
kami tiba di bandara Soekarno-Hatta dan langsung disambut oleh pak kirman yang entah sejak kapan telah setia menanti kedatangan kami berdua.
"terimakasih pak" ucapku saat pak kirman mengambil alih koper besar yang berada di tanganku. Sedangkan mas denis memilih untuk berjalan terlebih dahulu.
Netra mataku membulat saat tak sengaja menangkap sosok wanita parubaya yang kemarin ku ajak berdebat.
"mengapa dia juga kemari ?" batinku saat melihat wanita itu berjalan di bandara.
Ternyata wanita yang kupanggil ibu itupun menoleh ke arahku dan tersenyum . Sedangkan aku malah memilih untuk mengabaikan senyuman itu.
"ma ayo ma.. Itu papa sudah nunggu disana !!" rengek wanita muda yang berlari kembali lalu meraih tangan ibu dengan kasar.
Aku tak tau entah ada maksud apa di balik semua ini hingga Tuhan mempertemukanku dengan wanita itu berkali-kali. Sehingga tebalnya luka dalam hati ini yang sudah keras terbalut benci seolah perlahan mulai terkikis dan tergerus oleh pertemuan yang acapkali terjadi diantara kami.
Mataku kembali tertuju pada wanita yang seharusnya ku panggil ibu yang tak kunjung pergi dari pandanganku.
Ia terlihat mulai memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi bersama seorang putri dan lelaki yang seolah sedang memperlakukannya seperti seorang assisten. Mataku tetap tertuju pada wanita itu meski berulang kali coba ku alihkan pandangan ini. Namun rasa tak tega hinggap di hatiku saat melihatnya diperlakukan seperti itu meski aku pun tak bisa berbuat baik dan berkata manis dengannya.
Apakah ini yang dinamakan naluri seorang anak terhadap ibunya?
"kamu liat apaan?" mas denis yang berada disampingku pun ikut menatap ke arah dimana tatapan mataku terpaku.
"yolanda" ucap mas denis sangat lirih nyaris tak terdengar . Namun karena suasana dalam mobil ini sangat hening, aku dapat menangkap nama itu terucap dari mulut mas denis meski terdengar samar.
Aku sebenarnya ingin menoleh ke arah mas denis, tapi mataku terpaku kala seorang lelaki yang bersama ibu menarik tangannya kasar dan memaksa ibu untuk masuk kedalam mobilnya. Sungguh pemandangan yang tak mengenakkan yang ku tangkap langsung dengan netra mata.
"tuan, bisa kita jalan sekarang?"
Kedatangan pak kirman yang baru saja masuk setelah memasukkan koper kami ke dalam bagasi membuat lamunan kami buyar.
"hemm" sahut mas denis, sekilas kami melirik ke arah pak kirman bersamaan dan kembali melihat ke arah tadi meski sudah tak lagi kami temui mobil yang mencuri perhatian kami.
Sepanjang perjalanan pulang aku dan mas denis saling diam. Tak ada lagi obrolan apalagi perdebatan antara kami seperti biasa. Kami saling bergelut dengan pemikiran kami yang berbeda. Aku memikirkan ibu yang diperlakukan kasar oleh lelaki itu, sedangkan mas denis jelas memikirkan wanita yang tadi terucap lirih dari mulutnya bernama 'yolanda'.
.
Mobil yang kami tumpangi telah memasuki halaman rumah. Pak kirman segera memarkirkan mobil ke dalam garasi dan langsung mengeluarkan barang-barang yang tersimpan di bagasi.
Aku dan mas denis berjalan menuju kamar masih diam tak bersuara. Aku segera mengerjakan tugas ku seperti biasa menyiapkan air mandi mas denis sekaligus pakaian gantinya. Pikiranku masih berkecambuk memikirkan hal yang tadi ku lihat dan tadi ku dengar secara bersamaan. Padahal ingin sekali aku buta dan tuli tak memasukkan semua ke dalam hati. Namun itu sulit untuk ku lakukan disaat seperti ini.
Setelah selesai mandi, mas denis langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa lagi memperdulikanku atau pun mengajakku berbicara. Seperti ada sesuatu yang menyekap mulutnya hingga dia membisu. Suasana terasa begitu hening setelah setibanya kembali kami di jakarta.
.
Pagi ini mas denis kembali melakukan rutinitas seperti biasa. Bahkan rasa lelah sisa-sisa kepadatan aktifitasnya dibali, seolah tak lagi ia rasa.
"aku berangkat " kata yang terucap sesaat sebelum ia melesat pergi ke kantor meninggalkan aku kembali tenggelam dalam kesendirian dan meresapi lamunan bayangan yang sulit untuk ku hilangkan siapa lagi kalau bukan bayangan tentang ibu.
Setelah selesai membersihkan diri ku mendengar dering handphone ku berbunyi.
ternyata ada sebuah pesan masuk dari mas denis yang memintaku untuk mengantarkan berkas yang tertinggal di atas meja kerja.
Aku merasa jika mas denis benar sedang irit bicara atau memang ia sedang puasa hingga meminta tolong seperti ini pun ia hanya mengirim pesan singkat secukupnya saja.
Aku segera bersiap untuk mengantarkan berkas sesuai permintaanya tanpa membalas pesan darinya. Ku tau, mas denis pasti sudah paham jika centang dua berwarna abu di handphone nya kini pasti sudah berganti biru pertanda bahwa sudah ku baca.