I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 33



Hari kedua aku bekerja berjalan lancar. Bahkan hari ini meeting kami membuahkan hasil yang sangat memuaskan.


"yey alesha, terimakasih telah bekerja begitu baik hari ini untuk perusahaan kami"


Pak danang tak segan-segan nya untuk mengucapkan terimakasih atas kerja kerasku pagi ini. Raut wajahnya nampak begitu bahagia begitupun dengan Aku yang juga merasa bangga karena ternyata tak ada usaha yang sia-sia meski hari ini aku harus berangkat di pagi buta.


"jika semua nya telah selesai, aku akan memberimu bonus gaji tambahan untuk bulan ini dan jika ada waktu luang, aku akan mengajak mu makan siang diluar. Aku traktir"


ajak danang padaku yang langsung ku setujui dengan anggukan.


Aku merasa bahwa danang seperti tak memberi jarak antara aku dan dia sebagai atasan dan bawahan. Namun sepertinya danang memang melakukan hal seperti itu pada siapa saja karyawan di kantornya. Bahkan ia tak segan untuk menyapa lebih dulu atau sekedar tertawa jika bertemu dengan pegawai kantor yang memang sudah cukup akrab dengannya.


"sebaik itukah pak danang? jauh seratus delapan puluh derajat sama mas denis yang begitu angkuh dan ditakuti oleh para pegawainya"


Gumamku secara tak langsung mengangumi sosok keramahan danang yang baru dua hari ku kenal dan menjadi bosku.


.


.


#dirumah


Hari ini aku diperbolehkan untuk pulang lebih awal. Akupun tiba dirumah lebih awal sebelum mas denis tiba lebih dulu.


Deru suara mesin mobil mas denis terdengar memasuki pelataran rumah. Aku pun tak lupa akan tugasku yaitu menyambut kepulangannya dan memasang badan untuk biasa ia jadikan jemuran jas dan tas sepulang bekerja.


"kamu sudah pulang? "


tanya mas denis seraya memberikan jas nya kepadaku.


"sudah" sahutku membuntunti langkah nya menaiki anak tangga.


Mas denis berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Akupun memilih duduk di sofa seraya meluruskan kakiku yang masih sering terasa pegal karena harus memakai sendal higheels selama bekerja pada kaki yang belum lama kemarin cidera karena terkilir.


"bagaimana meeting mu dan danang hari ini? "


Sudah ku duga pertanyaan itu pasti akan meluncur dari mas denis yang dua hari ini sudah seperti alih profesi menjadi wartawan bagiku.


"baik, semuanya berjalan lancar. Sudahlah, kan sudah ku bilang mas denis tak perlu lagi meragukan kemampuanku" cetusku.


"terlalu percaya diri sekali ya dirimu" mas denis menarik sebelah sudut bibirnya yang tersirat bahwa ia menyepelekan kemampuanku.


"bisa tanyakan langsung pada pak danang tentang bagaimana kinerjaku "


Aku benar-benar muak dengan sikap mas denis yang selalu saja memandang orang sebelah mata. Berfikir bahwa ialah yang paling berkuasa dan tak ada yang bisa menandinginya.


Akhirnya aku memilih menghindar dari perdebatan kecil itu dan merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.


"ingat alesha! jangan pernah kau sebut-sebut namaku apalagi melibatkan siapa statusmu di dalam perusahaan hanya supaya nama mu terlihat baik disana"


"tenang saja, aku sudah mengerti karena fajar sudah lebih dulu mengatakannya" sahut ku seraya menarik selimut hingga menutup ke kepala, karena sejujurnya aku enggan melihat wajah dingin,kaku dan yang pasti sangat menyebalkan itu berada didepan mata.


"baguslah kalau kamu sudah mengerti"


"akupun lebih bangga menjadi diriku sendiri daripada membawa-bawa nama mu agar aku disegani" umpatku geram.


"Alesha, biarkan besok pagi fajar yang akan mengantarmu"


Tawar mas denis.


"aku bisa berangkat sendiri"


"kenapa kamu tak ingin fajar mengantarmu? keras kepala!" ujarnya.


"bukankah hari itu fajar mengantarku hanya karena aku belum tau dimana lokasi kantor cabang berada. Dan sekarang aku sudah tau, jadi fajar tak perlu lagi mengantarku"


Aku berbicara di bawah balutan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhku karena sesungguhnya aku tak sanggup melihat bagaimana reaksinya yang tak pernah bisa menerima penolakan dalam bentuk apapun.


Danang yang mendengar bahwa tawaran baiknya di tolak mentah-mentah oleh alesha pun hanya bisa mengepalkan tangan dengan suara gigi gemeretak.


Entah mengapa ia tak bisa melayangkan amarah yang biasanya sudah pasti langsung meledak ketika i'tikad baiknya ditolak begitu saja.


"dan satu lagi, bukankah mas sendiri yang meminta aku untuk tidak menyangkut pautkan mas denis dalam pekerjaanku. Lantas mengapa masih saja mas denis mau fajar mengantarku? biar pak danang melihat kami kemudian ia tau bahwa setiap hari fajar selalu mengantar istri bosnya"


Aku menyibakkan perlahan selimut diwajahku dan mengintip dimana keberadaan lelaki itu.


"mas.. mas denis"


aku menyibakkan selimut yang juga menutupi tubuhku dan mencari keberadaan lelaki yang sejak tadi ku kira masih duduk di sofa sambil berbincang denganku namun kini ternyata ia sudah tak berada disana.


sebenarnya denis sengaja pergi karena penolakan yang tadi aku berikan membuatnya merasa geram, namun anehnya mengapa ia tak bisa meledakkan amarahnya.


"sial. ternyata dia tak bersuara karena telah keluar dari kamar ini. Bangsruttttt!!"


umpatku semakin kesal sambil meremas kuat selimut yang tak bersalah.


.


.


Dua minggu sudah aku bekerja. Ternyata aku dengan mudah untuk bersosialisasi dengan para pegawai lain terlebih juga mungkin karena faktr aku memiliki bos yang baik. Tak seperti ekspetasi ku yang membayangkan akan bertemu bos seperti mas denis yang kaku, galak dan menegangkan. Karena beberapa kali aku pernah melihat bagaimana ekspresi dan reaksi mas denis jika berhadapan dengan pegawainya yang membuat mereka takut seperti akan dieksekusi mati.


Memori ku kembali mengingat bagaimana dengan kejamnya mas denis memecat satpam yang saat itu menghalangiku saat hendak mengantarkan berkas untuknya. Sesungguhnya aku merasa sangat iba waktu itu namun itu semua tidak berlaku bagi mas denis .


"alesha" panggil danang membuyarkan lamunanku dan ternyata sudah berdiri di ambang pintu .


"ya pak? " Aku mendongakan kepala ke arah danang yang tengah berdiri menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan.


Harus ku akui, selain baik danang juga memiliki wajah yang cukup rupawan. Wajar saja jika pegawai wanita disini banyak juga yang naksir dengannya dan selalu sibuk mencari perhatiannya setiap danang lewat didepan mereka.


Namun seperti nya itu tak berlaku padaku. Karena aku tau dan sadar diri bahwa aku bukanlah seperti mereka yang kebanyakan masih sendiri belum bersuami.


"saya ingin menepati janji"


"janji? "


aku mengerutkan kening, menautkan kedua alis mencoba mengingat janji apa yang pernah danang ucapkan. Karena seingatku danang tak pernah berjanji apapun selama ini.


"iya alesha. janji kalau saya akan mentraktir kamu makan. Apa kamu lupa? "


"astaga.." aku menghela nafas lega. "saya fikir janji yang mana pak" lanjutku sedikit terkekeh.


"jadi gimana mau gak? penawaran hanya berlaku di hari ini saja "


"mau dong makan siang gratis kok di tolak. Kita itu gak boleh menolak rezeki. Sebentar pak, saya membereskan ini dulu"


Dengan cekatan tanganku mulai menata lembaran kertas yang masih memenuhi meja kerja.


"saya tunggu di depan"


Aku mengangguk kemudian danang pun pergi meninggalkanku.


Tak butuh waktu lama bagiku membereskan semua kertas-kertas ini. Mungkin karena dorongan dari cacing dalam perutku yang juga sudah berdendang mendengar akan mendapat asupan makanan gratis siang ini. Aku segera menyusul danang yang ternyata masih menungguku di sebuah sofa sambil berbincang dengan salah satu pegawai .


Aku yang melihat danang sedang asyik berbincang pun hanya bisa mematung di dekat sofa tempat mereka duduk. Seperti menyadari akan kehadiranku yang kini beralih menunggunya hingga selesai berbincang, danangku segera mengakhiri obrolannya dengan pegawai itu dan segera mengajakku keluar.


"kamu sudah siap? " tanya nya seraya menatapku dengan tatapan yang membuatku menjadi risih.


Aku mengangguk penuh semangat.


"sepertinya kamu sudah begitu lapar"


Jawab danang sedikit meledekku sambil berjalan dan aku hanya bisa membuntuti langkah dibelakangnya merasa malu apakah semangat dan bahagiaku tadi terlihat juga diwajahku.


.


"ayo masuk" titah danang setibanya kita di parkiran kantor.


Aku pun menganggukkan kepala lalu masuk kedalam mobil sebelah kemudi setelah danang membukakan pintu nya untukku.


Sejujurnya aku merasa sedikit risih dengan perlakuan danang karena terkesan begitu berlebihan dalam memperlakukanku. Namun aku tak dapat menolak kebaikan itu, sekuat mungkin aku coba meyakinkan hati bahwa kebaikan danang hanya sebatas perhatian bos nya terhadap sekertaris teladannya.


.


.