
Aku terpaku di depan pintu kamar mandi karena mendengar celoteh mas denis yang seolah menahanku. Memang kali ini mas denis bersikap tak seperti biasanya. Bahkan bisa dikatakan jauh lebih manis dari hari sebelumnya.
"kenapa kamu diam disitu. Kemarilah, biarkan aku menyiapkan sendiri"
jawabnya lalu berjalan mendekat ke arahku. Tubuhku sedikit meremang saat gerak tubuh mas denis semakin mendekatiku yang masih berdiri mematung tepat didepan pintu.
Deru nafasnya seolah hangat menyapu tengkukku. Bahkan bulu kudukku sedikit merinding ketikan rasa hangat itu menerpa tubuhku.
"menyingkirlah, aku mau masuk! Apa kau ingin mandi bersamaku?"
Tawarnya dengan senyum smirk di ujung bibir atasnya.
Aku segera memalingkan wajah. Tak ingin dengan mudah tersipu apalagi menabur bunga dan kupu-kupu dihatiku. Aku segera pergi kembali ke tempat tidur memberinya ruang untuk berjalan masuk kedalam kamar mandi. Akhirnya aku memilih duduk di tepi ranjang sembari menunggunya usai membersihkan diri kemudian aku memilih untuk membaringkan tubuh dan terlelap hingga sang mentari pagi tiba.
.
.
"alesha aku berangkat, lima belas menit lagi ada meeting. Jangan lupa setelah ini kamu harus segera makan! Aku tak ingin kamu sakit seperti kemarin dan hanya merepotkanku"
Beo nya beberapa menit sebelum ia pergi meninggalkan kamar ini menjadi sunyi tanpa suara.
Dreeettt dreeettt dreet
Kulihat ponsel mas denis yang berada diatas nakas bergetar dengan nama jhon yang tertera di layar utama yang menyala.
"jhon?" batinku bergumam sendiri karena merasa asing dengan nama yang sama sekali tak pernah ku dengar sebelumnya.
Aku membiarkan handphone itu terus bergetar, namun getarannya benar-benar mengusik istirahatku karena memang letak handphone itu tepat di atas nakas samping kepala. Sepertinya hari ini mas denis tak sengaja meninggalkan handphonenya karena tadi ia harus buru-buru berangkat ke kantor dan ada meeting dadakan.
Entahlah, mengapa bisa CEO besar sepertinya memiliki jadwal yang tak tertata seperti itu.
Aku mencoba mengangkat panggilan masuk itu dengan tujuan ingin memberitau si penelpon jika saat ini handphone mas denis tertinggal dirumah. Ku rasa sepertinya panggilan ini sangat penting, sebab jhon menghubunginya berulang kali tiada henti.
"huftt lama sekali kau mengangkat telpon ku den !!"
Umpat lelaki dengan suara tegas dari sebrang sana saat aku baru saja menggeser tombol hijau di layar.
"apa kau tak ingin mendengar kabar tentang yolanda?"
Degh
Hatiku seperti berhenti berdetak saat nama wanita di masalalu nya itu kembali terdengar ditelinga.
Aku terdiam karena jhon memang tak memberi celah untuk menjawab ocehannya.
"baiklah, jadi begini den. Berdasarkan hasil pencarianku. Yolanda memang masih berada di jakarta. Aku juga sudah menghubunginya, dan memintanya untuk bertemu di hotel X nanti pukul tujuh malam" beo jhon dengan semua celotehnya.
"tapi aku tak mengatakan jika kau yang akan datang, bukan aku. Karena aku yakin yolanda tak kan mau jika ia tau bahwa kau lah yang sebenarnya ingin bertemu dengannya. Hhh tapi sekali lagi harus kamu ingat den !! Harus kau pastikan bahwa kau tak akan memungut kembali sampah yang sudah terbuang pada tempatnya. Cukup cari tau alasan mengapa ia pergi saat itu dan setelah itu saatnya kau pergi menyisakan duka untuknya"
Aku masih terdiam mencerna setiap perkataan yang jhon sampaikan. Seperti nya jhon selalu memberi sisi positif dengan mengingatkan mas denis, namun tak tau bagaimana dengan perasaan mas denis sendiri. Entah bagaimana sudut pandangnya terhadap yolanda jika benar ia akan bertemu dengan wanita itu. Sekalipun yolanda pernah meninggalkannya, namun aku yakin yolanda tetap memenuhi seisi ruang dihatinya.
Tiba-tiba pekikan suara jhon membuyarkan lamunanku . Dengan segera aku menekan tombol merah untuk mengakhiri obrolan kami sebelum jhon tau bahwa bukan mas denis yang sedang ia ajak bicara.
"shiiiittttt dasar bedebah!! bukannya berterimakasih atau memberi kabar kapan bayaranku akan turun ke rekening. Ini malah main matiin telpon seenak jidat"
Umpat jhon saat melihat sambungan teleponnya terputus.
Sumpah demi apa jantungku berdegup kencang. Aku merasa telah begitu lancang mengangkat panggilan masuk dari handphone mas denis sekalipun ia suamiku. Namun emtah mengapa, hatiku terasa begitu sakit saat ku dengar informasi tentang yolanda. Apakah aku sudah jatuh cinta? Oh tidak. Aku mensugesti hati ku untuk tidak menghadirkan perasaan itu. Sebisa mungkin ku netralkan hati dan otakku agar bisa ku ajak bekerja sama.
"Bukankah lebih bagus jika mas denis bertemu yolanda secepatnya dan mereka kembali? Bukankah itu artinya aku akan segera lepas dari jeratan tali yang menjerat leherku dengan alasan pernikahan ini?"
batinku memberi asumsi untuk menyemangati diri sendiri. Begitulah hidupku, tak ada yang memberiku semangat jika bukan aku sendiri yang menyemangati. Begitu miris bukan?
Fikiranku melayang begitu jauh. Membayangkan bagimana jika benar mas denis meninggalkanku untuk wanita itu. Tapi setidaknya, aku akan bisa hidup bebas meski tanpa adanya kemewahan lagi.
Dan ku fikir tak ada gunanya semua kemewahan ini jika keberadaanku disini hanya sebagai boneka pengganti. Oleh sebab itu, mulai saat ini aku harus bisa menjadi wanita mandiri dan menunjukkan pada mas denis bahwa aku akan tetap hidup meski nanti ia pergi dari hidupku dan menghempaskanku mengganti posisiku dengan wanita yang pernah singgah di masa lalu.
.
.
Hari semakin sore, aku pun semakin dilema apakah aku harus mengatakan tentang apa yang tadi jhon informasikan. Lalu bagaimana jika mas denis marah seperti kemarin?
Bahkan rasanya aku masih begitu trauma melihatnya begitu marah dan sangat buas lebih dari seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
Aku berjalan kesana kemari di teras balkon sambil melihat pagar utama apakah mas denis akan segera tiba. Dan benar saja, hanya dalam hitungan menit mobil mewah milik mas denis telah memasuki area pelataran rumah mewahnya ini yang mungkin tak lama lagi akan aku tinggalkan.
Aku segera turun untuk menyambutnya. Meskipun gejolak amarah dan benci masih begitu keras menggumpal di relung hati. Setidaknya aku tau diri bagaimana peranan diriku dirumah ini. Dan aku tau bagaimana cara membalas budi atas semua kebaikan dan fasilitas hidup yang selama ini ia beri.
"kamu sudah baikan?" tanya nya saat melihatku berdiri menyambut kedatangannya seraya memberikan tas kerja ke arahku.
"he'em" sahutku yang masih penuh dilema.
Mas denis berjalan menaiki anak tangga menuju kamar. Sedangkan aku membuntutinya dari belakang.
"apa handphone ku sejak pagi tertinggal di dalam kamar?"
Jantungku seperti hampir copot dan terlepas dari tempatnya saat pertanyaan itu keluar dari mulut mas denis. Andai bisa aku lakukan saat ini juga, aku ingin menghilang dari pandangannya agar aku tak melihat ia menemukan handphone nya dan mengecek siapa saja yang tadi menghubunginya.
aku terdiam sejenak seraya bimbang dengan perasaan yang begitu dilema.
"alesha" panggil mas denis saat aku tak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaannya .
"hemm" jawabku singkat dengan isi fikiran yang saling beradu.
"apakah mulutmu juga sariawan?"
"whattt??" batinku
.