
Yunna mendengar Gorae mengambil cuti mendadak dari seorang perawat. Dia berusaha menyembunyikan rasa kaget dan kecewanya di depan perawat yang memberitahunya.
Yunna bertanya-tanya, mengapa Gorae mendadak cuti? Apakah ini ada hubungannya dengan kemarahannya pada Gorae? ....atau...dia mengurusi Na Ri?!
Jika iya, Gorae sudah benar-benar melewati batas! Yunna jadi sangat geram.
Ada sedikit penyesalan, dia terlalu keras pada Gorae dan tidak mau mendengar penjelasannya.
Tapi seharusnya Gorae mendengarkan dia, dia tahu Gorae terlalu baik pada siapapun, bahkan terkadang terlihat lemah. Tapi Gorae bukan milik semua orang, dia miliknya seorang!
Setiap pertengkaran antara Yunna dan Gorae selalu tentang orang lain. Yunna tidak suka jika Gorae selalu melakukan hal bodoh hanya karena rasa tidak teganya melihat kesulitan orang lain.
Pernah Gorae menanggung semua biaya seorang pasien yang mengidap tumor.
Lalu dia juga pernah menolong seorang ibu muda dan anaknya yang berumur dua tahun, yang terlantar tidak punya tempat tinggal. Gorae menampung mereka di rumah sewanya yang kecil selama berbulan-bulan sampai ibu muda itu mendapat pekerjaan dan tempat tinggal yang layak.
Ada lagi, seorang anak laki-laki korban kekerasan orang tuanya, yang selalu dia temani setiap malam, sampai anak itu aman tinggal dengan nenek dan kakeknya di Ansan.
Dan banyak lagi kebaikan Gorae yang disengaja atau tidak disengaja dilakukannya, dan sering hal itu sangat mengganggu hubungannya dengan Yunna.
Jika sudah ingin menolong, Gorae seperti tidak peduli walaupun Yunna sudah melarangnya.
Gorae adalah tipikal lelaki penuh tanggung jawab, dia baik hati dan seorang yang sangat ulet.
Yunna sudah jatuh cinta pada Gorae sejak mereka kuliah.
Gorae sangat populer di kampus, selain sangat tampan, dia sangat cerdas.
Yunna tidak menyangka akhirnya Gorae menyatakan cinta padanya ketika akhirnya mereka bertemu lagi di tempat kerja yang sama.
Yunna benar-benar mencintai Gorae, Gorae adalah segalanya bagi Yunna.
Sebagai gadis kota, yang lahir dan besar di Seoul, dengan latar belakang keluarga dokter, Yunna sangat mengagumi Gorae yang berasal dari desa dan latar belakang keluarganya adalah keluarga sederhana dan berhasil masuk Seoul National University yang bergengsi karena beasiswa.
Tiga kali Gorae mengajaknya berlibur di desanya. Keluarga Gorae adalah keluarga yang sangat istimewa baginya. Dia selalu bahagia bisa bertemu dengan keluarga Gorae.
Begitu juga Gorae, dia sangat disukai ayah dan ibunya. Bagi Yunna semuanya terasa sempurna memiliki kekasih yang sangat baik, yang sangat perhatian, yang sangat mencintai dan menghargainya.
Tapi Gorae kadang terlihat lemah dimatanya. Dia lelaki yang terlalu mudah mengulurkan tangannya untuk siapapun. Terlalu positif melihat apapun.
Yunna kadang berharap, Gorae sedikit saja jadi 'bad boy', terlalu baik kadang membosankan!
"Dokter Cha, besok kamu ada jadwal off kan?" Dokter Song rekan seangkatannya menepuk pundak Yunna, membuyarkan lamunannya.
Yunna mengangguk, "Kenapa?"
"Bisa tukar jadwal denganku?"
Dokter Song duduk di sebelah Yunna, kembali Yunna bertanya,
"Kenapa?"
"Aku harus menghadiri rapat wali murid untuk adikku di sekolahnya."
Yunna berpikir sejenak, jika itu Gorae, pasti dengan senang hati dia akan mau bertukar jadwal. Suasana hati Yunna saat ini sedang tidak baik, dia tidak ingin melakukan sesuatu dengan keterpaksaan.
"Maaf, aku ada acara besok.." Yunna berbohong. Wajah dokter Song terlihat kecewa,
"Oh oke, tidak apa-apa."
Dokter Song berdiri, "Aku harus mencari orang lain yang mau bertukar jadwal denganku." Katanya tersenyum.
Yunna mengangguk,
dia bertanya dalam hati, apakah aku sangat egois? Yunna menggeleng, dia tidak peduli. Selama ini dia sudah cukup bekerja keras demi karirnya. Dia akan melakukan yang terbaik dan bahagia dengan segala pencapaiannya. Dia harus bahagia dengan apapun yang dilakukannya, tidak ada keterpaksaan!
*
Kang Sora mengetuk pintu kamar tamu pelan, lalu dia membuka pintu sambil melongokan kepalanya.
"Hai...selamat pagi..." Sapa Sora ramah pada Na Ri.
Na Ri sudah bangun, dia sedang duduk memandangi jendela yang masih tertutup, selimut menutupi setengah tubuhnya.
Na Ri tersenyum melihat Sora.
"Selamat pagi..."
"Bagaimana tidurmu?"
Sora memeriksa tekanan darah Na Ri, satu tangannya meraba nadi Na Ri. Kemudian mengecek suhu tubuhnya.
"Tidurku sangat baik, terimakasih.."
"Anu, berapa usia mu? Tanya Sora.
"Aku dua puluh lima..."
Na Ri memandangi wajah segar Sora.
"Wah, kita seumuran! Jangan bicara formal denganku!"
Sora tersenyum lebar, menampakan sederet giginya yang putih.
"Baiklah..." Na Ri tersenyum senang.
"Suhu tubuh kamu sudah normal, hanya tekanan darah mu sangat rendah. Kamu harus makan banyak."
"Sora, aku sangat merepotkan keluarga kamu.." Na Ri berkata pelan.
Sora duduk disamping Na Ri,
"Jangan berkata begitu. Yang terpenting sekarang kamu harus sembuh, ok?"
"Aku ada dinas pagi hari ini sampai sore, aku sudah ganti kantong infus kamu tadi pagi-pagi sekali."
Sora membuka tirai jendela.
"Aku tidak membuka jendelanya ya, anginnya terlalu kencang."
Belum sempat Na Ri menjawab Gorae dan ibunya masuk membawa meja kecil sebagai nampan. Di atas meja kecil itu Park Hilda menyajikan Daechu-cha* dan semangkuk dakjuk*.
"Oke, aku berangkat ya! Kakak, tekanan darah Na Ri 80 per 70." Sora berlalu sambil melambaikan tangannya.
Park Hilda meletakan meja kecil di hadapan Na Ri, senyum lembutnya mengembang.
"Nah, kamu harus makan banyak ya nak. Daechu-cha ini bagus buat badan kamu yang sakit dan menambah nafsu makan."
"Terimakasih banyak..." Na Ri mengangguk.
"Kami sengaja tidak membawa kamu ke rumah sakit. Gorae sudah menceritakan semua, aku ingin kamu merasa nyaman di sini."
Park Hilda merapikan rambut Na Ri yang menutupi wajahnya.
"Nanti Nenek akan mengoleskan salep untuk lebam kamu, aihh..pasti sakit sekali ya? Aku harus berangkat mengajar sekarang."
"Ibu Park, maaf merepotkan.."
Na Ri berkata lirih sambil menunduk.
"Aigoo...sudahlah, kamu tidak di rumah sakit, tapi dokter kamu ada disini. Jadi jangan khawatir!" Park Hilda tertawa, dia pun pamit pergi mengajar.
Gorae tersenyum duduk di sisi tempat tidur Na Ri, "Jangan terlalu sungkan, buat diri kamu nyaman di sini."
"Tapi aku..."
"Haish! Aku dan keluarga ku akan membantu kamu! Ayo, kamu harus makan! Dakjuk buatan Ibuku luar biasa enak!"
Gorae menyendok dakjuk itu dan menyuapi Na Ri.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri.."
Na Ri mengambil sendok dari tangan Gorae.
Dan benar, Dakjuk buatan Ibunya Gorae luar biasa sedap!
"Kamu tidak pulang ke Seoul?"
Gorae menggeleng,
"Aku mengambil cuti dua minggu, sampai kamu pulih. Setelah itu aku akan kembali ke Seoul."
Na Ri tidak percaya Gorae berkorban terlalu banyak untuknya.
"Bagaimana dengan pacar kamu, apa dia tahu?"
Gorae kembali menggeleng, "Aku akan bicara dengannya nanti."
Na Ri menatap Gorae, dia seperti menyembunyikan keresahannya.
"Gorae, aku tidak ingin jadi pengganggu buat kamu, pacar kamu atau keluarga kamu...aku akan pulang ke rumahku." Wajah Na Ri bersungguh-sungguh.
"Tidak ada yang pergi dari rumah ini dalam keadaan lemah."
Tiba-tiba Min Hong Ah, Nenek Gorae masuk.
"Nenek..." Hampir berbarengan Gorae dan Na Ri menyapa nenek Gorae, Min Hong Ah tersenyum.
"Kamu harus tunjukan kamu kuat dan siap saat kamu kembali ke Seoul.
Bahkan, mungkin kamu harus jadi gadis yang sama sekali baru."
Na Ri memandang Min Hong Ah tidak mengerti. Gorae menggeser duduknya memberi tempat pada Neneknya.
"Aku mempercayai cucuku, saat dia peduli, berarti kami akan lebih peduli."
"Maksud Nenek?" Tanya Na Ri tidak mengerti.
"Maksudku, kamu harus belajar menerima sebuah kegagalan atau kekalahan atau bisa juga disebut kesalahan."
Min Hong Ah mengusap tangan Na Ri, "Jika kamu memaksa untuk kembali dalam keadaan lemah seperti ini, bukan tidak mungkin hal seperti yang kamu alami dan rasakan akan terjadi lagi, bahkan lebih buruk. Kamu akan kembali ketika mental kamu sudah benar-benar siap."
Na Ri menunduk, dia masih tidak sanggup membayangkan jika dunia akan melupakannya...bagaimanapun dunia artis adalah dunia yang sudah membesarkannya dan memberikan segalanya yang dia inginkan.
Na Ri memikirkan betapa murkanya Ibunya, bagaimana dengan kontrak-kontrak yang harus dia kerjakan?
Dia sama sekali tidak berencana pergi terlalu lama dari dunianya.
Di tempat ini, dia akan merasa canggung dan asing, apa yang akan dia lakukan di sini?
"Na Ri, mungkin ini akan jadi hal yang berat untukmu...akan terasa pahit pada awalnya karena Seoul dan desa ini sangat jauh berbeda."
Gorae menimpali, Na Ri masih menunduk.
"Aku...merasa sangat gagal..."
Na Ri berkata pelan.
"Dalam hidup kita butuh kegagalan, kalau tidak, hidup akan terasa membosankan." Min Hong Ah menatap Na Ri.
"Aku sudah berdiskusi dengan anak dan cucuku, aku memutuskan untuk membantu kamu benar-benar bangkit bukan karena sebuah kepopuleran, sebuah sensasi, atau cinta sesaat dari penggemar mu...atau kebencian yang tidak habis-habisnya dari orang yang membenci kamu."
Na Ri tertegun, sebegitu terbukanya Gorae pada keluarganya, dan mereka begitu peduli pada selembar nyawanya yang dia sendiri sangat sering tidak mampu menghargainya.
"Kenapa.....kalian semua begitu peduli pada ku?" Na Ri balas menatap Min Hong Ah.
"Karena ada gadis baik di dalam jiwa kamu, yang berhak bahagia, dan kamu sendiri harus menyelamatkannya! Bukan kami!"
Na Ri tidak menyadari air matanya berlinang, dia sangat terharu. Tidak heran jika Gorae begitu baik, dia dibesarkan dengan sangat baik oleh manusia-manusia kuat berhati emas.
*
Hari ini, sudah ke dua puluh tujuh kalinya Gorae menelepon Yunna, tapi tidak satupun dijawab oleh Yunna.
Sudah satu minggu Gorae ada di desa, tidak sekalipun Yunna mengangkat telepon darinya.
Gorae tidak bisa membayangkan jika Yunna tidak mau lagi bicara dengannya.
'Jika kamu masih tidak mau bicara denganku, aku mengerti dan aku tidak memaksa. Tapi setidaknya kamu tidak berkelana dengan pikiran kamu sendiri. Beri tahu aku jika kamu sudah mau bicara dengan ku.'
Gorae mengirim pesan pada Yunna.
Yunna membaca pesan Gorae, dia menimbang-nimbang apakah dia harus bicara dengan Gorae?
Akhirnya dia memutuskan untuk membalas pesan Gorae.
'Untuk apa? Walaupun aku tidak suka dengan apa yang kamu lakukan, kamu tetap melakukannya.'
Gorae mengacak-acak rambutnya, sulit sekali mengajak Yunna untuk bicara, dia tidak akan pernah bisa memberikan penjelasan apapun jika apa yang dilakukannya tidak disukai Yunna.
'Kamu adalah bagian terpenting dalam hidupku. Mungkin sebaiknya kita bicara'
Gorae menunggu balasan Yunna.
Gorae menghela nafas, setidak suka itukah Yunna pada Na Ri.
'Aku tidak akan meminta kamu untuk mengerti. Cukup beri aku kesempatan untuk bicara. Selebihnya terserah kamu, Yunna'
Gorae sebenarnya tidak suka membicarakan sesuatu yang penting lewat telepon atau pesan singkat, baginya, tanpa melihat wajah dan ekspresi lawan bicaranya akan membuat salah mengerti.
Yunna bertanya-tanya apakah dia akan mengalah dan mampu menerima penjelasan Gorae kali ini? Jika ini tentang Jung Na Ri, Yunna tidak sanggup mendengarkan penjelasan apapun sebetulnya.
Tapi apakah dia akan sanggup menolak wajah polos Gorae yang selalu bersikap baik?
Hufff...! Yunna meniup rambut yang jatuh didahinya.
'Jemput aku besok siang di rumah sakit.'
Gorae hampir melompat dari tempat tidurnya. Akhirnya Yunna mau bicara dengannya.
Beberapa hari tidak bicara dengan Yunna sangat menyiksanya.
Gorae sebetulnya tidak yakin apakah nanti Yunna mau mendengarkannya. Tapi dia sangat berharap, hubungannya dengan Yunna tidak akan rusak.
Saat makan malam Gorae terlihat sangat ceria, dia makan sangat lahap. Keluarga Gorae berkumpul di ruang makan, kecuali Na Ri yang masih harus makan di dalam kamar.
"Waah kakak seperti orang yang sedang jatuh cinta!" Goda Sora.
Gorae tersenyum lebar, "Eomma, nenek, besok aku akan pergi ke Seoul."
"Bukankah kamu sedang cuti?" Tanya Park Hilda sambil meletakan irisan daging ke mangkuk Gorae.
"Aku akan ketemu Yunna.."
Park Hilda dan Ming Hong Ah saling bertatapan sambil tersenyum.
"Kapan kamu akan melamar Yunna?" Min Hong Ah berharap Gorae segera menikah, usianya sudah hampir tiga puluh tahun. Pertanyaan neneknya disambut tawa cekikikan dari Sora.
"Ah....setelah Yunna selesai dengan spesialisasinya Nek."
Gorae sendiri berharap bisa segera menikahi Yunna.
"Ajaklah dia liburan disini lagi, dia harus belajar memasak seperti ibumu juga." Min Hong Ah tersenyum melihat Gorae yang tersipu-sipu.
"Iya nek..."
Sora menyenggol lengan kakaknya dengan sikutnya. Setengah berbisik dia bertanya,
"Apakah Yunna eonni akan marah jika dia tahu Na Ri ada disini?"
Gorae menghentikan suapannya. Jika Yunna tahu.... pasti dia murka!
Mendadak dadanya terasa sesak, segala ketidak pastian tentang sikap Yunna besok membuat dia khawatir.
"Aku tidak tahu... semoga saja tidak..."
Jawab Gorae pelan. Sora menangkap kekhawatiran kakaknya.
*
Pagi jam 7, Gorae berpamitan pada Na Ri.
"Ada hal darurat di Seoul?" Tanya Na Ri cemas. Gorae menggeleng,
"Tidak darurat, aku ada sedikit urusan. Aku akan pergi satu atau dua hari, Sora akan menjaga kamu."
"Kak, hari ini Na Ri sudah bisa lepas infus kan?" Tanya Sora sambil meletakan plester dan perban.
"Iya, kamu sudah boleh jalan-jalan sekarang. Kamu akan segera pulih asal makan banyak, jangan lupa, obat dan vitaminnya!" Pesan Gorae sebelum pergi.
"Sora, aku titip Na Ri ya!" Dia mengacak rambut adiknya.
"Oke kak...Kak, fighting!" Sora mengepalkan tangannya memberi semangat pada Gorae, disambut senyum lebar Gorae.
Setelah Gorae pergi, Sora mengajak Na Ri jalan-jalan di halaman rumahnya.
"Na Ri, sambil menunggu sarapan pagi, ayo kita jalan-jalan... pelan-pelan saja. Ayo aku bantu kamu pakai mantel!" Ajak Sora bersemangat.
Na Ri mengangguk senang.
Halaman rumah keluarga Gorae sangat luas, karena rumah ini berada di atas pebukitan, Na Ri bisa melihat pemandangan yang hampir diselimuti oleh warna kuning, jingga dan merah dari pohon maple.
Angin musim gugur berhembus semilir, suasana terasa sangat menakjubkan.
"Wahh...di sini luar biasa!" Na Ri berdecak kagum. Dia melangkah perlahan sambil tak henti-hentinya mengagumi keindahan yang terpampang di depan matanya.
Sora tersenyum senang.
"Kamu suka di sini Na Ri?"
"Tentu, seumur hidupku aku tinggal di Seoul. Desa ini seperti surga bagiku." Wajah Na Ri berseri-seri.
"Tunggu sampai kamu sehat, nanti aku ajak kamu ke pusat desa! Yunna eonni juga suka sekali pergi ke pasar desa, dia akan belanja berjam-jam!"
Na Ri mengangkat alisnya, "Yunna?"
"Yunna, pacar kak Gorae. Dia sudah tiga kali menginap untuk berlibur di sini."
Sora tersenyum riang.
"Ah..." Na Ri mengangguk, jadi nama pacar Gorae adalah Yunna. Mendadak ada perasaan aneh dihati Na Ri. Entah apa...tapi terasa agak perih.
*
Gorae tiba di Seoul dua jam lalu setelah menempuh tiga setengah jam perjalanan. Dengan sabar Gorae menunggu Yunna selesai dari pekerjaannya siang ini.
Dia menunggu Yunna di cafe rumah sakit.
Begitu melihat Yunna melangkah mendekatinya, Gorae bangkit dari duduknya.
Tanpa senyum Yunna memandangi Gorae dengan wajah lelahnya.
"Kita makan siang dulu, oke?" Ajak Gorae. Yunna hanya mengangguk tanpa keluar sepatah katapun.
"Kamu mau makan siang dimana?"
Saat Gorae membuka pintu mobil untuk Yunna dan Yunna pun masuk.
"Aku sebetulnya tidak selera makan."
Yunna masih bersikap dingin.
Gorae menjalankan mobil, dia melirik Yunna.
"Kamu yakin?"
Yunna menatap lurus ke depan.
"Kamu mau bicara apa? Langsung saja."
Gorae menghela nafas, gadis yang sangat dicintainya terlihat masih marah.
"Aku rindu kamu, Yunna. Bisakah kita bicara lebih baik?"
Yunna memalingkan mukanya menatap keluar jendela mobil, dari tadi dia sudah berusaha untuk meredam segala kemarahannya pada Gorae. Dia tidak ingin kacau saat harus dihadapkan pada kenyataan Gorae akan menceritakan hal yang tidak dia sukai.
Tapi, sangat sulit sekali untuk bersikap manis saat dia sedang kesal.
Gorae memarkirkan mobilnya di sebuah cafe.
Jam makan siang sudah lewat beberapa jam, hanya ada satu dua pengunjung di cafe ini.
Yunna meletakan cangkir vanilla late setelah menyesapnya sedikit.
"Jadi, kenapa kamu cuti mendadak?"
Tanya Yunna dengan nada tajam.
"Aku pulang ke rumah ibu..."
Alis Yunna terangkat keheranan,
"Apakah ada yang tidak beres?"
Gorae menggeleng, "Keluargaku baik-baik saja."
"Lalu?"
"Aku membawa Jung Na Ri ke..."
Brak! Belum sempat Gorae menyelesaikan kalimatnya, Yunna sudah menggebrak meja begitu mendengar nama Jung Na Ri.
"Sudah ku duga!"
Yunna bangkit dari duduknya dia pergi meninggalkan Gorae.
Gorae menyusul Yunna, dia tarik tangan kekasihnya, "Yunna tunggu. Kamu harus dengar dulu!"
"Apa yang harus aku dengar? Bahwa kamu lagi-lagi menolong ratu drama itu? Lalu kamu membawa dia bertemu dengan keluarga kamu? Lalu kamu berusaha memastikan agar hidupnya selamat? Lalu..... apa?! Kamu berharap aku akan mengerti?!"
Emosi Yunna sudah sampai di ubun-ubun. Gorae berusaha menenangkan Yunna,
"Yunna, ceritanya panjang, dia hampir terbunuh.."
"Ohoo...dan kamu adalah sang penyelamat! Demi gadis bodoh itu kamu mengorbankan pekerjaanmu...bahkan kamu mengorbankan aku!"
Bentak Yunna, ingin rasanya dia mencaci maki lebih keras lagi.
"Tidak Yunna, aku tidak mengorbankan siapapun! Atau pekerjaanku."
"Kamu lelaki bodoh Gorae! Kamu pikir aku tidak punya perasaan?!" Nada suara Yunna meninggi. Gorae menarik tangan Yunna untuk kembali ke mobil.
"Kita bicara di tempat lain!"
"Tidak Gorae! Tidak ada yang perlu aku dengar lagi."
Yunna menarik tangannya dengan marah, Gorae menghentikan langkahnya.
"Lalu?" Wajah Gorae terlihat gelisah.
"Aku rasa....aku tidak sanggup."
Suara Yunna mulai merendah.
"Tidak sanggup apa?" Gorae mendekati Yunna, matanya sangat kelam, ada ketakutan yang menenggelamkan kejenakaan mata Gorae.
Yunna menatap lelaki yang sudah dua tahun jadi kekasihnya.
"Aku tidak sanggup menjalani hubungan yang membuatku sakit...."
Keputus asaan menyelimuti wajah Gorae. Dia melangkah semakin mendekati Yunna, dia tidak percaya Yunna akan mengatakan hal yang paling dia takuti.
"Maafkan aku Yunna. Aku terlalu banyak menyakitimu..."
Wajah Gorae sangat muram, Yunna menggigit bibirnya kuat-kuat. Pergolakan bathin antara kemarahan, ketidak sukaan, rasa cemburu, kebencian dan rasa cintanya pada Gorae sedang beradu. Rasa-rasa itu sedang berlomba menjadi pemenang.
"Gorae....aku...." Yunna melihat mata Gorae lekat-lekat.
"Aku sangat mencintai kamu Yunna..." Gorae meraih pinggang Yunna, bibirnya mendarat lembut di bibir Yunna.
Gadis itu memejamkan mata. Segala emosinya meledak-ledak di dadanya.
Gorae merapatkan pelukannya, bibirnya menjelajahi bibir Yunna dengan lembut dan hangat. Kerinduan dan ketakutannya membuat Gorae memeluk Yunna lebih erat.
Yunna hanya mampu membalas ciuman bibir Gorae tanpa mampu memeluk lelaki yang dicintainya.
Tangannya seperti lemas terjatuh dan membiarkan Gorae mengulum bibirnya sangat lama. Nafas hangat Gorae menyapu wajahnya.
Gorae berkali-kali mengecup bibir Yunna sebelum dia benar-benar melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Yunna erat-erat.
"Yunna.....Yunna sayang, aku cinta kamu..." Bisik Gorae.
Yunna hanya menatap Gorae.
Berjuta perasaan ingin dia ucapkan saat ini. Yunna bertanya-tanya di dalam hati, benarkah dia mencintai Gorae?
Mengapa dia tidak sanggup untuk menerima sisi lain yang tidak dia sukai dari Gorae?
***
* Daechu-cha : Minuman dari buah jujube yang dikeringkan, minuman ini kaya akan zat besi, vit B dan C.
* Dakjuk : Bubur korea terbuat dari beras dan kaldu ayam