
Gorae segera meminggirkan mobilnya, hatinya berdebar, dengan penuh harap dia membuka pesan dari Na Ri.
LollyNa_Ri :
'Aku tidak mengerti mengapa kamu peduli. Aku tidak tahan lagi.'
Gorae menerka-nerka apa maksud Na Ri tidak tahan lagi, apakah dia menyakiti dirinya sendiri? Atau dia tidak tahan dengan pesan-pesan darinya?
Sweet Summer :
'Aku tidak tahu mengapa aku peduli, yang aku tahu, aku merasakan apa yang kamu rasakan. Aku sangat sedih melihat air matamu. Aku hanya ingin menemani kamu melewati semua.'
- delivered
- seen
Jung Na Ri menggigit bibirnya, hanya orang ini yang benar-benar peduli padanya. Na Ri merasakan dunia yang begitu gelap dan dingin tapi ada satu tangan yang terulur mencoba meraihnya. Air matanya kembali menetes.
Sweet Summer :
'Na Ri, kamu di sana? Tolong tetap di sana. Aku akan temani kamu. Tolong jawab aku.'
- delivered
- seen
Gorae mencoba untuk terus berkomunikasi dengan Na Ri, dia sangat yakin Na Ri masih sangat galau, setidaknya dia berusaha membuat Na Ri tersadar dan mengurungkan niatnya. Gorae harus memastikan itu.
LollyNa_Ri :
'Aku di sini. Aku sangat takut.'
Gorae menarik nafas, dia lega Na Ri masih menjawabnya.
Jung Na Ri menangis terisak-isak, dia benar-benar merasa takut... dia takut menghadapi kenyataan bahwa dia di benci semua orang dan takut melangkah jauh menuju kematian.
Dia merasa berdiri di bibir jurang yang gelap dan dalam, tak ada seorangpun yang meraih tangannya. Na Ri merasakan sekujur tubuhnya sakit dan kepalanya sangat pening. Dia merasa sangat lemas.
Sweet Summer :
'Kamu tahu, ini sudah menjelang pagi.. dan aku masih ada di pinggir jalan di dalam mobilku โบ'
Na Ri mengangkat alisnya, sedikit kewarasan tiba-tiba membuka pintu di dalam kepalanya. Ah! Sudah hampir jam 3 pagi! Dan orang ini masih di jalan hanya untuk menghiburku?
Satu gambar di kirim Gorae kepada Na Ri, foto jalanan sepi tempat dimana dia sedang memarkirkan mobilnya. Na Ri memperhatikan foto yang dikirim Gorae, dia merasa bersalah.
LollyNa_Ri :
'Ya ampun. Seharusnya kamu pulang, jangan pedulikan aku! Kamu pasti kelelahan. ๐ฆ'
Na Ri benar-benar merasa tidak enak hati. Dia sudah begitu membuat repot seseorang.
Gorae tersenyum, gadis ini sebenarnya gadis yang baik. Dia masih sangat peduli dengan orang lain. Ada harapan besar Na Ri akan urung melakukan bunuh diri.
Sweet Summer :
'Uh aku senang bisa chatting dengan kamu! Setidaknya kamu juga akan temani aku pulang. Kamu mau temani aku?'
'Na Ri, tapi aku lapar ๐ '
LollyNa_Ri :
'Kamu harus makan dulu sebelum pulang.'
Entah kekuatan dari mana Na Ri merasa satu tangan menarik tubuhnya yang berjam-jam berbaring di lantai yang dingin.
Ada rasa simpati menyelinap dihatinya.
Aku benar-benar egois! Na Ri mengutuk dirinya.
Perlahan dia bangkit dan berjalan terhuyung-huyung menuju dapur kecil di apartemennya, rasanya sudah seratus tahun dia tidak minum, rasanya haus sekali.
Sweet Summer :
'Kamu sudah makan?'
Selesai meneguk segelas air dingin, Na Ri membalas,
LollyNa_Ri :
'Belum, aku tidak makan apapun sejak kemarin..'
Gorae tidak heran, Na Ri sedang kalut dan depresi berat.
Dia berpikir bagaimana cara yang sopan dan pantas untuk membuat dia mau makan, dia bisa sakit!
Sweet Summer :
'Mau aku pesankan makanan yang nanti aku makan?'
LollyNa_Ri :
'Tidak terimakasih, aku tidak lapar'
Na Ri meremas perutnya yang tiba-tiba terasa perih. Gorae tahu Na Ri berbohong.
Sweet Summer :
'Aku sedang berpikir, aku harus makan apa. Di luar sangat dingin. Bisa kamu tunggu sebentar sementara aku mengemudi?'
Tidak ada jawaban, Gorae menjalankan mobilnya, dia benar-benar kelaparan.
Dia akan mencari cara agar Na Ri juga makan. Sepuluh menit mengitari jalan .... handphone nya berbunyi lagi.
LollyNa_Ri :
'Aku minta maaf'
'Boleh aku meminta sesuatu?'
Gorae memarkirkan mobilnya di depan sebuah kedai. Sebelum turun dia membalas pesan dari Na Ri.
Sweet Summer :
'Tentu, katakan.'
'Aku baru sampai di sebuah kedai, aku bisa mencium aroma seolleontang* dari luar.'
Na Ri tercenung, siapa orang ini? Apakah aku bisa mempercayainya? Apa dia orang jahat? Dia menimbang-nimbang sebentar.
Seumur hidupnya, dia tidak pernah berbicara dengan orang asing, sebagai seorang bintang hidupnya selalu diatur.
Mengenal orang baru harus melalui ijin dari ibunya atau managernya. Mereka semua sangat ketat dan over protective.
Ruang geraknya selalu dibatasi. Dia tidak bebas menjadi dirinya sendiri, dia tidak bebas memilih teman, dia merasa sebagai boneka ibu dan managernya.
Bahkan bully-an yang bertubi-tubi kepadanya dianggap sebagai penarik bagi endorser!
Mereka tidak peduli rasa sakitnya, saat dia memberontak dengan bertingkah nyentrik dan menyuarakan isi hatinya, ibunya akan menekannya.
Dia merasa terjepit dan tercekik di ruang yang gelap. Tidak pernah sedikitpun ibunya mengkhawatirkan keadaannya.
Yang dia rasakan hanyalah berjuta tekanan dan tuntutan untuk menjadi bintang yang sempurna.
Dan semua orang membencinya!
Air mata Na Ri berlinang, dia begitu takut. Kematian tadi hampir saja menjemput nyawanya.
Sampai ada seseorang yang mengorbankan waktunya hanya untuk menarik tangannya dari ruang gelap. Ada perasaan hangat dan dihargai di sudut hatinya.
Jika, orang ini berniat jahat padanya, Na Ri sudah tidak peduli lagi, toh tadipun dia sudah siap untuk mati.
Na Ri menghela nafas, beberapa jam yang lalu, dia hampir menghabisi hidupnya. Jika dia harus mengalami sebuah kejadian burukpun dia tidak peduli lagi.
Sweet Summer :
'Na Ri, kamu minta apa? Seolleongtang ini terlihat enak!'
Jung Na Ri tersenyum, dia sudah lupa bagaimana rasanya tersenyum yang benar-benar keluar dari hatinya.
LollyNa_Ri :
'Ah..kalau boleh, aku ingin melihat seolleongtang itu.'
Na Ri merasa konyol sekali. Sebenarnya dia bisa saja memesan makan lewat aplikasi pesan antar, tapi entah kenapa dia ingin orang ini yang memilihkan untuknya, dia ingin melihat orang yang sudah menyelamatkannya.
LollyNa_Ri :
'Maksudku, bisakah kita video call? Jika kamu keberatan tidak apa-apa, maaf aku sangat merepotkan'
Tanpa berpikir panjang Gorae langsung menekan tombol video call pada Na Ri, hatinya merasa sangat lega...se lega-lega nya!
Gadis itu sudah dipastikan tidak akan bunuh diri. Ini sangat memudahkan dia untuk membuat dia tenang dan merasa diperhatikan.
Na Ri terlonjak, orang ini tidak sedang mempermainkannya! Dia langsung menghubunginya! Dengan gemetar dia berlari ke kamarnya lagi.
Setelah menunggu beberapa saat, wajah Jung Na Ri muncul di layar handphonenya.
Wajah Na Ri sangat pucat dan kuyu, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Gorae tersenyum ramah pada Na Ri, dia melambaikan tangannya.
"Hai, selamat malam.." Sapa Gorae dengan senyum yang masih mengembang. Na Ri mencoba untuk tersenyum.
Na Ri berdehem sebentar,
"Hai." Balas Na Ri singkat. Suaranya serak sekali.
Na Ri melihat seorang lelaki tampan dengan penampilan yang rapi. Senyumannya sangat tulus dan hangat. Jantung Na Ri serasa melompat dari tempatnya.
Gorae terlihat berjalan ke dalam kedai.
"Aku hanya menemukan kedai ini, tapi baunya sangat harum! Cacing-cacing di perutku melakukan pemberontakan besar-besaran!"
Gorae tersenyum lebar. Dia sengaja tidak menanyakan keadaan Na Ri, dan bersikap seolah dia sudah lama mengenal Na Ri. Dia ingin Na Ri merasa nyaman.
"Kamu mau aku switch kameranya untuk melihat menu di sini?"
Na Ri mengangguk, "Ya, maaf merepotkan.."
"Hey, sudahlah kenapa selalu minta maaf? Aku senang melihat wajah kelaparan kamu! Sebentar, aku akan pasang ear phone."
Na Ri tertawa, dia tidak menyangka dia benar-benar tertawa! Na Ri merasa sudah lama sekali mengenal lelaki ini.
Terdengar suara gemerisik, Gorae memasang earphonenya. Dan kamerapun dia switch. Gorae mengarahkan handphone nya ke arah ruangan kedai.
Dia mencari tempat duduk, dan seorang pelayan datang menghampiri memberikan daftar menu.
"Na Ri, kamu bisa lihat menunya?"
"Iya.."
Gorae membuka-buka lembar demi lembar daftar menu perlahan-lahan, memberi kesempatan pada Na Ri untuk memilih.
"Ah, aku bingung..... semua terlihat enak."
Suara Na Ri terdengar kebingungan.
Gorae tersenyum,
"Orang kelaparan melihat mejapun pasti terlihat enak.."
"Ha ha ha... "
Spontan Na Ri tertawa lepas. Demi apapun, mendengar suara tawa Na Ri, membuat Gorae merasa sangat lega.
Na Ri sendiri tidak percaya kenapa dia tertawa dengan candaan Gorae. Ya ampun! Dia mengingatkan dirinya kembali, dia tidak mengenal lelaki itu, dan tadi dia hampir mati!
Tapi perasaan hangat menyelimuti hatinya. Tiba-tiba dia merasa sedikit ringan... sebuah beban terasa terangkat!
"Uh...kamu sudah pilih buat kamu sendiri?" Na Ri berbicara formal sekali, begitu juga Gorae pada Na Ri.
"Aku pilih seolleontang. Kamu?"
Gorae menjawab pasti, air liurnya hampir menetes melihat gambar sup lobak dalam mangkuk besar dan tercium wangi masakan itu.
Gorae sudah switch kembali layar handphonenya kembali Na Ri bisa melihat wajah yang tampan dan senyuman polos milik Gorae.
"Aku juga sama..."
Tiba-tiba Gorae merasa bingung, apakah Na Ri ingin diantarkan masakannya atau....
"Mau makan apa?" Tanya pelayan lelaki yang sedari tadi memperhatikannya, wajahnya terlihat mengantuk.
"Ah bisa dibawa pulang? Aku pesan dua porsi sup lobak pedas"
Na Ri pun tidak kalah kebingungan, lelaki itu memesan dua porsi dan dibawa pulang, apakah sopan baginya untuk memintanya datang mengirimkan masakan itu untuknya? Kembali dia merasa tidak enak hati.
"Ah, bodohnya aku..." Na Ri mendesah. Gorae mengangkat alisnya, "Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Aku sangat merepotkan kamu, aku sangat minta maaf.."
"Hey..jika kamu terus minta maaf aku akan mematikan video ini! Tapi jujur aku bingung, aku harus mengantar makanan ini kemana?"
Wajah Gorae terlihat tulus.
"Ka...kamu tidak keberatan?" Tanya Na Ri ragu.
"Yang jadi pertanyaan harusnya, apakah kamu tidak keberatan jika aku ikut numpang makan di tempat kamu?"
Hati Na Ri berdebar, dengan sedikit gugup dia menjawab,
"Sa...sama sekali tidak keberatan."
Bagi Gorae selain dia ingin segera makan selagi masakan ini masih hangat, dia ingin memastikan Na Ri juga lebih terbuka dan mau makan ditemani olehnya, siapa tahu kondisi mentalnya akan lebih stabil.
Na Ri menggeleng, "Aku tidak keberatan, sudah lama aku makan sendirian."
Na Ri menyebutkan alamatnya, Gorae tidak percaya gadis ini tinggal beberapa blok dari kedai ini.
"Wah syukurlah! Aku pikir kamu tinggal sangat jauh! Aku khawatir sampai di tempat kamu supnya sudah dingin dan aku sudah pingsan karena kelaparan." Mimik wajah Gorae sangat lucu, membuat Na Ri kembali tertawa lepas.
Kamar 1405! Ini dia! Gorae memijit tombol bel di pintu apartement Na Ri.
Ha! Gila, aku tidak percaya akan menghabiskan malam dengan seorang artis terkenal! Suara hatinya menggelitik.
Yunna, maafkan aku! Bisik Gorae.
Pintu apartement terbuka, Na Ri berdiri dengan wajah pucatnya, bajunya seperti kebesaran karena tubuhnya kurus sekali. Gadis itu mengenakan sweater kuning over size dengan celana pendek.
Gorae berusaha tidak menampakan wajah terkejut ketika melihat ruangan mewah ini sangat berantakan, seperti kapal pecah.
Di dekat meja tamu seutas tambang dengan simpul teronggok di bawah sofa. Puntung rokok berserakan, beberapa botol soju kosong dan kaleng bir memenuhi meja tamu.
"Maaf...sangat berantakan." Suara Na Ri lirih, dia merasa sangat kikuk.
"Hehe memang sangat berantakan, ayo, ambil mangkuk dan sujeo*, aku akan bersihkan mejanya! Tolong cepat ya! Aku hampir mati kelaparan!"
Gorae begegas memunguti botol-botol Soju dan kaleng-kaleng bir, dia pun membersihkan puntung-puntung rokok di atas meja.
Na Ri masih mematung memperhatikan Gorae, banyak pertanyaan di kepalanya dan juga keheranan. Lelaki asing ini, sama sekali tidak terganggu dengan kondisi apartemennya yang super kacau!
Dia ini gila atau memang dia seorang malaikat?
Gorae menoleh ke arah Na Ri,
"Aihh, jangan bilang kamu tidak punya mangkuk dan sujeo! Atau kamu tidak tahu dimana letaknya!"
Na Ri terperanjat, tapi dia kemudian tertawa melihat ekspresi Gorae yang seperti memelas karena kelaparan.
Dengan sedikit limbung Na Ri melangkah ke dapur, tangannya gemetaran mengambil mangkuk dan sujeo.
Gorae memperhatikan langkah dan gerakan Na Ri. Dia merasa sangat iba.
Tapi dia menahan diri untuk tidak membantu Na Ri, dia harus kuat untuk bergerak. Ini hal yang akan baik buat tubuhnya, yaitu, makan!
Na Ri meletakan semua peralatan dengan tangan yang masih gemetaran.
Wajah pucatnya mencoba tersenyum menyembunyikan kegugupannya. Gorae bersumpah ingin memeluk gadis cantik yang rapuh ini. Tapi Gorae hanya bisa menatapnya penuh kelembutan.
Na Ri hampir bersorak girang seperti anak kecil, ketika Gorae menuangkan seolleongtang ke mangkuknya.
Gorae memberinya semangat untuk makan.
"Tapi...aku tidak boleh makan makanan seperti ini. Apalagi malam hari. Aku sedang diet." Wajah Na Ri muram, tapi aroma sup yang menyegarkan sangat menggodanya untuk langsung melahapnya.
"Haissh.. kamu tidak lihat sup ini menangis memohon untuk dimakan? Kamu tahu, kokinya tadi sudah tidur, dia berjuang keras untuk memasak sup ini untuk kita!"
Gorae berbohong, tanpa menunggu Na Ri dia langsung memasukan sesuap penuh seolleongtang dan disusul nasi hangat memenuhi mulutnya.
Na Ri kembali tertawa, seketika hatinya terasa sangat hangat. Dia merasa diterima sebagai manusia biasa.
Lelaki ini bahkan tidak menanyakan apapun tentang dirinya yang beberapa jam lalu akan mengakhiri hidupnya.
Seakan semuanya terhapus begitu saja, seakan semuanya baik-baik saja di mata lelaki ini.
Akhirnya Na Ri makan juga. Gorae sangat senang. Wajah pucat Na Ri sedikit merona, karena hangatnya seolleongtang.
Titik-titik keringat mulai terlihat membasahi dahi Na Ri.
Tak disangka, gadis ini makan dengan sangat lahap. Tidak sampai setengah jam seluruh makanan habis tandas dimakan oleh Gorae dan Na Ri.
"Wahhh daebak! Kita seperti dua orang gila yang rakus!" Wajah Gorae senang dan dia kekenyangan.
Na Ri tersipu malu. Dia beranjak membereskan piring dan mangkuk kosong. Dia sudah tidak gemetaran lagi.
Gorae melihat jam tangannya, sudah pukul 5 pagi dan dia belum memejamkan mata sedikitpun dari kemarin.
"Na Ri, aku ada jadwal operasi nanti siang, aku harus pulang dan tidur sebentar."
Perasaan tidak enak hati kembali menyergap Na Ri, "Oh tentu...maaf sudah sangat merepotkan."
Kali ini Gorae tertawa, dengan mimik lucu dia menirukan ucapan Na Ri.
"Ayolah, aku sangat berterimakasih kamu mau makan dengan ku. Dan aku sangat senang kamu masih makan dengan lahap dan yang paling membahagiakan aku melihat kamu tertawa dan tersenyum."
Na Ri tersentuh mendengar kata-kata Gorae, lelaki ini begitu tulus. Ingin rasanya memeluk lelaki tampan di hadapannya ini.
"Kamu harus tidur juga! Selesai operasi, aku akan telpon kamu lagi! Aku akan libur besok, jadi kita bisa ngobrol dan makan lagi! Oke?"
Seperti tersihir Na Ri mengangguk pasti.
"Pastikan kamu masih hidup besok!" Mata Gorae berkedip menggoda Na Ri, Gorae sadar perkataannya sedikit kasar, tapi Na Ri malah tertawa dan kembali mengangguk dan menjawab "Iya. Aku akan tetap hidup."
Gorae senang bukan kepalang!
"Aku pamit, sampai jumpa besok sore."
Sebelum pintu ditutup Na Ri, dia teringat sesuatu,
"Anu, aku belum tahu nama kamu.."
Gorae menepuk dahinya.
"Aduh bodohnya aku! Rasa lapar membuat aku kehilangan akal!"
Na Ri kembali tertawa, Gorae kembali bersumpah, saat gadis itu tertawa, dia sangat cantik sekali, secantik bunga yang merekah.
"Aku Gorae, Kang Gorae."
***
*seolleongtang : sup rebusan tulang sapi diisi irisan daging sapi dan lobak.
*sujeo : peralatan makan korea terdiri dari sumpit dan sendok bulat.