I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Butterfly In My Stomach



"Anda mengenalnya Pak Kwak?" Tanya salah satu Polisi.


Kwak Tae Rang sedikit ragu, "Aku tidak yakin, tapi Song Myung Ri yang aku kenal memiliki tanda dipunggungnya."


Kwak Tae Rang mengamati lelaki kumal itu lagi.


"Baiklah Pak Kwak, tampaknya orang ini tidak waras, kita akan cari tahu tentang dia di Kantor Polisi, tolong bantu kami."


"Baik aku akan kesana."


Polisi membawa lelaki kumal itu pergi. Kwak Tae Rang melihat anaknya menggendong Sora yang lemas,


"Bagaimana keadaannya?"


"Aku akan membawanya ke rumah sakit."


"Baiklah..pakai mobilku!"


Kwak Tae Rang menoleh pada Na Ri yang sedang menarik motor yang terguling ke dalam semak di bantu oleh Pak Sun.


"Nona Jung syukurlah kamu selamat, tadi aku sedang berada di rumah Pak Sun dengan anakku dan mendengar cucunya Bu Min dalam kesulitan. Kakaknya tadi menelepon pak Sun."


Na Ri teringat Gorae, aiih! Telponnya masih tersambung, tadi dia masukan handphone Sora ke dalam kantong jaketnya.


"Ah, anda mengenal Gorae..."


"Tentu saja aku mengenalnya, aku mengenal seluruh keluarganya, terutama Sora...tsk...anak itu dari kecil memang bengal! Berbeda dengan kakaknya yang rajin dan baik hati!"


Gorae masih mendengar dari seberang telepon, mau tidak mau dia nyengir geli, dia ingat betapa seringnya Sora menjahili Pak Kwak yang dulu sempat menjadi tetangga sebelah rumahnya selama satu tahun sebelum dia membangun rumah di atas bukit. Dan, dia baru tahu Na Ri sekarang pemilik rumah itu.


Na Ri mengambil handphone Sora,


"Kamu masih disana?"


"Ya Na Ri... syukurlah kalian selamat."


Gorae bisa bernafas lega sekarang.


"Na Ri, terimakasih sudah sangat berani menolong adikku."


"Tidak usah bilang begitu Gorae, aku tutup dulu ya, aku harus ke kantor polisi dan rumah sakit."


"Baik, jaga diri kamu."


Kwak Tae Rang yang membawa motor matic Sora, Na Ri membonceng dibelakangnya.


"Pak Kwak, maafkan aku sudah merepotkan anda."


"Ah sudahlah, aku penasaran dengan lelaki gembel itu, sepertinya aku mengenalnya."


*


Kwak Tae Rang dan Na Ri mendapati lelaki kumal itu sedang duduk dengan tangan di borgol.


Seorang Polisi menyambut mereka, karena desa Deoukhaengbokdeurim adalah desa kecil, jadi hampir setiap orang mengenal satu sama lain.


"Pak Kwak, bisakah anda memastikan orang ini?"


"Baiklah, kita harus melihat punggungnya, Song Myung Ri yang ku kenal memiliki tahi lalat sebesar bola ping pong di punggung sebelah kiri."


Dua orang Polisi melucuti pakaian lelaki kumal itu, Kwak Tae Rang hampir berteriak saking terkejutnya melihat tahi lalat sebesar bola ping pong di punggung sebelah kiri.


"Tidak salah lagi! Ini sahabatku Song Myung Ri! Ya ampun...apa yang terjadi dengannya?"


Kwak Tae Rang berlutut di depan Song Myung Ri, lelaki kumal itu tampak gelisah, sambil terus-terusan menyebut kata-kata "A annakk ku" berulang-ulang.


"Myung Ri! Myung Ri! Kamu ingat aku? Aku Tae Rang sahabatmu! Apa yang terjadi dengan mu?!"


Kwak Tae Rang mengguncang tubuh Song Myung Ri.


Lelaki kumal itu hanya menatap Kwak Tae Rang dengan tatapan kosong.


Na Ri memperhatikan Song Myung Ri dan Kwak Tae Rang. Diam-diam dia merasa kasihan pada lelaki kumal itu, mungkin dia sudah mengalami penderitaan yang berat sampai hilang kewarasannya.


Kwak Tae Rang mulai menitikan air mata, dia merasa sangat sedih melihat sahabat lamanya menjadi sangat menyedihkan.


"Pak Kwak, jadi anda bisa pastikan dia adalah sahabat anda?"


Kwak Tae Rang bangkit, dia mengangguk.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatku, terakhir aku mendengar dulu dia menikah dengan seorang gadis dari Seoul, saat aku masih di Canada dengan istriku."


"Sudah berapa lama anda tidak bertemu dengannya?" Tanya Polisi itu lagi.


"Aku tidak yakin, saat itu Ji Soon baru satu tahun, aku tidak bisa kembali ke Korea karena istriku sakit....mungkin sekitar dua puluh lima tahun lalu."


Kwak Tae Rang mengusap-usap punggung sahabatnya.


Tiba-tiba Sora dan Ji Soon muncul, wajah, tangan dan kaki Sora dihiasi perban.


"Haiiishh... Bapak gila bisa diam juga ternyata! Hey! Aku bukan anakmu!" Sora menghampiri lelaki kumal yang terus komat-kamit.


Na Ri cepat-cepat menahan Sora,


"Sora, jangan! Dia sahabatnya Pak Kwak!"


"Apa?!" Hampir berbarengan Sora dan Ji Soon terkejut.


Song Myung Ri melihat ke arah Sora, dan mulai memanggil-manggil Sora lagi. Dua orang Polisi menahan lelaki itu.


"Ayo, sebaiknya kita semua bicara di ruangan lain. Dia akan terus gelisah jika melihat nona Kang."


Kwak Tae Rang, Kwak Ji Soon, Kang Sora dan Jung Na Ri pindah ke ruangan lain untuk memberikan keterangan.


Setelah mendapatkan semua keterangan, Polisi bertanya pada Sora,


"Nona Kang, apakah anda akan melanjutkan menuntut Song Myung Ri? Mengingat kondisi mentalnya, dia mungkin tidak menyadari tindakannya."


Sora menghela nafas, tadi bisa saja dia celaka atau tewas ditangan lelaki itu. Tapi rasanya percuma menuntut orang yang tidak waras.


"Sudahlah... aku tidak akan menuntut apapun dari orang itu. Walaupun aku hampir mati tadi." Sora merengut.


Na Ri mengusap punggung Sora.


"Aku akan membawa dia ke sebuah klinik di kota Muju. Siapa tahu dia akan sembuh. Aku berhutang budi banyak sekali pada Song Myung Ri."


Kwak Tae Rang bersedia bertanggung jawab akan perawatan Song Myung Ri.


"Ayah tidak pernah menceritakan soal Pak Song ini padaku."


Ji Soon berkata pada ayahnya sesaat mereka keluar dari ruangan itu.


"Nanti aku ceritakan, sekarang aku akan mengurus sahabatku dulu.


Aku akan menelepon pamanmu di Klinik Muju. Biar mereka mengirim ambulance kesini."


Na Ri dan Sora berterimakasih pada Kwak Tae Rang dan Ji Soon, dan mereka pamit pulang.


Na Ri dan Sora melewati Song Myung Ri, Sora berjalan cepat-cepat sebelum dipanggil lagi oleh lelaki gembel itu.


Tapi Na Ri malah berhenti sejenak di hadapan lelaki itu.


"Bapak... semoga Bapak sehat ya!"


Na Ri tersenyum melihat lelaki kumal itu nanar memandanginya.


"Aku akan menengok bapak kapan-kapan."


"Na Riiiii....cepatlah! Kamu cari mati disitu?!" Teriak Sora dari pintu keluar.


Na Ri membungkuk hormat, dia hanya merasa kasihan pada lelaki kumal itu, wajah dan rambutnya sangat berantakan. Wajahnya ditumbuhi jenggot dan kumis panjang.


Tapi tatapan matanya penuh kesedihan.


"Aku datang!"


Ji Soon mengejar Sora dan Na Ri,


"Sora, Na Ri, aku antar kalian ya? Ayah akan pergi ke kota Muju naik ambulance dengan sahabatnya."


Wajah Sora kembali memerah, dia saling berpandangan dengan Na Ri,


"Tapi... bagaimana dengan motorku? Aiiihhh....lihatlah gara-gara orang bau tadi, motor baruku kotor dan lecet!"


Na Ri menyenggol Sora.


"Ji Soon, kamu antar Sora saja, biar aku yang bawa motornya."


Sora membelalakan mata pada Na Ri, "Memangnya kamu bisa?"


"Aku tidak pernah bilang aku tidak bisa bawa sepeda, bawa motor atau mobil!" Na Ri nyengir.


"Haiiishh anak ini! Kenapa selama ini kamu selalu minta di bonceng naik sepedaaa??!!"


"Karena aku malas harus membonceng kamu!" Na Ri dan Ji Soon  tertawa, Sora rasanya ingin sekali memukul Na Ri saat itu juga. Tapi dia menahannya, dia tidak ingin terlihat jelek di depan Ji Soon.


Na Ri mengedipkan sebelah matanya pada Sora dan berbisik.


"Ini kesempatan emas, pergunakan baik-baik...jangan lupa minta nomor teleponnya!" Na Ri memberikan handphone Sora.


Wajah Sora makin memerah, lututnya terasa lemas.


"Sampai jumpa di rumah Sora ya! Kita akan makan siang di rumah Sora, aku akan belanja dulu"


Na Ri meninggalkan Sora dan Ji Soon.


*


Sora sudah membersihkan badannya, saat dia melihat Na Ri dan neneknya, dibantu Ji Soon sibuk mempersiapkan makan siang di halaman samping.


Samgyeopsal* jadi menu makan siang hari ini. Na Ri mempersiapkan sangchu*, kkaenip*, irisan bawang bombay, cabe hijau, bawang putih jamur kancing dan sosis.


Sementara Min Hong Ah menyiapkan saus celupan ssamjang*  dan gireumjang*. Tak lupa dia juga menyiapkan nasi dan mugeunji*.


Ji Soon membantu menyiapkan meja dan panggangan menggunakan kompor gas kecil di atas meja besar seperti amben.


"Aku tidak menyangka, putra Pak Kwak sangat tampan dan rajin."


Min Hong Ah tersenyum melihat Ji Soon.


"Aku tidak pernah tinggal lama di Korea, aku tidak punya teman orang korea, sejak lahir aku ada di Canada, jadi, ikut mempersiapkan makan siang seperti ini sangat menyenangkan bagiku." Ji Soon menjawab sopan.


Sora berbunga-bunga melihat Ji Soon akrab dengan neneknya. Bagi Sora keindahan seluruh dunia kalah dengan ketampanan Ji Soon.


Dia sangat berharap Ji Soon bisa menjadi kekasihnya. Sora tidak khawatir dengan Na Ri yang sangat cantik, dia sangat mendukung perasaannya pada Ji Soon.


Lagipula Na Ri sedikitpun tidak terlihat menaruh perhatian pada Ji Soon.


Malah....Sora merasa Na Ri jatuh hati pada kakaknya Gorae!


Setiap kali berbicara tentang Gorae, Na Ri akan bersemangat dan wajahnya memerah.


Sora berandai-andai, akan sangat membahagiakan jika nanti ternyata Gorae memilih Na Ri daripada Yunna! Walaupun manis dan baik, Yunna tidak pernah mau terlalu akrab dengannya, dia tidak mau tangannya kotor hanya sekedar membantu ibu atau neneknya di dapur. Dia bergaya seperti gadis bangsawan yang agung.


Berbeda dengan Na Ri, dia tidak canggung berbaur dengan kehidupan desa, walaupun dia lahir dan dibesarkan di Seoul. Dia tidak jijik berkotor-kotor menanam ubi, memanen sayuran dan bawang, masak, mencuci dan membersihkan rumah. Na Ri sangat menikmati hidupnya sekarang, wajah cantiknya semakin terlihat cantik karena dia tulus mengerjakan apapun demi bertahan hidup, tanpa harus tertekan dengan pandangan orang lain.


"Sora! Aiiihhh cepatlah! Kita hampir mati kelaparan!"


Teriak Na Ri mengagetkannya.


Na Ri meletakan teh Barley dan soju dingin di meja. Baru kali ini dia menyiapkan samgyeopsal mulai dari belanja sampai mempersiapkan segala sesuatunya.


Dulu dia hanya tinggal duduk dan makan saja, sekarang Na Ri merasa sangat bersemangat sekali.


Sora memperhatikan Na Ri yang tersenyum bahagia ketika menyantap makan siang yang lezat, dia bercanda dan tertawa dengan neneknya.


Sora mendadak merasa terharu, betapa keras dan sulitnya hidup Na Ri selama ini.


Betapa sulitnya merasa tidak dicintai dan tidak dihargai. Hidupnya hanya jadi konsumsi publik.


Sora kagum Na Ri yang dulu hampir bunuh diri, perlahan dia bangkit dan meninggalkan semua gemerlap kehidupan artis dan menjadi orang kebanyakan.


Na Ri sangat tidak peduli dengan penampilannya sekarang, tapi justru kecantikannya semakin terlihat ketika dia bahagia.


Sora mengusap punggung Na Ri,


"Kenapa lagi kamu?"


"Kamu tadi sangat berani, terimakasih kamu sudah melakukan segalanya buatku."


"Hey, hentikan...kamu bahkan tidak berterimakasih pada Ji Soon!" Dengan wajah polos Na Ri menunjuk Ji Soon dengan bibirnya.


"Oh eh...Ji Soon....terimakasih banyak."


Ji Soon tersenyum sangat manis,


"Sudahlah, yang terpenting kamu sudah selamat sekarang."


Wajah Sora memerah dia rasanya mau meleleh saja. Na Ri dan nenek saling berpandangan penuh arti.


"Kalau saja Gorae ada di sini, pasti akan lebih menyenangkan." Kata Min Hong Ah, Na Ri tertunduk, Sora melihat perubahan wajah Na Ri.


"Siapa?" Tanya Ji Soon


"Kakak ku, dia bekerja di Seoul." Jawab Sora.


"Ah ya... ayahku tadi menyebut namanya, dia ternyata sangat mengenal keluarga kalian."


"Betul, aku hanya bertemu dengan ibumu beberapa kali, sejak ayahmu menikah ibumu harus tinggal di luar negeri karena pekerjaannya. Ayahmu membeli banyak lahan disini, karena dia insinyur pertanian, dia banyak membantu petani-petani disini. Dulu sebelum dia membangun rumah dibukit, dia tinggal di sebelah rumah. Hanya sendirian, karena kamu dilahirkan di luar negeri."


Min Hong Ah menceritakan kisah bekas tetangganya Kwak Tae Rang, ayah Ji Soon.


Ji Soon mengangguk,


"Itulah kenapa aku tidak tahu pak Kwak punya anak, aku hanya tahu dia tinggal sendirian." Timpal Sora.


"Ibunya Ji Soon cantik sekali!" Min Hong Ah memberitahu Sora, "Kamu dulu adalah musuh besar ayah Ji Soon!" Min Hong Ah tertawa, wajah Sora memerah karena malu.


"Nenek... sudahlah!.... tapi aku memang suka menjahili pak Kwak hehehe..."


Ji Soon, Na Ri dan Min Hong Ah tertawa. Sora tersipu-sipu.


Sesekali Min Hong Ah menyuapi Sora, Na Ri dan Ji Soon daging **** matang dicelupkan saus dan dibungkus dengan sangchu ditambahkan irisan bawang bombay dan bawang putih.


Pagi yang menakutkan diakhiri dengan siang menjelang sore yang menyenangkan.


Park Hilda tiba di rumah saat semua orang selesai dengan makan siang.


Dia terkaget-kaget melihat motor baru Sora dan cerita Sora diserang orang tidak waras.


"Aigooo...kenapa kalian tidak menelponku?"


"Kami baik-baik saja bu... ibu tidak usah khawatir." Jawab Sora meyakinkan ibunya.


"Untung aku sudah makan siang, jika tidak, aku akan kehilangan nafsu makan mendengar semua ini!" Park Hilda menggerutu.


Setelah membereskan semua peralatan, Na Ri pamit pulang ke rumahnya.


Dia menolak Sora dan Ji Soon yang akan mengantarnya pulang. Na Ri ingin memberi kesempatan pada Sora agar bisa lebih dekat dengan Ji Soon.


Sambil berjalan pulang, Na Ri memikirkan kejadian tadi pagi. Entah kenapa dia merasa kasihan dengan lelaki kumal itu.


Sesampai dirumahnya yang sepi, satu panggilan masuk dari Jung Bok Sil dihandphonenya.


"Na Ri... aku baru lihat foto-foto kamu dengan adik Gorae.."


"Bagus kan bu?" Tanya Na Ri berseri-seri.


"Tempat itu indah sekali..."


"Tentu bu! Namanya danau mujigae, kapan-kapan ibu harus datang melihatnya."


Hening sesaat Jung Bok Sil tidak menjawab,


"Bu? Ibu baik-baik saja?"


"Eh ya ya...aku baik saja...hanya rasanya semakin aneh aku tidak bisa melihat mu sesering dulu..."


"Aku mengerti...."


"Na Ri....kamu tampak bahagia disana.."


"Aku sangat bahagia bu."


"Aku rindu kamu, nak." Terdengar suara ibunya seperti menahan tangis.


"Aiih ibu...aku juga rindu ibu.." Ada perasaan hangat yang menjalar dihati Na Ri. Tidak pernah ibunya mengatakan hal-hal yang emosional selama dia ingat.


"Aku berpikir..... bagaimana jika aku tinggal dengan mu di desa..."


Mendengar hal ini, Na Ri terlonjak gembira, "Ya ampun! Aku akan sangat sangat bahagia bu!"


Jung Bok Sil meneteskan airmata, suara Na Ri sangat berbeda sekarang! Dia seperti tidak punya beban, suaranya sangat ceria. Inilah anakku yang sebenarnya, anakku yang baik dan ceria! Aku telah menghapus keceriaan Na Ri sejak dia berusia 9 tahun!


"Benarkah kamu akan bahagia jika ibu tinggal denganmu?"


"Tidak usah ibu tanyakan lagi! Kapan ibu akan pindah ke sini?"


"Nanti ibu beritahu kamu..."


Setelah menutup sambungan telepon, Na Ri mendapat telepon dari Sora.


"Naa Riii...." Sora menangis diujung telepon,


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Aku bodohhhh...."


Na Ri tidak sabar, "Ada apa?! Berhenti menangis, katakan ada apa?"


"Aku lupa minta nomor teleponnya Ji Soon!"


*


Sudah tujuh hari sejak dioperasi paru-parunya yang bocor akibat kecelakaan beruntun di songnidan-gil, Moon Jae Hyun sudah bisa terlepas dari ventilator.


Yunna yang menangani sebagian pasien selama masa pemulihan, pagi ini kembali dia mengunjungi pasien-pasien korban tabrakan beruntun.


Berbeda dengan pasien yang lain, Moon Jae Hyun ditempatkan di ruang perawatan VVIP oleh keluarganya.


Dia adalah pewaris dan CEO dinasti group raksasa Star&Sky.


Sebelum masuk kamar Moon Jae Hyun, Yunna mengetuk kamar VVIP itu.


"Selamat pagi Tuan Moon." Sapa Yunna, Jae Hyun tersenyum melihat dokter cantik yang merawatnya.


"Ada keluhan yang dirasakan hari ini?"


"Dadaku masih sakit jika menarik nafas dan batuk"


Yunna memeriksa dada Jae Hyun, tidak ada lagi bunyi abnormal, luka jahitanpun mulai mengering.


"Terasa sakit sekali?"


Jae Hyung menggeleng, "Hanya sedikit, tapi cukup mengganggu.."


"Aku tidak menemukan tanda-tanda abnormal, hal ini normal karena anda baru saja mendapat operasi besar. Untuk memastikan aku akan melakukan USG."


Jae Hyung sedikit mengeluh ketika berusaha bangun,


"Dokter Cha, sebetulnya aku harus pulang... bolehkah aku rawat jalan saja?"


"Tidak sebelum anda benar-benar pulih Tuan Moon."


"Aigoo berapa lama lagi?"


Yunna tersenyum, pasien selalu ingin cepat ditangani ketika sakit dan selalu ingin cepat pulang ketika dirawat.


"Tidak lama asal anda mau mendengar apa kata dokter!"


Jae Hyun terpana melihat senyum Yunna yang sangat cantik.


"Ah...mungkin aku akan bertahan selama berabad-abad jika kamu selalu jadi dokterku."


Yunna terkejut dan dua orang perawat yang mendampingi terkikik geli.


"Baik, aku akan jadi dokter anda, asal anda benar-benar menurut padaku! Tidak boleh nakal!"


Jae Hyun menatap Yunna terpesona, pandangan mereka tiba-tiba bertemu,


Aihh! Lelaki ini cukup tampan! Bisik bathin Yunna.


"Eh..emm...aku akan kembali nanti untuk USG..." Yunna merasa sangat kikuk. Jae Hyun tersenyum melihat Yunna yang grogi.


Saat Yunna akan pergi, Jae Hyun memanggilnya lagi,


"Dokter Cha, saat aku keluar nanti, bisakah aku mentraktirmu makan?"


Yunna agak kaget dengan permintaan yang begitu langsung seperti ini, dari seorang pasien VVIP yang baru dikenalnya seminggu yang lalu.


"Ah....anu...aku tidak yakin..."


"Hanya ucapan terimakasih saja, hm?"


Setelah berpikir sejenak, Yunna mengangguk, "Baiklah, makanya cepatlah sembuh!"


Jae Hyun kembali tersenyum melihat betapa groginya Yunna, dokter Cha sangat cantik! Jantungnya berdebar kencang melihat Yunna membalas senyumnya,


"Anu...boleh aku minta nomor teleponmu?" Jae Hyun tampak sangat berani....ada sisi agresif yang tidak dimiliki oleh Gorae, sisi yang sangat disukai oleh Yunna dari seorang lelaki!


Yunna ragu sebentar, dia menghampiri Jae Hyun,


"Berikan ponsel mu.."


Jae Hyun mencari-cari ponselnya, Yunna melihat handphone Jae Hyun terselip dibawah bantalnya. Entah dorongan dari mana Yunna memberanikan diri membantu Jae Hyun mengambil handphone yang terselip disisi bagian atas bantal Jae Hyun. Jae Hyun yang duduk terpaku ketika wajah Yunna yang sangat dekat dengan wajahnya, hanya berjarak 10 cm.


Tercium aroma bunga yang segar dari tubuh Yunna. Saat Yunna berhasil mengambil handphone Jae Hyun, lelaki itu dengan cepat menangkap tangan Yunna hingga wajahnya makin mendekat ke wajah Jae Hyun.


Yunna sangat kaget, tatapan mata mereka bertemu.


Lama mereka saling berpandangan,


"Kamu cantik sekali..." Bisik Jae Hyun pelan. Nafas Jae Hyun yang hangat menerpa wajah Yunna.


Ah, mengapa lelaki ini begitu menarik? Dia sangat menantang! Yunna mengagumi wajah tampan Jae Hyun.


Hampir Yunna kehilangan akal, tapi cepat-cepat dia tarik tangannya dan mengetikan nomor handphonenya di handphone Jae Hyun.


"A- Aku akan kembali nanti..." Yunna memberikan handphone Jae Hyun dan berbalik pergi.


"Aku akan tunggu kamu...dokter Cha.."


Sebelum menutup pintu Yunna masih melemparkan senyum pada Jae Hyun yang menatapnya tak berkedip.


Yunna cepat-cepat berlari ke toilet.


Ya Tuhan! Perasaan apa ini? Mengapa lelaki itu seperti magnet yang menariknya kuat?!


Perasaan yang tidak pernah dia dapatkan dari Gorae, Gorae selalu memperlakukannya sangat lembut dan hati-hati. Dia tidak pernah melewati batas. Dia begitu penuh penghormatan dan sangat sopan.


Saat dia memintanya menjadi pacarnya, Gorae harus menunggu bertahun-tahun untuk menyatakan perasaannya. Yunna sering berharap Gorae lebih berani dan menggairahkan. Dia dulu berharap Gorae bersikap lebih agresif sebagai laki-laki.... tapi tidak, Gorae sangat pandai menahan diri.


Ada debar aneh saat memandang Moon Jae Hyun....lelaki itu tidak setampan Gorae, tapi dia sangat sexy dan berani!


Kupu-kupu di perut Yunna serasa terus mengepak dan menggelitiknya..


***


Samgyeopsal * :


 (삼겹살; Pengucapan Korea: [samɡjʌp̚sal]) adalah masakan Korea berupa panggang daging perut babi yang berlemak dan tebal. 


sangchu* : 상추 selada


kkaenip* : Daun perila


ssamjang*  : Sejenis saus pedas dan kental yang biasa digunakan dalam masakan Korea


gireumjang*. : 기름장), Saus pencelup dibuat dari garam dan minyak wijen, kadang-kadang mengandung sedikit merica hitam.