
Sora berjalan cepat menuju ruang perawat. Hari ini sangat melelahkan, dia hampir tidak duduk seharian.
Ada saja tugas yang harus dia kerjakan.
Rasanya beberapa hari ini
semua pasien yang datang berubah jadi bayi manja. Dan dia sangat kewalahan menghadapi mereka.
"Aiisshh... aku sangat rindu kursi ini!" Teriak Sora seraya membanting pantatnya dikursi. Rasanya kakinya pegal sekali.
Teman-teman Sora sesama perawat sama-sama mengeluh kelelahan.
"Aigo ada apa hari ini? Kenapa banyak sekali pasien yang datang?"
"Cuaca dingin sekarang sangat ekstrim itu penyebabnya." Timpal salah satu perawat.
"Aku akan selesai sebentar lagi. Sudah dua malam aku tidak pulang." Sora menguap.
Handphonenya berbunyi, Sora mengambil handphone dari kantong bajunya, Gorae yang menelepon.
"Hallo Oppa."
"Sora...apa kabar kamu?"
Suara Gorae terdengar lelah.
"Aku baik kak..hanya saja akhir-akhir ini sangat melelahkan. Sebentar lagi aku pulang."
"Aku juga akan pulang besok atau lusa. Aku dapat libur tiga hari."
"Wahh baguslah...kamu sudah lama tidak pulang. Kamu belum tahu rumah Na Ri kan? Rumahnya sangat nyaman sekarang, tidak seperti waktu dihuni pak Kwak, Na Ri menyulap rumahnya sangat indah!"
Gorae tersenyum, Sora selalu cerewet, dia selalu bersemangat akan hal-hal yang dia temui.
"Bagaimana kabar ibu dan nenek?"
"Mereka baik, nenek rajin mengajari Na Ri jadi petani. Hampir tiap hari dia jalan kemanapun dengan nenek. Kakak tahu sendiri kaan...bagaimana cerewetnya nenek, aku heran kenapa Na Ri begitu tahan dengan nenek! Aku saja tidak tahan jika nenek mulai mengajariku!"
Gorae tertawa, ya ampun! Adiknya justru yang mewarisi ke cerewetan nenek mereka!
"Iya, dan sangat menurun pada mu Sora!"
Mata Sora membesar, "Apa? Kakak bilang aku cerewet? Aku tidak seperti nenek! Nenek selalu harus detail dengan segala hal...dari menyulam, memasak, bertani ...apaapuuun dia akan selalu minta kita melakukannya dengan sangat benar! Aihh..! Bagaimana kakak mengatakan aku cerewet seperti nenek!"
Gorae tertawa geli, begitulah Sora, dia tidak pernah menyadari jika dia ternyata lebih cerewet dari nenek mereka.
"Oh ya...ibunya Na Ri sedang berkunjung ke desa kita. Dia memang sedikit berubah, tapi tetap menyebalkan!"
Gorae mengangkat alisnya, "Sudah berapa lama dia disana?"
"Dua hari... sepertinya dia tidak akan lama...tapi aku senang dia tidak ingin tinggal dengan Na Ri, dia selalu menggerutu dan mengeluh dengan apapun yang dilakukan Na Ri!"
Gorae menghela nafas, dia berharap Jung Bok Sil tidak menyulitkan Na Ri.
"Kakak....apakah nanti kakak pulang dengan Yunna?" Tanya Sora tiba-tiba, entah kenapa Sora merasa malas bertemu dengan Yunna.
Gorae menelan ludahnya, iya, dia belum memberitahu keluarganya jika dia sudah putus dengan Yunna.
"Tidak.....aku sudah putus dengan Yunna..." Jawab Gorae pelan.
"Oh? Kenapa?" Sora spontan bertanya, diakuinya dia senang jika ternyata kakaknya putus dengan Yunna.
"Emm... dia tidak sanggup menjalani hubungan denganku. Dan aku tidak ingin memaksanya untuk menerimaku."
Suara Gorae terdengar getir.
"Maafkan aku kak...kakak pasti sedih...apakah karena Yunna cemburu pada Na Ri?"
Sora merasa sedih untuk kakaknya, dia sangat tahu betapa kakaknya sangat mencintai Yunna.
"Dengan siapapun dia akan cemburu."
"Kakak masih cinta dia?" Tanya Sora pelan. Terdengar hembusan nafas Gorae diseberang telepon.
"Aku tidak tahu....bohong jika aku katakan aku sudah melupakannya, bagaimanapun aku pernah bermimpi untuk menikahinya..."
"Kamu akan melewati semuanya kak...bersabarlah...rasa sakit itu akan jadi terbiasa dengan berjalannya waktu, dan kamu tidak akan merasakan lagi sakit." Sora memberi semangat pada Gorae.
Gorae mengangguk, ingin rasanya dia segera pulang.
Suasana jadi hening sesaat, "Kak? Kakak masih disitu?"
"Aku disini.."
"Cepat pulang ya! Aku punya banyak cerita! Aku jatuh cinta pada malaikat!" Sora mengalihkan pembicaraan.
"Apa? Kamu bisa juga jatuh cinta? Siapa yang kamu sebut malaikat itu?"
Gorae penasaran,
"Manusia paling tampan diseluruh jagad raya! Lelaki yang paling baik, paling manis, paling indah matanya....palinggg..."
"Hey stop! Oke, dia seperti malaikat! Tapi aku harus tahu siapa dia, jangan sampai kamu jatuh cinta pada orang yang salah!" Potong Gorae.
"Aiiih....kaaaak....dia anaknya si pemarah! Aku tidak menyangka si pemarah punya anak malaikat!"
Gorae tergelak, dia ingat betul siapa yang dimaksud Sora, pak Kwak dengan Sora adalah musuh bebuyutan, Sora benar-benar nakal saat dia kecil.
"Maksudmu kamu jatuh cinta dengan anaknya pak Kwak? Sora...kamu sudah kena karma!"
"Haiiisshhh! Masalahnya dia tidak tahu perasaanku!" Sora mulai merengek.
"Ah Sora, tunggu aku pulang ya! Aku tidak sabar mendengar rengekan kamu!"
Gorae harus menghentikan pembicaraan dengan adik kesayangannya ketika seorang perawat mengetuk pintunya memberi kode bahwa Gorae harus bersiap-siap untuk operasi.
"Kakak cepatlah pulang!"
"Iya anak nakal! Aku harus bersiap untuk operasi sekarang. Sampaikan salam buat ibu, nenek........ dan Na Ri."
"Oke kak! Fighting!"
Hmm...Sora tersenyum senang, Gorae menyebut nama Na Ri terakhir, tapi ada nada lain dari suaranya. Sora menerka-nerka, apakah kakaknya suka pada Nari? Ah semoga! Harap Na Ri.
Gorae ingin semua tugasnya cepat selesai, dia memutuskan untuk pulang malam ini juga.
*
Kwak Tae Rang tergopoh-gopoh menyambut teman lamanya Nam Dongmin yang baru turun dari taxi.
Kwak Tae Rang memutuskan menginap di rumah sepupunya di Muju agar bisa bertemu dengan Nam Dongmin. Temannya ini sangat ingin bertemu dengan Song Myung Ri sahabatnya.
Mereka bertemu di halaman klinik Muju.
"Dongmin! Akhirnya kita bertemu lagi!" Kwak Tae Rang tersenyum lebar, dia menyalami Nam Dongmin dengan hangat.
"Senang sekali bertemu denganmu Tae Rang!" Nam Dong Min menepuk-nepuk bahu Kwak Tae Rang.
"Ayo kita masuk, kita bicara di cafetaria klinik dulu. Saat ini Myung Ri sedang menjalani terapi."
Wajah Nam Dongmin terlihat khawatir. "Bagaimana kamu bisa menemukan Myung Ri?"
*
Na Ri sedang mengumpulkan kayu bakar kering untuk perapian di rumahnya, sementara Min Hong Ah membantunya menata kayu-kayu kering di gudang samping rumah Na Ri.
Min Hong Ah semalam menginap di rumah Na Ri, dia membawakan masakan untuk makan malam.
Bagi Min Hong Ah, Na Ri sudah seperti cucunya sendiri sekarang. Gadis ini sangat manis dan rajin.
Dia juga tidak ingin Jung Bok Sil terlalu memojokan Na Ri, dia khawatir Na Ri akan terluka karena sikap Jung Bok Sil yang sering melontarkan cemoohannya melihat Na Ri yang melakukan pekerjaan orang desa.
Saat Na Ri dan Min Hong Ah sibuk mengumpulkan kayu bakar, Jung Bok Sil diam-diam mengintip dari jendela. Dia heran mengapa Na Ri begitu dekat dengan neneknya Gorae? Bahkan semalam pun Na Ri tidur dengan Min Hong Ah dan mereka tidur sambil berpelukan.
Hal yang tidak pernah dilakukannya dengan Na Ri sejak dia kecil.
Ada rasa iri dihatinya, dia merasa tidak dekat dengan Na Ri selayaknya ibu dan anak. Berulang kali dia menyalahkan dirinya sendiri dan merasa sangat bersalah.
Jung Bok Sil melihat salju mulai turun dengan lembut. Perlahan dia bangkit, dia memanaskan air untuk membuat teh. Dan mulai memanggang ubi manis di oven.
"Selesai nek! Ayo kita masuk, aku akan buatkan teh." Wajah Na Ri terlihat memerah karena dinginnya cuaca.
"Baiklah...ayo sini, kamu pasti kedinginan." Min Hong Ah memeluk Na Ri.
Saat mereka masuk ke dalam rumah, Jung Bok Sil sudah menyiapkan tiga cangkir teh jujube hangat dan sepiring besar ubi manis bakar di meja.
Na Ri terkejut, tidak pernah ibunya melakukan hal seperti ini sebelumnya.
"Wah! daebak! Ibu menyiapkan ini semua?!"
Jung Bok Sil tersipu malu,
"Ibu Min, Na Ri...ayo minum tehnya, kalian pasti sangat kedinginan."
Min Hong Ah tersenyum, dia lega melihat Jung Bok Sil perlahan mulai merubah perilakunya pada Na Ri.
Sambil memegangi cangkir hangat Na Ri memperhatikan Min Hong Ah, dia sangat mengagumi nenek tua yang masih sangat bugar ini,
"Nenek, kenapa nenek masih bekerja keras diusia nenek yang sudah lanjut? Aku lihat nenek masih sanggup melakukan apapun." Tanya Na Ri polos.
Min Hong Ah kembali tersenyum, mata kelabunya menatap Na Ri,
"Disinilah letaknya keindahan sebelum kematian."
"Maksud nenek?"
"Kamu tahu, saat musim gugur, udara akan mulai sejuk dan kering menggantikan musim panas.
Daun-daun akan menguning dan berguguran. Pohon-pohon itu bersiap-siap untuk menjelang hari-hari yang dingin dimusim salju."
Na Ri dan Jung Bok Sil saling berpandangan, Min Hong Ah melanjutkan,
"Aku diibaratkan sebagai daun-daun yang menguning itu... siapa yang tidak menyukai indahnya musim gugur? Aku ingin memberi keindahan menjelang kematian. Aku sudah melewati puluhan musim, silih berganti...dan aku akan selalu membuat setiap musim itu indah dan berguna. Walaupun dimusim yang paling ekstrim sekalipun."
Jung Bok Sil tercenung mendengar penuturan Min Hong Ah.
Min Hong Ah sangat menikmati hidupnya yang bersahaja, dia mendapatkan kedamaian dalam dirinya hingga mampu melewati setiap cerita dalam hidupnya walaupun sepahit apapun itu.
Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah dia bisa seperti Min Hong Ah yang selalu merasa cukup dengan hal yang sedikit? Menjadikan hidupnya indah dan berarti sampai dia tua nanti? Apakah dia cukup berarti buat orang lain....atau setidaknya untuk putrinya sendiri?
Jung Bok Sil seperti terlempar jauh, Min Hong Ah, nenek tua yang sederhana ini malah terlihat seperti ratu yang agung dihadapannya sekarang.
Jung Bok Sil meneguk tehnya, dia merasa kerongkongannya kering,
"Bu Min..... aku tidak tahu jika anda ternyata sangat bijaksana....aku merasa sangat malu dan bersalah telah menjalani hidup yang akhirnya tidak sesuai dengan harapanku..."
Min Hong Ah mengangguk mengerti,
"Turunkanlah harapanmu..dengan begitu kamu akan bahagia."
Sebuah mobil Hyundai Tucson warna putih memasuki halaman rumah Na Ri.
"Naaaa Riiiii...! Neneeekkk! Kami dataaaang!" Terdengar teriakan Sora dari luar.
Na Ri segera berlari membuka pintu, Sora, Park Hilda dan Gorae sedang berlari-lari kecil menuju rumahnya. Rupanya salju mulai turun dengan deras.
"Aduuuh dinginnya!" Sora langsung menerobos masuk tanpa memperdulikan Na Ri yang tersenyum padanya, diikuti Park Hilda yang menggigil kedinginan. Gorae menyusul dibelakang Sora dan ibunya.
Na Ri mengangguk dalam pada Gorae,
"Apa kabar dokter Kang." Sapa Na Ri, jantungnya tiba-tiba berdetak keras melihat lelaki tampan bertubuh tinggi berdiri dihadapannya.
Gorae tersenyum hangat pada Na Ri, gadis yang beberapa bulan lalu bertubuh sangat kurus dan berpipi tirus, sekarang lebih berisi dan pipinya terlihat merona. Wajah Na Ri yang polos tanpa polesan apapun justru tampak lebih cantik dan segar.
"Aku baik Na Ri.... kamu terlihat lebih sehat sekarang."
Na Ri tersenyum malu, dia kembali mengangguk sopan pada Gorae,
"Berkat kamu dokter Kang..."
Sesaat mereka saling bertatapan, Aihh! Mengapa aku sangat gugup bertemu lagi dengan Gorae? Dia semakin tampan saja! Bisik Na Ri dalam hati.
Sedangkan Gorae tidak sadar menatap wajah Na Ri yang memerah,
Huff! Kenapa aku sangat senang melihat wajah polos ini? Wajah yang selalu membuatnya ingin berbalik untuk melihatnya lagi dan lagi.
"Hey! Masuklah! Tutup pintunya! Kita semua akan jadi manusia salju sebentar lagi!" Teriak Sora galak.
Na Ri dan Gorae segera masuk dan menutup pintu.
Jung Bok Sil tertawa spontan tanpa disadarinya begitu mendengar teriakan Sora, adik Gorae yang cerewet ini.
"Aiihh...aku baru mendengar anda tertawa ibu Jung." Goda Sora sambil nyengir.
Ah! Iya! Sudah lama aku tidak tertawa! Jung Bok Sil menyadarinya.
"Sora! Jangan tidak sopan begitu." Tegur Min Hong Ah pada cucunya.
"Tidak apa-apa ibu Min, Sora benar, aku memang sudah lama tidak tertawa." Jawab Jung Bok Sil sambil tersenyum.
"Dokter Kang, aku tidak tahu kamu akan pulang...apa kabar?" Sapa Jung Bok Sil pada Gorae.
"Aku baik ibu Jung, senang bertemu anda disini." Gorae mengangguk ramah.
"Kapan kamu datang nak?" Tanya Mi Hong Ah, dia perhatikan cucunya sedikit kurus.
"Aku datang tadi malam nek. Rupanya nenek menginap disini." Gorae duduk disebelah neneknya.
Na Ri berlari ke dapur dan kembali dengan tiga cangkir teh jujube untuk Gorae, Sora dan ibunya.
Telepon Na Ri berdering, Na Ri permisi pada semua orang dan pergi ke dapur untuk menerima telepon dari Kwak Tae Rang.
"Pak Kwak? Ada apa?"
"Nona Jung.... apakah ibumu bernama Jung Bok Sil?"
Na Ri mengerutkan keningnya,
"Iya....kenapa anda menanyakan nama ibuku."
Terdengar Kwak Tae Rang terbatuk,
"Anda baik-baik saja?"
"Maaf.... iya aku tidak apa-apa.... bisakah besok atau nanti sore kamu datang ke klinik Muju dengan ibumu?"
".....aku tidak tahu.....ada apa sebenarnya pak Kwak?" Tanya Na Ri cemas.
"Ada yang ingin aku pastikan....ini demi Myung Ri....atau mungkin juga demi kamu dan ibumu.."
Na Ri bingung, dia menoleh ke arah orang-orang yang berkumpul didepan perapian yang menyala. Mereka semua tertawa karena Sora kembali melontarkan celotehan lucu.
Gorae sekilas melihat ke arah Na Ri yang tampak kebingungan. Dia menangkap ada sesuatu yang terjadi.
"Aku akan coba ajak ibuku..." Jawab Na Ri pelan.
"Bagus, aku sangat menghargai kerjasama mu, nona Jung...aku tunggu kedatangan kalian."
Gorae menghampiri Na Ri yang masih berdiri di dapur seperti orang linglung.
"Na Ri, kamu baik-baik saja?" Tanya Gorae khawatir. Na Ri berusaha menutupi kebingungannya.
"A...aku baik-baik saja..."
"Kamu yakin? .... ada apa Na Ri?" Tanya Gorae lembut.
Na Ri menatap Gorae, dia selalu merasa Gorae adalah tempat yang paling aman untuknya. Tempat dimana dia bisa mencurahkan segala ketakutan dan rasa gundahnya. Gorae selalu tahu jika ada sesuatu yang terjadi dengannya.
"Aku....bingung...." Bisik Na Ri.
"Katakan ada apa?" Balas Gorae dengan berbisik juga.
"Aku tidak bisa cerita disini...nanti aku akan kirim pesan lewat handphone. Ayo kita kembali ke ruang tengah...nanti mereka curiga."
Na Ri mengajak Gorae kembali bergabung.
Setelah Gorae melihat-lihat rumah Na Ri dan mengobrol sambil bercanda dengan keluarganya, Na Ri dan ibunya, Park Hilda mengajak keluarganya pulang.
*
Setengah jam kemudian handphone Na Ri berbunyi, sebuah pesan masuk dari Gorae,
Kang Gorae :
'Na Ri, sekarang kamu bisa cerita. Apa yang membuat kamu bingung?'
Na Ri menggigit bibirnya, dia berpikir sejenak.
Jung Na Ri :
Kamu ingat kejadian di danau mujigae? Orang yang menyerang Sora ternyata sahabat pak Kwak. Sekarang dia dirawat di klinik Muju.'
Kang Gorae :
'Lalu apa yang membuatmu bingung?'
Jung Na Ri :
'Pak Kwak memintaku datang besok ke klinik Muju dengan ibuku. Aku bingung bagaimana caranya aku mengajak ibuku?'
Gorae bangkit dari tidurnya,
'Tapi kenapa dia memintamu datang? Dengan ibumu? Ada apa sebenarnya?'
Na Ri ingin sekali berbicara langsung dengan Gorae.
Jung Na Ri :
'Ceritanya panjang...'
Kang Gorae :
'Kamu mau aku datang ke rumahmu? Aku akan jemput kamu, kita bicara di tempat lain.'
Gorae penasaran sekali, ada apa lagi ini? Dia selalu khawatir jika ini menyangkut Na Ri.
Gorae sendiri tidak mengerti, dia merasa harus melindungi Na Ri dari apapun yang akan menyakitinya.
Dia tidak mengerti dengan perasaannya ini, dari awal pertama bertemu dengan Na Ri, yang dia inginkan hanya Na Ri selamat dan terlindungi.
Gorae tidak menunggu balasan Na Ri, dia bersiap-siap, dia belitkan scraft wol dilehernya dan memakai mantel tebal.
Dia mengambil kunci mobil dan berpamitan pada ibunya,
"Eomma, aku keluar sebentar." Katanya sambil bergegas keluar.
"Mau kemana?"
"Aku lupa membeli sesuatu. Aku akan segera kembali." Gorae terpaksa berbohong.
Dia memacu mobilnya dijalanan yang mulai tertutup salju tipis.
Sepuluh menit, mobilnya sudah sampai di halaman rumah Na Ri.
Na Ri kaget, Gorae cepat sekali datang, padahal dia belum membalas pesan terakhir darinya.
Terdengar ketukan dipintu depan.
Na Ri berlari membuka pintu,
"Pakai mantel kamu, ayo kita bicara diluar."
"Na Ri! Siapa yang datang?"
Suara Jung Bok Sil berteriak dari kamarnya.
"Dokter Kang." Jawab Na Ri, "Masuklah dulu...aku akan bersiap-siap."
Gorae mengangguk, dan Na Ri berlari ke kamarnya.
"Aiihh...dokter Kang, ada apa?"
Jung Bok Sil keluar dari kamarnya.
"Aku minta ijin bu Jung, aku akan mengajak Na Ri keluar sebentar. Hanya minum kopi didesa."
Jung Bok Sil mengangkat alisnya,
"Ahh...baiklah..." Dia tersenyum, hatinya sedikit berharap, Kang Gorae akan menjalin hubungan yang lebih dari sekedar bersahabat dengan anaknya.
"Ibu aku pamit." Na Ri muncul dengan overcoat tebal warna kuning gading, beanie rajut dari wol dan scraft di lehernya.
"Hati-hati kalian...jalanan mulai bersalju!" Teriak Jung Bok Sil sambil menutup pintu.
Gorae menjalankan mobilnya pelan menyusuri jalan desa yang berubah putih tertutup salju.
"Sekarang kamu bisa bebas menceritakan semua." Gorae melirik Na Ri yang tampak sangat cantik dan imut dengan beanie wol dikepalanya.
Na Ri bahkan tidak menambahkan lipstick dibibirnya. Dia terlihat begitu polos seperti gadis kecil.
Na Ri mulai menceritakan semua dari kejadian di kantor polisi, dua kali dia mengunjungi Song Myung Ri di klinik Muju, sampai kabar dari Kwak Tae Rang yang mengatakan Song Myung Ri mulai mengingat nama anaknya yang bernama Song Na Ri.
"Song Na Ri?" Gorae mengulangi perkataan Na Ri.
"Iya, katanya dia artis..."
"Hmm...nama dan profesi yang mirip, hanya berbeda nama keluarga." Gumam Gorae.
"Pak Kwak juga memintaku menanyakan pada ibuku, apakah ibu kenal dengan nama Song Myung Ri."
"Lalu?"
"Ibuku mengaku tidak mengenalnya. Walaupun aku sebenarnya merasa ibu merahasiakan sesuatu."
Gorae menoleh, "Kamu merasa begitu?"
Na Ri mengangguk, "Tapi aku tidak yakin...aku tidak ingin merusak suasana hati ibu...aku hampir tidak pernah mempunyai kenangan manis dengan ibu selama ini."
"Lalu mengapa pak Kwak meminta mu datang dengan ibumu?"
"Sebelumnya dia menanyakan apakah Jung Bok Sil adalah nama ibuku...lalu dia bilang, dia ingin memastikan sesuatu.... dokter Kang, aku.."
"Hey..." Potong Gorae cepat, "Kamu biasanya memanggil namaku saja. Rasanya terlalu kaku setelah kita melewati berbagai hal bersama."
Na Ri tergagap, dia juga tidak mengerti mengapa dia harus memanggilnya sangat formal sekarang ini.
"Ah...aku...emm...." Na Ri tersipu malu.
"Ayolah.." Bujuk Gorae sambil tersenyum.
"Baiklah....Gorae..."
"Kita minum kopi dulu ya?" Gorae memarkirkan mobilnya didepan sebuah kedai kecil.
"Gorae, aku merasa ada sesuatu....sebuah rahasia, yang ibu sembunyikan selama ini."
"Mungkin saja besok kamu akan menemukan jawabannya." Gorae menyesap kopinya.
Na Ri menggosok-gosokan kedua tangannya, dia lupa memakai sarung tangan tadi.
Tiba-tiba Gorae meraih tangan Na Ri, dia gosok telapak tangan Na Ri bergantian untuk memberi rasa hangat.
Jantung Na Ri serasa melonjak-lonjak dari tempatnya. Wajahnya terasa hangat dan memerah.
Gorae menghentikan aksinya sejenak, dia terpaku sambil memegangi tangan Na Ri, tindakannya menggosok tangan Na Ri tadi sangat spontan, dia tidak tahan melihat Na Ri terluka atau menderita.
Gorae menyadari sesuatu, ada rasa hangat dihatinya saat menggenggam tangan Na Ri. Perasaan yang menjalar ke jantungnya membuat detaknya lebih cepat dari biasanya.
Tidak sadar, Gorae menggenggam erat kedua tangan Na Ri, dia remas tangan yang terlihat kecil dalam genggamannya.
Tatapan mata mereka bertemu, tiba-tiba keduanya menarik tangan masing-masing. Perasaan mereka menjadi sangat kikuk.
"Aku akan mengantar kalian besok ke klinik Muju." Gorae berusaha bersikap normal kembali.
"Ah jangan, kamu sedang liburan dan waktunya sangat singkat, kamu perlu berkumpul dengan keluargamu."
Na Ri merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, keluargaku akan mengerti. Urusanmu lebih penting."
Na Ri tidak bisa menolak tawaran Gorae. Lagipula dengan Gorae berada disisinya dia merasa lebih nyaman.
"Jangan katakan pada ibumu kita akan ke klinik Muju, nanti dia akan curiga. Katakan saja kita akan belanja di Muju untuk natal. Bagaimana?"
Na Ri mengangguk setuju. Gorae mengantar Na Ri pulang, dia sempat berbicara dengan Jung Bok Sil sebentar,
"Bu Jung, karena ini natal pertama Na Ri disini, maukah anda menemaninya belanja untuk keperluan natal dengannya? Aku akan mengantar kalian ke kota Wanju besok."
Jung Bok Sil tersadar, natal sudah dekat. Dan dia tidak pernah merayakan natal dengan Na Ri selama ini.
"Ah, kamu baik sekali dokter Kang...baiklah aku akan membeli hadiah natal untuk keluargamu juga."
Na Ri dan Gorae saling berpandangan, "Baiklah aku jemput kalian jam 10 pagi besok."
Gorae pun berpamitan, sebelum pergi dia berbisik pada Na Ri,
"Jangan terlihat tegang begitu. Nanti Bu Jung curiga."
Na Ri mengangguk, tapi wajahnya terlihat cemas. Gorae tersenyum dan pulang.
Lima belas menit kemudian, Na Ri menerima pesan dari Gorae,
Kang Gorae :
'Na Ri'
Na Ri mengerutkan alisnya,
Jung Na Ri :
'Ya?'
Kang Gorae :
'Aku hanya ingin menulis namamu.'
Na Ri tersenyum, dia tahu Gorae selalu melakukan cara apapun agar dia merasa tenang.
Jung Na Ri :
'Baiklah....dokter Kang yang tam
Na Ri cepat-cepat menghapus dua kata terakhir, aih! Hampir saja! Bodohnya aku!
Jung Na Ri :
'Baiklah...dokter Kang'
Gorae menggelengkan kepalanya, gadis ini! Kenapa dia berubah sangat formal sekarang?
Jung Na Ri :
'Gorae....'
Kang Gorae :
'Akhirnya!'
Na Ri tersenyum, dia merasa sungkan dengan Gorae, tidak seharusnya dia memanggil namanya saja, karena dia lima tahun lebih tua darinya.
Na Ri mengutuk dirinya sendiri, dulu dia begitu tidak sopan selalu memanggilnya dengan namanya saja.
Kang Gorae :
'Kamu sangat lucu memakai beanie.'
Ingin sekali Gorae mengatakan Na Ri sangat cantik.
Jung Na Ri :
'Maksudmu aku terlihat konyol, kan?'
Gorae segera menelepon Na Ri,
"Hallo..?"
"Na Ri...maksudku kamu sangat......cantik."
Jantung Gorae serasa berhenti ketika dia mengatakan itu.
Na Ri tertegun, wajahnya terasa panas,
"Na Ri... semangat untuk besok ya?!"
Gorae segera memutus teleponnya.
Pada saat bersamaan Gorae dan Na Ri merasa sangat aneh, keduanya langsung membenamkan kepalanya di bantal.
Ada apa dengan debaran ini? Tanya Na Ri dalam hati.
"Kak! Coba lihat, ini foto Ji Soon saat dia makan siang dengan kita semua waktu itu."
Sora tiba-tiba masuk ke kamar Gorae, dia langsung meloncat ke kasur Gorae.
Huff! Anak nakal! Kamu tidak tahu aku sedang mengumpulkan nyawa karena merasa sangat receh tadi kepada Na Ri! Apa yang akan dipikirkan Na Ri? Gerutu Gorae dalam hati.
"Hmm..ini anak pak Kwak?"
Sora merengut, "Sayangnya...iya...dia anak si pemarah."
Gorae tertawa sambil mengacak rambut adiknya,
"Dia seperti malaikat kan?"
"Aku tidak tahu wajah malaikat seperti apa." Gorae mengembalikan handphone Sora.
"Dia tampan kaaan?" Sora berbaring disamping kakaknya.
"Tidak lebih tampan dari aku!" Goda Gorae sambil memijit hidung Sora.
"Aaaah kakak!" Rengek Sora, Gorae tertawa.
"Kak, kakak suka dengan Na Ri?" Tanya Sora sambil menarik selimut, Gorae terdiam, dia tidak tahu dengan perasaannya pada Na Ri.
"Kak? Hmm! Aku rasa kakak suka dengan Na Ri!"
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Entahlah, aku hanya merasa kalian saling menyukai..."
Na Ri menyukai ku? Tidak mungkin! Bisik Gorae dalam hati.
"Aku tidak tahu..." Gorae bergumam.
Pikiran Gorae menerawang, dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Na Ri, pertemuan mereka sangat aneh. Walaupun belum terlalu lama, tapi mereka telah melewati berbagai peristiwa.
Tanpa disadari, dia merasa sangat dekat dan terikat dengan Na Ri.
Sering Na Ri melintas dalam pikirannya saat dia berada di Seoul, dia kagum atas keberanian Na Ri mengubah jalan hidupnya. Dia sangat kuat dan mandiri.
Terlihat rapuh dari luar tapi Na Ri sangat tangguh sebetulnya.
Tapi justru semakin besar rasa Gorae ingin melindungi Na Ri, melihat wajahnya yang polos dan senyumnya yang tulus sekarang, membuat Na Ri menjadi gadis sangat berbeda dengan Na Ri yang ditemuinya dulu saat mereka pertama kali bertemu.
Terdengar dengkur halus disebelahnya, Gorae menoleh, Aihh! Anak nakal! Kenapa dia tidur di kamarku!
Gorae memandangi wajah cantik adiknya yang sangat disayanginya, dia tersenyum, perlahan Gorae turun dari tempat tidurnya. Menaikan selimut sampai bahu Sora, mematikan lampu kamar dan beringsut pergi dan tidur di kamar Sora yang hangat.
***