I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Get Over It



"Baik, kita akan melakukan torakotomi* darurat."


Gorae memimpin tim operasinya untuk cepat mempelajari bagian paru-paru yang akan direkatkan kembali dan memompa keluar cairan yang memenuhi rongga pleura.


"Operasi torakotomi ini merupakan sebuah tindakan operasi yang tergolong cukup besar dan berbahaya. Kemungkinan henti jantung sangat mungkin terjadi. Aku harap kalian semua terus pantau semua organ vital pasien....Mari kita mulai."


Setelah dokter anesthesi memberitahukan bahwa pembiusan total sudah berhasil, Gorae mulai membuat sayatan di dada bagian depan sebelah kiri pasien.


Sayatan pada bagian depan ini akan berakibat dengan pembukaan tulang rusuk. Gorae melakukan sayatan yang tepat karena dua bagian tulang rusuk pasien sedikit retak.


Rupanya dada pasien terbentur dan terjepit sangat kuat, beruntung tulang rusuknya tidak sampai patah.


Rongga dada telah dipenuhi cairan dan darah.


"Suction." * Gorae meminta Suction pump.


Dengan gesit perawat memberikan selang alat itu pada Gorae, Gorae mulai menyedot cairan dan darah dari rongga dada pasien.


Kemudian dia mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah dan udara yang menekan paru-paru pasien.


Trauma berat pada rongga dada pasien dapat terlihat jelas, kolaps paru dengan darah diperkirakan 2.500 ml dari hemothotax kiri,


Gorae memutuskan untuk melakukan sternotomy* dan kemudian menemukan robekan pada arteri mamaria interna kiri dan diligasi, ditemukan robek ventrikel kanan tetapi tidak ada pendarahan dari luka.


"MeTro."


Perawat memberikan lem bedah MeTro untuk menutup luka robekan di paru dan ventrikel kanan.


Gorae selesai merekatkan kembali dua robekan luka hanya dalam waktu 60 detik dan menambal retakan pada dua tulang rusuknya dengan cepat.


"Ayo kita selesaikan ini."


Gorae melirik monitor, dia harus menjahit sayatan di dada pasien dengan cepat.


"Dokter Kang, tekanan darah menurun, denyut nadi melemah drastis."


Teriak seorang perawat. Gorae sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.


"Laporkan status." Gorae berusaha tenang, sementara tangannya dengan lincah menyelesaikan jahitan di dada pasien.


"Henti jantung, dok!"


"CPR!" Perintah Gorae.


Salah satu dokter pendamping melakukan kompresi dada pada pasien dan mulai mengitung jumlah tekanan yang diberikan.


Tidak ada tanda-tanda denyut kembali, monitor masih menunjukan pulseless posisi VT/VF


"Defibrilator*, cepat!" Perintah Gorae,


Perawat menyiapkan defibrilator, setelah mengoleskan jel, Gorae memberi perintah,


"120 joule!"


Perawat menyetel pada 120 joule, "Charged!" Teriak perawat itu


"Clear!" Kata Gorae memberi tanda hentakan listrik akan dialirkan ke dada pasien untuk memberi kejut pada jantung, dan memastikan semua aman.


DUBB! Suara defibrilator ketika disentuhkan ke dada pasien. Tubuh pasien terhentak.


Sesaat Gorae melihat monitor.


"150 joule!" Teriak Gorae.


"150 joule, charged!"


"Clear!" Kejut kedua di berikan.


"CPR!"


Dokter pendamping melanjutkan CPR,


"200 joule!" Kembali Gorae berteriak.


"200 joule, charged!"


"Clear!" Kejut ketiga diberikan, Gorae melihat monitor.


EKG menunjukkan sinus takikardia 145/min, denyut jantung kembali. Tekanan darah mulai normal.


Semua menarik nafas lega.


Setelah mengontrol perdarahan, prosedur operasi selesai dan dilakukan pemasangan selang dada.


Pasien dipindahkan ke ICU untuk observasi, Gorae berharap pasien stabil dan tidak ada komplikasi pada pasca operasi .


"Hufff! Dokter Kang memang yang terbaik!" Dokter-dokter pendamping memuji Gorae.


"Hari ini tidak ada satupun operasi yang gagal! Aigoo...aku lelah sekali!"


"Ayo kita ajak dokter Kang makan malam merayakan keberhasilan kerja keras kita!" Para dokter pendamping mencari Gorae.


Yunna mendengar obrolan teman-teman Gorae dari belakang, diam-diam dia bangga dengan mantan kekasihnya itu.


Saat Gorae bekerja, pesonanya semakin bersinar. Dia benar-benar lelaki yang tangguh!


"Itu dokter Kang!"


Yunna cepat-cepat berbelok ke selasar kiri, dia tidak ingin berpapasan dengan Gorae.


"Terimakasih, kalian sudah bekerja keras." Gorae tersenyum.


Ke enam dokter pendamping membungkuk hormat pada Gorae,


"Terimakasih sudah jadi ketua tim dan pembimbing yang hebat!"


"Aihh! Sudahlah, kita semua bekerja keras." Gorae tertawa.


"Ayo kita rayakan dengan makan malam dan sojuu!!"


Mereka menarik Gorae keluar untuk mencari makan.


Yunna kembali mengintip, ada kepedihan di hatinya.


Biasanya setiap kesuksesan operasi yang dilakukan Gorae dan tim nya, Yunna akan selalu diajak.


Gorae sudah melupakan ku! Tidak hanya Gorae bahkan seluruh timnya sudah melupakan ku! Jerit hati Yunna.


*


Sebuah motor matic baru berwarna putih memasuki halaman rumah keluarga Gorae. Seorang lelaki berjaket sebuah perusahaan motor membonceng Na Ri.


Satu motor lagi menyusul dibelakang, Na Ri turun dan menerima kunci dari lelaki itu, Na Ri membungkuk dan mengucapkan terimakasih.


Lelaki itu berlalu pergi membonceng motor yang tadi mengikuti di belakang.


Min Hong Ah menghentikan kegiatannya menyirami bunga.


"Nenek!" Sapa Na Ri ceria.


"Na Ri, darimana kamu?" Min Hong Ah keheranan.


"Aku dari kota Wanju."


"Motor siapa itu?"


Na Ri meletakan telunjuknya pada bibirnya. "Ssst...ini hadiah untuk Sora, nek."


Min Hong Ah terkejut, "Kenapa kamu memberinya hadiah motor?"


"Sepeda Sora rusak, dan dia selalu kesulitan jika harus berangkat ke rumah sakit jika menumpang bu Park terus. Arah mereka berlawanan."


"Aiihh tapi sepeda motor ini mahal!"


"Tidak apa nek, motor ini tidak seberapa dibandingkan kebaikan kalian semua padaku."


"Na Ri...siapa yang bawa motor matic ini?" Sora tiba-tiba muncul dari samping rumah.


"Aku tidak tanya namanya siapa." Wajah Na Ri terlihat menyesal.


"Apa?" Sora terlihat kebingungan.


"Na Ri membelikan sepeda motor ini untukmu Sora. Haiishhh anak-anak sekarang tidak tahu cara mengelola uang!" Min Hong Ah menggelengkan kepala.


"Apa? Waaaahhh daebakk!!" Mata Sora terbelalak, wajahnya terlihat sangat senang.


"Kamu suka?" Na Ri menggandeng tangan Sora.


"Suka? Tidak!.... aku bahagiaaaa hahahaha..." Sora memeluk Na Ri sambil melompat-lompat kegirangan.


Mereka berdua tertawa seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru.


Min Hong Ah tertawa melihat tingkah cucunya dan Na Ri.


"Tapi bagaimana kamu bisa membeli motor ini? Ini kan mahal!"


"Aku pergi ke kota Wanju pagi-pagi sekali, aku minta manager Oh membayarkan motor ini, dan aku test drive dengan ahjussi tadi hehehe.."


"Na Ri! Kamu tidak harus membelikanku motor..." Sora merengut, Na Ri tersenyum,


"Aku tidak mau dibonceng naik sepeda lagi! Selalu saja aku harus mendorong kamu di jalanan menanjak! Haiiishh melelahkan!"


Balas Na Ri, Sora pun tertawa.


Ah... selama dia mengenal Jung Na Ri, gadis yang awalnya selalu muram dan ketakutan, ternyata setelah berbulan-bulan Sora menyadari sifat asli Na Ri, dia sangat manis dan baik hati.


Sora merasa Na Ri adalah sahabat terbaiknya, dia selalu berbagi cerita dengan Na Ri, Na Ri selalu mendukungnya. Sora heran mengapa orang-orang diluaran sana begitu membenci Na Ri.


"Kamu tidak mau mencobanya?" Na Ri mengacungkan kunci ditangannya.


Mata Sora membulat,


"Wahhh.... ayo! Kita keliling desa!"


"Nenek, kami pergi ya.."


Dua gadis cantik itu dengan gembira berkeliling desa.


Mereka berhenti di sebuah mini market, membeli camilan dan minuman.


"Ayo, kita ke pinggir danau mujigae, kamu belum pernah melihatnya kan?"


Sora dan Na Ri melaju ke arah danau mujigae, mereka melewati ladang-ladang kubis dan ubi manis.


Kemudian motor berbelok melewati jalan aspal yang menyempit diapit padang rumput yang luas dan menguning.


Jalanan mulai menurun, terlihat dikejauhan sebuah danau kecil nan jernih. Jika dilihat dari ketinggian, danau mujigae seperti hamparan pelangi berwarna warni, itulah mengapa masyarakat desa ini menamakannya mujigae hosu yang artinya danau pelangi.


"Wahhh daebakkk!!" Teriak Na Ri kegirangan, "Aku bisa berlama-lama di sini!"


Danau mujigae hanyalah danau kecil dengan air yang dangkal, tapi sangat bersih dan jernih.


Bahkan Na Ri bisa melihat ikan sidat berenang-renang di danau ini.


Suasana didanau ini sangat sejuk dan tenang. Di seberang danau ditumbuhi pohon-pohon maple yang berjajar mengelilingi danau ini.


Sora dan Na Ri duduk diatas batu besar sambil menjulurkan kakinya ke dalam air danau yang jernih.


"Ini masih musim gugur, tapi kita gila main air dingin hahaha..." Sora menertawakan kekonyolan mereka.


"Aku akan tinggal didesa ini sampai tua...sampai aku mati!" Na Ri meneguk kopi instannya,


"Bagus! Akupun tidak pernah berniat meninggalkan desa ini selamanya. Kita akan tua bersama." Sora tersenyum, dipandanginya Na Ri yang asyik memainkan kakinya.


"Aku tidak menyangka bisa berteman dengan mu. Dulu aku selalu melihat film dan drama-dramamu. Sekarang kamu ada di desa ini bersamaku."


"Berkat kakakmu. Jika aku tidak ditolong Gorae, mungkin kita tidak akan pernah bertemu....hidup itu aneh..."


Sora mengangguk setuju, "Dia memang begitu, dia sangat penyayang dan baik hati. Tapi bagiku terkadang dia kakak yang menyebalkan!" Sora nyengir mengingat kejahilan kakaknya.


"Bagaimana bisa?"


"Kamu tidak tahu dia selalu makan dengan cepat, dan ikut menghabiskan makanan ku!"


Na Ri langsung teringat kelakuan Gorae ketika awal-awal mereka bertemu.


"Ah, ternyata memang kelakuannya begitu... dia pernah menghabiskan jjajangmyeonku saat aku kelaparan!"


Sora terbelalak, "Benarkah? Dia melakukan itu juga pada mu? Haiiishh... manusia itu benar-benar tidak sopan! Mungkin dia juga selalu menghabiskan makanan Yunna saat mereka berkencan!"


Air muka Na Ri langsung berubah mendengar nama Yunna. Sora mendekatkan wajahnya pada Na Ri,


"Tapi....kenapa belakangan ini kami semua agak kurang suka dengan Yunna ya?"


Na Ri mengangkat alisnya, "Kenapa? Biar bagaimanapun dia akan menjadi kakak ipar mu."


"Gorae oppa terlihat tertekan dan kalah oleh Yunna. Kadang aku kasihan padanya."


"Sebenarnya....Yunna sepertinya membenciku....dia merasa aku mengganggu hubungan mereka..."


"Apa? Bagaimana bisa?"


Na Ri menghela nafas, "Saat lambungku terluka, dia mendatangiku. Memintaku menjauh dari Gorae...dan melarangku tinggal di desa ini."


Na Ri sedih jika mengingat kembali kejadian itu, saat itu kata-kata Yunna sangat menyakitinya.


Sora terkejut, "Aku tidak menyangka dia bisa setega itu... tapi aku dan ibuku memang merasa aneh, saat melihat kamu terluka, melihat semua keributan malam itu, dia hanya berdiri menonton kita. Padahal dia seorang dokter."


"Ah sudahlah.... aku tidak mau mengingat hal itu lagi. Aku sudah sangat bahagia memiliki kamu, ibu Park dan nenek disini." Na Ri tersenyum. Sora mengangguk, tapi jauh didalam hatinya dia bertanya-tanya, akankah kakaknya bahagia mempunyai kekasih seperti Yunna?


"Sora... kamu tidak ingat lagi dengan anaknya pak Kwak?"


Sora menoleh cepat, "Kwak Ji Soon oppa tersayang? Mana mungkin aku lupa dengan malaikat penolongku?"


Na Ri tertawa, jika soal Ji Soon, Sora akan histeris seperti ini!


"Tadi di kota Wanju, aku melihat dia dengan Pak Kwak."


"Apaaa??? Ya ampun! Kenapa kamu baru bilang sekarang?!" Mendadak Sora berdiri.


"Aku hanya melihat mereka keluar dari sebuah toko. Lagipula mereka terburu-buru pergi sebelum aku sempat menyapa mereka."


Sora tampak kecewa, dia kembali duduk dengan wajah kesal.


"Aku lupa menanyakan nomor teleponnya... uuuhhh bodohnya aku!"


"Kita kan punya nomor pak Kwak."


Sora mencibir sebal, "Kamu pikir si pemarah itu mau memberikan nomor anaknya? Aihh membayangkan mukanya saja aku takut!"


Na Ri tertawa, "Dia orang yang baik sebenarnya."


"Ah tidak.. tidak....mana mungkin tiba-tiba aku telepon - pak, boleh aku minta nomor anakmu yang super tampan itu?"


"Oh boleh, boleh! Apakah kamu mau jadi menantuku?" Jawab Na Ri menggoda Sora.


"Mauuuu...sangat mauuuu....asal tidak tinggal dengan mu! Karena bapak sangat pemarah...."


Mereka saling pandang dan tertawa tergelak,


"Na Ri....cintaku bertepuk sebelah tangan...." Sora memeluk Na Ri pura-pura menangis.


"Hey, aku ada akal!" Na Ri mengguncang Sora agar berhenti merengek.


"Apa? Apa?" Sora tidak sabar.


"Aku akan telepon pak Kwak, aku akan undang mereka sekeluarga datang untuk makan siang. Sebagai tanda terimakasih. Bagaimana?"


"Tck..! Tapi Iksan sangat jauh dari sini.."


"Ah...sudahlah....lupakan... aku tidak mau terlihat mengejar Ji Soon.."


Berulang kali Na Ri berusaha meyakinkan Sora, tapi Sora menolak,


"Aku ingin dia menemukanku secara alami, bukan diatur seperti ini."


Akhirnya Na Ri menyerah, "Baiklah...mari kita berharap Ji Soon tiba-tiba muncul di desa kita."


"Ah...semoga!" Sora tersenyum, "Na Ri, ayo kita selfie, kita kirim foto kita ke kak Gorae!"


"Ayo! Aku juga ingin mengirim foto kita ke ibuku."


Mereka berdua mengambil puluhan foto, dari mulai pose aegyo sampai pose serius. Ada juga foto Sora diatas motor barunya.


Mereka berdua tertawa puas dan mengirimkan foto-foto mereka pada Gorae dan Jung Bok Sil.


"Kak Gorae pasti iri melihat kita disini! Ini tempat favoritnya!"


Sesaat kemudian ada pesan masuk dari Gorae,


"Anak Nakal! Kalian jahat! Aku senang melihat kalian bahagia. Dimana kalian merampok motor itu?"


Sora dan Na Ri tertawa membaca pesan dari Gorae.


"Na Ri membelikanku, dia manja tidak mau mendorong sepedaku lagi. Aku tidak sanggup menolaknya!"


Gorae tersenyum membaca balasan Sora, adiknya yang periang selalu saja mengganggunya!


Dia senang melihat foto-foto Sora dan Na Ri, mereka berdua menjadi sangat akrab sekarang.


Gorae melihat tawa Na Ri begitu bahagia.....Na Ri, sudah menemukan hidupnya yang baru.


Gorae sangat bersyukur.


Gorae melihat-lihat foto-foto mereka yang terlihat konyol, tapi mereka gadis-gadis yang sangat cantik.


Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang ganjil.


Dua jarinya dia tekan pada layar handphonenya dan melebarkan jari-jarinya untuk memperbesar gambar.


Gorae menyipitkan matanya, dia merasa ragu sejenak. Dia scroll gambar yang lain, dan di zoom lagi untuk meyakinkan apa yang dia lihat.


Mendadak dia merasa khawatir, cepat-cepat dia telepon adiknya.


Sora dan Na Ri sedang bersiap-siap untuk pulang, Sora mematikan mesin motornya, dia angkat telepon dari Gorae.


"Sora! Cepat pergi dari situ!"


"Kenapa kak?"


"Tidak ada waktu, cepat pergi dari situ, dibeberapa foto, aku melihat ada orang yang sedang mengintip kalian!"


"Apa?" Jantung Sora serasa berhenti. Dia menengok ke belakang dan ke sekeliling danau.


"Cepat kataku!" Bentak Gorae.


"Tapi aku tidak melihat siapapun...iya...iya aku pergi..."


"Berikan teleponnya pada Na Ri, biar aku tahu kalian tidak apa-apa!"


Sora memberikan handphonenya pada Na Ri yang sudah duduk dibelakang Sora, Sora menyalakan mesin motornya.


"Bicaralah pada kakakku."


Na Ri kebingungan, "Ha..hallo Gorae?"


"Na Ri, jangan tutup teleponnya, dan suruh Sora cepat pergi sekarang juga!"


"Ah baik, kita sudah mulai jalan....... AAAA! SORAAA!"


Gorae tersentak mendengar jeritan Na Ri yang keras, terdengar bunyi berdebum yang keras dan jeritan Sora dan Na Ri terdengar jelas.


"Ada apa?! Na Ri! Na Ri!" Teriak Gorae panik, pikirannya sangat kacau.


Na Ri perlahan bangkit, kaki kanannya terasa sakit karena tertindih motor. Dia berusaha menggapai handphone Sora yang terlempar.


Kejadian barusan sangat cepat, baru saja motor Sora melaju meninggalkan danau, seseorang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Sora kaget dan kehilangan keseimbangan, motorpun terguling ke kanan dan mereka berdua terjatuh.


Tapi orang yang menghadang mereka langsung menarik tubuh Sora dengan kasar ke arah semak-semak yang tinggi.


"Sora! Sora! Soraaa!" Na Ri memanggil-manggil Sora, dia ikuti arah Sora ditarik tadi.


"Ta..tadi itu apa...? Kemana Sora?" Na Ri mulai ketakutan.


"Na Ri! Tolong jawab aku!" Gorae tidak sadar dia sudah berteriak-teriak di kantornya.


Dengan gemetar Na Ri menjawab Gorae, "Gorae! Sora ditarik seseorang...aku ...aku tidak bisa menemukannya!" Na Ri mulai menangis.


Dia terus mengikuti jejak ilalang yang rebah karena dilindas tubuh Sora yang digeret cepat oleh seseorang.


Gorae merasa kalut dan tidak berdaya. Ingin sekali dia secepatnya pergi ke desanya.


"Na Ri, aku tutup sebentar teleponnya! Aku akan telepon polisi dan seseorang di desa! Tolong kamu harus berhati-hati!"


Gorae segera menghubungi polisi di desa Deuokhaengbokdeurim.


Gorae mengingat-ingat siapa orang di desanya yang bisa cepat sampai di danau Mujigae.


Pak Sun! Ya rumahnya dekat dengan danau! Semoga dia ada di rumah.


Tangan Gorae sedikit gemetaran mencari nomor telepon rumah Pak Sun.


Gorae menunggu beberapa saat, dan suara berat menyapa dari seberang telepon.


"Pak Sun! Ini aku Kang Gorae, masih ingat aku?"


"Ah Gorae cucu ibu Min, apa kabar kamu nak? Sudah lama sekali sejak kamu lulus kuliah aku tidak pernah melihatmu. Oh, teman adikmu Sora membeli rumah mantan majikanku. Apa kamu sudah tahu?"


"Maaf Pak Sun, ini darurat, tapi Sora dan temannya itu sedang dalam kesulitan. Bisakah anda menolong mereka? Aku rasa seseorang menculik Sora."


"Apa? Dimana mereka?"


"Di danau mujigae dekat rumah anda! Tolong cepat Pak Sun, aku sudah menghubungi polisi juga."


"Baik, aku segera kesana!"


"Terimakasih Pak Sun, tolong hati-hati."


Gorae kembali menghubungi Na Ri,


Na Ri mengangkat telepon Sora,


"Na Ri, kamu sudah menemukan Sora?"


Sambil menangis Na Ri menjawab,


"Aku tidak bisa menemukannya. Jejaknya hilang ditengah padang rumput. Gorae...aku takut sesuatu terjadi dengan Sora."


"Aku sudah telepon polisi dan Pak Sun, kamu kenal dia? Katanya kamu membeli rumah mantan majikannya."


"Pak Sun? Iya dia bekerja padaku sekarang."


"Kamu kembali ke jalan sekarang. Bahaya jika kamu sendirian disitu!.."


Belum sempat Gorae menyelesaikan kata-katanya, dia mendengar jeritan, tapi bukan suara Na Ri. Tapi suara Sora.


"Soraaa! Soraaaa dimana kamu?!"


Na Ri berlari menuju arah suara.


"Na Ri! Hati-hati!" Teriak Gorae, dia mendengar gemerisik ilalang yang diinjak Na Ri.


"Pergi! Pergi! Siapa kamu?! Tolooooonggg....toloooongg!!!"


Na Ri berlari ke arah suara Sora, "Soraaa!" Teriak Na Ri.


Dia sibakan ilalang dan melihat Sora tengah berjuang melepaskan diri dari seorang lelaki setengah baya berpakaian kumal dan kotor, berambut gondrong acak-acakan.


Tangan Sora ditarik dengan paksa, wajah, tangan dan kakinya penuh luka goresan ilalang.


"Hentikan! Hey hentikan!" Na Ri berteriak keras.


Lelaki itu berhenti sebentar, matanya melotot marah melihat Na Ri.


"Na Ri! Tolong aku!"


Sora terlihat sangat ketakutan


"Kkkammu a- annakk...na na kal! Ha ha russ pu...lang!"


Rupanya laki-laki itu gagap.


Na Ri merasa lelaki itu kurang waras, perlahan Na Ri mendekati lelaki itu,


"Pak...lepaskan temanku, kamu menyakitinya."


Na Ri berusaha membujuk lelaki itu,


"I..inniii....a-aannak ku! Ddddiiiii-aa... hha hha rrruuss ppulang!"


Rupanya lelaki ini menganggap Sora anaknya!


"Aku bukan anakmu! Lepaskan aku!"


Sora meronta sekuat tenaga, tapi tenaga lelaki setengah baya itu sangat kuat, dia memeluk Sora dari belakang.


"A-annaakk nakkal! Kk..kammu..ha..rus..ppulang!"


Sora terus berontak, lelaki itu mulai mencekik Sora, Na Ri khawatir lelaki itu akan mencelakai Sora.


"Sora! Sora! Tenang... jangan berontak, dia semakin kalap! Coba berpura-pura panggil dia ayah..!"


Sora hampir kehabisan nafas, dengan suara tercekat dia mencoba bicara,


"Ayah.... ayah....aku akan pu...lang..."


Lelaki itu melonggarkan cekikannya,


"Ka...ka...mmu...mma..u...ppullangg?"


"Katakan ya, Sora!" Bisik Na Ri.


"Yaa...aku...akan pulang dengan ayah...sekarang lepaskan aku..."


Lelaki separuh baya itu melepaskan tangannya, matanya berbinar-binar.


Sora menarik nafas kuat-kuat, dia terengah-engah,


"A-ayyo..kkitta ppulang.." Ajak lelaki itu,


Na Ri cepat-cepat menarik tangan Sora, "Bapak.... rumah bapak di sana." Na Ri menunjuk ke arah jalan desa.


Lelaki tidak waras itu tampak kebingungan, "Rrummahh...dddii..manna?"


"Di sana...bapak lupa?"


Na Ri menarik Sora untuk berjalan keluar dari padang ilalang.


Tiba-tiba wajah lelaki itu berubah,


"Ssiappa kkammuu??...... A-annakku...sinni...ssiiinii!"


"Ah...aku sahabat dari anakmu. Ayo, bapak harus pulang..."


Sekuat tenaga Na Ri berusaha menguasai ketakutannya.


Sementara Gorae masih tegang mendengarkan percakapan mereka.


Dia sangat khawatir dengan keselamatan Sora dan Na Ri.


"Na Ri, kamu gila! Ngapain kamu ajak dia?" Bisik Sora ketakutan.


"Ssstt diam, jika kita lari dia akan mengamuk dan sangat berbahaya! Kita harus berpura-pura sampai bantuan datang."


Sora begidik ngeri melihat tampang seram lelaki yang mengikuti mereka di belakang.


Tiba-tiba terdengar teriakan di kejauhan, "Soraa...Na Riii...dimana kalian?!"


Panggilan itu semakin mendekat, Sora dan Na Ri saling berpandangan, lelaki itu mulai gelisah, "Sssiiiappa?? Ssiiiapppa?!!!"


Dia langsung menarik Sora dan memeluk kuat-kuat bahunya dari belakang.


"Aaaahh...lepas!!" Sora menjerit kuat.


"Pak! Jangan sakiti dia!" Teriak Na Ri. Terdengar suara langkah-langkah berlarian ke arah mereka.


Pak Sun muncul bersama dengan Kwak Ji Soon. "Sora!" Teriak Ji Soon begitu melihat Sora dalam cengkeraman lelaki kumal.


"Jjaahhhatt! Kkaliiaann o..o rang jahhat! Ppergii...ja jangan bba.. wa anakku!"


"Lepaskan dia pak tua!" Teriak Ji Soon, lelaki tua itu tampak panik ketika mendengar sirene mobil polisi mendekat.


Dia melingkarkan lengannya dileher Sora, hingga kembali Sora merasa tercekik. Sora berontak sekuat tenaga, tapi sia-sia bahkan suaranya pun sulit keluar.


Lelaki kumal itu berlari mundur sambil menggeret tubuh Sora dengan leher terkait dilengannya.


Ji Soon berlari mengejar mereka,


"Jjjangaaan mmenndekatt! A - aku a-akan bbu bunnuh a- annakkku"


Ancamnya dengan suara gugup.


Dia perketat cekikannya. Wajah Sora pucat karena tidak bisa bernafas.


Ji Soon tidak mau menunda lebih lama, dia sangat takut Sora kehabisan nafas, dia berlari kesamping menembus padang ilalang dan memutar ke arah samping lelaki kumal itu. Sekuat tenaga dia melompat lalu menendang dengan gaya Twieo Yeop Chagi* . Tendangan Ji Soon telak mengenai pinggang lelaki kumal itu.


Dia mengerang kesakitan dan roboh. Lengannya yang melingkar di leher Sora terlepas. Sora jatuh tersungkur ke depan, dia terbatuk-batuk dan terengah-engah mencari udara untuk mengisi paru-parunya.


Ji Soon segera menggendong Sora menjauh dari lelaki itu. Dua orang polisi segera meringkus lelaki kumal yang masih mengerang ketakutan.


Kwak Tae Rang tiba ditempat kejadian, saat dia melihat lelaki kumal itu digelandang ke arah mobil polisi, matanya terbelalak.


Mungkinkah dia? Dia mendekati polisi yang membawa lelaki kumal itu.


"Tunggu sebentar pak polisi!"


Mereka menghentikan langkahnya, Kwak Tae Rang mendekatkan wajahnya untuk memastikan,


"Song Myung Ri? Kau kah itu?"


***


Twieo Yeop Chagi* Tendangan samping dari bela diri taekwondo yang dilakukan sambil melompat


Torakotomi*. adalah operasi yang dilakukan untuk meresusitasi seseorang yang telah terluka parah setelah mengalami trauma berat pada rongga dada.


Sternotomy*. Irisan besar pada dada dan membelah tulang dada.


Defibrilator*. Adalah stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan korban serangan jantung.


Suction pump* alat yang digunakan untuk menghisap atau menyedot cairan yang tidak dibutuhkan oleh tubuh manusia, seperti lendir, darah, dll.


MeTro*


Lem bedah yang ideal untuk menutup luka di jaringan tubuh yang terus berkembang seperti paru-paru, jantung dan arteri serta sejumlah luka yang berisiko untuk dibuka kembali nantinya.