
Gorae berlari menuju mobilnya, dia tidak bisa memikirkan hal yang lain selain harus pulang kembali ke desa Dueokhaengbokdeurim sekarang juga.
"Gorae, kamu terburu-buru, ada apa?" Suara khas penuh ke bapakan menyapanya dari belakang. Direktur Yoo sedang berjalan menuju mobilnya juga.
Gorae membungkuk hormat, "Aku harus kembali ke rumah."
Jawab Gorae terburu-buru, "Ibunya Na Ri sudah pergi kesana!"
Wajah Direktur Yoo terkejut, "Tapi bagaimana dia tahu?"
"Aku yang memberitahunya." Yunna muncul di belakang Direktur Yoo.
Mata Gorae berkilat, dia sangat marah dengan apa yang dilakukan Yunna. Direktur Yoo mengangguk,
"Baiklah, cepat kamu susul ibunya Na Ri. Hati-hati."
Yunna protes, "Maaf direktur Yoo, bukankah sebaiknya Na Ri bersama ibunya?" Matanya mulai berkaca-kaca, dia merasa benar-benar sakit hati.
"Nak, kamu jangan gegabah. Banyak hal yang harus kamu tahu tentang Na Ri. Percayalah pada Gorae." Suara Direktur Yoo tegas tapi penuh kebijaksanaan.
"Aku pamit." Gorae membungkuk hormat dan cepat masuk ke dalam mobilnya. Yunna menyusul dan masuk ke dalam mobil Gorae.
"Aku ikut!"
Gorae tidak menjawab, dia langsung tancap gas menuju desa kelahirannya. Dia sangat khawatir Na Ri akan kembali terluka.
Di perjalanan Gorae diam tidak berkata sepatah katapun pada Yunna. Yunna kesal pada sikap Gorae yang sudah keterlaluan baginya. Dia ingin tahu apa yang akan terjadi nanti saat dia melihat Na Ri.
Aku tidak menyesal! Bagaimanapun, aku harus menjauhkan Na Ri dari Gorae!
Gorae memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia berharap, dia tidak akan terlambat.
"Ternyata Na Ri sangat penting untukmu." Yunna berkata sinis.
"Kamu tidak mengerti Yunna." Jawab Gorae dingin.
"Kamu berharap aku untuk mengerti? Aku rasa kamu sudah sangat berubah Gorae! Kamu seharusnya tahu sikapku tentang ratu drama itu dari awal, sekarang aku benar-benar membencinya!"
Gorae menghela nafas, dia tidak ingin menyakiti Yunna, dia tidak ingin bertengkar dengan Yunna. Tapi membuat Yunna mengerti pun sangat sulit buat Gorae.
"Membenci bukan jadi jawaban untuk ketidak nyamanan perasaanmu.
Begitu juga untuk mengerti bukan tujuan seseorang untuk menuntut dari orang yang tidak peduli."
Gorae menjawab datar, pandangannya lurus tertuju ke depan.
"Kamu sudah melewati batas Gorae, kamu tidak menghargaiku!"
Suara Yunna bergetar, dia sangat sakit hati.
"Batas apa yang aku lewati? Penghargaan seperti apa yang kamu harap dariku?" Balas Gorae masih dengan suara dingin, Yunna merasa dia sedang bersama orang lain saat ini, Gorae berubah dalam waktu sekejap.
"Aku tidak mau kamu menolong ratu drama itu!" Suara Yunna meninggi.
Gorae geleng-geleng kepala,
"Jika bukan dia, apakah ceritanya akan menjadi lain?......Dan tolong, sekali lagi, namanya Jung Na Ri. Semoga kamu tidak lupa."
Yunna mulai menangis, dia kesal sekali. Perasaannya tidak menentu, kemarahan dan kebencian menguasai hatinya.
"Kamu bisa mengerti jika kamu mencoba merasakan apa yang orang lain alami.
Jangan paksakan dirimu untuk mengerti tindakanku. Aku tidak memintanya.
Dan tidak salah jika kamu berjuang untuk apapun yang kamu miliki, tapi aku tidak sanggup mentolerir kebencian. Kita punya pilihan."
Yunna menoleh, "Maksud kamu? Aku harus membiarkan kamu terus menolong gadis itu?"
"Percuma juga aku jelaskan jika kamu sudah punya pemikiran sendiri."
Yunna terdiam, dia tidak sanggup untuk memaksakan diri menerima semua yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Dia tidak ingin terjebak dalam perasaan tidak aman seperti ini. Gorae adalah kekasihnya, dan dia tidak rela Gorae begitu perhatian pada Na Ri, bagaimanapun Na Ri adalah artis yang sangat cantik!
Dia tidak ingin menerima kenyataan bahwa Gorae terlanjur terlibat dalam masalah Na Ri.
Dia merasa bukan lagi menjadi prioritas Gorae saat ini.
Mungkin Gorae tidak pernah bermaksud untuk melangkah jauh untuk mengkhianatinya, mungkin benar, Gorae hanya ingin menolong Na Ri, tapi dia tidak sanggup untuk mengerti dan dia sangat tidak ingin merasa terpaksa.
Bagi Yunna, Jung Na Ri adalah ancaman! Gorae bisa saja nanti jatuh hati pada Na Ri, atau Na Ri akan sangat jatuh cinta pada Gorae...kekasihnya yang sangat baik, sangat tampan, sangat hangat dan penuh perhatian. Tidak! Yunna tidak ingin merasa dikalahkan.
Dalam hal apapun, sejak kecil Yunna selalu paling unggul diantara teman-temannya, karena dia selalu melakukan yang terbaik. Dan selalu menjadi yang terbaik mencapai semua yang dia inginkan.
Dan tiga setengah jam perjalanan menuju desa kelahiran Gorae sangat menyiksa bagi Gorae dan Yunna.
Gorae tidak banyak bicara, dia memahami ketidaksukaan Yunna pada Na Ri. Baginya, jika Yunna sudah punya pendapat sendiri dan tidak mau menerima penjelasannya, dia merasa akan percuma menjelaskan apapun pada Yunna.
Dia tidak akan mendengar atau mengerti.
Waktu sudah menunjukan pukul 21:17 saat mobil Gorae memasuki halaman rumah keluarganya.
Terlihat dua mobil SUV dan sedan Mercy sudah terparkir di halaman.
Terdengar suara ribut-ribut dari dalam rumah. Gorae berlari masuk, dia melihat Jung Bok Sil sedang menarik tangan Na Ri dengan paksa.
Empat orang body guard bertubuh besar sudah mengelilingi Na Ri.
Sora dan ibunya menghalagi mereka agar tidak membawa Na Ri. Teriakan-teriakan marah dari Jung Bok Sil, bentakan-bentakan galak dari body guard dan teriakan Sora begitu kacau.
"Hey! Hentikan!" Teriak Gorae marah, dia menerobos masuk diantara orang-orang yang bergumul memperebutkan Na Ri.
Jung Bok Sil memukul Gorae dengan tas tangannya.
"Minggir kamu! Gara-gara kamu anakku jadi pembangkang!"
Gorae menahan pukulan tas Jung Bok Sil dengan tangannya, dia melihat Na Ri menangis, satu tangan di tarik satu body guard, satu tangan yang lain di tarik Sora dan ibunya.
"Kakak! Kakak! Mereka mau membawa Na Ri! Tolong kak!"
Teriak Sora putus asa, salah satu body guard mendorong Sora dengan keras hingga terjatuh. Gorae marah sekali melihat adiknya diperlakukan kasar, secepat kilat Gorae melayangkan tinjunya pada body guard dan mendarat telak pada dagunya. Body guard itu terjerembab, dua orang menyerang Gorae.
Mereka memukuli Gorae, di wajah dan perutnya. Gorae tersungkur.
"Gorae! Gorae!" Hampir berbarengan Na Ri, Sora, Park Hilda, Yunna berteriak memanggil Gorae.
Perlahan Gorae bangkit.
"Pergi kalian! Pergi kataku!" Teriak Gorae penuh amarah.
"Na Ri, kamu harus ikut aku!" Jung Bok Sil kembali menarik tangan Na Ri.
"Hentikan! Hentikan semua!" Teriak Na Ri dengan suara parau, "Ibu sudah keterlaluan! Baik, aku akan ikut ibu! Jangan sakiti keluarga Gorae!"
"Na Ri! Kamu tidak bisa pergi!" Gorae menahan tangan gadis itu, wajahnya penuh kecemasan.
Yunna terkejut dengan sikap Gorae pada Na Ri.
"Aku sudah sangat merepotkan kalian, aku akan ikut ibuku. Kalian akan terluka jika aku tetap disini."
Air mata Na Ri berlinangan, dia sangat tidak ingin melihat Gorae dan keluarganya terluka karena dirinya.
"Na Ri, jangan!" Sora berusaha menahan Na Ri,
"Aku minta maaf pada semua."
Seorang body guard menahan Sora, Jung Bok Sil menarik tangan Na Ri dengan kasar,
"Jika kamu tidak ikut campur dari awal, hal ini tidak akan terjadi!" Jung Bok Sil dengan ketus berkata pada Gorae, "Jangan ikut campur lagi urusan Na Ri! Jika kamu mau karir dan keluargamu selamat!"
Jung Bok Sil menarik Na Ri keluar, didekat pintu dia berpapasan dengan Yunna yang berdiri memandangi mereka. Jung Bok Sil tersenyum pada Yunna, dibalas anggukan dan sedikit senyum tipis penuh kemenangan dari Yunna.
Na Ri melihat ke arah Yunna dan bertanya-tanya, apakah dia ini Yunna kekasih Gorae?
Yunna menatap Na Ri penuh kebencian.
Oh Sung Ji sang manager dan Pak Nah membantu Jung Bok Sil menarik Na Ri keluar dari rumah.
Mereka lebih seperti menyeret hewan daripada seorang manusia. Merekapun tidak peduli ketika Na Ri tersandung dan terjatuh, mereka terus menyeretnya.
Yunna berdiri mematung melihat Na Ri diperlakukan kasar, tiba-tiba dia menyadari sesuatu - apakah tindakannya salah memberitahu Jung Bok Sil?
"Hentikan dia! Beri dia pelajaran!"
Teriak Jung Bok Sil kesal.
"Minggir!" Bentak Gorae marah, tapi dua orang body guard memegangi tangan Gorae, Gorae berusaha meronta dan menendang.
Satu orang lagi memukuli perut Gorae, Gorae mengerang kesakitan.
Melihat Gorae dipukuli Na Ri berontak melepaskan diri dari cengkeraman tangan manager dan sopirnya, dia lari kembali ke rumah.
Dia berdiri untuk melindungi Gorae, bertepatan saat body guard melayangkan tinjunya yang keras, dan tepat mendarat diperut Na Ri.
Na Ri jatuh tersungkur dibawah kaki Gorae.
Semua yang ada di rumah Gorae menjerit memanggil nama Na Ri. Gorae melepaskan diri dari dua body guard yang memeganginya.
Na Ri mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya, Gorae segera mengangkat Na Ri, tapi gadis itu terjatuh dan muntah darah segar.
Gorae terbelalak, dia baringkan Na Ri di lantai, dia meraba perut Na Ri dengan sedikit menekan bagian lambungnya. Na Ri mengerang kesakitan, dia kembali muntah darah.
Sora berlari mengambilkan stetoskop milik Gorae. Setelah memeriksa sebentar, mengecek denyut nadi Na Ri, Gorae berkata pada Sora,
"Aku khawatir ini perforasi* !"
Sora terkejut, pukulan body guard tadi benar-benar sangat kuat.
"Ambil infus dan suntikan antibiotik! Oxygen juga!" Perintah Gorae pada adiknya.
"Oxygen tidak ada disini kak!" Sora berlari mengambil infus dan anti biotik.
"Eomma tolong hubungi ambulan. Na Ri harus dioperasi di rumah sakit sekarang!" Pinta Gorae pada ibunya.
"Hey! Hey! Mau dibawa kemana anakku?!" Teriak Jung Bok Sil marah,
"Masukan dia ke mobilku!"
Sebelum empat bodyguard itu mencapai Na Ri, Gorae berteriak marah,
"Ibu Jung! Tolong jika anda masih punya hati, Na Ri mengalami kebocoran lambung! Ini berbahaya! Dia harus di operasi sekarang!"
Jung Bok Sil menatap Gorae dengan sebal, "Kamu jangan mengarang cerita ya! Hanya terpukul begitu masa harus dioperasi!"
"Hey nyonya! Jika anda bawa Na Ri sekarang, kami tidak akan jamin dia akan selamat sampai di Seoul!" Teriak Sora, dia sudah tidak tahan lagi dengan perempuan sombong ini!
"Silahkan bawa dia dan dia tidak akan hidup! Dan apa yang akan aku lakukan? Melaporkan anda ke polisi!" Sora berkacak pinggang, wajahnya merah padam.
Sementara Gorae sudah memasangkan selang infus dan menyuntikan antibiotik.
Nafas Na Ri mulai tersengal, denyut nadinya melemah.
"Ambulan sedang menuju kesini." Kata Park Hilda.
Sesaat terdengar bunyi sirene ambulan, petugas medis membawa Na Ri menggunakan tandu dorong, di ikuti Gorae dan Sora.
"Dia harus pakai oxygen sekarang." Kata Gorae sambil ikut memasang monitor untuk mengecek tekanan darah dan denyut jantungnya.
"Sora, hubungi rumah sakitmu, siapkan CT Scan, dan ruang operasi."
"Baik."
Ambulan pun meninggalkan halaman rumah Sora. Meninggalkan Yunna, Jung Bok Sil dan anak buahnya, dan Park Hilda.
"Silahkan anda pergi dari rumahku."
Park Hilda berkata dingin pada Jung Bok Sil yang terlihat kebingungan melihat Na Ri di bawa ke rumah sakit.
Jung Bok Sil mendelik, "Kamu ibunya dokter itu kan? Tolong ajari anak kamu untuk tidak ikut campur urusan aku dan anakku!" Katanya ketus.
Mata Park Hilda menyipit,
"Melihat tingkah anda, siapapun tidak akan menyangka jika anda adalah ibu dari Jung Na Ri."
Wajah Jung Bok Sil merah padam, "Apa katamu? Melarikan anak gadis orang adalah kejahatan! Kamu harus ingat itu!"
"Anakku seorang dokter, dia sangat tahu kondisi pasiennya. Yang dia lakukan adalah menolong anak anda! Dan jika anda ibu yang baik, setidaknya anda susul anak anda dan tunggu dia di rumah sakit!" Balas Park Hilda kesal.
Tanpa berpamitan, Jung Bok Sil melengos pergi dari rumah keluarga Gorae, diikuti anak buahnya.
Park Hilda mengelus dadanya, dia benar-benar tidak percaya ada seorang ibu yang tidak punya hati seperti Jung Bok Sil. Pantas saja Gorae begitu mengkhawatirkan Na Ri, tidak heran Na Ri menjadi sangat tertekan.
Untung neneknya Gorae sedang pergi ke tempat adiknya, jika tidak, mungkin nenek akan shock melihat kejadian tadi.
Yunna yang sedari tadi berdiri, dengan suara pelan dia menyapa Park Hilda, "Ibu..."
Park Hilda terkejut menyadari dia melupakan Yunna.
"Ah ya ampun.... aigooo.... maafkan aku nak, aku benar-benar tidak sadar kamu ada di sini.."
Park Hilda mengelus punggung Yunna.
Yunna mengangguk sopan, "Tidak apa-apa bu..."
"Ah, sebetulnya aku akan menyusul Gorae, aku khawatir terjadi sesuatu pada Na Ri...." Park Hilda sejenak menghentikan perkataannya.
Dengan ragu-ragu dia bertanya,
"Apakah kamu mau ikut, atau kamu mau istirahat saja di sini?"
Yunna berusaha menekan rasa tidak sukanya pada Na Ri, dia seperti tidak berada di pihak yang membela Na Ri. Keluarga Gorae mengkhawatirkan Na Ri, padahal kekasih Gorae adalah dirinya!
"Aku....akan ikut ke rumah sakit."
"Baiklah, aku rasa kunci mobil Gorae masih di mobilnya, maafkan aku kamu harus mengalami keributan seperti ini."
Park Hilda mengambil mantelnya, mengunci pintu dan bergegas menuju mobil Gorae.
Park Hilda menyetir mobil Gorae, Yunna duduk di samping calon ibu mertuanya.
"Untungnya Gorae segera datang. Aku tidak tahu lagi bagaimana menahan perempuan itu. Aku sangat kasihan pada Na Ri."
Yunna menghela nafas, hatinya benar-benar gundah.
"Tapi...mengapa ibu tidak biarkan saja Na Ri pergi dengan ibunya?"
Park Hilda menoleh sesaat,
"Aku tidak bisa, gadis itu sedang terluka, tidak hanya fisiknya, tapi jiwanya pun terluka."
Yunna tidak puas dengan jawaban Park Hilda, "Jika....semua orang selalu ditolong Gorae, dia melupakan hal yang lain..."
Park Hilda mengerutkan keningnya,
"Apa maksud kamu nak? Apakah dengan Gorae membantu Na Ri mengganggu hubungan kalian?"
Yunna merasa semua tidak adil untuknya, "Eh...maksudku.... Gorae tidak seharusnya terlalu terlibat jauh dengan masalah Jung Na Ri."
Park Hilda tersenyum, "Dia hanya peduli dan kebetulan saja dia harus terlibat. Aku ingat betul saat dia SMA dulu, dia menyalahkan diri dan bersedih sangat lama saat tidak bisa menyelamatkan temannya."
"Tapi...tidak harus Na Ri, kan?"
Kembali Park Hilda menoleh, apakah Yunna cemburu pada Na Ri? Diapun baru menyadari sejak kedatangannya dengan Gorae tadi, Yunna bahkan hanya diam berdiri tanpa melakukan apapun saat melihat Na Ri terluka, padahal Yunna adalah seorang dokter.
"Gorae sangat memikirkan kamu, makanya dia berangkat ke Seoul untuk bertemu denganmu."
Park Hilda menjawab singkat.
Park Hilda membayangkan tentu sangat sulit untuk Gorae berada pada situasi seperti ini, anaknya mempunyai kepedulian yang besar untuk kesusahan orang lain.
Dan dia sangat bangga pada sifat Gorae.
Yunna diam, dia tidak sanggup membayangkan jika dia terus pada kondisi seperti ini. Dia hanya ingin Gorae mengerti bahwa dia tidak suka jika tidak berada pada urutan pertama prioritas hidupnya.
Apakah aku sanggup hidup dengan lelaki yang menomor dua kan dirinya? Tidak! Terlalu menyakitkan!
***
Perforasi lambung * : terbentuknya lubang pada dinding lambung. (lambung bocor)