I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Curious



Kang Gorae, Moon Jae Hyun dan Bae Ryung Go akhirnya menyelesaikan makan malam mereka yang sangat terlambat, mereka tidak sadar saat berbincang tadi, waktu terus berjalan.


"Dokter Kang, sebenarnya Na Ri dimana sekarang?..... emm, aku tahu kamu sungkan mengatakannya, hanya saja dia menghilang seperti ditelan bumi. Mungkin suatu saat kita perlu informasi dari dia atau ibunya."


Gorae tersedak saat minum ketika mendengar pertanyaan Ryung Go.


"Ya! Minum pelan-pelan!" Bentak Jae Hyun sambil menepuk punggung Gorae.


"Maaf.." Kata Gorae sambil mengelap mulutnya dengan tissue.


"Dia ada di desa tempat kelahiranku, desa Deuokhaengbokdeurim...." Gorae akhirnya mengatakan dimana Na Ri berada.


"Apa? Bisakah artis setenar dia tinggal di desa kecil? Apa yang dia kerjakan disana?"


Bae Ryung Go kaget mendengar dimana Na Ri sekarang.


"Kamu lebih tidak akan percaya melihat betapa berubahnya dia sekarang." Jawab Gorae, ada senyum simpul di ujung bibir Gorae ketika menceritakan soal Na Ri.


Jae Hyun menangkap senyuman Gorae, dia dengan santai memijat pundak Gorae yang lebar.


Gorae membuka handphonenya, dia memperlihatkan foto-foto yang dikirim Sora padanya.


Ada foto-foto Na Ri dengan Sora di danau Mujigae, foto ketika mereka makan siang dengan Ji Soon, foto Na Ri sedang memanen kentang dan ubi manis, Na Ri sedang naik sepeda Sora, Na Ri sedang berdiri di depan jendela rumahnya yang fotonya diambil diam-diam oleh Sora, dan beberapa foto Na Ri dengan ibu dan neneknya.


Sora banyak mengambil foto candid Na Ri yang sangat cantik dan mengirimkan foto-foto itu.


Gorae sendiri tidak tahu apa maksud Sora selalu mengirim foto Na Ri padanya, tapi sejujurnya dia sangat suka melihat foto-foto Na Ri.


"Astaga...aku bahkan tidak mengenali Na Ri sekarang! Dia sangat cantik dan terlihat sangat bahagia! Dulu pertama kali bertemu dengannya dia sangat kurus dan wajahnya selalu murung." Bae Ryung Go takjub melihat perubahan Na Ri yang sangat drastis.


Jae Hyun melihat-lihat foto Na Ri,


"Ini adikmu?" Tanya Jae Hyun.


"Iya, Kang Sora namanya." Jawab Gorae bangga.


"Dia cantik sekali." Puji Jae Hyun.


Gorae langsung merebut handphonenya dari tangan Jae Hyun.


"Cukup! Kamu sudah dapat Yunna! Tidak ada ceritanya aku harus jadi kakak ipar mu! Bermimpi pun aku tidak mau!" Rungut Gorae galak.


Jae Hyun tergelak, Wah, untuk urusan keluarganya Gorae sangat protektif!


"Hey...aku hanya bilang dia cantik! Apa salah?"


"Dia memang cantik, tapi cukup sampai disitu!" Gorae memasukan handphonenya kembali ke dalam saku bajunya.


"Nona Jung juga sangat cantik sekali, betul, dia terlihat sangat berbeda dengan Jung Na Ri yang biasa aku lihat di tv." Sekarang giliran Jae Hyun memuji Na Ri.


Wajah Gorae memerah, ingin rasanya dia menyiramkan air digelas ke wajah Jae Hyun. Tapi dia tidak ingin terlihat dia tidak suka Jae Hyun memuji Na Ri...entah kenapa, dia merasa tidak rela.


"Bisakah kamu hanya fokus pada Yunna?" Gorae mendelik.


Dengan tampang polos Jae Hyun terlihat bingung, "Apa?"


Gorae hanya bisa memelototi Jae Hyun, dibalas senyuman geli dari Jae Hyun. Untunglah Bae Ryung Go sedang sibuk dengan handphonenya.


"Mengapa Na Ri memilih jadi petani?" Tanya Jae Hyun kemudian.


"Aku tidak tahu.....aku harap dia tidak menyesali pilihan hidupnya sekarang."


Gorae berusaha menutupi kegugupannya, membicarakan Na Ri membuat hatinya berdebar.


"Baiklah para lelaki tampan, aku harus pulang sekarang. Besok aku akan cari cara menyusup ke Seukai Group. Aku terlalu kenyang dan mengantuk sekarang. Tuan Moon terimakasih atas makan malamnya."


Bae Ryung Go berdiri sambil tersenyum.


"Perlu diantar? Biarkan sopirku mengantarmu." Jae Hyun menawarkan diri.


Tadi dari kantornya dia minta diantar sopir untuk pergi menemui Gorae.


"Betul nona Bae, sebaiknya anda diantar pulang, sudah terlalu larut." Gorae khawatir dengan keselamatan Bae Ryung Go.


"Aihh...kalian selain tampan, kalian sangat baik...baiklah, terimakasih sekali lagi tuan Moon, sampai jumpa."


Bae Ryung Go pamit.


Gorae dan Jae Hyun masih berada di cafe menunggu sopir Jae Hyun kembali.


"Kelihatannya dia bisa dipercaya, dia sangat luwes dan baik." Jae Hyun menilai Bae Ryung Go, setelah dia pergi.


"Betul...dia dulu banyak membantuku..dia sangat tulus dan profesional." Puji Gorae.


"Kapan-kapan bolehkah aku ke tempat kelahiranmu? Foto-foto yang diambil adikmu sangat indah."


Tanya Jae Hyun sambil lalu.


Tapi Gorae mengangkat alisnya tidak senang.


"Mau apa kamu kesana?"


"Kenapa? Tidak boleh?"


" Ya, tidak boleh kalau tujuanmu untuk mengkhianati Yunna!" Kata Gorae ketus.


Mendadak air muka Jae Hyun berubah serius, "Aku tidak akan pernah bisa mengkhianati Yunna. Walaupun sebenarnya aku bingung harus bersikap seperti apa padanya sekarang..." Gumamnya.


"Kamu benar-benar mencintainya?" Tanya Gorae sambil memainkan gelas kosong ditangannya.


"Aku sangat mencintainya, aku tergila-gila padanya.... Aku sangat berharap dia tidak seperti ibunya....atau dia tidak punya maksud apapun dengan menjadi kekasihku."


Gorae menghela nafas, perlahan dan pasti bayangan Yunna menghilang dihatinya. Padahal Yunna adalah tipe gadis ideal yang sangat dicintainya dulu.


"Tetap saja, selalu pakai akal sehatmu. Kamu tetap harus waspada...jangan sampai nasibmu berakhir seperti ayahnya Na Ri." Gorae mengingatkan.


Jae Hyun mengangguk,


"Gorae, kamu masih mencintainya?"


Jae Hyun menatap Gorae.


Gorae terdiam, dia bertanya pada dirinya sendiri, benarkah dia sudah merelakan Yunna untuk Jae Hyun?


"Aku.......aku rasa mungkin dengan berjalannya waktu, aku bisa melupakannya. Aku harus realistis, bahwa dia tidak bahagia denganku. Aku tidak ingin memaksa seseorang untuk mencintaiku jika dia tidak bahagia." Gorae menunduk.


Jae Hyun menepuk pundak Gorae,


"Kamu benar-benar lelaki sejati, Gorae."


"Dan kamu?" Balas Gorae sambil nyengir.


"Haiisshh...aku akui, aku tidak pernah bisa menahan diri jika dekat Yunna!"


Jae Hyun tersenyum malu.


"Tsk! Sudahlah! Aku seperti melihat adikku sekarang, apapun akan diceritakannya! Jika kamu lanjutkan ceritamu dengan Yunna, aku bunuh kamu!" Gorae tertawa sambil menepuk kening Jae Hyun.


Jae Hyun tertawa, dia tidak menyangka bisa se akrab ini dengan Gorae.


"Ayolah aku antar kamu pulang, hubungi sopirmu agar tidak menjemput kamu kesini." Gorae berdiri, dia tidak enak cafe ini sudah bersiap mau tutup.


"Baiklah."


Dalam perjalanan pulang, Jae Hyun masih bertanya pada Gorae,


"Bolehkah aku ke tempatmu?"


Gorae hanya menjawab dengan menginjak pedal gas lebih dalam sehingga mobil meluncur sangat cepat.


Diiringi tawa Jae Hyun yang puas melihat Gorae kesal.


*


Na Ri mengantar ibunya ke terminal Bus, mereka mendapat kabar bahwa rumah Jung Bok Sil sudah terjual. Jung Bok Sil akan menyewa tempat di dekat klinik Muju agar dia bisa setiap hari mengunjungi Song Myung Ri suaminya.


Dia merasa lebih tenang dan bahagia sekarang, walaupun dia dipertemukan dengan suaminya dalam keadaan yang sangat tidak terduga, tapi dia sudah bisa menerima kenyataan hidupnya.


Walaupun agak sulit menerima kenyataan Song Myung Ri yang pergi bukan atas kemauannya, dia mencoba memaafkan masa lalunya. Jauh di dalam hayinya dia masih mempertanyakan kesetiaan suaminya, bayangan masa lalu masih seperti adegan film yang terus diputar ulang di kepalanya. Sangat menyakitkan melihat Song Myung Ri seperti hendak berciuman dengan Ahn Sohyun!


Sekarang, yang dia inginkan adalah kesembuhan suaminya dan kebahagiaan Na Ri dengan jalan hidup yang dia pilih.


Hal sederhana seperti itu sudah sangat cukup baginya.


Dia juga tidak ingin terlalu merepotkan Kwak Tae Rang, dia akan menanggung sebagian biaya pengobatan suaminya dari hasil menjual rumah, walaupun Kwak Tae Rang bersikeras untuk menanggung semuanya.


"Ibu yakin tidak ingin aku antar sampai ke Seoul?" Tanya Na Ri sekali lagi.


"Aiish berapa kali aku bilang, aku akan baik-baik saja....aku hanya perlu menyewa jasa pindah rumah untuk membereskan barang-barang dan membawanya ke Muju. Tugasmu sekarang carikan rumah untukku yang jaraknya dekat dengan klinik."


"Baiklah....Ibu, jaga diri ibu ya!" Pinta Na Ri sambil memeluk ibunya.


"Iya sayangku, jangan lupa bawakan kesemek kering untuk ayahmu!" Jung Bok Sik mengingatkan.


Na Ri melambaikan tangannya begitu bus yang ditumpangi Jung Bok Sil pergi meninggalkan terminal.


Na Ri sendiri menaiki bus ke kota Muju, dia rindu bertemu ayahnya, padahal baru dua hari yang lalu dia mengunjunginya.


Sesampainya di klinik Muju, Na Ri melihat ayahnya baru saja selesai melakukan terapinya.


"Abeoji!" Na Ri berlari menghampiri ayahnya.


"Jag-eun cheonsa...kamu datang." Song Myung Ri tersenyum senang.


"Aku bawakan kesemek kering untukmu." Wajah Na Ri berseri-seri melihat ayahnya tampak lebih segar.


Na Ri mengajak ayahnya duduk ditaman.


"Abeoji...apakah kamu suka jika aleumdaun yoja itu selalu menemani mu setiap hari?"


Song Myung Ri memanggil Jung Bok Sil dengan aleumdaun yoja yang artinya wanita cantik, dia belum bisa mengingat jika wanita itu adalah istrinya.


Song Myung Ri tersenyum sambil mengangguk, "Aku a-akkan ssangat bahagia. Ddia sangat ccantik...ddia selalu tersenyum pada ku."


"Abeoji menyukainya?" Tanya Na Ri menggoda ayahnya.


Song Myung Ri merasakan ada perasaan aneh saat ditanyakan soal Jung Bok Sil, perasaan ini seperti mengingatkan sesuatu.....dia benar-benar sulit mengingat perasaan seperti apa ini, tapi bila dekat dengan Jung Bok Sil dan Na Ri dia merasa sangat tenang, merasa ada sebuah rumah kokoh yang melindunginya.


"Aku...merasa ssangat nyaman ddekat dengan aleumdaun yyo..ja. Aku jjuga bahagia dekat dengan mu.."


Na Ri tersenyum senang,


"Abeoji, aku akan beritahukan satu rahasia." Na Ri mendekat pada ayahnya.


"A...apa itu?"


"Aleumdaun yoja....jatuh cinta padamu! Dia benar-benar mencintaimu....dia bahkan akan tinggal didekat klinik ini!"


Mata Song Myung Ri yang indah, seindah mata Na Ri berbinar, wajahnya memerah. Song Myung Ri bingung, perasaan bahagia macam apa ini? Rasanya dulu sekali dia merasakan detakan jantung yang indah seperti ini.


"Bbe..benarkah? Ddia bilang begitu?"


"Tentu saja benar! Kalian akan jadi sepasang kekasih...aiih! Aku iri sekali!"


Na Ri kembali menggoda ayahnya.


Song Myung Ri tertawa melihat Na Ri cemberut.


Mereka menghabiskan waktu sampai tengah hari, saatnya Na Ri harus pamit karena harus mencari rumah untuk ibunya.


Setelah mengantarkan ayahnya kembali ke kamarnya, Na Ri memeluk ayahnya.


"Abeoji...cepatlah sembuh!" Bisik Na Ri.


"Jjung...Bok ...Sil...." Gumam Song Myung Ri.


Na Ri kaget, "Apa? Abeoji bilang apa?"


"Aleumdaun yoja kku...a..adalah...Jjung...Bokk..Ssil.."


Kata Song Myung Ri matanya berbinar-binar..


"Abeoji? Ingat dia sekarang?" Na Ri terlonjak senang, Song Myung Ri mengangguk. Dia peluk ayahnya erat,


"Abeojiiii.... apakah abeoji ingat dia itu istrimu?"


Song Myung Ri melepaskan pelukan Na Ri, wajahnya terlihat bingung,


"I...istri...?"


"Iya! Dia adalah istrimu Abeoji." Na Ri menatap ayahnya penuh harap.


Song Myung Ri mengerutkan keningnya, "Yyang...aku ingat....dia gadis ccantik...di sebuah toko..."


Aihh! Aku terlalu terburu-buru! Kata Na Ri dalam hati.


"Ah...baiklah....aboeji mencintainya?"


"Ccinta??....aku....merasa sangat bbahagia bila dekkatt dengannya, di..dia seperti bunga yang harum ...dan indah.." Song Myung Ri merasa kenal dengan perasaan itu...itu perasaan yang justru sangat ingin dia lupakan waktu itu. Sangat sulit membunuh perasaan itu, karena Jung Bok Sil adalah segalanya baginya.


Na Ri mengangguk mengerti,


"Baiklah...itu namanya cinta! Wahh... aku sangat bahagia."


Na Ri berjanji akan datang lagi besok, Song Myung Ri tidak seperti biasanya, hari ini dia memeluk Na Ri erat dan mencium keningnya.


Saat Na Ri pergi, dia bergumam,


"Aku sangat menyayangi mu jag-eun cheonsa...Song Na Ri...kamu adalah Song Na Ri." Air mata Song Myung Ri berlinang.... satu lagi potongan puzzle yang hilang menempati ruang yang kosong dikepalanya...


*


Yunna merasa gelisah, dari kemarin sampai sekarang Jae Hyun tidak mengabarinya sama sekali.


Malam ini, kembali dia pulang sendiri tanpa dijemput kekasihnya. Yunna beryanya-tanya, apakah masalah perusahaannya dengan perusahaan milik kakeknya begitu berat?


Ataukah, Jae Hyun akan melakukan sesuatu yang membahayakan kakeknya? Bagaimana jika Jae Hyun yang memiliki perusahaan raksasa yang sangat kuat itu membuat perusahaan kakeknya hancur? Apakah dia masih akan berada disisi Jae Hyun? Sementara keluarga yang sangat dicintainya akan menderita?


Yunna mencintai Jae Hyun, dia bahagia dengan lelaki tampan itu, tapi jika perusahaan sebesar milik kakeknya yang nanti akan jatuh ke tangan ibu dan pamannya harus hancur, dimana dia akan berdiri nanti?


Pesona Jae Hyun yang sanggup membuatnya luluh begitu membingungkannya. Jae Hyun terlalu menggoda hatinya dan Yunna tidak akan pernah sanggup untuk menghindarinya.


Tapi....bagaimana jika Seukai bisa bersatu dengan Star&Star.co. ? Bukankah itu sangat bagus? Kelak, dia juga yang akan meneruskan perusahaan itu dan Jae Hyun, seandainya saja dia bisa menikahinya...


Bagaimana jika kakek dan keluarganya tahu, jika kekasihnya sekarang adalah saingan bisnis mereka? Belum lagi paman dan sepupu-sepupunya.


Apakah mereka akan memisahkan dia dengan Jae Hyun? Atau mendorongnya untuk menjerat Jae Hyun untuk menikahinya? Sehingga perusahaan mereka bisa bergabung?


Yunna akan mencari tahu, dia ingin memastikan dimana dia akan berpihak nanti. Keluarganya adalah segalanya baginya, tapi Jae Hyun adalah pesona yang tidak ingin dia lepaskan.


Dulu, saat dia bersama Gorae, keluarganya sudah merancang masa depan untuk Gorae dengannya, mereka ingin Gorae menjadi pemimpin rumah sakit Hansung. Yang dia tahu, keluarganya akan membeli semua saham di rumah sakit Hansung dan menempatkan Gorae sebagai pimpinan.


Yunna belum menceritakan hal ini pada Gorae, karena dia tahu Gorae bukanlah orang yang mudah diberi sesuatu dengan cuma-cuma, dia terlalu idealis! Apalagi untuk urusan yang berkaitan dengan jabatan.


Gorae seperti tidak punya ambisi apapun, dia hanya ingin menolong orang lain!


Yunna memutuskan untuk menelepon Jae Hyun, tidak biasanya Jae Hyun sama sekali tidak menghubunginya.


"Jae Hyun, kamu baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa, maafkan aku, aku sangat sibuk dua hari belakangan ini. Kamu sudah makan?"


Jae Hyun saat ini sedang bersama Bae Ryung Go dan Bobby di kantornya.


"Belum..." Yunna penasaran, sebenarnya Jae Hyun sesibuk apa, sampai dia lupa untuk mengubunginya.


"Sebaiknya kamu makan Yunna, ini hampir larut."


Terdengar bunyi kertas yang dibalik, Yunna berpikir, mungkin Jae Hyun memang benar-benar sibuk.


"Aku rindu kamu sayang..." Yunna mencoba sedikit mengalihkan perhatian Jae Hyun, dia khawatir, ke depannya jika Jae Hyun sibuk, dia tidak akan menjadi prioritasnya lagi.


"Aku juga.."


Jae Hyun menjawab singkat. Yunna tercenung, biasanya dia akan sangat mesra!


"Apa kamu sedang bersama orang lain?" Tanya Yunna sedikit cemburu.


"Iya, aku masih bekerja. Aku akan telepon kamu nanti, ok?"


"Tapi aku..."


Yunna menghentikan kata-katanya, karena Jae Hyun sudah memutus sambungan teleponnya.


Apa-apaan ini?? Ada apa dengan dia? Yunna mulai merasa sangat takut jika dia bukan prioritas utama dalam hidup Jae Hyun! Tidak lagi! Aku tidak ingin jadi nomor dua dalam hidup orang yang aku sayangi.


Dia tidak bisa memperlakukanku seperti ini, dia harus tahu, aku rela melakukan apapun untuknya, dan dia harus selalu menempatkannya di tempat yang paling utama dalam hidupnya! Aku tidak mau menangis lagi seperti saat aku bersama Gorae!


Tanpa berpikir panjang Yunna kembali menelepon Jae Hyun, Dengan kekesalannya Yunna berkata dalam hati, dia harus tahu bagaimana menempatkan aku dalam hidupnya!


"Hallo?" Suara Jae Hyun terdengar tidak ramah, dia terpaksa menghentikan pembicaraan pentingnya dengan Bae Ryung Go dan Tommy, dia permisi keluar ruang kantornya.


"Begitu caramu memperlakukanku?!" Tanya Yunna dengan nada tinggi.


"Apa maksud kamu? Aku bilang, aku akan telepon kamu nanti. Aku masih banyak pekerjaan." Jawab Jae Hyun, dia tidak mengerti mengapa Yunna sangat marah.


"Bahkan ...saat aku masih bicara kamu tutup telepon dariku! Kamu sangat tidak tahu cara menghormati kekasihmu!"


"Uff...maafkan aku, tapi aku sedang ada tamu saat ini. Aku tidak bisa bicara bebas dengan mu."


Jae Hyun melonggarkan dasinya.


"Tetap saja, kamu tidak bisa memperlakukan ku seperti aku bukan kekasihmu!" Yunna sangat kesal sekali.


"Tidak bisakah kamu mengerti? Aku sedang membahas hal penting dan kamu meradang hanya karena aku terburu-buru menutup telepon mu?"


"Apakah aku tidak penting? Begitu?!" Suara Yunna makin meninggi.


Jae Hyun tercengang, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Bukankah selama ini dia selalu ada untuknya? Apakah Yunna tidak mengerti dunia bisnis? Tidak kah Yunna bisa melihat tingkat prioritas seseorang? Dan saat berurusan dengan perusahaannya, apakah dia harus mengesampingkan masalah pelik di perusahaannya dan lari ke dalam pelukan Yunna?


Apakah dia bersikap seperti ini pada Gorae dulu?


Jae Hyun sangat tergila-gila pada Yunna, tapi saat dia tidak bisa dimengerti seperti ini, hatinya sangat gusar dan sakit. Dia sama sekali tidak ingin menyakiti atau mengabaikan Yunna, baru dua hari dia tidak menghubunginya karena dia merasa sangat lelah dan harus fokus menyelesaikan masalah perusahaannya dengan Seukai Group. Perusahaan yang didirikan oleh ayahnya dan berkembang pesat ditangannya saat ini terancam di gerogoti oleh perusahaan milik kakeknya Yunna, dan dia harus mengabaikan masalah demi seorang gadis manja?


Tidak! Dia tidak bisa mengatur hidupku! Tekad Jae Hyun.


"Yunna, aku pikir kamu gadis yang dewasa. Aku sangat mencintaimu, tapi jangan kamu manfaatkan rasa cintaku hanya untuk kepentingan perasaanmu!"


"Apa maksudmu dengan kepentingan perasaanku?" Tanya Yunna marah,


"Aku memberikan segalanya untukmu, tapi kamu mulai bersikap seperti aku bukan orang yang kamu cintai!"


Yunna memutus sambungan telepon dengan kasar. Dia banting handphonenya ke lantai dan mulai menangis. Dia benci merasa tidak penting dimata orang yang dicintainya.


Jae Hyun terhenyak, beginikah sikap asli gadis yang sangat dicintainya?


"Damn!" Tinjunya menghantam tembok dengan keras.


Bobby keluar untuk memastikan bossnya baik-baik saja.


"Pimpinan Moon, anda tidak apa-apa?"


Jae Hyun menghembuskan nafas kesalnya. Dia mengangguk,


"Aku tidak apa-apa. Ayo kita masuk." Ajak Jae Hyun.


Bae Ryung Go yang sedari tadi menunggu, merasa tidak enak hati begitu melihat air muka Jae Hyun sangat keruh.


"Tuan Moon, apa sebaiknya kita bahas ini lain kali?"


"Ah tidak,  mari kita lanjutkan."


Jae Hyun mengambil segelas air dingin dari kulkas dikantornya dan meneguknya habis.


"Anda yakin?" Bae Ryung Go merasa khawatir.


"Maafkan aku karena gangguan tadi, jadi berapa orang yang kamu tempatkan di Seukai Group?" Jae Hyun kembali duduk menghadap Bae Ryung Go dan Bobby.


"Aku menempatkan empat orang teman-temanku di Seukai, dua orang menyamar sebagai cleaning service, agar mereka leluasa keluar masuk tiap ruangan dan menempatkan beberapa kamera.


Satu orang menyamar sebagai petugas gudang, satu orang menjadi auditor. Aku sendiri menyamar sebagai delivery food."


Jae Hyun mengerutkan keningnya,


"Bukankah menempatkan kamera itu melanggar hukum?"


"Betul, jika kita melampaui batas privasi. Tapi pengungkapan kejahatan diperlukan bukti visual. Aku pikir, bukti yang akan kita dapat bukan untuk dipublikasikan, tapi sebagai bahan laporan pada polisi."


Jawab Bae Ryung Go.


"Nona Bae, kamu seorang reporter, bagaimana jika ada orang yang mengenalimu?"


Susul Jae Hyun khawatir.


"Aha...mengenai itu...banyak orang yang mirip satu sama lain di dunia ini. Aku yakin tidak akan ada yang menyangka jika aku berpakaian sebagai kurir makanan dan wajahku ini....tidak spesial hehehe.."


Bae Ryung Go nyengir, dia memang tidak terlalu cantik, tapi wajah cerdasnya akan menarik perhatian.


"Baiklah..." Jae Hyun menghela nafas,


"Apa yang sudah kalian dapat?"


"Temanku di bagian gudang melihat aktifitas keluar masuk barang meningkat. Setelah melihat catatan beberapa tahun kebelakang sampai dengan beberapa bulan lalu, peningkatan kegiatan dibagian gudang mengalami fluktuasi yang signifikan. Sedangkan beberapa bulan sebelum ini, bahkan beberapa tahun sebelumnya kegiatan keluar masuk barang sangat konstan."


"Barang apa itu? Jae Hyun penasaran


"Bahan pembuat obat-obatan tanpa merk dagang." Ryung Go memberikan salinan catatan keluar masuk barang.


"Aihh! Mungkinkah?...." Jae Hyun tercekat.


"Lalu, ada yang menarik yang didapat oleh dua temanku di gedung Seukai, mereka merekam pembicaraan General manager Seukai dengan Pimpinanan sekaligus pemilik Seukai Group Ahn Cheol Yong... bahwa mereka juga akan menambah bidang usaha mereka, mereka akan merambah bidang pertanian. Mereka mengincar pertanian dan perkebunan di sekitar Jeolla utara, tepatnya provinsi Jeonju."


"Apa?!" Di daerah itu sudah jelas pertanian dan perkebunan dimiliki pemerintah Korea dan Sky&Star.co satu-satunya pemasok pupuk dan bertanggung jawab atas semua distribusi hasil panennya ke seluruh Korea bahkan beberapa negara diluar  Korea!"


Jae Hyun merasa pasti, Seukai Group perlahan tapi pasti akan mulai mencuri satu persatu anak perusahaannya.


"Benar, mereka mulai mendekati para pengepul hasil pertanian disana, menawarkan harga yang lebih tinggi, dan memberikan harga murah untuk pupuknya." Bobby menimpali. Dia menyodorkan beberapa berkas sebagai bukti penelusurannya.


"Aisshh! Ini menyalahi aturan dan kerjasama kita antara petani dan pemerintah! Mereka akan mengacaukan harga pasaran secara nasional!" Jae Hyun meradang.


"Tidak hanya itu, aku sebagai kurir makanan yang selalu dipesan karyawan di kantor pusat Seukai juga menemukan sesuatu."


Jae Hyun menarik nafas berat, kepalanya dipenuhi macam-macam masalah yang kian bertumpuk, dia bersiap menunggu apa yang akan diungkapkan Bae Ryung Go.


"Saat aku mengantar pesanan makanan ke ruang keuangan, aku sempat mendengar para karyawan berbincang-bincang soal dana Sky&Star.co sudah berhasil masuk semua ke rekening perusahaan. Ada satu manajernya mengajak semua karyawannya untuk merayakan keberhasilan mereka. Aku dengar, mereka akan di traktir Boss besar."


Bae Ryung Go menatap Jae Hyun yang tersenyum sinis, dia menggeleng tidak percaya.


"Aku tadinya berharap kebocoran dana itu adalah tindak korupsi dari pihak SubDrop! Tidak kusangka Seukai sangat licik!"


Jae Hyun menyandarkan penggungnya di sofa. Wajahnya berubah sangat serius.


"Bobby, apa yang kamu temukan di SubDrop?"


Tanya Jae Hyun kemudian.


"Jadi orangku menemukan dua laporan keuangan. Yang satu adalah laporan seolah-olah SubDrop benar-benar memproduksi obat yang kita tahu....ini berkaitan dengan bahan-bahan palsu yang dikirim entah dari mana....


Tapi mendengar penuturan nona Bae tentang kegiatan di gudang Seukai yang meningkat, aku curiga dari sanalah bahan palsu itu berasal. Aku hanya tinggal mencari tahu pemasok awalnya." Bobby berdehem sebentar.


"Laporan keuangan yang lain adalah laporan keuangan yang asli, yang tidak membuat laporan pemesanan bahan atau produksi obat beberapa minggu terakhir." Lanjut Bobby


"Jadi laporan keuangan asli untuk pimpinan SubDrop, dan yang palsu untuk Sky&Star.co dengan tanda tangan pimpinan SubDrop yang dipalsukan. Hal ini tentunya anda mengira produksi obat dengan merk dagang baru memang diproduksi dan bentuk fisiknya ada."


Bobby memberikan bukti-buktinya.


"Hmm...itulah sebabnya mereka terlihat sangat bingung saat aku bilang kita sudah mengucurkan dana...dan memproduksi obat dengan merk baru!" Kata Jae Hyun mulai mengerti duduk persoalannya.


"Betul, dan krisis keuangan semakin buruk, mereka menganggap pihak Sky&Star diam saja, lalu mereka mengambil inisiatif untuk mejual saham utama milik mereka, karena terdesak oleh kebutuhan membayar karyawan mereka. Dan Seukai lah yang memberikan penawaran tinggi. Beruntung mereka memberi laporan tentang rencana penjualan sahan utama mereka, sebelum penjualan terlaksana."


Jae Hyun menggigit bibirnya, dia berpikir bagaimana menghadapi Seukai yang benar-benar luar biasa licin dan licik.


"Apakah kamu sudah menemukan siapa yang memalsukan dokumen itu?"


Bobby menggeleng,


"Sangat sulit, kami masih berusaha."


"Baiklah.... teruskan penyelidikan kalian. Terimakasih sudah bekerja keras." Jae Hyun merasa sangat penat.


"Baiklah kami permisi." Jawab Bae Ryung Go sambil bangkit dari duduknya.


"Nona Bae, bagaimana dengan pekerjaanmu di ARV?" Jae Hyun merasa khawatir.


"Anda tidak usah khawatir tuan Moon, semua yang aku lakukan atas ijin dari pimpinan Lee, bahkan dia yang menyiapkan semua strateginya.


Keuntungan bagi kami adalah, jika kasus ini dibuka, kami media pertama yang akan mengungkapkannya secara eksklusif."


Bae Ryung Go tersenyum.


Jae Hyun terbelalak,


"Wah bagus lah...ini berarti kita melakukan hubungan symbiosis mutualisma! Berikan nomor pimpinanmu, aku harus berterima kasih padanya!"


Setelah Bae Ryung Go memeberikan nomor pimpinannya, dia dan Bobby pergi meninggalkan Jae Hyun sendiri.


Jae Hyun menelepon Choi Ki Su pemimpin Ganghan Nongmin, salah satu anak perusahaan yang bergerak di bidang pertanian.


"Pak Choi, anda tahu masalah yang baru muncul di Perusahaan anda?" Selidik Jae Hyun.


"Ya, pimpinan Moon, aku kemarin mengungkapkan hal ini pada Bobby orang kepercayaan anda. Saya sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk bahan laporan pada anda."


Suara di seberang telepon terdengar sedikit mengantuk.


" Baik, siapa pengelola seluruh lapangan?"


"Namanya Kwak Tae Rang, tapi karena dia sekarang sedang mengurus urusan pribadi, sekarang dia digantikan anaknya Kwak Ji Soon, anaknya inilah yang menemukan kecurangan terjadi dilapangan."


"Berikan nomor telepon mereka padaku."


*


Moon Jae Hyun sampai dirumahnya hampir jam 2 pagi. Setelah berbicara panjang lebar dengan Kwak Ji Soon dan ayahnya Kwak Tae Rang, dia memutuskan untuk datang ke kota Wanju besok untuk bertemu langsung dengan ayah dan anak itu.


Perutnya terasa lapar sekali, karena hari-hari terakhir dia sangat disibukan oleh persoalan pelik perusahaannya dia sering melewatkan makan.


Apakah Gorae masih hidup? Dia berpikir akan lebih menyenangkan makan dengan lelaki cerdas itu sambil bertukar informasi.


Dia menelepon Gorae


"Gorae, kamu dimana?"


"Apa maksud kamu aku dimana? Jangan-jangan kamu sudah merindukanku! Maaf Jae Hyun kamu bukan tipeku!"


Gorae hendak masuk ke mobilnya, dia bersiap untuk pulang.


"Jangan gila kamu! Aku masih sangat suka perempuan!" Runtuk Jae Hyun sebal. Diiringi tawa lepas Gorae.


"Tadi nona Bae dan orang kepercayaanku memberi laporan."


"Oh ya? Ada bukti baru?" Gorae menutup pintu mobilnya.


"Banyak. Dan aku hampir sulit bernafas melihat bukti-bukti itu. Aku hanya tidak mengerti mengapa Seukai begitu bernafsu mengambil satu persatu perusahaanku."


Jae Hyun membuka kemejanya.


Terlihat badan yang sangat indah dengan abs dihiasi six pack yang sempurna.


"Benarkah? Gila!"


"Aku besok akan ke kota Wanju. Aku akan bertemu penanggung jawab lapangan anak perusahaanku....eh....mereka ahli pertanian. Masalahnya anak perusahaanku mulai diobrak-abrik oleh Seukai."


Gorae terperanjat, "Tunggu, Wanju katamu?"


"Iya, ayah dan anak itu bersedia bertemu di kota Wanju. Karena ayahnya kebetulan akan ke Muju besok."


"Pak Kwak Tae Rang dan Kwak Ji Soon.... benarkah kamu akan bertemu mereka?"


"Ah, bagaimana kamu tahu?" Jae Hyun sekarang mengenakan Long Sleeves warna biru, sangat kontras dengan kulitnya yang terang.


"Jae Hyun, Kwak Tae Rang adalah sahabat Song Myung Ri....korban malpraktek dokter Ahn!"


"Apa?!"


***