I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
The Place Where You Belong



Akhirnya setelah menjalani sidang selama dua bulan, Hakim memutuskan menjatuhi hukuman mati pada Go Hanna,


Pelaksanaan eksekusi akan diberitahukan oleh pengadilan. Mungkin saja Hanna akan dipenjara selama bertahun-tahun bahkan belasan tahun menunggu keputusan waktu dijatuhkannya hukuman mati.


Mendengar keputusan Hakim, Hanna berteriak-teriak mengamuk. Dia menunjuk-nunjuk pada Jung Na Ri,


"Hey, semua ini karena kamu perempuan sundal! Aku melakukan semua karena kamu! Kamu akan mati ditanganku! Kamu harus mati!"


Hanna menendang kursi, dan dengan cepat dia berbalik kearah petugas yang masih terkejut dengan tingkah Na Ri, dia mencabut pistol dari pinggang petugas yang memeganginya.


Walaupun dengan tangan terborgol dia masih sanggup menyikut keras perut petugas itu dan menodongkan pistol ke arah Na Ri.


"Go Hanna! Hentikan! Jangan berbuat bodoh!" Teriak petugas lain dan berusaha meringkus Hanna, tapi dengan nekat Hanna menodongkan senjata pada petugas itu.


Suasana di ruang sidang menjadi sangat kacau, Gorae segera menarik Na Ri yang ketakutan.


"Jung Na Ri! Jangan pergi kamu! Oho bagus, kamu juga akan mati ditanganku Kang Gorae!"


Teriak Hanna histeris, matanya terbelalak penuh kemurkaan, mata yang berkilat-kilat seperti mata iblis!


Wajahnya menegang, urat-urat di dahinya terlihat menonjol, Hanna benar-benar ingin Na Ri dan Gorae mati ditangannya sekarang.


Hanna sudah dikepung enam orang petugas keamanan pengadilan. Beberapa polisi berlari menghampiri Hanna.


"Aku tidak takut mati! Asal kamu harus mati ditanganku!" Hanna menodongkan senjata kembali ke arah Gorae dan Na Ri bergantian.


Hanna menyeringai, "Siapa yang akan aku habisi duluan? Hahahaha... menyenangkan melihat wajah ketakutan kalian...hahahaha..."


Orang-orang yang berada di ruang sidang menjerit ketakutan, mereka berebutan berlari keluar.


Gorae berdiri melindungi Na Ri, Hanna bersiap menarik pelatuk pistol yang dipegangnya.


"Hanna semua sudah berakhir! Jangan kamu kotori lagi tangan kamu! Sadarlah!" Teriak Gorae.


"Berani kamu mundur satu langkah saja, aku bunuh kalian berdua!"


Hanna melihat Gorae dan Na Ri perlahan bergeser mundur. Jarak antara mereka hanya tiga meter, mustahil untuk Gorae dan Na Ri selamat dari tembakan Hanna.


Para pertugas keamanan dan polisi berteriak-teriak untuk menghentikan Hanna, tapi Hanna tidak sedikitpun bergeming. Walaupun senjata-senjata sudah ditodongkan ke arahnya.


"Kalian semua lelaki bodoh! Jika kalian berani melangkah mendekatiku, aku habisi kalian semua!" Teriak Hanna marah.


Seorang polisi memberi kode pada temannya untuk menyergap Hanna dari belakang, mereka melangkah pelan. Tapi dengan cepat Hanna berbalik,


DOR! Bunyi letusan pistol terdengar, seorang polisi roboh bersimbah darah. Semua orang menjerit.


Gorae dengan cepat menarik Na Ri untuk lari keluar, Hanna semakin gelap mata, melihat Gorae dan Na Ri berlari keluar, petugas keamanan berusaha menghalangi Hanna, tapi kembali suara letusan terdengar.


Petugas itu pun tersungkur dengan dada berlubang dan darah membanjiri tubuhnya.


"Panggil ambulan!"


"Tolong kirim bantuan!"


Semua orang berteriak-teriak dan jeritan-jeritan mengisi ruang sidang.


Semua orang panik dan ketakutan.


Hanna melompati pagar pembatas ruang sidang dengan gesit, dia berteriak penuh kemarahan.


"Manusia busuk! Jung Na Ri! Kamu yang membunuh mereka! Berhentiii! Atau aku tembak kamu sekarang!"


Satu letusan lagi terdengar, Gorae dan Na Ri menghentikan langkah mereka, ketika berbalik mereka melihat satu orang pengunjung terkapar dengan luka tembak di kepalanya.


Na Ri menjerit ketakutan. Gorae mendorong Na Ri agar bersembunyi di belakangnya.


"Cukup Go Hanna! Menyerahlah!" Teriak Gorae, secepat kilat Gorae berlari ke arah Hanna, menerjang gadis itu dengan menubrukan badannya pada tubuh Hanna.


Na Ri berteriak, "Gorae jangan!" Dia merasa sangat ketakutan, dengkulnya terasa lemas.


Hanna terjengkang ke belakang, tubuhnya menghantam dinding dengan keras. Letusan kembali terdengar, kali ini pelatuk tertarik oleh jari Hanna akibat tubrukan Gorae.


Peluru tidak mengenai siapapun.


Gorae berguling dan cepat berdiri. Hanna kembali menodongkan pistolnya pada Gorae. Kepalanya sedikit pusing.


"Kamu harus mati!" Jerit Hanna sambil menarik pelatuknya.


DOR!


Gorae merunduk sambil menutupi kedua telinganya, dia pikir dia yang jadi korban berikutnya.


Tapi dia melihat Hanna menjerit kesakitan dan tangannya berdarah.


Rupanya polisi menembak Hanna tepat ditangan yang memegangi pistol.


Pistolnya terjatuh dekat kaki Gorae, dengan cepat Gorae menendang pistol itu ke arah polisi, menjauhkan dari Hanna.


Polisi cepat-cepat meringkus Hanna yang masih mengamuk sambil berteriak-teriak.


Saat melewati Gorae, Hanna berhenti dan menatap Gorae penuh kebencian.


"Kamu bukan manusia Hanna! Kamu sudah tamat sekarang." Gorae berkata tajam.


Para korban penembakan Hanna sudah dibawa ke rumah sakit. Dua orang polisi dan petugas keamanan dalam keadaan kritis, sementara satu pengunjung tewas.


Gorae menghampiri Jung Na Ri yang didampingi Jung Bok Sil, mereka berdua tampak sangat shock.


"Ayo kita pergi lewat pintu belakang. Reporter akan memburu kita sekarang."


Gorae mengajak Na Ri dan ibunya menyelinap ke belakang.


Bae Ryung Go melambaikan tangan dari arah pintu belakang, dia dengan beberapa reporter ARV berusaha menjaga Na Ri dan Gorae dengan mengalihkan perhatian reporter-reporter lain.


Dan mereka berhasil keluar dari pengadilan tanpa diketahui satu orang pun reporter, kecuali reporter dari ARV. Bae Ryung Go mengangguk pada Gorae agar Gorae segera pergi.


Di dalam mobil Na Ri masih gemetaran, wajahnya sangat pucat.


Sementar Jung Bok Sil berkali-kali mengusap dadanya.


"Perempuan itu benar-benar tidak waras....hukuman apalagi yang akan dia terima setelah menembaki orang-orang seperti itu! Aku hampir tidak sanggup berdiri tadi.." Jung Bok Sil mengeluh.


"Dia sudah ada ditempat yang seharusnya sekarang."


Gorae menoleh pada Na Ri yang pucat pasi, dia khawatir dengan keadaan Na Ri sekarang. Tangannya sangat gemetaran. Dengan refleks Gorae menggenggam tangan Na Ri untuk menenangkannya,


"Terimakasih Na Ri, kamu sudah sangat kuat sejauh ini. Ini semua sudah berakhir."


Jung Bok Sil melihat perlakuan Gorae pada anaknya. Diam-diam dia merasa bersyukur Na Ri bertemu dengan lelaki yang berani, baik dan tampan seperti Gorae.


Seandainya saja...Gorae belum mempunyai kekasih....pasti akan menyenangkan memiliki menantu sebaik Gorae.


"Dokter Kang, kamu tadi terlalu nekat! Bagaimana kalau perempuan gila itu mencelakai kamu? Aissshh...aku tidak bisa bayangkan!"


Gorae tersenyum, "Aku beruntung tidak terkena tembakannya."


Na Ri memperhatikan tangannya yang digenggam erat oleh Gorae. Ada perasaan hangat, perasaan aneh yang menjalar dihatinya. Tangannya seperti tenggelam dalam genggaman tangan Gorae yang besar dan halus.


Gorae melirik sekilas, dia melihat semburat merah di wajah Na Ri, perlahan Gorae melepaskan genggamannya.


"Bu Jung, apakah anda akan langsung pulang?" Tanya Gorae kemudian.


Jung Bok Sil berpikir sebentar,


"Iya... aku ingin istirahat. Hari ini benar-benar menegangkan."


"Na Ri sebaiknya kamu tinggal dulu dengan ibumu. Besok kita akan pulang ke desa."


Na Ri mengangguk, ibunya selama persidangan tidak pernah absen menemaninya.


Setiap kembali ke Seoul dia akan menginap di rumah ibunya semalam dan kembali ke desa Dueokhaengbokdeurim setelah persidangan.


Na Ri merasa perubahan besar pada ibunya sejak bertemu lagi dua bulan yang lalu pada persidangan pertama.


Ibunya memperlakukan dia sangat hangat dan baik. Dia bahkan tidak menyebut apapun tentang dunia artis yang dia tinggalkan.


Na Ri melihat ibunya menyibukan diri dengan berjualan tas dan sepatu mewah pada kalangan selebritis dan kaum sosialita.


Sebetulnya Na Ri merasa kasihan pada ibunya, dia sangat ingin ibunya tinggal di desa bersamanya.


Hanya saja Jung Bok Sil sulit meninggalkan kehidupan yang nyaman di kota.


Sedangkan Na Ri merasa tidak mampu lagi tinggal di kota besar, dia ingin menjauhi semua hingar bingar gemerlap kota Seoul.


Dia mengisi hari-harinya sekarang dengan belajar bercocok tanam, memasak dari ibunya Gorae dan merawat rumah dan tamannya yang indah.


Mobil berhenti di depan rumah Jung Bok Sil yang mewah.


"Dokter Kang, ayo kita minum teh dulu." Ajak Jung Bok Sil.


"Terimakasih Bu Jung, aku harus kembali ke rumah sakit sekarang. Ada operasi nanti malam."


"Aiiih...kamu sangat sibuk, seharusnya kita sedikit merayakan peristiwa hari ini, penjahat itu sudah mendapat karmanya! Tapi baiklah, jaga diri kamu ya! "


"Baik bu, saya akan jemput Na Ri besok." Gorae membungkuk.


"Gorae, aku bisa kembali ke desa sendiri. Kamu tidak harus selalu mengantarku pulang."


Na Ri merasa tidak enak hati.


Gorae terlihat ragu, "Tapi perjalanan dengan bis akan membuatku khawatir."


"Tidak, aku tahu kamu sangat sibuk. Aku bukan anak kecil, kemarin kan aku naik bis dari desa ke Seoul, jadi kamu tidak usah khawatir." Na Ri meyakinkan Gorae.


Setelah berpikir sejenak, Gorae mengangguk,


"Baiklah, hubungi aku kalau kamu akan pulang besok, oke?!"


"Tentu dokter Kang."


Jawab Na Ri sambil tersenyum.


Setelah Gorae pergi, Jung Bok Sil menggandeng tangan Na Ri masuk ke rumah.


"Dia lelaki istimewa, beruntung sekali dokter Cha memiliki kekasih seperti dia."


Na Ri tidak menjawab, dia masih teringat semua perkataan Yunna padanya. Kekasih Gorae itu begitu menghina dan menginjak-injak harga dirinya. Dalam hati Na Ri menyayangkan sifat kasar yang dimiliki Yunna. Sangat bertolak belakang dengan sifat Gorae yang hangat dan penyayang.


Jung Bok Sil memesan masakan untuk makan malam. Dia perhatikan anak gadisnya sudah tidak melakukan diet. Na Ri makan apapun yang ada di meja.


"Aku tidak akan diet lagi bu." Jawab Na Ri sambil mengunyah makanannya.


"......eh....iya aku lupa kamu bukan lagi seorang artis." Suara Jung Bok Sil sedikit bergumam. Na Ri menghentikan makannya, dia pandangi wajah ibunya,


"Aku bahagia tinggal di desa bu..aku bebas menjadi diriku sendiri...aku menikmati hidupku sekarang."


"Ah baiklah..baiklah.... jika itu mau mu!" Jung Bok Sil mengibaskan tangannya, dia tidak ingin berdebat dengan anaknya.


"Ibu bagaimana dengan jualan tas dan sepatunya?"


Jung Bok Sil terlihat sedikit kesal,


"Yaah...lumayan. Hanya saja, banyak artis yang sering terang-terangan menyindirku jatuh miskin dan bergossip tentang kamu."


"Kenapa ibu tidak membuka toko saja?"


"Aku tidak punya uang untuk menyewa tempat yang bagus, buka toko barang-barang branded itu harus di lokasi yang mewah juga! Aku tidak akan sanggup membayarnya."


Na Ri mengangguk dan merasa kasihan dengan ibunya, bahkan ibunya sudah menjual mobil mewahnya untuk modal berjualan.


"Mereka bergossip tentang kamu, dan menyindirku, tapi banyak juga yang membayar tas dan sepatu dariku dengan di cicil! Tak tahu malu! Mereka minta aku tidak membocorkan rahasia mereka tapi tidak pernah berhenti menjelek-jelekan kita dibelakang! Aku sangat kesal! Jika bukan karena aku butuh uang, aku malas berhubungan dengan mereka!"


"Ibu, tinggalah bersamaku di desa.."


Mata Jung Bok Sil membelalak,


"Ah tidak, tidak! Aku tidak bisa hidup di desa! Aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa betah tinggal disana. Dari lahir kamu sudah tinggal di Seoul, bagaimana kamu akan hidup?"


Na Ri tersenyum, "Aku akan bertahan di desa...aku akan jadi petani bu."


"Haiiishh lihatlah kulitmu yang mulai gelap! Kamu tidak merawat tubuhmu!"


"Hahaha aku tidak peduli, aku bahagia sekarang."


"Ck..ck...ck.." Jung Bok Sil mendengus mendengar betapa Na Ri menikmati hidupnya sekarang.


Tapi jauh di lubuk hatinya, dia senang melihat senyum Na Ri yang tulus dan sinar mata yang berbinar dari Na Ri. Dia sangat merindukan senyum itu yang sudah lama hilang sejak Na Ri menjadi artis. Hanya saja Jung Bok Sil belum mengerti cara berpikir Na Ri yang aneh menurutnya.


Sementara berita penembakan di pengadilan yang dilakukan Go Hanna menjadi Berita Utama yang menggemparkan dan mengerikan malam ini disemua media televisi, internet dan surat kabar.


Mereka mulai mencari Jung Na Ri yang menjadi korban dan saksi atas kejahatan Go Hanna. Tapi tidak seorangpun mengetahui dimana Na Ri berada. Na Ri seperti hilang ditelan bumi.


Berita mengenai Jung Na Ri kembali mencuat setelah berita tentang rencana bunuh dirinya, sekarang justru dia muncul kembali sebagai korban dan saksi. Semua menjadi spekulasi, dan tidak seorangpun menyangka Na Ri mengalami peristiwa yang sangat menakutkan dan selama ini Na Ri hadir selama persidangan.


Na Ri benar-benar luput dari sentuhan media berkat Gorae yang bekerja keras melindunginya.


Na Ri pulang ke desa tanpa sedikitpun mengundang perhatian siapapun. Dia menyamar sebagai nenek tua dan keluar dari rumah ibunya ditengah pagi buta dijemput Gorae. Gorae mengantarkan Na Ri ke terminal perbatasan kota Seoul.


*


Ada kecelakaan tabrakan mobil beruntun di jalan songnidan-gil, sebuah mobil van berisi satu keluarga, mengalami pecah ban menabrak sebuah sedan Mercedez dari belakang. Mobil van ini terguling dan meluncur menabrak sebuah cafe yang sedang padat oleh pengunjung.


Sedangkan sedan Mercedez itu menabrak mobil SUV di depannya dengan sangat keras.


Keadaan jalan songnidan-gil mendadak kacau. Mobil-mobil polisi dan ambulan berdatangan.


Karena begitu banyak korban, ambulance mengirim para korban ke beberapa rumah sakit terdekat.


Emergency Room di Hansung University Hospital sangat sibuk malam ini. Dokter-dokter jaga dan para perawat sibuk berlarian dan menolong orang-orang yang kesakitan. Ada yang patah tulang, cedera kepala, organ dalam terluka, bahkan ada yang meninggal.


Enam ruang operasi pun sibuk dengan pasien-pasien gawat yang harus ditangani dengan cepat untuk menyelamatkan nyawa mereka.


"Dokter Cha! Ada korban lagi yang datang!" Teriak seorang perawat memanggil Yunna yang malam ini mendapat giliran berjaga di emergency room.


Yunna melihat petugas ambulance mendorong tandu pasien masuk ke ruang gawat darurat.


"Pak, disini sudah sangat penuh! Tolong bawa ke rumah sakit lain." Seorang perawat yang kelelahan mencoba mencegah pasien yang terluka dirawat di rumah sakit ini.


"Dia sudah ditolak dua rumah sakit! Tolonglah, nyawanya bisa tidak tertolong!" Teriak salah satu petugas ambulance memaksa,


"Dia sesak nafas, tadi dadanya terhimpit setir mobil!"


"Aduh! Bagaimana ini? Kita sudah cukup kerepotan! Tolong bawa saja dia ke tempat lain. Disini semua dokter juga sudah sangat sibuk!" Perawat itu bersikeras mendorong balik tandu itu keluar.


"Suster! Setidaknya beri pertolongan pertama dulu, dia tadi muntah darah! Tidak akan ada waktu jika harus ke rumah sakit lain!" Teriak petugas ambulance itu putus asa, dia menahan tandu itu agar tidak keluar dari emergency room.


Yunna melihat perdebatan perawat dan petugas ambulance. Dia ragu sejenak, lelaki yang ada ditandu terlihat tersengal-sengal, dia kesulitan bernafas. Jas hitam dan kemejanya tampak robek dan penuh bercak darah.


Yunna melihat sekeliling emergency room sudah sangat padat dan para dokter yang lain tengah sibuk menangani pasien-pasien yang lain.


Haruskah aku menolong lelaki ini, sedangkan lelaki ini tampak sudah sangat menderita.


Diapun baru saja selesai mendiagnosa tujuh pasien dan memberikan tindakan pertolongan untuk mereka.


Lelaki ditandu itu mulai terbatuk dan mengeluarkan darah segar, Yunna terkejut. Dia segera berlari menghampiri tandu itu.


"Suster, biar aku periksa dulu!"


"Tolonglah dokter, anda tentu tidak bisa menutup mata melihat pasien yang sekarat, saya yakin anda punya hati yang baik."


Petugas ambulance itu memohon seolah korban di atas tandu itu adalah anaknya, dia membungkuk dan terus memohon.


Mendengar kata-kata petugas ambulance itu, wajah Yunna seperti tertampar. Dia tertegun sejenak, kata-kata itu seperti keluar dari mulut Gorae!


Tidak! Selama ini aku tidak mau melakukan apapun dengan keterpaksaan. Aku akan melakukan apapun yang membuat aku nyaman dan rela melakukannya!


Aku bahkan sering tidak peduli dengan kesulitan orang lain, selama tidak mengusik diriku, aku tidak peduli.


"Dokter Cha?" Perawat itu bingung dengan Yunna yang diam terpaku tanpa melakukan apapun, Yunna tersadar, dengan cepat dia memeriksa dada lelaki itu.


"Tolong buka bajunya, periksa suhu, tekanan darah dan nadinya, pasang ambu bag (pulmanory resuscitator)* !!" Perintah Yunna.


Yunna menempelkan stetoskop di dada lelaki itu. Yunna mendeteksi ada suara abnormal dari dada lelaki ini.


"Hemothorax* " Gumam Yunna, dia ingin memastikan lebih jauh.


"Dok, suhunya 39,8 derajat celcius, nadi 270 per menit, tekanan darah 300 per 110."


Yunna terperanjat, ini aritmia* ! Wajah pasien terlihat pucat, dia panas demam sangat tinggi dan pasien mengalami dyspnea*


"Lepas ambu, pasang ventilator* sekarang! Tolong CT Scan, tes darah ambil sampel pleura*, kita juga perlu USG*.... Tolong hubungi dokter bedah sekarang!"


Seorang perawat langsung menghubungi dokter-dokter bedah,


Setelah beberapa saat dia memberitahu Yunna,


"Dokter Cha, semua dokter bedah sedang di operation theatre! Ruang bedah penuh semua!"


Yunna mencoba untuk tenang,


"Coba cari tahu nama pasien ini dan keluarganya tolong dihubungi! Tanyakan apakah dia punya riwayat alergi obat atau sedang menjalani pengobatan. Minta mereka datang, jika benar ini hemothorax, dia harus segera dioperasi!"


Yunna mulai kalut ketika melihat hasil tes darah dan CT scan menunjukan rongga pleuranya berwarna putih. Untuk memastikan, Yunna melakukan USG.


Setelah beberapa saat, Yunna tahu pasti bahwa paru-paru pasien ini mengalami Efusi pleura*


"Apakah ada dokter bedah yang sudah selesai?" Tanya Yunna lagi.


"Dokter Kang baru selesai dengan operasinya, dia sedang menuju kesini!" Teriak salah satu perawat.


Dokter Kang! Kang Gorae! Yunna berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Gorae.


Gorae masih mengenakan pakaian operasi berlari ke ruang emergency room. Dan menemukan Yunna sedang berdiskusi dengan beberapa perawat.


Begitu melihat Gorae datang, wajah Yunna memerah.


Gorae terlihat sedikit kurus, tapi sekaligus terlihat sangat tampan.


"Status?"


Gorae langsung menanyakan kondisi terkini pasien. Yunna memberikan semua keterangan yang diperlukan Gorae untuk mengambil tindakan.


Gorae memeriksa sekali lagi kondisi pasien, matanya terbelalak,


"Hemothorax, dan Takikardia* ada kemungkinan gagal jantung! Siapkan ruang operasi, cepat!"


Yunna melihat Gorae kembali berlari ke ruang operasi untuk kembali mensterilkan diri sebelum operasi.


Gorae bahkan tidak sedikitpun menatapnya. Yunna hanya bisa melihat punggung dan bahunya yang lebar. Dia biasanya selalu memuji badan Gorae apalagi saat dia memakai operation theatre uniform seperti itu, dia terlihat sangat tampan dan sexy.


Yunna bertanya-tanya, dokter macam apakah dirinya? Jika dia tadi sampai menolak pasien lelaki itu, mungkin saja dia tidak akan selamat! Dan keadaannya sekarangpun sangat gawat.


Kemana nuraninya sebagai manusia? Apalagi dia adalah seorang dokter!


Apakah perasaan empati seperti ini yang dimiliki Gorae pada orang-orang yang ditolongnya?


Dia bahkan tidak sempat beristirahat setelah rally operasi tiada henti dari tadi sore. Dia tidak mengeluh atau menolak pasien. Dan sekarang dia kembali ke ruang operasi berpacu dengan waktu menyelamatkan seseorang.


Tapi..... kenapa dia tidak bisa menerima jika Gorae harus menolong Jung Na Ri? Mengingat nama Na Ri saja, Yunna merasa sangat sakit dan marah!


Aku mengambil keputusan yang benar, meninggalkan Gorae berarti aku menjaga hatiku agar tidak sakit.


Bisik Yunna menghibur diri.


Walaupun ketampan Gorae belum ada seorangpun mampu menggantikannya dihati Yunna.


***


Ambu bag (pulmanory resuscitator)* berbentuk pompa bulat yang dilengkapi pipa berkatup dan masker untuk menghubungkan dan memudahkan proses pemberian udara ke mulut dan hidung pasien.


Ventilator* alat medis yang dirancang untuk menggantikan sebagian atau seluruh kerja paru-paru, dengan cara memberikan pernapasan secara otomatis kepada pasien yang tidak dapat bernafas, atau kesulitan bernafas. Sehingga bisa mendukung ventilasi udara untuk mempertahankan fungsi pernapasan pasien.


Hemothorax* adalah kondisi yang terjadi ketika ada darah pada rongga pleura, yang terletak di antara dinding dada dan paru. Penumpukan volume darah ini memberikan tekanan yang cukup besar pada paru sehingga akhirnya membuat kerja paru menjadi terhambat dan bermasalah.


USG* Ultra Sonografi alat yang berfungsi untuk mencitrakan organ internal tubuh manusia menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi.


Aritmia* Gangguan irama jantung


Pleura* Cairan yang diproduksi pleura ini sebenarnya berfungsi sebagai pelumas yang membantu kelancaran pergerakan paru-paru ketika bernapas.


Efusi Pleura* adalah kondisi yang ditandai oleh penumpukan cairan di antara dua lapisan pleura. Pleura merupakan membran yang memisahkan paru-paru dengan dinding dada bagian dalam.


Dyspnea* Kesulitan bernafas dan nyeri dada yang semakin terasa saat bernapas.


Takikardia * adalah kondisi ketika detak jantung berdetak lebih cepat pada saat istirahat.