I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Step Back



Jung Bok Sil melambaikan tangannya begitu melihat Gorae memasuki Cafe tempat dia membuat janji dengan Gorae.


Dia sedikit terkejut karena Yunna berjalan bersama Gorae.


"Dokter Kang...dokter Cha... apa kabar?" Sapa Jung Bok Sil.


Gorae mengangguk dan menarik kursi untuk Yunna.


"Kami baik-baik saja bu Jung." Gorae duduk disebelah Yunna.


Jung Bok Sil memperhatikan kehadiran Yunna.


"Aku bersama kekasihku... semoga anda tidak keberatan." Gorae tersenyum dan mengerti jika Jung Bok Sil tidak menyangka Gorae datang dengan Yunna.


Jung Bok Sil cepat-cepat menggeleng,


"Ah tentu tidak keberatan sama sekali, bagus dokter Cha datang sekalian........ah, dokter Cha, kamu sangat beruntung memiliki kekasih sebaik dokter Kang."


Jung Bok Sil jauh berubah, dia terlihat lebih ramah.


Yunna tersenyum kecil. Ada perasaan yang membingungkan menggelitik hati Yunna. Dia tidak berharap mendengar kata-kata seperti itu dari Jung Bok Sil.


Gorae memulai pembicaraan,


"Jadi ada apa anda ingin bertemu?"


Jung Bok Sil berdehem, matanya tertuju pada cangkir kopi ditangannya, dia seperti berpikir apa yang akan dia utarakan pada Gorae.


"Eh... mengenai Na Ri.... apakah dia benar-benar ingin meninggalkan dunia artis? ....aduh..... dia sudah kehilangan semuanya! Karir, rumah, mobil, tabungan..."


Suara Jung Bok Sil lebih seperti keluhan, Gorae menatap perempuan setengah baya itu dalam-dalam, dia mencoba untuk memahami Jung Bok Sil.


Gorae mengangguk, "Dia sudah memutuskan, dan aku pikir kita harus menghormati keputusannya."


Jung Bok Sil gelisah, "Dia memang menyisakan uang untuk bekalku hidup....tapi bagaimana dengan hidupnya nanti? Aihh dia terlalu muda untuk menyia-nyiakan hidupnya!"


Gorae menghela nafas, "Ibu Jung, dia akan belajar menghadapi hidupnya....yang terpenting adalah kesehatan mentalnya."


Yunna melirik Gorae, sedalam itu Gorae begitu peduli pada Na Ri.


"Anda tidak menanyakan kabar kesehatannya?" Tanya Gorae sambil tersenyum ramah.


Jung Bok Sil tersadar, dia merasa bersalah. Berkali-kali lelaki muda ini seperti menamparnya dengan cara yang sangat halus.


"Oh? ...i..iya....bukannya aku tidak peduli...aku hanya khawatir tentang masa depannya bagaimanapun dia adalah anakku......apakah.....dia sudah sehat sekarang?" Jung Bok Sil tampak kikuk.


Kembali Gorae tersenyum,


"Dia sudah pulih walaupun masih harus menjalani rawat jalan. Tadi pagi ibuku sudah menjemputnya dari rumah sakit."


Yunna menunduk, gadis itu kembali ke rumah Gorae!


"Maafkan aku.....akulah yang paling bersalah....aku ibu yang jahat!"


Gorae memajukan badannya, dia ingin meyakinkan Jung Bok Sil,


"Ibu Jung, Na Ri sangat menyayangi anda....dia membutuhkan anda bersamanya... support system yang terbaik adalah dari keluarga yang terdekat. Aku yakin jika anda mencintai Na Ri dengan ketulusan, dia akan berhasil menghadapi hidupnya."


Jung Bok Sil terperangah, dia berusaha membunuh ego didalam dirinya. Dia terbiasa hidup nyaman di Seoul, dia tidak ingin kembali pada kehidupan yang miskin dan sengsara seperti yang dialaminya saat dia kecil.


"Ma...maksudmu.... aku harus tinggal dengan Na Ri di desa?"


"Kenapa tidak?......emm...aku tidak bisa menyarankan apapun untuk hidup anda dan Na Ri. Aku hanya berbicara sebagai teman dari Na Ri."


Jung Bok Sil menunduk, dia merasa sangat galau. Dia menyayangi Na Ri, tapi sulit rasanya harus mengikuti Na Ri ke desa.


"Oh ya, mengenai persidangan Na Ri, aku harap anda bisa mendampinginya. Kita tidak tahu akan seberat apa persidangannya."


"Tentu dokter Kang.... aku belum menghubunginya lagi sejak dia dirawat..... aku ibu yang buruk...."


Wajah Jung Bok Sil terlihat sedih,


"Semua urusan dilakukan oleh manager Oh...untuk mendengar suaranya pun aku tidak berani..."


Yunna mendengarkan penuturan Jung Bok Sil, dia melihat orang yang berbeda sekarang. Baru pertama kalinya dia melihat seorang ibu yang tidak sanggup untuk berbicara pada anaknya sendiri.


"Aku...sudah sangat keterlaluan padanya.....demi bertahan hidup, aku mengorbankan anakku. Aku ingin dia menjadi artis nomor satu, aku ingin kaya raya....aku bahkan ....menjual tubuh Na Ri pada seorang sutradara untuk sebuah peran.."


Jung Bok Sil berhenti, tiba-tiba dia terisak sedih. Gorae dan Yunna terkejut mendengar penuturan Jung Bok Sil.


Ah, ternyata Na Ri mengalami hidup yang sangat berat dan keras. Dia ternyata mengalami penderitaan yang tidak semua orang sanggup menghadapinya. Yunna makin tertunduk.


Gorae memberikan dua lembar tissue pada Jung Bok Sil, dia membiarkan perempuan itu mencurahkan semua kegundahannya.


"Aku terus mendorongnya melakukan semua keinginanku....sering dia sangat kelelahan dan memberontak, tapi aku tidak peduli......aku....benar-benar ibu yang jahat..."


Sambil terisak-isak Jung Bok Sil mencurahkan semua penyesalannya.


Gorae menghela nafas,


"Semua orang pasti melakukan kesalahan. Apakah ada satu orang di dunia ini yang tidak melakukan kesalahan? Tentu tidak ada..."


Jung Bok Sil mengusap air matanya, dia merasa, dia tidak pantas menjadi ibunya Na Ri. Sepeninggal dia dari rumah sakit, dia banyak merenung dan menyesali semua yang telah dilakukan pada anaknya.


Setelah begitu banyak dia membuat Na Ri menderita, anaknya masih peduli akan hidupnya.


"Bu Jung, masih banyak kesempatan untuk memperbaiki semua."


Suara Goare lembut menenangkan Jung Bok Sil, perempuan itu mengangguk disela isaknya.


"Na Ri memutuskan untuk tinggal di desa kelahiranku, menurutku itu bagus untuk kesehatan mentalnya. Dan setelah persidangan, aku akan sangat jarang bertemu dengan Na Ri....aku punya pekerjaan dan masa depan disini."


Yunna menoleh pada Gorae, jadi.... benarkah Gorae akan jarang bertemu Na Ri? Masa depannya?....berarti denganku?


Wajah Yunna memerah...dia merasa sangat malu pada Gorae. Kekasihnya belum berubah. Mengapa sangat sulit untuk memahami Gorae?


Tapi apakah dia akan berdamai dengan kecemburuan hatinya?


Bagi Yunna selama Na Ri masih bertemu Gorae, gadis itu tetap ancaman bagi Yunna.


Lalu, haruskah aku bersimpati dengan nasib yang menimpa Na Ri? Bathin Yunna berkecamuk, dia sangat tidak suka berada diposisi seperti ini.


Jung Bok Sil mengangguk mengerti,


"Aku dan anakku sudah sangat merepotkan kamu dan keluarga mu... aku sungguh minta maaf..."


"Tidak apa-apa bu Jung... sekarang saatnya melihat kedepan, kembali menata hidup yang baru."


Gorae tersenyum, dia lega melihat perubahan dari ibunya Na Ri.


"Aku harap aku bisa membalas kebaikanmu, dokter Kang..."


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Gorae tersenyum lebar, dia melirik Yunna,


"Baiklah bu Jung, kita bertemu tiga minggu lagi, kita berharap sidangnya akan berjalan lancar, jaga kesehatan anda.."


Gorae menunduk hormat pada Jung Bok Sil dan berpamitan.


*


Didalam mobil menuju rumah Yunna, Gorae tidak banyak bicara dan Yunna merasa canggung. Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dengan Gorae.


Lagu How can I love the broken heart dari Akmu mengalun dari radio, Yunna melirik Gorae yang sedari tadi terus memandang lurus ke depan.


"Gorae..."


"Hm?"


"Emm.... tentunya kamu senang sekarang..." Yunna mencoba membuka pembicaraan, Gorae mengangkat alisnya,


"Maksud kamu?"


"Setelah pembicaraan tadi dengan ibunya Na Ri..."


Gorae melirik Yunna sekilas,


"Aku tidak mengerti maksud kamu Yunna."


Yunna memejamkan mata, sulit rasanya mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.


"Entahlah.... setelah banyak hal yang kamu lalui bersama Na Ri, melihat perubahan ibunya...aku merasa kamu senang..."


Gorae menghela nafas, dia tahu arah pembicaraan Yunna.


"Kamu ingin membahas perasaanku?"


Yunna merasa bingung sendiri dengan perasaannya sekarang, satu sisi dia ingin merasa yakin bahwa hati Gorae tidak akan berpaling. Tapi di sisi lain, rasa tidak sukanya akan keterlibatan Gorae pada masalah Na Ri sangat mengganggunya.


Apalagi Na Ri akan tinggal di desa kelahiran Gorae!


Dia tidak ingin merasa tidak aman seperti ini, dia ingin percaya sepenuhnya pada Gorae, tapi untuk berkompromi dengan situasi seperti ini, dia sangat tidak sanggup. Ketakutan akan terkalahkan oleh Na Ri terasa lebih besar dari keyakinannya pada Gorae.


Gorae menoleh pada Yunna, wajah Yunna sangat gelisah.


Gorae memarkirkan mobilnya di depan sebuah taman. Dadanya terasa sesak, dia sangat tidak ingin melihat Yunna merasa tidak nyaman seperti ini, tapi membuatnya mengerti pun sangat sulit.


"Ayo kita bicara di luar." Ajak Gorae.


Sambil berjalan beriringan menyusuri taman, Gorae mencari kata-kata yang tepat agar tidak memicu perdebatan dengan Yunna.


"Yunna...aku tidak pernah berubah. Aku sangat mencintaimu. Na Ri bukan alasan kamu untuk menilai perasaanku."


Yunna menghentikan langkahnya, dia merasa berdiri dipersimpangan, dan tidak tahu jalan mana yang harus dia lalui.


"Ayo kita duduk." Gorae menunjuk pada bangku ditengah taman. Bangku yang terbuat dari kayu, terasa sangat dingin menyambut Gorae dan Yunna.


Lampu taman disebelah bangku dengan cahayanya yang kekuningan seolah memperhatikan mereka dengan kaku.


"Aku tidak nyaman Gorae....maksudku, aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak sanggup harus seperti ini..." Suara Yunna sedikit bergetar.


"Apakah kamu merasa aku mengkhianatimu?" Gorae menatap Yunna, mendadak hatinya merasa sakit.


"Aku tidak tahu..... mungkin sekarang tidak....atau belum.....tapi bagaimana nanti? Sekarangpun aku sudah sakit hati....aku lelah menangis ketakutan kehilangan kamu Gorae."


Yunna meremas kedua tangannya sendiri dan berusaha keras untuk tidak terlihat lemah di hadapan Gorae.


"Hal yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan adalah, kamu kehilangan kepercayaan pada orang yang kamu cintai...." Gorae seperti bergumam,


"Karena, sekuat apapun cinta akan sia-sia jika kamu tidak percaya...sekuat apapun aku berusaha meyakinkan, kamu tetap akan berprasangka..."


Gorae benar-benar merasa sakit hati, ketidakpercayaan Yunna padanya membuat dia merasa tidak berarti di mata Yunna.


Yunna menunduk, pertentangan bathin yang dirasakannya sekarang sangat membingungkan dan menyiksanya.


"Aku benar-benar tidak sanggup menjalani ini. Kamu selalu peduli dengan orang lain, dan menomor duakan aku. Aku merasa aku bukan prioritas utama kamu.."


Yunna merasa sangat lelah dengan perasaannya sendiri, "Kamu terlalu egois dan tidak mengerti kemauanku, kamu selalu saja bertanggung jawab akan hidup orang lain - dengan alasan kamu peduli!"


Yunna berharap Gorae tahu dia tersiksa selama ini, dia melanjutkan,


"Apalagi.....sekarang kamu terlibat dengan Jung Na Ri! Aku benar-benar tidak sanggup lagi. Kamu akan sangat dekat secara emosional dengannya.....dan aku tidak sanggup berkompromi dengan itu! Aku sungguh tidak mau menjalani hubungan seperti ini, dan kamu tidak mau mengerti!"


Yunna berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat.


Gorae tercenung, Yunna tidak bahagia denganku, dia tidak sanggup mempercayaiku, dia meragukan kesetiaanku!


Wajah Gorae sangat muram, hatinya terasa tercabik-cabik.


"Aku tidak akan membela diri. Aku memang bersalah jika kamu rasa aku menyakitimu. Aku sangat minta maaf."


Gorae menahan perasaan sedihnya, matanya mulai berkaca-kaca,


"Dan aku tidak meminta kamu untuk mengerti, tapi aku juga tidak akan selalu mengikuti apa yang kamu inginkan, jika itu menentang rasa kepedulianku!"


Gorae berusaha keras menyelesaikan kata-katanya,


"Kamu tidak bisa menilai tingkat prioritas dalam hidupku."


"Itulah...mengapa aku bilang kamu egois Gorae!" Yunna memotong.


"Aku sudah tidak sanggup....aku tidak mau bertahan seperti ini terus..."


Air mata Yunna mengalir tanpa bisa dibendung lagi.


Gorae mengangguk, mungkin inilah saatnya dia harus berani melepaskan Yunna, Gorae tidak ingin membuat Yunna lebih terluka.


"Jika benar aku egois, aku akan mempertahankan kamu dan terus melakukan apa yang harus aku lakukan. Aku akan memaksakan cintaku dan itu malah akan menyakitimu."


Sakit rasanya harus mengatakan semua keputusan ini pada Yunna, dia menatap wajah Yunna,


"Aku hanya ingin kamu bahagia, tapi caraku salah. Dan kebahagiaan yang kamu inginkan dariku tidak sanggup aku berikan sepenuhnya walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga.


Tidak adil bagimu harus menangis karena aku. Kamu harus bahagia walaupun bukan denganku."


Mendengar penuturan Gorae, Yunna memejamkan mata, jatungnya seperti ditusuk pisau beracun. Dia berusaha tegar, bertahan dengan Gorae pun akan merusak hatinya.


Yunna tidak sanggup bertahan jika dia bukan prioritas bagi Gorae. Melepaskan Gorae mungkin menjadi pilihan terbaik untuk hidupnya.


Mimpi-mimpi tentang masa depan yang dia rangkai bersama Gorae seketika tercabik-cabik tak berbentuk lagi. Kenyataan ini sangat pahit dan menyakitkan, tapi Yunna tidak ingin bertahan dalam kesakitan.


Dengan suara bergetar Yunna berkata,


"Aku meninggalkanmu bukan berarti aku berhenti mencintaimu.....Hanya aku juga tidak ingin hidup bersama orang yang aku cintai tapi aku merasa sakit."


Gorae mengangguk, airmatanya pun jatuh, dia tidak sanggup memandang wajah Yunna.


"Aku.... akan menyayangimu sampai aku tidak ingat lagi kapan aku pernah merasa sakit."


Suara Yunna bahkan sekarang terdengar seperti dentuman bom nuklir ditelinga Gorae, Gorae tidak tahan, air matanya bercucuran.


Yunna menambahkan,


"Maksudku....hanya sebuah penghargaan dariku untuk menyayangi kamu....tapi bukan berarti aku akan mengerti kamu.... Karena aku masih terlalu bodoh untuk mengerti."


Gorae menunduk, dia merasa sangat hancur sekarang.


"Aku pergi......jaga diri kamu baik-baik Gorae..."


Yunna bangkit, dan berjalan meninggalkan Gorae tanpa menoleh lagi ke belakang...


*


"Na Riiiii !!" Sora berteriak memanggil Na Ri yang sedang berjalan menyusuri jalan desa berdua dengan Min Hong Ah neneknya.


Sudah dua minggu Na Ri keluar dari rumah sakit, dia merasa kesehatannya sudah benar-benar pulih, walaupun lambungnya masih terasa sakit.


Pagi ini nenek Min Hong Ah mengajak Na Ri melihat panen ubi manis, musim gugur adalah saat yang tepat untuk memanen ubi manis dan makan gun-goguma *


"Naaaa Riiiiii !!!" Kembali Sora berteriak, dia mengayuh sepedanya lebih kencang.


Na Ri menoleh, dia melihat Sora melambaikan tangan padanya.


"Ya ampun! Ada apa dengan anak itu!" Mi Hong Ah geleng-geleng kepala melihat cucunya bersepeda dengan hanya mengenakan piyama tanpa memakai alas kaki.


"Sora!" Na Ri melambaikan tangannya.


"Aiiisshh! Baru saja kalian keluar dari rumah, kalian cepat sekali jalannya!"


Sora terengah-engah kelelahan.


Na Ri dan Min Hong Ah tertawa melihat tingkah Sora.


"Ada apa Sora?"


Na Ri membelalak senang, "Benarkah?! Wahh...syukurlah!"


"Tapi, dia minta dibayar lunas hari ini, jika kamu terlambat sudah ada yang menawar lebih tinggi, dan besok mereka akan membayarnya!"


"Oh, harus hari ini?" Na Ri agak kebingungan. Sora mengangguk cepat, "Pak Kwak bilang, dia masih menahan rumahnya untukmu, karena dia lihat kamu sangat menyukai rumahnya."


"Ah baiklah...aku akan menelepon manager Oh."


"Ayo kita ke rumah itu dulu Na Ri, pak Kwak menunggu kamu sekarang! Ayo naik dibelakang, kita harus cepat, dia mau pergi!"


Na Ri tidak enak pada Min Hong Ah, tapi neneknya Sora tersenyum lebar,


"Pergilah."


"Tapi panennya?"


"Besok juga masih panen, kamu bisa pergi besok."


"Ah baiklah, nenek aku pergi dulu."


"Hey Sora, berpakaian yang pantas dulu! Pakai sepatu kamu!"


Teriak Min Hong Ah pada cucunya.


"Tidak sempat nek!" Balas Sora, dengan gesit dia mengayuh sepedanya menyusuri jalanan desa yang sangat indah. Daun-daun maple berguguran disepanjang jalan mengiringi dua gadis yang bersemangat menuju rumah idaman Na Ri.


Mereka berdua berbincang sepanjang jalan dan tertawa gembira. Saat jalan menurun, sepeda Sora meluncur cepat, Na Ri merentangkan tangannya, merasakan terpaan angin ditangan dan wajahnya.


Dia merasa sangat damai dan bahagia berada di desa ini, baru pertama kali dia merasa benar-benar hidup!


Jalanan mulai menanjak, Sora terengah-engah, Na Ri tertawa,


"Ya ampun, kamu ini berat sekali, padahal kamu kurus!"


Sambil tertawa Na Ri melompat turun, dia mendorong sepeda Sora dari belakang.


Sora berteriak-teriak memberi semangat pada Na Ri,


"Ayo semangat Na Ri! Fighting! Ya! Luar biasa! Wahh tenaga kamu seperti turbo!"


Na Ri tidak tahan lagi dia tertawa terbahak-bahak karena terus-terusan digoda Sora, Na Ri bersimpuh dijalan menanjak sambil tertawa.


Sorapun ikut tertawa dia jatuhkan sepedanya dan menghampiri Na Ri.


Sora menarik tangan Na Ri,


"Ayo cepat! Kamu pikir duduk disini kamu bisa ketemu pak Kwak?"


Dengan lemas mereka berdua tertawa, Na Ri menyadari piyama Sora tidak dikancing dengan benar, rambutnya masih memakai rol, dan hanya memakai sebelah kaus kaki.


Tawa mereka berdua meledak lagi sampai tidak kuat berjalan. Air mata mereka berlinang karena geli. Sekuat tenaga Sora mengangkat sepedanya dan menuntunnya berjalan beriringan dengan Na Ri. Mereka berdua masih cekikikan kegelian.


Seumur hidup dia baru merasakan tertawa terpingkal-pingkal seperti ini, hanya demi mendapatkan rumah yang dia incar. Dulu saat menjadi artis, dia tidak perlu repot-repot mengejar pemilik rumah, dia tinggal memilih gambar apartement mewah, sisanya tinggal menyuruh manager Oh mengurus segala sesuatunya.


Tapi tidak kali ini, setelah seminggu dia berburu rumah berdua dengan Sora, dia jatuh cinta pada rumah kecil didataran yang lebih tinggi, rumah yang masih bergaya hanok terbuat dari kayu kokoh.


Yang lebih membuat Na Ri jatuh cinta, rumah ini memiliki halaman penuh dengan bunga-bunga yang tertata rapi dan pemandangan disamping rumah yang luar biasa indah!


Dia baru merasakan bagaimana rasanya berjuang mencari rumah, menawar harga rumah agar sesuai dengan budget yang dia punya, dan persahabatan yang luar biasa dengan Sora!


Selain Gorae, Sora adalah sumber tawanya yang terbesar.


Dia merasakan ketulusan tanpa pamrih yang diberikan keluarga Gorae.


"Sora, pakai jaketku! Buka rol rambut kamu!" Na Ri memberikan jaketnya pada Sora dan menarik rol rambut dikepala Sora.


"Aw... pelan-pelan!"


Na Ri kemudian menyisir rambut Sora dengan jemarinya.


Lalu dia tertawa melihat kaki sora yang tidak bersepatu dan hanya mengenakan sebelah kaus kaki.


"Aduh bagaimana dengan kakimu? Kamu gila keluar rumah tanpa sepatu!"


"Aah sudahlah, pak Kwak mau bertemu denganmu! Bukan aku! Lagian siapa yang peduli dengan penampilanku! Dia sudah tua, pemarah pula!"


Sora nyengir, "Ayo cepat naik lagi, nanti pak tua pemarah itu keburu pergi!" Ajak Sora saat mereka sudah mencapai jalanan yang rata.


Kwak Tae Rang sudah membuka pintu mobilnya ketika Sora berteriak-teriak padanya.


"Pak Kwak! Tunggu paaak! Kami datang!"


Sora mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba sepedanya oleng dan hampir menabrak Kwak Tae Rang.


Na Ri dengan sigap melompat turun, tapi Sora tidak mampu mengendalikan laju sepedanya.


Sora terus meluncur ke jalanan menurun, "Haaa! Remnya putus!"


Roda sepeda Sora menabrak batu besar dan Sora hampir terlempar ke depan.


Tiba-tiba ada sepasang tangan yang menarik Sora sebelum dia jatuh terjerembab.


Seorang lelaki muda memegangi tubuh Sora. Sora terkejut setengah mati. Nafasnya memburu, antara kaget dan takut dia menoleh pada penolongnya.


Wajah lelaki muda yang tampan memandangi Sora dengan khawatir.


Mata Sora terbelalak, pandangan mereka beradu.


Tiba-tiba Sora merasa sangat terpesona menatap mata coklat milik lelaki penyelamatnya.


"Kamu tidak apa-apa?"


Sora masih belum sanggup menjawab, jantungnya berdegup kencang.


Ya ampun, malaikat tampan ini muncul dari mana?


"Sora! Sora...kamu tidak apa-apa?"


Na Ri berlari-lari ke arah Sora dan lelaki tampan yang masih memegangi tubuh Sora.


Tiba-tiba Sora tersadar, cepat-cepat dia melepaskan diri dari penolongnya.


"Ah...eh....aku tidak apa-apa...maafkan aku.....eh terimakasih..." suara Sora gugup.


Lelaki muda itu tersenyum, Sora merasa meleleh seketika, Aihh senyumnya manis sekali! Matipun aku rela! Teriak Sora didalam hati.


"Nona, aduh kamu membuat jantung orangtua sepertiku hampir copot! Berandal sekali kamu naik sepedanya!" Kwak Tae Rang mengomel sambil menghampiri Sora.


"Ayah, sudahlah...rem sepedanya sepertinya blong."


Lelaki muda itu memeriksa sepeda Sora, ban sepedanya penyok.


Ha?! Ayah? Si tampan ini anak dari bapak pemarah ini? Sora menganga.


Tidak mungkin lelaki tua itu memiliki anak setampan dia!


"Aigooo... kamu gadis sembrono, mengapa kamu tidak cek dulu sepeda kamu sebelum kamu pakai? Bagaimana jika tadi kamu celaka? Haiiishh sangat sembrono!"


Kwak Tae Rang masih mengomel.


Sora merengut, "Maaf....aku tadi terburu-buru....aku harus mengejar anda. Temanku akan membayar rumah ini sekarang."


"Ck..ck... tapi tetap kamu sembrono. Ayo nona Jung kita bicara didalam."


Lelaki tua itu melengos pergi mengajak Na Ri masuk ke rumahnya.


"Aih ayah sudahlah...ayah sendiri yang membuat mereka harus terburu-buru datang kesini."


Lelaki muda itu mengangguk sopan pada Sora.


"Ah, maafkan ayahku, dia memang temperamental, tapi sebenarnya hatinya sangat baik."


Sora membalas anggukan lelaki muda itu. "Eh...tidak apa...aku sudah terbiasa dimarahi pak Kwak...terimakasih tadi sudah menangkapku."


Dalam hati Sora masih tidak habis pikir lelaki tua itu punya anak yang tampan.


"Aku Kwak Ji Soon." Lelaki muda itu menyodorkan tangannya. Sora ragu sebentar, lalu dia menjabat tangan Kwak Ji Soon,


"Aku Kang Sora.... aku tidak pernah melihat mu."


Kwak Ji Soon mempersilahkan Sora menuju rumahnya, sambil menuntun sepeda Sora, dia menjelaskan,


"Aku sejak lahir tinggal dengan ibuku di Canada. Aku hanya tiga kali mengunjungi rumah ini. Dan sekarang ini akan menjadi yang terakhir." Ji Soon tersenyum.


"Kamu akan kembali ke Canada?"


"Tidak, ibuku sudah pensiun, ayah juga harus mengurus usahanya di Iksan, jadi kami akan berkumpul kembali di Iksan."


Sora mengangguk mengerti, diam-diam dia mencuri-curi pandang mengamati wajah Ji Soon. Wah, aku pasti gila jika aku bilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada lelaki tampan dan baik hati ini.


Tubuhnya tampak sangat terawat, dia tidak setinggi kakaknya Gorae, tapi dia cukup tinggi untuk ukuran laki-laki.


Tiba-tiba Ji Soon tersenyum geli, membuat Sora kebingungan.


"Apa? Ada apa?"


"Hehehe... ayahku memang keterlaluan." Ji Soon terkekeh geli, wajah Sora tampak sangat kebingungan, "Oh...tapi kenapa kamu tertawa?"


"Ayahku membuat kamu lupa memakai sepatu dan kamu hanya memakai kaus kaki sebelah...hehehe....upss...maaf..."


Sederet gigi rapi menghiasi wajah Ji Soon, dia sangat tampan bisik Sora.


Tapi Sora segera menyadari penampilannya. YA IMMMAAAA!!


Sora tidak pernah menduga akan bertemu mahluk tampan seperti Ji Soon disaat dia sangat buruk rupa dan acak-acakan seperti ini.


Ini kutukan!!


Ingin rasanya dia mengubur diri dalam-dalam...atau terjun ke jurang...atau tercebur ke sungai yang dalam dan dan tidak pernah muncul lagi!


Wajah Sora memerah karena sangat malu. Aaarrgghhhh! Gara-gara si pemarah itu! Ini semua salah dia!!


"Ah! Aku....aiiihh ....bagaimana ini..."


"Hey tidak apa-apa...aku akan bawakan sandal untuk mu."


Ji Soon menenangkan Sora yang gelagapan, senyumnya sangat manis sekali.


"Ini gara-gara ayahmu! Demi sahabatku aku harus mengejar ayahmu! Untung saja dia ayahmu, kalau tidak aku akan....aku akan..."


Sora menghentikan omelannya ketika dia melihat Ji Soon mendekatkan wajahnya ke wajah Sora sambil tersenyum jenaka.


"Aku sungguh minta maaf, ayahku memang menakutkan....tapi sangat menyenangkan melihat wajah asli seorang gadis yang baru bangun tidur. Kecantikannya nyata."


Bisik Ji Soon lembut. Sora hanya bisa menganga tidak mampu berkata apapun. Dia merasa tersihir menjadi batu. Tubuhnya terasa kaku, bahkan dia tidak sanggup berkedip!


Sora tersadar ketika Ji Soon meletakan sepasang sandal di bawah kakinya.


"Pakailah ini, kasihan kaki cantikmu nanti terluka."


Kaki cantik? Kecantikan nyata? Sora mau mati saja rasanya!


Na Ri keluar rumah diikuti oleh Kwak Tae Rang. Wajah lelaki tua itu tampak berseri-seri.


"Baiklah nona Jung, pemindahan kepemilikan akan aku urus secepatnya. Nanti akan aku kenalkan kamu dengan Pak Sun, dia yang biasa mengurus kebun disini."


Na Ri membungkuk dan sangat berterimakasih karena diberi potongan harga dan mendapat perabotan rumah tangga yang ditinggalkan Kwak Tae Rang.


"Ji Soon, ayo kita berangkat, ibumu sudah tidak sabar menunggu kita."


"Baik ayah."


Ji Soon memandang Sora sejenak, "Kaus kaki sebelah.... hey..."


Ji Soon menjentikan jarinya di dekat wajah Sora yang mematung.


Sora mendelik dipanggil kaus kaki sebelah.


"Senang bertemu kamu. Semoga kita bertemu lagi nanti."


Ji Soon tersenyum lebar dan berlalu tanpa menunggu Sora mengucapkan apapun. Dia mengangguk sopan pada Na Ri sebelum akhirnya berlari menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.


"Soraaaa....akhirnya rumah ini jadi milikku!" Na Ri terlihat sangat gembira dia menghampiri Sora dan memeluknya.


Tapi Sora hanya nyengir dengan wajah pucat dan tubuhnya diam tidak bergerak.


Na Ri terkejut melihat keadaan Sora, dia mengguncang bahu Sora,


"Sora! Sora! Kamu kenapa? Soraaa!"


Tiba-tiba Sora merengek, dia menangis keras, Na Ri mulai panik.


"Hey Sora, kamu kenapa?"


"Haaaaa.....aku bodohhh....aku dikutuk jadi batuuu....aku mahluk paling memalukan se jagad rayaaaa!"


Sora menangis keras, dia mengacak-acak rambutnya.


"Aihh kamu kenapaaa? Kamu membuat aku takut!" Kembali Na Ri mengguncang bahu Sora.


Sora menghentikan isakannya, "Aku...aku jatuh cintaaaa haaaaa" kembali Sora menangis,


"Dia bilang wajah bangun tidurku cantiknya asli....dia bilang kaki ku cantik...tapi aku maluuu...aku buruk rupa..."


Na Ri terbelalak, "Ha? Kamu jatuh cinta dengan pemuda tadi?"


Sora mengangguk sambil terisak.


Sontak Na Ri tertawa geli. Dia cubit pipi Sora,


"Aku pikir kamu benar-benar dikutuk jadi batu! Haiiisshh...aku baru tahu ada orang jatuh cinta secepat kilat seperti kamu!"


"Tapi....tapi kamu setuju kan kalau dia tampan? Aihh senyumnya...matanya...badannyaaa....


Na Ri, dia tampan kan? Dia seperti malaikat! Tidak ku sangka dia anak dari si pemarah! Apa benar dia anak kandung si pemarah? Tapi kok beda ya?"


Na Ri tertawa geli dan meninggalkan Sora yang berkicau tiada henti memuji ketampanan Kwak Ji Soon.


"Hey Na Ri! Aku masih bicara! Iihh anak ini, kamu tidak tahu pengorbanan besarku...aku hampir mati tadi! Tapi semesta mengirim malaikat tampan untukku! Itu balasan aku membantu kamu mengejar si pemarah.... Naaa Riii....kamu dimana?" Sora mencari Na Ri yang menghilang ke dalam rumah.


"Aku disini!" Teriak Na Ri dari dalam rumah, Sora menyusulnya dengan kesal. Dia membuka sendal pemberian Ji Soon dengan kasar.


Tapi kemudian dia berhenti, dia ambil kembali sandal itu, dibelainya pelan dan diletakan hati-hati di depan pintu!


"Na Ri, kamu setuju kan kalau dia tampan?" Sora tetap menanyai Na Ri, dibalas tawa ceria dari Na Ri.


Na Ri tidak menyangka, dalam waktu sekejap dia bisa begitu dekat dengan Sora, dia merasa sudah sangat lama mengenal adik Gorae ini.


Dalam waktu sekejap pula, Na Ri sangat menyayangi keluarga barunya ini.


Dia sangat bersyukur bertemu dengan keluarga Gorae, hari ini pertama kali dia merasa sangat bahagia mendapatkan sebuah rumah kecil dan sederhana, jauh dari segala kemewahan.


Na Ri membuka jendela samping, terhampar pemandangan yang sangat indah, musim gugur yang ajaib!


Aku mundur dari duniaku, tapi aku mendapatkan kekayaan cinta yang sebenarnya di desa ini!


"Hey Na Ri! Dia tampan kan?"


***


Gun-goguma* : ubi manis bakar khas korea, salah satu makanan favorit orang Korea saat temperatur udara turun seperti di musim gugur.