
Setelah menyelesaikan segala urusan administrasi, Gorae membeli 15 kantong infus, beberapa obat dan suntikan. Gorae mengajukan cuti mendadak selama dua minggu. Dan berpesan jika siapapun mencari Na Ri, untuk tidak memberitahu.
Na Ri didorong menggunakan kursi roda menuju mobilnya. Setelah semua dipastikan aman, kantong infus sudah diikat pada pegangan tangan diatas pintu mobil, memasangkan sabuk pengaman, menidurkan posisi kursi depan dan menyelimuti Na Ri.
Gorae melajukan mobilnya keluar dari Rumah Sakit.
Bertepatan dengan masuknya mobil Jung Bok Sil.
Perempuan setengah baya itu kaget, ketika ditemui Na Ri sudah tidak ada di kamarnya. Dan pihak Rumah Sakit mengaku tidak mengetahui kepergiannya.
Na Ri hanya mengirimkan pesan singkat
Jung Na Ri :
Ibu maaf aku harus pergi. Ibu tidak usah mencariku. Aku ingin menenangkan diri.
Na Ri mengira-ngira apa yang akan ibunya lakukan sekarang, dia menghela nafas.
"Gorae, kita mau kemana sebenarnya?"
"Desa Dueokhaengbokdeurim, di Kota Wanju." Gorae melirik Na Ri sekilas. "Kita akan sampai tengah malam, lebih baik kamu tidur."
"Aku merasa seperti buronan yang melarikan diri..." Suara Na Ri lirih. Kepalanya masih terasa sangat sakit.
Gorae tersenyum,
"Kita memang sedang melarikan diri."
Na Ri diam tidak menjawab, pikirannya sangat kacau saat ini. Ini adalah pertama kalinya dia pergi jauh menentang ibunya. Sangat berat rasanya melepaskan kontrak-kontrak yang sudah dia sepakati, dia tidak pernah melakukan wan prestasi untuk pekerjaannya.
Na Ri bertanya dalam hatinya, apa yang akan terjadi nanti? Apakah ibunya akan mendapat masalah? Bagaimana dengan keluarga Gorae yang akan menampungnya? Apakah mereka juga membencinya?
Mengapa semua orang membencinya?
Kepalanya terasa sangat berat sekali, Na Ri pun tertidur.
Sementara pikiran Gorae pun penuh dengan segala macam pikiran yang menumpuk.
Sambil menyetir menembus dinginnya malam, dia mencoba mengurai satu persatu keruwetan di kepalanya.
Terngiang-ngiang ucapan Yunna, bahwa berkorban untuk seseorang itu hanya memuaskan egonya. Dan dia akan melupakan hal yang paling penting dalam hidupnya.
Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkan Yunna, dia adalah cinta yang paling penting dalam hidupnya! Gorae menggelengkan kepalanya.
Gorae sangat berharap bisa membicarakan hal ini dengan baik pada Yunna. Apakah salah memintanya untuk mengerti?
Gorae mendadak merasa dirinya sudah kejam pada Yunna. Kekasihnya itu pasti akan sulit menerima semua ini. Gorae merasa tidak punya pilihan.
Hanya saja, dia merasa ada tanggung jawab yang harus dia jalani, rasa yang sangat sulit dia hindari. Dia tidak sanggup untuk menutup mata melihat orang yang ingin mengakhiri hidupnya di depan matanya. Atau berdiam diri mengetahui seseorang akan dihabisi nyawanya.
Gorae ingin melihat Na Ri lebih mencintai dirinya. Mungkin benar, ada rasa kepuasan tersendiri yang tidak terbeli ketika melihat seseorang yang ditolongnya bisa hidup normal lagi dan bahagia.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi didepannya, dia hanya akan melakukan yang terbaik. Dia sangat takut untuk menyesal.
Dalam kamus hidupnya, lebih baik dia kesulitan sekarang daripada dia tersiksa oleh penyesalan.
Baginya merasa menyesal, siksaannya lebih menyakitkan dari siksaan apapun.
Dia lebih baik mati daripada hidup dalam penyesalan dan dia akan sangat tersiksa selama hidupnya.
Gorae bersyukur, malam ini cuaca sangat bersahabat. Hujan tidak turun, hanya udara memang sangat dingin. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Lagu-lagu lembut dari radio mengiringi perjalanannya dengan Na Ri.
Sengaja dia tidak menelepon ibunya di kampung halaman tentang kedatangannya malam ini. Karena ibunya akan sangat sibuk memasak semua makanan kesukaan Gorae. Kadang ibunya tidak sadar jika dia sudah sampai di rumah, ibunya hanya akan sibuk memasak dan memasak!
Gorae yakin, suasana rumahnya dan suasana pedesaan akan sangat membantu pemulihan Na Ri. Dilirik gadis yang tertidur disampingnya.
Wajahnya pucat sekali, dia terlihat sangat rapuh.
"Kamu harus berjuang Na Ri!" Bisik Gorae.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam non stop dari Seoul, mobil memasuki Kota Wanju, sekitar setengah jam lagi akan sampai di kampung halaman Gorae, desa Dueokhaengbokdeurim.
Sudah lima bulan Gorae tidak pulang, dia sangat rindu ibunya, Kang Sora adik perempuannya dan neneknya.
Gorae dan Sora dibesarkan oleh ibu dan neneknya. Ayahnya meninggal saat Gorae berusia sepuluh tahun karena kecelakaan, dan kakeknya meninggal saat Gorae masuk SMA.
Terakhir dia pulang lima bulan yang lalu dengan Yunna untuk berlibur.
Walaupun Sora tidak terlalu dekat dengan Yunna karena setiap dia dan Yunna pulang, kebetulan Sora selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi Gorae yakin keluarganya akan menyayangi Yunna, Yunna adalah gadis kota yang tidak mempermasalahkan dari mana Gorae berasal.
Gorae ingin segera Yunna menyelesaikan kuliah spesialisasinya, dia akan menikahi Yunna. Dia adalah cinta pertama Gorae, baginya Yunna adalah gadis terbaik, tercantik dan terpintar di Korea! Tidak, baginya dia terbaik di dunia!
Mobil berbelok kanan dipersimpangan batas kota Wanju, walaupun sudah tengah malam, kegelapan tidak mampu menyembunyikan keindahan desa Dueokhaengbokdeurim tempat kelahirannya. Di sisi kiri kanan terhampar ladang ubi manis dan kubis, ada juga ladang bawang putih terbentang luas.
Di ujung ladang menyembul bukit-bukit yang indah berdiri malu-malu dikegelapan. Walaupun desanya jauh dari perkotaan, tapi fasilitas untuk menunjang kehidupan di desanya cukup lengkap.
Lampu penerangan jalan berdiri kokoh menerangi jalan aspal menuju desanya.
Gorae melewati satu rumah sakit kecil tempat Sora adiknya bekerja sebagai perawat, Sora memilih bekerja di desanya, alasannya dia ingin merawat ibu dan neneknya.
Menjadi perawat sudah jadi cita-citanya sejak kecil.
Lain hal dengan dirinya, dulu dia bercita-cita menjadi tentara. Tapi dia tidak lulus tes, karena minus matanya sudah sangat besar.
Akhirnya dia kuliah kedokteran. Setelah menjadi ahli bedah Gorae melakukan lasik pada matanya, karena tuntutan pekerjaan, dia harus sanggup melakukan operasi dengan mata yang sehat.
Rumah-rumah di desa ini jarak satu sama lain agak jarang-jarang karena hampir setiap rumah memiliki halaman yang luas.
Model bangunannya pun masih banyak menggunakan model tradisional hanok* walaupun ada juga yang sudah sedikit modern.
Kehidupan masyarakat di desanya sangat bersahaja, mereka kebanyakan mempunyai mata pencaharian sebagai petani.
Seperti nenek dan kakeknya, mereka mempunyai ladang-ladang luas di kaki bukit.
Sedangkan ibunya adalah seorang guru di sekolah dasar.
Satu dua kedai masih terlihat buka, ada juga mini market 24 jam. Setelah melewati kantor polisi desa, mobil Gorae menyusuri jalan beraspal yang lebih sempit.
Pohon-pohon Oak dan Maple berjajar anggun dipinggiran jalan, pohon-pohon itu menggugurkan daun-daunnya seperti taburan convetti diatas panggung.
Seolah menyambut kedatangan Gorae di desanya.
Gorae menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya. Hembusan angin musim gugur menerpa wajahnya.
Dia hirup aroma pohon mapel dan aroma pedesaan yang sangat dia sukai. Perasaan damai sudah memeluk hatinya.
Gorae tersenyum, sebentar lagi dia akan sampai. Dia senang membayangkan wajah ibu, adik dan neneknya akan kaget melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
Bahu kirinya terasa perih, Gorae lupa, seharusnya dia sudah mengganti perban dan meminum obat pereda nyeri. Gorae meringis menahan sakit.
Karena dinginnya angin musim gugur menyapu wajah Na Ri, gadis itu membuka matanya.
Dia melihat Gorae masih menyetir, satu tangannya memegangi bahunya.
Na Ri mengembalikan posisi duduk reclining seat kursinya.
"Gorae, bahu kamu sakit?"
Na Ri menyentuh lengan Gorae.
Gorae menoleh,
"Kamu sudah bangun? Dingin ya?"
Gorae menutup kaca jendelanya, tanpa menjawab pertanyaan Na Ri.
"Bahu kamu sakit sekali ya?"
Na Ri khawatir. Gorae menggeleng,
"Sedikit... hey sebentar lagi kita sampai."
Gorae mengalihkan pembicaraan.
Setelah melewati beberapa rumah, mobil Gorae berbelok ke sebuah rumah bermodelkan setengah hanok setengah modern. Rumah ini tidak berpintu pagar, hanya dipagari oleh tembok sekelilingnya.
Rumah keluarga Gorae juga memiliki halaman yang luas ditumbuhi berbagai tanaman bunga dan buah-buahan.
Gemerincing lonceng angin di depan pintu rumahnya menari-nari ditiup angin. Suara yang dihasilkan seperti nyanyian seorang peri, sangat merdu.
Mobil Gorae diparkir tepat didepan pintu masuk.
"Tunggu sebentar."
Na Ri mengangguk, dia melihat Gorae membuka pintu dan berlari ke belakang mobil untuk mengambil kursi roda di bagasi.
Gorae memasang kursi roda itu didepan pintu masuk, karena menuju pintu depan rumah harus melewati tujuh undakan tangga, jadi dia akan menggendong Na Ri sampai ke kursi roda.
"Ayo!" Gorae menggendong Na Ri dengan sigap. Dia sedikit meringis ketika Na Ri tidak sengaja berpegangan pada bahunya yang terluka.
"Ah...maaf.." Na Ri khawatir, dia memperhatikan wajah Gorae yang menahan sakit.
Walaupun sedang meringis, Gorae selalu terlihat sangat tampan.
Na Ri tidak sengaja terus memandangi wajah Gorae yang menggendongnya menaiki anak tangga.
Perlahan Gorae mendudukan Na Ri di kursi roda.
Hidung Gorae tidak sengaja menyentuh pipi Na Ri. Tatapan mereka bertemu.
Wajah Na Ri merona, jantungnya berdegup kencang. Gorae tersenyum lembut. Seumur hidup baru kali ini Na Ri merasa akan meleleh seperti es krim di musim panas.
"Tunggu..aku akan bangunkan mereka." Na Ri sedikit gelagapan.
Gorae mengetuk pintu.
"Gorae...kita pasti mengganggu mereka." Na Ri tidak enak hati, ini sudah menjelang pagi dan dia merasa gugup.
Seperti apakah keluarga Gorae? Apakah mereka akan menerimanya?
"Tidak, tenang saja.." Gorae meyakinkan Na Ri.
Kembali Gorae mengetuk pintu sedikit lebih keras, dia mulai sangat kedinginan dan bahunya terasa makin perih.
Terlihat lampu ruang tamu menyala,
"Siapa diluar?"
Suara mengantuk terdengar dari dalam. Suara Sora adik kesayangannya.
"Aku. Tolong buka pintunya...aku kedinginan."
Terdengar kunci pintu diputar, muncul wajah mengantuk tapi sangat cantik dari balik pintu, matanya sedikit terpejam.
Begitu melihat kakaknya berdiri menggigil, mata gadis ini langsung terbuka lebar.
"Ha! Oppa! Kenapa kamu datang malam-malam begini?"
Teriak Sora antara heran dan kegirangan. Dia langsung memeluk kakaknya yang hampir membeku.
Gorae membalas pelukan adiknya sekalian ingin menghangatkan tubuhnya.
"Anak nakal, akhirnya kamu bangun!"
Sora tiba-tiba melepaskan pelukannya, matanya tertuju pada Na Ri yang duduk di kursi roda dengan tubuh menggigil dan wajah kikuk.
Dia tersenyum melihat betapa akrabnya Gorae dengan Sora adiknya.
"Si..siapa dia?"
Tanya Sora sambil memperhatikan Na Ri yang wajahnya penuh lebam biru dan bekas luka.
"Ah, ayo masuk, nanti aku ceritakan."
Gorae mendorong kursi roda Na Ri kedalam.
Rumah keluarga Gorae sangat cozy dan hangat. Walaupun sederhana, terasa sekali rumah ini hanya dipenuhi oleh cinta.
Tidak seperti rumah ibunya atau apartement Na Ri, walaupun mewah, tapi terasa kaku dan dingin.
"Eomma...aku pulang.." Gorae menyongsong ibunya yang terkaget-kaget melihat jagoan kebanggaannya pulang.
"Omo! Kamu pulang nak? Kenapa tidak mengabari dulu?! Aku tidak memasak apa-apa buat kamu! Kenapa pulang larut malam begini? Eh, kamu tidak apa-apa kan? Kamu baik-baik saja?"
Seperti biasa ibunya akan sangat cerewet, Gorae memeluk ibunya erat.
Na Ri memperhatikan betapa hangatnya pelukan ibu dan anak itu. Ada terselip rasa iri dihatinya.
Dia bahkan tidak pernah dibelai ibunya walaupun hanya sebentar.
Ibu Gorae sangat cantik, walaupun usianya sudah lebih dari lima puluh tahun, tapi kecantikannya sangat alami. Pantas saja anak-anaknya sangat tampan dan cantik. Na Ri tersenyum melihat Gorae diciumi ibunya.
"Gorae...Goraeku pulang?" Datang lagi seorang nenek dari balik kamar. Nenek ini pun masih cantik dan segar.
"Nenek sayang... aku pulang."
Gorae memeluk neneknya penuh kasih sayang.
"Ah, kamu kurusan sekarang! Pasti kamu kurang makan!"
Neneknya menepuk lengan Gorae.
Gorae tertawa. Ah, inilah rumahnya yang penuh cinta, rumah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Rumah dimana tawa selalu ada dan bila dia terluka dia selalu dipeluk dengan kehangatan.
Gorae bersyukur dia memiliki perempuan-perempuan hebat dalam hidupnya.
"Eomma, Nenek, Sora, aku membawa seorang teman. Namanya Jung Na Ri."
Na Ri mengangguk hormat.
"Annyeonghaseyo...namaku Jung Na Ri." Na Ri memperkenalkan diri.
"Oh? Kamu Jung Na Ri yang artis itu?" Sora mendekati Na Ri untuk memastikan, dia seperti mengenal Na Ri walaupun wajahnya penuh luka.
Wajah keluarga Gorae tampak terkejut melihat kondisi Na Ri.
"Iya, dia Na Ri..." Jawab Gorae, "Sebelum aku cerita, apakah kalian tidak ingin memberi kami makan? Lima menit lagi aku akan koma!"
Gorae selalu berkelakar jika sudah menyangkut urusan perut.
"Aisshhh.... kamu selalu hanya ingat makan!!" Sora meledek Gorae.
"Ah aku akan memasak mie putih yang lembut untuk kalian. Tunggu sebentar!"
Park Hilda bergegas ke dapur, tapi sejenak dia berhenti di depan Na Ri,
"Nak, kamu pasti kedinginan, hey Sora ambilkan selimut dikamar tamu."
Sora memberikan selimut itu pada ibunya, dengan hati-hati ibunya Gorae menyelimuti Na Ri.
Sora dengan lincah mengambil kantong infus dipangkuan Sora,
"Ah maaf, aku akan alirkan lagi infus kamu, ayo, kita dekat perapian."
Sora mendorong Na Ri mendekati perapian dan menggantungkan kantong infus Na Ri pada paku di dinding. Dia memutar dan sedikit menekan roda plastik diselang infus untuk mengatur tetesan air infus ke tubuh Na Ri.
"Kak, 20 TPM* , ya?" Sora menoleh ke kakaknya
Gorae mengangguk.
Na Ri merasa diterima dengan tangan-tangan yang hangat di rumah ini. Dia terheran-heran sikap keluarga Gorae sangat sama persis dengan sikap Gorae saat pertama kali melihatnya dalam keadaan kacau balau.
Mereka sangat ramah dan hangat, seperti sudah lama mengenal Na Ri. Tidak ada kekakuan ataupun rasa canggung begitu mereka tahu dia adalah artis terkenal yang datang penuh luka.
Tidak ada pertanyaan penuh selidik yang keluar dari bibir mereka. Mereka memperlakukan Na Ri seperti anggota keluarga dan berusaha membuat Na Ri nyaman.
Na Ri merasa sangat terharu sampai ingin menangis rasanya. Dia tidak percaya, seumur hidupnya dia baru tahu begini rasanya berada dalam sebuah 'keluarga'.
Gorae melepas overcoatnya pelan-pelan, "Aarghh."
Gorae meringis kesakitan. Sora membantu kakaknya membuka overcoat, kemudian jaketnya.
"Kak, kamu terluka?"
Sora menyentuh bahu Gorae, ada sedikit rembesan darah di bahunya.
Na Ri menutup mulutnya, dia kaget Gorae ternyata sangat kesakitan.
"Ayo, aku periksa." Kata Sora tenang.
"Buka kemejanya kak."
Gorae melotot pada adiknya, "Tidak disini, bodoh!"
Gorae malu jika harus membuka baju didepan Na Ri.
"Haiiishhh... di sini dekat perapian, jika kamu buka baju, kamu tidak akan kedinginan! Lagipula lampu kamar kakak sudah lama mati, aku malas menggantinya." Balas Sora galak.
"Aku malu..." Bisik Gorae sambil menahan kemejanya yang mulai dipreteli kancingnya satu persatu oleh Sora.
"Aigooo! Kakak tidak akan telanjang! Tsk..tsk..tsk.. lagi pula Na Ri tidak akan tertarik melihat tubuh kakak!" Goda Sora sambil mengedipkan sebelah matanya pada Na Ri.
Na Ri tersenyum sambil menunduk.
Sora berhasil mempreteli kancing baju Gorae, dan perlahan dia membuka kemeja putih kakaknya.
"Ayo duduk kak!"
Gorae menggerutu, "Adik jahat! Awas kamu!"
Na Ri mau tidak mau harus menyaksikan pemandangan indah dihadapannya, dia terpana melihat tubuh Gorae yang bagus.
Tubuh yang tidak terlalu kekar dan besar, tapi abs six packnya bagaikan seorang model.
Gorae berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangannya, dia malu sekali pada Na Ri. Bahkan Yunna belum pernah melihat badannya!
Mendadak dia benci sekali pada Sora.
"Wah, kakak ini dokter yang buruk! Kalau dibiarkan ini bisa infeksi!" Sora mengomel.
Sora melihat beberapa jahitan robek, mungkin ini terjadi saat Gorae harus menggendong Na Ri.
Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang terjadi pada kakaknya. Tapi dia tahu kakaknya pasti akan segera menceritakannya.
"Aku jahit sedikit ya kak. Hanya lima jahitan."
Sora berlari ke kamarnya, dia mengambil peralatan medis dan obat untuk Gorae.
"Lidocaine* jangan lupa!" Gorae mengingatkan adiknya, Sora tertawa,
"Aaah...luka kecil begini minta disuntik Lidocaine." Sora menggoda kakaknya.
"Kalau begitu...bunuh saja aku!" Gorae meringis, Sora tertawa sambil membersihkan luka kakaknya, kemudian dia menyuntikan Lidocaine ke bahu Gorae.
Setelah menunggu beberapa saat, Sora mulai menjahit. Dan Gorae menggigit bibirnya sambil terpejam.
Na Ri prihatin melihat penderitaan Gorae sekaligus kagum melihat dua kakak beradik ini, mereka begitu kompak dan saling menyayangi. Melihat ekspresi Gorae, kembali Na Ri terpana.
Lelaki ajaib itu benar-benar tampan!
Ibu dan nenek Gorae muncul dengan panci mengebul yang mengeluarkan aroma sangat harum.
Ibu Gorae terkejut melihat Sora sedang menjahit bahu Gorae, tapi dia tidak menampakan keterkejutannya.
Dengan melihat kondisi Na Ri, dia dan neneknya Gorae tahu, ada sesuatu terjadi pada Gorae dan temannya.
Mereka akan menunggu Gorae menceritakan apa yang terjadi, mereka sangat menjaga perasaan satu sama lain.
"Wah, jagoanku tumben tidak menangis." Goda Park Hilda sambil meletakan panci panas dan neneknya meletakan dua mangkuk di meja.
"Aiihh eomma, adikku ini suka sekali menyiksa orang." Gorae meringis, tapi matanya mulai bersinar ketika melihat masakan yang harum seakan sudah melambai-lambai padanya.
Nenek Gorae mengambil kursi dan duduk dekat Na Ri.
Dia menyendok mie putih yang lembut bertabur ayam rebus suwir dan bawang hijau ke dalam salah satu mangkuk.
Wangi kaldu ayam yang segar, begitu menggoda selera.
"Ayolah cepat! Aku lapar sekali."
Gorae tidak sabar.
"Oke sebentar lagi kakak sayang." Jemari Sora lincah menjalin ikatan benang jahit terakhir di bahu Gorae.
Nenek Gorae menatap Na Ri, dengan mata kelabu yang teduh,
"Aku akan suapi kamu nak...pasti sulit makan dengan tangan di infus dan penuh luka seperti ini."
Na Ri terkejut. "Aa..aku tidak apa-apa Nek, aku bisa makan sendiri.."
Na Ri gugup.
"Sudahlah, untuk sekarang biar aku yang menyuapi mu. Ayo, anak cantik harus cepat sehat." Min Hong Ah, Neneknya Gorae tersenyum tulus.
Na Ri ragu-ragu, tapi sesendok kaldu ayam hangat sudah di depan mulutnya, dengan sedikit malu dia mulai menyuap.
Berkali-kali Na Ri mengucapkan maaf dan terimakasih atas kebaikan keluarga Gorae.
Selesai dijahit dan diobati bahunya Gorae mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Dia langsung menyerbu mie putih buatan ibunya.
Dunia terasa hidup kembali jika lidahnya sudah merasakan lagi masakan ibunya.
"Aiihh pelan-pelan Gorae!" Kata ibunya. Gorae tidak peduli.
Na Ri tidur di kamar tamu, setelah diberi suntikan ketorolac dan vitamin.
Barulah Gorae menceritakan segalanya pada keluarganya.
Semua merasa prihatin dengan keadaan Na Ri. Mereka berjanji akan merawat Na Ri hingga pulih, terlebih memulihkan kesehatan mentalnya.
"Psst...kak, apakah Yunna eonni tahu akan hal ini?" Tanya Sora pelan.
Wajah Gorae sedikit muram,
"Dia tidak tahu aku ke sini membawa Na Ri, dia tahu ceritanya hanya sedikit."
"Hmm...pasti dia sangat marah.." Sora menimpali.
Gorae mengangguk, "Aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi dia terus menghindar."
Park Hilda menggenggam tangan Gorae, dia sangat tahu anaknya sangat mencintai Cha Yunna.
"Bersabar. Nanti juga dia akan mendengar kamu."
Gorae mengangguk, "Aku tidak ingin dia salah menilai aku.."
Park Hilda menghela nafas, "Berharap yang terbaik saja, ya? Sekarang tidurlah, sekarang sudah hampir pagi."
Di usapnya kepala putra kesayangannya. Gorae mengangguk, kemudian nenek dan ibunya pergi lagi ke kamar mereka.
Tinggal Sora yang masih menemani Gorae.
"Kak, bagaimana jika Yunna eonni tidak mau mengerti?"
Gorae menghela nafas,
"Aku tidak tahu..."
Di dalam kamar, mata Gorae masih sulit untuk terpejam padahal tubuhnya sangat lelah.
Dia memikirkan Yunna, sedang apa dia sekarang?
***
*Rumah Hanok : Rumah tradisional korea
*20 tpm : hitungan tetesan cairan infus 20 tetes per menit.
*lidocaine : cairan suntikan untuk bius lokal