I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Rise Up!



Operasi besar hari ini sukses dilakukan Gorae, dia melakukan transplantasi hati.


Setelah memastikan kondisi pasien stabil, Gorae bergegas menuju kantor direktur rumah sakit, Prof. Yoo Seo Yeon sesuai janjinya semalam.


"Gorae, mengenai penanganan untuk pak Song, tim dokter di Muju mengatakan dia mengalami kemajuan yang sangat baik."


"Benarkah? Ini berita bagus. Apakah ada kemungkinan dia bisa mengingat semua?"


"Mereka masih mengusahakannya, kita berharap dia bisa bersaksi nanti. Aku akan memantau langsung kerja mereka."


Proffesor Yoo Seo Yeon memberikan data-data kemajuan Song Myung Ri.


"Prof, Yunna sudah mengetahui semua, dia semalam datang ke rumahku. Tampaknya dia sangat tertekan dan jatuh pingsan. Sekarang dia dirawat di Rumah Sakit Sinwha."


Gorae memberitahu soal Yunna.


"Hmm...berarti, kemungkinan besar ibunya juga sudah tahu. Kita perlu berhati-hati. Aku sudah memberikan semua berkas laporan pada kepolisian, aku sendiri yang akan menuntut dokter Ahn."


Gorae pun merasa janggal dengan semua ini, Yunna mengatakan dia sudah mengetahui semua, bahkan ibu dan kakeknya kemungkinan sudah diberitahu Yunna.


Mengapa semua berjalan seperti sangat mudah?


"Aku akan mencoba mencari tahu gerakan mereka, prof." Janji Gorae.


"Tolong pastikan juga soal ini pada pimpinan Moon. Bukankah dia masih kekasih Yunna?"


Tanya Proffesor Yoo, dia membuka kaca mata bacanya.


"Sampai dengan semalam, dia masih kekasih Yunna....aku tidak yakin jika Jae Hyun masih akan mempertahankan hubungannya. Aku akan mengeceknya nanti."


Gorae seperti diingatkan, dia tidak tahu apa yang terjadi setelah semalam dia meninggalkan Jae Hyun dan Yunna yang menangis.


"Tolong berhati-hati, Seukai Group sekarang mengincar saham rumah sakit ini. Aku dengar dari salah satu pemegang saham. Jadi, isu kasus ini harus segera diungkap, karena jika para pemegang saham dan masyarakat mengetahui lebih dulu, sebelum kita mengangkatnya, kemungkinan besar saham kita akan anjlok dipasaran.


Lalu para pemegang saham akan menjualnya. Dan....Seukai lah yang sudah mengincarnya!"


Proffesor Yoo berkata serius,


"Tapi, kasus ini justru dilakukan oleh anaknya sendiri? Bagaimana mungkin Seukai membeli saham rumah sakit dimana anaknya yang melakukan malpraktek. Kepercayaan masyarakat akan tergantung dari citra dan kinerja paramedis didalamnya." Sanggah Gorae.


"Justru itu liciknya Ahn Cheol Yong, dia justru akan memanfaatkan moment ini dan menguasai rumah sakit ini dengan leluasa. Dia akan mengambil kesempatan ini untuk menghapus jejak kejahatan anaknya dan menguasai rumah sakit adalah cita-cita Ahn Sohyun selama ini."


Tukas Proffesor Yoo.


"Menurut proffesor, jika Seukai menguasai rumah sakit ini, apa yang akan terjadi dengan dokter-dokter disini?" Gorae tidak mengerti.


"Aku tidak tahu pasti, tapi cerita ini mulai berhembus ketika nona Song Na Ri sudah mulai muncul kembali di televisi." Jawab Proffesor Yoo, sambil mengusap wajahnya, kerutan diwajahnya tampak jelas.


"Dan yang aku takutkan setelah mereka menguasai saham rumah sakit ini, aku, kamu dan dokter-dokter terbaik di sini akan terdepak untuk menutup bukti malpraktek Ahn Sohyun."


Lanjut Proffesor Yoo Seo Yeon menatap Gorae.


"Padahal bukti asli sudah kita kantongi, dan tinggal menunggu bukti dari Moon Jae Hyun. Kita berpacu dengan waktu sekarang ini."


Gorae merasa ada harapan karena bukti rekam medis yang asli sudah ada ditangan polisi.


*


Setelah mengatur siasat dengan Proffesor Yoo, Gorae segera menelepon Jae Hyun.


"Aku sudah siapkan semua berkas dan bukti juga saksi. Kita harus menunggu tayangan reality show Na Ri bertemu ayahnya dulu, untuk membuka mata masyarakat. Suara publik sangat penting sekarang ini, kaitannya dengan sentimen pasar saham milik Rumah Sakit Hansung dan saham milik perusahaanku."


Jae Hyun memberi penjelasan setelah mendengarkan cerita Gorae.


"Baiklah. Kita tunggu episode Na Ri dulu, setelah itu baru kita angkat ke publik masalah ini. Aku harap pak Song bisa mengingat semua kejadian secepatnya."


Kepala Gorae dipenuhi berbagai kemungkinan.


"Gorae, aku memutuskan Yunna semalam...aku bertemu juga dengan ibu dan ayahnya..." Suara Jae Hyun terdengar tenang.


Gorae terperanjat, "Dalam keadaan Yunna seperti itu, kamu memutuskan dia?"


"Aku sudah membujuknya untuk tidak membahas hubunganku dengan dia saat dia lemah seperti itu, tapi kamu tahu sendiri bagaimana sifat Yunna yang mudah sekali meledak. Aku tidak punya pilihan lain, selain tegas mengatakan aku tidak bisa lagi menjadi kekasihnya. Aku bisa gila jika terus bersama dia."


Jae Hyun sadar, mungkin saat ini Yunna benar-benar terluka olehnya.


Gorae menghela nafas, "Tadi kamu bilang kamu bertemu ayah dan ibunya juga?"


"Iya, aku hanya melihat mereka masuk dan langsung memburu Yunna, aku segera pergi. Aku lelah."


Gorae tercenung mendengar penuturan Jae Hyun. Dia bisa bayangkan bagaimana hancurnya perasaan Yunna sekarang.


Setelah menimbang-nimbang, Gorae memutuskan untuk menelepon Yunna untuk memastikan keadaannya sekarang.


"Hallo..." Terdengar suara Yunna diseberang telepon.


"Yunna, maafkan aku tadi pagi aku harus pulang. Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Aku sudah pulang, akul di rumahku sekarang." Suara Yunna terdengar sudah normal.


"Bagus kalau begitu, aku lega mendengarnya...Jaga kesehatan kamu, oke?"


"Gorae, apakah kamu sudah tahu, Jae Hyun memutuskan hubungan denganku tadi pagi.... Dia benar-benar manusia tidak punya hati!" Suara Yunna terdengar sangat marah.


"Ah...benarkah?" Gorae pura-pura tidak tahu.


"Dia sudah menghancurkan ku..."


"Yunna, aku harap kamu beristirahat dengan baik sekarang. Aku tidak akan menyuruhmu untuk melupakan Jae Hyun, tapi aku yakin, lukamu akan sembuh pada waktu yang tepat."


Gorae merasa serba salah.


"Jangan katakan apa-apa lagi Gorae, jangan mencoba membuatku merasa lebih baik." Suara Yunna bergetar.


"Baiklah... jaga dirimu baik-baik Yunna." Gorae menutup teleponnya.


Yunna mulai menangis lagi, kata-kata itulah yang dia ucapkan pada Gorae yang dia tinggalkan, dia tahu Gorae sangat hancur dan sendirian saat itu.



Na Ri sampai pada episode dia akan mengunjungi ayahnya di klinik Muju.


Sejauh ini, setelah enam episode yang ditayangkan, acara Reality Show 'In The Village With Na Ri' mendapat respon positif dari hampir 90% masyarakat Korea.


Penampilan Na Ri yang memerankan kehidupannya sendiri justru sangat dinanti dan mendapat pujian dari berbagai kalangan.


Iklan bibit dan pupuk dari perusahaan Ganghan Nongmin yang Na Ri bawakan juga membawa dampak yang luar biasa bagi para petani dan konsumen.


Di depan klinik Muju dengan senyum cerah Na Ri mengajak para host untuk mengunjungi ayahnya.


"Hari ini adalah hari aku mengunjungi ayah dan ibuku."


"Apakah ayahmu di rawat di klinik ini?" Tanya Kim Jin Ho.


Na Ri mengangguk, "Iya, sekarang ayah sedang dirawat untuk memulihkan ingatannya sepenuhnya."


"Maaf Na Ri, apakah sakit ayahmu karena kehilangan ingatan? Boleh kami tahu penyebabnya?"


Na Hyul Bin mensejajari langkah Na Ri.


Na Ri sudah dipesan oleh sutradara, Gorae dan Jae Hyun untuk tidak menceritakan penyebab sakit ayahnya. Cukup dengan menampilkan sebentar Song Myung Ri di episode terakhir ini. Setelah itu semua bukti dan saksi yang menunjukan kejahatan Ahn Sohyun yang sudah ditangani kepolosian akan diangkat pada konferensi pers.


Mereka akan melihat reaksi dari pihak Seukai Group dan Ahn Sohyun begitu melihat keberadaan Song Myung Ri yang sudah dibuat menderita selama lebih dari dua puluh tahun.


Dengan suara tenang tanpa sedikitpun ada nada menuduh, Na Ri mengungkapkan bahwa dia baru beberapa bulan ini bertemu kembali dengan ayahnya.


"Aku berpisah dengan ayahku saat aku berumur dua tahun."


"Ah...rupanya begitu...tentu sangat menyenangkan bisa bertemu lagi dengan ayahmu." Kim Jin Ho menimpali.


Na Ri tersenyum, "Tentu, aku sangat bahagia. Walaupun awalnya aku tidak mengenalinya. Aku menemukannya di sebuah danau, dia sudah seperti seorang gembel, seorang gelandangan yang kehilangan ingatannya. Beruntung teman dekat ayahku mengenalinya."


"Jadi selama dua puluh tiga tahun kamu tidak bertemu dengan ayahmu, kamu menggunakan nama keluarga ibumu?" Susul Na Hyul Bin.


"Iya, ibuku mengira ayah meninggalkan kami karena perempuan lain, ibu baru mengetahui bahwa ayah pergi karena dia memang sudah tidak menyadari tindakannya, dan ingatannya semakin memudar. Namaku sebenarnya adalah Song Na Ri, itu yang ayahku berikan padaku."


"Ya ampun, pasti ayahmu sangat menderita selama itu...dan kalian pun menghadapi hidup yang sangat berat sekarang ini." Na Hyul Bin tampak bersimpati, Na Ri hanya tersenyum.


"Baiklah, apa yang kamu bawa untuk ayah mu hari ini?" Tanya Kim Jin Ho kemudian sambil menunjuk tas yang di jinjing Na Ri.


"Aku membawakan kesemek kering kesukaan ayahku, dan gimbap buatanku, ayah akan makan banyak." Jawab Na Ri bersemangat.


Na Ri mengajak dua host itu masuk ke kamar ayahnya. Ada ibunya juga sedang membantu ayahnya duduk di tempat tidur setelah tadi mereka berjalan-jalan di taman.


"Ayah, ibu...aku datang." Sapa Na Ri riang. Jung Bok Sil yang sudah tahu Na Ri akan datang, tersenyum menyambut putrinya.


"Yeobo, anakmu datang."


Song Myung Ri menoleh, "Ah anakku, sini...sini!" Tangannya melambai pada Na Ri.


Na Ri memeluk ayahnya, dia memperkenalkan dua host yang datang bersamanya.


"Ayah, aku bawa kesemek kering kesukaan ayah, juga gimbap buatanku, ayah harus makan yang banyak!"


Song Myung Ri tersenyum senang,


"Aku.....selalu suka gimbap buatan mu. Aku..... aku ingat, Ibuku selalu membuat gimbap dan kesemek kering.....rasanya gimbap buatanmu sama persis dengan buatan ibuku."


Na Ri saling berpandangan dengan Jung Bok Sil. Song Myung Ri sudah mulai mengingat masa lalunya!


Na Hyul Bin mendekati Song Myung Ri, "Pak Song, anda mengingat ibu anda?"


Song Myung Ri dengan ragu mengangguk, "Aku....aku tidak begitu yakin....tapi aku mengingat rasa makanan yang diberikan padaku. Aku juga mengingat bau."


"Bau apa?" Susul Na Hyul Bin.


Mata kelabu Song Myung Ri memandang keluar jendela,


"Maksudku... aku mencium harum tubuh istriku dulu, dan aku tiba-tiba menemukan harum yang sama ketika kami bertemu lagi, dan aku yakin dia istriku....Lalu, setiap bau apapun, atau harum apapun akan membuatku mengingat kenangan yang hilang..."


Na Ri memeluk ayahnya, "Ayah, saat ayah mencariku dulu....apa yang ayah ingat?"


Song Myung Ri terdiam sejenak, jemarinya mengusap lembut punggung anaknya.


"Aku tidak pernah lupa jika aku punya seorang putri yang cantik. Hanya putriku yang membuatku bertahan untuk tetap hidup."


Na Ri mempererat pelukannya.


"Ayah harus sembuh dan harus kembali ingat semuanya, aku tidak akan pernah meninggalkan ayah." Bisik Na Ri.


Semua yang terjadi dalam kamar itu terekam dengan jelas, dan episode terakhir ini sudah ditayangkan.


Reaksi masyarakat cukup mengagetkan, mereka sangat bersimpati dengan apa yang terjadi pada ayah Na Ri. Berbagai spekulasi dan pertanyaan muncul, tentang mengapa ayah Na Ri sampai meninggalkan Na Ri dan Ibunya, mengapa ayah Na Ri sampai kehilangan ingatannya, bahkan mereka mulai mencari-cari tahu latar belakang ayah Na Ri.


Banyak media mulai memburu keberadaan Na Ri dan keluarganya. Mereka ingin mendapatkan berita eksklusif langsung dari Na Ri dan keluarganya.


Tapi kembali, Na Ri sulit ditemukan.


*


Ahn Sohyun mengertakan giginya, dua alisnya bertaut. Dia menonton episode terakhir acara reality show Na Ri bersama suaminya, Cha Deokyum.


"Song Myung Ri masih hidup...dan mungkin ingatannya akan segera pulih." Gumam Cha Deokyum, dia lirik istrinya yang menatap layar tv dengan tegang.


"Aku harus membungkam dia!"


Tegas Ahn Sohyun, ada ketakutan dalam suaranya.


"Apa maksudmu? Kamu akan membunuhnya?" Cha Deokyum tercekat kaget.


"Ya....jika perlu!" Keringat mulai menetes di dahi Ahn Sohyun.


"Kamu benar-benar sudah kehilangan akal, yeobo! Jangan pernah kamu melakukan tindakan bodoh lagi!"


Bentak Cha Deokyum marah.


Di akuinya, cepat atau lambat kejahatan istri dan mertuanya akan segera terungkap. Dia bingung, apa yang harus dilakukannya? Berpihak pada istri dan mertuanya yang salah, jelas-jelas dia tidak mau.


Tapi membiarkan istri yang sangat dicintainya masuk dalam penjara, diapun tidak tega.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus rela dihukum? Bagaimana dengan karir kita? Nama baik ayahku? Dan Yunna?! Kamu akan membiarkanku jatuh, begitu menurutmu?!" Teriak Ahn Sohyun panik.


"Yeobo....jika kamu harus menjalani hukuman atas dosa yang kamu perbuat, aku tidak peduli dengan nama baik....bahkan aku tidak peduli dengan masa depan Yunna, dia akan bertahan. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, daripada hidup menumpuk dosa dan kejahatan!" Cha Deokyum bersuara dingin. Dia menekan perasaan takut dan tidak teganya.


Ahn Sohyun menatap suaminya tidak percaya,


"Kamu sudah tidak mencintaiku lagi Deokyum! Kamu tidak ingin melindungiku!.....oh, tentu saja, kamu mungkin bahagia jika aku dipenjara!"


"Omong kosong apa ini?! Siapapun akan sedih melihat orang yang dicintainya menderita! Tapi akui saja kamu sudah bersalah, yeobo! Kamu merenggut kebahagiaan Song Myung Ri dan keluarganya puluhan tahun!"


Cha Deokyum bangkit dari duduknya, semakin lama berdebat dengan istrinya, akan semakin tidak masuk diakal baginya.


"Yeobo! Aku akan meminta tolong Moon Jae Hyun! Dia harus menarik acara itu dan menikahi Yunna! Seukai akan berbaik hati padanya jika dia menolong ku." Ahn Sohyun semakin panik.


"Jae Hyun katamu? Kamu lupa, dia yang mengangkat masalah Song Myung Ri dalam acara itu! Kamu lupa, dia sudah memutuskan Yunna! Setidaknya, milikilah harga dirimu, walau cuma sedikit!"


Cha Deokyum menatap tajam istrinya.


"Akuilah....sebelum semua terlambat. Minta ampunan pada keluarga Song Myung Ri! Itu yang terbaik!" Lanjut Cha Deokyum.


"Tidak! Itu tidak mungkin aku lakukan! Aku harus bertemu ayah! Ayah tahu bagaimana cara melindungiku! Kamu suami tidak berguna!" Ahn Sohyun bergegas mengambil kunci mobilnya, lalu menyambar mantel bulunya. Dia berlari meninggalkan Cha Deokyum yang berdiri mematung.


*


Ahn Sohyun menunggu ayahnya selesai rapat dengan staffnya dengan gelisah.


Tangannya terasa dingin, dia sangat ketakutan sekarang, dia berjalan mondar-mandir di dalam kantor ayahnya. Pikirannya sangat kalut dan tidak mampu berpikir jernih.


Setengah jam menunggu, Ahn Cheol Yong masuk dengan wajah lelah. Dia melihat putri kesayangannya berdiri menatap keluar jendela besar dikantornya.


"Sayang, maaf aku membuatmu menunggu." Sapanya dengan suara berat.


"Ayah, bagaimana ini? Song Myung Ri ternyata masih hidup!" Ahn Sohyun memburu ayahnya, wajahnya terlihat cemas dan pucat.


"Aku tahu, aku sudah mengatur siasat." Jawab Ahn Cheol Yong, dia membanting pantatnya di sofa besar.


"Apa yang akan ayah lakukan? Haruskah kita menghabisinya?"


Ahn Cheol Yong tersenyum kecil, dia sangat paham putri kesayangannya pasti akan melakukan apapun untuk menyelamatkan keluarganya.


"Hmm...mungkin itu pilihan terakhir. Tapi, apakah kamu sudah menemukan rekam medis asli milik Song Myung Ri? Sangat berbahaya jika pihak rumah sakit dan Moon Jae Hyun yang menemukannya!"


Ahn Sohyun menggeleng, "Sudah tidak ada, berkas rekam medis yang sudah lebih dari sepuluh tahun sudah dimusnahkan. Aku sudah mengeceknya sendiri."


"Bagus! Kita tinggal membungkam saksi yang mengetahui kejadian ini pada waktu itu."


"Mereka mungkin saja sudah dijaga ketat ayah....mungkin saja mereka sudah melaporkan kita ke Polisi!" Suara Ahn Sohyun terdengar panik.


"Putriku, sejak mereka tidak mempunyai bukti bahwa kamu sudah melakukan malpraktek, kamu bisa tenang." Ahn Cheol Yong mengusap tangan anaknya untuk menenangkan.


"Ayah....isu malpraktek ini sudah diketahui istri Song Myung Ri, dia mengatakan hal ini pada Yunna!"


Ahn Cheol Yong menautkan kedua alisnya, dia mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan putrinya dati jeratan hukum.


Ahn Sohyun tiba-tiba teringat sesuatu,


"Ayah, saat terakhir Song Myung Ri berkunjung waktu itu, istrinya tiba-tiba muncul di kantorku. Dia melihat aku tersudut di dinding, dan Song Myung Ri saat itu sangat marah padaku.....dia....dia menekanku dan hampir mencekikku. Saat bersamaan istrinya melihat seolah-olah Song Myung Ri seperti hendak menciumku. Dia hanya berdiri melihat kami dan dia pergi sambil menangis..."


Ahn Cheol Yong tertawa mendengar penuturan putrinya, dia mengangguk-angguk senang.


"Kamu tahu, aku mengatur siasat dengan staff kepercayaanku agar menghembuskan isu kita akan membeli saham Rumah Sakit Hansung University!" Air muka Ahn Cheol Yong berubah cerah.


Ahn Sohyun mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"Apa maksud ayah?"


"Isu ini akan terus dihembuskan pada pemegang saham Rumah Sakit Honsung dan masyarakat, bahwa kasus Song Myung Ri adalah kasus pelecehan. Kita akan membuat cerita pelecehan yang dilakukan Song Myung Ri padamu!"


Ahn Cheol Yong tersenyum lebar.


"Lalu....bagaimana dengan hilangnya ingatan Song Myung Ri?" Ahn Sohyun merasa gentar.


"Mengenai hilang ingatan yang dialami Song Myung Ri, sejak kita tidak berhasil menemukan rekam medis asli, kita akan mengarang cerita bahwa Song Myung Ri mengkonsumsi sendiri suplemen John Wort tanpa sepengetahuan mu sebagai dokternya." Ahn Cheol Yong meyakinkan putrinya,


"Lagipula, istrinya sendiri yang melihat Song Myung Ri tampak seperti akan menciummu, bukan begitu?" Ahn Cheol Yong mengedipkan sebelah matanya pada putrinya.


Ahn Sohyun mengangguk mengerti, ada semburat merah di wajahnya yang tadi pucat,


"Lalu bagaimana dengan sekretarisnya yang selalu mengantarnya ke Rumah Sakit waktu itu?" Susul Ahn Sohyun.


"Aku sudah mengatur siasat untuknya. Kamu tenang saja, saatnya aku membalas kebaikanmu yang sudah memyelamatkan keluarga kita!"


Ahn Sohyun tersenyum, dia sangat bangga pada ayahnya. Seakan semua masalah akan selesai ditangan ayahnya.


*


Nam Dongmin mendapat telepon dari Moon Jae Hyun tadi malam, hari ini dia harus memberikan keterangan pada Polisi terkait kasus Song Myung Ri.


Sudah dua bulan ini dia dan keluarganya selalu dijaga oleh dua orang bodyguard dirumahnya atas perintah dari Moon Jae Hyun, yang dimaksudkan untuk melindungi Nam Dongmin.


Karena sangat besar kemungkinan Seukai Group akan melakukan sesuatu padanya.


"Aku akan pergi memberi kesaksianku. Kalian akan dijaga oleh anak buah Tuan Moon." Nam Dongmin berpesan pada istrinya.


"Baiklah...jaga dirimu baik-baik, Yeobo. Kapan-kapan ajaklah aku dan anak-anak menemui mantan bossmu itu." Istri Nam Dongmin merapikan kerah kemeja suaminya.


"Aku akan mengajak kalian semua, setelah masalah ini selesai." Nam Dongmin tersenyum.


Dia sudah membayangkan jika Song Myung Ri pulih ingatannya, tentu akan sangat membahagiakan berkumpul kembali dengannya seperti dulu. Song Myung Ri adalah atasan dan sahabat terbaik baginya.


Tidak lama datang sebuah mobil sedan berisi dua orang bodyguard yang akan menjemput Nam Dongmin.


Mobil sedan hitam itu bertuliskan Sky&Star.co. milik Perusahaan Jae Hyun.


Seorang bodyguard turun dan menyapa bodyguard yang berjaga didepan pintu rumah Nam Dongmin.


"Hallo, apa tuan Nam sudah siap?" Sapanya ramah.


"Kamu anak baru?" Tanya bodyguard didepan rumah Nam Dongmin.


Dia mengangguk, "Aku baru bergabung dengan Sky&Star, ini tugas pertamaku."


"Baiklah, Pak Nam sebentar lagi keluar." Dia memperhatikan bodyguard yang baru ini tidak memakai name tag.


"Mana tanda pengenalmu?"


Tanyanya kemudian.


Belum sempat bodyguard baru itu menjawab, Nam Dongmin keluar dari dalam rumah,


"Ah, kalian yang akan mengantarku ke kejaksaan? Ayolah, kita harus bergegas, jaksa Yook sudah menungguku."


Bodyguard itu mengangguk hormat dan segera berlari untuk membuka pintu mobil bagian belakang. Nam Dongmin melambaikan tangan pada istrinya, dan mobil sedan hitam itupun berlalu dari rumah Nam Dongmin.


Baru sepuluh menit mobil Nam  Dongmin meninggalkan rumahnya, tiba-tiba sebuah mobil van berwarna putih bertuliskan B-Xpress, berhenti didepan rumah Nam Dongmin.


Seorang perempuan cantik keluar dari dalam van.


Salah satu bodyguard menghampirinya dengan tatapan curiga.


"Permisi Ahjussi...aku mau minta tolong, aku akan mengantarkan barang pada keluarga pak Nam, barangnya ada di dalam mobil van ku, bisa kamu bantu aku mengangkatnya?" Tanya perempuan cantik itu dengan manja.


"Barang apa?"


"Ah...ini mesin cetak yang dipesan oleh tuan Nam. Aiiih...tempatku bekerja hanya mengirim kurir perempuan seperti aku, kurir yang lain sedang sibuk semua." Perempuan itu terlihat merajuk.


Bodyguard itu menatap penuh selidik, "Aku akan memastikannya dulu."


Dia segera menghubungi temannya yang berada didalam rumah Nam Dongmin lewat walkie talkie.


"Tolong tanyakan pada nyonya, apakah suaminya memesan mesin cetak?"


"Nyonya sedang di kamar mandi. Nanti aku akan tanyakan padanya."


"Barangnya sudah ada disini. Aku tidak ingin sembarangan menerima."


"Baiklah, minta mereka menunggu sebentar."


Bodyguard itu menyampaikan pada kurir cantik yang menunggunya tidak sabar.


"Aigoo...banyak barang yang harus aku kirim hari ini. Aku tidak bisa menunggu hanya karena anda merasa ragu! Aku tidak hanya mengurusi satu barang saja!" Kurir cantik itu menggerutu.


"Jika anda tidak mau menerimanya, aku akan buat laporan bahwa anda tidak mau menerima barang ini dan tanggung jawabku selesai. Urusanmu dengan pemesan barang bukan dengan perusahaan kami!"


Kurir cantik itu beranjak menuju mobil vannya.


"Aku hanya minta kamu tunggu sebentar." Desak bodyguard itu kesal.


"Tidak bisa, pekerjaanku masih banyak. Jangan salahkan aku jika barang ini kami kembalikan ke pengirimnya dan majikanmu harus mengirim kembali ongkos kirimnya!"


Bodyguard ini tidak punya pilihan lain,


"Hey, ya sudahlah, aku bantu turunkan barang itu!"


Sambil merengut manja kurir cantik itu membuka pintu vannya.


"Di dalam sini, barangnya berat sekali."


Kaca film mobil van itu hitam, tidak terlihat isinya dari luar. Bodyguard ity melongokan kepalanya kedalam mobil. Seketika matanya membelalak, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Belum sempat dia menyadari apa yang terjadi, dari belakang punggungnya, kurir cantik itu membekap mulutnya dengan sapu tangan yang basah oleh cairan chloroform*. Bodyguard itu sempat memberontak sebentar sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya dan setengah tubuhnya ambruk di dalam mobil, sementara kakinya menjuntai ke jalan.


"Tiga sudah beres! Cepat angkat dia!" Perintah kurir cantik itu pada dua lelaki kekar yang sedari tadi bersembunyi di dalam mobil vannya.


Di dalam mobil sudah tergeletak dua orang, mereka adalah anak-anak gadis Nam Dongmin. Keadaan mereka terbaring lemas, dengan tangan dan kaki terikat dan mulut ditutupi lakban besar.


Rupanya merekalah yang dilihat bodyguard itu, mereka diculik saat akan memasuki kampus setelah diantar olehnya tadi pagi.


"Cepat! Tinggal dua lagi di dalam rumah!" Kembali kurir cantik itu memberi perintah.


Dua lelaki kekar itu bergegas turun, dan mengunci pintu mobil dari luar. Sekarang ketiganya memegang pistol ditangan mereka.


"Jika ada yang melawan kita tembak! Jangan lupa pasang peredam!" Bisik kurir cantik itu.


Belum lagi dia mengetuk pintu, pintu depan sudah dibuka, muncul istri Nam Dongmin yang ingin memeriksa paket barang yang diberitahu oleh bodyguard di rumahnya.


Bodyguard satu lagi berdiri tepat dibelakang istri Nam Dongmin.


"Anda yang mengantar paket?" Istri Nam Dongmin melongokan kepalanya keluar.


Tanpa menunggu lama, tiba-tiba salah satu lelaki bertubuh kekar langsung menarik tubuh kecil istri Nam Dongmin, menelikung tangannya dan membekap mulutnya.


Bodyguard yang berdiri di belakang istri Nam Dongmin berteriak kaget,


"Hey! Siapa kalian?!"


Bukannya jawaban yang di dapat, tapi sebuah pukulan keras dengan telak mendarat di pelipis kanannya.


Bodyguard itu tersungkur.


Dengan cepat lelaki kekar yang lain menodongkan senjatanya tepat di kepala bodyguard itu.


"Jika kamu masih ingin hidup, jangan melawan. Peluru ini akan menembus kepalamu!" Bentak lelaki kekar itu galak.


Darah mulai menetes di dahi bodyguard itu, "Dimana temanku?!"


Tanyanya, setelah menyadari temannya tidak ada di halaman.


"Hahaha...kuatirkan saja majikanmu! Sekarang bangun! Dan masuk!"


Setelah mengikat istri Nam Dongmin dan bodyguard yang terluka, mereka menggotong keluar anak-anak Nam Dongmin juga bodyguard yang tadi di bius.


Mereka semua diikat jadi satu di ruang keluarga, dan mulut mereka di lakban.


"Sekarang telepon suamimu! Lakukan video call!" Perintah kurir cantik dengan galak.


Dia menarik lakban yang menempel kuat di mulut istri Nam Dongmin dengan kasar, istri Nam Dongmin mengaduh kesakitan.


"Siapa kalian?! Apa mau kalian dari kami?! Lepaskan kami!!" Teriak istri Nam Dongmin ketakutan.


"Diam kamu!" Sebuah tamparan keras mendarat di wajah istri Nam Dongmin, membuat dia menjerit kesakitan.


Bodyguard yang terluka benar-benar marah melihat perlakuan tiga orang asing ini, dia berusaha keras melepaskan ikatan ditangannya, tapi usahanya tidak berarti banyak, karena tubuhnya terikat dengan istri, anak-anak Nam Dongmin dan temannya yang masih belum sadarkan diri. Sementara kakinyapun terikat kuat.


"Hahaha percuma kamu berusaha melawan! Diam saja kamu! Jika tidak ingin melihat anak-anak gadis dan majikanmu mati!" Ledek salah satu lelaki kekar yang masih menodongkan pistol tepat dikepalanya.


Kurir cantik itu merebut handphone milik istri Nam Dongmin yang sedari tadi digenggamnya. Sekali membuka kontak telepon, dia langsung tahu nomor telepon Nam Dongmin.


Dia menekan video call dan menyorongkan handphone itu di depan wajah istri Nam Dongmin.


Sambungan video call tersambung, terlihat wajah Nam Dongmin dilayar handphone.


"Yeobo, ada apa?"


"Suamiku, kita semua disekap di rumah! Tolong telepon Po...Ahh!"


Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi istri Nam Dongmin.


"Yeobo! Yeobo! Apa yang terjadi?!" Teriak Nam Dongmin panik.


"Apa yang terjadi Pak Nam?" Tanya salah satu bodyguard yang duduk di depan.


"Aku tidak tahu, istriku bilang mereka semua disekap!" Terlihat raut ketakutan dari wajah Nam Dongmin.


"Kita harus kembali, hubungi Polisi dan Pimpinan Moon sekarang!" Perintah Nam Dingmin.


"Hallo? Yeobo? Kamu masih disana?? Yeobo kamu baik-baik saja?" Sambungan video call Nam Dongmin masih tersambung dengan istrinya.


Bukannya istrinya yang menjawab, tapi muncul wajah kurir cantik dilayar handphonenya.


"Jika kamu mau anak istrimu selamat, kamu tidak akan terlalu bodoh untuk menelepon Polisi atau menelepon Pimpinan Sky&Star! Anak-anak lakukan tugasmu!"


Sambungan video call pun terputus, tiba-tiba mobil berhenti.


Nam Dongmin masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, siapa yang dipanggil perempuan cantik itu dengan anak-anak?


Bodyguard yang duduk di depan turun dan membuka pintu belakang tempat Nam Dongmin duduk.


Dia langsung merebut handphone ditangan Nam Dongmin dengan kasar.


"Hey! Apa...apa yang terjadi? Ada apa dengan kalian?!" Teriak Nam Dongmin.


"Diam kamu!"


Bodyguard itu langsung membekap hidung Nam Dongmin dengan sapu tangan berisi cairan chloroform.


Nam Dongmin tak sadarkan diri, setelah berusaha memberontak dengan sia-sia.


"Cepat ikat dia! Tutup matanya! Lakban juga mulutnya!"


Kemudian bodyguard yang mengemudi mobil menelepon  seseorang,


"Boss, Nam Dongmin dan keluarganya sudah aman, kami akan segera menuju gudang sekarang."


"Bagus, lalu bagaimana dengan dua bodyguard Moon Jae Hyun yang tadi akan menjemput Nam Dongmin?"


Tanya orang yang ditelepon bodyguard itu.


"Aman. Mereka kami hadang saat dalam perjalanan menuju rumah Nam Dong Min, sekarang dua teman kami membawa mereka ke gudang juga."


"Pastikan tidak ada seorangpun kabur! Aku akan segera ke sana!"


"Baik Boss!"


"Kerja bagus!"


Ahn Weo Yong tersenyum licik, dia mengangguk pada ayahnya, Ahn Cheol Yong.


"Telepon kakakmu sekarang, dia harus tenang....masalah akan segera kita atasi." Ahn Cheol Yong memerintah anak keduanya untuk menelepon putri pertamanya, Ahn Sohyun.


***