
Gorae menelepon Na Ri, saat Na Ri sedang berada di rumah keluarga Gorae, ibunya pun ikut karena mereka berencana makan malam bersama.
"Na Ri... tolong tanyakan pada ibumu, bagaimana sikap ayahmu sebelum dia meninggalkan kalian."
"Kamu menemukan sesuatu?" Tanya Na Ri cemas.
Gorae menghela nafas, "Ya... aku menemukan sesuatu. Aku akan memastikan semua sebelum aku menyelidiki hal yang lain. Tolong rekam kesaksian ibumu dan kirimkan padaku."
"Baik....aku akan lakukan... Gorae, apakah ayahku bisa disembuhkan?"
Gorae berpikir sejenak, "Aku akan usahakan yang terbaik. Untuk Bipolar nya mungkin tidak, dia harus terus menjalani terapi dan meminum obat yang tepat. Tapi untuk mengembalikan ingatannya, aku akan konsultasikan dengan dokter ahlinya."
"Apakah mungkin kita bisa mengungkapkan kejadian yang sudah lama? Dan perusahaan ayah yang dicuri bisa diketahui penyebabnya?"
"Aku belum bisa menjawabnya sekarang...aku akan berusaha yang terbaik..."
"Gorae, kamu terdengar lelah...kami sedang berkumpul untuk makan malam di rumahmu."
Gorae tersenyum, "Aku baik-baik saja Na Ri. Tolong sering kunjungi ayahmu....oh ya, aku minta nomor telepon pak Kwak."
"Baik, nanti aku akan kirim nomor pak Kwak.....Dan aku akan sering mengunjungi ayah."
"Baiklah...selamat makan malam untuk kalian semua."
"Kamu jangan terlambat makan juga ya! Jangan sampai kamu sakit! Aku harap, aku bisa melakukan sesuatu untuk membantumu, Gorae.."
"Kamu bisa menolongku Na Ri..."
"Katakan."
"Jangan menangis, tetap kuat! Saat aku pulang aku hanya ingin melihat kamu tersenyum......itu saja."
Saat mengucapkan hal seperti ini, jantung Gorae bergetar.
Na Ri tersenyum, ah! Ada apa dengan ucapan Gorae? Dia tidak tahu kalau aku sangat merindukannya!
"......baiklah...." Jawab Na Ri pelan.
"Janji?"
"Tapi..... aku ...." Na Ri menghentikan ucapannya. Aku rindu kamu, Gorae! Teriak Na Ri dalam hati.
"Ya?" Tanya Gorae penasaran.
"Tidak apa-apa....jaga diri kamu ya!"
Na Ri menutupi perasaannya.
Gorae masih mendengar hembusan lembut nafas Na Ri. Dia memejamkan mata berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan apapun pada Na Ri. Tapi untuk menutup telepon ini pun dia sangat tidak rela.
Seandainya saja bisa berlama-lama mengobrol dengan Na Ri.
"Gorae, kamu masih disana?"
"Eh i..iya aku masih disini. Aku bisa mendengarkan nafasmu Na Ri" Gorae menepuk jidatnya. Bodoh kamu Gorae! Kutuknya dalam hati.
"Apa?" Na Ri kebingungan.
"Aku akan tutup teleponnya ya...jaga dirimu Jag-eun Cheonsa."
"Kamu juga, jal saeng-gin guseju cheonsa..* ....aigo!" Na Ri menutup mulutnya, dia tidak sadar memanggil Gorae dengan malaikat penyelamat yang tampan.
Gorae tersenyum, mendadak hatinya penuh dengan bunga-bunga bermekaran.
"Aku tutup teleponnya." Balas Gorae lembut.
Gorae membanting pantatnya dikursi kerjanya yang empuk. Na Ri! Song Na Ri ....Bisik Gorae.
Gorae mengumpulkan akal sehatnya, dia segera beranjak pergi untuk menemui Direktur rumah sakit Hallym University Medical Centre Yoo Soo Yeon.
Gorae perlu berdiskusi dengan pimpinan rumah sakit ini mengenai dugaan malpraktek yang di lakukan dokter Ahn Sohyun.
*
"Apakah itu Gorae?" Tanya Park Hilda sambil meletakan panci sup dimeja makan.
"Iya." Jawab Na Ri dia masih mencoba menenangkan debaran di dadanya.
"Apakah dia baik-baik saja?" Susul Park Hilda. Na Ri mengangguk,
"Dia terdengar lelah, tapi dia baik-baik saja. Dia memintaku merekam kesaksian ibu tentang perilaku ayah sebelum dia meninggalkan kami."
"Oh begitu... semoga bu Jung bisa mengingat semua. Aku harap ada titik terang dari masalah keluarga mu Na Ri."
"Aku harap begitu..." Na Ri melihat ke arah ibunya yang sedang mengobrol dengan Min Hong Ah.
Saat di klinik Muju beberapa hari lalu, akhirnya ibunya mau menemui ayahnya.
Ibunya sangat terpukul melihat keadaan Song Myung Ri ayahnya. Ayahnya hanya memandang Jung Bok Sil tanpa bisa mengingat wanita itu adalah istri yang sangat dicintainya.
Ibunya berencana akan tinggal di Muju untuk menemani ayahnya, dia sudah memerintahkan sekretaris Oh untuk menjual rumahnya di Seoul.
Hal ini sangat melegakan semua orang, karena Jung Bok Sil memaafkan masa lalunya.
Na Ri akan merekam suara ibunya saat mereka pulang ke rumah. Agar ibunya lebih tenang.
"Makanan sudah siap! Ayo kita makan!" Sora memanggil semua orang untuk berkumpul di meja makan.
Selesai membantu membersihkan ruangan dan mencuci piring, Na Ri dan ibunya pamit pulang, dalam waktu bersamaan masuk sebuah mobil ke halaman rumah keluarga Gorae.
"Siapa yang datang?" Tanya Sora pada Na Ri. Na Ri menggeleng.
"Ya ampun! Malaikatku!" Sora menutup mulutnya, saat dia melihat Kwak Ji Soon keluar dari dalam mobil, diikuti ayahnya Kwak Tae Rang.
"Aihh... Tae Rang! Apa kabar mu?" Min Hong Ah menyapa Kwak Tae Rang.
"Sayangnya kalian melewatkan makan malam, kami baru selesai, apakah kalian sudah makan?"
"Kami sudah makan bu Min, terimakasih." Kwak Tae Rang tersenyum hangat.
Sementara Sora tersenyum malu-malu melihat Ji Soon yang tersenyum padanya.
Na Ri segera berbisik pada Sora,
"Jangan lupa nomor telepon Ji Soon! Aku tidak mau mendengar rengekanmu lagi!"
Sora mendelik ke arah Na Ri, dia sikut lengan Na Ri, hingga Na Ri mengaduh kesakitan.
"Kaus kaki sebelah, apa kabarmu?" Tanya Ji Soon mendekati Sora.
Aihh! Dia selalu memanggilku dengan nama itu!
"Aku sudah pakai sepasang kaus kaki!" Sora merengut.
Ji Soon dan Na Ri tertawa.
Ji Soon melirik ke arah Sora, si bawel ini semakin cantik saja! Sejak pertama kali melihat Sora waktu itu, Ji Soon terpesona dengan gaya Sora yang apa adanya. Dia begitu menarik bahkan disaat dia sangat cerewet sekalipun.
Bukan berarti Na Ri tidak cantik, Na Ri sangat cantik malah, tapi kepribadian Sora sangat memikat hatinya.
"Nona Song, Bu Jung, kebetulan kalian disini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian."
Kwak Tae Rang sudah memanggil Na Ri dengan nama keluarga ayahnya, Song Na Ri.
"Masuklah kalian semua." Ajak Park Hilda. Dia menoleh pada Sora yang masih tersenyum memandangi Ji Soon.
"Aigoo...kalian berdua, apakah kalian akan tetap diluar?"
Sora kaget, "Kami akan diluar sebentar Bu Park.."
Ji Soon yang menjawab Park Hilda.
Wajah Sora kebingungan sekaligus merasa senang! Wah! Ini kesempatan berdua dengan malaikatku!
"Baiklah, Sora pakai mantelmu! Diluar sangat dingin!" Perintah Park Hilda sambil berlalu ke dalam rumah.
Kwak Ji Soon mengangguk pada Sora saat Sora meminta ijin untuk mengambil mantelnya.
"Kamu tidak keberatan jika aku ajak keliling desa sebentar?" Tanya Ji Soon begitu melihat Sora keluar.
"Ah ya...tentu tidak.." Jawab Sora cepat. Keliling dunia denganmu pun aku rela! Teriak Sora dalam hati.
Ji Soon membukakan pintu mobil untuk Sora.
Sora tak henti-hentinya mencuri-curi pandang untuk melihat Ji Soon, dia tidak mampu lagi mengontrol wajahnya, bibirnya tidak sadar selalu menyungging senyum.
Ji Soon melirik Sora,
"Kamu sedang memikirkan apa?" Tanya Ji Soon tiba-tiba.
Sora terperanjat, "Apa? Oh..anu...aku tidak...aku tidak berpikir."
Jawab Sora grogi. Ji Soon tersenyum.
"Aku akan sering datang ke desa deukhaengbokdeurim sekarang. karena ayahku tidak mampu membagi waktunya lagi. Selain sibuk dengan usaha kami di Ilsan, ayah akan mengurusi ayahnya Na Ri. Jadi pertanian ayahku di desa ini, aku yang akan mengawasi."
Hati Sora melonjak senang, jadi dia akan sering bertemu dengan malaikat tampan ini!
"Wah...bagus sekali! Tapi apakah kamu mengerti tentang pertanian?"
"Aku adalah insinyur pertanian Sora."
"Oopps..ah...bagus sekali. Kamu menuruni bakat si pema...eh..maksudku pak Kwak."
Sora hampir saja keceplosan memanggil ayah Ji Soon dengan sebutan si pemarah.
"Siapa? Si pemarah?" Ji Soon tertawa melihat Sora yang tertangkap basah.
"Aiihh....maafkan akuuu.... dulu aku adalah musuh besar ayahmu! Dia selalu saja marah padaku. Bayangkan saat aku tidak menjahilinya pun dia selalu marah saat melihatku. Dia sangat galak! Tapi hanya padaku! Tidak pada kakakku... dia sangat tidak adil! Maafkan aku...."
Sora nyerocos membela dirinya.
Ji Soon tertawa melihat tingkah Sora yang lucu.
"Aku rasa dia sangat membenciku."
Sora menggerutu, Ji Soon tertawa makin keras.
"Ya! Kenapa kamu tertawa?!"
"Kamu sangat lucu saat menceritakan permusuhan kamu dengan ayahku."
"Aku....tidak menyangka dia punya anak seperti mu?"
Gumam Sora pelan.
"Seperti apa aku?" Ji Soon menoleh pada Sora, membuat Sora semakin gelagapan.
"Ya.... seperti kamu..... kamu sangat berbeda dengan ayahmu..." Sora memalingkan wajahnya, dia membenci mulutnya yang selalu tidak terkontrol.
"Mungkin aku mewarisi sifat ibuku...ibuku sangat pendiam tapi dia sangat manis."
"Aku belum pernah melihat ibumu...seperti apa dia?
"Umm... mungkin wajahnya seperti ku..."
"Oh pantas!" Sora spontan mengomentari perkataan Ji Soon, membuat Ji Soon kembali tergelak.
"Dia sudah pensiun, kesehatannya kurang baik akhir-akhir ini, jadi dia tidak bisa terlalu sering bepergian. Nanti aku akan ajak kamu menemui ibuku."
Hati Sora berbunga-bunga, mengajakku bertemu ibunya? Wow! Ibu Mertua! Tanpa sadar Sora tersenyum.
"Ibuku pasti suka bertemu dengan mu Sora, kamu gadis lucu dan sangat cerewet, pasti rumah akan ramai jika ada kamu! Selama ini rumah kami terlalu sepi."
Ji Soon menepikan mobilnya dipinggiran desa.
"Ah....apakah aku se ramai itu..."
Sora merasa salah tingkah.
"Tapi aku suka..." Jawab Ji Soon pasti.
"Apa?" Nyawa Sora melayang entah kemana mendengar perkataan Ji Soon. Ji Soon tersenyum manis sekali, melihat senyuman itu Sora merasa sudah berada di surga saat ini.
"Ayo kita pulang, ayahku pasti menunggu kita." Kata-kata Ji Soon menyadarkan Sora, Aihh! Surga tadi kemana? Teriak Sora dalam hati.
"Oh..i..iya ...ayo..."
Sesampainya dihalaman rumah keluarga Gorae, Ji Soon berbisik pada Sora, "Terimakasih Sora."
Yang Sora dengar 'Menikahlah denganku Sora' ... hanya mendapat bisikan lembut seperti itu Sora merasa tulang belulangnya tertinggal dipinggiran desa.
Sora hanya bisa mengangguk cepat, dengan wajah memerah dia berlari masuk ke dalam rumah.
Ji Soon menggeleng sambil tersenyum, aku suka kamu Sora! Bisiknya dalam hati.
Di dalam rumah, suasana sedikit serius. Na Ri selesai merekam suara ibunya dan mengirimkannya pada Gorae.
"Aku akan menghubungi Gorae besok. Dia perlu berbicara dengan dokter yang menangani Myung Ri saat ini. Aku merasa yakin ada hal yang salah yang menyebabkan Myung Ri kehilangan ingatannya."
Kwak Tae Rang berdiri setelah melihat anaknya kembali.
"Kamu akan tidur dimana malam ini pak Kwak?" Tanya Park Hilda.
"Aku akan menginap di Muju di rumah sepupuku, jadi besok aku bisa bertemu dengan dokternya Myung Ri."
"Pak Kwak, terimakasih anda sudah banyak berkorban untuk kami." Na Ri membungkuk hormat.
"Sudahlah nona Song, aku akan melakukan apapun demi sahabatku dan keluarganya....baiklah aku pamit."
Kwak Tae Rang dan Ji Soon pergi, diiringi jeritan Sora.
"Aaaaarrggghhh Naaa Riiiiii....!"
Semua orang menoleh kaget pada Sora, kecuali Na Ri.
"Ibu, ayo kita pulang!" Na Ri acuh tak acuh mengajak ibunya pulang.
Dia sudah menduga, Sora lupa menanyakan nomor telepon Ji Soon!
*
Yunna terbangun saat hidungnya mencium aroma roti bakar dan kopi disamping tempat tidurnya.
Aihh! Semalam kembali aku tidak kuasa menahan gejolak panas dari Jae Hyun. Tadi malam sangat luar biasa rasanya.
Seperti biasa Jae Hyun rutin menjemput dan mengantarnya setiap hari. Semalam Jae Hyun menciuminya saat berpamitan didepan pintu, tapi dia terhanyut dalam hasrat yang besar.
Jae Hyun mendorongnya masuk ke dalam rumahnya.
Dia sibuk membuka satu persatu pakaian Yunna dan Yunna pun dengan tergesa-gesa membuka ikat pinggang dan membuka resleting celana Jae Hyun, tangannya langsung menyelinap ke balik celana dalam Jae Hyun, lelaki itu mengerang ketika Yunna menarik keluar senjata andalannya.
Jae Hyun mengangkat Yunna dan mendudukannya di atas buffet dekat pintu keluar sambil tidak pernah melepaskan bibirnya dari bibir Yunna.
Mereka bercinta berkali-kali semalam. Setelah becinta di buffet kayu, Jae Hyun menggendong Yunna dan membaringkannya diatas tempat tidur.
Dua kali ledakan nikmat dari Jae Hyun membutuhkan waktu lebih dari dua jam! Jae Hyun benar-benar menaklukannya.
Yunna sangat kelelahan menghadapi gairah Jae Hyun hingga dia tertidur pulas dalam pelukan lelaki yang mampu membuatnya luluh.
Yunna melihat Jae Hyun tengah duduk membelakanginya, dia seperti sedang memeriksa sesuatu.
Yunna menyentuh punggung lelaki yang selalu membuatnya mencapai ******* berkali-kali.
Punggung yang lebar dan kuat, ada bekas cakaran kuku Yunna dipunggungnya.
"Sayang.."
Jae Hyun menoleh, "Kamu sudah bangun?"
Yunna mengganguk sambil tersenyum, tubuhnya masih lemas karena permainan panas semalam.
Jae Hyun mendekat, dia mengecup kening Yunna mesra.
"Kamu cantik sekali Yunna...aku sangat cinta kamu.." Bisik Jae Hyun.
Jemari Jae Hyun menyusup kedalam selimut yang menutupi tubuh polos Yunna.
Yunna mendesah saat jemari Jae Hyu memilin lembut ****** payudaranya.
"Ahh...Jae Hyun...jangan mulai lagi...aku harus bersiap-siap..." Yunna sedikit mendorong Jae Hyun.
"Ayo kita mandi berdua..." Bisik Jae Hyun.
"Tidak..tidak...aku harus tiba dirumah sakit satu jam lagi."
Jae Hyun menggendong Yunna ke kamar mandi. Yunna protes, tapi dia tidak sanggup menolak ciuman Jae Hyun.
Yunna mengerang saat Jae Hyun melakukan penetrasi.
Mereka bercinta dikamar mandi selama setengah jam setelah Jae Hyun mencengkeram pinggul Yunna tubuhnya bergetar hebat sambil mengerang keras.
"Aaaahh ...fff..uckkk..." Jae Hyun benar-benar tidak sanggup menghentikan gairahnya terhadap Yunna. Begitu juga Yunna.
Dia merasa sangat bahagia dengan segala perlakuan Jae Hyun padanya.
*
Setelah Yunna selesai berdandan untuk berangkat ke rumah sakit, Jae Hyun mendapat telepon dari sekretarisnya.
"Pak, anak perusahaan kita SubDop, melaporkan krisis intern mereka sudah tidak bisa ditanggulangi. Saham milik mereka akan dijual."
Jae Hyun mendengus, SubDrop sebagai perusahaan farmasi yang dulu dia beli sebagian sahamnya untuk menolong mereka bangkit dari kebangkrutan, sekarang malah akan menjual saham milik mereka pada orang lain.
"Bukankah kita sedang dalam proses pembersihan produk? Kita harus klarifikasi tentang pemalsuan yang terjadi pada produk mereka."
"Konflik internnya yang membuat mereka memutuskan untuk menjual saham milik mereka secara terbuka, karena menganggap pihak kita tidak bisa menangani krisis mereka..."
Moon Jae Hyun mengerutkan alisnya, "Adakan rapat komisaris dan pemegang saham siang ini. Semua harus hadir! Apakah kamu tahu siapa yang akan membeli saham mereka?"
"Menurut mereka penawaran tertinggi dari Seukai Group."
"Seukai Group?! Baiklah buatkan aku janji bertemu dengan pimpinannya! Ini tidak bisa dibiarkan!"
Yunna berdiri mematung dibelakang Jae Hyun. Seukai Group? Itu perusahaan raksasa milik kakeknya!
Ada apa dengan perusahaan kakeknya dan Jae Hyun?
Jae Hyun menutup teleponnya, wajahnya tampak gusar, tapi begitu melihat Yunna yang cantik, Jae Hyun tersenyum.
"Ayo, kamu sudah siap?"
Yunna mengangguk.
Didalam mobil Yunna dengan ragu bertanya pada Jae Hyun.
"Apakah ada masalah dengan perusahaan Seukai Group?" Tanya Yunna hati-hati.
"Hmm... ya, dari dulu mereka mengincar anak perusahaanku. Mereka mengacaukan pemasaran obat yang diproduksi anak perusahaanku itu."
Yunna terkejut tapi dia berusaha menutupinya.
"A..apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Yunna kemudian.
"Menyelamatkan anak perusahaanku. Seukai Group terlalu rakus."
"Maksudmu?" Tanya Yunna sedikit merasa terganggu.
"Seukai Group selalu mencoba menjegal setiap perusahaan yang mulai berkembang, membuat mereka bangkrut dengan menduplikat produk dan menjualnya murah, setelah itu mereka menawarkan merger dan mencaplok semua saham. Setelah itu pemilik lamanya akan ditendang dari perusahaan dan jatuh miskin!"
Yunna tidak percaya jika kakeknya begitu rakus seperti yang digambarkan Jae Hyun.
Selama ini, bagi Yunna dan keluarganya, kakeknya adalah orang yang sangat perhatian dan sangat menyayanginya. Dia adalah panutan Yunna selama ini.
Jae Hyun mencium kening Yunna ketika mereka akan berpisah di depan lobby rumah sakit.
"Aku mungkin tidak bisa menjemputmu malam ini...aku akan sangat sibuk, maafkan aku, ya?"
Yunna mengangguk, "Aku bisa pulang sendiri sayang.."
"Aku cinta kamu." Bisik Jae Hyun.
Yunna tersenyum, "Aku juga.."
Jae Hyun melangkah pergi menuju halaman parkir rumah sakit, saat bersamaan Gorae keluar dari mobilnya.
"Ah, Gorae, selamat pagi." Sapa Jae Hyun begitu melihat Gorae. Gorae mengangguk pada Jae Hyun.
"Selamat pagi."
"Aku permisi." Jae Hyun merasa Gorae belum bisa menerimanya sebagai teman, dan itu sangat bisa dimengerti, siapapun akan sangat terganggu bila harus berbicara dengan orang yang menjadi kekasih dari mantannya.
"Jae Hyun, aku mau menanyakan sesuatu padamu... apakah perusahaan farmasi milik perusahaan mu memproduksi obat stimulan untuk Narkolepsi? Apakah perusahaanmu memasok salah satunya?"
Jae Hyun berpikir sejenak, "Tidak, anak perusahaanku tidak memasok atau memproduksi obat stimulan."
Gorae mengerutkan alisnya, "Aku pernah meresepkan obat produksi anak perusahaanmu."
"Produk dari anak perusahaanku dipalsukan. Kami sedang bermasalah saat ini. Semua karena Seukai Group. Anak perusahaanku akan dibeli semua sahamnya."
Jae Hyun menjelaskan.
"Apa katamu? Seukai Group?"
"Ya... aku akan mengadakan rapat siang ini dengan seluruh pemegang saham untuk menyelamatkannya. Seukai Group sudah keterlaluan."
Gorae menahan nafasnya, Seukai Group yang menghancurkan keluarga Na Ri!
Gorae mendekati Jae Hyun,
"Jae Hyun, boleh aku bertanya hal lain?" Wajah Gorae terlihat serius.
"Tanyakanlah.."
"Apa maksud kamu mendekati Yunna?" Suara Gorae bergetar, ada perasaan khawatir dalam hati Gorae jika Jae Hyun memacari Yunna karena akan menghancurkan Seukai Group. Mungkin saja motivasi Jae Hyun adalah membalas dendam lewat Yunna!
Jae Hyun menatap Gorae keheranan,
"Mendekati Yunna? Dia kekasihku sekarang Gorae, kami saling mencintai....aku harap kamu bisa menerimanya."
Gorae mencengkeram leher baju Jae Hyun dan mendorongnya sampai punggung Jae Hyun menekan pintu mobil Gorae.
"Sekali lagi aku tanya, apa motif kamu menjadi kekasih Yunna?!"
Tatapan tajam mata Gorae seperti hendak memakan Jae Hyun hidup-hidup.
"Gorae, ada apa ini? Ada apa denganmu?! Aku bisa mengerti jika kamu sakit hati melihat Yunna menjadi kekasihku, tapi aku bertemu dengannya setelah kalian putus! Aku tidak merebut Yunna darimu! Aku sungguh tidak ingin membuat kamu terluka!"
Gorae menekan cengkeramannya kuat-kuat hingga Jae Hyun mulai merasa sulit bernafas.
"Kamu punya maksud untuk menyakitinya! Katakan! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Yunna!"
"Lepaskan aku!" Susah payah Jae Hyun mencoba melepaskan tangan kuat Gorae, tapi Gorae semakin memperketat cengkeramannya. Matanya berkilat-kilat menatap Jae Hyun. Wajah tampan Gorae merah padam.
"Seukai Group! Itu maksud kamu mendekati Yunna?! Hah?!" Bentak Gorae.
"Aku tidak mengerti..uff...lepaskan.." Jae Hyun semakin sulit bernafas.
Gorae akhirnya melepaskan cengkeramannya dileher baju Jae Hyun, Jae Hyun terbatuk-batuk dan berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen.
"Apa maksud kamu Gorae? Apa hubungan Seukai Group dengan Yunna?" Tanya Jae Hyun terengah-engah.
"Kamu sungguh tidak tahu?!" Tanya Gorae dengan nada yang masih keras.
Jae Hyun menggeleng, tampak wajahnya kebingungan.
"Pemilik Seukai adalah kakek Yunna, dan....jika kamu mendekati Yunna karena ingin menjatuhkan Seukai Group, dan kamu akan menyakitinya untuk balas dendam, kamu akan berhadapan denganku!"
Mata Jae Hyun terbelalak, wajahnya mendadak pucat.
Sekarang giliran Jae Hyun yang mencengkeram leher baju Gorae.
"Omong kosong macam apa ini? Kamu mau mati, hah?! Jangan mengarang cerita didepanku!" Bentak Jae Hyun marah.
Karena tubuh Gorae lebih tinggi dan lebih besar dari Jae Hyun, dengan mudah dia melepaskan cengkeraman tangan Jae Hyun dan mendorongnya.
"Jadi ...kamu tidak tahu?"
"Tidak! Aku sama sekali tidak tahu! Aku jatuh cinta pada Yunna dan diapun mencintaiku...aku bahkan sudah berkali-kali tidur dengannya! Karena aku tidak ingin main-main dengan gadis yang aku cintai!"
Teriak Jae Hyun marah.
Gorae terkesiap, cepat-cepat dia menutup mulut Jae Hyun, dia khawatir orang-orang di areal parkir akan mendengar teriakan Jae Hyun.
"Tutup mulut kamu, bodoh! Aku tidak peduli jika kamu sudah tidur dengannya! Tapi kecilkan suaramu! Kamu akan mempermalukan Yunna!"
Jae Hyun melepaskan tangan Gorae dari mulutnya, dia benar-benar terkejut mengetahui Yunna adalah cucu pemilik Seukai Group.
"Sebaliknya aku sekarang yang harus bertanya pada Yunna, apa maksudnya dia mau menjadi pacarku? Apakah kakeknya memanfaatkan dia untuk mencuri perusahaanku?!" Suara Jae Hyun penuh kemarahan.
Gorae menyandarkan punggungnya di pintu mobilnya menjajari Jae Hyun.
"Aku rasa Yunna tidak tahu apa-apa.." Gumam Gorae lemas, dia menoleh pada Jae Hyun yang sedang menatapnya.
"Maafkan aku Jae Hyun...aku sudah sangat kasar padamu.." Gorae merasa bersalah.
Jae Hyun menghela nafas, "Aku bisa menerima perlakuanmu Gorae."
Tangannya terulur untuk menjabat tangan Gorae.
Gorae kagum dengan kebesaran hati Jae Hyun yang mudah sekali memaafkan perlakuan kasarnya tadi.
Gorae menjabat tangan Jae Hyun.
"Gorae, aku sangat mencintai Yunna...baru kali ini aku jatuh cinta sangat dalam setelah kematian pacarku lebih dari sepuluh tahun lalu. Aku tidak akan pernah melukainya, kamu jangan khawatir.....tapi, mengapa kamu bereaksi sangat keras ketika aku menyebutkan Seukai Group?"
Jae Hyun membetulkan dasinya yang rusak oleh Gorae.
Gorae terdiam sejenak, dia berpikir, apakah dia bisa mempercayai Moon Jae Hyun?
"Seukai Group menghancurkan hidup satu keluarga yang dekat denganku...dan mencuri perusahaannya." Jawab Gorae kemudian.
"Ternyata benar, banyak perusahaan yang diambil alih secara licik oleh Seukai Group! Aku tidak akan membiarkan perusahaanku hancur oleh mereka. Aku sudah berjuang keras membesarkan perusahaanku."
Jae Hyun merasa bimbang tentang hubungannya dengan Yunna.
"Bagaimana dengan Yunna?" Tanya Gorae, ada nada khawatir dalam suara Gorae.
"Aku tidak tahu...tapi aku akan melindunginya." Jawab Jae Hyun pasti.
Gorae mengangguk, "Jika dia tahu, bagaimana ibunya melakukan malpraktek pada seseorang dan membuat dia kehilangan segalanya, membuat orang itu berpisah dari anak dan istrinya....aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Yunna."
"Maksudmu? Ibunya Yunna seorang dokter yang melakukan malpraktek?"
Gorae mengangguk, "Dia salah satu proffesor senior di rumah sakit ini. Demi menolong ayahnya, dia tega membuat orang itu kehilangan ingatannya dengan resep yang diberikannya."
Jae Hyun berdecak, "Gorae, apa yang akan kamu lakukan?"
"Mencari keadilan. Dia dan kakek Yunna sudah menghancurkan hidup orang lain. Aku harus mencari bukti-bukti."
"Apakah mereka keluargamu?" Tanya Jae Hyun merasa prihatin.
"Bukan, tapi sangat dekat dengan keluargaku..." Dan aku akan melakukan apapun demi Na Ri, Gorae berkata dalam hati.
"Aku akan membantumu Gorae....tanpa harus melukai Yunna, Yunna tidak harus tahu tentang hal ini." Jae Hyun menawarkan diri.
"Cepat atau lambat dia akan tahu, Jae Hyun. Kamu harus memikirkan perasaannya." Gorae mengingatkan.
"Kamu masih sangat peduli padanya Gorae..." Jae Hyun tersenyum maklum.
Gorae menatap Jae Hyun, "Bagaimanapun, dia pernah jadi bagian dari kebahagiaanku...aku hampir menikahinya. Aku sangat menghormatinya. Tapi dia tidak bahagia dengan ku." Jawab Gorae lirih.
Jae Hyun merasa malu, "Gorae, maafkan aku telah mengatakan aku sudah tidur dengannya... aku..."
"Benarkah?" Potong Gorae
".......iya....maafkan aku!"
Gorae menonjok pelan lengan Jae Hyun, "Gila! Aku belum pernah menyentuhnya sekalipun! Padahal aku sangat lama mengenalnya!" Gorae tersenyum pahit.
"Tapi....mungkin lelaki agresif seperti kamu yang dicari Yunna....aku mengaku kalah darimu Jae Hyun!" Gorae menambahkan.
Jae Hyun tersenyum, ada kebanggaan dalam dirinya bahwa dia lelaki pertama yang bisa menaklukan Yunna. Di sisi lain, dia sangat mengagumi sosok Gorae, dia adalah lelaki sejati yang sangat mampu menjaga diri dan menahan diri dari pesona gadis secantik Yunna.
"Aku sangat menghormatimu Gorae."
Jawab Jae Hyun tulus.
Gorae tersenyum, dia bersyukur Yunna mendapatkan lelaki baik penggantinya.
"Tolong jaga Yunna, hm?" Pinta Gorae.
"Aku janji, Gorae....jangan khawatir. Tapi, kamu benar, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya.....atau, mungkin sekarang dia sudah tahu."
Jae Hyun ingat dengan pertanyaan Yunna di mobil tadi.
"Maksud mu?"
"Tadi pagi, saat menunggu dia selesai berdandan, aku mendapat telepon dari sekretarisku, dan dia mendengar Seukai Group aku sebutkan tadi. Saat aku mengantarnya kemari, dia bertanya tentang masalah di perusahaanku. Aku menjelaskan tentang betapa rakusnya Seukai Group. Aiihh! Jika saja aku tahu dia cucu dari pemilik perusahaan rakus itu!" Jae Hyun menepuk jidatnya.
Gorae termenung sebentar,
"Berpura-puralah kamu tidak tahu dia cucu dari pemilik Seukai group. Kamu akan tahu jika dia benar-benar tidak tahu apapun tentang kejahatan kakek dan ibunya....atau mungkin juga dia memang sudah tahu dari awal....atau...dia akan mencari tahu darimu. Kamu akan melihat perlakuannya padamu."
Menunggu Yunna berdandan? Mungkinkah semalam Jae Hyun tidur dirumah Yunna? Kembali hati Gorae merasa sedikit tertusuk. Tapi cepat-cepat dia menepis pikirannya, dia berusaha fokus pada inti masalah sekarang ini.
"Aku akan berusaha yang terbaik." Jawab Jae Hyun mantap.
"Baiklah, sekali lagi maafkan aku, aku ada jadwal operasi hari ini."
"Tetap saling menghubungi ya, setiap ada perkembangan apapun. Aku akan memberitahu kamu."
Gorae mengangguk dan berlalu dari hadapan Jae Hyun. Jae Hyun masuk ke dalam mobil mewahnya.
Sesaat dia terdiam, memikirkan bagaimana nanti hubungannya dengan Yunna.
Dia sudah berjanji pada Yunna apapun yang terjadi dia tidak akan pernah melepaskan Yunna. Yunna adalah miliknya.
Jae Hyun melajukan mobilnya meninggalkan Rumah Sakit Hansung saat ini urusannya hanya dengan kakek Yunna!
*
Go Hanna berjalan menyusuri selasar penjara, malam ini gilirannya membersihkan setiap selasar penjara perempuan.
Seorang petugas penjara laki-laki berdiri dipintu besi yang memisahkan tiap sel. Lelaki itu melihat Go Hanna berjalan dengan tatapan nakal.
Dua kancing atas baju tahanannya dibiarkan terbuka, sehingga belahan dadanya terlihat jelas.
"1490! Rapikan baju mu!" Bentak petugas itu.
Hanna tersenyum, "Kenapa?" Tanya Hanna genit. Dia malah semakin melebarkan belahan bajunya. Membuat buah dadanya menyembul.
Dengan gaya menggoda, dia remas buah dadanya dihadapan petugas yang berumur sekitar tiga puluh lima tahun itu, membuat mata lelaki itu melebar melihat pemandangan indah didepannya. Berkali-kali dia menelan ludah.
Hanna mendekati petugas itu, dengan lembut dia berbisik.
"Sebelum mati....aku sangat ingin kamu meniduriku....aku sangat butuh belaian mu...kamu mau?"
"Jangan macam-macam kamu, atau aku masukan kamu ke ruang gelap!" Kata petugas itu galak.
Hanna tidak mempedulikan kata-kata petugas itu, tangannya dengan berani meremas alat vital petugas itu.
"Di ruang gelap....adalah tempat yang sempurna bermain cinta denganku." Bisik Hanna manja.
Petugas itu memejamkan mata menikmati remasan tangan Hanna ditengah selangkangannya.
Dia mulai mendesah ketika remasan tangan Hanna semakin kuat.
Hanna mendekatkan buah dadanya, dia tekankan ke dada petugas itu.
"Na...nanti CCTV akan menangkap gambar kita...ahh..." Petugas itu berusaha mendorong Hanna.
Hanna menyadari kecerobohannya. Dia tarik tangannya.
"Carilah cara agar kita bisa bercinta dengan bebas." Bisik Hanna, dia segera mengancingkan seragam tahanannya.
"Jangan gila kamu!" Bisik petugas itu berusaha mengendalikan kewarasannya.
"Kalau nanti aku mati, kamu akan menyesal tidak menikmati tubuhku dulu." Balas Hanna genit.
"Dan....punyamu cukup keras dan besar! Ah aku sangat ingin merasakannya." Goda Hanna sambil berlalu.
Petugas itu terlongong sendirian. Senjata vitalnya masih terasa menegang, dia berdoa semoga CCTV yang terpasang disudut selasar tidak menangkap gambar mereka tadi. Beruntung tadi dia berdiri di sisi buta, yang tidak akan tertangkap CCTV.
Pikiran petugas itu kacau. Hanna sangat menggoda dan sexy. Dia berkhayal, seandainya dia bisa bercinta dengan tahanan dengan hukuman mati itu sekali saja, atau berkali-kali....tentu hidupnya yang kesepian ini akan sangat menyenangkan.
Sepanjang malam otaknya bekerja keras mencari cara bagaimana bisa meniduri tahanan 1490 dengan leluasa!
Sementara Go Hanna tersenyum penuh kelicikan. Selain dia sudah lama tidak ditiduri laki-laki, dia sangat ketagihan untuk hal seperti itu, satu persatu dia akan taklukan semua petugas laki-laki di dalam penjara ini dengan tubuhnya.
Tujuannya satu, keluar dari tempat ini dengan mulus tanpa harus terluka...Dan membalaskan dendamnya pada Jung Na Ri dan Kang Gorae!
***