I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
My Defense



Yunna menghentikan mobilnya di depan rumah orang tuanya.


"Satu lagi yang ibu harus tahu, di acara Reality Show tadi, kita menonton Jung Na Ri, dia adalah putri dari Song Myung Ri!"


Ahn Sohyun tersentak kaget,


"Apa ini? Mengapa semua seperti berhubungan satu dengan yang lain?!"


"Aku tidak tahu apa maksud Jae Hyun menggunakan Na Ri sebagai bintang untuk mengiklankan produknya, aku masih harus mencari tahu soal ini."


"Perasaanku tidak enak... aku harus melakukan sesuatu." Ahn Sohyun tampak gelisah.


"Bu, tolong minta kakek untuk mengerahkan anak buahnya mencari dimana Song Myung Ri dan Nam Dongmin berada...mereka adalah saksi kunci." Yunna menatap ibunya.


"Ya, jika perlu....kita harus melenyapkan mereka!" Suara Ahn Sohyun sedikit meninggi.


"Ibu, pelankan suaramu! Nanti ayah dengar! Aku tidak ingin ibu atau kakek melakukan kejahatan lain untuk menutupi kejahatan masa lalu!" Bisik Yunna marah.


"Jika Nam Dongmin bersaksi dan Song Myung Ri ingatannya kembali, berarti tamat riwayatku dan kakekmu!" Tukas Ahn Sohyun.


"Bu...tolong jangan lakukan hal yang bodoh! Aku tidak akan memaafkan ibu atau kakek! Kita harus cari cara agar mereka tidak bersuara! Kalau perlu aku akan bersujud mohon ampunan pada mereka!" Yunna mulai merasa panik.


"Yunna! Jangan pernah menghinakan diri kamu untuk orang-orang yang tidak berguna! Jika sampai kamu lakukan itu aku akan menghabisi nyawaku sendiri!" Ahn Sohyun benar-benar marah dan tidak bisa menerima perkataan Yunna.


"Dengar, bujuk Jae Hyun agar segera menikahimu! Kalau perlu buat dirimu hamil! Aku akan menyumpal mulut Nam Dongmin dan melenyapkan Song Myung Ri! Lakukan apa kataku...semua akan baik-baik saja!"


Air mata Yunna mengalir, mungkin saja dia bisa mengandung anak Jae Hyun, tapi mendapatkan cinta Jae Hyun yang tulus rasanya tidak mungkin. Mendadak dirinya merasa sangat rendah dan murahan, ibunya bahkan tega mengatakan hal ini demi menyelamatkan dirinya dan kakeknya.


Inikah yang dirasakan Jung Bok Sil dulu? Demi menyelamatkan hidupnya, dia tega menjual tubuh Na Ri pada seorang sutradara?


Tiba-tiba Cha Deokyum muncul dari pintu depan, dia menghampiri mobil Yunna.


"Yunna sayang, kau kah itu?"


Yunna cepat-cepat menghapus airmatanya.


"Lakukan apa yang aku katakan. Aku tidak mau melihat anakku begitu lemah seperti ini! Ayo sapa ayahmu."


Ahn Sohyun berkata dengan nada mengancam, dia membuka pintu mobil dan keluar.


"Yeobo, aku baru saja akan masuk." Ahn Sohyun menyapa suaminya.


"Ayah, apa kabar?" Yunna memeluk Cha Deokyum yang tampak kebingungan dengan sikap aneh yang ditunjukan istri dan anaknya.


"Aku baik sayang, kenapa kamu tidak segera masuk? Aku mendengar mesin mobilmu menyala sangat lama didepan rumah."


"Ah...kami tadi membicarakan soal Jae Hyun, aku ingin Yunna segera mengenalkan Jae Hyun pada kita... Yeobo usia anak kita sudah cukup untuk menikah!" Ahn Sohyun menyela.


Cha Deokyum menatap wajah putrinya yang murung, dia merasa Yunna sedang mengalami hal yang membebani pikirannya.


"Kenapa tidak kita bicarakan bersama? Yunna sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya ayahnya khawatir.


Yunna menganggukndan mencoba tersenyum, "Aku baik-baik saja ayah...aku harus kembali ke apartemen ku, aku harus belajar."


Jawab Yunna pelan.


"Tidak apa...biarkan Yunna pulang, lagipula dia harus cepat-cepat selesaikan kuliah spesialisasinya. Kami sudah makan malam." Kembali Ahn Sohyun menyela.


Cha Deokyum merasa ada hal yang tidak beres, tapi akhirnya dia membiarkan Yunna pergi. Sementara Ahn Sohyun cepat-cepat menghilang masuk ke dalam rumah.


🚗


"Aaaahh....ya..uhh...terus hisap ******...terus hisapp...ahh..." Seorang petugas penjara sedang menikmati blow job dari Hanna, sementara posisi Yunna menungging dan satu orang petugas lain sedang menyodok Hanna dari belakang dengan keras, dua tangannya yang kekar meremas payudara Hanna, membuat gadis itu kewalahan.


Hanna berhasil menjerat dua orang petugas penjara lagi untuk melakukan threesome dengannya.


"Jangan berhenti....ahh...yeahhh...hisapp terusss..." Petugas yang mendapat blow job dari Hanna menjambak rambut Hanna lalu menekan kepala Hanna dalam-dalam, membuat Hanna tersedak dan berontak untuk mencari nafas.


Petugas yang lain tidak kalah garangnya, dia melakukan gerakan sangat cepat dan keras menyodok bagian kewanitaan Hanna dengan senjatanya. Tidak henti-hentinya mulutnya meracau menikmati tubuh Hanna.


Petugas yang satu mengerang dan meledakan cairan hangat disela-sela paha Hanna dan ambruk ke lantai, giliran petugas yang mendapat ******* dari Hanna membalikan tubuh Hanna dan menidurkannya dilantai yang dingin dan lembab.


"******! Ahh ahh...jika kami tahu kamu bisa kami tiduri kapan saja...kami akan menidurimu tiap hari!" Desah petugas itu sambil memompa tubuhnya diatas tubuh Hanna.


"Dengan satu syarat....biarkan aku bebas berkeliaran di penjara ini...aaahh"


Desah Hanna, otaknya bekerja walaupun tubuhnya tengah menikmati permainan kotornya.


"Apa maksudmu berkeliaran di penjara ini?!" Bentak satu petugas yang sudah selesai mengerjai Hanna, dia sibuk memakai kembali pakaiannya.


"Akuu...mmhh...aku akan menjalani hukuman...mati..ahh..ahh... yahh..yahh dorong yang kuat...aaaaahhh." Hanna tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena dia mencapai *******, diikuti erangan kuat dari petugas yang menindih tubuhnya.


"Huff...****** ini boleh juga!" Petugas itu bangkit dan segera memakai celananya.


Tubuh Hanna terasa lemas, tapi dia merasa sangat puas. Dia pun segera mengenakan pakaiannya.


"Aku akan dihukum mati, biarkan aku tidak terkurung sepanjang hari. Biarkan aku bebas berjalan-jalan tanpa harus menunggu giliran membersihkan seluruh koridor. Aku rela membersihkan koridor dan setiap ruangan di penjara ini setiap hari. Aku hanya tidak ingin merasa takut jika aku akan menghadapi hukuman mati." Hanna berkata sangat lembut dan menggoda.


"******! Jangan pernah kamu berpikir untuk mencari jalan keluar agar kamu bisa kabur, ya!" Bentak petugas yang tadi.


"Aihh..bagaimana aku bisa kabur? Aku tidak akan sanggup meninggalkan lelaki-lelaki perkasa seperti kalian. Kalian penghiburku saat aku takut dan sedih." Rayu Hanna, wajahnya dibuat memelas.


Dua petugas itu tersenyum, mereka menciumi Hanna bergantian sambil sesekali meremas payudaranya.


"Aku akan bicarakan hal ini dengan ibu kepala sipir. Baik-baik lah kamu pada semua petugas, terutama ibu kepala! Kamu akan dapat keleluasaan itu.....dan kamu akan bisa menikmati hari-hari bersama semua petugas laki-laki disini!"


Kata salah satu petugas itu sambil meremas payudara Hanna.


Hanna tersenyum bahagia, "Baiklah...aku akan bebas tidur dengan kalian semua..aku tidak akan merasa takut biarpun aku harus menghadapi kematian sekalipun....karena kalian aku bahagia dan puas...."


"Keluarlah!" Perintah satu petugas yang sudah rapi berpakaian.


"Terimakasih sayang sayangku.."


Dalam hati Hanna bersorak gembira, sabarlah Hanna, sebentar lagi  kamu akan keluar dari neraka ini dengan aman....dan kamu akan membalas sakit hatimu pada Jung Na Ri dan Kang Gorae!


🏤


Gorae baru saja sampai di rumahnya yang mungil dan berganti pakaian saat dia mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Gorae mengerutkan keningnya, hampir tidak pernah ada yang bertamu padanya selama ini. Apalagi di tengah malam!


Gorae mengintip dari cermin pengintai, dia melihat Yunna sedang berdiri menunggu Gorae membuka pintu.


Sejenak Gorae merasa ragu, apakah dia harus membuka pintu atau membiarkan Yunna pergi.


Kembali bel pintunya berbunyi, setelah mengambil nafas dalam-dalam, Gorae membuka pintu.


Wajah Yunna terlihat sembab dan sedikit pucat.


"Yunna...ada apa kamu datang kesini?" Tanya Gorae sedikit khawatir.


"Aku.....aku sangat takut Gorae..." Yunna berkata pelan.


Setelah meninggalkan rumah orang tuanya Yunna merasa benar-benar kacau. Di satu sisi dia sangat ingin melindungi keluarganya, di sisi lain, dia merasa tidak sanggup untuk membiarkan ibu dan kakeknya melakukan tindakan lebih buruk pada Song Myung Ri atau Nam Dongmin untuk menutupi kejahatan masa lalunya.


Yunna pun merasa akan sia-sia meminta Jae Hyun untuk menikahinya. Setelah kejadian di kantor Jae Hyun, Yunna merasa Jae Hyun sudah berbeda, dia tidak merasakan cinta Jae Hyun lagi.


Jae Hyun sangat marah padanya.


Dan semua.....semua orang yang dicintainyanya selalu berpaling pada Jung Na Ri!


Bahkan sekarang Yunna merasa, masalah keluarganya terjadi disebabkan oleh keluarga Na Ri.


Yunna merasa tidak sanggup menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, dia tidak sanggup membayangkan jika sampai kakek dan ibunya dipenjara.


Bagaimana dengan karirnya? Orang-orang akan menuding dia menjadi dokter karena ibu dan ayahnya membantunya, karena keluarganya kaya raya dan kekayaan itu dari hasil kejahatan kakek dan ibunya!


Dia akan sangat malu seumur hidupnya! Bagaimana mungkin Jae Hyun akan menikahinya? Dia mungkin saja sudah tahu semua, mungkin itulah sebabnya dia memilih Na Ri menjadi bintang untuk iklannya.....untuk melawan kakeknya dan melawan ibunya.


Yunna merasa sangat bodoh, sangat malu, sangat kalut sekarang ini. Sambil menyetir mobil Yunna menangis sejadi-jadinya.


Tanpa sadar mobilnya sudah terparkir didepan rumah Gorae.


Sejenak dia ragu apakah dia harus turun menemui Gorae atau pergi saja.


Dia melihat mobil Gorae memasuki garasi rumahnya. Tubuhnya yang tinggi melangkah cepat memasuki rumahnya.


Yunna memutuskan menemui Gorae, dia tahu Gorae adalah orang yang paling mengerti dan lembut hati. Dimana dia bisa merasakan ketenangan jika bersama Gorae.


Yunna juga ingin mencari tahu tentang sejauh mana Gorae terlibat dalam urusan Na Ri, juga masalah Jae Hyun.


Gorae menatap Yunna dengan bingung,


"Kamu baik-baik saja?" Gorae sedikit kikuk.


"Aku ...entahlah...boleh aku masuk?" Yunna setengah memohon. Gorae dengan kikuk mempersilahkan Yunna masuk.


Yunna duduk di sofa dengan wajah muram. Gorae memberinya secangkir teh hangat.


"Ada apa?" Suara Gorae terdengar khawatir.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana..."


Gorae menghela nafas, dia tidak mau menduga-duga. Dia prihatin melihat keadaan Yunna sekarang, bagaimanapun Yunna adalah mantan kekasihnya, tapi instingnya mengatakan padanya untuk berhati-hati.


"Baiklah. Kamu sudah makan?"


Yunna mengangguk. Gorae mengatupkan bibirnya, dia akan menunggu Yunna mengatakan apa yang terjadi padanya.


"Gorae.... aku sangat takut akan segala hal..." Yunna menatap Gorae dengan wajah sedih.


Gorae mengangkat alisnya, Yunna tahu Gorae menunggunya melanjutkan perkataannya. Hati Yunna bergetar, bahkan Gorae yang sekarang terlihat sangat agung dan berwibawa, dia merasa sangat rendah di bawah sorot mata Gorae yang lembut.


"Ah....sebaiknya aku pergi....maafkan aku sudah mengganggu mu." Yunna bangkit dari duduknya.


"Aku tahu kamu tidak baik-baik saja Yunna. Bagaimana pun aku akan khawatir jika sesuatu terjadi dengan mu. Apa sebaiknya aku telepon Jae Hyun agar menemuimu?"  Gorae menawarkan sedikit bantuannya.


"Tidak! Jangan! Aku yakin Jae Hyun tidak akan peduli." Yunna berjalan menuju pintu.


"Apakah hubungan kalian baik-baik saja?" Walaupun Gorae tahu dari Jae Hyun bahwa hubungannya dengan Yunna tidak berjalan lancar, terutama setelah Jae Hyun mengetahui Yunna adalah cucu Ahn Cheol Yong pemilik Seukai Group, tapi tetap saja Gorae bertanya, dia mencoba untuk memahami apa yang terjadi pada Yunna.


Yunna menghentikan langkahnya, dia berbalik.


"Aku rasa Jae Hyun tidak mencintaiku..." Jawab Yunna lirih.


"Apalagi.....setelah Na Ri bertemu Jae Hyun. Dia berubah. Aku bertanya-tanya mengapa Na Ri selalu mengganggu hidupku?"


"Dia tidak pernah mengganggu siapapun Yunna. Kamu selalu hidup dengan prasangka kamu." Nada suara Gorae tidak senang saat Yunna mulai membahas Na Ri.


Yunna mengangguk, "Bahkan, kamu rela kehilanganku demi Na Ri." Yunna bergumam pelan.


"Jika masalah yang kamu hadapi sekarang adalah soal perasaan mu tentang Na Ri, rasanya kamu salah jika datang ke rumahku." Gorae berkata tegas.


"Gorae, aku juga tidak tahu mengapa aku sampai datang kesini. Aku sangat takut dan bingung. Semua masalahku selalu bersumber dari Na Ri dan ayahnya!" Yunna tiba-tiba terdiam, dia kelepasan bicara.


"Apa? Apa maksud kamu? Na Ri dan ayahnya?" Sinyal-sinyal tanda bahaya berbunyi dikepala Gorae.


"Aku sebaiknya pergi." Yunna berbalik, Gorae segera memegang tangan Yunna.


"Tunggu! Kamu belum menjawabku!"


"Lepaskan aku Gorae, aku harus pulang!" Bentak Yunna, tapi Gorae semakin kuat memegangi tangan Yunna.


"Jawab aku Yunna!"


"Tidak! Lepaskan aku!"


Gorae menjadi geram dengan tingkah Yunna yang bermain teka-teki dengannya.


"Aku tidak akan melepaskan tanganmu jika kamu tidak menjawabku! Apa maksud kamu dengan Na Ri dan ayahnya?"


Sia-sia Yunna berusaha memberontak, genggaman tangan Gorae terlalu kuat.


"Na Ri, ratu drama itu membawa bencana dalam hidupku! Dan....ayahnya adalah ancaman bagi keluargaku!" Yunna terisak.


Gorae menyipitkan matanya. Jadi benar, Yunna sudah tahu.


"Kamu menelepon bu Jung, benar? Kamu mendengar penuturan Bu Jung tentang suaminya dan....tentang malpraktek yang dilakukan ibumu, iya kan?"


Yunna mengangguk seketika tangisnya pecah.


"Aku...aku sangat takut Gorae...aku takut kehilangan semuanya...aku juga takut kehilangan Jae Hyun."


Gorae melepaskan genggaman tangannya. Gorae penasaran apakah Yunna juga yang memberitahu kakeknya untuk memperketat pengamanan di Seukai Group sehingga Jae Hyun harus menarik mundur anak buahnya dalam mencari bukti.


"Apa yang kamu tahu Yunna? Apa yang kamu tahu tentang ayah Na Ri...juga Jae Hyun?"


Yunna terisak, dia merasa sudah masuk ke kandang macan yang siap menerkamnya. Dia sadar, Gorae tentu akan berdiri berseberangan dengannya. Gorae selalu akan berdiri di sisi yang baik, dia akan memperjuangkan sebuah kebenaran bagaimanapun caranya dan apapun resikonya.


Sedangkan dia? Dia berdiri di garis yang sangat abu-abu. Semua terasa membingungkannya.


"Yunna, jawab aku!" Gorae mulai tidak sabar.


Yunna masih terisak, dia menggelengkan kepalanya agar Gorae berhenti mendesaknya.


"Hmm...baiklah. Sebenarnya tidak penting jika kamu tahu atau pun tidak. Karena ini bukan masalahmu! Karena akan ada waktunya semua orang mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah dilakukan."


Gorae berkata sangat tenang.


"Aku tahu semua....aku tahu tentang ibuku...tentang Seukai Group, perusahaan ayah Na Ri dan perusahaan Jae Hyun." Ditengah isaknya Yunna akhirnya mengaku.


"Aku tidak akan bertanya apa yang akan kamu lakukan Yunna. Aku sekarang memahami perasaanmu. Tapi kamu tidak berhak menuduh Na Ri dan ayahnya penyebab masalah dalam hidupmu."


Yunna merasa lemas, kepalanya terasa sangat pening.


"Lalu apakah aku boleh tahu apa yang akan kamu, Jae Hyun dan Na Ri lakukan?"


Gorae menatap Yunna tajam, dia tidak mengerti apakah Yunna ini bodoh atau apa - pertanyaan yang paling bodoh yang pernah Gorae dengar dari Yunna.


"Yunna, apapun yang akan aku lakukan, aku rasa kamu tidak berhak untuk tahu. Mengenai Jae Hyun, aku bukan kekasihnya...kamu harus tanyakan sendiri padanya. Dan Na Ri, dia memilih caranya sendiri untuk membela keluarganya."


"Gorae...apakah sekarang kamu menganggapku sebagai orang jahat? Apakah karena Na Ri, kamu sekarang menganggapku sebagai musuhmu? Kamu tidak tahu bagaimana aku hancur melihat kamu begitu peduli padanya? Apakah kamu tidak bisa melihat bahwa dia dan keluarganya sangat mempengaruhi kamu? Dan....dan sekarang dia akan mengambil Jae Hyun dariku!"


Yunna kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan betapa dia sangat membenci Na Ri.


Gorae menatap Yunna tidak percaya,


"Yunna...jika kamu sudah tahu semua, tidak kah kamu menyadari sesuatu? Pernahkah kamu berpikir justru semua ini terjadi karena keserakahan kakek dan ibu mu. Mereka mencelakai Song Myung Ri, merebut perusahaannya dan membuat keluarganya berantakan!


"Hentikan Gorae!" Jerit Yunna marah bercampur sedih.


"Sadarilah Yunna, sebelum semua terlambat dan menjadi racun dalam hidupmu!"


Yunna menutup kedua telingganya, airmatanya bercucuran. Hati dan kepalanya sekarang terpecah. Garis abu-abu yang dipijaknya makin melebar dan suram. Dia terbelit oleh perasaan-perasaan yang sangat dibencinya. Sulit sekali melihat hal yang benar sekarang.


Gorae menghela nafas. Dia sangat berharap Yunna sedikit saja mengerti dan menerima semua hal ini dengan hati yang jernih. Jauh dilubuk hatinya dia sangat tidak tega melihat mantan kekasihnya menangis seperti ini.


"Gorae....apakah....apakah Jae Hyun tahu aku adalah cucu pemilik Seukai Group?" Tanya Yunna kemudian.


Gorae mengangguk, "Awalnya, dia sama sekali tidak tahu....dia sangat mencintaimu Yunna. Dia tahu setelah beberapa bulan berpacaran denganmu."


Yunna menengadah, untuk menahan tangisnya. Hancur sudah harapan dia untuk bisa membujuk Jae Hyun agar menikahinya.


"Aku tidak tahu, jika Jae Hyun mempunyai masalah dengan kakekku...aku merasa sekarang semua sudah berakhir."


Yunna menyeret langkahnya menuju pintu. Dia tidak mampu lagi memikirkan apapun. Rasanya hidupnya sudah hancur saat ini. Atau, tinggal menunggu bom waktu akan meledak. Dan, rasanya sangat menakutkan.


"Yunna... biar aku antar kamu pulang." Tawar Gorae, dia khawatir Yunna akan melakukan hal bodoh.


Yunna menggeleng, "Aku bisa pulang sendiri." Yunna berkata pelan.


Gorae mengambil kunci mobilnya, dia tidak akan membiarkan Yunna pulang sendiri.


"Biarkan aku mengantarmu pulang. Besok mobilmu aku antar ke rumah sakit."


Pandangan Yunna mengabur, kepalanya seperti berputar, semua tiba-tiba dirasa gelap. Yunna ambruk didepan pintu rumah Gorae.


"Yunna!"


Gorae berlari menghampiri Yunna, dia segera memeriksa denyut nadinya, sangat lemah.


Dengan sigap Gorae segera menggendong Yunna dan menidurkannya di dalam mobilnya.


Gorae melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dia membawa Yunna menuju rumah sakit terdekat, Gorae tidak ingin membawa Yunna ke rumah sakit Hansung, karena pasti akan menjadi gunjingan dikalangan dokter dan perawat disana.


Gorae merasa kasihan pada Yunna, pastinya Yunna sangat depresi sekarang.


Gorae menunggui Yunna di rumah sakit. Dia mengirimkan pesan pada Jae Hyun, Gorae memberitahu jika Yunna sedang dirawat saat ini.


"Jae Hyun, aku sedang menunggui Yunna di rumah sakit Shinwa. Bisa kamu datang?"


Jae Hyun menggosok matanya begitu mendengar bunyi pesan di handphonenya. Rasanya barusan saja dia tertidur.


Begitu membaca pesan Gorae, Jae Hyun bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Yunna dan Gorae?


"Baik aku segera datang."


Setengah jam kemudian Jae Hyun datang. Dia melihat Gorae tengah berbicara ditelepon di depan kamar tempat Yunna dirawat.


Begitu melihat Jae Hyun datang, Gorae mengangguk pada Jae Hyun,


"Baik Proffesor, aku akan menemui anda besok."


Gorae memutus sambungan teleponnya.


"Ada apa dengan Yunna?" Tanya Jae Hyun sebelum dia masuk ke kamar Yunna.


Gorae menceritakan kedatangan Yunna ke rumahnya, sampai Yunna tiba-tiba jatuh pingsan.


Jae Hyun batal masuk ke kamar Yunna, dia duduk lemas disamping Gorae.


"Aku sekarang tidak yakin dengan perasaanku pada Yunna. Bukan karena dia cucu dari Ahn Cheol Yong saja, tapi lebih pada perilakunya yang luar biasa possesive dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Dia sangat meledak-ledak, emosinya sulit dikendalikan." Jae Hyun meremas rambutnya.


"Dia sangat takut kehilanganmu Jae Hyun, dia merasa kamu tidak lagi mencintainya." Gorae menyandarkan punggungnya ke tembok.


Di satu sisi dia sangat kasihan dengan Yunna, tapi disisi lain apa yang dikatakan Jae Hyun sangat benar.


"Temuilah dia dulu, dia sangat tertekan dan sedih."


Gorae menepuk bahu Jae Hyun.


"Gorae, jika aku menemuinya, dia akan berpikir aku masih menginginkan hubunganku dengannya kembali seperti dulu. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku sekarang ini. Aku baru sadar, ternyata hubunganku dengan dia hanya bisa bercinta saja, tapi tidak ada perasaan yang mengikat secara emosi atau pengertian yang dalam. Aku sangat tidak sejalan dengan Yunna."


Jae Hyun berharap Gorae mengerti.


Gorae mengangguk,


"Pada akhirnya sebaik apapun pilihan kita, semua akan kembali pada karakter dan kepribadiannya.


Dan rasa nyaman harus dirasakan tanpa tekanan dan keterpaksaan. Tidak ada yang harus menderita disini."


"Aku juga tidak ingin menyakiti Yunna. Tapi aku tidak bisa memaksakan diri menerima perlakuannya." Timpal Jae Hyun.


"Mungkin, kamu harus tegas Jae Hyun. Jangan gantung hubungan kalian. Aku tahu, kamu akan melakukan hal yang juga disukai Yunna jika kalian bertemu....satu hal yang harus kamu waspadai, bagaimana jika Yunna akhirnya hamil? Apakah kamu siap menikahinya?"


Perkataan Gorae membuat jantung Jae Hyun meloncat dari tempatnya. Betul! Dia sangat ceroboh dan bodoh selama ini. Bagaimanapun Yunna sangat cantik dan menarik, dan sangat mudah menyerah! Kelemahannya adalah tidak sanggup menahan diri dihadapan Yunna!


"Hufff....jika saja....dia bukan cucu Ahn Cheol Yong dan anak Ahn Sohyun! Jika saja dia gadis yang sedikit saja mau mengerti dan tidak terlalu possesive....aku pasti akan menikahinya!"


Gorae meluruskan kakinya, dia menghela nafas panjang. Badan dan pikirannya sangat letih sekarang ini.


Diakuinya, ada perasaan lega seakan terbebas dari rantai kecil yang mengikat hatinya selama ini.


Sekarang dia bisa bersyukur Yunna meninggalkannya. Rasa sakit hatinya telah benar-benar sembuh sekarang.


"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Yunna. Terlebih, dia sudah tahu semua, tentu tidak akan mudah."


Jae Hyun berdiri, dia melihat Gorae terlihat sangat mengantuk.


"Kamu tidak menghubungi keluarganya?" Tanya Jae Hyun.


"Sudah. Tidak ada yang mengangkat telepon dariku...mungkin mereka sudah tidur. Aku sudah meninggalkan pesan." Gorae mulai menguap.


"Jadi, kamu akan menunggui Yunna?" Tanya Jae Hyun, dia merasa tidak enak pada Gorae.


"Sampai keluarganya datang...mungkin besok. Tadi Yunna siuman, tidak ada tanda vital yang mengkhawatirkan, dia mungkin sudah tidur sekarang."


Kembali Gorae menguap. Matanya terasa sangat berat.


"Aihh...baiklah. Aku temani kamu disini." Jae Hyun kembali duduk.


"Ayo kita tunggu didalam. Sebentar lagi pagi. Aku ada jadwal operasi besok, setidaknya aku harus tidur sebentar." Ajak Gorae.


Jae Hyun terpaksa masuk ke kamar rawat Yunna. Dia melihat Yunna sedang tertidur, nafasnya teratur.


Gorae langsung memburu sofa dan membaringkan tubuhnya yang letih. Dia langsung tertidur pulas.


Jae Hyun memandangi Gorae, lelaki ini benar-benar sahabat yang sangat baik. Dia selalu rela berkoban untuk siapapun, dan dia adalah orang yang sangat bisa dipercaya.


Jae Hyun bersyukur bertemu Gorae yang sudah menyelamatkan nyawanya dan selalu ada untuknya.


Jae Hyun duduk di sofa single, rasa kantuknya sudah hilang. Pikirannya berkecamuk. Dia bertanya-tanya, benarkah begitu cepat rasa cintanya hilang untuk Yunna?


Bahkan melihat Yunna terbaring lemah seperti ini, rasanya tidak sedikitpun keinginannya untuk mendekati tempat tidur Yunna.


Yang ada dipikiran Jae Hyun saat ini hanya berfokus pada pengumpulan bukti yang lebih akurat untuk menumbangkan Seukai Group yang sangat licik dan merugikan banyak orang.


Yunna membalikan badannya, sesaat kemudian dia membuka matanya perlahan. Dia melihat Jae Hyun sedang duduk, matanya menatap layar handphone dan Gorae tertidur pulas di sofa.


Yunna tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dua lelaki yang sangat dicintainya menungguinya di rumah sakit.


Dengan suara parau Yunna memanggil Jae Hyun, "Jae Hyun...."


Jae Hyun mendongak, dia melihat Yunna terbangun.


"Ah, kamu sudah bangun. Bagaimana perasaanmu sekarang?"


Mau tidak mau Jae Hyun bangkit mendekati Yunna.


"Aku sudah merasa baikan... Gorae yang memanggil kamu?" Tanya Yunna pelan.


"Iya, dia bilang kamu pingsan di rumahnya." Jae Hyun memandangi wajah Yunna yang masih sedikit pucat.


Yunna menebak-nebak, apakah Gorae menceritakan kedatangannya dan semua pembicaraannya tadi.


"Aku.... tidak tahu kenapa aku harus datang ke rumah Gorae..." Yunna mencoba menjelaskan.


Jae Hyun mengangguk.


"Tidak apa-apa. Gorae adalah sahabat yang baik." Jae Hyun mencoba tersenyum.


"Mungkin.....kamu sudah tahu semua Jae Hyun...." Yunna menatap Jae Hyun, wajahnya terlihat sedih.


"Ya...aku sudah tahu semua."


Suara Jae Hyun pelan, dia melihat Yunna, dia tampak sangat rapuh.


Yunna terlihat sangat kalut, dia merasa sangat sulit untuk berdiri disebelah mana. Semua terasa sangat membingungkannya.


"Kamu pasti sangat benci padaku sekarang."


Jae Hyun menghela nafas,


"Tidak, aku tidak pernah membencimu. Aku hanya merasa semua yang terjadi diantara kita adalah hal yang salah. Aku minta maaf.."


"Kamu akan meninggalkanku? Karena aku cucu dari Ahn Cheol Yong?" Suara Yunna bergetar.


"Yunna sebaiknya kamu tidak memikirkan apapun sekarang. Kamu harus pulih agar bisa berpikir jernih." Jae Hyun tidak ingin menambah beban bagi Yunna.


"Jae Hyun...aku rasa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Benar kan? Kamu sudah melupakan semua yang sudah kita lakukan....aku tidak ada arti apapun buatmu..." Yunna menahan airmatanya.


"Yunna, kita akan bicarakan masalah ini setelah kamu sehat, ok?" Jawab Jae Hyun pelan, dia tahu Yunna akan terus mendesaknya.


"Tidak. Katakan sekarang! Kamu datang, karena kamu masih peduli padaku. Katakan apa yang akan kamu lakukan dengan hubungan kita."


Yunna memegangi tangan Jae Hyun.


"Aku khawatir denganmu Yunna. Itu hal yang berbeda dengan hubungan kita. Tolong, jangan bahas itu sekarang. Kamu harus istirahat."


Yunna mulai menangis, dia benar-benar kehilangan harapannya. Jae Hyun begitu dingin dan terasa jauh untuk diraihnya kembali.


"Ssshhh...jangan menangis Yunna...maafkan aku..." Bujuk Jae Hyun. Yunna menggelengkan kepalanya, tangisnya makin menjadi, membuat Gorae terbangun.


Dengan refleks dia bangkit dari tidurnya, "Ada apa? Apa yang kamu rasakan?"


Gorae menggosok matanya menghampiri tempat tidur Yunna.


Jae Hyun menggeleng memberi kode pada Gorae untuk pergi.


Gorae mengerti, dia segera mengambil jaketnya.


"Baiklah aku harus pulang sekarang, sebentar lagi aku ada jadwal operasi. Yunna, cepat pulih ya! Jae Hyun, tolong jaga Yunna."


"Tidak Gorae, jangan pergi." Ditengah isaknya Yunna menahan Gorae untuk tidak meninggalkannya.


Gorae terpaku, dia masih sangat mengantuk dan bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi melihat tatapan Jae Hyun, Gorae merasa tidak berhak berada diantara mereka.


"Maafkan aku. Tapi aku harus pulang." Tanpa menunggu kata-kata Yunna atau Jae Hyun, Gorae melangkah pergi.


"Jae Hyun, seandainya aku bukan cucu Ahn Cheol Yong, apa kamu masih mau menjadi kekasihku?" Yunna berusaha menguasai dirinya, dia harus mendapat kepastian tentang hubungannya dengan Jae Hyun.


Jae Hyun memandang Yunna lama, saat ini dia merasa benar-benar serba salah. Dia sendiri sangat tidak yakin dengan perasaannya pada Yunna saat ini.


"Yunna....aku...."


"Kamu sudah tidak mencintaiku....aku tahu, aku tahu kamu sudah mencintai perempuan lain." Potong Yunna.


Jae Hyun mengerutkan alisnya,


"Apa maksud kamu?"


"Jung Na Ri, dia yang kamu cintai sekarang..."


"Yunna! Sudahlah, tidak ada gunanya kita membahas hubungan kita ini. Sikap kamu seperti inilah yang membuatku sangat muak!" Jae Hyun terpancing emosinya.


"Kamu tidak mau mengakuinya Jae Hyun." Yunna benar-benar merasa hancur.


"Apa yang harus aku akui? Jung Na Ri? Kenapa dengan dia? Kenapa kamu tidak mencurigai semua perempuan yang bekerja dengan ku? Dengar, kamu masih sangat lemah Yunna, kamu tidak bisa berpikir jernih. Tidurlah."


Jae Hyun menjauh dari tempat tidur  Yunna.


"Lalu, mengapa kamu mempekerjakannya sebagai bintang iklan terselubung untuk anak perusahaan kamu?" Susul Yunna penuh rasa cemburu.


Jae Hyun tercekat, darimana dia tahu jika iklan yang diperankan oleh Na Ri adalah produk dari anak perusahaannya?


"Haruskah aku menjelaskan urusanku padamu? Begitu besar rasa ingin mengontrolku Yunna? Kakekmu khawatir dengan cara ku menyelamatkan perusahaanku?"


Yunna terdiam, Jae Hyun menatap Yunna dengan tajam.


"Aku tadinya ingin membicarakan hubungan kita saat kamu sudah pulih, bagaimanapun kita telah melakukan hal yang sangat jauh. Tapi sekarang, aku tahu dimana posisimu. Kita sangat berseberangan Yunna....Maafkan aku, kita sudahi hubungan kita sekarang."


Perkataan Jae Hyun mencabik perasaan Yunna. Dia benar-benar merasa hancur.


"Jae Hyun....tolong jangan perlakukan aku seperti ini....kita sudah melakukan hal-hal yang luar biasa dan kamu sangat mudah meninggalkanku... aku sangat mencintaimu!" Yunna kembali menangis, kepalanya terasa sangat berat.


"Maafkan aku Yunna, jika kita teruskan hubungan ini, kita akan terus saling menyakiti. Maafkan aku dengan semua hal yang telah kita lewati." Jae Hyun menguatkan hatinya. Dia sama sekali tidak ingin menyakiti Yunna seperti ini.


Yunna terisak, dia memiringkan badannya memunggungi Jae Hyun.


"Pergilah..." Yunna menyembunyikan wajahnya, tubuhnya berguncang karena isaknya.


"Yunna...maafkan aku..."


Disaat bersamaan pintu kamar Yunna terbuka, Cha Deokyum dan Ahn Sohyun masuk.


"Yunna...Yunna sayang, apa yang terjadi denganmu?" Ahn Sohyun berlari menghampiri tempat tidur Yunna.


Jae Hyun menebak mereka kedua orang tua Yunna. Dia segera mengangguk dan pergi.


Cha Deokyum hanya bisa melihat Jae Hyun pergi tanpa bisa bertanya apapun.


🏥🕝😷