I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Winter Snow



Moon Jae Hyun melangkah menuju lobi Rumah Sakit, dia sudah membuat janji dengan Yunna untuk makan malam. Sudah lebih dari dua bulan ini pertemuan mereka semakin intens.


Dia benar-benar menyukai Yunna. Dokter cantik ini selain sangat cerdas, dia juga teman bicara yang menyenangkan.


Moon Jae Hyun ingin melanjutkan hubungannya dengan Yunna lebih dari sekedar teman, tapi Yunna seperti merpati yang kadang sangat jinak, tapi saat dia ingin menangkapnya burung merpati itu akan terbang.


Yunna menghampiri Moon Jae Hyun,


Wajahnya berseri-seri, Yunna mengakui lelaki tampan ini sangat menyenangkan, dia selalu terang-terangan mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Rasanya ada debaran aneh didadanya setiap berdekatan dengan Moon Jae Hyun.


Yunna merasa Moon Jae Hyun menyukainya, ada perasaan tidak biasa, yang sedikit membuatnya cemas tapi membuat hatinya seperti melonjak-lonjak.


Dia terbiasa dengan perlakuan lembut dari Gorae, sedangkan perlakuan Moon Jae Hyun sangat jauh berbeda. Moon Jae Hyun akan sangat berani menatap wajahnya lekat-lekat dari jarak yang sangat dekat.


Membelai rambutnya atau tiba-tiba menggenggam tangannya erat.


Yunna akan sangat merasa canggung dan malu, karena mereka baru dua bulan saling mengenal. Hal seperti ini dilakukan Gorae setelah mereka berbulan-bulan berpacaran, padahal mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun.


Yunna takut jika Moon Jae Hyun akan menganggapnya gampangan. Padahal jauh dilubuk hatinya Yunna begitu menyukai perlakuan agresifnya.


Dia merasa melayang tinggi dan tak sanggup bernafas menerima setiap sentuhan, genggaman, kedipan mata, dan senyuman menggoda yang tiba-tiba.


Moon Jae Hyun terbilang sangat berani dan hangat...tidak, panas!


Yunna berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak ikut terhanyut dalam alunan permainan panas Moon Jae Hyun. Meskipun ini akhirnya menjadi tantangan buat dirinya.


"Ah, seperti biasa kamu sangat cantik." Tiba-tiba Jae Hyun berbisik ditelinga Yunna, nafas hangat Jae Hyun sangat terasa sampai ke lehernya.


Wajah Yunna memerah, dia tersenyum malu-malu.


"Kita pergi sekarang?"


"Mau pergi kemana kita?" Tanya Yunna sambil membetulkan letak tali tasnya.


"Kita makan malam di Jung-gu, oke?"


Yunna mengangguk, jantungnya berdebar kencang ketika Jae Hyun menggenggam tangannya dengan mesra. Yunna tidak sanggup untuk menolak.


Mereka berjalan dan berpandangan sambil tersenyum, dari arah luar Rumah Sakit seseorang berjalan cepat memasuki rumah sakit.


Gorae! Yunna terkejut ketika pandangan mereka bertemu. Goraepun tidak kalah terkejut melihat Yunna berpegangan tangan dengan seorang lelaki tampan disampingnya.


Gorae menatap Yunna dengan perasaan campur aduk. Moon Jae Hyun menghentikan langkahnya, dia mengangguk hormat pada Gorae.


"Dokter Kang lama tidak bertemu."


Sapa Jae Hyun ramah. Yunna menarik tangannya dari genggaman Jae Hyun.


Gorae balas mengangguk dan tersenyum pada pasien yang dulu di operasinya. Beberapa kali Gorae mengecek kondisi Jae Hyun pasca operasi dulu, dan dia tidak menyangka Yunna terlihat sangat dekat dengan Jae Hyun.


"Bagaimana kesehatan anda tuan Moon?" Gorae berbasa-basi.


"Sangat baik, berkat anda dan gadis cantik disebelahku ini." Jae Hyun mengedipkan sebelah matanya kepada Yunna.


Darah Gorae seperti terbakar melihat Yunna tersipu malu mendapat perlakuan mesra dari Jae Hyun.


Dia menatap Yunna sekilas,


"Bagus... aku permisi." Gorae mengangguk pada Jae Hyun, sebelum berlalu Jae Hyun ingat sesuatu,


"Ah dokter Kang, aku belum berterimakasih secara resmi pada anda, jika anda ada waktu, kapan-kapan baiknya kita makan malam bertiga dengan Yunna."


Gorae merasa jantungnya ditusuk belati beracun.


"Aku mungkin akan sangat sibuk, permisi."


Gorae cepat-cepat melangkah pergi, meninggalkan Yunna dan Jae Hyun yang keheranan.


"Aku rasa dia agak aneh, biasanya dia sangat ramah."


Yunna menyembunyikan rasa tidak enaknya, dia tahu pasti Gorae terluka melihat dia bergandengan tangan dengan Jae Hyun.


"Emm...mungkin dia sedang banyak jadwal operasi.... ayo kita pergi, aku lapar."


Di dalam mobil Jae Hyun, Yunna termenung. Di satu sisi dia merasa sangat nyaman bersama Jae Hyun, di sisi lain ada perasaan bersalah pada Gorae.


Dia meninggalkan Gorae karena rasa cemburunya pada Jung Na Ri, tapi setelah mereka putus beberapa bulan, kecurigaannya tidak terbukti!


Gorae selalu sibuk dengan segala urusan Rumah Sakit, dia bahkan sering tidur di Rumah Sakit.


Sedangkan dia? Dia dengan mudah melupakan Gorae dan terpesona pada Jae Hyun! Bagaimanapun Gorae pernah menjadi lelaki yang paling dia cintai, Yunna bisa melihat ekspresi Gorae menahan kemarahannya tadi.


Yunna semakin merasa bersalah.


"Yunna..." Jae Hyun membuyarkan lamunannya, Yunna menoleh kaget.


"Ya?"


"Kamu sangat diam malam ini.. ada yang salah?"


"Oh, tidak...aku baik-baik saja..." Jawab Yunna gugup, Yunna mencoba untuk tersenyum.


"Kamu yakin? Aku melihat kamu berubah setelah bertemu dokter Kang."


DEG! Jantung Yunna seperti dihantam palu. Rupanya Jae Hyun memperhatikannya!


Yunna menunduk, dia diam bingung dan tidak tahu harus berkata apa.


"Dia suka kamu? Atau kamu suka dia?" Tanya Jae Hyun dengan sedikit nada cemburu.


"Ah...tidak.... sudahlah.... maafkan aku." Yunna tersenyum memandangi Jae Hyun yang mengerlingkan mata padanya.


"Aku rasa dokter Kang menyukaimu Yunna.."


"Emm.... bukan begitu..." Yunna ragu.


"Jadi bagaimana?" Jae Hyun kembali melirik Yunna yang terlihat kebingungan.


Jae Hyun tersenyum, dia raih tangan Yunna diremasnya lembut.


Yunna sedikit kaget, tapi dia biarkan Jae Hyun menggenggam tangannya penuh kehangatan. Tubuhnya seperti tersengat listrik, getaran aneh menjalari tubuhnya.


"Kamu tahu, aku hampir tidak pernah berkencan dengan gadis manapun sejak aku lulus SMA. Aku pernah patah hati dulu... pacarku meninggalkanku. Aku benar-benar kehilangan akal waktu itu. Sampai orang tuaku akhirnya mengirim ku pergi ke Belanda agar aku bisa melupakan gadis itu."


Suara Jae Hyun terdengar pelan mengenang masa-masa pahitnya.


"Wah... tentunya dia sangat cantik dan berarti untuk mu.." Sekarang giliran Yunna yang berkata dengan sedikit nada cemburu.


"Mmm...dulu iya, aku sangat tergila-gila padanya. Dia segalanya bagiku. Aku dulu merasa tidak bisa hidup tanpa dia. Kami saling mencintai, tapi dia meninggalkanku untuk selama-lamanya...."


"Oh?... maaf....tapi apa yang terjadi?"


"Leukimia." Nada suara Jae Hyun penuh kesedihan.


"Maafkan aku...semoga dia tenang di alam sana.." Yunna bersimpati. Jae Hyun melirik Yunna dan tersenyum,


"Aku sudah bisa melupakannya, sangat sulit dan butuh bertahun-tahun untuk menyembuhkan rasa sakit kehilangan ini. Sejak saat itu, aku bertekad, aku tidak ingin berkencan dengan siapapun, aku sangat takut ditinggalkan.."


Yunna meremas tangan Jae Hyun untuk menguatkannya,


"Tidak pernah ada seorangpun yang bisa menggantikannya selama ini?"


Jae Hyun menggeleng, "Tidak sampai aku bertemu kamu Yunna."


Yunna menoleh cepat, hatinya berdebar kencang,


"Ma...maksud mu?"


"Aku tidak tahu....tiba-tiba saja saat aku membuka mata di Rumah Sakit waktu itu, aku melihat wajah malaikat yang sangat cantik. Aku pikir aku sudah mati...tapi ternyata malaikat itu adalah kamu."


Wajah Yunna memerah, hatinya berbunga-bunga.


"Ah, kita sudah sampai." Jae Hyun memarkirkan mobilnya didepan sebuah restoran Pierre Gagnaire di jalan Namdaemun-ro, distrik sogong-dong, jung-gu.


"Ayo." Ajak Moon Jae Hyun sambil tersenyum lembut.


"Jae Hyun.... lihat!" Yunna menunjuk ke arah luar kaca mobil.


"Oh wow! Salju pertama!" Jae Hyun segera berbalik menatap Yunna yang masih menatap salju yang turun perlahan, terlihat sangat lembut dan indah.


"Keluarga orang tuaku berasal dari Jeongseon, mereka selalu menceritakan betapa indahnya salju yang turun di daerah itu...entah kenapa aku sangat suka saat musim dingin dan membayangkan suatu saat bisa merasakan salju di daerah asal orang tuaku."


"Salju pertama tahun ini.... Yunna, aku akan mengatakan sesuatu....aku sangat mencintai kamu...aku sangat suka kamu. Jadilah pacarku."


Yunna tersentak mendengar perkataan Jae Hyun yang tiba-tiba.


"Lebih dari sepuluh tahun sejak aku kehilangan pacarku, baru kali ini aku berani menyatakan perasaanku lagi pada seorang gadis."


Jae Hyun menatap Yunna dalam-dalam, Yunna seperti tersihir oleh ketampanan Jae Hyun, dia hanya bisa membuka mulutnya tanpa mampu berkata-kata.


"Apakah kamu mau jadi pacarku?" Jae Hyun mendekatkan wajahnya ke wajah Yunna.


Yunna mendadak merasa lumpuh, otaknya tidak mampu bekerja dengan benar. Nafas Jae Hyun menerpa wajahnya. Raut muka penuh keyakinan milik Jae Hyun membuat Yunna lemas.


"Hm?"


"I...iya....aku mau.....ta..tapi....kita baru saling mengenal..."


Jae Hyun semakin mendekatkan wajahnya, "Apakah itu penting?" Bisik Jae Hyun lembut.


"Aku....juga suka kamu...ta..tapi..."


Jae Hyun tidak menunggu Yunna menyelesaikan perkataannya, dia langsung mengecup hangat bibir Yunna yang bergetar.


Yunna merasa semua tulangnya rontok, Jae Hyun dengan berani merengkuh Yunna kedalam pelukannya dengan kuat dan menciumi bibir gadis itu penuh gairah.


Jae Hyun merasa sangat bahagia malam ini, setelah kepergian kekasihnya lebih dari sepuluh tahun lalu, inilah bibir pertama yang dia ciumi dengan dipenuhi perasaan cinta yang besar.


Jae Hyun benar-benar mencintai Yunna.


Yunna membalas ciuman Jae Hyun dengan hangat, mereka berciuman cukup lama dan sangat dalam.


Tidak sengaja tangan Yunna terjatuh diantara dua paha Jae Hyun. Karena Jae Hyun memeluknya sangat erat Yunna meremas bagian penting milik Jae Hyun.


Lelaki itu mengerang sambil memejamkan mata.


"Ah Yunnaaa.."


"Oh maaf..maaaf aku tidak sengaja!"


Yunna menyadari kesalahannya, dia gelagapan dan merasa sangat malu.


"Hufff...tidak apa-apa.... aiihh...kamu membangunkan naga yang tidur!"


Spontan Yunna melirik kearah bagian pangkal paha Jae Hyun. Tonjolan besar terbentuk indah disana.


Yunna menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Jae Hyun...maafkan aku..."


Jae Hyun tersenyum sambil mengatur nafasnya. Gairahnya tiba-tiba memuncak begitu bagian penting itu tersentuh tangan Yunna.


"Hufff.... haiihh dia susah tidur lagi, ah kamu nakal Yunna!"


Dia tersenyum sambil menyandarkan bahunya pada sandaran tempat duduknya untuk menenangkan diri.


Gila gadis ini! Aku tidak boleh merusak malam ini! Ayo naga bodoh tidurlah! Teriak Jae Hyun berusaha mengatur nafasnya.


Yunna merasa bersalah sekaligus merasa sangat terpesona, dia lelaki yang sangat menggairahkan! Aduh! Perasaan apa ini? Yunna mengutuk dirinya sendiri!


Setelah sepuluh menit penuh perjuangan, Jae Hyun tersenyum nakal. "Maafkan aku Yunna...kamu membuatku gila hehehehe.."


Wajah Yunna kembali merona merah, "Aku bisa bayangkan pasti berat buatmu.."


Jae Hyun tertawa malu, "Kamu bisa bayangkan hal yang lain juga... saat dia terbangun akan sulit dihentikan!"


"Wow!" Yunna tertawa.


"Aku bersyukur dan sangat bahagia kamu sekarang jadi pacarku, pacarku tersayang." Jae Hyun membelai wajah Yunna.


"Aku juga sangat bahagia Jae Hyun."


Kemudian mereka makan malam dengan perasaan yang tidak biasa.


Bagi Yunna menu eropa yang lezat ini sulit ditelannya, karena jantungnya terus-terusan melonjak-lonjak rasanya setiap Jae Hyun menatapnya penuh kemesraan.


Saat kembali kedalam mobil, salju turun semakin deras, Jae Hyun menepiskan salju-salju yang menempel di mantel Yunna.


"Mau kemana lagi kita malam ini?"


Tanya Jae Hyun sambil menyalakan mobilnya.


Yunna melirik jam di dashboard, sudah pukul 23:10.


"Mmm...aku ada kuliah besok pagi dan siangnya aku dinas."


"Jadi, kita pulang?"


"Ya....maafkan aku....lain kali kita akan berkencan lebih lama..."


"Oh hey tidak apa-apa sayang, aku bukan tipe lelaki yang possesive selama kamu hanya mencintaiku."


Yunna tersenyum, dia rebahkan kepalanya dibahu Jae Hyun selama perjalan pulang menuju apartementnya.


"Yunna....kamu tidak mengundangku ke apartement mu?" Goda Jae Hyun sesampainya mereka di apartemen Yunna.


"Apa? Oh...kamu mau lihat rumahku?"


Aih! Bahkan Gorae belum pernah menginjakan kakinya ke dalam apartementnya, selama ini dia hanya mengantar sampai depan pintu saja.


"Boleh?"


Yunna ragu sejenak, "Tentu...masuklah..."


Yunna menekan kode rahasia kunci pintu rumahnya, dia segera menyalakan lampu-lampu rumahnya yang tertata sangat rapi yang bergaya shabby chick yang sangat girly seusai dengan kepribadian Yunna yang manis.


Moon Jae Hyun memandang berkeliling. Apartement Yunna sangat nyaman, berbentuk studio kecil tapi sangat rapi.


Ruang tamu menyatu dengan ruang makan yang mini. Ada satu perangkat televisi menempel menghadap sofa.


Dapur kecil dekat pintu keluar bersebelahan dengan kamar mandi.


Sedangkan ruang tidur Yunna hanya disekat lemari buku yang besar dipenuhi buku-buku tebal, kebanyakan buku tentang medis.


Ada meja belajar disebelah tempat tidurnya.


"Silahkan duduk....aku buatkan teh hangat sebentar."


Yunna membuka mantelnya dan menggantungkannya dibalik pintu lemari pakaiannya.


Jae Hyun menyesap teh hangatnya, rasanya sangat nikmat saat diminum diawal musim dingin ini.


"Ngomong-ngomong....kamu belum menceritakan kapan kamu terakhir pacaran." Jae Hyun penasaran dengan masa lalu Yunna.


Yunna hampir tersedak, dia meletakan cangkirnya di meja.


"Ummm....aku baru putus sekitar empat bulan lebih.." Jawab Yunna lirih.


"Oh wow...baru saja...kenapa kalian putus?"


Yunna sebetulnya sangat tidak ingin membahas ini dengan siapapun, dia hanya menunduk.


"Ayolah...aku hanya ingin tahu...jika kamu masih mencintai lelaki itupun aku akan lebih berusaha membuatmu melupakan lelaki itu. Kamu milikku sekarang dan tidak ada seorangpun yang boleh merusaknya!"


Tegas Jae Hyun.


Yunna mengangkat wajahnya,


"Ah...karena aku tersiksa dan terus menangis ketakutan akan kehilangan dia."


"Dia mengkhianati mu?"


Yunna menggeleng, "Aku pencemburu...aku possesive...aku hanya ingin jadi prioritas utama dalam hidupnya dan aku sulit mentoleransi apapun yang mengganggu hubunganku dengan dia."


Jae Hyun mengangguk mengerti, "Jujur, aku merasa bersyukur mendapatkan mu....kamu akan mencintaiku seorang jika kamu pencemburu hehehe.."


Yunna berharap Jae Hyun pun hanya mencintainya, tidak ada siapapun yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya.


"Kamu masih mencintainya?" Tanya Jae Hyun kemudian.


Yunna bingung dengan perasaannya, tapi kemudian dia menggeleng,


"Tidak, aku yang meninggalkannya....aku lebih baik meninggalkannya jika aku merasa tidak aman bersamanya."


Jae Hyun mengusap wajah Yunna lembut, "Aku sangat mengerti perasaanmu."


"Jae Hyun, apakah aku terlalu cepat jatuh cinta? Aku baru saja putus dengan dia dan sekarang aku sudah jadi pacar kamu..." Tanya Yunna khawatir.


"Oh hey...tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lama untuk merasakan cinta lagi. Kita tidak bisa menolak saat perasaan itu datang. Ini hanya masalah waktu yang tepat untuk mempertemukan seseorang dan saling jatuh cinta."


Jae Hyun menggenggam tangan Yunna, "Aku butuh waktu sangat lama untuk move on, dan itu malah merusak diriku sendiri."


Yunna menghela nafas lega.


"Dua tahun lebih....tapi sebelumnya kami berteman, dia kakak kelasku di kampus kedokteran dulu."


"Oh, dia juga dokter? Mungkinkah dia dokter Kang Gorae?"


Mendengar nama Gorae disebutkan saja dada Yunna terasa sangat sesak.


Yunna akhirnya mengangguk.


Jae Hyun tersenyum,


"Sekarang aku mengerti...aku merasa dia adalah orang yang sangat baik dan sangat peduli pada orang lain."


Puji Jae Hyun tulus.


"Kebaikan yang berlebihan merusak sebuah hubungan." Tambah Yunna.


Jae Hyun mencium punggung Yunna,


"Aku mengerti perasaan mu, disisi lain aku merasa aku akan mengerti posisi dokter Kang."


Yunna menunduk, dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Gorae, pergilah! Bayanganmu terlalu melekat dihatiku!


"Apakah.....dia suka tidur disini?" Tanya Jae Hyun tiba-tiba, mendadak mata Yunna terbelalak.


"Aih tidak! Tidak pernah! Dia terlalu sopan dan terlalu...."


"Terlalu apa?...hmm?"


Jae Hyun mendekatkan posisi duduknya kearah Yunna.


"Dia terlalu menjaga ku....dia...tidak pernah melewati batas...bahkan kadang aku merasa dia terlalu menahan diri..."


"Jadi...kamu suka jika aku sedikit nakal? Karena aku sangat tidak bisa tertahan.." Jae Hyun menciumi rambut Yunna.


"A...aku tidak tahu..." Yunna gelagapan.


"Aku tahu Yunna...aku merasa aku tahu kamu.."


Jae Hyun menarik Yunna kedalam pelukannya. Yunna kaget ketika tiba-tiba bibir Jae Hyun sudah mendarat dibibirnya.


Yunna sedikit berusaha berontak, tapi Jae Hyun sangat kuat memeluknya, bibirnya dengan ganas ******* bibir Yunna.


Yunna membalas ciuman panas Jae Hyun. Perasaannya melambung tinggi seperti terbang diantara bintang-bintang. Dia sangat terpesona dengan ke agresifan Jae Hyun.


Jae Hyun mulai menciumi leher jenjang Yunna. Yunna sangat takut dia akan ikut hanyut dalam permainan Jae Hyun. Hembusan nafas hangat Jae Hyun menerpa kulitnya, nafasnya semakin cepat.


"Jae ...Hyun.. hentikan.."


Seperti tidak mendengar, Jae Hyun terus menciumi leher Yunna.


Tangan kirinya mulai meraba payudara Yunna.


Yunna memejamkan mata, nafasnya tersengal, dia merasa dorongan gairah dibawah alam sadarnya bergejolak. Seumur hidup baru kali ini dia membiarkan seorang lelaki menggerayangi bagian tubuhnya yang sensitif.


Gorae tidak akan pernah berani melakukannya!


Perlahan Jae Hyun membaringkan Yunna di sofa. Kembali dia menciumi bibir Yunna. Yunna pasrah ketika Jae Hyun membuka satu persatu kancing blousenya.


"Aku cinta kamu Yunna..." Bisik Jae Hyun ditelinga Yunna. Jae Hyun menciumi leher Yunna penuh kelembutan.


Satu tangannya melepas kaitan bra Yunna. Yunna mulai gelisah, oh! Ini tidak benar! Yunna berusaha mendorong Jae Hyun.


Tapi bibir Jae Hyun sudah mendarat disatu buah dadanya dan satu tangan Jae Hyun meremas dan memilin buah dada yang lain.


Yunna mendesah, tubuhnya menggelinjang merasakan aliran kenikmatan dari Jae Hyun, tangannya meremas rambut Jae Hyun.


Yunna menggigit bibirnya kuat-kuat, dia menikmati isapan kuat Jae Hyun dipayudaranya. Desahan demi desahan tidak tertahankan.


"Jae...Hyun..." Yunna hanya mampu memanggil nama lelaki yang jadi kekasihnya sekarang.


Jae Hyun kembali menciumi bibir Yunna, tanpa sadar jemari Yunna melucuti pakaian Jae Hyun satu persatu. Hingga tidak tersisa selembar pakaianpun ditubuh Jae Hyun.


Jae Hyun kembali merebahkan Yunna. Tangan Jae Hyun menerobos memasuki bagian sensitif dibalik celana dalamnya. Jae Hyun menggesek perlahan, Yunna mengeluh nafasnya semakin tersengal tidak beraturan.


Sekuat tenaga Yunna mengumpulkan kesadarannya untuk mengontrol dirinya. Arus permainan Jae Hyun terlalu deras.


Yunna terhanyut ketika gesekan tangan Jae Hyun makin cepat dan cepat.


Jae Hyun menciumi leher Yunna, menghisap dan menjilatinya.


"Tolong hentikan...Jae Hyun kita terlalu cepat melakukan ini...Ah!"


Sesaat Jae Hyun menghentikan ciuman dileher Yunna, dengan nafas memburu dia menatap Yunna dalam-dalam.


"Maafkan aku Yunna...aku tidak sanggup lagi menahan diri..."


Tangannya tidak berhenti menggesek bagian kewanitaan Yunna, membuat Yunna lemas dan sangat bergairah.


Yunna mendorong Jae Hyun untuk duduk. Sekarang giliran Yunna menyerang Jae Hyun.


Dia ciumi dan jilati dada Jae Hyun. Lidahnya menyusuri setiap lekuk six pack badan Jae Hyun. Bekas luka sayatan besar pasca operasi diciumi penuh sayang oleh Yunna.


Lidah Yunna berputar lembut dipusarnya. Jae Hyun menggigit bibirnya.


Lidah Yunna semakin turun dan turun. Jae Hyun mendesah kencang ketika lidah Yunna mulai menyentuh lembut ujung yang berdiri tegak dan paling sensitive ditubuhnya.


Jae Hyun mengerang saat Yunna menaik turunkan kepalanya sambil menghisap kuat-kuat keperkasaannya. Jae Hyun mendorong kepala Yunna untuk lebih cepat melakukan hisapannya.


Kepala Jae Hyun terdongak keatas, sungguh sebuah kenikmatan yang luar biasa dirasakannya.


"Sayang... berbaringlah..." Suara Jae Hyun tercekat dikerongkongannya. Gairah besar sudah merasuki kepalanya.


Mereka kembali berciuman, tangan Yunna menggenggam keperkasaan Jae Hyun dengan gerakan naik turun yang sangat indah.


Sementara jemari Jae Hyun menggesek kuat kewanitaan Yunna.


"Aku sudah tidak tahan..." Nafas Jae Hyun memburu.


Yunna hanya mampu membuka lebar kedua kakinya dan membimbing Jae Hyun untuk menindih tubuhnya.


Perlahan Jae Hyun mendorong tubuhnya. Dua tubuh seakan bersatu dalam alunan nafas yang seirama.


Jae Hyun memegangi pinggul ramping Yunna. Dorongan tubuhnya sangat lembut. Yunna mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya, dia tarik tangan Jae Hyun untuk meremas kedua payudaranya.


Setelah belasan menit berlalu penuh kelembutan, dorongan kuat dalam diri Yunna membuatnya menjadi liar,


"Jae Hyun....sayang....lebih cepat..."


Yunna seperti memohon, kedua kakinya melingkar dipinggang Jae Hyun.


Jae Hyun tersenyum, dia tahu Yunna sudah sangat bergairah.


Tetesan keringat mereka bersatu.


Tangan Yunna merengkuh leher Jae Hyun, bibir mereka kembali berpagut.


Sementara diluar salju mulai turun dengan lembut, seperti mengiringi paduan kasih yang menggelora di atas sofa Yunna.


Desahan keduanya makin tak tertahankan. Sesekali Jae Hyun meremas payudara Yunna, tapi irama hentakannya tidak sanggup dihentikannya.


Mereka terus berciuman diiringi hentakan kuat dari Jae Hyun.


Jae Hyun mulai meracau tidak jelas, dia bergumam dengan nafas memburu.


Yunna merasa sedang lomba lari mendaki puncak gunung. Hentakan demi hentakan yang cepat dan kuat membuatnya menjerit dan dia merasa dilambungkan terbang tinggi dan terjatuh dengan lembut diantara awan-awan.


Kuku-kukunya menancap dipunggung Jae Hyun.


Jae Hyun tidak berhenti. Dia menggila seperti banteng yang mengamuk. Hentakan-hentakan terakhir membuat Jae Hyun menggeram keras dan mengerang. Tubuhnya mengejang. Jae Hyun ambruk diatas tubuh Yunna.


Kejantanannya meledakan kenikmatan luar biasa ditubuhnya.


"Terimakasih sayang...


Kamu luar biasa." Bisik Jae Hyun nafasnya terengah-engah tubuhnya bersimbah keringat. Diciumi bibir Yunna yang tersenyum penuh kebahagiaan.


Dua puluh lima menit yang panas Yunna lewati dengan sempurna bersama Jae Hyun, disaat salju pertama turun.


Tidak sedikitpun Yunna merasa menyesal. Dia sangat bahagia memiliki Jae Hyun.


Diapun terlelap dalam pelukan kekasih barunya.


*


"Dokter Kang!" Seseorang menyapa Gorae di selasar rumah sakit, Gorae menoleh,


"Oh nona Bae, apa kabar?" Gorae terkejut melihat Bae Ryung Go tiba-tiba muncul di rumah sakit.


"Aku baik-baik saja... aku baru saja menengok bibiku yang anda operasi dua hari yang lalu."


Bae Ryung Go tersenyum, dia melihat dokter tampan ini tampak sedikit kusut.


"Oh, siapa bibi anda?"


"Namanya Lee Ji eun, dia mengatakan anda memperlakukannya sangat baik."


"Ah, ibu Lee rupanya bibimu." Gorae ingat betapa sulitnya membujuk wanita tua itu untuk berani dioperasi, padahal usus buntunya sudah membusuk. Butuh berjam-jam untuk meyakinkannya!


"Bibi Lee pasti merepotkanmu, dokter. Aku sangat minta maaf.." Bae Ryung Go mengangguk memohon maaf.


Gorae nyengir sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal, "Tidak.....tapi memang dia sangat takut untuk dioperasi padahal kondisinya sudah sangat kritis waktu itu."


"Aiih... bibi memang penakut!" Sungut Ryung Go, Gorae tertawa kecil,


"Tidak apa-apa, semua sudah baik-baik saja sekarang, tinggal menunggu pemulihan beberapa hari dan dia boleh pulang."


"Terimakasih dokter Kang, aku lega mendengar anda lah yang menangani bibiku."


Gorae tersenyum dan mengangguk sopan.


"Anu....bagaimana kabar Jung Na Ri sekarang? Dia seperti benar-benar menghilang dari dunia entertain."


Bae Ryung Go sedikit mendekat dengan suara berbisik.


Pada saat bersamaan Yunna sedang berjalan diujung selasar dan melihat gesture Bae Ryung Go yang berbicara sangat dekat dengan Gorae dan Gorae sedikit membungkukan badannya.


Yunna menghentikan langkahnya. Dia bingung antara terus melangkah atau kembali berbalik.


Yunna tidak ingin melewati Gorae, tapi dia penasaran dengan siapa Gorae berbicara. Dia melihat Gorae berbicara dengan wajah serius, kemudian mereka berdua melangkah pergi beriringan.


Diam-diam Yunna mengikuti kemana mereka pergi, dia mengikuti dari kejauhan.


Gorae dan Bae Ryung Go ternyata pergi ke cafetaria rumah sakit dilantai dasar.


Yunna melihat Gorae memesan dua kaleng kopi instant dan meletakan satu kaleng didepan Bae Ryung Go.


Yunna memperhatikan Gorae dan Bae Ryung Go dari kejauhan, mereka duduk sangat berdekatan. Dan mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius, sesekali Yunna melihat Gorae tersenyum bahkan tertawa, begitu juga perempuan itu.


Yunna menghembuskan nafasnya, mungkinkah itu kekasih baru Gorae? Ternyata dia tidak berbeda dengannya, dia pura-pura terlihat sibuk di rumah sakit, tapi rupanya dia tidak hanya sibuk bekerja, tapi dia juga sibuk berpacaran!


Atau.... mungkin saja mereka sudah berpacaran lebih dulu darinya? Atau bahkan saat Gorae masih jadi pacarnya? Lelaki itu benar-benar tidak bisa dipercaya! Runtuk Yunna dalam hati.


Ada perasaan sakit dan cemburu mengorek-ngorek hati Yunna.


Yunna tidak mengerti mengapa dia merasa sakit saat melihat Gorae dengan perempuan lain. Dia merasa tidak rela.


Mungkinkah aku masih sangat mencintainya? Tanya Yunna pada dirinya sendiri.


Yunna menggelengkan kepalanya, tidak! Aku sudah memiliki Moon Jae Hyun yang tampan, super kaya dan super sexy! Dan tadi malam adalah malam luar biasa yang pernah dia lewati!


Tapi....kenapa aku merasa sangat sakit melihat Gorae dengan perempuan lain? Aku sangat tidak rela siapapun memiliki Gorae!


Gorae tidak menyadari dia diikuti Yunna, saat Bae Ryung Go menanyakan soal Na Ri, dia sedikit khawatir Bae Ryung Go akan mengangkat berita tentang Na Ri.


Jika hal ini terjadi, tentu kehidupan Na Ri yang sudah tenang akan kembali terusik. Bukan tidak mungkin Na Ri akan mendapat perlakuan yang sama seperti dulu.


"Emm...dia baik-baik saja." Jawab Gorae saat Bae Ryung Go berbisik padanya.


"Anda tahu dia dimana?" Tanya Bae Ryung Go lagi. Wajah Gorae terlihat tidak nyaman saat mendengar pertanyaan dari Ryung Go.


"Ah maaf ...aku mengerti jika anda tidak mau memberitahu.. aku memang reporter tapi tidak semua cerita orang lain akan aku jadikan berita. Terutama masalah Jung Na Ri." Bisik Bae Ryung Go.


Gorae tersenyum, "Terimakasih nona Bae, anda sangat pengertian."


"Anda terlihat kusut dokter Kang, pasti menjadi dokter sangat melelahkan." Akhirnya Bae Ryung Go mengalihkan pembicaraannya pada penampilan Gorae.


"Benarkah aku terlihat kusut?"


Gorae berpura-pura kebingungan.


"Atau anda punya masalah pribadi?"


Susul Bae Ryung Go sambil nyengir, yang membuat Gorae tertawa,


"Ayolah kita minum kopi di cafetaria, sudah lama aku tidak mentraktir anda nona Bae." Ajak Gorae.


Gorae meletakan satu kaleng kopi instant di depan Bae Ryung Go.


"Ah, terimakasih dokter Kang, anda sangat baik, jika ada seorang gadis sampai menyakiti perasaan mu, gadis itu sangat tidak tahu diuntung." Goda Bae Ryung Go, Gorae tertawa.


"Anda suka menggoda rupanya."


" Maaf aku perhatikan anda agak kusut, berbeda dengan beberapa bulan lalu." Jawab Ryung Go tersenyum.


"Ah, aku hanya lelah." Gorae meneguk kopi instantnya.


"Bagaimana pekerjaan anda di ARV?"


Tanya Gorae sambil membukakan penutup kaleng kopi untuk Bae Ryung Go karena dia tampak kesulitan.


"Biasa saja. Aku sempat mengunjungi Go Hanna dipenjara."


Gorae mengangkat alisnya, "Benarkah?"


Ryung Go mengangguk, wajahnya terlihat muram.


"Entah mengapa aku merasa dia memang benar-benar sakit jiwa. Dan, aku merasa dia masih menjadi ancaman untuk Na Ri....itulah mengapa aku tadi menanyakan soal Jung Na Ri."


"Maksudmu? Aku tidak mengerti...bukankah dia sudah divonis hukuman mati?"


Gorae mendekatkan kursinya dengan Ryung Go.


"Aku tahu....tapi aku punya perasaan lain. Saat dia melihatku, tidak ada penyesalan sedikitpun dari wajahnya. Dia tampak sangat ceria tapi matanya menyimpan kemarahan dan dendam."


"Apa yang dia katakan?"


"Dia berulang kali mengatakan semua ini kesalahan Na Ri, dia akan mencari cara untuk kabur dari penjara...dan akan mencari Na Ri dan juga anda."


Gorae terperanjat, "Dia benar-benar sudah tidak waras!"


Ryung Go mengangguk, "Dia sangat cerdas sebetulnya....aku sangat takut jika semua perkataannya benar terjadi. Dia tidak segan-segan melakukan apapun demi keinginannya...bahkan dia mengancamku...aku juga akan dibunuhnya."


Gorae terdiam. Ada kekhawatiran dimatanya.


"Aku melaporkan hal ini pada kepala penjara, memperingatkan mereka untuk tetap waspada menjaga Go Hanna."


"Ah, anda melakukan hal yang benar nona Bae. Semoga mereka melakukan tugasnya dengan baik." Harap Gorae.


"Baiklah dokter Kang, aku harus kembali ke kantor. Sekali lagi terimakasih sudah merawat bibiku."


"Tidak masalah nona Bae. Terimakasih sudah berbagi cerita denganku."


Setelah Bae Ryung Go pergi, Gorae berpapasan dengan Yunna. Gorae hanya tersenyum kecil dan mengangguk pada Yunna.


"Rupanya....itu pacar baru mu."


Gorae menghentikan langkahnya, dia berbalik, "Apa maksudmu?" Tanya Gorae.


"Mungkinkah kamu sudah memacari dia saat kita masih berpacaran...atau tepat setelah kita berpisah...atau kamu segera mencari pacar untuk menggantikanku begitu kamu melihatku dengan Moon Jae Hyun?"


Gorae terbelalak tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Apakah aku harus menjawabnya?" Tanya Gorae sebal.


"Terserah.... yang jelas, aku jadi tahu, pria macam apa kamu ini Kang Gorae!" Yunna menatap Gorae sinis.


"Aish!" Gorae tersenyum kesal sambil menggelengkan kepalanya.


"Yunna, kamu sebenarnya sedang membicarakan dirimu sendiri...mungkin kamu sudah berpacaran dengan lelaki itu saat kita masih berpacaran, atau kamu berpacaran tepat setelah kita berpisah...atau kamu begitu cepat melupakan aku setelah bertemu dengan lelaki kaya yang dirawat di VVIP! Yang jelas, aku jadi tahu gadis macam apa kamu ini Cha Yunna."


Wajah Yunna merah padam, Gorae mengembalikan semua serangannya persis diwajahnya.


"Aku benci kamu Gorae!"


"Baiklah. Itu masalahmu! Hiduplah dengan prasangka dan kebencianmu Yunna."


Gorae bergegas meninggalkan Yunna yang masih berdiri dengan hati yang kalut, antara merasa tertampar dan terkalahkan.


***