I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Old Roads, New Path



Song Myung Ri menggenggam tangan Jae Hyun erat.


"Kamu harus hhati-hati! Ddia jjahat sekali!" Bisiknya.


Wajah Jae Hyun menegang, begitu besar penderitaan yang dialami oleh Song Myung Ri. Dan begitu besar kejahatan yang dilakukan dokter Ahn Sohyun hingga membuat lelaki ini kehilangan ingatannya.


"Myung Ri, tenanglah... kita akan menghukum dokter Ahn. Bersabarlah sahabatku...dan jangan khawatir."


Song Myung Ri mengangguk, air matanya tiba-tiba menetes,


"Salah...aapa aku? Ddia jahatt...dia...ttertawa...."


Jae Hyun sangat tidak tega melihat penderitaan Song Myung Ri.


"Pak Song...sekarang bapak istirahat ya... semua sudah berlalu. Biarkan kami yang membalasnya."


Jae Hyun membaringkan Song Myung Ri dan menyelimutinya.


Dadanya terasa sesak, dia bertekad membalas semua penderitaan yang dialami Song Myung Ri.


Kwak Tae Rang mengajak Jae Hyun keluar, begitu dilihatnya Song Myung Ri mulai tertidur.


"Sedikit demi sedikit dia mulai mengingatnya. Dia dan Nam Dongmin adalah saksi kunci." Kwak Tae Rang mengusap mukanya.


"Sekaligus korban dokter Ahn!" Kata Jae Hyun geram.


"Pak Kwak! Maaf anda lama menunggu." Na Ri muncul bersama Ji Soon.


Jae Hyun berbalik dan melihat seorang gadis yang sangat cantik mengenakan jaket denim dengan syal biru laut menghiasi lehernya.


Gadis itu tampil sangat casual dengan celana jeans dan sepatu converse.


Na Ri mengikat ekor kuda rambutnya, riasannya sangat tipis, tapi membuatnya terlihat sangat cantik alami.


Jae Hyun hampir tidak mampu berkedip melihat artis yang dulu sering dilihatnya di televisi, berdiri didepannya.


"Pimpinan Moon, ini putri dari Song Myung Ri." Kwak Tae Rang memperkenalkan Na Ri pada Jae Hyun.


Na Ri tampak sedikit kebingungan, tapi dia mengangguk sopan.


"Apa kabar. Namaku Song Na Ri."


"Namaku Moon Jae Hyun.." Balas Jae Hyun sambil tersenyum.


"Baiknya kita bicara di cafetaria klinik ini, kebetulan kita semua belum makan siang." Ajak Kwak Tae Rang.


"Boleh aku melihat ayah sebentar?" Na Ri meminta ijin.


"Dia sedang tidur, baiklah...kami tunggu disini." Kata Kwak Tae Rang.


Setelah Na Ri masuk ke kamar ayahnya, Kwak Tae Rang menegur putranya,


"Kamu lama sekali!"


"Aihh...ayah tidak tahu, dia menyebutkan sebuah alamat, setelah aku sampai, dia sudah pergi ke tempat lain! Begitu terus sampai tiga kali! Akhirnya aku menemukan dia sedang duduk di trotoar sambil makan es krim!" Ji Soon mencoba menjelaskan pada ayahnya.


"Hahaha...Na Ri terlalu bersemangat rupanya." Kwak Tae Rang tertawa.


"Menyusahkan saja! Alasannya di komplek itu banyak rumah bagus."


Jae Hyun tersenyum mendengarkan pembicaraan ayah dan anak itu tentang Na Ri, Aihh lucunya! Dia membayangkan Na Ri duduk di trotoar sambil makan es krim!


Jae Hyun tidak menyangka seorang artis seterkenal Na Ri begitu menikmati hidupnya yang sederhana sekarang. Terselip ke kaguman dihatinya.


Na Ri keluar dari kamar ayahnya, dia tersenyum lebar begitu melihat Ji Soon memberi kode bahwa ayahnya marah.


"Hehehe...maafkan aku Ji Soon, aku harus cepat-cepat mendapatkan rumah untuk ibu. Dua hari lagi ibu pindah kesini, kamu bantu aku ya!"


"Haiishh anak ini! Kapan kamu akan berhenti merepotkanku?!" Ji Soon menjitak pelan kepala Na Ri.


Na Ri tertawa, "Sampai kamu berani menjadi pacar Sora!"


Ji Soon membekap mulut Na Ri.


Kwak Tae Rang tersenyum melihat keakraban Ji Soon dan Na Ri, dalam hati dia bersyukur, anaknya seperti menemukan adik.


Myung Ri, persahabatan kita berlanjut! Anak-anak kita seperti kakak adik, aku sangat bahagia, bisiknya dalam hati.


"Sora? Adiknya Gorae?" Tanya Jae Hyun sambil menengok ke belakang, begitu mendengar pembicaraan Ji Soon dengan Na Ri.


Ji Soon dan Na Ri menghentikan kelakar mereka. Wajah Ji Soon memerah.


"Bagaimana Tuan Moon tahu dia adik dokter Kang?" Tanya Na Ri heran.


"Gorae adalah sahabatku. Dia yang menyelamatkan hidupku" Jawab Jae Hyun sambil tersenyum.


Ada rasa bangga saat nama Gorae disebutkan.


Setelah mereka selesai makan siang,


Kwak Tae Rang membuka pembicaraan, dia menceritakan garis besar permalahan yang dialami perusahaan Jae Hyun dan dampaknya untuk pertanian Korea.


Kemudian Jae Hyun juga membicarakan kaitan perusahaan Song Myung Ri yang dirampas  Seukai Group dan kelicikan Seukai Group terhadap perusahaannya.


Jae Hyun juga mengungkapkan  bukti-bukti yang sudah berhasil dikumpulkan sejauh ini, semua mengkerucut pada Seukai Group.


"Aku, Ji Soon dan timku sedang berusaha mengungkap semua kecurangan Seukai Group dan Gorae mendapat bukti penyebab ayahmu kehilangan ingatannya, hingga dia meninggalkanmu dan ibumu."


Na Ri tercekat, berarti Jae Hyun sudah tahu semua tentang kisah hidupnya dan keluarganya.


"Maka dari itu, nona Song, atas usul Ji Soon, untuk mempertahankan kredibilitas dan reputasi perusahaanku, aku sangat minta tolong padamu untuk menjadi bintang iklan pada anak perusahaanku Ganghan Nongmin.


Aku ingin memberi edukasi untuk semua petani dan masyarakat tentang standar pupuk yang baik dan tanaman yang sehat untuk di konsumsi."


Ji Soon menambahkan,


"Jadi anak perusahaan Sky&Star tempatku bekerja sekarang akan terancam diputus kontraknya oleh pemerintah jika kualitas pupuk dan tanaman tidak sesuai standar, aku sangat yakin ada unsur kesengajaan untuk menjatuhkan reputasi perusahaan ini dan Seukai yang akan menandatangai kontrak baru dengan pemerintah, dan menguasai pertanian Korea"


"Jika saja ini terjadi atas kesalahan anak perusahaanku, aku akan menerimanya.....tapi hal ini terjadi karena perusahaanku sengaja dijatuhkan dengan cara-cara yang licik." Jae Hyun mencoba membuat Na Ri menangkap maksudnya.


"Aku tidak ingin mengecewakan petani dan konsumen Korea dan diputuskan kerjasama oleh pemerintah dengan cara tidak simpatik seperti ini."


Jae Hyun menatap Na Ri dia sangat berharap Na Ri mau membantunya.


Na Ri terdiam, dia bingung, dia sudah tidak ingin kembali ke dunia ke artisan.


Bagaimana jika orang-orang akan menertawakannya? Atau menganggapnya merubah imej sebagai seorang petani hanya ingin menarik simpati? Na Ri masih sangat trauma dengan perlakuan hatersnya, yang hampir saja membuatnya mengakhiri hidupnya sendiri.


"Bagaimana nona Song?" Tanya Kwak Tae Rang penuh ke bapakan.


"Aku...belum bisa menjawabnya sekarang. Aku harus memikirkan segala sesuatunya....terutama dampak kemunculanku." Na Ri terlihat sangat ragu.


"Setidaknya, jika kamu berpikir ini demi kebaikan orang banyak....akan sangat berarti bagi semua orang, terutama para petani. Kamu mempunyai andil besar menyelamatkan mereka." Ji Soon mencoba membujuk Na Ri.


"Aku mengerti.....tapi....aku tidak yakin aku bisa berbuat banyak.." Jawab Na Ri pelan, ada ketakutan dalam suaranya.


Jae Hyun menarik nafas berat, dia mengerti Na Ri pernah sangat trauma, dan itu butuh waktu untuk kembali menjadi sorotan publik.


"Baiklah nona Jung...emm...maksudku nona Song...tolong kabari aku jika anda telah siap." Kata Jae Hyun kemudian.


"Tapi jika kamu berpikir terlalu lama, petani dan masyarakat akan kena dampak yang sangat merugikan mereka." Ji Soon menendang kaki Na Ri dari bawah meja.


Na Ri mendelik pada Ji Soon.


"Aku akan mengabari anda tuan Moon." Kata Na Ri sopan.


"Baiklah hubungi aku disini." Moon Jae Hyun memberikan kartu namanya.


Dia tidak pernah memohon pertolongan pada siapapun selama ini, tapi pada Na Ri, bahkan dia rela untuk bersujud.


Na Ri mengambil kartu nama Jae Hyun. "Tuan Moon...mengapa anda memilihku?"


"Karena, menurut anak SMA ini, anda sekarang menjadi petani yang sangat baik. Jadi, akan lebih natural saat anda menjadi duta anak perusahaanku."


"Tunggu, siapa anak SMA itu?"


Tanya Na Ri bingung.


Kwak Tae Rang kontan berdehem keras, demi apapun anaknya adalah insinyur pertanian lulusan Canada! Runtuknya dalam hati.


Jae Hyun menunjuk Ji Soon dengan matanya. Sontak Na Ri tertawa tergelak.


Ya ampun! Gadis ini cantik sekali! Jae Hyun menikmati tawa Na Ri yang membuatnya semakin cantik.


Sementara Ji Soon melotot pada Na Ri, "Ha! Puas kamu ya! Puas??"


"Wahh...akhirnya ada juga yang begitu jujur mengatakan kamu anak SMA...hahahaha." Na Ri kembali tergelak, dia tidak sadar Jae Hyun begitu terpesona dengan tingkah Na Ri yang spontan dan lucu.


Ji Soon menutup mulut Na Ri,


"Aku menyesal merekomendasikan kamu anak nakal!"


"Aigoo sudahlah kalian berdua! Maafkan anak-anakku pimpinan Moon."


Na Ri begitu tersentuh ketika mendengar Kwak Tae Rang menyebutkan kata-kata anak-anakku, dia mendorong Ji Soon, lelaki tampan ini merengut. Na Ri menyadari sesuatu, Ji Soon begitu akrab dengannya, dia seperti kakak baginya. Dalam waktu singkat mereka seperti tidak ada jarak, layaknya sebuah keluarga.


Ji Soon menyenggol Na Ri dan berbisik, "Jangan pernah kamu katakan ini pada Sora! Kalau sampai dia tahu, kamu mati ditanganku!" Ancam Ji Soon bersungguh-sungguh.


"Ehm! Anak-anak sudahlah! Kalian seperti ****** dan kucing jika bertemu!" Kwak Tae Rang tidak enak pada Jae Hyun yang tersenyum melihat tingkah mereka.


"Aih maaf.." Na Ri merasa bersalah.


"Hey, tidak apa-apa....aku sangat senang melihat ke akraban kalian. Aku tidak mempunyai saudara kandung, jadi kadang aku iri melihat orang lain bertengkar dengan saudaranya." Jae Hyun tersenyum.


*


Na Ri pulang diantar Ji Soon malam harinya ke sebuah penginapan di Muju, karena besok dia harus membayar uang kontrak rumah yang dia pilih untuk ibunya. Sudah seminggu lebih Na Ri menginap di Muju.


Sedangkan Kwak Tae Rang menginap di rumah sepupunya


Jae Hyun segera kembali ke Seoul setelah perbincangannya dengan Kwak Tae Rang, Kwak Ji Soon dan Na Ri tadi sore.


"Ji Soon, kenapa kamu tidak pernah minta nomor telepon Sora?" Dalam perjalanan Na Ri tergelitik untuk menanyakan hal ini.


Na Ri tahu Ji Soon menyukai Sora saat mereka bertemu di klinik beberapa hari lalu. Ji Soon selalu membicarakan tentang Sora dan Na Ri menggodanya. Akhirnya Ji Soon mengakui dia sangat suka pada Sora.


"Aku selalu lupa! Padahal aku bisa saja meminta nomornya padamu, hanya, lebih baik jika aku meminta pada Sora langsung."


"Kalian sama saja, pelupa!"


Ledek Na Ri.


"Meneurutmu, apakah Sora menyukaiku?" Tanya Ji Soon malu-malu.


"Kamu ini bodoh atau apa?! Dia jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu!" Bentak Na Ri galak.


"Benarkah? Wahh....berarti kita berdua jatuh cinta pada pandangan pertama! Dia sangat cantik dan cerewet!" Ji Soon terlihat sangat senang.


Na Ri tertawa, "Tunggu apalagi Ji Soon, ayolah nyatakan cintamu.pada Sora."


"Aku.....harus menunggu waktu yang tepat. Aku ingin mengajaknya bepergian jauh atau makan malam yang romantis lalu aku akan nyatakan cintaku." Ji Soon tersipu malu.


"Haiiishhh! Itu terlalu lama! Terlalu kuno!" Na Ri protes.


"Sebenarnya ayahku agak khawatir jika aku memacari Sora... mereka adalah musuh besar dulu." Ji Soon tersenyum.


"Apa ayahmu membenci Sora?"


Tanya Na Ri khawatir.


"Oh tentu saja tidak...Ayah sama sekali tidak membenci Sora, ayah hanya khawatir Sora akan tetap jadi musuhnya hehehe...kamu tahu sendiri bagaimana tingkah Sora."


"Aiiihh...Sora itu gadis yang spontan dan periang, dia sangat baik dan perhatian, aku berhasil melewati masa-masa sulitku berkat Sora dan keluarganya....aku yakin Sora akan mudah berdamai dengan ayahmu."


Na Ri berharap Ji Soon segera menyatakan perasaannya pada Sora.


"Aku juga yakin akan hal itu. Hanya ayahku berharap seandainya saja Sora itu bersifat seperti Kang Gorae Sunbaenim." Ji Soon melirik Na Ri yang diam menatap lurus ke depan,


Gorae! Manusia itu seperti malaikat, siapapun akan menyukainya... sedang apa dia sekarang?


"Kamu memikirkan dokter Kang?" Tanya Ji Soon tiba-tiba. Na Ri tersentak kaget,


"Siapa? Oh...ti..tidak." Jawab Na Ri berbohong.


"Ayolahhh...aku merasa kamu adalah adikku sendiri! Aku bisa melihat ekspresimu setiap nama Kang Gorae sunbaenim disebutkan!"


"Aiihh sudahlah Ji Soon, kamu tidak tahu, dia sudah punya pacar seorang dokter yang sangat cantik!" Na Ri coba menutupi perasaannya.


"Oh...sayang sekali...maafkan aku.." Ji Soon merasa menyesal.


Mereka sampai di sebuah penginapan kecil yang asri.


"Baiklah kita sudah sampai, terimakasih atas tumpangannya, Ji Soon."


"Na Ri....mengenai tawaran dari pimpinan Moon, aku harap kamu mau menerimanya." Ji Soon berkata sebelum Na Ri turun.


Na Ri terdiam sejenak,


"Ji Soon, aku sebenarnya sangat takut untuk kembali jadi sorotan...."


"Hmm...Na Ri, kita tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain, kita hanya bisa mengontrol diri sendiri." Ji Soon bukan tidak mengerti ketakutan Na Ri, tapi dia berharap Na Ri mampu menghadapi ketakutan yang sudah tercipta dikepalanya.


Na Ri mengangguk, "Aku akan memikirkannya...." Na Ri berkata pelan, dia turun dari mobil Ji Soon dengan perasaan tidak menentu.


"Tolong jangan terlalu lama berpikirnya ya!" Teriak Ji Soon.


Setelah Ji Soon pergi, Na Ri menelepon ibunya mengenai rumah sewaan yang dia temukan. Jung Bok Sil merasa lega, dia tidak sabar untuk segera pindah ke Muju.


Setelah membersihkan diri, Na Ri melihat kartu nama yang diberikan Moon Jae Hyun.


Dia sangat bingung, dan tidak bisa memutuskan apakah dia akan menerima tawaran Jae Hyun atau menolaknya.


Di satu sisi, dengan kembali ke dunia lama, dia akan bisa membantu pengobatan ayahnya. Dia tidak enak pada Kwak Tae Rang yang menanggung seluruh pengobatan ayahnya.


Sedangkan Moon Jae Hyun akan membetikan bayaran lumayan tinggi.


Di sisi lain, dia merasa akan menjadi sorotan dan hujatan yang menyakitkan akan kembali dia rasakan. Dia sangat takut.


Sebuah telepon masuk di handphonenya, Park Hilda yang menelepon.


"Na Ri, aku hanya cemas padamu, apakah kamu sudah menemukan rumah untuk ibumu?"


"Sudah bu Park..."


Park Hilda menangkap suara Na Ri terdengar murung,


"Apa kamu baik-baik saja nak? Kamu sudah makan?" Tanya Park Hilda cemas.


"Aku tidak apa-apa......anu....bu Park..."


"Nak....Belajarlah berkata tidak pada saat diperlukan, atau berkata iya pada saat yang tepat. Selebihnya, jadilah orang tegas tapi bijaksana."


Park Hilda memahami keresahan Na Ri, tapi jauh diatas semua kesulitan Na Ri, ada kepentingan banyak orang yang hatus diperjuangkan.


"Batasan hanya akan tercipta jika kamu sendiri membuat batasan  untuk semua kemampuan kamu.


Jangan batasi diri untuk semua kemungkinan. Beranilah!"


Na Ri menghela nafas, dia sadar ketakutannya memang tidak beralasan. Dia harus bisa menghadapi segala ketidak pastian didepannya.


Lagipula....ini demi ayahnya.


*


Yunna kembali ke rumahnya, setelah dia menginap dirumah orang tuanya selama dua malam.


Kembali, tak satupun telepon dari Jae Hyun.


Yunna benar-benar merasa kecewa, ditambah dia menemukan masalah besar yang sedang dihadapi keluarganya.


Yunna bingung tidak tahu apa yang akan dilakukannya, semua mulai terbuka pada saat makan malam dihari pertama di rumahnya, ibunya menanyakan tentang Jae Hyun. Terlihat ibunya sangat penasaran dengan Jae Hyun.


"Apakah Jae Hyun pernah menceritakan tentang perusahaannya pada mu, sayang?"


"Dia hanya pernah cerita kalau perusahaannya sedang bermasalah dengan perusahaan kakek. Aku tidak tahu pasti.....tapi dia menyebutkan tentang anak perusahaannya yang bergerak dibidang farmasi."


Wajah Ahn Sohyun tampak terkejut saat itu.


"Yunna....apakah dia akan melakukan sesuatu?" Tanya ibunya tampak khawatir.


"Emm.... aku tidak tahu, dia hanya bilang, ini sudah keterlaluan, dia akan menyelamatkan perusahaannya....sebenarnya ada masalah apa perusahaan kakek dengan perusahaan Jae Hyun, bu?"


"Aku tidak tahu....setahuku, perusahaan kakekmu adalah saingan bisnis perusahaan Jae Hyun. Kakekmu pernah mengatakannya padaku." Ahn Sohyun menimbang-nimbang untuk memperingatkan Yunna.


"Sayang, apakah Jae Hyun tahu, kamu adalah cucu pemilik Seukai Group?"


"Sepertinya dia tidak tahu....dia tidak pernah menunjukan jika dia tahu aku adalah cucu dari pemilik Seukai."


Yunna mengingat-ingat semua perilaku Jae Hyun dari awal mereka bertemu.....tidak! Moon Jae Hyun mendekatinya saat dia masih dirawat di rumah sakit.


Bahkan saat itu dia hampir ditolak oleh pihak rumah sakit. Tidak mungkin dia sengaja mendekatinya karena dia adalah cucu dari pemilik Seukai!


Jae Hyun memang mencintainya secara alami, tanpa rekayasa dan pura-pura, Yunna bisa merasakan itu.


Hanya saja, setelah dia menyebutkan bermasalah dengan perusahaan kakeknya, Jae Hyun mendadak berubah. Yunna tidak ingin mengatakan hal ini pada ibunya.


"Kamu yakin?" Susul ibunya.


Yunna mengangguk pasti, sekarang justru ada keragu-raguan muncul dihatinya.


"Sayang, ibu hanya khawatir dia punya maksud tertentu mendekati kamu....tolong berhati-hati, ya?"


Kembali Yunna mengangguk, sementara ayahnya hanya diam menyimak pembicaraan istrinya dan anaknya.


"Hmm...jika mungkin....kamu menikah dengan Jae Hyun. Maka perusahaannya akan bergabung dengan perusahaan kakekmu! Bukankah itu bagus?" Ahn Sohyun menatap Yunna dengan mata penuh ambisi.


"Sudahlah yoebo...mereka baru saja berpacaran. Bisakah kamu tidak mendorong anakmu untuk sepertimu?"  Cha Deokyum menghentikan istrinya.


"Omo! Apa maksudmu yoebo? Aku hanya memikirkan masa depan Yunna sebagai penerus Seukai setelah aku tentunya!" Tukas Ahn Sohyun sedikit kesal.


"Yeobo... cukup dengan ambisimu saja! Aku tidak mau anakku seperti kamu!" Cha Deokyum meletakan sumpit ditangannya dengan keras ke meja.


Yunna terkejut melihat reaksi ayahnya.


"Aiih! Kamu memang orang yang terlalu pasif, tidak punya ambisi. Makanya hidupmu hanya berakhir jadi dokter anak saja! Untunglah keluarga ku kaya raya, kehidupan kita menjadi lebih terhormat dengan yang kita miliki sekarang, dan aku mau anakku selalu menjadi yang terbaik dan mendapatkan suami yang terbaik juga!" Ahn Sohyun membalas perkataan Cha Deokyum ketus.


"Setidaknya aku punya penghasilan besar! Aku tidak harus melakukan hal buruk pada pasien seperti yang kamu lakukan pada pasienmu puluhan tahun lalu demi menyelamatkan perusahaan ayahmu!" Cha Deokyum berdiri meninggalkan meja makan.


"Yeobo! Aku banyak berkorban demi kita semua! Yeobo!" Ahn Sohyun menjerit memanggil suaminya, dan orang tua Yunna bertengkar hebat malam itu.


Yunna terpaku ditempat duduknya. Tidak pernah sekalipun dia melihat orang tuanya bertengkar didepannya, tapi tidak dengan malam ini.


Yunna benar-benar terpukul mendengar teriakan dan jeritan dari kamar orang tuanya, dia mendengar ayahnya membentak ibunya dengan keras,


"Aku sudah menahan semua ini selama puluhan tahun! Setiap hari aku merasa bersalah membiarkanmu meracuni orang itu hingga dia hancur! Setiap hari adalah siksaan bagiku!"


Meracuni? Siapa yang diracuni ibunya? Apakah...dia suami dari Jung Bok Sil, ibunya Na Ri? Jung Bok Sil mengatakan ibunya melakukan malpraktek pada suaminya!


Yunna benar-benar terguncang malam itu, berjuta pertanyaan memenuhi kepalanya.


Mengapa Gorae dan Jae Hyun terdengar akrab? Apakah ibunya melakukan kejahatan pada perusahaan ayahnya Na Ri demi menyelamatkan perusahaan kakeknya yang hampir bangkrut?


Apakah sekarang Jae Hyun tahu dia adalah cucu dari pemilik Seukai? Apakah Jae Hyun dan Gorae bekerjasama untuk membalas perlakuan ibu dan kakeknya?


Mungkinkah Gorae sudah menemukan bukti ibunya melakukan malpraktek? Atau, seperti kata Jae Hyun, kakeknya sangat licik.....berarti Gorae, Jae Hyun dan keluarga Na Ri cepat atau lambat akan memprosesnya secara hukum!


Tidak! Ini tidak boleh terjadi!


Aku harus melakukan sesuatu, aku harus menyelamatkan ibuku! Aku harus menyelamatkan kakekku dan perusahaannya! Keluargaku adalah keluarga terhormat dan terpandang! Tidak ada seorangpun bisa menghancurkannya! Tidak Gorae, tidak Jae Hyun apalagi si ratu drama Jung Na Ri!


Pada malam kedua Yunna berada dirumah orang tuanya, tengah malam Yunna mengendap-endap ke ruang perpustakaan di rumahnya. Dia ingin mencari sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ibunya tidak bersalah.


Ayahnya malam ini tidak pulang, dan ibunya mengurung diri dikamarnya.


Yunna perlahan membuka pintu perpustakaan yang letaknya ada di sayap kiri lantai dasar rumahnya. Setelah menyalakan lampu, dia mulai melihat-lihat lemari besar yang dipenuhi buku-buku tebal.


Yunna tidak yakin dengan apa yang dicarinya. Tapi dia terus memeriksa setiap kolom rak.


Kemudian dia beralih ke laci-laci dibawah lemari. Dia melihat setiap lembar kertas yang terusun sangat rapi dan dijepit berdasarkan tanggal dan tahunnya.


Yunna membuka map-map berisi dokumen-dokumen milik orang tuanya. Dia tidak menemukan apapun.


"Ibuku pasti tidak bersalah! Aku harus menemukan sesuatu tentang pengobatan ayah Na Ri..."


Yunna mengingat-ingat nama depan ayah Na Ri yang disebutkan Gorae.


.... siapa ya? Song? ....Iya! Song!


Satu jam sudah Yunna berada di perpustakaan rumahnya.


Hanya satu sudut lagi yang belum dia periksa, sebuah peti kayu panjang dibawah jendela lebar, yang dibeli jok kulit yang empuk sebagai tempat duduk.


Ibunya menempatkan peti kayu sepanjang jendela itu selain untuk tempat duduk-duduk, peti itu juga menyimpan buku atau berkas-berkas lama.


Pelan-pelan Yunna mengangkat Jok kulit berwarna biru satu persatu.


Dia membuka peti-peti panjang yang terdiri dari tiga peti setinggi 50cm.


Walaupun peti-peti ini sebagai tempat penyimpanan buku-buku dan berkas-berkas lama, ibunya sangat rapi menatanya.


Tercium aroma kertas lama bercampur bau kamper saat peti dibuka. Satu peti berisi buku-buku koleksinya dimasa kecil. Kebanyakan adalah buku cerita anak-anak dan buku gambar hasil coretannya waktu kecil.


Yunna tersenyum, dia kagum, ibunya masih saja menyimpan kenangan masa kecilnya. Kadang masih terasa baru kemarin saat dia selalu menggambar dan mewarnai di perpustakaan ini dan membaca buku-buku cerita favoritnya.


Di peti ini Yunna tidak menemukan sesuatu. Dia tutup kembali peti yang pertama. Lalu dia beralih ke peti kedua, isinya buku-buku lama milik ayah dan ibunya. Semua buku kebanyakan saat mereka masih kuliah dulu.


Terakhir, Yunna membuka peti ketiga, didalamnya terdapat rak-rak kecil berisi filing cabinet. Isinya penuh dengan map-map tebal.


Dengan sabar Yunna membuka satu persatu map itu.


Sebagian besar map-map itu adalah dokumen kepemilikan saham perusahaan Seukai bagian ibunya.


Yunna berdecak kagum, ibunya memiliki hampir sepertiga saham Seukai Group. Padahal kakeknya masih hidup dan belum memberikan warisan pada ibu dan pamannya.


Ibu memang cerdik! Atau.....ini seperti sebuah imbalan?


Imbalan apa? Mungkinkah karena ibunya dulu menyelamatkan perusahaan kakeknya?


Mata Yunna tertuju pada sebuah map besar dalam sebuah kotak kayu. Dia mengambil map itu, perlahan dia membuka map berwarna hitam itu.


Matanya terbelalak ketika membaca isinya, berisi salinan dokumen pengalihan perusahaan kontraktor bernama MyungRi Constructions.


Tertulis bahwa pengambil alihan atau  akuisisi* sepenuhnya perusahaan milik Song Myung Ri disebabkan karena perusahaan itu sudah tidak beroperasi maksimal selama dua tahun.


Disebutkan pula pemilik lama atas nama Song Myung Ri pada awalnya memiliki 70% saham perusahaan, 25%  saham milik para keditor dan 5% saham milik Seukai company.


Dan disitu tertulis pengalihan ini atas persetujuan pemilik lama Song Myung Ri.


Seukai! Dulu belum menjadi Seukai Group.


Dan kejadian ini berlangsung tahun 1997.


Yunna terduduk dilantai, mungkinkah perusahaan kakeknya yang dulu hampir pailit mendapat hak memiliki saham perusahaan milik Song Myun Ri sepenuhnya?


Atau ini ada kaitannya dengan hilang ingatan Song Myung Ri karena malpraktek ibunya?


Sakit apa dia? Gangguan kejiwaan kah?


Yunna mengembalikan dokumen itu, dan merapikan semuanya.


Dia merasa lemas, jika benar kenyataannya ibunya melakukan malpraktek pada Song Myung Ri dan perusahaan kakeknya mengambil alih perusahaan sekuat MyungRi Constructions, berarti sudah dipastikan ibu dan kakeknya bersalah dan bisa terjerat hukum yang berat.


Yunna ingat pertengkaran ayah dan ibunya kemarin malam. Ayahnya merasa tersiksa dengan perbuatan ibunya puluhan tahun lalu. Apakah ini tentang perbuatan ibunya pada Song Myung Ri.


Song Myung Ri.....suami Jung Bok Sil, ayah Jung Na Ri!


Yunna merasa sangat malas pergi ke rumah sakit hari ini. Dia masih terguncang dengan kenyataan yang dia lihat semalam di perpustakaan rumahnya.


Aku harus merayu Jae Hyun....kalau perlu membuatnya menghamiliku agar dia menikahiku! Aku akan berpura-pura tidak tahu persoalannya dengan Seukai Group. Mungkin dengan cara ini aku bisa menyelamatkan ibu dan kakeknya!


Dan kalau perlu aku akan mendekati Gorae lagi, akan membuatnya tergila-gila lagi...Yunna sangat tahu Gorae masih sangat mencintainya!


Yunna tiba-tiba teringat sesuatu, rekam medis pasien milik Song Myung Ri! Mungkinkah masih ada? Rasanya tidak mungkin rekam medis itu masih tersimpan di rumah sakit saat ini, mengingat kejadian itu sudah lama sekali.


Jika Gorae belum menemukan bukti tentang malpraktek yang dilakukan ibunya, lalu mengapa Jung Bok Sil dan ayahnya menyebutkan soal malpraktek?


Yunna harus mencari tahu soal ini. Dengan malas dia bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.


*


Dengan ragu Na Ri menekan tombol dihandphonenya, dia akan menelepon Moon Jae Hyun.


"Hallo?" Suara sexy seorang lelaki terdengar diseberang telepon.


"Tuan Moon.....aku Na Ri, Song Na Ri."


Jae Hyun yang sedang sibuk menandatangani sejumlah dokumen  langsung meletakan ballpoint dan merubah posisi duduknya. Dia memberi kode pada sekretarisnya untuk meninggalkan ruang kantornya.


"Iya nona Song, apa kabar?" Tanya Jae Hyun dengan hati berdebar-debar.


"Aku...... aku akan memberi jawaban atas tawaran anda...." Sampai detik inipun Na Ri masih sangat ragu dengan keputusannya.


Jae Hyun menunggu, tolong jawab Ya, Na Ri! Teriak Jae Hyun dalam hati.


"Ya?"


"Aku sebenarnya sangat takut untuk kembali menjadi sorotan.... aku tidak ingin kembali terluka..."


Jae Hyun merasa putus harapan, aihh gadis ini pasti menolaknya.


"Mmm baiklah... sayang sekali, tadinya aku sangat berharap anda mau bekerja sama denganku..." Suara sexy Jae Hyun terdengar kecewa.


Na Ri mengangkat alisnya, aihh aku belum selesai bicara!


"Maksudku...setelah aku berpikir semalaman, aku putuskan menerima tawaran anda tuan Moon....walaupun aku sangat takut."


Jawab Na Ri cepat.


Jae Hyun hampir terlonjak gembira,


"Benarkah? Wow.... ini sangat bagus nona Song, aku akan segera menghubungi tim ku dan pihak televisi."


Na Ri merasa sangat khawatir, dia sangat takut dia akan menyesali keputusannya.


"Nona Song, bisakah anda datang ke Seoul? Anak buahku akan menjemputmu untuk menandatangani kontrak dan konsep iklan yang akan dibuat?"


"...emm....bisakah anda menunggu sampai lusa? Ibuku besok akan pindah rumah ke Muju, jadi aku harus membantunya."


"Baiklah tidak masalah Nona Song....terimakasih sudah mau membantuku." Jae Hyun bersungguh-sungguh.


*


"Nona Bae, bisakah kamu datang ke kantorku sekarang? Aku minta bantuanmu." Jae Hyun menelepon Bae Ryung Go.


"Aku akan sampai dalam setengah jam, mau aku bawakan makan siang?" Bae Ryung Go menawarkan.


"Oke, bawakan aku sandwich isi tuna, terimakasih nona Bae."


Setengah jam kemudian Bae Ryung Go sudah sampai di kantor Jae Hyun, dia membawa Sandwich isi tuna pesanan Jae Hyun.


Jae Hyun bersyukur, beberapa bulan ini dia dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan tulus. Dan tiba-tiba saja mereka sangat dekat dan menjadi sahabat kepercayaannya.


"Oke, ada apa?" Tanya Bae Ryung Go sambil memberikan satu sandwich pada Jae Hyun.


"Aku akan mencoba mengatasi masalah anak perusahaan Ganghan Nongmin dengan menayangkan iklan produk pupuk dan bibit unggul milik perusahaanku ...juga sebagai kampanye untuk menyadarkan petani tentang pupuk murah yang berbahaya." Jelas Jae Hyun.


"Oke...aku bisa membuatkan konsepnya dan mengajukan pada pimpinanku. Akan lebih baik iklan ini dilakukan shooting di lokasi pertanian, bukan di studio."


Bae Ryung Go menanggapi.


"Bagus, dua hari lagi kamu sudah harus siapkan konsepnya, karena aku sudah menemukan artis yang akan menjadi bintang iklannya."


"Oh ya? Siapa?" Tanya Bae Ryung Go.


"Song Na Ri." Ada senyum di bibir Jae Hyun saat mengucapkan nama Na Ri.


"Kamu serius tuan Moon? Bagaimana bisa?" Bae Ryung Go kaget.


"Tentu bisa... aku hampir selalu mendapatkan yang aku mau." Jawab Jae Hyun tersenyum penuh kemenangan.


"Aku harus beri tahu dokter Kang! Dia akan sangat mengkhawatirkan Na Ri!" Tukas Bae Ryung Go.


"Betul, tolong beritahu dia, semoga dia bisa datang dikantorku dua hari lagi."


"Baik."


Bae Ryung Go sangat tahu bagaimana Gorae sangat melindungi Na Ri, dia khawatir dengan menjadikan Na Ri sebagai bintang iklan perusahaan Jae Hyun akan membuat persahabatan Gorae dan Jae Hyun merenggang.


***


Akuisisi :


Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh Badan Hukum atau orang perseorangan untuk mengambilalih saham Perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Perseroan tersebut.