I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Man From The Past



Seseorang mengetuk pintu rumah keluarga Gorae di minggu siang yang berangin.


Park Hilda terkejut melihat siapa yang datang, dia melihat seorang wanita berdandan glamour, dia mengenakan blouse putih berenda, Syal polka dot hitam dan overcoat warna khaki.


"Ibu Jung... "


"Apa kabar Bu Park."


"Aku baik-baik saja... anda mencari Na Ri? Ayo silahkan masuk dulu."


Park Hilda mempersilahkan Jung Bok Sil duduk.


Wajah Jung Bok Sil tampak malu melihat keramahan Park Hilda.


"Aku..... mau minta maaf atas keributan beberapa bulan lalu disini."


Jung Bok Sil membungkuk dalam-dalam.


"Oh sudahlah bu Jung, semua sudah baik-baik saja sekarang."


Park Hilda menghidangkan teh barley, dan duduk dihadapan Jung Bok Sil.


"Kemana semua orang?"


"Ah, Sora anakku sedang dinas di rumah sakit, Na Ri sedang pergi dengan nenek ke kebun bawang putih, mereka pergi sejak pagi."


"Ke...kebun bawang putih?"


"Iya, Na Ri membeli beberapa petak lahan disini, dia belajar menjadi petani."


Jung Bok Sil tampak terkejut, "Oh, aku tidak menyangka anakku akan sangat berubah..." Jung Bok Sil setengah bergumam.


Park Hilda tertawa, "Anak itu cepat sekali belajar, dia bahkan sudah mendapat hasil dari panen sawi putih. Bulan depan dia akan memanen bawang hijau. Dia pintar mencari pembeli."


Park Hilda berhenti sejenak, tiba-tiba dia khawatir, "Apakah anda akan membawa Na Ri kembali ke Seoul?"


Jung Bok Sil menggeleng, "Tidak bu Park...aku...hanya akan mengunjunginya....melihat rumahnya....melihat kehidupannya disini."


"Oh bagus sekali! Dia sebetulnya sendirian dirumahnya di atas bukit. Dia pasti akan sangat senang!"


"Sekarang aku malah takut bertemu dengannya.....hanya saja aku seperti kehilangan tujuan setelah Na Ri jauh denganku. Na Ri memutuskan berhenti jadi artis dan itu sangat membuatku limbung. Aku tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir menjadi petani."


Park Hilda mengerti akan kegundahan Jung Bok Sil, keputusan besar yang dibuat Jung Na Ri tentu akan menjadi pukulan berat untuknya.


"Aku merasa bersalah pada anakku, aku berusaha mengerti jalan pikirannya.....semenjak Na Ri kecil, aku sudah merancang masa depannya agar dia bisa menjadi artis yang paling sukses. Tapi takdir berkata lain, aku justru menghilangkan kebahagiaannya."


Wajah Jung Bok Sil tampak muram.


"Bu Jung, setiap orang butuh waktu untuk menerima takdir...memang, membuat atau menerima keputusan seperti ini tidak akan mudah pada awalnya....dibutuhkan keberanian untuk merubah sesuatu hal yang biasa kita lakukan, untuk menjadi lebih baik."


Jung Bok Sil mengedarkan pandangannya, hanya untuk menghindari tatapan lembut Park Hilda dan menahan air matanya untuk tidak menetes.


"Aku memang merasa perubahan yang besar pada Na Ri setelah dia disini.... aku semakin merasa bersalah padanya, aku sudah membuang dua puluh lima tahun kebahagiaannya hanya untuk menjadi seorang artis...aku....aku bahkan melakukan hal yang paling keji pada anakku. Dia terluka dan hanya mampu menuruti apa yang aku mau."


Jung Bok Sil tidak mampu menahan kesedihannya lagi,


"Aku benar-benar tersiksa dengan rasa bersalahku pada Na Ri..."


"Bu Jung, maafkanlah dirimu. Hanya itu satu-satunya cara untuk terus melangkah.


Saat anda tidak mampu memaafkan diri sendiri, anda akan selalu mencari kesalahan pada orang lain atau pada keadaan."


Jung Bok Sil terisak, ucapan Park Hilda sangat menyentuh hatinya. Tidak heran dia memiliki anak berhati lembut seperti Gorae!


"Mungkin, dikehidupan sebelumnya Na Ri adalah seorang putri raja yang berani. Aku sendiri sangat menghargai segala upaya dan keberaniannya untuk melakukan apa yang dia inginkan. Dia gadis yang tangguh." Ujar Park Hilda.


Park Hilda mengusap tangan Jung Bok Sil, "Aku hanya berharap, dukunglah apapun yang dilakukan Na Ri, selama itu untuk kebaikan dan kebahagiaan dirinya."


Jung Bok Sil menggigit bibirnya,


"Na Ri tidak pernah mengenal ayahnya....aku ...tidak pernah mengatakan apapun tentang ayahnya."


Park Hilda menunggu Jung Bok Sil melanjutkan kata-katanya, tapi dia merasa tidak seharusnya Jung Bok Sil menceritakan semua rahasia pribadi padanya. Dia hanya merasa tidak enak, karena ini pertemuan pertama diawali suasana yang lebih ramah.


Karena pertemuan-pertemuan sebelumnya mereka saling bersitegang.


"Bu Jung.... jika anda ingin menyimpan rahasia anda demi kebaikan Na Ri, maka anda harus menyimpannya baik-baik....tapi, jika anda rasa sangat berat menangung rahasia itu, aku akan mendengarkannya."


Jung Bok Sil mengangguk, perasaan yang menekan bathinnya benar-benar menyiksanya. Dulu saat dia mampu melakukan apapun untuk memaksa Na Ri, sedikitpun dia tidak merasa bersalah. Dia merasa apapun bisa dilakukan Na Ri demi menyelamatkan karirnya.


Tapi sejak Na Ri membuat keputusan mundur dari dunia artis, dan sekarang dia bahagia dengan keputusannya, justru perasaan bersalah menderanya.


Dia sangat malu terhadap anaknya sendiri.


Sulit baginya untuk memutuskan datang ke desa ini. Menemui Na Ri di rumahnya sendiri akan menjadi tamparan keras di wajahnya.


"Bu Jung, sebaiknya tidak usah terlalu khawatir untuk bertemu dengan Na Ri, selama persidangan anda selalu menemaninya."


Jung Bok Sil menunduk, "Tapi menemuinya disini...rasanya berbeda.."


"Apakah anda ingin melihat Na Ri saat dia sedang bekerja? Aku akan antar anda menemuinya."


Jung Bok Sil tampak ragu,


"Ayolah, saat anda melihat kehidupan petani disini mungkin anda akan berpikir berbeda."


Park Hilda bangkit dan mengambil jaketnya. Dia melihat pakaian yang dikenakan Jung Bok Sil, pakaiannya tidak memungkinkan dia membonceng motornya.


"Emm, bu Jung, saya akan bonceng anda naik sepeda motor.... lebih baik anda ganti pakaian dulu."


"Oh, baik...saya membawa pakaian training. Boleh aku ikut ganti baju?"


Park Hilda mempersilahkan Jung Bok Sil berganti pakaian di kamar tamu. Dia hanya membawa satu koper kecil pakaian, Park Hilda berpikir mungkin sangat sulit bagi perempuan kota seperti ibunya Na Ri ini untuk tinggal di desa.


*


"Wahh...ternyata desa ini indah sekali! Pantas saja Na Ri betah tinggal disini!" Teriak Jung Bok Sil spontan, dia membonceng Park Hilda sambil tak henti-hentinya mengagumi keindahan desa deoukhaengbokdeurim.


Dulu ketika dia mendatangi desa ini tidak sedikitpun dia sempat melihat suasana desa ini. Dulu yang dia pikirkan hanya membawa Na Ri kembali ke Seoul.


Park Hilda memarkirkan motornya ditepi jalan.


"Ini dia kebun bawang putih milik Na Ri."


"Tapi...dimana anakku?"


Jung Bok Sil mencari-cari Na Ri diantara lima orang pekerja yang sedang bekerja di kebun itu. Park Hilda menunjuk seorang gadis yang berada jauh ditengah kebun, sedang berjongkok sambil mengorek-ngorek tanah.


"Omo! Itukah anakku?" Jung Bok Sil hampir memekik saking kagetnya.


Dia melihat seorang gadis berpakaian sederhana layaknya petani, bercelemek, memakai topi lebar, bersarung tangan dan sepatu boot karet.


Penampilan yang sangat jauh dari bayangannya! Dulu Na Ri begitu menjaga penampilannya. Skin carenya sangat mahal, dia selalu menghindari sinar matahari langsung dikulitnya, dan Na Ri sangat hati-hati dalam berpakaian, karena kemanapun dia pergi dia akan selalu diikuti oleh media dan selalu menjadi berita!


Tapi lihatlah sekarang! Na Ri berubah total menjadi gadis petani dengan pakaian yang sangat buruk!


"Na Ri! Na Ri!" Park Hilda berteriak sambil melambaikan tangannya.


Na Ri menoleh kearah suara yang memanggilnya. Dia melihat Park Hilda berdiri dengan ibunya.


Seketika Na Ri berlari menghampiri mereka, wajahnya kemerahan dan terlihat sangat berseri-seri.


"Ibu!" Teriak Na Ri gembira.


"Aigooo.... Na Ri! Kamu sangat berubah sekarang!" Jung Bok Sil sedikit mencibir melihat penampilan anaknya.


Dia menolak saat Na Ri akan memeluknya.


"Ah tidak! Tidak! Kamu....sangat kotor!" Jung Bok terlihat jijik melihat Na Ri. Park Hilda tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi Na Ri hanya tersenyum.


"Ibu sendirian datang ke sini?"


"Aku diantar pak Nah, tapi dia harus segera kembali ke Seoul karena dia sekarang bekerja dengan manager Oh. Aku tidak bisa menggajinya lagi!"


Na Ri mengangguk mengerti. Park Hilda mencari-cari ibunya,


"Na Ri, dimana nenek?" Tanyanya.


"Ah, nenek sebentar lagi datang, tadi dia pergi dengan paman Park."


Park Hilda mengajak Jung Bok Sil untuk duduk dibawah pohon maple yang rindang. Na Ri berpamitan melanjutkan pekerjaannya.


Jung Bok Sil tampak masih terguncang dengan keadaan Na Ri anaknya.


"Bu Park....mengapa....dia memilih jadi petani seperti ini? Perubahan ini...ini sangat drastis! Siapapun tidak akan percaya kisah seorang artis terkenal tiba-tiba menjadi seorang petani! Sangat tidak masuk di akal! Apa kata orang-orang nanti jika mereka mengetahui Na Ri menjadi seperti ini?"


Park Hilda menatap Jung Bok Sil sambil tersenyum.


"Anda tampaknya sulit sekali menerima kenyataan ini ibu Jung."


Jung Bok Sil mengangguk.


"Setidaknya.... dia tidak harus bekerja kasar seperti ini! Bahkan semua drama yang paling menyebalkan pun tidak akan pernah mengangkat cerita seperti kisah hidup anak ku. Jika anda suka menonton drama, sesengasaranya seseorang yang berasal dari orang kaya, ceritanya pasti masih masuk diakal! Sedangkan Na Ri?"


"Aku mengerti ibu Jung, tapi ini adalah pilihan hidup Na Ri."


Jung Bok Sil menoleh, "Keluarga anda yang menyeretnya menjadi petani bu Park! Sehingga dia tidak punya pilihan!" Sungut Jung Bok Sil dengan nada menyalahkan.


Park Hilda mengangkat alisnya, dia prihatin dengan sikap Jung Bok Sil.


"Aiiihh.... aku mengerti jika anda masih tidak bisa menerima keadaan Na Ri sekarang, tapi menyalahkan keluargaku untuk keputusan yang diambil Na Ri, ini sangat tidak masuk akal. Dia sudah dewasa dan berhak atas keputusan apapun dalam hidupnya." Tukas Park Hilda kesal.


Jung Bok Sil cemberut, air mukanya menunjukan ketidak senangannya.


"Nenek!" Tiba-tiba terdengar suara Na Ri berteriak. Gadis itu berlari menghampiri Min Hong Ah yang berjalan dengan Park Hansol, adik dari Park Hilda.


"Aigooo...nenek bawa apa?" Na Ri mengambil keranjang ditangan Min Hong Ah, nenek cantik itu tertawa melihat Na Ri yang cekatan membantunya.


"Aku membawa makan siang untuk kita semua! Istri pamanmu ini sudah memasak banyak."


Jung Bok Sil memperhatikan begitu dekatnya Na Ri dengan keluarga Gorae, sampai-sampai nenek tua itu mengatakan 'paman mu' pada lelaki yang tidak ada hubungan darah dengan mereka.


"Tapi paman, bibi kemana? Harusnya dia ikut makan bersama!" Protes Na Ri.


Lelaki yang dipanggil paman oleh Na Ri tertawa, "Dia sibuk dengan pesanan rajutannya. Kamu tahu, dia hanya suka memasak, tapi tidak suka makan!"


"Aiihh pantas bibi sangat langsing dan cantik." Puji Na Ri, Park Hansol tersenyum lebar dan mengusap kepala Na Ri dengan sayang.


Hei! Dia menyentuh Na Ri seolah Na Ri adalah benar keponakannya! Jung Bok Sil merasa sebal dan cemburu.


"Nenek, paman, ini ibuku... dia baru datang dari Seoul."


Na Ri memperkenalkan Jung Bok Sil, Min Hong Ah mengangguk sambil tersenyum,


"Aihh...akhirnya kita bisa berkenalan, selamat datang di desa kami yang sederhana." Sapa Min Hong Ah ramah.


Jung Bok Sil mengangguk sekilas, dia merasa sangat tidak nyaman berada dilingkungan para petani ini.


Tapi melihat Min Hong Ah, Jung Bok Sil merasa wanita tua ini adalah orang yang bijaksana dan ada wibawa besar dari sorot matanya yang kelabu.


Na Ri sibuk menata makanan diatas tikar. Jung Bok Sil terheran-heran dengan Na Ri yang rela menata makanan untuk orang lain. Dulu tidak pernah sedikitpun dia menyediakan apapun untuk orang lain. Dia hanya tinggal duduk menyantap makanannya tanpa harus bersusah payah menatanya.


Ini tidak benar! Na Ri seharusnya hidup dalam kemewahan dan pelayanan terbaik seperti dulu! Dia masih sangat muda untuk menyia-nyiakan hidupnya tinggal di desa ini!


"Wahh... masakan bibi terlihat lezat! Teman-teman, ayo kita makan dulu!" Panggil Na Ri pada lima pekerja dikebunnya.


"Na Ri, aduuuhh.... bagaimana jika orang-orang tahu kehidupan kamu tiba-tiba seperti ini? Kamu sepertinya tiba-tiba melupakan siapa kamu dulu!" Jung Bok Sil tidak tahan lagi.


Na Ri menatap ibunya kaget, dia merasa tidak enak hati dengan perkataan ibunya.


"Bu Jung, jika kita melakukan sesuatu yang membuat kita bahagia, apakah masih harus peduli dengan 'apa kata orang?' Sejauh, kebahagiaan kita tidak melukai atau merugikan siapapun.


Berarti, kita bisa melakukan apapun, tapi tidak keluar dari kepentingan orang banyak...tidak keluar dari norma sebagai manusia yg beradab."


Min Hong Ah berkata pelan, tapi sanggup membuat Jung Bok Sil ternganga.


Min Hong Ah merasa Na Ri akan kembali merasa tertekan dengan kehadiran ibunya.


Na Ri bersyukur ada Min Hong Ah disampingnya sekarang. Dia cukup lelah meyakinkan ibunya sendiri.


"Tapi....Na Ri adalah artis terkenal, kehidupan seperti ini akan membuat dia kehilangan rasa hormat dari orang lain, orang-orang akan semakin menjatuhkannya!"


"Ibu... sudahlah..." Na Ri memohon pada ibunya.


"Kita tidak perlu pengakuan dari siapapun tentang keberadaan kita.


Rasa hormat, rasa suka, pengertian akan kita dapat ketika kita sudah melakukan yang terbaik versi kita."


Tukas Min Hong Ah, dia tatap Jung Bok Sil dalam-dalam.


Jung Bok Sil menunduk. Hatinya belum sanggup menerima kenyataan perubahan hidup anaknya.


"Bu Jung, kebun ini milik Na Ri, dia tidak mengerjakan kebun orang lain. Dia bekerja untuk dirinya sendiri. Dia belajar menjadi petani yang baik dan kelak, dia akan tahu bagaimana mengelola sebuah perkebunan dari awal sampai akhir. Bukan hanya sekedar pemilik yang tidak tahu apapun tentang tanaman. Jika dia buta sama sekali tentang apa yang dihasilkan kebunnya, itu sama saja dia berinvestasi pada hal yang tidak pasti."


Park Hilda menimpali, dia merasa gemas melihat sikap Jung Bok Sil.


*


Na Ri berjalan pulang ke rumahnya dengan ibunya.


"Ya ampun...apakah setiap hari kamu seperti ini?" Gerutu Jung Bok Sil, dia terengah-engah kelelahan. Jalanan semakin mendaki.


"Tidak setiap hari...aku kan punya pekerja. Tapi aku akan belajar hal-hal baru di kebun."


Jung Bok Sil menghentikan langkahnya, "Na Ri, kamu menyia-nyiakan masa muda mu!"


Na Ri tertawa, malas rasanya berdebat dengan ibunya, dia terus melangkah meninggalkan Jung Bok Sil.


*


Jam 9:00 pagi, handphone Na Ri berbunyi. Na Ri sedang menyiapkan sarapan untuk ibunya. Jung Bok Sil semalam mengeluh panjang lebar, tapi tidak lama dia tertidur pulas setelah makan malam dan masih belum bangun sampai sekarang.


Na Ri melihat Kwak Tae Rang yang meneleponnya.


"Hallo?" Sapa Na Ri,


"Hallo nona Jung, aku ada di klinik Muju sekarang."


"Anda sedang menengok sahabat anda? Bagaimana kabarnya?"


Na Ri baru dua kali menjenguk lelaki yang menyerang Sora waktu itu, setelah lebih dari dua bulan dia dirawat di klinik Muju.


"Semalam dokter yang menangani Song Myung Ri mengatakan dia mulai mengingat sedikit. Makanya aku datang hari ini."


"Oh bagus sekali...aku berharap dia bisa pulih.."


"Nona Jung... dia ingat nama anaknya...."


Suasana tiba-tiba hening, Na Ri menunggu Kwak Tae Rang untuk melanjutkan perkataannya.


"Nama anaknya adalah Song Na Ri... dia katakan anaknya menjadi seorang artis yang cantik."


Na Ri mengangkat alisnya, "Wah, namanya mirip dengan namaku...hanya beda nama keluarga saja.."


Seorang artis? Na Ri mengingat-ingat nama artis yang bernama Song Na Ri, rasanya dia tidak pernah tahu ada artis bernama Song Na Ri.


"Aku pikir...mungkinkah namamu adalah Song Na Ri....karena kamupun seorang artis..."


Suara Kwak Tae Rang terdengar ragu.


Na Ri kaget, darimana Kwak Tae Rang tahu dia dulu seorang artis?


"Ah...bagaimana anda tahu?"


"Tentu saja semua orang tahu kamu adalah artis terkenal. Hanya saja orang-orang didesa tidak begitu mengenalmu."


Na Ri memejamkan matanya, perlakuan Kwak Tae Rang selama ini sangat wajar dan tidak memperlakukannya seperti orang istimewa membuatnya sangat bersyukur. Dia ternyata lelaki tua yang baik, yang tidak pernah menanyakan masa lalunya.


"Tapi.....namaku Jung Na Ri...sama dengan nama ibuku..."


"Apa?.... kamu menggunakan nama keluarga ibumu? Bukan nama ayahmu?"


Kwak Tae Rang sekarang yang terkejut.


"I...iya...." Na Ri sendiri kebingungan, selama ini dia tidak pernah menanyakan siapa ayahnya, karena ibunya selalu menyibukan pikirannya dengan dunia ke artisannya. Dia merasa seolah dia terlahir begitu saja tanpa pernah tahu latar belakang ibunya.


"Nona Jung....bisakah anda tanyakan pada ibumu, siapa nama ayahmu?"


Na Ri berpikir sejenak, "Aku tidak yakin ibu akan memberitahuku..."


Terdengar helaan nafas berat dari Kwak Tae Rang,


"Aku sangat peduli dengan sahabatku, dia adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku....tanpa Myung Ri, aku tidak akan seperti ini."


Kwak Tae Rang teringat masa-masa sulit dalam hidupnya, dia bersahabat dengan Song Myung Ri sejak SMA. Dia terlahir dari keluarga yang sangat miskin, sedangkan Song Myung Ri adalah anak tunggal seorang pengusaha kaya raya.


Song Myung Ri selalu membantu Kwak Tae Rang dalam hal apapun, hubungan mereka sangat dekat melebihi saudara.


Makanya dia sangat ingin membuat sahabatnya sembuh kembali.


Menurut dokter, fisik sahabatnya tidak bermasalah, hanya psikisnya yang perlu mendapat terapi terus menerus dan dukungan dari orang-orang terdekat yang memungkinkan Song Myung Ri bisa mengembakikan ingatannya.


"Aku berharap....sahabat anda segera mengingat semuanya..." Na Ri bersimpati.


"Tapi nona Jung, maukah kamu membantuku memulihkan ingatannya sepenuhnya....setidaknya, agar kita tahu dimana anaknya. Karena yang dia ingat hanya anaknya selama ini."


Na Ri menghela nafas, menanyakan nama ayahnya pada ibunya sama saja dengan menanyakan siapa selir ke delapan dari raja Joseon! Dia akan berbelit-belit!


"Aku akan coba pak Kwak..."


"Terimakasih nona Jung....tolong tanyakan juga apakah dia tahu seseorang bernama Song Myung Ri."


Kwak Tae Rang berharap banyak pada Na Ri untuk kesembuhan sahabatnya. Mungkin saja Na Ri adalah anak sahabatnya ini.


"Baiklah...nanti aku akan kabari anda lagi..." Jawab Na Ri dengan suara masih agak kebingungan.


Na Ri melanjutkan memasak haejangguk* saat Jung Bok Sil keluar dari kamar sambil menguap.


"Aiih bau harum apa ini?" Hidungnya mencium bau harum dari dapur.


"Ibu sudah bangun." Sapa Na Ri. Dia segera menata meja kecil berkaki pendek untuk meletakan sarapan yang dimasaknya.


"Omo! Kamu memasak?"


"Tentu, ibu harus cicipi masakanku!" Balas Na Ri dengan suara gembira.


"Tapi kamu kan tidak bisa memasak!"


Jung Bok Sil menghampiri Na Ri,


"Nenek dan bu Park mengajariku memasak. Ternyata memasak itu menyenangkan." Wajah Na Ri berseri-seri.


Kejutan demi kejutan dialami Jung Bok Sil, dia seperti tidak mengenali anaknya lagi! Na Ri sudah seperti gadis desa kebanyakan sekarang.


"Ayo bu, kita sarapan."


Sesendok haejangguk dicicipi oleh Jung Bok Sil, matanya langsung terbelalak, "Wahh ini rasanya enak sekali! Persis masakan ibuku dulu!"


"Aku punya nenek, bu?" Tanya Jung Na Ri cepat. Jung Bok Sil meletakan sendoknya, dia tampak gugup.


"Eh... aku...akan mencuci mukaku.."


Sebelum Jung Bok Sil bangkit dari duduknya, Na Ri menahan tangan ibunya.


"Bu, sampai kapan ibu akan menutup rapat soal keluarga kita? Aku tidak pernah tahu ibu itu anak siapa... siapa saudara-saudara ibu...bahkan aku tidak tahu siapa ayahku."


"Na Ri, sudahlah, kamu tidak perlu bertanya apapun....jika kamu merasa tenang disini, lanjutkan hidupmu!" Jung Bok Sil berusaha menghindar, tapi Na Ri masih memegangi tangan ibunya.


"Mengapa bu? Apa yang ibu sembunyikan? Seumur hidupku, aku hanya tahu ibu. Ibu dan aku tentu tidak tiba-tiba hadir begitu saja, kan? Siapa ayahku? Siapa keluarga kita yang lain?"


Brak! Jung Bok Sil menggebrak meja, dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan Na Ri, yang tidak pernah ditanyakannya sebelumnya.


"Cukup! Kamu hanya perlu aku! Aku satu-satunya keluargamu!"


Na Ri merasa ibunya menyembunyikan rahasia besar tentang masa lalunya. Dulu dia tidak pernah memikirkan hal ini, selama ibunya selalu memenuhi kebutuhannya, dia bisa berpesta diluar bersama teman-temannya, dia bekerja non stop sebagai artis dan penyanyi atau jadi bintang iklan, dia bisa liburan ke luar negri atau shopping barang mewah, itu sudah cukup.


Bahkan jikapun dia ingin menanyakan soal ayahnya, semua jadi tidak akan sempat dia tanyakan.


Dunianya dulu berputar cepat penuh persaingan dan kerja keras, berbanding terbalik dengan dunianya yang sekarang, semua berjalan normal bahkan terkesan lambat, dia bisa memikirkan apapun dengan pikiran jernih tanpa takut ditinggalkan atau dilupakan. Tanpa takut hujatan atau penilaian orang lain lagi.


Dia menjalani hidup sekarang lebih alami, lebih apa adanya, tanpa kepalsuan. Dia belajar empati dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri tanpa harus mengemis untuk diperhatikan.


Empati? Hal yang sangat asing untuknya dulu, dulu dia hanya peduli akan dirinya sendiri!


Jung Bok Sil beranjak dari meja makan,


"Bu, apakah ibu mengenal Song Myung Ri?"


Tanya Na Ri, seketika menghentikan langkah ibunya.


Wajah Jung Bok Sil tiba-tiba pucat pasi, tubuhnya gemetar, mendadak dia merasa sangat lemas.


Jung Bok Sil perlahan berbalik,


"Si...siapa?"


"Song Myung Ri....apakah ibu mengenalnya?"


Jung Bok Sil menggeleng,


"Aku tidak mengenal orang dengan nama itu."


Na Ri menatap ibunya,


"Baiklah bu... baiknya kita sarapan sekarang. Maafkan aku sudah menanyakan hal yang ibu tidak mau katakan. Aku hanya tiba-tiba ingin tahu saja."


Jung Bok Sil berdiri mematung, hatinya sangat gundah. Dia tidak mengerti mengapa Na Ri begitu penasaran tentang keluarganya, bahkan dia menanyakan nama seseorang yang sangat ingin dia hapus dari ingatannya.


*


Kwak Tae Rang mendapat telpon dari Na Ri, dia mengatakan ibunya tidak kenal dengan orang yang bernama Song Myung Ri.


Walaupun dalam hati Na Ri sangat ingat bagaimana reaksi ibunya ketika mendengar nama itu. Tapi Na Ri tidak ingin merusak suasana pertemuannya dengan ibunya, dia ingin mengisi kedatangan ibunya dengan kesan yang baik tentang kehidupan yang dia jalani sekarang juga tentang desa deukhaengbokdeurim yang indah ini.


Dia sangat berharap ibunya akan menyukai semua yang dia lakukan, dia juga ingin membuat kenangan yang manis dengan ibunya dalam suasana yang sangat sederhana dan wajar selayaknya orang-orang lain lakukan. Karena selama ini hampir tidak pernah dia lakukan sebagai anak kepada ibunya.


"Aku akan kembali ke Iksan nanti sore, tapi aku akan kembali tiga hari lagi." Ada nada kecewa dari suara Kwak Tae Rang, tadinya dia berharap Na Ri akan memberinya kabar yang baik.


"Baiklah Pak Kwak, aku akan mengunjungi sahabat anda saat anda kembali ke Muju. Jadi sampai jumpa tiga hari lagi."


"Baik, aku akan tunggu anda nona Jung. Aku tutup telponnya."


Kwak Tae Rang menghela nafas, dia memikirkan perkataan dokter yang menangani sahabatnya, bahwa Song Myung Ri kenungkinan mengkonsumsi obat penenang selama ini.


Dokter menduga Song Myung Ri kemungkinan juga menderita Bipolar Disorder* tapi hal ini harus dipastikan melalui beberapa rangkaian test dan tahapan yang tidak sederhana dan sangat panjang.


Jika benar dia menderita Bipolar Disorder, seharusnya dia selalu mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya. Tapi tampaknya Song Myung Ri tidak lagi mengkonsumsinya karena keadaannya saat ditemukan dulu dia sudah bisa dikatakan seperti orang gila.


Bipolar Disorder jika tidak ditangani dengan tepat, akibatnya akan sangat fatal. Dokter mengatakan, beruntung Song Myung Ri tidak melakukan bunuh diri seperti yang sering dilakukan oleh penderita Bipolar tingkat lanjut.


Kwak Tae Rang bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada sahabatnya ini? Padahal dia dulu adalah lelaki yang sangat sehat dan sangat baik hati.


Keluarganya sangat kaya raya, memang sejak dulu keluarganya sangat keras dan melarang Song Myung Ri untuk berteman dengan anak miskin seperti dirinya. Mereka sangat menjaga martabat mereka sebagai orang kaya.


Tapi Song Myung Ri tidak pernah sedikitpun mendengarkan larangan keluarganya, dia selalu menjadi sahabat terbaiknya dan dia juga selalu membantu teman yang lain yang dalam kesulitan.


Tiba-tiba Kwak Tae Rang ingat satu sahabatnya lagi yang dulu sering ditolong oleh Song Myung Ri....


Ah! Nam Dongmin dimana dia sekarang?


Terakhir dia bertemu dengan Nam Dongmin di bandara Incheon saat dia akan berangkat ke Canada dua tahun lalu, dulu dia mengatakan pernah bekerja pada Song Myung Ri selepas kuliah sampai perusahaan milik sahabatnya itu hancur dan jatuh pailit.


Dan Song Myung Ri menghilang meninggalkan anak dan istrinya. Hanya itu yang sempat dia dengar dari Nam Dongmin karena pesawatnya akan segera berangkat, dan dia hanya sempat meminta nomor telpon Nam Dongmin, dan tidak sempat untuk meneleponnya lagi karena kesibukannya yang sangat menyita waktunya saat itu.


Sebenarnya menghilangnya Song Myung Ri sudah dia dengar lebih dari dua puluh tahun lalu, jauh sebelum dia bertemu dengan Nam Dongmin. Dulu dia sudah berusaha keras mencari dimana keberadaan Song Myung Ri, dia datangi rumah orang tuanya, ternyata merekapun sudah pindah dan rumah mereka sudah dijual.


Bertahun-tahun Kwak Tae Rang mencari-cari sahabatnya, tapi dia tidak pernah bisa menemukannya sampai akhirnya dia menemukan Song Myung Ri di desa deukhaengbokdeurim, di danau Mujigae.


Kwak Tae Rang mencari-cari nomor Nam Dongmin diponselnya. Dia berharap masih memiliki nomor temannya itu. Sudah lama sekali.


Setelah menemukan nomor Nam Dongmin, dia segera menelepon teman SMA nya itu.


Dia sangat berharap nomor ini masih aktif.


"Hallo?" Terdengar suara khas milik Nam Dongmin yang masih sangat dia ingat, karena aksen Daegu tempat kelahiran Dongmin yang tidak bisa hilang.


"Dongmin? Apakah ini Nam Dongmin?"


"Siapa ini?"


"Aku Kwak Tae Rang."


Nam Dong Min terkejut mendapat telepon dari teman lamanya secara tiba-tiba, dia ingat setelah memberi nomor teleponnya dua tahun lalu di bandara Incheon, Kwak Tae Rang tidak pernah menghubunginya, padahal banyak sekali yang ingin dia ceritakan pada Kwak Tae Rang mengenai Song Myung Ri. Tapi dia tidak memiliki nomor telepon Kwak Tae Rang.


"Ah! Tae Rang! Akhirnya setelah dua tahun kamu menghubungiku juga!"


"Maafkan aku Dongmin...aku ingin bertemu denganmu. Aku menemukan Song Myung Ri!"


Nam Dongmin hampir jatuh terduduk mendengar nama mantan boss yang juga sahabatnya itu telah ditemukan.


"Katakan kamu dimana? Aku akan menemuimu!"


***


Bipolar Disorder * :


Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).


Haejangguk* : Sup iga