
Yunna sedang berada di Kantor Gorae. Gadis itu menunggu kekasihnya selesai melakukan operasi ketika Na Ri berulang kali menelepon Gorae.
Yunna melihat layar handphone milik Gorae, untuk melihat siapa yang berulang kali meneleponnya.
Mata Yunna terbelakak, yang menelepon Gorae adalah Jung Na Ri!
Rupanya mereka saling bertukar nomor telepon!
Mendadak darah Yunna mendidih karena marah dan cemburu.
Bunyi telepon berhenti, disusul satu pesan masuk dari Na Ri, cepat-cepat Yunna membaca pesan dari Na Ri.
Tiba-tiba Gorae masuk, "Yunna? Kamu di sini?" Gorae menyapa dengan gembira, dia tidak menyangka Yunna akan datang ke kantornya, selama dua hari ini Yunna selalu menghindarinya, tidak menjawab telepon atau pesan-pesan darinya.
Yunna mendelik marah.
"Jelaskan apa ini?! Apa maksud pesan dia disini? Kalian janji ketemu kan?"
Suara Yunna sedikit meninggi, tangannya menunjukan pesan di handphone Gorae.
Gorae keheranan, "Apa maksud kamu?
"Kamu bertukar nomor telepon dengan ratu drama itu!"
Suara Yunna bergetar. Gorae mengambil handphonenya dari tangan Yunna.
Dia membaca pesan dari Na Ri, dan 7 panggilan tak terjawab.
Gorae mengerutkan dahinya, ada apa dengan Na Ri? Kenapa dia di Namsan? Bukankan dia ada peragaan busana hari ini?
"Hey! Kamu ada janji dengan dia?!" Tanya Yunna kesal.
"Tidak, aku tidak ada janji apapun dengan Na Ri." Jawab Gorae agak kebingungan.
"Aku tidak menyangka kamu bahkan bertukar nomor telepon dengan dia!"
Wajah Yunna memerah, tadinya dia datang ke kantor Gorae untuk berbaikan dan mengajaknya makan nanti malam.
"Yunna, aku sudah berkali-kali menelepon kamu, mengirim pesan, mencari kamu selama dua hari ini.
Tapi kamu terus menghindar. Aku mau cerita soal Na Ri..."
Yunna menyipitkan matanya, "Tampaknya kamu sudah akrab dengan gadis drama itu ya!" Suara Yunna menajam.
"Tidak juga, tapi gadis itu benar-benar harus ditolong."
Gorae kemudian menceritakan bagaimana dia bisa bertemu Na Ri di apartementnya, dan mereka akhirnya bertukar telepon. Tidak ada satupun yang Gorae lewatkan.
Yunna merasa dadanya mau meledak, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kamu benar-benar tidak bisa kupercaya!"
Suara Yunna bergetar,
"Kamu berharap aku akan mengerti, begitu?"
Air mata Yunna mulai mengalir.
"Mengasihani dan membantu orang lain dalam kesulitan tentu akan membuat kamu senang, tapi itu bukan rasa yang sebenarnya, itu adalah ego diri untuk memenuhi rasa puas dan rasa bangga kamu.
Kamu sangat tidak membantunya untuk bangkit!"
Gorae menggenggam tangan Yunna, dia kemudian menceritakan bagaimana dia gagal menolong sahabatnya semasa SMA dulu dan dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana temannya tewas sangat mengenaskan.
Yunna menarik tangannya,
"Berkorban untuk orang lain konsekuensinya kamu akan mengorbankan sesuatu yang penting dalam hidupmu.
Kamu melupakan apa yang seharusnya menjadi prioritas hidup kamu! Dia akan tergantung padamu Gorae!"
Yunna berlari keluar, Gorae menyusulnya. "Yunna, Yunna!"
"Jangan ikuti aku! Urus saja ratu drama itu!"
Yunna menepis tangan Gorae, dia sangat marah. Hatinya terasa sangat sakit.
Gorae berdiri mematung memandangi Yunna yang masuk ke dalam lift. Dia sangat mengerti mengapa Yunna bersikap seperti itu. Tapi mengacuhkan Na Ri yang hampir bunuh diri dia pun tidak sanggup untuk berdiam diri.
Apakah ini benar rasa egonya? Gorae kembali ke kantornya.
Dia kembali membuka handphonenya, ada apa dengan Na Ri? Gorae bertanya-tanya. Apakah dia baik-baik saja?
Kembali dia membaca pesan dari Na Ri,
'Gorae, aku di Namsan, aku bingung.'
Gorae memutuskan untuk menghubungi Na Ri,
Setelah beberapa lama seseorang diseberang telepon menjawab, bukan suara Na Ri tapi suara lelaki tua.
"Ha..hallo?!" Suara diseberang sana terdengar serak.
"Hallo, ini adalah nomor teman saya, anda siapa?"
"Aku yang menemukan telepon ini di pinggir jalan. Dari tadi aku menunggu seseorang akan menghubungi telepon ini."
Rasa cemas mulai menjalari Gorae, "Dimana paman sekarang?"
"Aku di jalan menuju Namsan Tower. Aku punya kedai kecil di sini."
Namsan!
"Bisakah paman berikan alamatnya? Saya akan ke sana dalam satu jam, mohon paman tunggu saya."
Setelah mendapatkan alamat dari lelaki tua itu, Gorae bergegas menuju ke mobilnya di tempat parkir.
Dia memacu mobilnya menembus kota Seoul menuju ke daerah dekat Namsan Tower.
Gorae tidak kesulitan menemukan Kedai milik lelaki tua itu. Jalanan di daerah ini bukan jalan besar dan tidak begitu ramai.
Lampu jalanan sudah mulai menyala, walaupun hari belum terlalu gelap.
Sebetulnya jika tidak sedang terburu-buru, rasanya sangat menyenangkan berjalan-jalan di daerah ini disaat senja seperti sekarang.
Sesampainya di dalam kedai, seorang lelaki tua menghampirinya, tubuhnya agak sedikit bungkuk tapi dia masih sangat lincah bergerak.
Dia tersenyum melihat Gorae, beberapa gigi depannya sudah tanggal.
Gorae mengangguk sopan.
Lelaki tua itu merogoh kantongnya,
"Ini, aku temukan di seberang jalan saat aku hendak membuang sampah."
Gorae memegang dan memandangi handphone milik Na Ri, dia bertanya-tanya apakah Na Ri tidak sadar handphonenya terjatuh?
"Anu, benarkah kamu temannya?" Lelaki tua itu menyelidik lelaki tinggi dan tampan dihadapannya.
Gorae mengangguk, "Iya, namaku Kang Gorae." Gorae memperkenalkan diri.
"Baiklah, terimakasih paman sudah menjaga handphone teman saya." Gorae berpamitan.
"Oh tunggu sebentar! Aku tidak yakin apakah ini juga milik temanmu, aku menemukannya dekat dengan telepon itu."
Lelaki tua itu bergegas masuk ke dalam, dan kembali dengan sepatu high heel warna ungu tapi hanya sebelah kiri. Gorae tidak yakin dengan sepatu itu, tapi jika ditemukan dekat dengan hand phone milik Na Ri, bisa jadi sepatu itu milik Na Ri.
Gorae menerima sepatu itu, lalu dia bertanya, "Paman bilang, Paman menemukannya di seberang jalan? Jam berapa itu?"
"Kira-kira...kurang dari dua jam lalu."
Lelaki tua itu melihat jam.
"Paman tidak melihat apapun di depan sana sebelumnya?"
Lelaki tua itu menggeleng,
"Tidak, kedai ku sedang sibuk, tadi beberapa turis asing makan di tempat ku."
Gorae berpikir sejenak, mungkinkah sesuatu terjadi dengan Na Ri? Jika ini sepatunya, tidak mungkin dia melepaskan satu sepatu dan pergi!
Atau, jangan-jangan dia diculik? Gorae mulai gelisah.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, Gorae menyeberangi jalan untuk melihat dimana Na Ri menjatuhkan handphonenya, tapi lelaki tua itu mengikutinya dan menunjukan letak dimana dia menemukan handhone dan sebelah sepatu high heel. Lelaki tua itu kembali ke kedainya. Gorae mengangguk dan kembali mengucapkan terimakasih.
Sisi di seberang kedai lelaki tua ini adalah bukit. Tidak ada pertokoan. Ada tong-tong sampah berjejer dengan rapi di depan bukit ini.
Gorae mendongak ke arah bukit, tidak mungkin Na Ri pergi ke atas bukit, terlalu terjal.
Gorae memandang berkeliling, dia tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk kemana Na Ri pergi.
Gorae memutuskan untuk pergi, saat melangkah turun dari trotoar, kakinya menginjak sesuatu. 'Krek!'
Gorae menengok ke kakinya untuk melihat apa yang diinjaknya.
Gorae melihat name tag tak bertali di bawah sepatunya. Gorae memungut name tag itu. Tertulis ARV, nama salah satu media televisi. Tertulis nama Go Hanna.
Gorae mengira-ngira jarak tempat handphone dan sepatu high heel, dengan name tag yang ditemukannya.
sangat dekat!
Gorae menemukan nomor telepon kantor televisi ARV yang tertulis di bagian bawah kartu pengenal itu.
Setelah menunggu beberapa saat, suara ramah seorang gadis dari seberang telepon menyapa.
"Selamat malam ARV, dengan Ae Ra, bisa di bantu?"
"Selamat malam.Bisa bicara dengan Go Hanna?"
Tanya Gorae.
Sesaat suara diseberang senyap.
"Hallo?" Gorae menyusul dengan tidak sabar.
"Mohon tunggu sebentar." Suara diseberang kembali menjawab.
Gorae menunggu.
"Hallo...maaf Go Hanna sudah berhenti dari ARV."
"Kapan?"
"Disini tertulis satu bulan yang lalu Go Hanna tidak bekerja lagi di sini."
"Boleh tahu dia bekerja dimana sekarang?" Tanya Gorae penasaran.
"Maaf kami tidak tahu."
"Boleh saya minta tolong alamat atau nomor teleponnya?"
Kembali senyap... kemudian,
"Maaf kami tidak bisa membantu."
"Aku mohon, temanku menghilang, dan aku menemukan name tag Go Hanna di tempat dia menghilang. Barangkali dia tahu tentang temanku."
Gorae meremas rambutnya.
"Baik, mohon tunggu sebentar... "
Kembali Gorae menunggu beberapa saat, Gorae mengira-ngira mungkinkah gadis itu sedang berdiskusi? Atau mencari alamat Go Hanna?
Kemudian,
"Hallo? Anda masih disana?"
"Ya."
"Alamat terakhir yang kami catat dia tinggal di Gangnam...eh...sebentar, desa Guryong, distrik Gangnam."
Gorae mengerutkan alisnya, desa Guryong adalah daerah kumuh di distrik Gangnam. Sungguh ironis sebenarnya desa kumuh itu terselip diantara gedung-gedung tinggi nan megah.
"Alamat jelasnya?"
"Tidak ada, kami mohon maaf."
Gorae menghela nafas dan menghembuskannya kuat-kuat.
"Pak? Kenapa anda tidak menghubungi polisi saja?"
Suara diseberang tampak bersimpati.
"A ..aku belum yakin, dan polisi hanya menerima laporan orang hilang jika sudah lebih dari 24 jam dan tidak ada tanda-tanda dari orang hilang itu."
Setelah mengucapkan terimakasih, Gorae memutus hubungan telepon.
Gorae bingung kemana dia harus mencari Na Ri. Entah mengapa dia merasa terjadi sesuatu dengan Na Ri.
Dalam perjalanan menuju desa Guryong, Gorae sekali lagi menghubungi stasiun Tv ARV, sebuah sapaan ramah kembali dia dengar,
"Maaf, aku yang tadi menanyakan Go Hanna. Boleh aku minta tolong, ini sangat darurat."
"Silahkan." Jawab gadis diseberang telepon.
"Di name tagnya tertulis jabatannya sebagai reporter, sudah berapa lama dia bekerja di stasiun ARV?"
"Saya akan hubungkan anda dengan kepala Divisi News dan Current affair, mohon tunggu sebentar.."
"Ok, terimakasih."
Tidak lama, terdengar suara berat dari seberang telepon.
"Moon Hayoon disini.."
"Selamat malam, saya Kang Gorae, saya sebenarnya sedang mencari teman saya yang hilang..."
Belum sempat Gorae menyelesaikan pembicaraannya, lelaki bersuara berat itu memotong.
"Ah, anda yang tadi mencari tahu dimana Go Hanna, betul?"
"Iya, adakah yang bisa saya lakukan untuk mencari Go Hanna, adakah rekan kerjanya yang tahu tepatnya dimana dia tinggal dan berapa lama Go Hanna bekerja di ARV?"
Terdengar hembusan nafas berat dari seberang telepon.
"Dia bekerja disini lebih dari empat tahun, dan sebulan lalu tiba-tiba dia mengundurkan diri."
"Apakah mungkin dia punya teman dekat?" Tanya Gorae.
"Iya ada, satu-satunya teman dekat Hanna namanya Bae Ryung Go. Kamu mau nomor teleponnya? Aku akan kirim kontaknya sekarang."
"Terimakasih banyak." Jawab Gorae,
Gorae menghubungi Bae Ryung Go, mereka kemudian berjanji bertemu di cafe dekat tempat tinggal Ryung Go.
Bae Ryung Go berusia sekitar tiga puluhan. Dia sudah menunggu di cafe Rollrang dan tangannya menggenggam cangkir teh yang panas untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
Setelah memperkenalkan diri, Gorae langsung menceritakan tentang hilangnya Na Ri, tanpa menyebutkan nama Na Ri pada Ryung Go.
"Sekali aku pernah mengantar dia saat dia tidak enak badan. Tapi tidak sampai ke rumahnya hanya didepan jalan masuk desa Guryong...karena Hanna melarangku mengantarnya sampai ke rumahnya."
Wajah Gorae terlihat kecewa, lalu Bae Ryung Go melanjutkan,
"Aku berpura-pura pergi, setelah dia agak jauh, diam-diam aku ikuti dia. Agak sulit aku menggambarkannya padamu." Ryung Go berusaha menggambarkan denah letak rumah Hanna di atas secarik kertas.
"Aku tidak sampai ke rumahnya, karena aku mengikutinya dari kejauhan tapi aku yakin rumahnya ada di ujung jalan ini." Ryung Go menunjukan salah satu gang dalam gambaran denahnya.
"Anda harus ingat-ingat jalan ini, selain kumuh, gangnya banyak sekali.
Pokoknya masuk dulu dari toko pangkas rambut ini. Di daerah itu hanya ada satu toko pangkas rambut. Gang setelahnya selalu belok kiri, mengerti?"
Wajah Ryung Go bersungguh-sungguh ingin memastikan jika Gorae mengerti.
Gorae memandangi denah yang digambarkan Ryung Go, dan diapun mengangguk tanda mengerti.
"Anu..." Suara Ryung Go terdengar ragu-ragu seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Ya?"
"Hanna itu sebetulnya gadis yang ceria, tapi aku sering melihat kadang dia aneh.."
"Maksudnya?"
"Jika tersinggung, dia akan mengamuk seperti banteng kesetanan...untuk hal-hal kecil pun dia sangat sensitive.."
Gorae menyimak, otaknya berpikir cepat.
"Makanya ketika anda mengatakan teman anda hilang, dan name tag Hanna ada di lokasi, aku sempat khawatir, Hanna akan melakukan hal yang gila."
"Apakah pernah ada kejadian sebelumnya?" Gorae penasaran.
"Dua tahun yang lalu, dia melempar kamera ke wajah penata rias karena dia tersinggung akan ucapan penata rias itu. Hanna hampir dilaporkan ke polisi."
"Lalu?"
"Penata rias itu meminta maaf sambil berlutut dihadapan Hanna, aku rasa itu aneh... dan keesokan harinya penata rias itu tidak pernah kembali."
"Maksudnya berhenti kerja?"
"Tidak, keluarganya mencari dia kemana-mana. Bahkan polisi pun tidak bisa menemukannya."
"Apakah mungkin ada hubungannya dengan Hanna." Gorae melipat kedua tangannya di meja.
Ryung Go menunduk, "Aku tidak yakin, tapi Hanna memakai gelang sama persis dengan milik penata rias itu."
"Mungkin saja itu kebetulan?" Tanya Gorae...Ryung Go menggeleng,
"Di gelang itu ada inisial nama penata rias itu. Aku tidak berani menanyakan apapun padanya."
"Tapi, bukankah kalian dekat?"
Ryung Go menerawang.
"Kita hanya dekat sebagai rekan kerja, tidak secara pribadi. Dia begitu gesit dan pintar mencari berita."
Gorae mengangguk, Ryung Go menambahkan,
"Dia sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya. Orang akan melihat kita dekat, tapi aku tidak merasakan kedekatan emosi dengannya."
"Baiklah, aku berharap bisa menemukan Hanna. Terimakasih atas bantuan anda nona Bae."
Bae Ryung Go mengangguk, "Aku harap anda bisa menemukan teman anda secepatnya. Jika anda memerlukan informasi lain atau aku teringat sesuatu, jangan ragu untuk kontak aku."
Gorae berterimakasih dan mereka berpisah.
Gorae memacu mobilnya menuju desa Guryong. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22:45.
Gorae berharap bisa menemukan Go Hanna malam ini.
*
Di sudut gang yang sempit, di sebuah rumah kecil - tepatnya rumah ini seperti gubuk dengan dinding dari separuh tembok dan separuh dari bahan triplek dan seng, itupun sudah sangat lapuk dan bobrok.
Rumah ini agak terpencil dan jauh dari tetangga-tetangga lain.
Kiri, kanan dan bagian depan rumah ini adalah tumpukan barang-barang bekas.
Lampu penerangan jalan pun tidak ada, sehingga suasananya sangat dingin, gelap dan menyeramkan.
Dalam penerangan yang sangat minim, suasana didalam rumah itu suram dan remang-remang, terdengar seseorang membentak dengan suara keras,
"Berhenti menangis! Kamu gadis manja!"
PLAAAKKK! Suara tamparan keras "Ummhh!" Suara kesakitan dari mulut seseorang dengan mulut terbekap oleh lakban hitam.
Na Ri menggelengkan kepalanya keras-keras, matanya memohon agar tidak di sakiti lagi.
Tangan dan kakinya terikat, gadis itu duduk bersimbuh di lantai yang lembab dan kotor.
Hanna yang berdiri di depannya terus menamparinya, memukuli wajahnya sekuat tenaga, menjambakinya, kemudian menendang perutnya dengan keras, hingga Na Ri yang terikat tidak berdaya tersungkur jatuh ke lantai.
Tidak puas dengan kemarahannya, Hanna melemparkan barang apapun yang ada di dekatnya. Tas, piring, mangkuk, gelas, kaleng makanan sampai panci ke tubuh Na Ri.
Wajah dan tubuh Na Ri babak belur penuh luka berdarah, kepalanya sangat sakit.
"Bangun kamu! Bangun!" Bentak Hanna galak, Na Ri sudah tidak sanggup untuk bangkit, sudah lebih dari satu jam sejak dia siuman, dia menemukan dirinya sudah terikat dengan mulut ditempeli lakban. Dan tubuhnya hampir telanjang bulat.
Hanna merobek-robek pakaiannya hingga dia terlihat compang camping dan menyedihkan. Seluruh tubuhnya penuh luka, dan dia terus di pukuli tanpa tahu apa kesalahannya.
Hanna dengan kasar menjambak rambut Na Ri dan menariknya hingga gadis itu terangkat badannya dan mendorong tubuhnya agar Na Ri bersandar ke tembok.
Na Ri menangis kesakitan.
"Dua hari yang lalu, kamu menangis dan bersiap untuk mati! Aku sudah sangat senang kamu akan bunuh diri!"
Na Ri mencoba untuk bicara, tapi lakban dimulutnya terlalu kuat merekat, hingga dia hanya bisa mengeluarkan suara-suara kecil yang teredam.
"Kamu tahu? Aku sangat kaget ketika tahu kamu masih hidup! Aku benar-benar benci kamu!"
Suara Hanna melengking keras.
"Apa? Kamu mau mengatakan sesuatu? Ha ha ha... sungguh menyenangkan melihat kamu menderita seperti ini!"
Na Ri berusaha memberontak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ha ha ha...oke, oke, aku akan buka lakban ini sebentar, jangan berharap ada orang yang akan mendengar kamu! Karena disini adalah tempat orang-orang yang terbuang! Tidak pernah ada yang peduli jika kamu mau mati sekalipun!"
Dengan kasar Hanna menarik laban dari mulut Na Ri.
"Aapa ss...salahku? Ke kena pa...kka mu...ss sangat kejam?" Suara Na Ri sangat parau.
"Salahmu? Hahaha... dasar gadis bodoh! Kamu berdosa! Dosa mu sangat besar!" Hanna berjongkok mendekatkan mukanya ke muka Na Ri.
"Aku pernah membunuh dua orang perempuan sombong di rumah ini, jadi aku tidak akan kesulitan membunuh gadis lemah seperti mu!"
Na Ri begidik ngeri, dia merasakan hembusan nafas Hanna di wajahnya.
Terasa seperti hawa setan yang penuh kebencian.
"Ke..kenapa kamu membenciku?" Na Ri gemetaran, dia menahan nafas karena ketakutan.
"Kamu gadis yang pantas dibenci! Kita mempunyai hari dan tahun lahir yang sama! Tapi kenapa nasib kita sangat berbeda?"
Hanna membelai wajah Na Ri, "Kamu cantik dan sangat beruntung, kamu kaya dan terkenal, kamu punya segalanya! Sedangkan aku? Aku dilahirkan di rumah ini! Aku tidak tahu siapa ayahku! Ibuku seorang pelacur! Yang hanya bisa menjual tubuhnya!"
"Sejak kecil aku selalu ingin bernasib sepertimu...tapi ibuku sangat kejam! Dia hanya ingin menjual aku jika aku besar! Setiap malam, aku akan menyaksikan berbagai lelaki meniduri ibuku di sini!"
Suara Hanna berubah muram. Dia mundur dan duduk di depan Na Ri.
Na Ri beringsut agar dia lebih jauh lagi dari Hanna, dia sangat ketakutan.
"Aku mengumpulkan setiap gambar kamu di koran dan majalah bekas dari dulu sampai sekarang, aku tahu semuuua kegiatan kamu, aku hafal lagu-lagu kamu, bahkan aku hafal setiap kata dari ucapan mu di drama dan film..aku tahu iklan apa saja yang kamu bintangi!"
Na Ri memandang berkeliling, dia baru sadar dinding rumah ini dipenuhi oleh gambar- gambarnya, juga kliping potongan berita tentang dirinya.
"Aku bertekad agar aku bisa dekat dengan mu, aku harus jadi sahabat kamu atau jadi artis seperti mu! Aku menjual tubuhku saat aku berusia empat belas tahun, tapi ibuku yang menikmati hasil jerih payahku! Perempuan sundal itu harus mati!"
Suara Hanna penuh kemarahan.
"Ka kamu....membunuh ibumu?" Na Ri merasa sangat ngeri. Baginya yang duduk di depannya bukanlah Hanna, tapi monster jahat yang sangat menakutkan.
"Tentu saja! Aku bunuh dia! Aku beri racun ke dalam minumannya hahahaha...dia kejang-kejang dan membiru hahaha...sungguh saat yang paling menyenangkan!"
"Kamu gila! Kamu sudah tidak waras!" Teriak Na Ri.
"Apa? Apa bedanya dengan kamu? Saat kamu ingin bunuh diri dan jadi ratu drama, kamu pikir kamu waras?" Tukas Hanna dengan seringai aneh di wajahnya.
"Aku benci saat tubuhmu di kagumi banyak orang, kulitmu dirawat dengan sangat baik, aku harus menjual tubuhku! Aku terus melayani puluhan bahkan ratusan laki-laki hanya untuk membayar sekolahku!"
"Tapi...lama-lama aku ketagihan, aku sangat suka ditiduri laki-laki yang kasar, aku kadang membiarkan diriku diperkosa ramai-ramai...aaahhh...sangat memuaskan rasanya...dan mereka akan memberiku uang yang sangat banyak." Hanna tersenyum seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Akhirnya aku berhasil menyelesaikan kuliah setelah aku tidur dengan dosen-dosenku....aku juga tidur dengan HRD di ARV agar aku bisa jadi reporter....apapun keinginanku aku harus menjual tubuhku ini!"
Ada nada kesedihan yang sangat mendalam dari suara Hanna. Na Ri jadi teringat bagaimana dulu diapun dijual ibunya demi sebuah peran.
Hujan tiba-tiba turun sangat deras,
Na Ri mulai menggigil, bajunya yang sudah compang camping tidak bisa menahan dingin yang menusuk tulangnya.
"Lalu aku membunuh satu penata rias yang sombong, yang mengatakan, aku tidak akan pernah bisa menandingi Jung Na Ri dalam hal apapun, ketika aku bilang tubuhku lebih bagus dari tubuhmu yang kurus!"
Na Ri memejamkan matanya, dia merasa sangat ngeri, tidak sanggup membayangkan kekejaman Hanna.
"Semua yang aku lakukan, semua yang terjadi adalah gara-gara kamu! Karena kamu Na Ri!"
Tiba-tiba saja Hanna kembali menampar Na Ri dengan keras, membuat Na Ri terpelanting jatuh.
"Kamu tahu, apa yang lebih menyakitkan dari semua ini? Saat aku berhasil tanpa sengaja bertemu kamu, aku memohon agar kita bersahabat sesuai impianku, kamu malah lari, menghindar dariku!"
Hanna kembali menjambak rambut Na Ri agar kembali duduk.
"Untung kamu sangat lemah, aku menemukanmu pingsan dan sekarang kamu sudah tahu semuanya!"
"Lepaskan aku...ku mohon...tolong lepaskan aku." Na Ri dengan suara lemah memohon.
Hanna menjilati pipi Na Ri seperti ular berbisa...
"Aku akan melepaskan.....mmm....nyawa....dari tubuhmu!"
***