I'll Be There When It's Blue

I'll Be There When It's Blue
Would You Be My Friend?



Acara peragaan busana dari merk pakaian terkenal Crallys sukses dilangsungkan. Na Ri membawakan satu rancangan dari perancang dunia dari Paris itu untuk melenggak lenggok di atas catwalk.


Tubuhnya yang tinggi kurus sangat cocok mengenakan gaun mewah berwarna ungu transparan. Na Ri bahkan tidak memakai bra, sehingga lekuk payudaranya yang indah begitu terlihat sempurna dibalik balutan gaun yang bertaburkan berlian swarovski.


Undangan yang hadir terdiri dari istri-istri pejabat, kaum sosialita dan artis-artis papan atas di Korea.


Seusai acara, kerumunan wartawan sudah mencegatnya saat dia, Oh Sung Ji dan ibunya menuju mobil yang sudah menunggu. Lima bodyguard bertubuh besar berusaha menghalau para wartawan yang mencecar Na Ri dengan bermacam-macam pertanyaan.


Kilatan lampu blitz terus menerus berkilatan menerpa wajah cantiknya. Na Ri sebisa mungkin melemparkan senyum manisnya ke arah para wartawan dengan melambaikan tangannya.


"Jung Na Ri, ada yang ingin anda katakan dengan niatan anda untuk bunuh diri dua hari yang lalu?


"Jung Na Ri apa maksud anda dengan instagram live anda?"


"Apakah anda hanya mencari sensasi?"


"Jung Na Ri anda terlihat sangat kurus, apakah anda benar-benar tertekan?"


Bertubi-tubi pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Na Ri hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.


Buatnya ini sebuah siksaan, kepalanya terasa sangat pening. Rasanya menuju mobilnya yang sudah kelihatan beberapa meter di depan sangat sangat jauh, serasa berjalan kaki dari Seoul ke Pulau Jeju.


Seorang Reporter perempuan tiba-tiba menghadangnya, langkah Na Ri terhenti, "Na Ri, semoga kamu selalu sehat dan baik-baik saja ya.. fighting!"


Na Ri tersenyum dan membungkuk sopan sambil mengucapkan terimakasih. Seorang bodyguard menggeser tubuh reporter itu dengan membentangkan tangannya melindungi Na Ri.


Na Ri sempat melirik reporter itu, ada name tag yang tergantung di dadanya. Tertulis ARV, tapi dia tidak sempat membaca siapa nama gadis itu, karena bodyguard disampingnya berbisik untuk cepat masuk ke dalam mobil.


"Pak Nah kita ke kantor sutradara Kim Dae Sang." Kata ibunya Na Ri pada sopirnya.


Mobil pun meluncur membelah kota Seoul.


"Kamu harus mendapatkan peran utama sayang." Ibu nya Na Ri menepuk nepuk wajahnya dengan spons untuk membetulkan riasannya.


Na Ri hanya mengangguk.


Di dalam kantor sutradara Kim Dae Sang yang sejuk, sutradara Kim menyambut mereka dengan hangat. Empat cangkir teh bunga crysan sudah tersaji di meja tamu.


"Jadi bagaimana Sutradara Kim? Apakah Na Ri bisa menjadi pemeran utama di film Dangerous Lady?" Suara ibunya Na Ri terdengar merayu.


Lelaki bertubuh subur itu tersenyum kecut. Dia berdehem,


"Begini bu Jung, untuk peran utama saya sudah memberikannya pada Park Eunyoung."


Wajah Na Ri terlihat sangat kecewa,


"Ah, tapi mungkin saya bisa memasukan Na Ri sebagai second lead, karena kabarnya gadis yang kami tawari untuk jadi second lead sedang pikir-pikir dulu."


"Apa maksud anda sutradara Kim? Na Ri tidak bisa menjadi pemeran utama? Berapa uang yang sudah Eunyoung berikan pada anda?"


Suara ibunya Na Ri meninggi.


Wajah Sutradara Kim menegang, dia terkejut mendengar ucapan kasar dari ibunya Na Ri.


"Maksud anda, aku ini orang yang mudah di sogok seperti sutradara yang dulu meniduri Na Ri setiap malam?!"


Na Ri terperanjat, bagaimana dia tahu? Ibunya Na Ri menggebrak meja dengan marah.


"Jaga ucapan anda sutradara Kim!"


Sutradara Kim tidak kalah gusar, dia bangkit dari duduknya,


"Siapa yang tidak tahu Na Ri jadi peliharaan seorang sutradara? Sudah jadi rahasia umum ibu Jung!"


Dengan terengah sutradara Kim melanjutkan, "Anda ingin tahu mengapa aku tidak memilih putri mu? Dia terlalu kurus! Dia tidak cocok memerankan wanita tangguh! Selain itu, anak anda terlalu buruk citranya diluaran! Mengerti?!"


"Cukup!" Teriak Na Ri sambil menutup telinganya, dia berlari keluar meninggalkan ibu dan managernya.


Ibu dan managernya menyusul Na Ri.


Di dalam mobil Na Ri menangis, ibunya terus mengoceh penuh kekesalan pada Na Ri.


"Ibu! Sudah! Bisakah ibu diam?!" Teriak Na Ri sedih. Dia merasa sudah ditelanjangi oleh semua orang.


Diapun sangat kecewa dia tidak bisa menjadi pemeran utama.


"Antarkan aku ke apartementku! Jangan ada yang menggangguku!"


Mobil pun mengarah ke apartement Na Ri di Gangnam. Belum sempat mobil berbelok ke gedung apartementnya, Na Ri berteriak,


"Stop! Berhenti di sini saja." Perintah Na Ri pada sopir ibunya.


Na Ri tidak ingin ibunya mengikutinya. Dia sangat muak.


Na Ri membuka pintu mobil dengan kasar, tanpa pamit dia berlari meninggalkan ibu dan managernya. Dia tidak mempedulikan panggilan ibunya.


Na Ri terus berlari sambil menangis, tiba-tiba dia menabrak seorang gadis tanpa sengaja. Tas gadis itu terjatuh, Na Ri berhenti, dengan menunduk dalam-dalam dia mengambil tas gadis itu dan membungkuk meminta maaf.


"Maafkan saya...maafkan saya." Ucap Na Ri berkali-kali sambil memberikan tas gadis itu.


"Jung Na Ri?"


Na Ri merasa tertangkap basah, dia berdoa semoga gadis ini bukan salah satu hatersnya.


Perlahan Na Ri mengangkat mukanya, seorang gadis seusianya sedang menatapnya, dia memakai rompi bertuliskan ARV di dadanya. Ah, wartawan tadi Na Ri mengingatnya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya gadis itu cemas, dia melihat mata Na Ri basah.


"Ehh...ya..ya aku baik-baik saja..." Na Ri terlihat gugup, dia ingin segera pergi dari tempat itu.


"Permisi aku harus pergi." Kata Na Ri sopan, setelah membungkuk diapun berlalu meninggalkan gadis itu.


"Anu...Na Ri, kamu tidak bisa ke apartement kamu sekarang." Gadis itu memanggil Na Ri. Seketika Na Ri menghentikan langkahnya.


Na Ri berbalik, "Kenapa?"


Gadis itu menunjuk lobby gedung apartementnya di kejauhan, puluhan orang berdiri didepan pintu masuk.


Na Ri tidak mengerti,


"Siapa mereka?"


"Wartawan dari berbagai media. Mereka menunggu kamu."


Na Ri terkejut, tanpa sadar dia mundur beberapa langkah.


"Ini, pakai ini."


Gadis itu memberikan masker dan topi dari dalam tasnya.


Tanpa berpikir panjang, Na Ri langsung mengenakan masker dan topi yang diberikan gadis itu.


"Sebaiknya kita tidak di sini, ayo!"


Gadis itu menarik tangan Na Ri untuk menjauh dari apartement nya.


Dengan sigap gadis itu menyetop sebuah taxi, mereka berdua langsung masuk ke dalam taxi.


"Mau kemana?" Tanya sopir taxi tanpa menoleh ke belakang.


Na Ri menoleh pada gadis itu kebingungan,


"Ah...Namsan Tower...dekat situ, nanti aku tunjukan jalannya." Jawab gadis itu cepat.


"Di sekitar sana cukup sepi pada jam segini, aku tahu cafe yang bagus dan nyaman di sana."


Gadis itu tersenyum ceria.


Na Ri hanya tersenyum kecil. Dia masih merasa tertekan dan kalut dengan segala kekecewaannya.


"Terimakasih kamu mau menolongku.." Na Ri membuka topi dan masker di wajahnya lalu memberikannya pada Hanna.


"Tidak masalah. Oh ya, aku Go hanna. Panggil aku Hanna. Kita se umuran kok."


Hanna menyodorkan tangan kanannya sebagai tanda perkenalan.


Na Ri melirik Name tag yang menggantung di dadanya. Tertulis Go Hanna. Lengkap dengan nomor pegawai dan fotonya.


Na Ri menyambut tangan Hanna,


"Tidak usah bicara formal denganku."


Hanna mengangguk senang.


Sampai di daerah Namsan Tower, taxi pun berhenti disebuah cafe kecil yang cukup sepi.


Na Ri membayar ongkos taxinya, walaupun Hanna memaksa, tapi Na Ri merasa berhutang budi pada Hanna.


Mereka berdua duduk di sudut cafe yang sepi. Setelah memesan dua gelas jus strawberry, Na Ri penasaran,


Hanna tersenyum, "Aku bersimpati pada mu Na Ri, aku tidak ingin membuat kamu jadi bahan konsumsi orang-orang yang tidak punya hati."


Na Ri tersentuh mendengar ucapan Hanna. Dalam waktu dua hari, hidupnya penuh kekalutan, setelah Gorae, ada satu lagi orang yang pedulu padanya. Na Ri sangat bersyukur.


"Terimakasih.."


"Hey, aku bilang tidak masalah..ayolah...dan, aku harap kamu tidak mencurigaiku kalau aku akan memberitakan pertemuan kita, aku hanya ingin berteman!"


Wajah Hanna terlihat begitu meyakinkan.


Na Ri tersenyum,


"Aku harap aku bisa percaya..." kata Na Ri hati-hati.


"Aku bahkan menulis komentar saat kamu live di Instagram dua hari lalu! Tapi mungkin kamu tidak membacanya." Hanna memanyunkan mulutnya.


"Oh, maaf.."


"Ah, tidak apa-apa... aku juga membaca ada satu orang lagi yang terus-terusan mengirim komentar padamu!"


Itu pasti Gorae, Na Ri menebak dalam hati.


Hanna melanjutkan, "Malam itu sangat menegangkan! Aku dan satu orang yang berkomentar itu terus-terusan diserang oleh komentar-komentar jahat! Aku sampai kewalahan!"


Na Ri merasa bersalah, "Aku benar-benar minta maaf...membuat kamu kerepotan."


"Ah sudahlah" Hanna mengibaskan tangannya tanda dia baik-baik saja,


"Aku bayangkan bagaimana perasaan kamu waktu itu....pasti sangat berat."


Na Ri memalingkan mukanya ke arah lain, dia tidak ingin mengingat kejadian malam itu, terlalu menyakitkan baginya.


Hanna menatap Na Ri, dan tiba-tiba menggenggam tangannya. Na Ri kaget.


"Aiihh... aku minta maaf, aku terlalu banyak bicara...ayolah, kamu sekarang masih bisa menghirup udara, kamu pasti bisa melewati semua."


Genggaman tangan Hanna cukup kuat untuk ukuran seorang gadis, perlahan Na Ri menarik tangannya.


"Na Ri, kamu mau makan?" Tanya Hanna seketika.


Na Ri menggeleng, "Tidak. Aku tidak lapar."


"Aah..kamu selalu diet! Sekali-sekali bolehlah makan yang normal!"


Na Ri benar-benar kehilangan nafsu makannya, dia hanya tersenyum.


"Kamu diet apa? Tapi aku lihat tubuh kamu benar-benar kurus...terlalu kurus! Kamu harus makan yang normal Na Ri."


Na Ri mulai merasa tidak nyaman.


Hanna seperti tidak berhenti bicara.


"Na Ri, jujur aku senang sekali bisa berdua dengan kamu! Ini seperti mimpi." Hanna menatap Na Ri lekat-lekat, jemarinya mempermainkan sedotan.


Na Ri berusaha menghindari tatapan Hanna, dia tidak sanggup menyembunyikan kegelisahannya.


"Kamu tahu, aku sudah lama menjadi penggemar mu. Aku suka lagu-lagu kamu, film dan drama kamu."


Na Ri memperhatikan Hanna, gaya bicaranya sedikit berbeda sekarang. Saat pertama bertemu dia gadis yang terlihat tegas dan cekatan layaknya seorang reporter, tapi sekarang dia agak lebih genit.


Na Ri mencoba tersenyum, dia menelan ludah untuk menutupi kegugupannya.


Mata Hanna tak lepas-lepas memandangi Na Ri.


"Aku bekerja di ARV juga karena ingin bisa secara langsung melihat kamu. Aah...kesempatan itu begitu sulit!"


Hanna teringat, sebenarnya sudah beberapa kali dia ingin mendekati Na Ri, tapi dia akan berakhir berdesakan dengan reporter-reporter lain!


Kehadiran Na Ri seperti magnet dengan segala kontroversinya. Bertahun-tahun, sejak dia diturunkan ke lapangan sebagai reporter junior, dia akan selalu mengejar Na Ri.


Di bandara, di lokasi syuting dan diberbagai acara yang di hadiri Na Ri.


Tapi Na Ri terlalu sibuk dengan dunianya, dia tidak pernah tahu bahwa Hanna sudah berkali-kali berteriak memanggil namanya.


Sebetulnya, setiap Na Ri berjalan melewatinya dan tidak sedikitpun melihat ke arahnya, Hanna sangat merasa kecewa.


Tapi hari ini, nasib baik sedang begitu berpihak padanya, tanpa sengaja dia bertemu Na Ri di halaman apartemennya.


Sebetulnya tadi dia sudah putus asa tidak akan bisa melihat Na Ri di sana, apalagi banyak reporter yang juga menanti kedatangannya.


Dia pulang dengan kecewa, tapi begitu Na Ri menabraknya dia merasa takdirnya menjadi sahabat Na Ri akan terwujud hari ini.


"Kenapa kamu diam saja? Ternyata kamu pemalu ya?" Jemari Hanna mulai mengusap punggung tangan Na Ri, membuat Na Ri begidik, cepat-cepat dia tarik lagi tangannya dan menyenderkan badannya ke kursi menjauhkan diri dari meja.


Hanna melanjutkan,


"Sejak dulu.... sejak kamu jadi bintang cilik, aku sudah sangat mengagumi kamu."


"Ah, terimakasih..."


"Kamu mau tahu apa yang lebih keren? Ternyata tanggal, bulan dan tahun lahir kita sama!" Wajah Hanna berbinar bangga, "Bisa jadi sifat kita pun sama."


"Emm... mungkin saja." Na Ri menjawab sekenanya.


"Na Ri, mau kan kamu jadi sahabatku? Kita bisa berbagi aaappaaa saja...kamu bisa andalkan aku jadi orang yang paling kamu percaya... aku akan selalu ada untuk kamu, Na Ri."


Hanna menggeser kursinya mendekati Na Ri. Dia membelai rambut Na Ri yang panjang,


"Aku tahu tidak ada seorangpun yang peduli pada mu... tapi aku akan selalu berada disamping kamu.."


Bisik Hanna di telinga Na Ri.


Na Ri menutup telinganya karena geli dengan hembusan nafas Hanna.


"Eh..Hanna, sebaiknya kamu tidak terlalu dekat denganku.." Na Ri melirik sedikit ke arah Hanna.


Dia mulai merasa sebal dengan gadis ini.


"Kenapa? Kamu tidak menyukaiku? Atau karena aku gadis biasa? Bukan kalangan selebriti papan atas seperti kamu? Hm?"


Hanna kembali berbisik dengan gaya seorang gadis penggoda.


Tangannya mulai membelai tangan Na Ri yang terlipat di bawah meja.


"Ah, tangan kamu sangat halus seperti porcelain....kamu sangat beruntung, tidak seperti aku yang hanya mengejar-ngejar artis seperti kamu, berpanas-panasan, kehujanan, kedinginan..." Tangannya terus membelai tangan Na Ri.


"Hanna hentikan!" Bisik Na Ri dengan nada tajam. Dia mulai benar-benar terganggu dengan tingkah Hanna.


"Anu...Hanna, aku sepertinya aku harus pergi.... terimakasih banyak sudah menemani ku.."


Na Ri berdiri, tapi kembali Hanna menarik tangannya, "Kemana kamu akan pergi?"


"Aku baru ingat, aku ada janji." Jawab Na Ri berbohong.


"Jangan pergi! Sangat berbahaya jika kamu pergi sendirian!"


Hanna meyakinkan. Na Ri benar-benar sudah merasa tidak nyaman, dia memutuskan untuk menjauh dari Hanna. Dia merasa sangat bodoh semudah itu dia mengikuti ajakan Hanna karena panik.


"Aku tidak apa-apa, maaf, aku harus pergi." Na Ri menarik tangannya.


Na Ri sedikit berlari menuju pintu keluar. Dia mencari-cari Taxi, tapi tidak satupun Taxi yang lewat.


Na Ri berjalan menyusuri pertokoan, beberapa pasang mata yang mengenalinya menunjuk-nunjuk ke arahnya dan saling berbisik.


Na Ri mulai panik. Rasa ketakutannya menjadi semakin besar, nafasnya memburu.


Dia merasa semua orang sedang memperhatikannya, menunjukan jari telunjuk mereka padanya, menghujatnya dan menertawakannya.


Na Ri mendadak merasa sangat pening, dia berkali-kali mengatur nafasnya untuk menenangkan diri. Beberapakali dia menghentikan langkahnya, mencoba mencari pegangan. Tapi semakin dia berhenti, wajah-wajah kebencian serasa sangat dekat dengan suara-suara hujatan dan tertawaan orang-orang terasa menusuk telinganya.


Keringat Na Ri bercucuran. Na Ri semakin terhuyung-huyung, dia merogoh tasnya untuk mengambil handphone.


Dia hanya mengingat nama Gorae, Na Ri dengan panik menghubungi nomor Gorae.


- tak ada jawaban, dia mengulanginya berkali-kali, tapi Gorae tidak menjawabnya.


Gorae sedang melakukan operasi dan meninggalkan handphone di kantornya. Na Ri dengan gugup mengirimkan pesan,


'Gorae, aku di Namsan, aku bingung.'


Na Ri merasa sangat putus asa, kepalanya pening sekali, dia tidak mampu berpikir jernih kata-kata apa yang seharusnya dia kirimkan pada Gorae. Keringatnya bercucuran.


Dunia seperti berputar cepat. Pandangannya kabur....dan gelap. Na Ri jatuh pingsan.


***