
Gorae menemukan toko pangkas rambut yang disebutkan Bae Ryung Go, toko itu sudah tutup. Dia memarkirkan mobilnya di seberang toko pangkas rambut itu.
Hujan turun dengan deras, Gorae berlari kecil menyusuri gang-gang yang kumuh. Dia menyalakan flash light di handphonenya, karena jalanan di tempat ini sangat gelap.
Gorae mengingat-ingat, dia harus terus belok kiri jika menemukan persimpangan. Bau comberan yang busuk tercium sangat menyengat.
Terdengar suara gonggongan anjing di kejauhan, di sudut sebelah kanan ada dua ekor kucing yang sedang bertarung dengan suara berisik.
Rumah-rumah di desa Guryong terlihat rapat berdempetan dan sangat kumuh. Semua rumah tertutup rapat, dan selalu dia menemukan tumpukan barang-barang bekas disekitar rumah-rumah di sini.
Gorae bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah seorang reporter dari televisi kenamaan tinggal di daerah seperti ini? Di kejauhan dia melihat seseorang sedang berjalan cepat.
Gorae cepat-cepat mengejarnya.
Orang itu adalah seorang ibu berusia kira-kira lima puluhan, ditangannya dia menenteng satu kantong plastik.
Sebelum dia berbelok masuk ke dalam rumahnya, Gorae memanggil perempuan setengah baya itu.
"Permisi...permisi bibi..." Gorae mempercepat langkahnya.
Perempuan itu berhenti dan menoleh ke arah Gorae, "Maaf bibi, apakah bibi tahu dimana rumah Go Hanna?"
Perempuan setengah tua itu menatap Gorae dari atas sampai bawah.
"Go Hanna? Kamu sangat tampan dan terlihat sangat sehat... apakah kamu langganannya?"
Perempuan itu balik bertanya. Gorae mengernyitkan alisnya tidak mengerti.
"Langganan?"
Sesaat perempuan itu menunggu jawaban Gorae, "Ah, jika kamu baru akan mencoba dia, sebaiknya jangan! Dia sudah penyakitan!"
Perempuan itu mengingatkan Gorae.
"Maksud saya Go Hanna ini, dulu dia bekerja di stasiun televisi." Gorae menunjukan foto Go Hanna dalam name tagnya.
Perempuan itu mendekatkan wajahnya untuk melihat foto dalam name tag Hanna.
"Ah, iya, maksudku juga Go Hanna yang ini. Dia sudah jadi pelacur sejak remaja. Dia sering juga dipakai bergiliran oleh tukang-tukang bangunan disana. Tsk...tsk...tsk...gadis itu binal sekali! Siapapun tidak pernah ditolaknya! Bahkan dia rela tidak dibayar! Gadis itu benar-benar sangat rusak!"
Gorae mengelap wajahnya yang basah oleh air hujan. "Dimana rumahnya?"
"Aigooo...kamu yakin ingin memakainya? Kamu tidak jijik?"
Gorae terkejut, perempuan itu sudah salah paham.
"Tidak bi, saya hanya akan menanyakan sesuatu padanya."
"Ah, baguslah... aiihh kamu terlalu tampan untuk gadis kotor seperti dia!" Perempuan itu tersenyum lega menampilkan deretan gigi yang kuning kehitaman.
"Ah, kamu ikuti jalan ini, ada persimpangan terakhir, kamu belok kiri...rumahnya paling ujung, tidak ada tetangga, karena daerah itu tempat kami menumpuk barang bekas."
Gorae mengangguk mengucapkan terimakasih. Kembali wanita itu mengingatkan untuk 'tidak memakai' Go Hanna. Gorae hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berlalu.
Gorae terus menyusuri jalanan yang kian menyempit, kemudian dia berbelok ke kiri di persimpangan terakhir. Jalanan sangat becek, karena got-got yang bau itu mulai meluap. Beberapa ekor tikus got dengan ukuran jumbo lalu lalang di jalanan gang yang kotor ini.
Tubuh Gorae sudah basah kuyup, sejenak dia memandang berkeliling, matanya dipicingkan untuk melawan derasnya air hujan yang menerpa wajahnya.
Dia mengarahkan lampu flash light ke sekeliling. Tumpukan barang bekas dari plastik menggunung bercampur dengan sampah. Gorae terus berjalan menyusuri tumpukan barang bekas. Di ujung jalan, satu-satunya rumah yang dia temukan di gang ini terlihat rapuh dan kotor.
Gorae menebak itu adalah rumah Hanna.
Gorae memperhatikan di dalam rumah menyala lampu kecil. Gorae yakin pemilik rumah ini ada di dalam. Diketuknya pintu rumah kecil ini. Tidak seorangpun keluar.
Gorae tidak bisa mendengar apapun karena derasnya air hujan.
Kembali dia mengetuk pintu lebih keras. "Permisi! Ada orang di dalam?"
Masih tidak ada jawaban. Gorae kembali mengetuk berkali-kali.
Lalu pintu rumah sedikit terbuka, Gorae melihat seorang gadis mengintip dari balik pintu.
"Maaf mengganggu... aku mau bertemu dengan Go Hanna." Sapa Gorae.
Hanna menatap Gorae dari atas sampai bawah, lelaki ini tampak kedinginan, overcoatnya basah kuyup. Jantung Hanna berdebar, Aduh, dia tampan sekali!
"Aku Go Hanna... ada perlu apa?"
Dengan suara menyelidik.
"Aku mau menanyakan sesuatu.."
Sebelum Gorae selesai bicara, Hanna memotong,
"Aku tidak mengerti, kamu datang malam-malam hujan begini ke tempat seperti ini. Siapa kamu?"
"Ah, maaf aku Kang Gorae, aku sedang mencari temanku."
Pintu rumah Hanna terbuka karena hembusan angin yang kuat,
Gorae terkejut karena rumah sempit ini sangat jorok dan berantakan.
"Aku hanya ingin menanyakan apakah kamu melihat Jung Na Ri? Dia hilang disekitar Namsan. Dan aku menemukan kartu pengenal atas nama kamu di lokasi itu."
Mendadak wajah Hanna berubah, dia langsung merebut name tagnya dari tangan Gorae.
"Ini memang kartu pengenalku, tapi aku sudah sebulan berhenti bekerja di ARV."
Sialan! Kenapa name tag ini jatuh disana? Runtuk Hanna dalam hati.
Gorae menyadari mungkin saja gadis ini tidak berada di Namsan tadi sore dan kartu pengenal ini mungkin saja kebetulan terjatuh di tempat Na Ri menghilang.
Di dalam lemari besar Na Ri berusaha menggedor lemari dengan tubuhnya, tapi kedua kaki nya ditekuk sampai ke dadanya dan diikat kuat sekeliling tubuhnya dan tangannya diikat ke belakang.
Dia berusaha berteriak tapi mulutnya sudah ditutup lakban tebal.
Na Ri mendengar suara Gorae, dia berharap Gorae mendengarnya, tapi suara hujan diatap asbes dan seng begitu berisik.
"Jung Na Ri....eh... seorang artis."
"Aku sudah lama tidak pergi ke Namsan."
Go Hanna beranjak masuk.
Na Ri makin panik, dia takut Gorae benar-benar pergi.
"Maaf sudah mengganggu Gorae membungkuk."
Sebelum Hanna menutup pintu rumahnya, sekilas Gorae melihat sepatu High heel warna ungu mirip dengan sebelah sepatu high heel yang didapat dari paman pemilik kedai di daerah Namsan, sepatu itu tergeletak di sudut lantai, tas tangan mewah merk Gucci berwarna ungu pun tergeletak tidak jauh dari sepatu high heel itu.
Gorae cepat-cepat mengetuk pintu lagi, "Maaf, aku hanya ingin memastikan sesuatu."
Dengan wajah kesal Hanna membuka pintu, "Apa lagi?"
"Aku ingin melihat high heel itu." Gorae menunjuk ke arah sudut ruangan. Hanna terkejut, Aduh! Aku lupa menyembunyikan barang-barang milik Hanna!
"Kenapa? Aku sibuk! Silahkan pergi!"
Hanna kembali menutup pintu. Tapi Gorae menahan pintu itu.
"Tunggu!"
"Hey, aku bilang aku sedang sibuk, pergi kataku!"
Na Ri mendengar perdebatan Gorae dan Hanna, dia ingin berteriak kuat tapi suaranya teredam. Air matanya berlinangan, dia merasa tubuhnya lemas sekali.
Gorae menatap Hanna tajam, kecurigaannya makin kuat karena sikap Hanna yang mencurigakan. Dia memaksa mendorong pintu itu dengan kuat.
Hanna terdorong jatuh terjerembab ke belakang.
Dengan secepat kilat Gorae menghampiri sepatu high heel yang tergeletak di lantai.
Ini sebelah kanan! Lalu dia mengambil tas tangan ungu, dia mengambil dompet dari dalam tas, dia menarik kartu identitas yang terselip di deretan kartu-kartu lain, tertulis Jung Na Ri!
"Ini milik Na Ri! Dimana dia?!" Bentak Gorae, "Na Ri! Na Ri! Dimana kamu?"
Tiba-tiba BUKK! Sebuah kursi mengantam punggung Gorae, Gorae tersungkur ke depan. Dunia mendadak menjadi sangat gelap.
"Brengsek! Kamu juga harus mati!"
Jerit Hanna kalap. Dia membuka satu-satunya lemari di rumahnya, dengan kasar dia menjambak rambut Na Ri, sehingga gadis itu terguling keluar.
Na Ri terbelalak melihat Gorae tergeletak tidak bergerak di lantai.
Dia berusaha memanggil-manggil Gorae.
Sebuah tendangan mendarat di wajah Na Ri.
"Perempuan jalang! Perempuan laknat! Kamu dan pacar kamu harus mati! Harus mati!"
Hanna seperti kesetanan menendangi tubuh Na Ri yang sudah tidak berdaya.
Belum puas, Hanna mengambil kursi yang tadi digunakan untuk memukul Gorae. Na Ri memejamkan mata.
"Gorae..bangunlah..." bisik Na Ri dalam hati.
Hanna mengayunkan kursi, kursi itu terangkat tinggi, tapi tiba-tiba gadis itu terjengkang ke belakang, kepalanya membentur meja. Hanna roboh.
Rupanya, Gorae tersadar, begitu berbalik dia melihat Hanna akan memukulkan kursi ke tubuh Na Ri.
Secara refleks kaki panjangnya menendang kaki Hanna keras.
Gorae mengumpulkan kekuatannya untuk sepenuhnya tersadar, punggungnya terasa sakit sekali. Dia menggelengkan kepala dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
Dengan sedikit limbung, dia membuka semua tali yang mengikat tubuh, tangan dan kaki Na Ri, dia membuka lakban tebal di mulut Na Ri.
"Na Ri! Ya ampun Na Ri...kamu terluka." Gorae melihat kondisi Na Ri yang sangat mengenaskan. Darah mengalir di wajah, tangan dan kakinya.
Gorae membuka overcoatnya yang basah dia tutupi badan Na Ri yang sudah compang camping bajunya.
Dia peluk Na Ri sedih sekaligus lega, Na Ri menangis dipelukan Gorae.
"Tidak apa-apa...aku disini.. ayo kita pergi."
Dari balik punggung Gorae Na Ri melihat Hanna sudah berdiri dengan menghunus pisau.
"Gorae! Awas!" Pekik Na Ri takut. Gorae kaget, dia berkelit ke samping, tapi pisau besar itu menggores bahu kiri Gorae. Darah merembes di kemeja Gorae.
"******** kamu! Kamu harus mati!" Teriakan Hanna melengking mengalahkan kerasnya suara hujan. Dia terus menerus menyerang Gorae dengan pisau secara membabi buta.
Sekuat tenaga Gorae berusaha menghindari serangan Hanna, dia terpojok, tiba-tiba tangannya menyentuh tambang bekas ikatan Na Ri.
Dengan cepat dia ayunkan tambang itu untuk menangkis serangan Hanna.
Dia ayunkan lagi dan lagi dengan keras. Gorae mengayunkan tambang itu ke tangan Hanna seperti mencambuk. Dan pisau pun terlepas dari tangan Hanna.
Hanna maju dengan cepat untuk memukul Gorae. Lelaki tinggi itu langsung menangkis pukulan Hanna, dengan sigap dia pelintir tangan Hanna ke belakang, hingga gadis itu menjerit kesakitan.
"*******! Lepaskan aku."
Dengan cekatan Gorae mengikat tangan dan kaki Hanna. Hanna berontak sambil mulutnya tidak berhenti berteriak. Gorae mendudukan Hanna di kursi dan mengikat tubuh gadis itu di kursi.
"Kamu akan dilepaskan oleh polisi."
Gorae kemudian menelepon polisi, dan memberitahu lokasi rumah Hanna.
Hujan belum berhenti ketika Gorae dan Na Ri meninggalkan rumah Hanna, Gorae menggendong Na Ri berlari menyusuri gang sempit, air hujan terasa perih membasuh luka-luka Na Ri, dia memeluk Gorae erat. Air matanya berlinang.
Dua kali Gorae menyelamatkan nyawanya.
***