
Jung Bok Sil sangat bersemangat ketika Gorae datang menjemput. Dia sudah lama sekali melupakan bangaimana mempersiapkan natal. Dulu keluarganya sangat miskin tidak terlalu memikirkan perayaan natal. Dia hanya bisa melihat teman-temannya merayakan natal, berbagi kado dan makan makanan mewah di hari natal.
Sedangkan dia dan keluarganya hampir tidak pernah merayakan perayaan apapun.
Natal hanya pernah dia rayakan dua kali saja dalam hidupnya. Saat Na Ri masih sangat kecil.
Dia berencana membelikan Na Ri dan keluarga Gorae hadiah natal.
Suasana natal sudah sangat terasa ketika mobil memasuki kota Wanju.
Di pusat kota, pohon-pohon natal sudah dipasang dibeberapa toko. Ada juga yang memasang pohon natal di depan pintu masuk pertokoan.
Saat ini siklus hari dingin pada siklus
Samhansaon*, walaupun salju dijalanan tidak terlalu tebal, tapi cuaca sangat dingin dan berangin.
Na Ri menggandeng tangan ibunya menyusuri pertokoan. Gorae berjalan disamping mereka.
"Aku akan belanja disini." Jung Bok Sil berhenti disebuah swalayan, dia seperti meminta waktu untuk berburu hadiah natal sendiri. Dia ingin memberi hadiah kejutan untuk semua orang.
Na Ri tersenyum, "Baiklah, aku dan Gorae akan cari tempat lain. Nanti jika ibu sudah selesai, telpon aku ya?"
Jung Bok Sil mengangguk, "Beri aku waktu dua jam!" Wajahnya begitu ceria.
Na Ri dan Gorae melanjutkan mencari toko yang menjual pernak-pernik natal.
"Ibu Jung tampak gembira sekali."
Gorae merasa senang melihat perubahan Jung Bok Sil.
Na Ri tersenyum, "Sejujurnya, aku tidak pernah merayakan natal selama ini...itulah mengapa ibu begitu gembira. Kami bukan orang yang relijius."
"Tidak apa-apa....sekali-sekali merayakan natal atau tidak pernah pun tidak jadi keharusan. Atau, kita merayakan perayaan lainnya juga itu juga menyenangkan. Yang penting kita bahagia dengan orang-orang yang kita sayangi."
Gorae memaklumi perasaan Na Ri.
"Apakah kamu orang yang relijius?" Tanya Na Ri tiba-tiba.
Gorae mengerutkan keningnya,
"Tidak, aku hanya berusaha jadi orang baik saja. Keluarga nenekku masih memegang adat leluhur, tapi kami bebas memilih apa yang kami percaya, sejauh kami tidak keluar dari moral yang baik."
Na Ri mengangguk mengerti, menurutnya Gorae yang tidak memiliki kepercayaan tertentu sudah menjadi orang yang sangat baik.
Gorae menunjuk sebuah toko yang cukup besar dipenuhi berbagai pernak-pernik natal.
"Ayo kita kesana!"
Mereka sibuk memilih semua pernak-pernik natal. Na Ri ingin rumahnya dipasangi pohon natal bernuansa salju, dia juga memilih lonceng bulat warna-warni, permen tongkat, boneka santa kecil-kecil, lampu natal dan christmas wrath-jalinan daun-daun berbentuk lingkaran yang aksn dipasang didepan pintu rumahnya.
Gorae membeli beberapa kaus kaki yang akan digantung diperapian dan topi santa.
"Na Ri, sini!" Panggil Gorae, Na Ri mendekati Gorae, dia lalu memakaikan topi santa dikepala Na Ri.
"Aiihh...kamu lucu sekali!" Gorae tersenyum lebar. Ah! Gadis ini cantik sekali dengan topi santa dengan pipinya yang kemerahan karena dingin.
Na Ri melihat pantulan dirinya dicermin, dia tertawa senang,
"Ayo, kamu juga harus pakai!"
Gorae sedikit membungkuk agar Na Ri mudah memakaikan topi santa dikepalanya.
Tercium aroma khas Gorae yang segar, Gorae menatap mata Na Ri yang berbinar-binar.
"Kamu senang, Na Ri?" Tanya Gorae lembut. Na Ri menatap Gorae, jantungnya kembali berdegup kencang. Lelaki tampan ini sanggup membuatnya merasa sangat tidak berdaya karena pesonanya.
"Aku sangat bahagia." Jawab Na Ri sambil tersenyum.
Gorae bersumpah, dia ingin sekali memeluk gadis cantik dengan dandanan yang sangat tipis didepannya ini, dia ingin sekali membisikan, kamu harus tetap bahagia Na Ri, aku akan selalu melindungimu!
Tapi Gorae menelan semua keinginannya, dia tidak ingin Na Ri berpikir dia memanfaatkan situasinya.
Gorae sangat menghormati Na Ri.
Na Ri berbalik menjauhi Gorae, jika dia terus menatap lelaki tampan ini, dia bisa pingsan kehabisan oksigen!
"Gorae, aku ingin membelikan mantel dan hadiah natal untuk pak Song Myung Ri dan pak Kwak."
Gorae mengangguk setuju. Mereka berdua sibuk memilih apa yang pantas untuk diberikan pada dua orang yang akan mereka temui hari ini.
Na Ri memilih mantel coklat dengan motif kotak-kotak merah bata untuk Song Myung Ri, dia juga membeli syal dari wol berwarna merah bata.
Gorae memilihkan beanie abu-abu dan sarung tangan untuk Kwak Tae Rang.
Mereka tersenyum puas setelah mendapatkan semua yang ingin mereka beli.
"Bagaimana caranya kita mengajak ibu ke Muju?" Tanya Na Ri sambil menunggu antrian untuk membayar belanjaannya.
"Bilang saja kamu perlu bertemu pemilik lama rumah kamu di Muju."
Na Ri bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan oleh pak Kwak dengannya dan ibunya.
Gorae selesai meletakan semua barang belanjaan di bagasi mobil.
Na Ri membeli kopi dan memberikannya pada Gorae.
Handphone Na Ri berbunyi, Jung Bok Sil minta dijemput karena belanjaannya sangat banyak.
"Wah, ibu belanja apa saja?"
"Aiih...tidak kusangka swalayan disini lengkap juga. Aku juga membeli bahan makanan untuk kamu dirumah!"
Jung Bok Sil terlihat kelelahn tapi wajahnya terlihat puas.
"Aihh ibu..!" Na Ri dan Gorae memasukan semua belanjaan Jung Bok Sil. Mobil Gorae sekarang penuh dengan barang-barang belanjaan.
Setelah makan siang yang menyenangkan, Gorae memberi kode pada Na Ri untuk mengajak ibunya pergi ke Muju.
"Bu, aku harus bertemu pemilik rumahku yang lama di Muju...sekalian aku akan memberinya kado natal. Sebelum pulang, kita ke Muju sebentar ya?"
"Baiklah...menyenangkan sekali pergi dengan kalian berdua....aku baru sadar, kita tidak pernah melakukan hal ini di Seoul."
Jawab Jung Bok Sil ringan.
Mobil Gorae meluncur ke kota Muju.
Sepanjang peejalanan Jung Bok Sil bersenandung kecil, dia merasa hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan baginya.
Sementara Na Ri merasa tegang, dia terlihat sedikit gelisah.
Gorae melirik Na Ri dan menyentuh sikutnya.
Na Ri menoleh, Gorae memberi kode pada Na Ri untuk tenang dan tersenyum.
Satu jam perjalanan, mobil Gorae memasuki halaman klinik Muju.
"Klinik apa ini? Pemilik lama itu dirawat disini?" Tanya Jung Bok Sil keheranan.
"Tidak bu, kami janji bertemu disini."
Na Ri mengeluarkan bingkisan untuk Kwak Tae Rang dan Song Myung Ri dari bagasi.
Kwak Tae Rang dan Nam Dongmin yang sudah dari tadi duduk dilobi menunggu kedatangan Na Ri, melihat Na Ri, Gorae dan seorang perempuan setengah baya yang masih cantik sedang bersiap memasuki klinik.
Dari balik kaca lobi klinik, Nam Dongmin terkejut begitu melihat siapa yang datang.
"Omo! Itu Jung Bok Sil yang aku maksud! Jung Bok Sil ibunya artis terkenal Jung Na Ri!"
Kwak Tae Rang menoleh pada temannya.
"Jadi, kamu mengenalnya?"
Nam Dongmin mengangguk pasti,
"Tentu saja! Selama ini aku menyembunyikan dia dari keluarga Myung Ri. Aku tidak ingin Bok Sil semakin menderita. Keluarga Myung Ri tidak pernah tahu siapa istri dari Myung Ri!"
Kwak Tae Rang terlihat sangat terkejut, pikirannya campur aduk, dia berusaha bersikap tenang ketika dilihatnya Na Ri, Gorae dan Ibunya sudah mendekat.
"Mereka datang! Tolong bersikap wajar." Bisik Kwak Tae Rang.
"Nona Jung, akhirnya kamu datang...Gorae, wah! Kamu semakin tampan saja!"
Kwak Tae Rang mengangguk pada Na Ri dan menyalami Gorae dan tersenyum lebar. Gorae tersenyum.
"Apa kabar pak Kwak, sudah lama sekali."
"Aku sangat baik nak....aku tidak tahu kamu akan datang bersama nona Jung."
"Aku kebetulan mengantar mereka belanja untuk natal." Jawab Gorae ramah.
Pandangan Kwak beralih pada Jung Bok Sil yang sedari tadi memperhatikan Gorae.
Na Ri mengenalkan ibunya,
"Pak Kwak, ini ibuku... Jung Bok Sil."
Kwak Tae Rang mengangguk sopan pada Jung Bok Sil.
"Aku membawakan anda kado natal...juga mantel dan kado untuk sahabat anda." Tambah Na Ri seraya memberikan dua kantong besar pada Kwak Tae Rang.
"Aigoo sangat merepotkanmu nona Jung, terimakasih banyak."
Na Ri baru menyadari ada seseorang yang dari tadi berdiri dibelakang Kwak Tae Rang.
"Ah, ini temanku dari Seoul."
Nam Dongmin mengangguk pada Jung Na Ri.
"Dong .....min.....itukah kamu? Nam Dongmin?!"
Tiba-tiba Jung Bok Sil setengah berteriak memanggil teman Kwak Tae Rang.
Nam Dongmin mengangguk pada Jung Bok Sil,
"Apa kabar Bok Sil?"
Jung Bok Sil menutup mulutnya dengan tangannya.
"Ba...bagaimana kamu bisa disini?!"
Jung Bok Sil tampak sangat terkejut.
Na Ri dan Gorae saling berpandangan tidak mengerti.
Kwak Tae Rang mengajak mereka semua duduk di cofee shop disudut klinik.
"Bu Jung, aku adalah sahabat dari Song Myung Ri.." Kwak Tae Rang membuka percakapan.
Mendengar nama Song Myung Ri, Jung Bok Sil bangkit dari duduknya.
"Apa ini?! Apa maksud kamu meminta anakku datang kesini?!" Wajah Jung Bok Sil merah padam, dia terlihat sangat marah dan panik.
"Bu Jung, maafkan aku, aku memang meminta Na Ri datang bersama anda...ada sesuatu yang ingin aku pastikan. Tolong tenanglah dulu." Pinta Kwak Tae Rang.
"Kamu! Dan kamu Dongmin! Kalian adalah sahabat ******** itu! Dia yang menghancurkan hidupku! Dia berselingkuh dan meninggalkan aku dan anakku menderita! Apa mau kalian?!" Suara Jung Bok Sil bergetar, dia tidak sanggup mendengar nama Song Myung Ri disebutkan, apalagi di depan Na Ri.
Na Ri kaget mendengar penuturan ibunya, dia tidak mengerti apa yang ibunya bicarakan.
"Bok Sil... dengarkan kami dulu, selama ini kamu telah salah menilai Myung Ri. Aku sangat tahu Myung Ri hanya mencintaimu." Nam Dongmin berdiri berusaha menenangkan Jung Bok Sil.
"Setelah lebih dari dua puluh tahun, kamu tiba-tiba muncul dan membicarakan sahabatmu itu? Apakah kamu pikir aku akan berubah pikiran?!" Sentak Jung Bok Sil geram.
Jung Bok Sil mengambil tasnya dan bergegas pergi. Kwak Tae Rang mengejar Jung Bok Sil,
"Bu Jung, tunggu sebentar! Song Myung Ri dirawat diklinik ini... anakmu berhak tahu siapa ayahnya!"
Na Ri terkesiap, Ayahnya? Apakah Song Myung Ri adalah ayahnya?
Na Ri berlari menyusul ibunya diikuti Gorae.
"Ibu! Ibu tolong ibu dengarkan dulu apa yang akan mereka katakan!"
"Na Ri! Aku akan pulang ke Seoul sekarang! Aku tidak ingin berurusan dengan mereka!" Jung Bok Sil terus berjalan dengan cepat.
"Apakah Song Myung Ri adalah ayahku? Kenapa ibu tidak mau memberitahuku? Apakah salah jika aku tahu siapa ayahku?!.......Ibu!! Jika ibu pergi, ibu tidak akan pernah melihatku lagi!" Teriak Na Ri putus asa, airmatanya berlinang.
Jung Bok Sil menghentikan langkahnya, dia berbalik.
"Na Ri.... tidak cukupkah hanya ibu yang jadi orangtua mu? Tidak cukupkah kasih sayang yang aku berikan selama ini padamu?"
"Mengapa bu? Mengapa ibu menutupi semua ini? Apa salah ayahku sampai ibu merahasiakannya dariku?" Na Ri terisak sedih.
"Dia manusia yang sudah menghancurkan hidup kita Na Ri, dia meninggalkan kita dan menghilang begitu saja....dia telah mengkhianati ibu! Dia berselingkuh didepan mataku!" Airmata Jung Bok Sil tidak sanggup ditahannya lagi.
Rasa sakit dan penderitaan ditinggalkan suaminya membuat Jung Bok Sil bertekad menghapuskan suaminya dari hidup Na Ri selama-lamanya. Kenangan pahit itu terus menghantui dirinya.
"Bok Sil, biarkan aku menceritakan sesuatu padamu. Ayolah kembali kedalam. Aku khawatir kamu telah salah selama ini tentang Myung Ri."
Nam Dongmin berusaha membujuk Jung Bok Sil.
Setelah Na Ri begitu memohon pada ibunya sambil menangis dan berlutut barulah Jung Bok Sil luluh dan mau kembali ke Coffee shop di dalam klinik.
Gorae menggenggam tangan Na Ri erat seolah ingin memberi kekuatan padanya, dia tidak sanggup melihat gadis ini menangis seperti tadi.
"Bok Sil, aku mengenal Myung Ri sejak SMA, begitu juga Tae Rang. Mereka malah bersahabat erat seperti saudara kandung."
Nam Dongmin mulai bicara. Jung Bok Sil memalingkan wajahnya, dia sangat tidak ingin mendengar apapun tentang Song Myung Ri.
"Betul, Myung Ri selalu membantuku dalam hal apapun. Bahkan berkat dia aku anak orang miskin ini bisa kuliah di Canada dan bertemu jodoh disana." Kwak Tae Rang menambahkan.
"Makanya, aku sangat terpukul ketika tahu Myung Ri tiba-tiba menghilang, bertahun-tahun aku mencarinya kemana-mana, aku melaporkan ke polisi pun sudah berkali-kali, tapi Myung Ri seperti menghilang ditelan bumi." Kwak Tae Rang menghela nafas mengenang betapa sulitnya mencari sahabatnya itu.
"Aku belum sempat bertemu denganmu bu Jung, karena saat Myung Ri akan menikah, saat bersamaan istriku akan melahirkan, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Lebih dari dua tahun aku harus merawat istri dan anakku, karena istriku terserang stroke setelah melahirkan. Jadi aku tidak bisa menemui Myung Ri."
"Saat istriku sembuh, aku mencari Myung Ri...tapi aku tidak bisa menemukannya, sampai dua bulan lalu aku tidak sengaja menemukannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan..."
Jung Bok Sil menunduk, pernikahannya dengan pengusaha kaya bernama Song Myung Ri dilakukan dengan sangat tertutup dan dirahasiakan dari keluarga Myung Ri yang kaya raya.
Karena hubungan mereka tidak pernah direstui oleh keluarga Myung Ri.
Jung Bok Sil mengenal Nam Dongmin saat dia bekerja pada Song Myung Ri. Berkat Dongmin yang waktu itu bekerja sebagai sekretaris Myung Ri, dia bisa menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya itu tanpa sepengetahuan keluarga Myung Ri. Keluarga Myung Ri sebenarnya sudah menjodohkan Myung Ri dengan gadis kaya anak pemilik perusahaan penerbangan.
Nam Dongmin adalah teman sekaligus sekretaris yang setia dan cekatan, dia adalah andalan Myung Ri. Tapi sejak Myung Ri meninggalkannya setelah pertengkaran hebat malam itu, Nam Dongmin malah menjauh darinya.
"Setelah dia menghilang....kenapa kamu menghindariku, Dongmin? Kamu mungkin saja tahu dia ada dimana, tapi kamu menutupinya dariku!" Jung Bok Sil menatap Nam Dongmin tajam.
Lelaki paruh baya itu memandang Jung Bok Sil, air mukanya berubah kelam.
"Aku tidak menghindarimu Bok Sil, aku melindungimu dari keluarga Myung Ri yang saat itu mereka melakukan apapun untuk menemukanmu. Kamu dipersalahkan atas bangkrutnya perusahaan Myung Ri dan hilangnya dia."
Jung Bok Sil terbelalak kaget,
"Perusahaannya benar-benar bangkrut?"
"Lebih tepatnya dicuri, dia tertipu habis-habisan." Nam Dongmin menggeretakan gerahamnya.
"A....apa yang terjadi sebenarnya?" Jung Bok Sil merasa hanya dia yang tidak tahu apa-apa selama ini.
Nam Dongmin saling berpandangan dengan Kwak Tae Rang, Kwak Tae Rang mengangguk menyetujui Nam Dongmin untuk menceritakan semuanya.
Sementara Na Ri dan Gorae menunggu dengan tegang, tanpa sadar Gorae terus menggenggam erat tangan Na Ri. Na Ri sedikit merasa tenang, ada kehangatan menjalar dihatinya.
Nam Dongmin meneguk kopinya yang sudah dingin sebelum dia memulai pembicaraannya.
"Saat Myung Ri mulai kuliah, tekanan dari keluarganya sangat luar biasa. Dia sebenarnya sangat tidak menyukai kuliah bisnis management, dia lebih menyukai belajar seni.
Tapi orang tuanya menuntut dia melakukan apapun yang mereka mau. Disaat itulah aku menyadari ada yang berbeda dari Myung Ri."
"Apa maksudmu?" Tanya Jung Bok Sil cepat.
"Sikap dan tingkahnya kadang aneh menurutku.... dia terkadang sangat gembira dan penuh energi. Lalu dalam waktu singkat dia akan sangat pemarah dan tidak terkendali....atau dia akan bersedih dan mengurung diri tanpa alasan yang jelas..."
"Bipolar Disorder..." Gorae menimpali, semua menoleh pada Gorae.
"Betul....aku antar dia berobat, dan ternyata dia mengidap kepribadian ganda..." Nam Dongmin membenarkan perkataan Gorae.
"Dongmin, Gorae ini ahli bedah di rumah sakit Hallym." Kwak Tae Rang memberitahu temannya, dan ekspresi terkejut seketika tampak di wajah Nam Dongmin.
"Benarkah? Apakah kamu tahu psikiater bernama dokter Ahn Sohyun? .... ah, suaminya seorang dokter juga namanya dokter Cha Deukyom."
Gorae mengangkat alisnya,
"Tentu aku mengenal mereka."
"Dokter Ahn yang menangani Myung Ri! Dan ayah dokter Ahn adalah pemilik perusahaan raksasa Seukai group yang mencuri semua kekayaan perusahaan Myung Ri!"
Suara Nam Dongmin terdengar penuh kemarahan.
Mata Gorae terbelalak, hatinya bergetar, tentu aku sangat mengenal dokter Ahn Sohyun dan dokter Cha Deukyom....mereka adalah orang tua Yunna! Mantan kekasihnya!
"Ba...bagaimana bisa?" Jung Bok Sil masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Nam Dongmin menoleh pada Jung Bok Sil, "Aku akan menceritakan lagi dari awal..."
Nam Dongmin terdiam sejenak, dia berpikir untuk memulainya dari mana.
"Orang tua Myung Ri tidak tahu jika anaknya mengidap Bipolar disorder. Setelah lulus kuliah, dia langsung bekerja sebagai wakil pimpinan perusahaan ayahnya. Dia sangat dibanggakan dan diandalkan oleh keluarganya sebagai penerus tunggal perusahaan ayahnya. Aku bekerja pada Myung Ri dan kamu tahu, Myung Ri sangat dekat denganku."
Semua yang duduk di sudut coffee shop ini menunggu Nam Dongmin melanjutkan ceritanya, tampak sekali dia adalah orang yang sangat teliti dan berhati-hati.
"Sampai ketika Myung Ri bertemu denganmu Bok Sil, aku tidak pernah melihat dia mengencani siapapun, tapi dia sangat jatuh cinta padamu."
Jung Bok Sil mengingat semua pertemuan yang sangat indah dengan lelaki menawan saat dia bekerja sebagai kasir di mini market.
Saat itu Myung Ri membeli satu kaleng Bir. Saat itu Myung Ri kehilangan dompetnya, Jung Bok Sil akhirnya yang membayar bir untuk Myung Ri.
Song Myung Ri merasa malu dan tidak enak hati, tapi Jung Bok Sil merasa senang membelikan bir untuk Myung Ri, karena dia lihat Myung Ri sangat tampan dan sangat sopan.
Keesokan harinya Myung Ri kembali datang dan mengembalikan uang Jung Bok Sil, tapi Jung Bok Sil menolaknya. Akhirnya Myung Ri mengajak Bok Sil untuk minum berdua sebagai rasa terimakasihnya.
Dan hubungan mereka berlangsung sangat cepat, Myung Ri benar-benar jatuh cinta pada gadis miskin seperti Jung Bok Sil, dan Jung Bok Sil merasa dia adalah cinderella yang dicintai pangeran tampan dan kaya.
"Saat Myung Ri mengatakan akan menikahi gadis dari kalangan biasa pada orang tuanya, mereka sangat marah dan menentang rencana pernikahan Myung Ri."
Nam Dongmin menghela nafas mengingat kejadian betapa hancurnya perasaan Myung Ri waktu itu.
"Orang tua Myung Ri menjodohkannya dengan gadis kaya raya, makanya apakah kamu ingat, saat dia tiba-tiba melamarmu dan menikahimu seminggu setelahnya?"
Tanya Nam Dongmin pada Jung Bok Sil, dan diikuti anggukan Jung Bok Sil.
"Keluarganya mengetahui Myung Ri sudah menikah diam-diam, mereka hampir mencoretnya dari daftar keluarga. Tapi karena dialah satu-satunya pewaris kekayaan keluarga, hal itu batal dilakukan dengan syarat, Myung Ri harus membatalkan pernikahan dengan mu. Dan Myung Ri berjanji akan melepaskanmu saat itu. Kamu tidak tahu betapa berat dia menahan semua tekanan dari orang tuanya."
Mata Jung Bok Sil berkaca-kaca, "Pantas saja.....dia hanya mengatakan jika keluarganya belum siap menerimaku...dia memintaku bersabar....tadinya aku pikir, dia sudah punya istri. Tapi sikapnya selalu sangat baik padaku. Hanya aku merasa tidak wajar dengan keadaan menikah tanpa restu seperti ini."
"Myung Ri sangat mencintai mu Bok Sil, apalagi setelah lahir putri cantik yang dia beri nama Song Na Ri, dia sangat tidak rela melepaskanmu.
Dia berjuang mengobati bipolar disordernya, juga berjuang mempertahankan kamu dan putri yang sangat disayanginya."
Na Ri menutup mulutnya, ucapan Nam Dongmin seperti petir disiang bolong. Jadi, benar! Song Myung Ri adalah ayahnya! Pantas saja selama ini dia merasa ada perasaan ikatan yang aneh dan sangat iba jika melihat Song Myung Ri.
Jadi.... dia adalah Song Na Ri!
"Ibu....dia...dia ayahku?" Na Ri menahan tangisnya, dia ingin memastikan dan menunggu pengakuan dari bibir ibunya sendiri.
Jung Bok Sil yang berurai airmata menatap anaknya, dia mengangguk,
"Iya..... Song Myung Ri adalah ayahmu..." Dia tidak sanggup menahan lagi tangisnya.
Na Ri menggigit bibirnya agar tangisnya tidak pecah.
Dia meremas tangan Gorae kuat-kuat.
Tubuhnya bergetar, rasanya separuh nyawanya tercabut dari tubuhnya.
"Nasib akhirnya mempertemukan ayah dan anak yang terpisah sekian lama, juga aku sahabatnya yang terus mencarinya. Aku merasa ini adalah keajaiban."
Kwak Tae Rang seperti bergumam sendiri.
"Bok Sil, dia terus mencari anaknya....Tae Rang bilang, Myung Ri mulai sedikit bisa mengingat kembali. Dia kehilangan ingatannya selama ini."
Na Ri mulai terisak, dia ingat betapa dulu dia sangat merasa kasihan dengan Song Myung Ri saat pertama kali bertemu, Song Myung Ri mengira Sora adalah anaknya.
Gorae membiarkan Na Ri menyembunyikan tangis didadanya, Gorae menepuk punggung Na Ri dengan lembut.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Gorae kemudian.
"Yang aku tahu, dia berobat ke psikiater secara rutin. Tapi anehnya, dia semakin sakit, kadang emosinya sangat tidak terkendali, yang lebih aneh.... satu persatu anak perusahaannya diambil dan saham perusahaan seluruhnya dikuasai oleh Seukai group."
Nam Dongmin berhenti sebentar, dia mengusap wajahnya seperti ingin menghapus segala kenangan yang melekat di ingatannya.
"Setelah aku selidiki, pemilik Seukai Group adalah ayah dokter Ahn! Aku mulai mencurigai semua pengobatan yang dilakukan dokter Ahn. Aku juga menyelidiki, ternyata sebelum menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang ini... Seukai hampir bangkrut!"
Gorae terhenyak, benarkah dokter Ahn melakukan malpraktek pada Song Myung Ri? Selama ini dokter Ahn Sohyun dikenal sebagai dokter senior yang sangat berpengalaman dan berpengaruh.
"Pak Nam...apakah anda tahu obat yang diberikan buat pak Song?"
Nam Dongmin menggeleng, "Dia hanya mengatakan dia diberi pil penenang. Aku tidak pernah tahu nama obatnya."
"Aku ingat, saat Na Ri berumur hampir dua tahun, sudah beberapa kali menemukan bekas botol obat dikamar mandi. Aku tidak tahu obat apa itu. Setiap aku tanya, dia hanya mengatakan itu vitamin."
Jung Bok Sil mengusap airmatanya,
"Sampai ketika dia jarang sekali pulang, bahkan saat Na Ri berulang tahun yang kedua, dia tidak pulang. Aku tidak bisa menghubunginya....aku juga tidak bisa menghubungi kamu, Dongmin."
Jung Bok Sil mendelik ke arah Nam Dongmin.
"Aku memberanikan diri pergi ke kantornya, tidak seorangpun mengenaliku sebagai istri boss mereka, mereka hanya mengatakan kamu dan Myung Ri sudah hampir dua minggu tidak berada di kantor. Aku benar-benar kebingungan saat itu..."
Jung Bok Sil tidak bisa melupakan kejadian hari itu. Dia menggendong Na Ri dan berpikir akan pergi ke rumah keluarga Myung Ri. Tapi saat itu dia mendengar beberapa orang karyawannya sedang bergunjing tentang Myung Ri.
Ada karyawan yang mengatakan Myung Ri sering pergi ke rumah sakit akhir-akhir ini, ada juga yang mengatakan Myung Ri akan dinikahkan dengan gadis dari keluarga kaya. Ada yang menebak bahwa gadis itu kemungkinan seorang dokter, karena Myung Ri sering mengunjungi rumah sakit!
Hati Jung Bok Sil sangat panas, dia tidak menyangka jika suaminya benar-benar akan menikahi seorang dokter. Dia merasa benar-benar dikhianati oleh suaminya.
"Saat itu, aku masih menyimpan botol pil dari rumah sakit Hallym. Aku menduga, vitamin ini hanya untuk menutupi kebohongannya selama ini."
Nam Dongmin menunduk, Ah! Salahku harus menuruti Myung Ri untuk tidak mengatakan pada Bok Sil saat itu dia benar-benar sedang sakit dan saat itu Myung Ri mengetahui tiga perempat pemilik saham menjual sahamnya pada Seukai group! Jika saja aku menceritakan semua yang menimpa pada Myung Ri, mungkin mereka tidak akan berpisah!
"Aku mendatangi rumah sakit Hallym, aku menanyakan ke farmasi rumah sakit obat apa yang aku bawa, dan siapa yang memberi resep ini."
Jung Bok Sil berhenti, dia mengingat-ingat jenis obat dan nama dokter yang memberikan resepnya.
"Obat apa itu?" Tanya Gorae tidak sabar.
"Aku....tidak begitu ingat....kata apotekernya itu adalah suplemen herbal dan satu lagi obat anti depresan..."
Jung Bok Sil berusaha keras mengingatnya, tapi kemudian dia menggeleng.
"Baik, siapa dokter yang memberikan resep itu?" Gorae berpikir dia harus kembali ke rumah sakit untuk melihat data status pasien lebih dari dua puluh tahun lalu.
"Itu, perempuan itu! Ahn Sohyun! Aku langsung menuju ruang prakteknya! Dan apa yang aku temui disana? Suamiku sedang dipeluk oleh perempuan itu!"
Nafas Jung Bok Sil sedikit terengah, kemarahan terlihat jelas dimatanya.
"Aku...saat itu hanya bisa menangis sambil memeluk Na Ri kecil, aku pergi dari rumah sakit! Aku sangat hancur saat itu.." Jung Bok Sil kembali terisak. Na Ri mengusap punggung ibunya, dia sedih melihat ibunya begitu tertekan seperti ini.
"Malam harinya, kami bertengkar hebat, Myung Ri tetap tidak mau berterus terang jika dia akan menikah dengan perempuan itu! Aku bersumpah akan menghapus namanya dan kisahnya dari hidup anakku. Aku.....aku bersumpah akan menjadikan anakku seorang artis kaya dan terkenal dan dia hanya bisa melihatnya dari jauh tanpa pernah dikenali oleh anaknya sendiri!" Suara Jung Bok Sil bergetar disela isak tangisnya.
"Ibu.... " Na Ri mengerti sekarang, mengapa ibunya begitu memaksanya menjadi seorang artis, mengapa ibunya sangat berambisi agar dia terkenal dan kaya. Na Ri memeluk ibunya.
"Malam itu dia pergi, berhari-hari...berbulan-bulan dia tidak kembali....sampai dua tahun, aku tidak bisa membayar uang sewa apartemen mewah dari Myung Ri...hingga aku putuskan untuk keluar dari rumah itu, aku sudah tidak punya simpanan uang.
Aku terlunta-lunta dijalan membawa Na Ri yang masih berumur empat tahun waktu itu..."
Lamat-lamat masih ada sedikit ingatan yang tersisa dikepala Na Ri, saat itu dia masih sangat kecil, dan cuaca sangat dingin, ketika dia berjalan menembus salju...sangat itu dia merasa sangat kedinginan. Itu saja yang Na Ri ingat.
"Aku mencari tempat yang bisa aku tinggali, tapi aku sama sekali tidak punya uang....sampai suatu malam saat aku tidur dibawah jalan layang memeluk Na Ri, seseorang memasukan satu amplop besar berisi uang dalam tasku."
Jung Bok Sil ingat, pada pagi hari saat dia terbangun, tasnya sudah terbuka dan dia menemukan amplop berisi uang yang lumayan banyak.
Dia merasa bersyukur sekali, siapapun yang menaruh uang dalam tasnya, pastilah seorang malaikat penolong!
"Dengan uang itu, aku bisa menyewa kamar kecil untuk tinggal, aku bekerja keras untuk menghidupi anakku, menyekolahkannya dan memberinya makan yang layak. Mengingat saat itu, selalu sangat menyakitkan bagiku!"
Jung Bok Sil menangis tersedu-sedu,
"Ibu....sudahlah...ibu jangan menangis.." Na Ri memeluk ibunya airmatanya pun berlinang.
Kwak Tae Rang menghela nafas,
"Bu Jung, tahukah anda siapa yang menaruh uang itu di tas anda? Dan tahukah anda mengapa Na Ri di terima audisi di agensi yang anda lamar? Dan saat itu Na Ri bersaing dengan ratusan pelamar yang hampir semuanya les akting...sedangkan Na Ri tidak les apapun.."
Jung Bok Sil menggeleng, "Aku tidak tahu..."
"Nam Dongmin yang melakukan semua cara untuk menolong anda diam-diam." Jawab Kwak Tae Rang.
***
Samhansaon * : Biasanya siklus tiga hari dingin yang diikuti empat hari hangat yang disebut dengan istilah Samhansaon selalu berulang selama musim dingin.