
Jung Bok Sil terbelalak,
"Apa? Tapi....mengapa kamu menghindariku?"
"Maafkan aku Bok Sil. Aku benar-benar tidak bisa menemuimu. Bertahun-tahun aku memantaumu setelah Myung Ri menghilang. Karena keluarga Myung Ri sangat mencurigaiku. Mereka selalu mengirim orang untuk memata-matai ku. Aku benar-benar tertekan dengan segala ancaman mereka. Tapi aku tidak bisa lepas tangan melihat penderitaanmu Bok Sil..."
"Ya ampun..."
Jung Bok Sil menutup mulutnya, dulu setiap bulan selalu saja ada amplop yang terselip dibawah pintu kamar sewanya. Dia tidak bisa menemukan siapa yang selalu mengirim uang padanya. Walaupun tidak besar, tapi sangat meringankan bebannya untuk membiayai hidupnya dan Na Ri, karena saat itu dia hanya bisa bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran.
Hal itu berlangsung bertahun-tahun, sampai Na Ri berhasil menjadi bintang iklan cilik dan mempunyai penghasilan besar. Amplop berisi uang itu berhenti terselip di pintu kamar sewanya. Dan mulai saat itu dia dan Na Ri pindah ke apartemen yang lebih besar.
"Keluarga Myung Ri tidak melepaskan ku sampai aku benar-benar pergi ke luar negri diam-diam, aku pergi saat aku tahu Na Ri sudah berhasil menjadi seorang bintang. Aku dianggap mengetahui keberadaan Myung Ri ataupun istrinya. Keluarga Myung Ri benar-benar hancur setelah ayahnya meninggal dan perusahaannya dinyatakan bangkrut.
Aku selalu meminta tolong orang berbeda untuk mengirim uang kepadamu."
Jung Bok Sil merasa sangat bersalah selama ini dia telah membenci Nam Dongmin, karena dia menganggap Nam Dongmin menutupi kebohongan Myung Ri.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf....aku tidak mengetahui betapa berat beban yang kamu pikul, Dongmin....maafkan aku..."
Jung Bok Sil meraih tangan Nam Dongmin sambil menangis.
"Tidak usah minta maaf Bok Sil, suamimu menolongku lebih dari aku membantumu....maafkan aku tidak bisa menjelaskan apapun padamu, nyawaku terancam saat itu. Setelah keluar dari perusahaan Myung Ri, aku bekerja di sebuah perusahaan kecil, jadi aku hanya bisa membantumu sedikit sekali.."
Nam Dongmin menggenggam tangan Jung Bok Sil.
"Omo... bantuanmu sangat besar bagiku dan anakku...aku tidak pernah menemukan orang yang selalu menyelipkan uang dipintu kamar sewa ku...saat itu aku menganggap ada malaikat penolong dari langit, aku hanya bertekad akan membuat Na Ri kaya, dan menunjukan pada Myung Ri dan keluarganya bahwa hidupku lebih terhormat."
Nam Dongmin mengusap bahu Jung Bok Sil, "Aku rela melakukan apapun untuk istri bossku.."
"Dan bu Jung...dokter Ahn tidak menikah dengan pak Song...dia menikah dengan dokter Cha." Gorae menimpali, untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun ini.
Dia tidak sanggup mengatakan Yunna adalah anak mereka. Mungkin saja Yunna tidak tahu apapun tentang hal ini.
"Yang terpenting, sekarang Myung Ri sudah ditemukan dan dia sedang dalam perawatan...... apakah kamu mau menemuinya?" Tanya Nam Dongmin kemudian.
Jung Bok Sil terdiam, selama lebih dari dua puluh tahun dia memendam dendam dan sakit hati pada Song Myung Ri. Dia selalu berpikir Myung Ri telah menyakitinya.
Dia hidup dalam kenangan pahit yang membuat dia melakukan apapun untuk bisa mencapai hidup yang kaya dan terpandang.
Dia sudah mengorbankan anaknya sendiri demi membalaskan rasa sakit hatinya.
Kemiskinan membuat derajatnya jauh dibawah kaki-kaki orang kaya yang berkuasa dan merebut haknya untuk bahagia dan hidup layak.
Dia membuat Na Ri sangat menderita dan hampir kehilangan nyawanya. Dendam yang tersimpan didadanya membuat Na Ri tidak pernah mengenal siapa ayahnya. Bukannya merasa puas, dia malah menciptakan penderitaan demi penderitaan baru yang menyiksanya.
Dan hari ini, ketika semua mulai terang, kegelapan hidupnya mulai dikuak, dia harus bertemu dengan lelaki yang sangat dicintai dan sekaligus sangat dibencinya.
Jung Bok Sil merasa sangat ragu, apakah dia pantas menemui lelaki itu?
"Ibu.... ayo kita temui ayah..." Bujuk Na Ri pelan. Kata-kata ayah terasa sangat asing dilidah Na Ri, tapi ada rasa bahagia ketika pertama kali dia merasakan akhirnya dia mempunyai ayah yang selama ini terkubur dalam dendam ibunya.
Jung Bok Sil menatap Na Ri nanar, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Dia sangat tidak menyangka akan menemui ayah Na Ri dalam keadaan tidak pernah dia duga.
"Mungkin jika kalian menemuinya, ingatan Myung Ri akan berangsur pulih." Kwak Tae Rang berusaha ikut membujuk.
Na Ri berdiri, dia mengambil kantong kado natal untuk ayahnya.
"Jika ibu tidak mau, aku akan menemuinya...pak Kwak, pak Nam...terimakasih sudah menemukan ayahku." Na Ri membungkuk dan melangkah pergi menuju kamar Song Myung Ri dirawat.
Gorae ikut menyusul Na Ri, "Aku akan temani kamu."
"Gorae..... jalan hidupku benar-benar kacau dan rumit....dan sekarang, aku baru tahu siapa ayahku..."
Na Ri berkata pelan saat mereka berdua berjalan menuju kamar Song Myung Ri.
Gorae mengangguk dan tersenyum pada Na Ri. "Hidup memang aneh Na Ri. Yang terpenting, kamu bisa menerimanya dan menjalani semua tanpa rasa penyesalan."
"Aku.....merasa aneh....apa yang harus aku lakukan?" Na Ri terlihat bingung.
"Karena mungkin dia belum mengenal dirimu, sapa dia seperti kamu selalu menyapa dia saat mengunjunginya. Jangan membuat dia syok....perlahan saja."
Gorae padahal belum pernah bertemu dengan Song Myung Ri, tapi menurut cerita Kwak Tae Rang dan Nam Dongmin, dia kehilangan ingatannya, akan sangat bijaksana jika tidak membuatnya ketakutan.
Na Ri perlahan mengetuk pintu kamar Song Myung Ri, kali ini, dia bukan mengunjungi lelaki gila yang gembel yang ditemuinya di danau Mujigae, dia bukan mengunjungi seorang pasien yang kehilangan ingatannya....kali ini, dia mengunjungi ayah kandungnya!
Jantung Na Ri berdebar kencang.
Saat Na Ri membuka pintu kamar, terlihat seorang lelaki paruh baya, mengenakan pakaian pasien sedang duduk termenung menatap jendela yang tirainya terbuka lebar.
Terlihat salju berjatuhan dengan lembut di halaman samping klinik.
"Ha......hallo...." Sapa Na Ri dengan suara ragu ketika melihat Myung Ri menoleh. Wajahnya sudah bersih dari jenggot dan kumis sekarang.
Tampak terlihat dia dulu adalah lelaki yang sangat tampan.
Song Myung Ri mengerutkan keningnya, mengingat siapa yang datang.
"Ah! Jag-eun Cheonsa!* Kamu datang!" Sapa Song Myung Ri gembira.
Sejak Na Ri mengunjunginya pertama kali, Song Myung Ri selalu memanggilnya Jag-eun Cheonsa yang artinya malaikat kecil.
"Abeoji..." Na Ri menatap lelaki itu dengan rasa haru yang mendalam, ah gagap ayah sudah sembuh! Sungguh baik perawatan di klinik ini.
Song Myung Ri tersenyum mendengar Na Ri selalu memanggilnya abeoji.
"Abeoji, apa kabar? Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Song Myung Ri melambaikan tangan agar Na Ri mendekat.
"Aku....ingat nama anakku!....K-Kamu bantu aku mencarinya..ya?!"
Na Ri mengangguk, matanya berkaca-kaca ketika melihat senyum penuh harapan dari wajah ayahnya.
"Nnamanya... Song Na Ri....dia artis terkkenal...! Yah...i-itu yang istri ku kkatakan...dia...akan jadi artis tterkenal!"
Na Ri sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Dia meraih tangan Song Myung Ri, di ciumnya tangan lelaki separuh baya itu dalam isaknya.
"Jag-eun Cheonsa...jjangan menangis.." Song Myung Ri meraih Na Ri kedalam pelukannya, tangis Na Ri pecah saat memeluk ayah yang baru dia temukan. Song Myung Ri mengusap rambut Na Ri berusaha menenangkan Na Ri. Dia tidak mengerti mengapa gadis malaikat ini menangis.
"Abeoji...."
Dalam hati Na Ri berteriak, abeoji.....akulah Song Na Ri...aku anakmu!
Gorae menghela nafas, dadanya terasa berat melihat ayah dan anak yang terpisah lebih dari dua puluh tahun dan sekarang kembali dipertemukan.
Dia membuang pandangannya keluar jendela, salju seperti mengiringi keharuan Na Ri saat ini. Tidak terasa matanya terasa basah.
Jang-eun Cheonsa, jangan menangis...bisik Gorae dalam hati.
*
Gorae melewatkan perayaan natal dengan keluarganya. Setelah mengantar Na Ri dan Jung Bok Sil, malam harinya Gorae langsung kembali ke Seoul.
Song Myung Ri belum bisa mengingat Na Ri atau Jung Bok Sil. Tapi terlihat ada kerinduan dan penderitaan mendalam dimata Song Myung Ri saat melihat Jung Bok Sil.
Beruntung keluarga Gorae tidak pernah mempermasalahkan apapun yang dilakukan Gorae. Mereka menaruh kepercayaan besar pada Gorae, dan membiarkan Gorae pergi setelah Gorae memberikan sedikit penjelasan tentang masa lalu Na Ri.
Gorae sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat pengertian.
Gorae sampai di Seoul hampir tengah malam, saat Na Ri meneleponnya.
"Selamat Natal Gorae...kamu sudah sampai?"
"Selamat natal jang-eun cheonsa...ya, aku sudah di Rumah Sakit Hansung."
"Kenapa kamu memanggilku dengan panggilan itu?"
"Karena memang kamu seperti malaikat kecil." Gorae menambahkan dalam hati, malaikat kecil yang sangat manis dan lucu....dan....aku sangat menyayangi mu!
Gorae tiba-tiba menghentikan langkahnya, apa ini? Benarkah aku menyayangi Na Ri?
Dia selalu saja dipertemukan dengan Na Ri dan selalu saja dia ingin melindungi gadis ini.
Apakah dia memang sangat menyayangi Na Ri? ...Gorae merasakan degup keras dijantungnya.
"Gorae, jaga diri kamu ya..."
Suara Na Ri membuyarkan lamunan Gorae.
"Kamu juga..."
Jawab Gorae lembut.
"Mungkin.....akan lama kamu kembali ke desa..." Suara Na Ri seperti membelai telinga Gorae.
"Aku akan mencari tahu semua tentang penyakit ayahmu...mungkin aku akan sangat rindu untuk pulang..."
Gila! Apakah aku sanggup menahan rindu tidak bertemu Na Ri? Kenapa aku jadi merindukannya? Teriak Gorae dalam hati.
Terdengar Na Ri menarik nafas,
"Aku selalu merepotkan mu Gorae...kami semua akan merindukanmu."
Kami semua? Bagaimana dengan kamu Na Ri? Apakah kamu akan merindukanku? Gorae membenci suara didalam hatinya, yang terus menggodanya.
"Aku akan segera pulang begitu ada kesempatan."
"Baiklah...jaga dirimu...Oh, aku lupa memberikan hadiah natal untukmu. Kamu pergi terburu-buru tadi.."
"Ah baiklah, kamu bisa memberikannya saat aku pulang."
Gorae menutup sambungan teleponnya dengan Na Ri. Jika saja semua dalam keadaan baik-baik saja, dia rela kembali ke desanya saat ini juga untuk bertemu dengan Na Ri.
Kembali Gorae mengutuk dirinya sendiri. Gila! Tidak mungkin aku begitu sangat merindukannya! Tidak mungkin! Bayangan Yunna masih sangat melekat dihatinya. Dan dia tidak bisa memungkiri perasaan cemburunya melihat Yunna bergandengan tangan dengan lelaki lain dan tersenyum bahagia.
Gorae melangkah menuju kantornya. Dia berharap data sentral rumah sakit masih menyimpan data rekam medis dua puluh lima sampai tiga puluh tahun lalu.
Menurut Nam Dongmin, Song Myung Ri sudah diketahui menderita Bipolar Disorder sejak dia kuliah.
Gorae ingin memastikan jika Song Myung Ri sudah berobat di Rumah Sakit ini tiga puluh tahun lalu atau bahkan lebih.
Gorae login ke situs resmi rumah sakit Hansung menggunakan password yang hanya dimiliki karyawan tertentu dan menggunakan nomor induk karyawan.
Berjam-jam dia mencari data rekam medis pasien atas nama Song Myung Ri, tidak ada satupun yang menderita Bipolar disorder.
Dia mengetik arsip data pasien dibagian departemen kejiwaan.
Bahkan di departemen ini tidak ditemukan nama Song Myung Ri!
Gorae berpikir, mungkinkah datanya telah dihapus?
Atau datanya sudah di retensi* mengingat kasus Song Myung Ri terjadi sudah lama sekali.
Gorae melirik jam tangannya, sudah pukul 3:19 pagi!
Aigoo...aku belum makan apapun! Badannya terasa pegal. Gorae memutuskan untuk pulang, dan besok dia akan memeriksa ruang penyimpanan rekam medis inaktif dilantai satu.
"Dokter Kang, anda disini? Saya pikir anda mendapat libur."
Seorang perawat menyapa Gorae yang sedang mengunci pintu kantornya.
"Aku kembali lebih cepat, ada sesuatu yang harus ku kerjakan." Jawab Gorae ramah.
"Tapi jadwal operasi anda masih satu minggu lagi, dok." Perawat itu tersenyum.
"Ya, aku tahu...aku hanya perlu memeriksa sesuatu.... Ah suster, apa kamu tahu siapa yang bertugas menjaga ruang arsip rekam medis saat ini?"
"Oh itu, kepala arsipnya bernama Choi Parang. Tapi dia sudah pulang."
"Baiklah... aku akan menemuinya besok, aku harus pulang sekarang."
Gorae mengangguk dan berlalu dari hadapan perawat jaga malam ini.
Perawat itu memperhatikan punggung lebar Gorae dari belakang.
Ah, si tampan ini selalu ramah, beruntungnya siapapun yang jadi kekasihnya!
*
Langkah kaki Gorae yang panjang berjalan cepat memasuki rumah sakit, hanya satu dipikirannya saat ini, ruang arsip!
"Dokter Kang."
Satu suara menyapanya di lobby rumah sakit. Gorae menoleh, Moon Jae Hyun berdiri sambil tersenyum menatapnya.
Gorae melihat Yunna memasuki lift, rupanya dia baru saja mengantar Yunna.
Gorae mengangguk tanpa tersenyum, dia ingin sekali cepat pergi dari tempat ini, tapi Moon Jae Hyun mendekat padanya dan mengulurkan tangan untuk menjabatnya.
"Apa kabar dokter Kang?"
Terpaksa Gorae menjabat tangan Jae Hyun, ada perasaan marah saat melihat senyum dari Jae Hyun. Mungkinkah senyum itu yang membuat Yunna luluh padanya?
Sedangkan Jae Hyun merasakan betapa sempurnanya Kang Gorae, pancaran kecerdasan dan kebaikan hati terlihat diwajahnya. Pantas saja Yunna sangat possesive padanya, gadis manapun akan jatuh hati melihat lelaki tinggi dan sangat tampan ini.
"Aku baik...bagaimana dengan mu?"
"Aku sangat baik, dokter. Apakah kamu terburu-buru?"
Gorae sebenarnya ingin segera pergi, tapi melihat cara bicara Jae Hyun, dia seperti ingin membicarakan sesuatu dengannya.
"Tidak juga." Gorae tersenyum tipis.
"Bagaimana kalau kita minum kopi dulu sebentar?" Ajak Moon Jae Hyun ramah.
"Baiklah." Gorae dan Jae Hyun melangkah menuju coffee shop di lantai dasar.
"Dokter Kang, aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu padamu....tapi aku tidak yakin jika ini baik untuk didengar oleh mu."
Moon Jae Hyun memulai pembicaraan.
Gorae mengangkat alisnya, dia menunggu Jae Hyun melanjutkan perkataannya.
"Karena kamu, aku sangat berhutang nyawa pada mu. Aku selamat dari kematian akibat kecelakaan waktu itu...." Jae Hyun menatap Gorae yang masih tidak mengerti arah pembicaraannya.
"Awalnya, aku sama sekali tidak tahu jika kamu adalah mantan kekasihku Yunna..."
Kekasih! Jadi benar, mereka sepasang kekasih sekarang! Air muka Gorae berubah ketika mendengar penuturan Jae Hyun.
"Aku sangat mencintainya.... tapi, aku merasa dia belum bisa melupakanmu."
Gorae menghela nafas,
"Aku pikir, ini bukan masalahku tuan Moon." Gorae sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ini.
"Panggil aku Jae Hyun....bolehkah aku panggil kamu, Gorae?"
Kembali Gorae mengangkat alisnya,
"Tidak masalah."
"Aku mengerti, ini sama sekali bukan masalahmu. Hanya saja aku berharap kita bisa berteman. Aku sangat menghormatimu Gorae."
Gorae tersenyum, berteman dengan lelaki yang menjadi kekasih Yunna? Gorae membayangkan akan sakit melihat mantan kekasihnya bahagia dengan lelaki kaya dihadapannya ini.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang....maafkan aku." Jawab Gorae pendek.
"Baiklah, aku mengerti. Aku berusaha agar hubungan ku dengan Yunna tidak melukaimu....jika kamu membutuhkan bantuanku, apa saja dan kapan saja....aku siap membantumu, Gorae!" Moon Jae Hyun berkata tulus, dia memberikan kartu namanya.
Gorae mengangguk, menerima kartu nama Moon Jae Hyun. Tertulis nama Moon Jae Hyun, CEO perusahaan raksasa Sky&Star.co Group.
"Jae Hyun, apakah anak perusahaanmu ada yang bergerak dibidang farmasi?" Tanya Gorae kemudian, karena dia pernah meresepkan beberapa obat dibawah perusahaan milik Jae Hyun.
"Tentu. Kenapa?"
"Mungkin....aku akan membutuhkan bantuan mu nanti."
"Kapan saja kamu membutuhkan ku Gorae. Boleh aku minta nomor telepon mu?"
*
Gorae menemui Choi Parang, lelaki berwajah keras itu sedang duduk sambil menatap layar komputer.
"Pak Choi?"
"Aku Kang Gorae."
Choi Parang melirik name tag yang tergantung di dada Gorae, Ah, dia ahli bedah di rumah sakit ini.
"Dokter Kang, ada perlu apa?" Suara Choi Parang tidak sesuai dengan wajahnya yang keras, suaranya terdengar lebih feminin.
"Aku mencari data rekam medis pasien .... tiga puluh sampai dua puluh lima tahun lalu."
"Wah! Sudah lama sekali. Biasanya data pasien poli akan diretensi setelah dua atau lima tahun. Tapi jika pasien rawat inap biasanya akan dipisahkan di filing aktif dan inaktif. Tergantung kasus penyakitnya."
"Jadi apakah mungkin file inaktif masih tersimpan jika kasusnya istimewa?"
Choi Parang mengangguk,
"Kasus-kasus tertentu yang dianggap sangat bernilai, misalnya kasus HIV/AIDS, operasi pemisahan kembar siam, operasi penyesuaian organ kelamin atau gender reassigment, SARS, flu burung, dan sebagainya, umumnya akan disimpan selamanya karena memiliki nilai keilmuan kedokteran yang masih terus berkembang. Berkas-berkas rekam medis seperti ini tidak dimusnahkan dan akan terus diretensi, atau disebut juga diabadikan."
Gorae mengangguk, "Lalu bagaimana dengan pasien gangguan jiwa?"
"Untuk pasien gangguan jiwa dengan pelayanan rawat jalan berkas rekam medisnya akan tetap disimpan di ruang filing sebagai berkas aktif sampai 10 tahun sejak terakhir digunakan untuk pelayanan."
Choi Parang memberikan penjelasan.
"Apakah mungkin kasus tiga puluh tahun lalu masih tersimpan?" Tanya Gorae kembali.
"Jadi jika pasien gangguan jiwa tersebut datang berobat jalan terakhir tahun 2010 dan tidak pernah datang lagi, atau meninggal dunia sampai tahun 2020, maka berkasnya sudah memenuhi masa retensi sebagai berkas aktif dan dapat dipindahkan ke tempat penyimpanan berkas rekam medis inaktif."
Choi Parang melanjutkan,
"Berkas pasien ini akan disimpan di ruang filing inaktif selama minimal 5 tahun. Jika sudah melewati penyimpanan minimal 5 tahun di ruang filing inaktif dan pasien tetap tidak pernah datang lagi atau memang sudah meninggal dunia maka berkas pasien ini bisa disiapkan untuk dinilai dan mungkin dimusnahkan ."
Gorae masih penasaran, "Jika setelah sepuluh tahun pasien itu datang kembali untuk berobat?"
"Seandainya berkas rekam medis sudah menjadi inaktif dan sudah dipindahkan keruang filing inaktif lalu pasien datang berobat lagi maka berkas rekam medis akan diambil kembali dan setelah digunakan untuk pelayanan akan disimpan di ruang filing aktif lagi."
Gorae bertanya-tanya mungkinkah Song Myung Ri pernah datang untuk berobat lagi setelah beberapa tahun menghilang?
"Pak Choi, mengapa data rekam medis pasien tidak ada di data base rumah sakit?"
"Untuk kasus lebih dari lima tahun atau sepuluh tahun memang kita tidak menyimpannya di data base rumah sakit."
Gorae mengangguk mengerti, Choi Parang memperhatikan Gorae seperti orang kebingungan.
"Dokter Kang, sebenarnya file siapa yang anda cari?"
"Ah, aku mencari rekam medis seorang pengidap Bipolar disorder yang ditangani dokter Ahn Sohyun....sekitar.....aku tidak yakin kapan dia pertama dan terakhir kali berobat...sudah lebih dari dua puluh tahun lalu." Gorae tampak ragu.
"Hmm...pasien dokter Ahn...dokter Kang, untuk memastikan seseorang mengidap Bipolar Disorder itu waktunya sangat lama dan melalui berbagai test." Choi Parang menjelaskan.
"Betul, setidaknya butuh beberapa tahun untuk memastikannya. Makanya aku menarik mundur pencarian rekam medis orang itu setidaknya tiga puluh tahun lalu."
Choi Parang mengangguk sambil menggigiti bolpointnya.
"Kalau boleh tahu, apa yang anda cari dari rekam medis orang itu?"
Gorae tahu pencariannya ini mungkin saja beresiko fatal, karena jika dia sampai menemukan sesuatu yang salah, reputasi dokter Ahn Sohyun akan tercoreng. Bukan tidak mungkin dokter Ahn Sohyun tidak akan tinggal diam dan karirnya di rumah sakit ini akan terancam.
"Aku hanya ingin melakukan penelitian.." Jawab Gorae sekenanya.
Choi Parang mengerutkan keningnya, "Mengenai Bipolar Disorder? Bukankah anda ahli bedah?"
"Ah, maksudku, aku menemukan seorang pasien pengidap Bipolar Disorder...dulu dia berobat disini...."
Gorae menghentikan perkataannya, karena dia merasa Choi Parang sedikit mencurigainya.
"Dokter Kang, mungkin aku bisa membantumu..." Lelaki berwajah keras itu terlihat bersungguh-sungguh.
Gorae terlihat serba salah,
"Benarkah?"
"Ayo ikut aku." Choi Parang mengambil sebuah kartu elektrik kunci menuju ruang filing rekam medis pasien yang sangat besar dan luas.
Setelah menempelkan kartunya pada layar monitor, mereka berdua berjalan menyusuri ruangan yang dipenuhi rak-rak besi yang berjajar rapi.
File-file rekam medis pasien dari berbagai departemen kedokteran tersusun sesuai abjad, angka dan kode tahun.
"Kamu bilang dia pasien dokter Ahn?" Choi Parang memastikan,
"Ya." Jawab Gorae singkat.
Choi Parang mengajak Gorae berbelok di lajur rak bertuliskan Psychiatric Department.
"Aku masih menyimpan beberapa file lama dari departemen ini. Bahkan ada yang sudah sangat lama sebelum aku menjabat kepala disini. Bahkan ada file yang berusia sama dengan umur rumah sakit ini!"
Gorae terperanjat, "Benarkah? Bukankah itu menyalahi peraturan?"
"Tentu tidak jika tidak membuat ruangan ini penuh dan terganggu. Aku mempunyai tempat khusus yang sangat baik. Entahlah, aku selalu tertarik dengan file-file lama...aku senang mempelajari cara para dokter memberi tindakan dan memberikan resep obat. Mereka luar biasa!"
Choi Parang kembali berbelok menuju sebuah pintu dibelakang rak-rak besar. Dia mengeluarkan kunci dari kantong celananya.
Ketika pintu terbuka, tercium aroma pewangi ruangan bercampur bau kertas usang. Ruangan disini jauh lebih kecil dari ruangan arsip yang tadi dilewati Gorae.
Ruangan ini cukup sejuk tapi tidak lembab.
Choi Parang menyalakan lampu, sekarang terlihat rak-rak tua berukuran kecil berjejer dengan sangat rapi.
"Sebenarnya ruangan ini dulu tempat menyimpan file-file yang akan dimusnahkan. Aku yang akan menilai setiap rekam medis yang patut dimusnahkan dan yang masih tersimpan di ruang filing inaktif. Tapi setelah aku menilai, banyak file lama yang mungkin masih berguna untuk kemajuan kedokteran korea!"
Gorae menahan senyumnya, sekarang suara Choi Parang seperti seorang patriot sejati.
"Wah anda tentu bekerja keras membaca setiap rekam medis yang berjumlah ribuan ini." Gorae terkagum-kagum.
"Itulah pekerjaanku, dan aku mencintai pekerjaanku ini." Untuk pertama kalinya Gorae melihat Choi Parang tersenyum.
Aihh! Gorae menahan senyumnya lagi, ternyata dua gigi depan Choi Parang ompong.
"Ayo sini, semoga saja rekam medis yang anda cari masih tersimpan."
Mereka mulai mencari file rekam medis dari tiga puluh tahun lalu.
"Siapa nama pasiennya?" Tanya Choi Parang.
"Song Myung Ri, jenis kelamin laki-laki...berusia sekitar lima puluh atau enam puluh tahun."
Choi Parang sangat berhati-hati memperlakukan berkas-berkas tua, rahasia penting milik tumah sakit ini.
Sambil mencari dia juga menjelaskan bahwa sistem Rumah Sakit Hansung berganti-ganti setiap beberapa tahun sekali.
Sistem filing dulu masih sangat sederhana, tapi sekarang, lebih canggih dengan kode-kode pencarian yang jelas dan akurat.
Berkali-kali dia memuji dirinya sendiri yang mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi saat ini. Gorae mengakui, Choi Parang sangat memperhatikan setiap detil ditiap berkas rekam medik dan menatanya dengan sangat mengagumkan.
Tidak salah pihak rumah sakit mempercayakan jabatan kepala ruang arsip rekam medis kepadanya.
Setelah hampir dua jam mencari, Gorae merasa sangat lelah. Dia terduduk dilantai.
"Mungkin saja rekam medisnya telah dimusnahkan..."
Choi Parang tidak menjawab, dia tenggelam dengan pencariannya, Gorae memperhatikan dia sangat asyik jika sudah membuka file-file rekam medis.
Gorae mengacak-acak rambutnya, dia berpikir bagaimana dia bisa mencari tahu soal sakit Song Myung Ri? Atau setidaknya mencari petunjuk tentang hilangnya ingatan Song Myung Ri jika berkas rekam medisnya tidak bisa ditemukan.
Gorae merasa lelah sekali.
Setelah mengantar Na Ri dan Jung Bok Sil ke Wanju dan Muju, lalu berkendara nonstop pulang ke Seoul, lalu begadang membuka file rumah sakit, harus terbangun pagi sekali, dan sekarang berkutat dengan berkas-berkas tua diruangan yang sejuk membuat matanya sangat berat.
Suasana sejuk ruangan ini membuatnya sangat mengantuk. Diapun tertidur sambil bersandar pada lemari kayu.
Entah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba ada suara yang memanggil-manggil namanya.
Saat Gorae dengan malas membuka matanya, dia terpekik kaget, sosok ompong didepan wajahnya menyeringai.
"Omo! Apa itu!" Pekik Gorae kaget setengah mati. Nyawanya seperti tercabut paksa dari raganya.
"Dokter Kang! Ini aku!"
Choi Parang mengguncang tubuh Gorae.
Gorae melongo sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Anda tampak sangat kelelahan, anda tidur pulas sekali."Kata Choi Parang sambil tersenyum.
"Aihh maafkan aku, berapa lama aku tertidur?" Gorae merasa sangat malu.
"Mungkin satu jam lebih."
"Dan Pak Choi masih disini? Maafkan aku sudah mengganggu waktu anda."
"Tidak apa-apa dokter Kang, ini adalah pekerjaanku." Jawab lelaki berwajah keras yang baik hati ini.
Gorae bangkit dari duduknya, pantatnya terasa pegal duduk dilantai keras dan dingin selama satu jam lebih.
"Baiklah Pak Choi terimakasih atas semua bantuanmu...maaf aku sudah sangat merepotkanmu." Gorae membungkuk hormat dan beranjak meninggalkan Choi Parang.
"Jadi anda sudah tidak membutuhkan rekam medis ini?" Tanya Choi Parang sambil mengacungkan satu map tebal berisi rekam medis pasien.
"Aku berjam-jam mencarinya dan anda hanya numpang tidur diruangan berharga ini!" Choi Parang bercanda sambil menggerutu.
"Apa? Anda menemukannya Pak Choi?!" Tanya Gorae cepat, dia buru-buru berbalik dan duduk dilantai disebelah Choi Parang.
Choi Parang tersenyum lebar,
"Aku sangat bangga dengan keahlianku!"
Gorae mengambil berkas ditangan Choi Parang, tertulis,
Song Myung Ri, pasien dari dokter Ahn Sohyun.
Terakhir dia berobat tahun 1997!
Diagnosa : Bipolar Disorder - Rapid Cycle.*
"Ah, betul! Ini yang aku cari!" Gorae setengah berteriak, "Anda sangat luar biasa pak Choi!"
Lelaki berwajah keras itu tertawa senang, melihat wajah Choi Parang, mau tidak mau Gorae ikut tertawa, dia tidak kuat menahan tawanya begitu melihat dua gigi depan Choi Parang yang ompong.
"Pak Choi, bolehkan aku meminjamnya?" Tanya Gorae setelah lelah tertawa. Air mata masih tersisa disudut matanya.
Choi Parang mengijinkan Gorae meminjam berkas itu.
"Tapi, anda harus mengembalikannya utuh! Dan jangan terlalu lama, ya?!"
"Baiklah, tapi jika Proffesor Yoo membutuhkannya, mungkin akan lama aku kembalikan." Gorae bangkit dan membantu Choi Parang berdiri.
"Hmm...Aku selalu percaya pada Proffesor Yoo. Mungkin file ini akan membantu sekali - apapun yang sedang anda cari. Baiklah, gunakanlah hati-hati, ya!"
Pesan Choi Parang bersungguh-sungguh.
Gorae menatap Choi Parang dengan sedikit ragu-ragu,
"Berkas ini sangat penting demi reputasi Rumah Sakit kita....aku justru minta tolong pada mu, agar tidak memberitahu siapapun, kecuali Proffesor Yoo, bahwa aku mengambil berkas ini."
Choi Parang mengangguk mengerti, "Bahkan tidak untuk dokter Ahn? Bukan begitu?" Intuisi Choi Parang ternyata sangat tajam.
"Sangat betul! Wahh...daebak! Anda sangat cerdas!" Puji Gorae, membuat wajah keras itu memerah senang karena pujian Gorae.
"Baik dokter Kang, aku ada dipihak mu, aku bisa membantu jika diperlukan kapanpun!" Jawabnya gembira.
"Mungkin..... nanti, kami perlu anda jadi saksi di pengadilan." Gorae berkata pelan.
Wajah Choi Parang terlihat bersemangat, dia merasa dialah penyelamat Rumah Sakit yang dicintainya ini.
"Aku siap!"
Masih dengan gaya patriot sejati, Gorae nyengir, seharusnya dia jafi tentara saja! Pikir Gorae.
"Bukan saja Rumah Sakit ini, seluruh rakyat Korea akan sangat berterimakasih padamu, Pak Choi!"
Gorae mengangguk hormat.
Setelah mengucapkan terima kasih, Gorae setengah berlari menuju kantornya. Dia sangat berharap tidak bertemu siapapun saat ini.
Gorae mengunci pintu kantornya, dia segera membuka rekam medis milik ayah Na Ri dengan hati-hati.
Dia melihat lembar demi lembar rekam medis, tertulis, Song Myung Ri mulai menjalani pengobatan pada tahun 1989.
Saat itu, mungkin dia masih kuliah pikir Gorae.
Obat yang diberikan adalah obat anti depresan dengan dosis sesuai.
Gorae terus mempelajari rekam medis milik Song Myung Ri. Tiba-tiba tatapannya berhenti pada satu halaman. Pengobatan yang dilakukan pada tahun 1995.
Disitu tertulis bahwa Song Myung Ri dinyatakan mengalami Bipolar Disorder jenis Rapid Cycle*
Gorae mengerutkan alisnya, setelah enam tahun menjalani pengobatan dipastikan Song Myung Ri mengalami Bipolar Disorder ...berarti tahun ini adalah tahun Na Ri lahir.
Perlahan Gorae membaca dengan teliti resep yang diberikan pada Song Myung Ri.
Apa ini? Kembali Gorae mengerutkan keningnya saat membaca salinan resep pada bulan Desember 1996.
Tertulis :
- Olanzaphine (Zyprexa)
Gorae tahu ini adalah anti psikotik, lalu,
- Divalproex Sodium (Dipakote)
Ini adalah Anti konvulsan
- SNRI ; desvenlafaxine (Pristiq)
SSRI ; citalopram (Celexa)
Trisiklik ; amytriptyline
Semua adalah anti depresan...
Lalu Mood stabilizer Lithium dengan merk Frimania.
Yang membuat Gorae terkejut, dalam resep ini dokter Ahn Sohyun menambahkan obat dronedarone!
Dronedarone salah satu obat mengatasi ADHD dan narkolepsi*
Obat yang tidak boleh diberikan bersamaan dengan Lithium! Efeknya akan sangat berbahaya bagi pasien.
Pasien akan kehilangan kesadaran dan berhalusinasi yang luar biasa!
Gorae mengambil gambar resep-resep dari dokter Ahn Sohyun dengan handphonenya.
Dia kemudian membuka beberapa lembar terakhir dari rekam medis milik Song Myung Ri.
Gorae makin terbelalak ketika melihat resep beberapa bulan terakhir Song Myung Ri berobat, dokter Ahn Sohyun menambahkan Suplemen Herbal John Wort*.
Gila! Ini tidak masuk diakal! Seorang Proffesor seperti dokter Ahn memberikan suplemen herbal yang tidak boleh diberikan pada pasien Bipolar Disorder!
Setelah mengambil gambar-gambar resep yang dia perlukan, Gorae berpikir keras.
Banyak pertanyaan dalam kepalanya.
Apakah dokter Ahn sengaja membuat Song Myung Ri kehilangan ingatannya? Apakah ada hubungannya dengan ayah dokter Ahn yang mengambil alih secara paksa perusahaan Song Myung Ri?
***
Retensi* : proses retensi adalah tersimpannya berkas rekam medis aktif (di ruang filing aktif) dan berkas rekam medis inaktif (di ruang filing inaktif) sesuai masa simpan yang telah ditentukan.
Bipolar Disorder Rapid Cycle* :
Rapid cycle atau siklus cepat termasuk dalam satu di antara beberapa jenis bipolar disorder, yang tampak ketika pengidapnya mengalami berbagai perubahan mood dalam kurun waktu 12 bulan.
Narkolepsi* : Narkolepsi adalah gangguan sistem saraf yang mempengaruhi kendali terhadap aktivitas tidur. Penderita narkolepsi mengalami rasa kantuk pada siang hari dan bisa tiba-tiba tertidur tanpa mengenal waktu dan tempat.