
Gorae terkejut mendengar keputusan Na Ri bersedia menjadi bintang iklan di anak perusahaan milik Jae Hyun.
Bae Ryung Go yang menyampaikannya.
Dia merasa khawatir Na Ri akan menghadapi lagi hujatan dan kebencian dari hatersnya. Tapi disisi lain, dia bangga dengan keberanian Na Ri. Dia berharap Na Ri siap menghadapi semua tanpa harus membenci dirinya lagi.
"Lusa? Dia akan datang ke Seoul? Aku mungkin hanya bisa menemuinya malam setelah pekerjaanku selesai."
"Baiklah dokter Kang, aku akan menjaga Na Ri selama dia di Seoul."
Janji Bae Ryung Go.
Gorae menutup sambungan telepon dari Bae Ryung Go. Dia akan menemui direktur Yoo Soo Yeon terkait bukti-bukti yang sudah ditemukan Moon Jae Hyun.
Pintu kantornya diketuk, Gorae terperanjat melihat Yunna muncul dari balik pintu.
"Gorae... kamu sibuk?" Tanya Yunna lembut.
Gorae menggeleng, dalam hati dia bertanya-tanya mau apa Yunna datang ke kantornya setelah sekian lama dia meninggalkannya.
"Ada apa Yunna?" Tanya Gorae datar.
Yunna tersenyum manis.
"Aku hanya ingin mampir....sudah lama aku tidak ke kantormu. Kadang....aku sangat merindukan kantormu ini." Yunna berjalan, matanya memandang berkeliling.
"Hmm...kamu belum merubah apapun disini." Kata Yunna sambil masih menyungging senyum manisnya.
Gorae hanya diam memperhatikan Yunna, jika saja dia masih jadi kekasihnya, melihat gadis itu masuk ke kantornya pasti akan sangat menyenangkan rasanya.
Dekorasi kantor Gorae memang Yunna yang mengaturnya dulu. Dan Gorae sangat tidak sempat merubahnya, baginya bukan kenangan seperti ini yang tertinggal dihatinya.
"Ternyata...kamu belum melupakanku, Gorae.." Yunna menyandarkan pantatnya di meja kerja Gorae.
"Katakan apa maksudmu kesini?" Tanya Gorae tidak sabar.
"Mmm....aku bilang aku hanya ingin mampir....aku rindu wangi parfum tubuhmu...aku rindu suasana kantor ini...aku hanya merasa kesepian sekarang." Jawab Yunna lembut.
Gorae menghela nafas, "Kamu kesepian? Bukankah kamu sudah menjadi kekasih Moon Jae Hyun? Kenapa kamu tidak cari dia?"
"Dia ....selalu sibuk....aku merasa dia tidak mencintaiku..." Yunna berkata dengan ekspresi sedih.
Gorae merasa tidak perlu mendengarkan hal remeh temeh seperti ini, dia bangkit dari kursinya.
"Maafkan aku harus pergi Yunna.."
"Kamu tidak rindu padaku, Gorae?"
Gorae menyipitkan matanya, ini tidak seperti Yunna yang dikenalnya! Yunna memang sangat mencintainya dulu, tapi dia tidak akan bertindak murahan seperti ini.
Gorae tersenyum sinis, "Kita sudah selesai Yunna. Tidak seharusnya kamu bertanya seperti itu saat kamu mempunyai kekasih. Hargai perasaan Jae Hyun."
"Tampaknya kamu dan Jae Hyun akrab sekarang...." Yunna memancing Gorae.
"Apa itu jadi masalah untuk mu?"
Balas Gorae.
"Jadi benar....kalian sudah akrab..." Gumam Yunna.
"Jika itu yang ingin kamu tahu dariku, aku rasa kamu sudah punya kesimpulan sendiri. Permisi aku banyak pekerjaan." Gorae berharap Yunna segera pergi.
"Aku.... sunguh-sungguh ketika aku bilang rindu kamu, Gorae." Yunna berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Gorae tidak mencurigainya.
"Kamu menuduhku mengkhianatimu, kamu menuduhku aku punya pacar baru dan segala tuduhan tidak masuk akal darimu. Sekarang, lihat kamu, kamu sendiri yang menjilat ludahmu sendiri! Kamu menggoda lelaki dibelakang kekasihmu. Apa ini juga yang kamu lakukan padaku dulu? Saat aku sibuk, kamu mendekati siapapun untuk memenuhi keinginanmu untuk diperhatikan?!" Kata-kata Gorae sangat tajam menusuk hati Yunna.
Yunna sudah berjanji pada diri sendiri untuk bisa merubah perilakunya...dia mencoba menguasai kemarahannya. Harga dirinya sebenarnya sangat terluka mendapat perlakuan seperti itu dari Gorae.
Gorae sangat mengenal sifatnya, dia dengan mudah membedakan dirinya yang asli atau yang berpura-pura.
"Jangan bodoh Gorae, aku mau menjadi kekasih Jae Hyun karena aku sulit melupakanmu, aku sangat tersiksa karena meninggalkanmu.....kamu terlalu sulit aku raih...aku sangat mencintai mu Gorae....aku sungguh-sungguh!"
Yunna menahan tangisnya. Matanya berkaca-kaca.
Gorae menatap Yunna, benarkah? Hanya untuk melupakannya dia menjadi kekasih Jae Hyun? Dia bahkan tidur dengan lelaki itu!
Sekalipun Gorae tidak pernah berani mencoba untuk menodainya!
"Jae Hyun sangat mencintaimu Yunna. Jangan bermain-main dengan perasaannya!"
Gorae beranjak menuju pintu dan membukanya untuk Yunna.
"Kamu benar-benar tidak punya hati, Gorae.."
"Terserah apapun kata mu, Yunna." Jawab Gorae datar.
Yunna melangkah keluar kantor Gorae, dia mengutuk dirinya sendiri dan merasa bodoh. Gorae benar-benar bergeming seperti batu karang.
Dia lelaki yang sangat kuat dan terhormat.
Gorae mengunci pintu kantornya dan dia segera menuju ruang direktur Yoo.
Yunna menghela nafas, sekarang dia tahu, bahwa Jae Hyun yang disebut Gorae ditelepon beberapa hari lalu adalah Moon Jae Hyun kekasihnya. Dan mereka mungkin saja sedang bekerjasama untuk mengungkapkan kejahatan ibu dan kakeknya!
*
Jung Bok Sil sangat gembira ketika melihat rumah yang dipilihkan Na Ri. Letaknya tidak jauh dari klinik Muju.
Barang-barangnya sudah selesai di pindahkan ke rumah sewaannya dari Seoul.
Ji Soon, Park Hilda dan Sora datang untuk membantu Jung Bok Sil menata ruangannya.
Ji Soon menyenggol Na Ri agar dia menceritakan pada ibunya tentang rencananya menjadi bintang iklan.
"Iya! Iya! Aku akan bilang!" Runtuk Na Ri sambil mendorong Ji Soon.
Sora melihat keakraban Na Ri dan Ji Soon, dia tersenyum,
"Hayoo...kalian pasti merencanakan sesuatu!" Kata Sora mengagetkan mereka berdua.
"Iya, Ji Soon berencana meminta nomor telepon mu! Haiiishh kalian ini, tinggal meminta nomor telepon masing-masing saja kalian harus menunggu berabad-abad!" Goda Na Ri, yang membuat Ji Soon ingin mencekik Na Ri saat itu juga. Dan Sora tersenyum malu-malu.
"Na Ri! Kamu!" Ji Soon melotot pada Na Ri.
"Apa? Anak SMA!" Balas Na Ri sambil berlari ke belakang Sora.
"Kamu harus matiiiiii...!!" Teriak Ji Soon sambil mengejar Na Ri.
"Hey! Hey kalian kenapa! Aduh hentikan." Sora yang menjadi tameng Na Ri kebingungan saat Na Ri berlindung dibalik punggungnya, sementara dengan gemas Ji Soon berusaha menangkap Na Ri.
"Sora dicintai anak SMA! Hahahaha!"
Na Ri semakin menjadi-jadi menggoda Ji Soon.
"Anak ini! Kamu mau mati, hah! Sini kamu!" Ji Soon benar-benar kesal pada Na Ri yang berubah sangat nakal sekarang.
"Apa? Siapa anak SMA?" Tanya Sora badannya terhuyung-huyung oleng ke kiri dan kanan karena Na Ri menarik bajunya dari belakang untuk menghindari Ji Soon.
"Na Ri! Sini kamu!" Ji Soon sangat malu jika sampai Sora mengetahui julukan anak SMA itu berasal dari boss besarnya.
Tangannya berhasil meraih rambut Na Ri yang diikat ekor kuda.
Na Ri menjerit kesakitan.
"Ampun! Oppa! Sakitt!"
Tidak sadar Na Ri menyebut Ji Soon dengan sebutan oppa, membuat Ji Soon melepaskan jambakannya.
Tanpa sengaja sekarang malah Sora yang berdiri sangat dekat dengan Ji Soon. Hidungnya menyentuh dagu Ji Soon.
Sora merasa berada diambang surga yang indah. Ji Soon tersadar, gadis yang sangat disukainya berada dekat sekali. Jantungnya berdegup kencang. Tercium harum rambut Sora. Dia menatap mata Sora yang sedang terpana menatapnya.
"Ma...maafkan aku Sora.." kata Ji Soon kikuk. Dia tidak ingin menjauh dari Sora yang berdiri hanya beberapa inchi didepannya. Pemandangan ini terlalu indah untuk dilepaskan.
Sora hanya bisa tersenyum lemah, dia kembali terpaku seperti batu. Duh! Malaikatku, dicabut nyawa sekarangpun aku rela asal kamu bersamaku!
"Aigoo! Kalian ini berisik sekali!" Park Hilda dan Jung Bok Sil tiba-tiba muncul. Membuat Ji Soon dan Sora tersadar, mereka segera berbalik badan saling menjauh, mereka terlihat sangat canggung.
Sementara Na Ri hanya ketawa cekikikan disudut ruangan.
"Kalian bukan anak-anak lagi! Sora dulu kamu musuh besar pak Kwak, masa sekarang kamu musuhi juga anaknya?!" Tegur Park Hilda kesal.
"Bu Park, mereka tidak bermusuhan! Mereka malah saling menyukai, jadi jangan khawatir!" Goda Na Ri lagi, wajahnya terlihat sangat jahil.
Sora dan Ji Soon spontan mengejar Na Ri yang sudah kabur keluar dengan tertawa terbahak-bahak.
Park Hilda melongo, benarkah?
Dia geleng-geleng kepala melihat Na Ri pontang panting dikejar Ji Soon dan Sora.
Jung Bok Sil tersenyum bahagia,
"Na Ri sangat bahagia berada bersama kalian.....dia tidak pernah sebahagia ini saat berada di Seoul di lingkungan teman-teman artisnya."
Park Hilda ikut tersenyum, "Apakah Na Ri sudah cerita dia akan pergi ke Seoul besok untuk menandatangai kontrak kerjasama sebagai bintang iklan?"
"Apa? Benarkah?" Jung Bok Sil kaget.
"Ayo aku ceritakan semua sambil membereskan kamarmu bu Jung!"
Park Hilda menarik Jung Bok Sil ke kamar.
"Aiihhh... dia lebih percaya pada mu bu Park daripada aku! Tapi aku senang dia mendapat tempat dalam keluarga mu." Jung Bok Sil mengusap lengan Park Hilda setelah mendengarkan keseluruhan cerita dari Park Hilda.
"Semoga kamu menyetujui keputusannya....ini sangat berat untuk Na Ri, tapi dia akan sanggup menjalaninya."
"Oh, tentu aku sangat setuju...aku tidak mau mencampuri atau mengatur kehidupan Na Ri lagi. Dia berhak bahagia dengan segala pilihannya." Jung Bok Sil bersungguh-sungguh, membuat Park Hilda merasa lega.
"Aku hanya berharap Na Ri menemukan lelaki seperti anakmu, dokter Kang adalah lelaki yang sangat sempurna! Sayangnya dia sudah punya pacar." Jung Bok Sil sedikit merengut.
"Hmm.... mereka sudah lama putus...Sora yang menceritakannya padaku." Nada suara Park Hilda tersengar ringan, sejujurnya dia senang Gorae putus dari Yunna, banyak hal yang dia tidak suka dari Yunna.
"Apa katamu? Mereka sudah putus?"
Jung Bok Sil tercenung, berarti saat Yunna meneleponnya beberapa hari lalu, dia berbohong! Apa maksud gadis itu meneleponnya?
Yunna bahkan memutuskan hubungan telepon dengan tiba-tiba.
Jung Bok Sil merasa ada yang salah disini.
*
Akhirnya Na Ri sampai di gedung Sky&Star.co. yang megah. Na Ri disambut oleh Bae Ryung Go dan Bobby.
"Nona Bae? Anda disini?" Na Ri mengenal Ryung Go saat menghadiri persidangan kasus Go Hanna.
"Aku baik nona Song, kamu tampak sehat." Bae Ryung Go terkesan dengan penampilan Na Ri yang jauh lebih sehat dan ceria.
Na Ri tersenyum, ada rasa bangga ketika orang lain memanggil nama keluarga ayahnya.
Hari ini Na Ri mengenakan Blouse bunga-bunga kecil berwarna biru langit, dipadu dengan cardigan rajut dari wol berwarna kuning pucat. Syal warna biru tua melingkar di lehernya.
Na Ri mengenakan sneakers merk Nike warna putih bergaris kuning, dia menggendong ransel kecil dari kulit dipunggungnya.
Penampilan Na Ri sangat cantik dan natural. Kulit wajahnya yang putih mulus sedikit dipoles rouge warna pink cerah. Dan bibirnya hanya dipoles tipis dengan lipstick warna senada.
Sambil berjalan menuju kantor Moon Jae Hyun, Na Ri dikenalkan pada Bobby sebagai orang kepercayaan Jae Hyun.
Sampai dilantai 30, Na Ri langsung diajak menuju kantor Jae Hyun yang besar dan mewah.
Moon Jae Hyun mengangguk hormat pada Na Ri begitu dia melihat Na Ri memasuki kantornya.
"Kita bertemu lagi nona Song."
Na Ri mengangguk sambil tersenyum, aihh! Gadis ini sangat cantik, dia sangat pantas menjadi bintang!
Jae Hyun terpukau dengan kecantikan Na Ri.
"Nona Bae ini yang akan mengerjakan project iklan kita." Jae Hyun membuka percakapan.
"Baik, begini nona Song, jadi iklan ini akan mempromosikan produk pupuk dan bibit tanaman. Juga kamu akan mengkampanyekan penggunaan pupuk yang baik dan sesuai standar."
Bae Ryung Go memberikan lembaran kertas naskah untuk Na Ri,
"Jadi konsep yang aku rancang adalah kita akan melakukan semacam reality show selama satu minggu....eh tidak, kita akan menayangkan dua episode pertama untuk melihat reaksi masyarakat, lalu jika responnya bagus, kita akan menayangkan episode berikutnya. Maksudku, reality show ini akan menceritakan kehidupanmu tinggal di desa."
Na Ri menyimak pembicaraan Bae Ryung Go.
"Apakah aku harus memperlihatkan kehidupanku yang sebenarnya?"
"Jika kamu tidak keberatan, itu akan lebih baik... tentu saja kita tidak akan memperlihatkan semuanya, karena kamu tetap harus menjaga privasi kamu."
Na Ri membaca naskah itu dengan teliti sambil menggigiti bibirnya. Jae Hyun tersenyum melihat ekspresi Na Ri yang sangat imut dan menggemaskan.
"Jadi biar ku jelaskan isi naskah ini,
Iklan ini murni tanpa rekayasa, bahkan kita akan melibatkan masyarakat petani sekitar."
Na Ri mengangguk, dia tidak mengalihkan pandangannya dari kertas naskah digenggamannya.
"Disini kamu bercerita bahwa kamu memutuskan untuk pindah ke desa karena kamu menganggap keputusan itu sebuah kebahagiaan. Tempat yang sangat mampu memulihkan kondisi psikis kamu. Sekaligus aku berharap hal ini mampu menggugah siapapun yang mempunyai suicidal tendency untuk berpikiran seperti kamu."
Bae Ryung Go menjelaskan dengan hati-hati.
"Jadi....nilai positive nya, anda akan menjadi inspirasi buat semua orang untuk mau merubah diri dari rasa terpuruk dan perasaan tidak berguna." Jae Hyun menambahkan, sedangkan matanya tidak lepas dari wajah Na Ri yang tetap menunduk.
"Betul, dan kamu akan menunjukan perubahan itu, dengan 'doing something for yourself and help to encourage others', disana kamu juga akan menunjukan saat bercocok tanam, memanen, dan mempromosikan pupuk dan bibit dengan kampanye yang tidak terang-trlerangan seperti sebuah iklan....semuanya berjalan sangat natural."
Na Ri berpikir sejenak, benar, seperti yang selalu Gorae dan keluarganya ucapkan, hal yang paling nyaman adalah menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya, tanpa berpura-pura menjadi orang lain.
Aku harus berani! Bisiknya dalam hati.
Na Ri mengangkat kepalanya.
"Baiklah, aku setuju. Dengan syarat, tidak terlalu menyorot kehidupan pribadiku di desa."
Semua yang berada di kantor Jae Hyun menarik nafas lega.
"Baiklah, kita mulai menandatangani kontraknya sekarang." Jae Hyun menyodorkan map berisi kontrak kerja dan sistem pembayarannya.
Setelah selesai penanda tanganan, akhirnya Jae Hyun mengajak mereka semua makan siang.
"Sebentar, aku akan telepon Gorae, manusia satu itu selalu sibuk mengobrak-abrik tubuh manusia!"
Ternyata Gorae sedang melakukan operasi siang itu, dia berjanji akan menemui Na Ri nanti malam.
Saat mereka semua berjalan hendak menuju lobby gedung, terdengar suara memanggil Jae Hyun.
"Jae Hyun!"
Jae Hyun menoleh, dia melihat Yunna berdiri di belakangnya. Yunna lebih terkejut melihat Na Ri berdiri disamping Jae Hyun.
Darahnya mendadak mendidih. Jung Na Ri! Ada apa dia disini bersama kekasihku?!
"Yunna?Ada apa kamu kesini?" Jae Hyun terkejut melihat Yunna tiba-tiba muncul.
Yunna menggeretakan gerahamnya, sekuat tenaga dia menahan kecemburuannya. Dia tidak ingin terlihat konyol di depan Jae Hyun dan Na Ri.
Dia memaksakan diri tersenyum,
"Sayang, kamu sedang sibuk rupanya...aku tadinya akan mengajakmu makan siang..."
Yunna langsung menggandeng lengan Jae Hyun dengan manja.
Na Ri terperanjat, bukankah dia Yunna kekasih Gorae? Mengapa dia memanggil Jae Hyun dengan kata sayang?
Jae Hyun terlihat canggung dengan perlakuan Yunna.
"Oh kenalkan ini nona Song Na Ri, dia tamuku hari ini."
"Apa kabar. Lama tidak bertemu." Sapa Na Ri.
Yunna hanya melirik tajam pada Na Ri. "Tentu....kamu disini ada urusan dengan kekasihku, bukan begitu?"
Jawab Yunna dingin.
"Ternyata kalian sudah saling mengenal? Baguslah ayo kita makan siang sama-sama."
Ajak Jae Hyun, dia tahu karena kecemburuan Yunna yang berlebihan pada Na Ri lah yang membuat Yunna meninggalkan Gorae.
"Emm...aku mendadak tidak lapar....Jae Hyun bisa kita bicara sebentar?" Yunna meminta ijin untuk berbicara berdua dengan Jae Hyun.
"Baiklah, nona Bae, aku akan menyusul kalian. Tolong jamu nona Song dengan baik."
Setelah Na Ri, Bae Ryung Go dan Bobby pergi, Yunna menarik Jae Hyun,
"Ayo bicara di kantor mu!"
Ketika mereka sudah sampai dikantor Jae Hyun, Yunna tidak mampu lagi mengontrol kemarahannya.
"Jadi dia yang kamu temui di Muju! Kamu tidak pergi ke Busan, kan?! Kamu menemui ratu drama itu! Kamu sampai tega membohongiku hanya untuk bertemu gadis bodoh seperti dia?!"
Teriak Yunna marah, nafasnya tersengal-sengal menahan emosi yang meledak.
"Aku kebetulan bertemu dengannya Yunna, aku tidak sengaja akan bertemu dengan dia!" Balas Jae Hyun.
"Lalu kenapa kamu katakan kamu sedang pergi ke Busan? Bukan ke Muju?!" Suara Yunna masih tinggi.
"Pelankan suaramu! Kamu sudah hilang akal Yunna! Aku tidak harus melaporkan apapun kegiatan ku padamu!" Jae Hyun heran dari mana Yunna tahu jika dia pergi ke Muju?
"Aku berhak tahu! Aku kekasihmu! Kamu sudah nikmati tubuhku puluhan kali! Lalu aku tidak boleh tahu apa yang kamu lakukan?! Apalagi gadis bodoh itu ada disini! Selama ini kamu berhenti menghubungiku karena kamu mengincar dia, kan?!" Teriak Yunna, air matanya tidak terbendung lagi.
Kebenciannya pada Na Ri semakin menjadi-jadi.
"Tutup mulutmu Yunna, kamu tidak berhak menuduhku seperti itu! Dan betul aku sudah tidur denganmu, tapi kamu juga sangat memintanya, kamu sangat menyukainya juga! Kamu pikir aku serendah itu hanya menginginkan tubuhmu!"
PLAK! Tamparan keras mendarat diwajah Jae Hyun,
"Aku benci kamu! Kamu pembohong!" Yunna menangis sambil memukuli dada Jae Hyun.
"Hentikan Yunna! Hentikan!" Jae Hyun menahan diri untuk tidak membalas pukulan keras Yunna.
"Kamu mengincar Na Ri, hah?! Dialah yang membuatku meninggalkan Gorae! Kenapa?! Kamu penasaran ingin menidurinya juga! Hah!"
Yunna benar-benar kalap.
Jae Hyun menangkap tangan Yunna yang memukulinya, dia peluk gadis itu kuat-kuat.
"Hentikan Yunna!"
Yunna memberontak, "Lepaskan aku! Aku benci kamu!" Yunna menjerit sambil menangis.
Jae Hyun akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir Yunna agar dia berhenti berteriak. Dia cium bibir Yunna dengan kasar.
"Aku ben..mmmm...hh.."
Tangan Jae Hyun menarik paksa kemeja Yunna. Tangannya masuk ke ke balik kemeja Yunna dan meremas payudaranya.
Dia tidak melepaskan bibirnya dari bibir Yunna. Yunna masih berusaha memberontak, tapi pelukan Jae Hyun sangat kuat.
Jemari Jae Hyun bergerilya mempreteli setiap lembar baju yang menempel ditubuh Yunna.
dia remas bokong Yunna dan dia mulai mengisap dua ****** yang menyembul indah.
"Aaahh... Jae Hyunnn...." Yunna menarik ikat pinggang Jae Hyun, membuka resleting celananya, dengan gemas dia meremas senjata kebanggaan Jae Hyun.
Jae Hyun mendudukan Yunna diatas meja kerjanya, barang-barang diatas meja Jae Hyun jatuh berantakan.
Jae Hyun sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Mereka bercinta dengan emosi kemarahan mereka. Sambil terengah Jae Hyun menatap Yunna,
"Aku tidak mengincar ....siapapun! Satu-satunya perempuan yang bercinta denganku hanya kamu!"
Jae Hyun mendorong kuat-kuat, hingga Yunna terpekik, dia tidak kuasa menahan desahannya.
"Berhentilah mencurigaiku! Mengerti! Hmmmh? Kamu mengerti?!" Jae Hyun mengeluarkan emosinya diiringi dengan gerakan cepat Jae Hyun membuat Yunna meledak dan melayang diawan yang biru.
"Jae...Hhyuuun...aaaaahhhhh." Yunna melenguh keras, tubuhnya mengejang.
Jae Hyun semakin mempercepat gerakannya, "Lihat aku Yunna! Lihat Aku!...kamu menikmatinya kan? ..kka ..mu suka kan? ..mmmhh....aaahhh!" Jae Hyun mengerang keras.
Tubuh Jae Hyun mengejang, seluruh urat di tubuhnya terasa kaku beberapa menit. Dunia serasa memutar-mutarkan tubuhnya.
Setelah ledakan dasyat ditubuh Yunna, Jae Hyun memeluk Yunna dengan perasaan campur aduk.
Ah! Jae Hyun! Kamu bodoh! Teriaknya dalam hati. Dia tidak mengingikan hal ini terjadi sebenarnya.
Dia benar-benar tidak sanggup menahan diri dan tidak tahu cara menghentikan kemarahan Yunna.
Yunna menciumi leher Jae Hyun, aku harus hamil! Aku harus menikah dengan Jae Hyun! Tekadnya dalam hati.
Na Ri! Jangan harap kamu bisa membuat Jae Hyun jatuh padamu!
Jae Hyun menelepon Bae Ryung Go, dia meminta maaf karena tidak bisa ikut makan siang.
Dia tidak bisa meninggalkan Yunna dan mencoba untuk menenangkannya. Itu alasan Jae Hyun. Dia berpesan agar Na Ri di tempatkan di Hotel bintang lima yang mewah miliknya.
Jae Hyun mengantar Yunna kembali ke rumah sakit. Hari ini menjadi sangat kacau. Dia membenci dirinya sekarang. Jae Hyun masih bersikap dingin ketika Yunna mengecup pipinya saat dia akan turun.
"Yunna. Jangan kontrol hidupku, dan jangan jadikan tubuhmu sebagai senjata. Aku sanggup bercinta denganmu kapan saja, tapi bukan berarti kamu bisa mengontrol hidupku." Jae Hyun menegaskan kata-katanya.
Yunna terdiam, jadi tadi itu apa? Memang benar, dia sangat menikmati permainan Jae Hyun, dia menyangka Jae Hyun akan tunduk padanya.
Tapi ternyata dia salah. Dia merasa kalah sekarang.
"Kamu anggap apa aku?" Tanya Yunna sakit hati.
"Kamu pikir apa?" Balas Jae Hyun, dia memalingkan wajahnya, memandang keluar jendela.
"Aku hanya pelampiasan mu..."
Jae Hyun tersenyum sinis, "Bagaimana denganku? Aku alat pemuas nafsumu, bukan begitu?"
Yunna menatap Jae Hyun tidak tahu apa yang harus dia katakan,
"Aku sudah memuaskan nafsu mu, aku sudah membatalkan makan siangku, aku sudah mengantarmu kembali. Apalagi?" Tanya Jae Hyun tajam.
"Aku benci kamu Jae Hyun! Kamu jahat! Kamu lelaki ********!" Yunna benar-benar sakit hati.
"Bencilah sesukamu, saat kamu butuh aku, aku siap memuaskan mu!" Jawab Jae Hyun ketus.
Yunna keluar dari mobil Jae Hyun dan membanting pintu dibelakangnya dengan keras.
"Damn!" Jae Hyun merasa tidak sanggup lagi mencintai Yunna, dia akan mengabaikan kenyataan Yunna cucu dari pemilik Seukai Group jika Yunna bisa sedikit saja tidak possesive seperti ini.
Menghadapi Yunna seperti menghadapi singa betina yang siap mengamuk kapan saja, dia merasa tidak nyaman sekarang.
Jae Hyun menancap gas meninggalkan Yunna di halaman rumah sakit. Yunna benar-benar sakit hati.
Baiklah Jae Hyun, buatlah diriku puas dan buatlah aku hamil. Dan jika aku hamil, kamu tidak akan pernah bisa mengingkari anakmu!
*
"Aku akan sampai disana dalam lima menit." Gorae menutup teleponnya.
Bae Ryung Go masih menemani Na Ri. Mereka memilih ngobrol dikamar hotel untuk membicarakan konsep reality show yang akan diperankan Na Ri nanti.
Bel pintu kamar hotel tempat Na Ri menginap berbunyi.
"Ah itu pasti dokter Kang!" Bae Ryung Go berlari menuju pintu.
Gorae tersenyum ramah begitu melihat Bae Ryung Go.
"Kalian sudah makan?" Tanya Gorae sambil mengacungkan kantong berisi sandwich.
"Aihh kami sudah makan tadi. Masuklah."
"Gorae...apa kabar?" Sapa Na Ri kikuk. Gorae terlihat sangat tampan, dia mengenakan kemeja putih dengan lengan baju di gulung sampai ke sikutnya.
"Aku baik, bagaimana hari ini? Apakah kamu menemui kesulitan?"
Jawab Gorae, jantung Gorae berdebar kencang begitu melihat Na Ri yang sudah berganti pakaian dengan sweater dan training.
"Tidak ada. Nona Bae banyak membantuku."
Sambil makan Gorae mendengarkan penuturan Bae Ryung Go dan Na Ri.
Dia hanya mengangguk atau menjawab hm. Dia lahap sekali makan sandwichnya.
Mau tidak mau Bae Ryung Go dan Na Ri saling lirik melihat tingkah Gorae.
"Ya! Berapa hari kamu tidak makan?!" Bae Ryung Go menepuk pundak Gorae.
Na Ri tertawa melihat ekspresi Gorae yang terkejut.
"Percayalah nona Bae, dia akan sanggup menghabiskan tiga sandwich sekaligus!" Na Ri meyakinkan Bae Ryung Go,
"Aiiih pantas tubuh kamu tinggi besar begini!" Bae Ryung Go tertawa melihat Gorae mengangguk setuju.
"Baiklah...karena dokter Kang sudah disini, aku harus pulang sekarang... kasihan Bobby sudah menungguku."
"Apa? Bobby? Kamu akrab dengan Bobby sekarang?" Tanya Gorae setelah meneguk soda yang dibelinya.
"Oh tentu dong, dia pacarku sekarang!" Jawab Bae Ryung Go berseri-seri.
"Wahh daebak! Selamat nona Bae!"
"Terimakasih dokter! Jangan membuat nona Song tidur larut, karena dia besok masih harus melakukan persiapan, ok? ...Oh, berhentilah minum soda! Kamu seorang dokter tapi tidak menjaga kesehatanmu sendiri! Payah!"
Gorae mengacungkan jempolnya, karena mulutnya penuh dengan sandwich yang kedua!
"Aku melihatmu makan, rasanya perutku sudah sangat kenyang." Na Ri tersenyum melihat Gorae begitu tekun menghabiskan sandwichnya.
Gorae hanya meringis sambil menyipitkan matanya.
Selesai dengan dua sandwich, Gorae duduk tenang dengan meluruskan kakinya.
"Hari ini sangat melelahkan." Kata Gorae sambil bersandar di sofa kamar Na Ri.
"Kamu tidak harus menemuiku jika kamu lelah." Na Ri merasa tidak enak.
Bagaimana aku tidak menemuimu? Karena sepanjang hari yang aku pikirkan hanya kamu! Bisik hati Gorae.
"Aku harus menemui petani dari desaku, aku khawatir dia akan tersesat di Seoul." Gorae nyengir menggoda Na Ri.
Na Ri tertawa, dia lempar bantal kursi ke arah Gorae.
"Baiklah...aku petani dari desa yang akan jadi bintang iklan!" Balas Na Ri.
Gorae gemas sekali melihat tingkah Na Ri.
"Gorae......tadi kami bertemu Yunna di kantor tuan Moon." Kata Na Ri kemudian.
"Benarkah?"
Na Ri mengangguk, "Tapi...dia memanggil tuan Moon adalah kekasihnya." Hati-hati Na Ri mengatakan hal ini pada Gorae.
Gorae tidak menyangka Na Ri akan bertemu Yunna. Dia sudah bisa memastikan kebencian Yunna pada Na Ri akan semakin menjadi.
"Benar, Yunna kekasih Jae Hyun sekarang...aku putus darinya sebelum kita menghadapi sidang Go Hanna."
"Oh? Maafkan aku.... " Na Ri bisa membayangkan betapa hari-hari itu mungkin sangat berat bagi Gorae. Dia merasa sangat egois karena Gorae begitu banyak membantunya selama ini.
"Aiih tidak apa-apa Na Ri, dia yang memilih meninggalkanku."
"Pasti sangat berat buatmu...apalagi kamu terbebani oleh masalahku."
"Aku sama sekali tidak merasa terbebani." Gorae tersenyum menatap Na Ri.
Wajah Na Ri merona, dia terlalu baik untuk di sakiti! Bisik hatinya.
"Hotel ini milik Jae Hyun. Anak bodoh itu sangat kaya raya!" Gorae berjalan berkeliling suit room mewah ini.
"Bagaimana kamu bisa akrab dengannya?" Na Ri tidak mengerti bagaimana mungkin seseorang bisa akrab dengan orang yang menjadi kekasih mantan pacarnya.
"Ceritanya panjang, intinya, kami berdua dalam satu misi."
Gorae membuka tirai pintu balkon.
"Wahh daebak, pemandangan kota Seoul sangat bercahaya dan indah dari sini!"
Gorae menggeser pintunya.
Dia melangkah keluar, menikmati pemandang kota Seoul yang mulai terasa hangat karena akan memasuki musim semi.
Na Ri menghampiri Gorae,
"Wahh indahnya.....aku sebenarnya phobia ketinggian. Kaki ku gemetar rasanya."
Gorae mengulurkan tangannya,
"Mari ku pegang tanganmu."
Na Ri menggenggam tangan Gorae. Dia sedikit menggigil karena kuatnya angin yang berhembus.
"Aku dulu tinggal di apartement ...tapi aku tidak mendapat view seindah ini. Atau..mungkin karena aku tidak pernah berani melihat keluar jendela." Mata Na Ri berbinar menyapu keindahan kota Seoul di malam hari.
"Besok persiapan apa yang akan kamu kerjakan?"
"Reading naskah dengan orang-orang yang terlibat. Aku hampir menolak tawaran tuan Moon ini. Aku sangat takut sebenarnya."
"Aku mengerti....tapi kamu sangat berani Na Ri, fighting!"
Gorae memberi semangat. Na Ri tersenyum.
"Aku memikirkan bagaimana jika orang-orang menganggap aku sengaja merubah imej ku untuk mencari simpati...mereka pasti akan menertawakanku. Aku sangat takut jika harus menghadapi kebencian yang besar seperti itu."
"Emm...mulailah dari hal yang paling natural, yang paling kamu bisa. Kamu bisa menceritakan masa lalu kamu dengan ringan. Bagaimana kamu melewati semua dan cara mengendalikan keinginan untuk bunuh diri."
Gorae menatap Na Ri yang terlihat cemas.
"Jika kamu masih peduli apa pendapat orang lain, kamu masih belum berubah. Kamu hanya lari dari ketidak nyamanan. Dan saat kembali, ketidak nyamanan tetap akan ada. Mulai sekarang, cobalah untuk bersikap masa bodoh. Maksudku, biarkan orang lain dengan pendapat mereka. Mereka tidak berhak biar secuilpun mengatur hidup kamu. Mereka hanya bisa menghujat, menilai atau memuja kamu. Dan kamu harus ingat lagi, apa kontribusi terbesar mereka saat kamu jatuh dan berada di titik terendah dalam hidup kamu?....tidak ada."
Na Ri mengangguk, "Aku akan coba yang terbaik.."
"Aku percaya kamu bisa." Gorae tersenyum sambil menepuk punggung tangan Na Ri.
"Kamu dingin? Ayo kita masuk." Ajak Gorae.
Gorae menutup pintu balkon dan membiarkan tirainya terbuka.
"Tidurlah, aku akan menemuimu besok setelah selesai dengan pekerjaanku.
Gorae merasa tidak enak berada berduaan saja dengan Na Ri dalam satu ruangan, walaupun ini suit room, tetap saja, perasaannya berbeda ketika dia dulu berduaan dengan Na Ri saat dia akan melakukan bunuh diri.
Gorae mengenakan mantel long coatnya.
"Baiklah...hati-hati ya.." Na Ri mengantar Gorae sampai ke pintu.
Rasanya berat meninggalkan Na Ri sendirian, tapi Gorae menahan perasaannya.
***