HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 9 -- Minta Duluan



Ricky menjatuhkan tubuhnya di samping Anindita setelah mereka berdua mencapai pelepasan atas percintaan mereka yang berlangsung hampir satu jam malam ini. Dia lalu menoleh ke arah istrinya, dilihatnya Anindita sedang mengatur nafasnya yang tersengal akibat aktivitas penyatuan tubuh yang baru saja mereka lakukan.


Ricky mengusap peluh di kening Anindita lalu membelai wajah cantik istrinya itu kemudian mengecup pipi Anindita penuh kelembutan.


" Sudah cukup, Mas. Aku capek ..." keluh Anindita yang menduga jika suaminya itu akan mengulang aktivitas bercinta kembali.


Ricky menyanggah kepala dengan sikunya dan berbaring menatap Anindita dengan senyuman terkulum.


" Baru satu kali kamu sudah kecapean?" tanya Ricky seolah meledek Anindita karena tidak bisa meladeni dirinya bermain sampai beronde-ronde.


" Aku 'kan capek, Mas. Harus mengurus anak, mengurus suami, mengurus pekerjaan rumah." Anindita tidak bermaksud mengeluhkan aktivitasnya, dia hanya meminta pengertian dari suaminya saja agar tidak mengulang kembali aktivitas bercinta seperti tadi.


" Sebaiknya kita ambil satu atau dua ART lagi biar kamu tidak kelelahan harus mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah, jadi kamu bisa lebih banyak meladeniku, Anin." Ricky mrngusulkan untuk mencari ART tambahan, karena selama ini Anindita hanya dibantu oleh Tita untuk mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah, sementara untuk Mama Arya, Ricky menyewa seorang suster yang bekerja part time untuk mengurus semua kebutuhan Mama Arya.


Anindita menoleh ke arah Ricky dengan mengeryitkan keningnya. " Nggak usah buang-buang uang deh, Mas! Aku masih bisa mengurus pekerjaan rumah dan anak-anak." Anindita tentu tidak setuju dengan rencana Ricky yang ingin menambah orang untuk bekerja di apartemen mereka.


" Tapi kalau pekerjaan rumah kamu handle sendiri, lama-lama kamu pasti akan kelelahan Anin. Aku tidak ingin kamu cepat terlihat tua dan keriput karena terlalu capek dengan pekerjaan rumah tangga." Ricky sengaja meledek Anindita yang pasti akan memprotes ucapannya.


Benar saja dugaan Ricky, karena Anindita sudah mendelik dengan tatapan mata tajam ke arahnya.


" Memangnya kenapa kalau aku sudah tua dan keriput?" Anindita memegang wajahnya mendengar suaminya menyinggung soal keriput. " Mas mau mencari wanita lain yang lebih muda, yang masih kencang kulitnya, begitu?! Silahkan saja kalau memang mau cari yang lain!" ketus Anindita dibarengi hembusan nafas kasar.


" Hati-hati jika bicara, Anin! Memangnya kamu rela kalau aku mencari wanita lain? Bukankah dulu kamu sempat cemburu dengan Rachel?" Ricky mengingatkan bagaimana rasa cemburu yang tidak diakui oleh Anindita saat Rachel berusaha mendekatinya.


" Siapa yang cemburu?" Aku biasa saja, kok!" Anindita kembali mengelak rasa cemburunya kala itu seraya memalingkan wajah dan memiringkan tubuhnya membelakangi Ricky.


Ricky tersenyum mendapati sikap istrinya yang masih terlihat gengsi mengakui perasaannya. " Yakin kamu nggak cemburu?" bisik Ricky seraya memeluk tubuh Anindita.


" Aku nggak mungkin cari wanita lain, Anin. Kalau aku niat mencari wanita yang masih muda, yang lebih kencang kulitnya, mungkin sudah aku lakukan sejak lama, dan mungkin bukan kamu yang aku nikahi. Tapi karena aku nggak bisa berpaling dari kamu, makanya saat ini kamulah yang menjadi istriku ..." Ricky mengakhiri perkataannya dengan memberikan kecupan di pipi Anindita.


Ungkapan yang disampaikan oleh Ricky membuat lengkungan di bibir Anindita membentuk senyuman, walaupun tidak terlihat oleh Ricky. Sejujurnya bisa menikah dengan pria seperti Ricky adalah keberuntungan untuknya. Tidak hanya tampan dan kaya raya, namun juga mempunyai rasa tanggung jawab dan perhatian yang sangat tinggi terhadapnya.


***


Siang hari setelah ikut menjemput Ramadhan, Anindita pergi bertemu dengan Lucy, mantan bosnya dulu saat dia bekerja di Alabama Florist. Saat ini mereka sedang berada di restoran khas masakan Nusantara di salah satu mall di Jakarta. Kepada Lucy, sementara Ramadhan, Arka bersama Tita sudah keluar lebih dahulu untuk bermain di area permainan anak.


Anindita menceritakan pertemuannya dengan Ria dan Lanny saat dia berziarah ke makam mantan suaminya dulu kepada Lucy.


" Jadi kedua adik Pak Arya itu tidak datang memenuhi undangan kamu dan Pak Ricky, Nin?" tanya Lucy setelah mendengarkan cerita dari Anindita.


" Kamu jangan terlalu berharap banyak dengan orang seperti mereka, Nin. Orang-orang seperti mereka itu susah untuk berubah. Dan kalaupun nantinya mereka mau bertemu denganmu dan juga Mama dari Pak Arya, kamu juga harus waspada, jangan terlalu mudah percaya dengan perubahan sikap mereka. Bukannya aku menyuruh kamu berburuk sangka terhadap mereka, tapi ... jangan sampai mereka memanfaatkan kebaikan kamu, apalagi sekarang ini kamu istri dari seorang pria yang kaya raya, kebaikan kamu bisa menjadi kelemahan kamu, Nin." Nasehat yang diberikan oleh Lucy tidak beda jauh dengan nasehat yang diberikan oleh Sandra, tentu saja karena kedua wanita berketurunan Tionghoa itu adalah orang-orang yang menjadi saksi perjalanan hidupnya, dari dirinya yang hanya seorang wanita desa hingga bermetamorfosis menjadi istri dari salah satu eksekutif muda ternama di negara ini. Mereka juga adalah orang-orang yang membantunya saat dirinya dilanda masalah dan kesusahan.


" Kalau Cici berharap, semoga kamu nggak bertemu mereka lagi, Nin. Biarkan kamu menikmati kebahagian kamu bersama suami kamu, anak-anak kamu dan juga Ibu Fatma," lanjut Lucy kemudian.


" Iya, Ci." sahut Anindita


" Kamu beruntung banget mendapatkan suami seperti Pak Ricky itu lho, Nin. Paket lengkap kalau Cici bilang." Lucy terkekeh memuji Ricky.


Anindita menoleh ke arah Lucy saat mantan bosnya itu memuji Ricky. Namun, dia pun mengakui apa yang dikatakan oleh Lucy memang benar.


" Kamu jangan bersikap keras dan galak terus sama Pak Ricky, Nin. Kamu harus hati-hati, banyak wanita yang akan mengincar Pak Ricky kalau kamu masih saja bersikap seperti itu." Bukannya bermaksud menakut-nakuti, Lucy hanya ingin Anindita menjaga rumah tangganya dengan baik, karena sekarang ini, bibit penghancur rumah tangga bertebaran di mana-mana.


" Oh ya, Nin. Selama kamu menikah dengan Pak Ricky, apa kamu pernah minta hubungan in tim duluan ke suami kamu itu?" Lucy sampai tertawa geli mempertanyakan hal tersebut.


Anindita membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Lucy. Tentu saja hal yang ditanyakan Lucy tidak pernah dilakukan olehnya, akan sangat malu rasanya jika dia harus meminta berhubungan lebih dahulu kepada suaminya.


" Nggak, Ci. Aku nggak berani melakukan itu," tepis Anindita jujur.


" Kamu coba dong, Nin. Suami juga kepingin lho, istrinya minta lebih dulu, bahkan lebih bersemangat jika istri yang minta duluan," ucap Lucy memberikan saran kepada Anindita.


" Aku nggak berani, Ci!" Anindita sampai mengedikkan bahunya, membayangkan jika dia yang mulai menggoda Ricky lebih dahulu saja sudah membuatnya merinding.


" Harus berani dong, Nin! Sama suami sendiri ini." Lucy mencoba menyemangati.


" Tapi, gimana caranya, Ci? Aku nggak ahli soal begituan." Bahkan rona merah langsung membias di wajah Anindita saat menyebut kata 'begituan'.


" Misalnya kamu tawarkan memijat suami kamu, lalu peluk, cium atau melakukan gerakan yang menggoda yang bisa menimbulkan naf su bercinta suami. Bisa juga kamu pakai lingerie yang menggoda, Nin. Biasanya suami senang kalau istrinya berani menggoda dengan pakaian seperti itu. Nanti habis dari sini kita beli lingerie, ya?! Nanti Cici bantu mencari lingerie yang bagus yang pantas buat kamu." Lucy sepertinya bersemangat sekali mengajarkan ilmu yang dapat mempererat hubungan suami istri kepada Anindita hingga mau mengantar Anindita membeli pakaian yang paling cocok untuk meningkatkan li bido suami jika melihat sang istri menggunakan pakaian malam tersebut.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️