
Dengan bergegas, Anindita menarik tangan Ricky agar suaminya itu menjauh dari pria yang tadi bersitegang dengan suaminya. Selain Anindita tidak ingin suaminya itu terlibat keributan, dia juga merasa kenal dengan pria yang tadi bersikap tidak sopan terhadapnya.
Walau samar, namun Anindita bisa mengingat jika pria yang mengganggunya tadi sangat mirip dengan Johan, adik sepupu Koh Leo, saat dirinya masih tinggal bersama di rumah Kok Leo dan Sandra di kota Malang.
" Mas, sebaiknya kita pindah dari tempat ini. Kita cari hotel lain saja! Aku nggak mau Mas berurusan dengan pria tadi." Anindita memperlihatkan rasa cemasnya kepada Ricky.
" Kamu tenang saja, Anin. Aku yakin orang tadi nggak akan berani berbuat macam-macam terhadap kita. Kamu nggak usah merasa khawatir seperti ini." Ricky menepuk pundak Anindita mencoba menenangkan istrinya itu agar bersikap tenang.
" Tapi, pria tadi itu bukan pria baik, Mas."
" Pria yang berani bersikap tidak sopan terhadap wanita, tentu saja bukan orang baik." Ricky masih tidak menganggap serius kecemasan Anindita.
" Bukan hanya itu, Mas. Pria tadi itu pria jahat. Pria itu adik sepupu Koh Leo, yang dulu sempat ingin menikahiku. Dia itu orang yang membuat Koh Leo dan Ci Sandra harus kehilangan rumah dan minimarket nya, Mas." Anindita menjelaskan kepada Ricky, siapa pria yang tadi terlibat keributan dengan Ricky.
" Dia adik sepupu Pak Leo?" Ricky terkesiap mendengar penjelasan istrinya tentang pria yang tadi berani mengganggu Anindita. Bahkan kini wajahnya nampak serius dengan rahang mengeras.
" Iya, Mas. Dan sepertinya dia juga tadi hampir mengenaliku. Mas, aku takut kalau dia mengenaliku. Dia itu jagat dan sangat kasar orangnya, Mas." Anindita mencengkram erat lengan Ricky, karena Anindita sendiri merasa trauma atas perlakukan Johan kepadanya dulu.
" Kamu tenanglah, Anin. Selama ada aku, nggak akan aku biarkan dia mendekatimu." Ricky mengusap punggung Anindita. " Sebaiknya kita mandi, baju kamu juga basah begini, nanti kamu sakit," lanjut Ricky kemudian.
Teringat akan pakaiannya yang basah, karena tadi dia terpaksa masuk ke dalam kolam, demi menyingkirkan para wanita pengganggu suaminya, seketika Anindita menjadi kesal. Tentu saja sikap Ricky yang mengajak wanita itu bergabunglah yang membuat hati Anindita meradang.
" Kenapa Mas nggak terus menemani wanita-wanita di kolam?!" Anindita melipat tangan di dadanya. Sepertinya rasa cemburu yang tidak disadari Anindita muncul di hatinya belum juga sirna.
Ricky menarik sudut bibirnya melihat kecemburuan yang sedang ditunjukkan istrinya itu. " Masih belum mengakui jika kamu ini sedang cemburu, Anin?" ledek Ricky menggoda sang istri.
" Siapa yang cemburu? Aku nggak cemburu!" Menyadari jika sikapnya memang memperlihatkan orang yang sedang cemburu, Anindita segera menepis. Dia bahkan melangkah menjauhi suaminya, daripada dia akan terkena sasaran empuk suaminya yang terus saja meledeknya.
Melihat Anindita yang melangkah ke arah kamar mandi, dengan langkah lebar Ricky menyusul sang istri. Bahkan dia langsung berhasil menangkap tubuh Anindita dan membuat tubuh istrinya itu melayang di udara.
" Mas, lepaskan!" Anindita tersentak saat Ricky tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
" Kamu mau mandi, kan? Biar aku temani kamu mandi." Ricky menyeringai tak menghiraukan Anindita yang berontak menolak dia gendong.
" Biar aku mandi sendiri, Mas! Nggak usah Mas temani!" Anindita tahu apa makna menemani mandi yang diucapkan oleh Ricky hingga dia menolak 'tawaran baik' sang suami.
" Kita hidup itu harus saling membantu. Harus gotong royong, agar pekerjaan yang kita lakukan bisa cepat selesai." Ricky berseloroh dengan mengatakan mandi bersama adalah salah satu tindakan gotong royong.
" Mas jangan ngaco, deh! Lepaskan aku, Mas!" Anindita tetap menolak karena dia tahu apa maksud tujuan suaminya mengajaknya masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama. Namun, tentu saja Ricky tidak menggubris penolakan Anindita, sehingga Anindita hanya bisa pasrah mengikuti apa yang dikehendaki oleh sang suami.
***
Sebuah mobil berhenti di depan kantor Angkasa Raya Group. Dua orang wanita di dalamnya memperhatikan perusahaan properti milik keluarga Poetra Laksmana tersebut.
Walau nampak ragu, tak lama kemudian kedua orang wanita itu turun dari mobil tersebut. Tatapan mata mereka terus memperhatikan bangunan perkantoran tinggi pencakar langit di hadapannya itu.
" Benar ini kantornya 'kan, Mbak Ria?" tanya Lanny, adik dari Arya kepada Ria, kakaknya.
" Kalau nggak salah memang ini kantornya. Angkasa Raya Group, perusahaan properti yang terkenal itu," sahut Ria. " Coba kamu tanya sama security nya, Lan." sambung Ria menyuruh adiknya mencari informasi dari security yang berjaga di dekat pintu gerbang.
" Permisi, Pak. Numpang tanya, kalau Pak Ricky nya ada? Saya ingin bertemu dengan Pak Ricky." Sesampainya di hadapan salah satu security yang berjaga, Lanny langsung menyampaikan tujuan mereka datang ke sana.
" Pak Ricky? Di sini karyawannya banyak, Bu. Yang namanya Pak Ricky juga banyak. Ibu mau bertemu Pak Ricky siapa? Bagian apa?" tanya security agar dia lebih mudah menemukan orang yang Lanny cari.
" Pak Ricky ... aduh, saya lupa nama lengkapnya, Pak. Tapi kalau tidak salah, dia salah satu orang penting di perusahaan ini. Orangnya tinggi, tegap. Kulitnya putih, matanya agak sedikit sipit." Lanny menjelaskan ciri-ciri kepada Security.
" Oh, kalau Pak Ricky yang orang penting di sini, mungkin Pak Ricky Pratama, dia executive assistant nya Pak Dirga." Disebutkan ciri-ciri Ricky oleh Lanny, security langsung menebak jika orang yang dicari Lanny adalah Ricky asisten eksekutif bosnya.
" Nah, iya benar itu maksud saya, Pak. Pak Ricky Pratama." Lanny akhirnya mengetahui nama lengkap Ricky.
" Ibu ini ada keperluan dengan Pak Ricky? Apa sudah membuat janji sebelumya dengan Pak Ricky, Bu?" tanya security kemudian.
" Saya memang belum membuat janji dengan Pak Ricky ...."
" Kalau belum membuat janji sebelumnya, agak susah untuk bisa bertemu langsung dengan Pak Ricky ataupun pejabat penting lainnya di sini, Bu." Security menjelaskan jika Lanny harus mengikuti aturan yang berlaku di kantor Dirga itu.
" Tolong katakan saja pada Pak Ricky, jika Tante-tantenya Arka ingin bertemu dengan Arka, Pak. Saya yakin Pak Ricky akan mengenali kami." Lanny sampai menyebut jika dia adalah Tante dari anak sambung Ricky.
" Sebentar, saya sampaikan dulu sama orang kantor ya, Bu. Apa Pak Ricky bisa menerima Ibu untuk bertemu beliau atau nggak." Security menyuruh Lanny menunggu lebih dahulu, sementara dia ingin menghubungi karyawan di dalam, untuk menanyakan apakah Pak Ricky bersedia menemui orang yang mencarinya atau tidak.
" Bagaimana, Lan? Pak Ricky mau menerima kita?" Ria yang berdiri di luar gerbang penasaran, hingga membuatnya bertanya ketika Lanny kembali mendekat kepadanya.
" Sebentar sedang ditanyakan dulu, Mbak." sahut Lanny.
" Anin itu mujur sekali nasibnya. Lepas dari Mas Arya, dapat eksecutif muda," ucap Ria mengomentari kehidupan Anindita yang berubah drastis sekarang ini.
" Benar, Mbak. Kena hoki dia." Lanny menimpali.
" Bu ...!" Security memanggil Lanny agar mendekat setelah dia selesai melakukan percakapan di telepon.
" Ah iya, Pak." Lanny kembali mendekat ke arah security. " Bagaimana, Pak? Apa kami bisa bertemu Pak Ricky Pratama?" tanyanya kemudian.
" Maaf sekali, Bu. Saya dapat dari info dari karyawan di atas, katanya Pak Ricky sedang cuti seminggu ini, Bu." Security menjelaskan kepada Lanny.
" Cuti? Lalu Pak Ricky kapan akan kembali kerja, Pak?"
" Mungkin awal Minggu depan, Bu. Nanti Minggu depan ke sini lagi saja. Kalau bisa buat janji dulu, biar nggak sulit kalau bertemu Pak Ricky." Security itu memberikan saran kepada Lanny jika ingin diterima bertemu salah satu petinggi perusahaan Angkasa Raya tersebut.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️