
Ricky segera mematikan laptopnya dan merapihkan meja kerjanya karena saat ini sudah mendekati setengah lima sore, rasanya dia ingin segera sampai di rumahnya untuk bermain bersama Ramadhan dan juga Arka. Dia lalu berjalan menenteng tas kerjanya keluar dari ruang kerjanya.
" Lisna, apa Pak Dirga sudah pulang?" tanya Ricky pada sekretaris Dirga yang terlihat masih berada di mejanya.
" Pak Dirga masih di ruangannya, Pak." Lisna menjawab pertanyaan Ricky.
Ricky kemudian berjalan ke arah ruang kerja Dirga, karena dia ingin berpamitan pulang kepada bosnya itu. Namun, di saat yang bersamaan, terlihat Dirga dan Kirania keluar dari dalam ruangan bos Angkasa Raya Group tersebut.
" Kau terlihat ingin buru-buru pulang, Rick? Apa kau penasaran dengan kejutan dari Anin?" Dirga memainkan alis matanya turun naik menggoda Ricky seraya menyeringai.
" Jangan iseng, Abang!" Kirania refleks memukul lengan suaminya saat mendengar ucapan suaminya itu kepada Ricky. Kirania menduga jika suaminya sudah menceritakan pertemuan mereka siang tadi dengan Anindita.
" Pak Ricky, jangan dengarkan suamiku, ya!" Kirania meminta Ricky untuk tidak menanggapi serius ucapan Dirga tadi. " Ayo kita pulang, Abang!" Kirania menarik tangan Dirga agar segera meninggalkan Ricky dan tidak mengganggu asistennya itu.
" Sayang, kita sekalian saja turun ke bawah dengan Ricky. Ayo, Rick! Kita mempunyai tujuan yang sama, sekalian saja turunnya, jangan membuat lift nya turun naik ke lantai yang sama dua kali." Tentu saja tujuan Dirga mengajak Ricky menggunakan lift yang sama agar dia bisa terus meledek Ricky.
" Ya Allah, Abang." Kirania hanya mampu menggelengkan kepala menghadapi sikap usil suaminya, yang sejak pertama kali mengenal pria itu ketika masih sama-sama kuliah, hingga kini mereka menikah, tidak pernah berubah.
Sementara Ricky pun tidak bisa menolak apa yang diperintahkan oleh bosnya itu hingga dia mengikuti langkah Dirga menuju lift.
" Sayang, kenapa kamu tidak bisa selangkah lebih maju dari Anin?" Dengan merangkulkan tangan di pundak Kirania, Dirga bertanya dan menganggap istrinya kurang berinisiatif untuk memberikan kejutan kepadanya seperti yang Anindita lakukan terhadap Ricky.
Kirania menoleh dengan memicingkan matanya. " Maksud Abang apa?" tanyanya kemudian.
" Kenapa kamu nggak berani memberi kejutan kepada suamimu ini seperti Anin memberikan kejutan nanti kepada Ricky, Sayang? Apa sebenarnya kamu nggak ingin membuat suamimu ini bahagia?" Dirga berpura-pura memasang wajah sedih.
Jelas saja ucapan Dirga yang dianggapnya terlalu berlebihan membuat Kirania mendengus. Mana mungkin hanya karena dia tidak punya inisiatif membeli lingerie yang menggoda seperti yang dilakukan oleh Anindita, suaminya itu menganggapnya tidak berniat membuat suaminya itu bahagia.
" Memangnya Abang pikir membahagiakan suami itu hanya sebatas membeli lingerie seperti dilakukan Mbak Anin itu?!" Karena kesal suaminya menuduh dirinya tidak berniat membuat Dirga bahagia, Kirania sampai tidak sadar kelepasan mengatakan apa yang dilakukan Anindita saat di mall tadi.
" Sayang, kenapa kamu membuka rahasia kejutan yang disiapkan Anin untuk suaminya ini?" Mendengar istrinya kelepasan bicara, Dirga menyeringai dan melirik Ricky yang terlihat terkejut saat Kirania menyebut Anindita membeli lingerie.
" Astaghfirullahal adzim ...!" Kirania menutup mulut dengan tangannya, karena menyadari kesalahannya telah memberikan informasi yang semestinya menjadi kejutan dari Anindita untuk Ricky.
" Hehe, bilang pada istrimu, Rick! Bukan aku yang membocorkan kejutannya." Dirga mengangkat kedua tangannya sebatas kepala masih dengan senyum nakalnya seakan tak bersalah, membuat Kirania langsung memberengut kesal karena ulah suaminya yang membuatnya tanpa sadar mengatakan kejutan Anindita untuk Ricky. Karena Kirania tahu, maksud membeli gaun tidur bernama lingerie itu mempunyai makna tertentu dalam hubungan suami istri.
Sementara Ricky yang masih tertegun mengetahui Anindita menyiapkan lingerie, hanya membalas dengan tersenyum kikuk. Dia menduga inilah alasannya semenjak pulang dari makan siang tadi, Dirga terus saja menggodanya.
***
" Assalamualaikum ..." Ricky sampai di rumahnya sekitar jam lima sore. Dia mendapati Arka yang sedang disuapi makanan oleh Tita di ruangan tamu.
" Waalaikumsalam, Pak." Tita menjawab salam yang diucapkan oleh Ricky saat melihat pria itu masuk dari arah pintu apartemen.
" Papa ..." Arka yang melihat kedatangan Ricky langsung berlari ke arah Papa sambungnya.
" Hai, anak Papa." Ricky menangkap tubuh Arka yang berlari ke arahnya lalu menaikkan tubuh mungil Arka di lengannya. " Arka sedang makan, ya?" hanya Ricky mencium pipi chubby anak sambungnya itu.
" Iya, Arka harus banyak makan biar cepat besar seperti Mas Rama." Ricky mengusap kepala bocah kecil itu.
" Anin mana, Tita?" Ricky menanyakan keberadaan Anindita kepada Tita.
" Mbak Anin sedang membantu Rama mengerjakan PR di kamar Rama, Pak." sahut Tita.
Ricky berjalan mendekat Tita lalu menurunkan Arka kembali dan menyerahkan Arka kepada Tita.
" Arka makan lagi sama Mbak Tita, ya! Papa mau mandi dulu ..." Setelah menyerahkan Arka kepada Tita, Ricky lalu beranjak ke arah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Ricky membuka pintu kamar, dia lalu memperhatikan setiap sudut ruangan kamarnya. Teringat akan kalimat yang diucapkan Kirania soal Anindita yang membeli lingerie, membuat sudut bibirnya terangkat hingga membentuk seulas senyuman yang semakin membuat wajah tampan pria berprofesi sebagai Executive Assistant semakin menawan. Namun, Ricky tidak ingin berlama-lama terhanyut dengan khayalannya membayangkan Anindita mengenakan pakaian tidur menggoda, dia pun akhirnya melangkah menuju kamar mandi agar tubuhnya kembali terasa segar.
" Mbak Tita, apa Papanya anak-anak sudah datang?" tanya Anindita setelah selesai membantu putranya mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahannya.
" Sudah, Mbak. Pak Ricky ada di kamar sedang mandi," jawab Tita.
" Arka makannya yang benar, Nak. Ayo, dihabiskan dulu makannya." Melihat nasi dan lauk di piring makanan Arka belum habis, Anindita menyuruh Arka segera menghabiskan makanannya.
" Amam, Ma. Abis ..." sahut Arka mengikuti apa yang diucapkan oleh Mamanya.
" Mbak, saya ke kamar dulu, mau menyiapkan pakaian untuk Papanya anak-anak." Anindita menitipkan Arka karena dia ingin menyiapkan pakaian untuk Ricky.
" Iya, Mbak." Tita menyahuti lalu menyuapkan kembali makanan ke mulut Arka.
Sesampainya di kamar, Anindita segera mengambil kaos dan celana selutut untuk suaminya.
Ceklek
Anindita menoleh saat pintu kamar mandi terbuka, dia melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya dan bertelan jang dada, hingga memperlihatkan tubuh berotot liat suaminya yang lembab karena habis mandi Anindita sampai menelan salivanya, dia bahkan tak sempat mengerjapkan matanya karena terpesona melihat keindahan fisik sang suaminya.
" Apa tadi kamu bertemu dengan Pak Dirga dan istrinya, Anin?" Pertanyaan Ricky seketika membuat Anindita yang sedang menikmati pemandangan indah tubuh suaminya terkesiap.
" Hmmm, i-iya, Mas. Tadi aku bertemu Pak Dirga dan Ibu Rania," sahut Anindita menggigit bibirnya, dia menduga jika bos dari suaminya itu sudah menceritakan apa yang dilakukannya tadi di mall.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️