HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 28 -- Bertukar Pikiran



Ricky segera menyudahi pekerjaan kantornya yang sengaja dia bawa ke rumah. Dia ingin segera menemui istrinya karena dia tahu jika istrinya tadi merajuk karena perdebatan kecil soal kedua adik Arya dan tiba-tiba mencari dirinya dan juga Anindita.


Ricky mematikan lampu kamar kerjanya sebelum dia menutup pintu lalu beranjak menuju kamar tidurnya.


Ricky tak mendapati istrinya di ruangan kamar namun dia melihat tirai di pintu balkon terbuka, membuatnya yakin jika istrinya itu sedang berada di teras balkon.


Ricky melangkah menuju balkon. Dan benar saja, dia mendapati istrinya kini sedang berdiri di tepi pagar balkon memandang ke gemerlapnya suasana Jakarta malam ini.


Ricky membuka pintu balkon perlahan, dia sengaja tidak ingin menimbulkan suara gaduh, karena dia ingin mengejutkan Anindita.


Pria itu lalu melangkah mengendap, hingga kini berada di belakang Anindita berdiri lalu dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Anindita dan menopang wajah di pundak sang istri dengan memejamkan matanya karena ia ingin merasakan suasana romantis berpelukan di balkon bersama istrinya.


" Mas Arya?"


Ricky sontak membuka matanya, sekejap kemudian menjauhkan wajah dari pundak Anindita dan merenggangkan pelukan di pinggang istrinya itu.


" Arya?" Ricky mengerutkan keningnya. Dia sungguh tidak percaya jika ternyata saat ini istrinya itu sedang membayangkan mantan suami dari istrinya itu.


" Mas Ricky?" Anindita terbelalak bahkan langsung memutar tubuhnya saat dia menyadari jika saat ini yang berada di dekatnya adalah Ricky, suaminya kini. Seketika itu juga Anidita menjadi salah tingkah karena ketahuan masih membayangkan Arya di pikirannya.


" M-Mas ..." Anindita melihat wajah Ricky yang nampak serius menatapnya.


" Apa kau sedang memikirkan Pak Arya?" selidik Ricky dengan sorot mata tajam.


" Hmmm, aku ..." Anindita menjeda kalimatnya. Dia binggung harus menjelaskan apa kepada suaminya itu. Yang pasti, dia merasa saat ini Ricky terlihat sangat kecewa terhadapnya.


Dengusan nafas kencang terdengar, Ricky bukan saja kecewa tapi dia sangat kaget saat Anindita memanggil nama Arya ketika dia memeluknya. Hingga membuat dia berpikir, mungkin cinta Anindita kepada Arya belum menipis, atau mungkin Anindita memang tidak pernah mencoba mengubur cintanya kepada mantan suami pertamanya itu.


" Apa kau belum ikhlas menerima pernikahan kita, Anin?" Akhirnya Ricky meragukan perasaan Anindita, apalagi terkadang Anindita mudah marah terhadapnya jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Anindita.


" Kenapa Mas Ricky bertanya seperti itu? Mas sendiri tahu bagaimana kita bisa menikah, kan?" Sebenarnya Anindita ingin Ricky mengerti jika tidak akan mudah baginya menerima pria lain setelah kehilangan suami tercintanya dengan begitu mendadak. Mungkin jika Ricky tidak mengajaknya menikah, dia masih memilih sendiri mengenang mantan suaminya itu.


Dan selama ini Anindita terus berusaha menerima pernikahannya dengan Ricky secara perlahan agar dia merasa terbiasa mencintai suami keduanya itu.


" Ya, aku tahu dan aku sangat sadar karena aku yang memaksa untuk menikahimu." Ricky lalu menjauh dari Anindita kemudian duduk di kursi ayunan yang ada di balkon dengan menatap menerobos malam tanpa menoleh ke arah Anindita. Pada kenyataannya memang dia yang mengajak menikah Anindita sebagai rasa tanggung jawabnya atas perbuatannya dulu terhadap Anindita.


" Mas marah sama aku?" Anindita mengikuti langkah Ricky namun tidak duduk di kursi ayunan. Dia hanya berdiri di hadapan Ricky yang tak menoleh ke arahnya.


Ricky kemudian bangkit dan berjalan seraya berkata, " Sudah malam, sebaiknya kita tidur ..." Ricky berlalu meninggalkan Anindita.


Anindita diam terpaku melihat sikap suaminya yang mendadak dingin. Sementara Ricky menghentikan langkahnya karena menyadari istrinya itu tidak mengikuti langkahnya, kemudian menoleh dan berucap, " Masuklah ..." ucapnya seraya melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.


Ricky langsung menuju peraduan, merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai dadanya. Dengan posisi tidur terlentang, dia melipat lengan di atas wajahnya. Tanpa ada ucapan selamat malam atau kecupan yang selalu dia ucapkan kepada istrinya jelang tidur.


Anindita ikut merebahkan tubuhnya di samping Ricky dengan posisi tubuh menghadap suaminya itu yang menutupi mata dengan lengannya.


" Mas, Mas marah sama aku?" Tak mendapat jawaban dari Ricky ketika di balkon tadi, Anindita kembali bertanya karena dia tahu jika suaminya itu belum terlelap.


" Tidurlah ...!" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ricky..


Keesokan harinya, Ricky seolah masih mendiamkan Anindita. Pria yang bekerja sebagai Executive Assistant di PT. Angkasa Raya Group itu hanya mengajak bicara Ibu Fatma saat di meja makan dan bercanda sebentar dengan Ramadhan dan juga Arka.


Anindita ingin sekali bertanya, tapi dia yakin Ricky akan seketus tadi malam saat dia bertanya. Hingga akhirnya Ricky berpamitan hendak berangkat ke kantor.


" Aku berangkat, Assalamualikum ..." Ricky mengambil tas kerjanya dari tangan Anindita.


" Waalaikumsalam ..." Anindita mencium tangan Ricky namun tak dibalas kecupan di kening Anindita yang biasanya menjadi rutinitas sebelum berangkat ke kantor. " Mas nanti pulang jam berapa?" Anindita sengaja mengajak berkomunikasi walaupun suaminya itu sudah berpamitan.


" Mungkin aku akan lembur di kantor ..." jawabnya seraya berlalu meninggalkan Anindita keluar dari apartemennya.


Anindita terduduk lemas di sofa mendapati sikap Ricky kali ini. Dia mengusap wajah dengan telapak tangannya seakan menyesal telah memikirkan Arya semalam.


" Ya Allah, kenapa jadi seperti ini sih?" lirihnya dengan bola mata berkaca-kaca karena sudah dipenuhi cairan bening.


***


Dirga melirik ke arah Ricky yang berada di hadapan meja kerjanya. Sejak melihat asistennya pagi tadi, dia merasakan asistennya itu terlihat sedikit murung.


" Ada apa, Rick?" tanya Bos besar pemilik bisnis keluarga Poetra Laksmana itu kepada Ricky.


" Apanya yang apa, Pak?" Ricky balik bertanya kepada Dirga.


" Kenapa kau terlihat tidak bersemangat hari ini?" selidik Dirga kembali.


" Itu hanya perasaan Anda saja, Pak." Ricky mengambil dokumen yang disodorkan Dirga kepadanya.


" Apa karena pekerjaanmu yang menumpuk itu?" tanya Dirga kembali. " Itu kan karena kau habis cuti pergi bersenang-senang dengan istrimu. Jadi sekarang, nikmati saja kesibukanmu itu." Dirga mengira jika Ricky murung karena pekerjaan yang dilimpahkan olehnya kepada asistennya itu


" Saya sudah terbiasa menyelesaikan banyak pekerjaan, Pak." Seakan menepis anggapan Dirga, Ricky mengatakan jika bukan masalah pekerjaan yang mengganggu pikirannya saat ini.


" Sombong sekali kau, Rick!" Dirga terkekeh mencibir, walaupun memang harus dia akui jika untuk urusan pekerjaan, Ricky memang tidak usah disangsikan kemampuan dan loyalitasnya.


" Lalu apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu? Apa kau tidak ingin curhat denganku? Hei, kau ini manusia biasa, kau juga butuh orang seperti aku untuk bertukar pikiran. Siapa tahu aku bisa memberikan solusi. Anggap saja balas jasa, karena selama ini kau sudah banyak berjasa untuk perusahaan ini." Dirga dapat merasakan jika memang ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh asistennya tersebut.


*


*


*


Bersambung ...


Yang belum mampir di kisah TAWANAN BERUJUNG CINTA, ayo masukin ke fav jangan lupa like dan komennya, makasih🙏🙏



Happy reading ❤️