HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 33 -- Kehidupan Yang Layak Untuk Mama Arya



Ricky mengecup kening Anindita seraya menyeka peluh yang mengembun di kening istrinya setelah mereka selesai melakukan aktivitas percintaan mereka. Percintaan yang mereka lakukan kali ini terasa berbeda bagi Ricky, karena ini pertama kalinya Anindita yang berinisiatif memintanya. Tentu saja hal ini membuat Ricky merasa bahagia karena akhirnya, dia bisa memiliki Anindita seutuhnya. Bukan hanya tubuh wanita itu. Tapi, hatinya pun sudah bisa dia raih.


" Mau nambah?" tanya Ricky mengulum senyumnya.


" Capek, Mas. Tadi 'kan sudah dua kali." Anindita menolak untuk mengulang percintaan mereka yang ketiga kalinya. Karena dia merasa kewalahan meladeni ketangguhan suaminya itu di atas ranjang.


" Bagaimana rasanya?" tanya Ricky menggoda Anindita.


" Apanya?" Anindita mengerutkan keningnya. Bukankah bercinta itu rasanya sama saja? Pikirnya.


" Rasanya bercinta kalau kamu yang menginginkannya." Ricky mengakhiri kalimatnya dengan terkekeh. Sontak hal itu membuat wajah Anindita bersemu.


" Nggak tahu, ah ..." Anindita menyembunyikan wajahnya di ketiak Ricky, tak memperdulikan apapun aroma tubuh sang suami. Merapatkan tubuh dan berada dalam dekapan Ricky adalah tempat ternyaman saat ini


Ricky kembali tertawa kecil melihat tingkah manja Anindita.


" Mau ke mana?" tanya Ricky melihat istrinya itu kemudian bangkit dan menutupi bagian dadanya dengan selimut.


" Ingin ke toilet, Mas." Anindita lalu turun memunguti pakaiannya yang tercecer lalu mengenakannya sebelum akhirnya berlari kecil ke arah kamar mandi, karena ingin membersihkan bekas percintaan di intinya.


Setelah membersihkan intinya dari sisa percintaan mereka, Anindita kembali dan merebahkan tubuhnya di samping sang suami.


Ricky sebenarnya ingin menyampaikan soal kedatangan kedua adik Arya kepada Anindita. Namun, dia tidak ingin merusak suasana romantis mereka saat ini. Hingga membiarkan saja Anindita yang sepertinya sudah terlihat sangat lelah dan mengantuk.


Keesokan harinya, Anindita bangun pagi seperti biasa sebelum adzan Shubuh berkumandang. Sejak gadis, Anindita memang tidak pernah melupakan soal ibadahnya dan selalu bangun pagi. Setelah membersihkan tubuhnya karena semalam dia telah berhubungan in tim dengan sang suami, Anindita segera melaksanakan sholat Shubuh. Setelah itu dia baru membangunkan Ricky baru akan melanjutkan aktivitas di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


" Mas, bangun ... sholat Shubuh dulu. Sudah jam setengah lima." Anindita membangunkan Ricky.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Anindita membangunkan suaminya itu. Hingga kini Ricky bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur sebelum melangkah ke arah kamar mandi.


" Ada yang ingin aku bicarakan, Anin." Ricky menahan langkah Anindita yang hendak berjalan ke luar kamar.


" Ada apa, Mas?" tanya Anindita menatap serius ke suaminya karena dia melihat Ricky berkata cukup serius.


" Nanti saja kita bicarakan ini sebelum sarapan. Aku mau mandi dan sholat dulu," ujar Ricky kemudian beranjak ke kamar mandi.


" Ya sudah, aku mau siapkan sarapan dulu, Mas." mendengar suaminya berkata ingin bicara dengannya. Anindita memutuskan hanya akan membuat sarapan yang praktis untuk keluarganya itu.


***


Anindita kembali ke kamar setelah dia membantu pekerjaan Tita di dapur. Dia merasa pernasaran apa yang ingin dibicarakan oleh suaminya itu.


" Ada apa, Mas? Apa yang ingin Mas bicarakan?" tanya Anindita pada Ricky yang sedang menemani Arka menonton acara kartun di televisi.


" Duduklah di sini, Anin." Ricky menyuruh Anindita duduk di sebelahnya. Dan Anindita pun tentu menuruti apa yang diminta oleh suaminya.


" Ada apa sih, Mas? Sepertinya serius sekali." Anindita dibuat semakin. penasaran.


" Tadi siang Tantenya Arka datang ke kantor Angkasa Raya."


" Mbak Ria sama Mbak Lanny, Mas?" tanyanya kemudian. Anidita justru menanggapi dengan raut wajah bahagia karena kembali dapat mendengar kabar kedua adik mantan suaminya itu.


" Aku tidak terlalu hapal suara Ria dan Lanny, karena tadi kami bicara di telepon," sahut Ricky.


" Lalu, mereka bicara apa, Mas?" tanya Anidita kembali.


" Mereka ingin membawa Ibu Fatma dan mengurusnya sendiri."


Senyum yang mengembang di bibir Anindita seketika menyurut saat Ricky mengatakan tujuan kedatangan Ria dan Lanny selama ini ingin menemuinya.


" Mereka mau membawa Mama dari sini, Mas?" Anindita masih trauma dengan perilaku Ria dan Lanny, yang menitipkan mantan Mama mertuanya itu di panti jompo. Anindita takut hal itu akan terulang kembali. Seketika itu juga dia dilanda rasa kecemasan. Karena dia merasa, dia tidak terlalu berhak atas Mama Arya.


" Itu juga yang aku khawatirkan, Anin. Aku masih tidak yakin mereka akan mengurus Ibu Fatma dengan baik seperti kita mengurus beliau." Ricky juga sependapat dengan Anindita. Dia tidak mempercayai kedua adik Arya yang terkenal licik itu.


" Lalu bagaimana ini, Mas?" Anindita dilanda kecemasan. Dia sendiri merasa tidak rela jika sampai mantan Mama mertuanya itu pergi dari tempat tinggal mereka.


" Aku harus memastikan apa mereka bisa menjamin kebutuhan Ibu dengan baik termasuk pengobatannya. Setelah itu aku akan menghubungi pengacara. Jika mereka ingin membawa Ibu dari sini. Mereka harus mau membuat perjanjian, tidak akan menitipkan Ibu ke panti jompo seperti kemarin lagi. Jika mereka lalai dalam merawat Ibu, kita akan mengambil hak untuk merawat Ibu kembali." Ricky sudah mempersiapkan segala sesuatunya agar Mama Arya tetap dirawat dengan baik.


" Apa Mas sudah tahu Mbak Ria dan Mbak Lanny itu bekerja apa sekarang ini?" tanya Anindita.


" Aku sedang suruh Deni untuk menyelidikinya. Semoga saja Deni bisa bertindak cepat. Tidak selama seperti saat aku suruh untuk mencari keberadaanmu dulu." Ricky mengulum senyuman, mengingat bagaimana dulu anak buahnya itu sampai salah orang ketika dia tugasi mencari keberadaan Anindita beberapa tahun silam.


Anindia mengerutkan keningnya saat Ricky menyebut nama Deni yang dulu mencari keberadaannya.


" Deni itu siapa, Mas?" tanya Anindita penasaran, karena dia merasa baru mendengar nama Deni.


" Dia itu orang yang selama ini bekerja untukku. Boleh dibilang kaki tanganku. Jika aku butuh informasi tentang suatu hal aku pasti hubungi dia. Termasuk saat aku mencari keberadaanmu setelah malam itu." Ricky memang tidak pernah menceritakan kepada Anindita tentang seseorang yang selama ini menjadi kaki tangannya. Karena dia merasa Anindita tidak perlu tahu soal keberadaan Deni. Namun hari ini dia malah keceplosan mengatakan hal tersebut kepada Anindita.


" Kaki tangan? Tapi, Mas tidak pernah menyuruh dia melakukan kejahatan, kan?" Mendengar kata kaki tangan, Anindita justru merasa khawatir, suaminya itu memanfaatkan orang lain untuk melakukan tindak kriminal.


" Suamimu ini bukan orang jahat, Anin. Dan aku tidak pernah menyuruh Deni untuk berbuat jahat. Paling aku hanya meminta dia untuk menyelidiki siapa Pak Arya saat kau ingin menikahi dia dulu. Dari Deni aku tahu di mana tempat tinggal Pak Arya dan di mana Pak Arya bekerja." Ricky menyeringai seraya melakukan pengakuan jika dia pernah menyuruh Deni menyelidiki Arya.


Bola mata Anindita seketika membuat mendengar ucapan Ricky.


" Mas memata-matai Mas Arya?" tanya Anindita tak percaya.


*


*


*


Bersambung ...


Yuk mampir juga di novel TAWANAN BERUJUNG CINTA dan SKANDAL VIDEO MASA LALU, ya. Dukung karya REZ Zha selalu biar semakin semangat dan tetap bertahan di pf ini. Makasih 🙏


Happy Reading ❤️