HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 13 -- Ingin Melihat Aksimu



Ricky terbangun tengah malam karena dia merasa ingin buang air kecil. Setelah selesai dengan urusannya di kamar kecil, Ricky pun hendak kembali ke tempat tidur. Namun, dia teringat akan sesuatu yang tadi Anindita simpan dan sembuyikan di dalam lemari pakaian, sehingga Ricky akhirnya memutar arah langkahnya menuju lemari itu.


Setelah sampai di depan lemari, Ricky lalu menoleh ke arah istrinya yang terlelap dengan memeluk tubuh Arka. Dia memastikan jika istrinya itu sudah dalam keadaan tertidur pulas, agar Anindita tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya.


Ricky membuka pintu lemari saat dia yakin Anindita tidak akan terbangun jika dia membuka pintu lemari pakaian. Dia pun mencari keberadaan barang yang tadi dimasukan Anindita ke lemari, hingga dia menemukan paper bag berwarna coklat.


Ricky mengintip isi di dalam paper bag itu membuatnya tak sabar untuk segera mengetahui, apakah isi di dalam paper bag tersebut adalah pakaian tidur yang disebut oleh Kirania atau bukan.


Senyum langsung mengembang di sudut bibir pria tampan itu, saat mengetahui isi paper bag tersebut adalah barang yang dia duga sebelumnya. Sebuah lingerie berwarna mint panjang setengah paha dengan kimono tidur terpisah sebatas lutut


" Ternyata kamu masih malu mengakuinya, Anin." Tak dipungkiri, hati Ricky merasa bahagia membayangkan jika istrinya itu benar mau memakai pakaian tersebut untuk membakar ga irah bercinta mereka.


Ricky kemudian masukan kembali lingerie itu ke dalam paper bag, lalu menyimpan kembali di tempatnya semula, di dalam lemari. Ricky lalu berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Arka dan Anindita.


Ricky membelai kepala sang istri lalu memberikan kecupan di kening wanita yang tak pernah dia duga akhirnya bisa dia nikahi. Ricky pun lalu memberikan kecupan di kening Arka, bocah yang merupakan anak sambungnya itu.


" Aku berjanji, Anin. Aku akan membahagiakan kamu dan anak-anak," gumam Ricky sebelum akhirnya dia menarik selimut untuk kembali mengistirahatkan tubuhnya.


***


Setelah melakukan sarapan bersama di apartemen atas, Ramadhan bersiap untuk berangkat ke sekolah diantar oleh Tita dan Pak Saeful. Ricky sengaja melakukan aktivitas makan bersama keluarga di apartemen atas, agar Mama Arya bisa ikut bergabung bersama saat mereka makan bersama keluarga.


" Pa, Ma, Rama berangkat dulu, ya!?" Ramadhan berlari kecil menghampiri Papa dan Mamanya lalu menyalami kedua orang tuanya setelah mereka kembali ke bangunan apartemen bawah.


" Iya, hati-hatinya, Nak! Jangan nakal di sekolah!" Ricky lebih dulu menyahuti ucapan anaknya.


" Jangan jajan sembarangan di sekolah, Rama!" Kini Anindita yang memberi pesan kepada putranya.


" Iya, Pa, Ma." sahut Ramadhan menganggukkan kepalanya.


" Mamas Aka itut ..." Melihat kakaknya ingin berangkat ke sekolah, Arka yang sedang duduk di lengan kiri Ricky mengulurkan tangannya meminta ikut digendong Tita yang sudah menyampirkan ransel milik Ramadhan.


" Mas Rama mau sekolah, Arka." Anindita melarang Arka ikut mengantar Ramadhan.


" Ituuutt, Mamas ...!" Kini Arka malah merengek memaksa ingin ikut dengan kakaknya.


" Jangan, Adik! Mas Rama mau sekolah bukan mau main, Adik main mainannya Mas Rama dulu saja, ya!? Nanti kalau Mam Rama sudah pulang, kita main lagi." Ramadhan seolah mengerti akan keadaan, hingga menasehati adiknya itu.


" Nda auuu, Aka ituuutt ... hiks ..." Arka kini justru menangis karena dilarang.


" Tapi nanti Mas Rama lama sekolahnya, Adik. Nanti Adik capek tunggu Mas Rama sekolah." Ramadhan kembali memberi penjelasan agar adiknya mengerti, Ramadhan belum memahami jika seumurnya, Arka masih belum mengerti dengan penjelasnya tadi.


" Ya sudah, Adik Arka ikut sama Mas Rama, nanti kalau Papa berangkat, Mama ikut Papa untuk jemput Adik," Melihat Arka terus merengek memaksa ikut, akhirnya Ricky mengabulkan permintaan Arka.


" Arka ikut sama Mbak Tita." Ricky menyerahkan Arka kepada Tita. " Nanti Pak Saiful jangan disuruh pulang dulu, tunggu saja di sana sampai Anin datang." Ricky memberi pesan kepada Tita agar memberitahu Pak Saeful untuk menunggu di sekolah Ramadhan.


" Baik, Pa." sahut Tita sambil menerima Arka dari Ricky.


" Iya, Pa. Assalamualaikum ..." Ramadhan memberi salam sebelum meninggalkan apartemen orang tuanya itu.


" Waalaikumsalam ..." sahut Ricky dan Anindita bersamaan.


Satu jam kemudian, Ricky pun sudah mengganti pakaiannya, karena dia harus mengantar Anindita ke sekolah Ramadhan untuk menjemput Arka pulang.


Seperti biasanya, Anindita mulai menikmati rutinitas setiap paginya, termasuk memasangkan dasi di kerah baju yang dipakai oleh Ricky.


Ricky menatap lekat wajah cantik Anindita yang sedang serius memasangkan dasi untuknya. Ingatan akan lingerie semalam, yang dia lihat di dalam lemari, membuatnya tidak tahan untuk menahan senyuman.


" Kenapa melihatnya seperti itu sih, Mas?" Melihat Ricky memandangnya begitu dalam, Anindita merasa jengah karena dia tidak percaya diri jika dipandang dengan lekat walaupun oleh suaminya sendiri.


" Aku memandang kamu seperti ini karena kamu cantik." Tak segan Ricky memuji istrinya, membuat wajah Anindita merona merah.


" Jangan meledek, Mas!" Anindita memutar bola matanya karena suaminya itu sudah melancarkan rayuan pagi-pagi.


" Apa orang memuji itu sama saja dengan meledek? Aku rasa itu hal yang berbeda, Anin." punggung tangan Ricky justru kini membelai perlahan wajah Anindita.


" Istriku ini memang cantik, sangat cantik. Bagaimana aku tidak jatuh cinta pada wanita secantik bidadari ini?" kini jemari Ricky sudah sampai di bibir ranum Anindia, mengusapnya dengan perlahan. Sesaat kemudian tangannya beralih menangkup pipi Anindita, dengan gerakan perlahan pula dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Anindita, hingga akhirnya kedua bibir pun bertemu.


Ricky mencium bibir Anindita dengan penuh kelembutan dengan durasi hampir satu menit sebelum akhirnya mereka menjeda pagutan mereka.


" Mas, Mas mau berangkat ke kantor." Anindita tidak berani menatap wajah suaminya karena saat ini wajahnya sudah merona.


" Hanya sebentar dan hanya berciuman saja, kok." sanggah Ricky, mengatakan tidak masalah mereka berciuman sebelum berangkat beraktivitas. " Atau, kamu mau lebih dari yang tadi? Kita bisa kok, melakukannya sebentar, mumpung nggak ada anak-anak" Ricky sengaja menggoda Anindita. Dia kini kembali mendekatkan bibirnya dengan milik sang istri.


" Mas sudah, jangan sekarang, deh!" Anindita menolak, dia pun takut tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, karena harus dia akui, sentuhan yang diberikan oleh Ricky memang sangat memabukkan untuknya.


" Jangan sekarang? Lalu kapan? Apa nanti malam? Ah, iya ... apa kamu mau kasih aku kejutan dengan lingerie berwarna mint yang kamu beli kemarin, Anin?" Ricky menyeringai, dia ingin tahu ekspresi dari sang istri saat dia mengatakan soal lingerie.


Benar dugaan Ricky, Anindita tersentak kaget waktu Ricky mengatakan soal lingerie warna mint, karena itu adalah lingerie yang dia beli.


" M-maksud, Mas?" Anindita berpura-pura tidak mengerti apa yang diucapkan oleh suaminya.


" Aku ingin kamu memakai lingerie itu nanti malam, aku ingin melihat aksimu memakai pakaian itu untuk menggoda suamimu ini, Anin." bisikan Ricky di telinga Anindita, seketika membuat darahnya berdesir dan bulu romanya berdiri.


*


*


"


Bersambung ...


Happy reading❤️