HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 12 -- Lingerie



Anindita menahan nafasnya saat Ricky menyinggung soal pertemuan dengan Dirga dan Kirania. Dia sudah menduga jika bos dari suaminya itu akan melaporkan pertemuan mereka kepada Ricky. Sejauh yang dia kenal, sosok Dirgantara adalah pria paling usil sedunia, terutama jika mengerjai dirinya dan juga Ricky, terlebih sebelum dia dan Ricky menikah. Entah sudah berapa kali dirinya dan Ricky dibuat salah tingkah dengan keisengan bos pemilik perusahaan Angkasa Raya Poetra tersebut? Kadang Anindita berharap tidak pernah berjumpa dan bertatap muka dengan Dirga selama hidupnya karena selalu dibuat mati kutu oleh suami Kirania itu.


" Apa yang kamu beli di mall tadi, Anin?" Pertanyaan Ricky kembali membuat Anindita terkesiap.


Anindita menoleh ke arah Ricky yang sedang mengenakan kaos tanpa lengan hingga memperlihatkan otot liat di bagian lengan dan bahunya.


" Hmmm, a-aku tadi membeli kemeja kerja untuk Mas Ricky sama pakaian untuk Rama dan Arka, Mas." Anindita sedikit gugup saat Ricky menanyakan apa yang dibelinya tadi di mall.


" Kamu sendiri nggak beli baju, Anin?" tanya Ricky dengan senyuman terkulum di bibirnya.


Anindita mengerti maksud dari senyuman suaminya. Dia yakin jika saat ini Ricky sedang memancingnya soal lingerie yang dia beli siang tadi atas usul Lucy.


" Hmmm, baju aku yang kemarin beli waktu mau lebaran masih ada yang belum dipakai, Mas. Lagipula aku kebanyakan di rumah saja, tidak ke mana-mana, jadi tidak perlu harus membeli baju setiap bulan," sahut Anindita berlagak tidak tahu maksud tersembunyi dari suaminya mengatakan hal tersebut. " Mas, mau makan sekarang atau nanti?" Anindita sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Ricky tidak terus menerus membahas soal pakaian yang dia beli tadi.


Pertanyaan Anindita dibalas senyuman oleh Ricky, dia tahu jika istrinya itu sedang mengalihkan pembicaraan, dan dia merasakan jika istrinya itu tidak nyaman dengan pembahasan soal pakaian tadi. Ricky pun tidak ingin melanjutkan pembicaraan soal hal tersebut. Dia akan berpura-pura tidak tahu apa yang dibeli Anindita sambil menunggu kejutan Anindita memakai pakaian yang disebut Kirania saat di dalam lift sepulang kantor tadi.


" Nanti saja selepas Maghrib makannya," sahut Ricky kemudian. " Oh ya, kamu sudah selesai membantu Rama mengerjakan PR, Anin?" lanjutnya bertanya soal pekerjaan rumah dari guru yang harus Ramadhan kerjakan.


" Sudah, Mas." jawab Anindita.


" Apa Rama bisa mengikuti pelajaran dengan baik, Anin?" tanya Ricky, karena dia takut Ramadhan tidak dapat menangkap pelajaran yang diajarkan oleh gurunya, walaupun dia yakin jika Ramadhan adalah anak yang cukup pandai.


" Iya, Rama bisa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh gurunya, kok. Bahkan Ibu gurunya bilang jika Rama anak yang sangat pandai dan aktif bertanya jika Ibu gurunya menerangkan." Anindita menceritakan kepada Ricky soal Ramadhan yang cepat tanggap dengan materi perlajaran yang diberikan oleh gurunya.


" Syukurlah kalau begitu, sepertinya Rama itu menuruni Papanya dalam hal kepandaian." Ricky menyeringai memuji anaknya dan juga dirinya sendiri.


Anindita memutar bola matanya mendengar suaminya itu memuji dirinya sendiri.


" Ya sudah, kita ke bawah temui anak-anak." Ricky melingarkan lengannya di pundak Anindita mengajak istrinya itu untuk menemui anak-anak mereka sambil menunggu waktu Maghrib tiba.


***


Ricky sedang menemani kedua anaknya menonton acara film kartun. Seperti biasa, setelah melaksanakan sholat Maghrib, Ricky selalu menyempatkan diri berkomunikasi dan berkumpul dengan kedua anak-anaknya, karena siang hari dia disibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Jadi, waktu jelang tidur seperti sekarang inilah yang biasa dilewatkan oleh Ricky bersama Ramadhan juga Arka.


" Sudah jam setengah sembilan, Mas Rama sama adik, ayo pada tidur! Mas Rama besok harus sekolah, jangan telat tidur biar besok pagi nggak telat bangun dan nggak telat berangkat sekolah." Ricky menyuruh kedua anaknya itu cepat tidur.


" Rama mau bobo di kamar Eyang, boleh 'kan, Pa? Kalau sama Eyang, punggung Rama suka diusap-usap kayak waktu Rama kecil dulu diusap sama Mama kalau mau bobo." Ramadhan minta ijin kepada Ricky untuk tidur di kamar Mama Arya.


" Sekarang Mas Rama 'kan sudah besar, masa tidurnya mau diusap-usap terus?" Ricky meledek putranya seraya mengacak rambut putranya tersebut.


" Ya sudah, sana minta antar Mbak Tita ke atas." Namun, Ricky tetap membolehkan Ramadhan untuk tidur di kamar Eyangnya diantar oleh Tita.


" Bobo cama Papa ..." sahut Arka dengan pintarnya.


" Arka mau bobo sama Papa? Ayo ..." Ricky lalu mematikan televisi dan mengangkat tubuh Arka untuk dia bawa ke kamarnya.


Sementara itu Anindita yang lebih dulu berada di kamar mengambil pakaian tidur yang tadi siang dia beli atas anjuran Lucy. Dia harus menyembunyikan lingerie itu agar suaminya tidak mengetahui pakaian yang dengan terpaksa dia beli.


" Sebaiknya aku kasih lingerie ini ke Ci Lucy. Aku nggak mau memakai inu." Anindita mengedikkan bahunya. Membayangkan dia memakai pakaian itu, lalu menggoda suaminya seperti yang disarankan Lucy, langsung membuat Anindita merinding.


" Iya, aku harus memberikan pakaian ini untuk Ci Lucy supaya aku nggak malu kalau Mas Ricky tahu aku membeli lingerie." Anindita berniat memberikan lingerie itu kepada Lucy.


" Mama, Arka mau bobo sama Mama ..." Suara Ricky yang muncul secara tiba-tiba membuat Anindita tersentak kaget hingga dia menyembunyikan paper bag berisi pakaian tidur itu di belakangnya.


" A-Arka?" Wajah Anindita terlihat terkejut dengan menyebut nama anak bungsunya itu.


" Kenapa, Ma? Kok wajah Mama terkejut begitu lihat Arka?" tanya Ricky menirukan gaya bicara Arka.


" Ah, nggak, Mas. Nggak apa-apa ..." Anindita lalu memutar tubuhnya dengan terus menyembunyikan paper bag tadi. Dia lalu terburu-buru berjalan ke arah lemari lalu menaruh paper bag dari tangannya di tempat tersembunyi.


" Apa yang kamu bawa tadi, Anin?" tanya Ricky melihat gelagat aneh Anindita.


" Bukan apa-apa, Mas. Tadi itu pembalut yang aku beli," sahut Anindita. " Arka mau bobo sama Mama, ya?" Anindita lalu mengambil tubuh Arka dari tangan Ricky.


" Mas, Mas bisa tolong buatkan su su untuk Arka?" Anindita meminta bantuan Ricky untuk membuatkan su su formula untuk Arka, karena Ricky memang sering melakukan hal tersebut untuk Arka, sejak Arka mulai disapih.


Ricky lalu memutar tubuhnya berjalan kembali ke luar kamar untuk membuatkan su su untuk Arka sebelum anak sambungnya itu tidur.


" Makasih Arka sudah menyelamatkan Mama, untung saja Arka minta bobo sama Mama, jadi Papa nggak akan mengungkit-ungkit soal lingerie tadi." Anindita menarik nafas lega, setidaknya kehadiran Arka di kamar menyelamatkan dirinya, karena dia takut Ricky akan membahas soal lingerie nantinya. Setidaknya, sampai besok dia akan aman, setelah Ricky berangkat ke kantor, dia akan 'menyingkirkan' pakaian tidur dari kamar dan apartemen yang dia tempati bersama Ricky.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️