HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 15 -- Kau Akan Memakainya Di Depanku



" Assalamualaikum, Mbak Mita."


" Astaghfirullahal adzim ..." Mita yang sedang merangkai bunga pesanan seketika tersentak saat mendengar suara Anindita yang tiba-tiba saja muncul di dalam toko Alabama Florist.


" Waalaikumsalam ..." Mita lalu membalas salam Anindita.


" Eh, maaf, saya bikin kaget Mbak Mita, ya?" Anindita terkekeh seraya meminta maaf karena telah membuat Mita terkejut dengan kedatangannya.


" Iya, nih. Mbak Anin bikin kaget aku saja." Mita memegangi dadanya karena terkejut tadi.


" Sorry, Mbak Mita." Anindita lalu berjalan menghampiri Mita menenteng paper bag berisi lingerie yang dia beli kemarin. " Mbak, ini buat Mbak Mita mau, nggak?" Anindita lalu menyodorkan paper bag itu kepada Mita.


" Apa ini, Mbak?" Mita meraih paper bag yang diserahkan Anindita kepadanya.


" Lihat sendiri saja deh, Mbak." Bahkan untuk mengatakan barang yang dia beri saja, rasanya Anindita merasa geli.


Mita lalu membuka paper bag dari Anindita. Matanya seketika terbelalak melihat barang yang dia keluarkan dari dalam paper bag itu. Dia pun lalu melirik ke arah Anindita yang sedang menahan senyuman seraya melempar pandangan ke arah lain.


" Ini buat saya, Mbak? Tapi saya 'kan belum menikah, Mbak Anin." ucap Mita merasa aneh Anindita memberinya sebuah lingerie sek si seperti itu. " Ini pantasnya buat Mbak Anin yang sudah punya suami." Mita berpendapat.


" Memangnya yang boleh memakai ini hanya orang yang sudah menikah saja?" tanya Anindita dengan polosnya. Maklumlah, dia hanya gadis dari desa yang lurus-lurus saja. Pikirannya tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan dalam benaknya. Termasuk menggoda suami dengan memakai pakaian tidur sek si sebelum tidur seperti yang dibelinya kemarin.


" Ya iyalah, Mbak. Memangnya kalau perawan kayak aku, buat apa memakai pakaian sek si begini? Memangnya saya mau menggoda siapa? Suami saja nggak punya. Apa harus menggoda suami tetangga sebelah?" Mita berkelakar.


" Astaghfirullahal adzim, istighfar, Mbak Mita. Memangnya Mbak Mita mau menjadi pelakor?" Anindita seketika beristighfar dan menegur Mita saat mendengar ucapan Mita tadi.


" Hahaha, makanya, Mbak. Untuk apa Mbak Anin kasih aku baju seperti ini?" Mita pun tertawa.


" Memangnya lingerie ini punya siapa sih, Mbak?" tanya Mita kemudian.


" Punya saya, Mbak. Disuruh Ci Lucy beli ini, katanya biar Papanya anak-anak makin kesemsem sama saya, Mbak." Anindita mengatakan dengan jujur dari mana lingerie itu berasal.


" Nah, betul itu apa yang dikatakan Ci Lucy. Pakai begini itu, biar Pak Ricky tetap lengket sama Mbak Anin, nggak melirik wanita lain, Mbak." Mita sependapat dengan ucapan Lucy. " Lalu, kenapa baju ini Mbak Anin kasih ke aku?" tanyanya kemudian.


" Saya malu, Mbak. Apalagi waktu beli di mall ketemu sama Pak Dirga, Haduh, malu banget saya diledek sama Pak Dirga, Mbak."


" Mbak Anin kasih ini ke aku, karena malu sama Pak Dirga? Kenapa malu sama Pak Dirga? Suami Mbak Anin 'kan Pak Ricky bukan Pak Dirga!?" tanya Mita heran mendengar cerita Anindita.


" Saya malu karena Pak Dirga langsung bilang ke Mas Ricky kalau saya membeli itu."


" Salahnya memang di mana kalau Pak Dirga kasih tahu Pak Ricky soal ini?" Mita tidak menemukan kejanggalan dengan Dirga yang memberitahu Ricky soal lingerie itu.


" Mbak Mita nggak tahu Pak Dirga itu gimana, sih!" Anindita memutar bola matanya mendengarkan ucapan Mita.


" Ya sudah, itu baju tidurnya buat Mbak Mita saja, deh! Terserah mau dipakai Mbak Mita sendiri, atau mau dikasih ke orang lain," ujar Anindita kemudian. " Aku mau balik ke apartemen ya, Mbak. Soalnya Arka aku titip ke Mama. Assalamualaikum ..." Anindita segera berpamitan untuk kembali ke apartemennya.


***


" Ke mana rencana honeymoon mu, Rick?"


Saat sedang memeriksa laporan yang diserahkan oleh Ricky di meja kerjanya, Dirga menanyakan tempat yang akan dijadikan Ricky untuk berbulan madu kedua asistennya tersebut.


" Apa Anda berniat memata-matai kepergian kami, Pak?" Bukannya menjawab tempat tujuan kepergiannya, Ricky justru menyindir Dirga, dengan mengatakan bosnya itu berniat 'mengganggu' perjalanan bulan madu keduanya bersama Anindita.


" Si alan kau, Rick! Kau pikir aku ini pengangguran yang tidak punya pekerjaan, sampai memata-mataimu?!" Dirga menepis tuduhan Ricky yang mengatakan ingin memata-matai Ricky dan Anindita.


" Siapa tahu Anda dan Nyonya ingin menyusul ke sana ingin merasakan bulan madu kembali, Pak." ujar Ricky menyampaikan kemungkinan yang bisa terjadi.


" Kalau kami ingin pergi honeymoon juga, sudah pasti aku nggak akan mencari tempat yang sama denganmu, Rick. Bisa-bisa nanti Rania dan Anin merumpi berdua terus, nggak ada waktu buat kita senang-senang dengan istri kita masing-masing. Tidak akan ada yang namanya honeymoon kedua. Yang ada liburan bersama." Dirga sudah dapat membayangkan apa yang terjadi jika dia dan istrinya pergi ke tempat yang sama dengan Kirania.


Ricky tersenyum mendengar jawaban Dirga. Dia akui jika apa yang dikatakan bosnya itu kemungkinan besar akan terjadi jika mereka pergi bersama. Apalagi dia mengenal bagaimana Anindita, istrinya itu pasti akan mencari cara agar lebih banyak bersama Kirania daripada dirinya.


Ddrrtt ddrrtt


Saat berjalan ke luar ruangan Dirga, tiba-tiba ponsel Ricky terdengar berbunyi, membuat executive assistant perusahaan Angkasa Raya Group itu mengambil ponsel dari saku bagian dalam blazernya.


Ricky mendapati nama Mita yang mengirimkan pesan kepada dirinya. Dia melihat Mita mengirimkan pesan gambar kepadanya, membuat kening Ricky berkerut.


" Siang, Pak Ricky. Maaf mengganggu kesibukan Pak Ricky. Saya hanya ingin memberitahu, Mbak Anin tadi memberikan ini ke saya. Mbak Anin bilang ini dibeli atas usulan Ci Lucy, tapi Mbak Anin malu memakainya, karena itu baju ini diberikan ke saya."


Itulah pesan yang masuk sebelum pesan gambar sebuah lingerie yang dia temukan semalam di lemari kamar rumahnya.


Ricky mendengus kasar, dia tidak menyangka jika istrinya itu benar-benar 'menyingkirkan' baju tidur itu.


" Kamu benar-benar keras kepala, Anin." gumam Ricky seraya menggelengkan kepala, menanggapi sikap gengsi istrinya yang cukup tinggi itu. Ricky memang meminta Mita untuk mengawasi Anindita. Karena dia tahu, Anindita lebih nyaman curhat dengan sahabatnya daripada pada suaminya sendiri. Hal itulah yang membuat Mita sering melaporkan apa yang dilakukan oleh Anindita. Bukan pertama kalinya Mita melakukan hal tersebut, bahkan sebelum Anindita menjadi istrinya pun, Mita banyak membantunya menyampaikan informasi seputar Anindita.


" Oke, Mita. Simpan saja dulu baju itu, nanti saya ambil." Ricky membalas pesan masuk dari Mita. Dia sengaja ingin mengambil baju tidur yang ternyata bukan milik Lucy, tapi memang baju yang dibeli Anindita.


" Baju itu kamu beli untuk kamu pakai, Anin. Aku pastikan kau akan memakainya di depanku." Seringai tipis terlihat di sudut bibir pria tampan itu membayangkan rencana yang akan dia lakukan untuk menaklukkan istri keras kepalanya itu.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️