
Ricky mematikan laptopnya karena dia juga sudah ingin segera pulang ke rumahnya. Dia lalu menoleh ke arah sofa di mana Anindita sudah terlelap di sana.
Ricky memasukkan tas kerjanya ke dalam laci. Dia berniat meninggalkan tas kerjanya itu di kantor, karena dia harus membawa pulang istrinya yang tertidur.
Ricky hanya memasukkan ponsel dan dompetnya di saku celana dan balzernya. Setelah itu dia mendekat ke arah sofa untuk menganggat tubuh Anidita.
" Eemmm, Mas sudah selesai?" Saat tubuh Anindita sudah berada di kedua lengan Rizky, wanita itu terbangun.
" Iya, kita pulang sekarang." Ricky berjalan meninggalkan ruangannya tanpa menurunkan tubuh Anindita ke bawah.
" Mas, turunkan aku! Aku mau jalan saja." Tak enak jika kelihatan security jika harus digendong suaminya, Anindita meminta Ricky menurunkan dirinya.
" Kau sudah mengantuk. Sudah tidur saja, nggak apa-apa." Ricky menolak permintaan Anindita. Dan tetap membawa Anindita menuju basement.
" Tapi aku malu, Mas. Barangkali dilihat orang ..." Anindita beralasan.
" Siapa yang mau lihat? Paling hanya Pak satpam saja." Ricky terkekeh menyahuti.
Anindita pun tak lagi memberikan bantahan apa-apa, karena suaminya itu tetap tidak ingin menurunkannya.
Saat dalam perjalanan menuju apartemen mereka, Anindita terlihat kembali tertidur. Hingga sampai di basement apartemen mereka, Ricky pun tak berniat membangunkan istrinya itu.
" Ibu tertidur ya, Pak?" Tita yang belum tertidur karena menunggu kedatangan Anindita langsung menyambut Ricky saat membukakan pintu apartemen. Sebelumnya Ricky sudah berpesan kepada Tita agar berjaga di depan.
" Iya ..." Ricky langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Ricky meletakkan tubuh Anindita di atas tempat tidur, dia pun lalu berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sore tadi di kantornya dia sempat mandi karena tahu dia akan lembur. Setelah mencuci muka dan berganti pakaian tidur, Ricky pun kemudian bergabung bersama Anindita di atas tempat tidur untuk melepas kepenatan yang dirasakan oleh tubuhnya setelah lembur tadi.
***
Waktu sudah hampir mendekati jam lima pagi. Namun, Ricky masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
Anindita duduk di tepi tempat tidur mencoba membangunkan Ricky karena pria itu harus segera menjalankan kewajiban dua rakaatnya.
" Mas, bangun ... ini sudah mau jam lima." Dengan tepukan lembut Anindita membangunkan sang suami.
" Oouugghh ..." Ricky menggeliat dengan merentangkan tangannya untuk meregangkan otot-ototnya. Tak lama pria itupun bangkit dengan mulut menguap.
" Jam berapa sekarang?" tanya Ricky yang tak mendengar apa yang diucapkan Anindita tadi.
" Jam lima, Mas. Buruan sholat dulu!" Anindita menyibak selimut yang dipakai Ricky agar suaminya itu segera turun dari tempat tidur.
Ricky pun akhirnya bangkit, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, karena akan melaksanakan sholat Shubuh. Sementara Anindita langsung turun ke bawah, karena ingin membantu Tita menyiapkan menu sarapan pagi untuk keluarganya.
Beberapa menit kemudian, Anindita dan Ricky bersama keluarga mereka menikmati sarapan di meja makan.
" Mas, paha atasnya nggak ada, adanya dada. Nggak apa-apa, kan?" Anindita menyodorkan ayam serundeng buatannya ke piring Ricky.
" Nggak apa-apa. Aku minta serundengnya yang banyak," sahut Ricky.
" Tempe bacem mau, Mas?" tanya Anindita menunjukkan menu tempe yang baru pertama kali dia buat sejak menikah dengan Ricky.
" Tempe apa itu?" Ricky mengerutkan keningnya karena tidak pernah makan olahan menu tempe seperti yang ditawarkan oleh Anindita.
" Ini tempe bacem. Cobain, deh. Rasanya asam manis ..." Anindita memotong tempe dengan sendok lalu dia menyuapkan ke mulut Ricky.
" Enak, kan?" tanya Anindita setelah Ricky mengunyah suapan tempe darinya. Yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala suaminya itu.
" Mama nggak menyuapi Papa, Rama. Mama hanya menyuruh Papa cobain makan tempe ini saja," sanggah Anindita menjelaskan. " Rama mau Mama suapi juga tempenya?" tanya Anindita kepada Ramadhan.
" Nggak mau ah, tempenya gosong-gosong, pasti pahit! Mama pasti masaknya sambil ngantuk, ya? Jadi tempenya gosong semua." Ramadhan mengedikkan bahunya melihat penampakkan tempe yang tersaji di meja makan. Penampilannya yang tidak berwarna kuning seperti biasa membuatnya mengira jika tempe itu dimasak kegosongan.
.
Anindita tertawa kecil mendengar ucapan Ramadhan lalu menjawab, " Ini itu bukan gosong, Nak. Ini tuh bumbunya yang menempel dan menyerap ke dalam tempe ini. Cobain dulu, deh. Pasti Rama suka." Kini Anindita memotong tempe sisa Ricky tadi lalu menyuapkan ke mulut Ramadhan. " Enak, kan?" tanyanya kemudian.
" Enak, Ma. Manis ... Rama mau lagi, Ma." ucap Ramadhan yang ternyata menyukai rasa dari tempe itu.
" Suka 'kan sama rasanya?" Anindita tersenyum lalu memberikan tempe ke piring Rama. " Mas mau juga?" tanyanya kini kepada Ricky.
" Boleh ..." sahut Ricky menyodorkan piringnya kepada Anindita untuk diberi tempe bacem.
Interaksi manis antara Anindita dan Ricky kini sedang diperhatikan oleh Mama Arya. Sama sekali tidak terlihat masalah yang dikeluhkan oleh Anindita semalam. Mama Arya menduga jika Ricky dan Anindita sudah bicara baik-baik soal permasalahan yang sedang mereka hadapi. Tanpa Mama Arya ketahui jika semalam Anindita sampai menyusul Ricky ke kantornya.
Mama Arya tersenyum bahagia. Tentu saja keharmonisan hubungan antara Ricky dan Anindita adalah kebahagiaannya juga. Baginya, Ricky adalah pengganti Arya, anaknya yang sudah pergi mendahuluinya. Kebaikan, perhatian dan kasih sayang diberikan kepadanya seolah dapat mengobati luka di hati Ibu Fatma karena kehilangan anak sulungnya dan juga karena diasingkan oleh kedua anak perempuannya, Ria dan Lanny.
***
" Permisi, Pak. Kata karyawan di bawah, ada orang yang mencari Pak Ricky. Mereka itu yang waktu itu mengaku sebagai Tantenya Arka, Pak." Lisna memberitahu Ricky soal kedatangan Ria dan Lanny ke kantor Angkasa Raya Group.
Ricky menautkan kedua alisnya hingga memperlihatkan kerutan di wajah pria tampan yang hampir mendekati usia empat puluh tahun itu, saat mendengar informasi yang disampaikan oleh Lisna.
" Ada di mana mereka sekarang?" tanya Ricky merespon laporan Lisna.
" Mereka masih ada di pos security, Pak." sahut Lisna.
" Tolong sambungkan saya dengan telepon di pos security, Lisna. Saya ingin bicara dengan. mereka." Ricky memutuskan. untuk berbicara dengan kedua adik Arya melalui sambungan telepon.
" Baik, Pak." Lisna lalu menyambungkan telepon dengan pesawat telepon yang ada di pos security.
" Ini sudah tersambung, Pak." Lisna mrnyodorkan gagang telepon yang sudah dia sambungkan dengan security.
" Terima kasih," ujar Ricky seraya mendekatkan gagang telepon itu ke telinga dan mulutnya.
" Halo?"
" Halo, Pak Ricky. Saya Ria adik Mas Arya. Apa saya bisa bertemu langsung dengan Bapak. Ada yang ingin saya bicarakan ada Pak Ricky dan Anin." Suara Ria langsung terdengar menjawab sapaan Ricky tadi.
*
*
*
Bersambung ...
Yuk dukung novelku TAWANAN BERUJUNG CINTA. sedikit curhat author, sekarang ini regulasi di NT agak berbeda. Poin pertumbuhan. author lebih banyak diturunin daripada naik. Reward karya kontrak/pendapatan minimum/karya tamat yang biasanya berpengaruh besar untuk menaikan poin author kini dihilangkan. Biasanya sehari dapat 1 poin sekarang sehari berkurang 1 poin. Dan hampir banyak yang mengalami seperti itu. Karena itu sebagai penulis, aku mengharapkan kesediaan para readers untuk memberikan dukungan pada setiap novelku. Like, komen, gift, vote dan like sepertinya hanya itu yang bisa diandalkan author untuk menambah perolehan poinnya. Makasih yang sudah membaca selama ini, semoga kebaikan kalian dibalas berlipat² oleh SWT. Aamiin YRA 🤲🙏🙏
Happy Reading❤️