
" Halo?" Ricky menyapa lebih dahulu orang di seberang telepon. Dia tidak tahu Ria atau Lanny kah yang hendak berbicara dengannya.
" Halo, dengan Pak Ricky?" Ria lah yang berbicara pada Ricky, meskipun Ricky belum bisa membedakan suara antara Ria dan Lanny.
" Iya ini saya. Ada apa?" tanya Ricky dingin. Entahlah, sepertinya Ricky masih kesal dengan sikap arogan kedua adik Arya itu. Dia masih ingat bagaimana perlakuan Ria dan Lanny terhadap Anindita saat Arya meninggal. Mereka menghina Anindita di hadapan orang banyak. Belum lagi saat mereka mengusir Anindita dalam keadaan hamil. Benar-benar tidak beradab menurutnya.
" Saya Ria, adik Mas Arya. Hmmm, begini, Pak Ricky. Saya ingin berbicara dengan Anin. Apa saya bisa bertemu dengan Anin?" tanya Ria.
" Bicara dengan Anin? Ada apa memangnya?" tanya Ricky mendengar Ria ingin bertemu dengan istrinya.
" Saya ingin membicarakan soal orang tua saya." Ria menyebut alasannya ingin bertemu dengan Anindita.
" Ibu Fatma maksudmu? Ada apa dengan Ibu Fatma?" tanya Ricky masih dengan kalimat yang ketus.
" Saya ingin bertemu dengan Mama saya," Ria menjawab pertanyaan Ricky.
Ricky mendengus kasar mendengar alasan Ria yang mengatakan ingin bertemu dengan Mama Arya.
" Bukankah kemarin kami sudah memberikan kesempatan kepada kalian untuk bertemu dengan Ibu Fatma. Tapi, justru kalian yang tidak hadir, bahkan tidak memberi alasan sama sekali kenapa tidak datang. Padahal saat itu Anindita bermaksud baik ingin mempertemukan kalian dengan orang tua kalian sendiri." Ricky masih menyesalkan ketidakhadiran Ria dan juga Lanny yang dianggapnya tidak menghargai usaha Anindita yang sudah sangat tulus selama ini mengurus mantan Ibu mertuanya.
" Iya, waktu itu kami berhalangan hadir jadi kami tidak bisa bertemu dengan Mama." Ria beralasan membela diri.
" Lalu apa yang kalian inginkan dari Ibu Fatma?" tanya Ricky merasa curiga ada sesuatu di balik keinginan adik Arya menemui Ibu Fatma.
" Kami ingin membawa Mama. Kami rasa, kami lebih berhak untuk mengurus Mama kami." Ria menuturkan tujuannya ingin berbicara pada Anindita karena ingin membawa Mama Arya.
" Berhak mengurus Ibu Fatma? Apa maksud kalian, kalian berhak menitipkan ibu Fatma ke panti jompo? Itu yang kalian maksud dengan 'mengurus' " sindir Ricky, mengingat Ria dan Lanny sebelumnya menitipkan Mama Arya ke panti Wreda.
" Nggak, Pak Ricky! Sekarang ini kami akan mengurus Mama sendiri!" tepis Ria menyanggah ucapan Ricky yang mengatakan jika dia akan menitipkan kembali Mamanya ke panti jompo
" Saya ingin Ibu Fatma dirawat dengan baik. Selama ini Ibu Fatma sudah senang tinggal bersama kami, bersama cucunya dan mantan menantunya yang sangat menyanyanginya." Tentu saja Ricky berusaha menahan Mama Arya agar tidak pergi dari tempatnya. Karena dia juga kurang yakin dengan niat kedua adik Arya.
" Kami bisa mengurus Mama dengan baik. Kalau kemarin kami menitipkan Mama di panti jompo itu karena kami sedang kesulitan ekonomi," jawab Ria menjelaskan kenapa mereka sampai frustasi dan akhirnya menitipkan Mamanya ke panti jompo.
Sudah pasti Ricky tahu apa yang membuat Ria dan Lanny kesulitan ekonomi. Di tengah kehidupan suami-suami Ria dan Lanny pada saat itu Ricky dengan kekuatan financialnya menyuruh orang menghancurkan karir dan usaha suami-suami mereka sebagai balas dendam atas perlakuan mereka kepada Anindita dulu.
" Bagaimana saya bisa yakin kalau kehidupan Ibu Fatma akan lebih sejahtera bersama kalian?" sindir Ricky karena dia yakin, bersamanya dan juga Anindita, kehidupan Mama Arya sudah pasti terjamin termasuk perawatan atas kondisi kelumpuhan yang dialami Mama Arya.
" Kami tahu, keuangan kami nggak seperti Pak Ricky. Tapi, saya dan adik saya ingin menebus kesalahan kami kemarin terhadap Mama. Karena itu kami ingin bertemu Anin untuk membicarakan hal ini." Ria bersikukuh ingin membawa dan mengurus Mamanya sendiri.
" Saya akan bicarakan hal ini pada Anin. Tinggalkan nomer teleponmu di security, saya akan hubungi kamu jika sudah membicarakan hal ini dengan istri saya " Ricky memutuskan untuk mengakhiri percakapannya dengan Ria dan berjanji akan menghubungi Ria setelah dia berdiskusi dengan Anindita.
" Baik, Pak. Saya akan tinggalkan nomer telepon saya pada Pak satpam.Terima jadi atas waktunya. Maaf sudah mengganggu waktu Bapak."
Setelah Ria menjawab, Ricky langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
***
Ricky terkejut ketika ada tangan yang melingkar di pinggangnya dan sebuah pelukan dari belakang dia rasakan.
Ricky tersenyum melihat perlakukan Anindita kali ini. Tidak biasanya istrinya itu bersikap romantis seperti ini. Sudah pasti hal ini membuat hatinya tenang dan bahagia.
Ricky mengurai pelukan Anindita di pinggangnya. Dia lalu memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan sang istri yang selalu terlihat cantik di matanya.
" Sedang melamunkan kamu." Ricky menangkup wajah cantik Anindita.
Jawaban Ricky membuat Anindita terkekeh.
" Orangnya ada di sini kenapa harus dilamunin, Mas?" tanyanya kemudian. " Mas Ricky pasti bohong, kan?" tebaknya kemudian.
Anindita kembali memeluk tubuh Ricky lalu menyandarkan tubuhnya di dada bidang sang suami. Sejak pertengkaran kemarin, Anindita berusaha memperbaiki sikapnya terhadap Ricky. Dia sadar apa yang dia lakukan kemarin sudah membuat Ricky kecewa terhadapnya.
Namun, sikap Anindita yang terkesan agresif ingin bersentuhan dengannya membuat Ricky semakin heran.
" Ada apa ini? Kamu jadi senang memelukku seperti ini, Anin." tanyanya Ricky tak ingin menebak-nebak langsung menanyakan kepada Anindita.
Anindita mendongakkan kepala mendengar ucapannya suaminya. " Mas nggak suka ya aku centil begini?" Wajah Anindita seketika memberengut.
Ricky justru tergelak mendengar ucapan Anindita. " Kamu ini cepat sekali merajuk. Aku bukannya nggak suka. Aku hanya kaget. Tapi, aku justru suka melihat kamu seperti ini. Kamu berinisiatif melakukan sentuhan fisik lebih dulu denganku. Jadi, aku bisa menilai apa kau sudah benar-benar bahagia menikah denganku? Dan apa kau sudah mencintaiku." Ricky menyentuh dagu Anindita dan memberikan sentuhan lembut di bibir Anindita.
" Aku bahagia, Mas. Pernikahan aku dengan Mas ini terlalu sempurna untukku. Bagaimana mungkin aku bilang aku tidak bahagia?" tutur Anindita mengungkapkan apa yang dia rasakan selama pernikahannya dengan Ricky saat pagutan mereka terjeda.
" Aku senang mendengar hal itu, Anin. Cukup melihat kamu bahagia dengan pernikahan kita, itu sudah membuat aku senang," sahut Ricky. Ricky tidak ingin memaksa Anindita menyatakan rasa cinta kepadanya. Dia hanya ingin melihat Anindita bahagia sebagai istrinya.
" Mas ...."
" Hmmm?"
" Apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Anindita ragu.
" Minta apa? Katakan saja, Anin."
" Aku minta itu." Anindita berkata dengan malu dan wajah memerah.
" Itu? Itu apa?" tanya Ricky dengan kening berkerut. Namun, sepertinya dia tahu apa yang dimaksud Anindita dengan kata 'Itu'.
Sudah beberapa hari ini mereka tidak berhubungan in tim. Setelah sempat bersitegang, dan Anindita sempat datang bulan sepulang dari bulan madu kemarin, sepertinya Anindita mulai merindukan sentuhan dari sang suami.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️