
Anindita berbincang dengan Mama Arya selepas makan malam. Karena besok dia dan Ricky akan berangkat untuk pergi berlibur berdua saja dengan suaminya. Anindita lebih senang mengatakan berlibur berdua daripada menyebut kata bulan madu, karena dia merasa mereka bukanlah pengantin baru.
" Ma, apa Mama yakin tidak akan ikut ke rumah Mbak Dessy?" Meskipun kedua cucunya dititipkan ke rumah Dessy. Namun, Ibu Fatma menolak pindah sementara ke rumah adik dari Ricky itu. Mama Arya memilih tetap di apartemen ditemani oleh Amy, suster yang ditugaskan mengurus Mama Arya dan juga Mita.
" Iya, Anin. Mama di sini saja dengan Amy. Lagipula Amy juga tidak keberatan menginap di sini selama kalian pergi. Ada Mita juga yang bersedia menemani Mama di sini. Kamu jangan mengkhawatirkan Mama, Anin. Nikmati saja kebersamaan kamu dengan suami kamu. Siapa tahu, kalian bisa menambah anak dari bulan madu kalian nanti." Mama Arya terkekeh menggoda Anindita.
" Ya ampun, Ma. Arka masih kecil, masa aku mau hamil lagi, sih?" Anindita memang tidak ingin hamil dulu dalam waktu dekat ini. Karena dia menganggap Arka masih terlalu kecil jika harus diberi adik lagi.
" Arka sudah dua tahun, sudah lepas dari ASI kamu, Nin. Nggak masalah jika kamu ingin punya anak lagi. Mama yakin, suamimu juga ingin mempunyai anak dari kamu lagi, Nin." Mama Arya menasehati Anindita agar tidak ragu untuk menjalankan program kehamilan anak ketiganya.
" Nanti saja, Ma. Biarkan Arka besar dulu. Mungkin kalau sudah berumur empat tahun, aku baru memikirkan tentang rencana hamil lagi." Anindita bersikukuh ingin menikmati mengurus Arka sampai Arka mulai bisa mandiri.
" Ibu, ini vitaminnya diminum dulu." Sus Amy membawakan air mineral dan vitamin yang harus diminum oleh Mama Arya.
" Terima kasih, Amy." Mama Arya mengambil vitamin dan air minum yang disodorkan Sus Amy kepadanya.
" Sus, saya titip Mama, ya!? Untuk makan, nanti pesan saja di restoran bawah, atau nanti minta tolong Mbak Mita saja yang pesankan. Saya juga sudah meminta bantuan Mbak Mita. Mbak Mita nanti akan menginap di sini selama saya tidak ada." Mengetahui Anindita dan Ricky akan pergi berbulan madu, Mita memang menawarkan diri menemani Mama Arya jika Mama Arya tidak dititipkan ke rumah Dessy. Karena Mita belum berkeluarga, akhirnya Anindita menerima bantuan dari temannya itu.
" Ya sudah, kalau begitu Anin ke kamar dulu ya, Ma. Anak-anak ingin tidur di kamar bersama kami karena kami besok akan pergi." Anindita berpamitan kepada Mama Arya untuk kembali ke kamarnya.
Selepas berpamitan dengan Nenek dari Arka, Anindita segera turun ke apartemen bawah untuk kembali ke kamarnya.
" Sudah berbincang dengan Ibu?" tanya Ricky saat melihat kemunculan Anindita di pintu kamar.
" Sudah, Mas." Anindita menganggukkan kepalanya seraya memberikan jawaban.
" Mama mau sementara ini tinggal di rumah Dessy?" tanya Ricky kemudian.
" Mama nggak mau, Mas. Mama ingin di sini saja di temani Sus Amy dan Mita," sahut Anindita.
" Ya sudah, aku juga sudah menjanjikan bonus untuk Sus Amy jika mau menginap di apartemen menjaga Ibu Fatma." Ricky memang sudah mengantisipasi jika Mama Arya itu menolak dititipkan ke rumah adik dari Ricky. " Lagipula, ada Mita yang menemani di sini, kan? Aku yakin Mita akan bekerja sebaik mungkin menjaga Ibu," lanjutnya kemudian.
" Ma, nanti kalau pulang menemani Papa kerja, bawa mainan untuk Rama sama adik Arka ya, Ma!?" Ramadhan yang sejak tadi menonton acara kartun di televisi langsung berkomentar.
Ramadhan memang tidak diceritakan jika kedua orang tuanya itu pergi berlibur. Ricky menjelaskan kepada Ramadhan jika dia akan pergi bekerja ke luar pulau yang jauh hingga harus ditemani oleh Anindita. Karena, jika dia mengatakan akan pergi berlibur, sudah pasti Ramadhan minta ikut diajak berlibur juga.
" Mainan lagi mainan lagi ... mainan Rama itu sudah banyak, untuk apa beli mainan lagi? Lagipula, Papa itu mau bekerja, kenapa Rama minta oleh-oleh mainan?" Anindita dengan cepat menegur putranya yang menodong minta dibelikan mainan sepulang liburan nanti.
" Iya, Rama. Papa sama Mama di sana nanti pasti akan sibuk sekali. Papa akan bekerja keras, Mama juga akan membantu Papa bekerja keras, jadi Papa sama Mama pasti tidak sempat pergi berjalan-jalan membeli mainan karena Papa dan Mama akan bekerja keras." Ricky berseloroh menanggapi kata-kata Kayra yang menyebut kalimat Papa mau bekerja. Dia bahkan mengerlingkan matanya menatap ke arah Anindita.
" Mas ...!" Anindita menegur Ricky dengan mata melotot.
" Rama mau punya adik lagi, Pa?" Ramadhan spontan menolehkan pandangan ke arah perut Anindita.
" Adiknya dari perut Mama ini ya, Pa? Kayak dulu adik Arka." Ramadhan kini menunjuk perut Mamanya.
" Iya, Rama. Rama mau punya adik lagi, kan?" Ricky teringat perkataan Ramadhan yang menginginkan adik perempuan.
" Mau, Pa. Adik perempuan ya, Pa?" Ramadhan kini bersorak seraya melompat-lompat di atas tempat tidur kedua orang tuanya.
" Iya, makanya Rama harus rajin berdoa sama Allah kalau habis sholat, agar Papa sama Mama bisa kasih adik perempuan untuk Rama dan Adik Arka." Ricky sudah tidak memperdulikan tatapan tajam Anindita ke arahnya. Dia senang membuat istrinya itu cemberut karena perkataannya tadi soal memberi hadiah adik untuk Ramadhan dan Arka.
" Mas ...!" Anindita menegur suaminya, suaminya itu membahas soal adik bayi
" Yeay, Rama mau dapat adik lagi!" seru Ramadhan terus melompat bahagia. Hal itu tertular kepada Arka yang ikut berteriak dan melompat-lompat walaupun bocah berusia dua tahun itu tidak tahu apa yang membuat kakaknya melompat kegirangan.
" Mas ini apa-apaan, sih? Aku 'kan belum tentu pulang dari sana langsung hamil!" Anindita kesal karena suaminya seolah memancing dan memberikan harapan palsu kepada anak-anaknya. " Lagipula, aku belum ingin hamil dulu, Mas. Arka masih kecil," protes Anindita. Dua tidak mengerti mengapa suaminya masih saja membahas soal anak, padahal sebelumnya mereka sudah sepakat untuk menunda kehamilan Anindita.
" Nggak apa-apa, untung menyenangkan hati anak-anak, Anin." bisik Ricky.
" Tapi kalau mereka menanyakan bagaimana, Mas? Mas tahu sendiri bagaimana Rama, kan?!" Anindita tidak sependapat dengan suaminya, karena dia tahu putra pertamanya itu sangat cerdas dan pasti akan menagih apa yang dijanjikan kepadanya.
" Kalau begitu kita harus buatkan apa yang Rama inginkan. Beres, kan?!" Ricky menyeringai dan ikut bergabung bersama Ramadhan dan Arka yang sedang bergembira di atas tempat tidur.
Anindita hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan tiga orang pria yang saat ini sangat penting dalam hidupnya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy reading ❤️