
Lanny berjalan kembali menemui Ria, ketika mendapat jawaban security yang mengatakan jika Ricky sedang dalam masa cuti selama satu Minggu. Artinya, mereka tidak dapat bertemu dengan Ricky beberapa hari ini.
" Gimana, Lan?" tanya Ria menunggu jawaban dari adiknya.
" Pak Ricky sedang cuti satu Minggu ini, Mbak." jawab Lanny.
" Kapan akan kembali?" tanya Ria lagi.
" Kemungkinan Minggu depan," sahut Lanny.
" Kamu tanya sama satpam itu, minta nomer Pak Ricky atau alamat rumahnya." Ria kembali menyuruh Lanny untuk menemui security.
" Apa dia mau memberi, Mbak?" Lanny ragu dengan permintaan kakaknya. Karena biasanya tidak akan mudah meminta informasi yang bersifat privacy, apalagi Ricky termasuk salah seorang petinggi di perusahaan itu. Pasti tidak akan sembarangan orang yang dapat diberi nomer telepon juga alamat Ricky.
" Coba saja dulu! Bilang saja jika kita ini masih kerabat istrinya Pak Ricky. Masa dia nggak mau memberitahukan?!"
Lanny akhirnya menuruti apa yang diperintah oleh kakaknya dan berjalan menemui security yang berjaga di pos security di dekat gerbang.
" Pak, maaf. Apa saya bisa minta nomer HP Pak Ricky atau alamat Pak Ricky?" tanya Lanny.
" Wah, kalau untuk itu, sebaiknya Ibu telepon saja ke nomer kantor, Bu. Tanya ke operator, siapa tahu bisa membantu." Tepat seperti dugaan Lanny, jika dia tidak akan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya dari security yang berjaga.
" Nomer telepon di sini berapa ya, Pak?" tanya Lanny kemudian.
" 021 2xxxxx atau di 021 2xxxxx, Bu." Security menyebutkan nomer telepon kantor Angkasa Raya Group.
" Sebentar, Pak." Lanny dengan cepat mengambil ponselnya untuk menyimpan nomer kantor Ricky. Dia lalu meminta security untuk mengulang ucapannya dan menyebutkan lagi nomer telepon kantor perusahaan tempat Ricky berkerja.
" Sudah dapat nomernya, Lan?" tanya Ria saat Lanny kembali.
" Kita disuruh menghubungi nomer kantor ini,. Mbak. Seperti yang aku bilang tadi. Nggak mudah meminta nomer telepon seseorang apalagi orang penting," ucap Lanny bernada frustasi.
Ria mendengus mendapat jawaban dari adiknya itu. " Ck, susah sekali urusan sama dia!" gerutunya kemudian.
" Mbak saja yang hubungi nomer kantornya. Aku malas, pasti akan ditolak juga." ujar Lanny pesimis.
" Lan, apa kita ke toko bunga tempat Anin kerja dulu saja, ya? Mereka pasti tahu nomer HP Anin dan di mana tempat tinggal Anin sekarang." Ria terpikirkan untuk mencari informasi tentang Anindita di Alabama Florist.
" Apa Mbak yakin mereka juga mau memberikan informasi ke kita? Sementara mereka tahu jika selama ini kita bersikap buruk terhadap Mbak Anin, Mbak?" Masih sama, Lanny masih tidak yakin jika teman-teman Anindita di toko florist itu mau membantu mereka.
" Kita coba dulu nggak ada salahnya, kan? Ayo ...!" Ria mengajak Lanny untuk kembali ke mobil untuk pergi ke tempat Anindita bekerja dulu.
***
Seharian ini Anindita hanya mengurung di dalam kamar, karena dia takut jika sampai bertemu dengan Johan kembali. Dia masih trauma dengan perlakuan kasar Johan kepada Sandra dan dirinya. Apalagi saat bertemu kemarin pun, Johan juga tidak memperlihatkan perubahan sikap yang baik.
Anindita baru selesai melakukan panggilan telepon dengan Arka. Beberapa hari tidak bersama anak-anaknya membuat Anindita merindukan anak-anaknya tersebut.
Sementara Ricky terlihat menyandarkan tubuhnya di pintu dengan tangan melipat di dada Ricky memperhatikan istrinya yang setengah berbaring telungkup dengan menekuk kaki ke atas. " Apa kamu ingin menghabiskan bulan madu kita hanya di kamar saja, Anin?" tanyanya kemudian
Anindita tersentak mendengar suara suaminya di kamar resort, karena tadi suaminya meminta ijin keluar resort mencari udara segar, karena Anindita enggan diajak keluar.
" Apa ini kode karena kamu ingin kita melewati bulan madu kita di tempat tidur?" Ricky mendekati Anindita yang merubah posisi tidurnya.
" Aku takut bertemu dengan Johan, Mas." Anindita beralasan kenapa dia tidak ingin keluar dari kamar.
" Sudah aku bilang, ada aku. Kenapa harus takut?" Ricky tidak bisa menerima alasan Anindita.
" Mas tidak merasakan bagaimana dulu Johan sampai mencekik Ci Sandra. Itu sangat menyeramkan sekali." Anindita mengedikkan bahunya, rasanya benar-benar menyeramkan jika harus mengingat kejadian masa lalu.
" Sini aku pijat, mana yang pegal?" tanya Ricky menyentuh betis Anindita.
" Nggak usah, Mas. Istirahat sebentar juga nanti sembuh." Anindita menepis tangan Ricky yang mulai memijat kakinya.
" Kamu tidur saja telungkup." Ricky naik ke atas tempat tidur lalu mulai memijat telapak kaki dan jari-jari kaki Anidita.
" Jangan keras-keras, Mas!"
" Kamu tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu."
" Aaawww ... sakit, Mas."
" Nanti juga lama-lama enak."
" Jangan lama-lama pijatnya, Mas! Nanti kakiku biru-biru semua dipijat, Mas Ricky."
" Bukannya yang lama itu yang enak?" Ricky berseloroh dengan senyum nakal di bibirnya. Apalagi sekarang tangannya sudah berpindah mengelus betis mulus istrinya.
" Mas, fokus mijat! Jangan mikir yang macam-macam!" Merasakan tangan suaminya mulai menggerayangi betis hingga pahanya, Anindita menegur sang suami yang dianggapnya mulai mencari kesempatan.
" Iya, ini juga fokus pijat, kok! Kamu saja yang pikirannya travelling ke mana-mana!" sindir Ricky meledek sang istri. " Atau mungkin kamu yang lagi membayangkan melakukan hal itu?" Ricky terkekeh seraya menggelitik paha Anindita.
" Mas, geli!!" Anindita memutar tubuhnya kembali karena tangan suaminya terus saja menggelitik pahanya.
Bukannya menghentikan aksinya, Ricky malah terus mengelitik Anindita, hingga Anindita semakin menggeliat.
" Mas, hentikan! Jangan seperti anak kecil!" Anindita tertawa dengan menyingkirkan tangan sang suami.
Melihat Anindita tidak marah, namun tertawa, Ricky kini mengungkung tubuh Anindita, membuat Anindita menghentikan tawanya. Karena jarak wajah mereka terpangkas sangat dekat. Terutama saat Ricky mendekatkan bibirnya ke bibir ranum Anindita. Seketika Anindita membuka bibir juga memejamkan matanya.
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Anindita, membuat Anindita mengeryitkan keningnya seraya membuka matanya. Karena dia menduga jika suaminya akan memberikan kecupan lembut berdurasi lama. Seperti yang biasa suaminya itu lakukan jika ingin memulai percintaan mereka.
Melihat ekspresi bingung Anindita tentu saja Ricky tersenyum. Sudah pasti dia tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya itu.
" Kenapa?" Ricky menyeringai melihat wajah istrinya yang mulai bersemu merah.
" Kamu menginginkannya, kan?" Ricky tertawa kecil meledek istrinya kembali.
" Nggak! Siapa juga yang menginginkan!?" tepis Anindita dengan wajah memberengut. " Awas deh, Mas!" Anindita memukul dada Ricky, meminta suaminya itu menjauh darinya.
Sontak gestur tubuh Anindita membuat Ricky tertawa lepas. Hal itu semakin membuat wajah Anindita ditekuk. Karena dia merasa suaminya itu telah mengerjainya.
" Kalau memang mau, jangan gengsi, dong!" Ricky kembali menjatuhkan Anindita yang mencoba bangkit. Dengan cepat juga dia menyatukan kembali bibir mereka, menyesap dan melu mat dengan penuh hasrat bibir Anindita dalam durasi panjang, hingga membuat Anindita seperti kehabisan oksigen untuk bernafas.
*
*
*
Bersambung ..
Happy Reading ❤️