HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 24 -- Mengenang Malam Itu



Ria dan Lanny benar-benar mendatangi Alabama Florist seperti keinginan Ria. Kendati Lanny agak ragu, namun dia hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan oleh sang Kakak.


Benar saja dugaan Lanny, sesampainya di toko bunga, mereka sudah langsung disambut oleh pemilik toko bunga itu dengan tidak bersahabat.


" Maaf ya, Mbak-mbak. Saya nggak bisa memberikan nomer Anin ataupun Pak Ricky pada sembarang orang. Apalagi orang itu jelas-jelas pernah berbuat jahat kepada Anin!" Lucy tahu bagaimana dulu Anindita harus terusir dari rumah suaminya sendiri dengan sangat kejam, karena kelakuan dua orang wanita di hadapannya saat ini.


" Lagipula untuk apa kalian berdua menemui dan meminta alamat Anin sekarang ini? Apa karena sekarang Anin sudah menjadi istri orang kaya, kalian ingin memanfaatkan kebaikan Anin?!" Lucy bahkan berburuk sangka dengan mengatakan jika Ria dan Lanny ingin bertemu dengan Anindita hanya karena ingin memanfaatkan kelemahan Anindita saja.


" Maaf ya, Bu. Saya nggak berniat memanfaatkan Anin, meskipun saat ini dia itu istri orang kaya! Lagipula kemarin waktu bertemu, suami Anin sendiri yang bikin janji untuk bertemu, kok!" sanggah Ria menepis tuduhan Lucy yang mengatakan jika dirinya dan Lanny hendak memanfaatkan Anindita.


" Bukankah waktu Anin dan Pak Ricky mengajak Mbak-mbak ini bertemu, kalian nggak datang ke sana? Lalu untuk apa lagi menemui Anin? Apa kalian ingin mengambil Ibu Fatma kembali setelah kalian buang ke panti jompo!?" sindir Lucy bernada sinis.


" Mbak, sudahlah! Sebaiknya kita pergi saja dari sini! Percuma juga kita terus memberikan pembelaan, nggak akan ada yang percaya!" Lanny menarik lengan Ria dan membawa kakaknya itu keluar dari Alabama Florist.


" Kurang ajar sekali orang itu! Sembarangan saja mengatakan kita memanfaatkan Anin!" Ria masih nampak kesal terhadap ucapan Lucy yang dianggapnya keterlaluan dan merendahkannya.


" Sebaiknya kita pulang saja, Mbak! Nanti saja kita kembali jika Pak Ricky sudah kembali dari cutinya Minggu depan." Lanny menyarankan kakaknya untuk sabar menunggu kepulangan Ricky dari masa cutinya.


***


Ricky merapihkan helaian rambut Anindita yang menempel di pipi karena terkena peluh akibat aktivitas percintaan mereka yang akhirnya memang mereka lakukan. Ricky dapat mendengar tarikan nafas Anindita yang tersengal, sepertinya permainannya membuat sang istri benar-benar kelelahan.


" Mas, sudah ...!" Anindita menyingkirkan tangan Ricky yang sedang merapihkan rambutnya. Apalagi pria itu melanjutkannya dengan menghujani wajah lembab Anindita dengan kecupan. Sehingga Anindita berpikir jika suaminya itu ingin memulai aktivitas bercinta kembali. Padahal sebenarnya Ricky menghadiahi kecupan sebagai ungkapan rasa terima kasih Ricky kepada istrinya tersebut.


" Aku nggak akan mengulang lagi sekarang, Anin. Aku nggak ingin kamu tiba-tiba pingsan karena kewalahan melayaniku," seloroh Ricky meledek istrinya yang takut dia serang kembali.


" Dasar ..." Anindita memberengut dengan memanyunkan bibirnya dan memukul dada Ricky.


" Kamu sangat cantik, Anin." Kini tangan Ricky membelai wajah cantik istrinya. " Kadang aku bersyukur karena malam itu dipertemukan denganmu," lanjutnya.


Anindita sontak membulatkan matanya menanggapi peryataan sang suami.


" Maksud Mas Ricky, Mas Ricky senang malam itu memper kosa aku, begitu!?"


" Bukan itu maksudku. Anin. Aku nggak mensyukuri apa yang aku lakukan dulu kepadamu. Aku hanya bersyukur, Tuhan mempertemukan kita yang akhirnya kita ini berjodoh walaupun melalui jalan yang berliku ..." Ricky menopang kepala dengan tangannya menatap istrinya dengan lekat.


" Apa Mas Ricky nggak menyesal mendapatkan istri sepeti aku ini?" Kali ini tangan Anindita yang mengusap rahang suaminya.


" Tentu saja aku tidak pernah menyesalinya, Anin. Karena, mungkin tanpa disadari jika hati aku sudah terpaut denganmu sejak pertama kita bertemu." Ricky terkekeh mengingat pertemuan pertama mereka yang benar-benar memalukan untuknya. Dia tidak mengenal Anindita namun dia telah menodai Anindita yang saat itu bekerja sebagai pegawai mini market milik Koh Leo.


" Aku memang biasa lewat jalan itu. Tapi biasanya ada teman yang menemani. Kebetulan hari itu teman aku nggak masuk bekerja, karena itu aku pulang sendiri." Anindita menjelaskan.


" Bahaya sekali untuk gadis sepertimu pulang malam sendirian, Anin. Untung saja bukan pria lain yang bertemu denganmu malam itu." Tak bisa dibayangkan jika pria lain lah yang menodai Anindita saat itu. Belum tentu Anindita bisa hidup bahagia seperti sekarang ini.


" Sebenarnya Koh Leo menawarkan untuk pulang, tapi aku menolak. Aku nggak enak, Mas. Diantar oleh bos pulang ke rumah. Takutnya ada anggapan nggak enak dari pegawai minimarket yang lain atau tetangga yang melihat." Anindita menyampaikan alasannya kenapa dia tidak menerima tawaran Koh Leo.


" Lalu, kenapa malam itu kamu sama sekali nggak merasa takut saat melihatku?" tanya Ricky kembali. Saat itu, Anindita memang tidak menampakkan rasa takut saat bertemu dengannya meskipun dia adalah orang asing. Bahkan, Anindita berusaha menolongnya yang menyebabkan kesalahan fatal dilakukan oleh Ricky, karena dia terpengaruh obat perangsang.


" Aku nggak berpikiran kalau Mas itu orang jahat. Aku juga melihat Mas seperti merasa kesakitan dan tersiksa, makannya aku tolong Mas Ricky. Aku nggak menyangka justru karena hal itu aku harus ... kehilangan mahkotaku," lirih Anindita. Walau Ricky kini sudah menjadi suaminya, tapi peristiwa pemerko saan yang dia alami adalah hal terburuk dalam hidupnya.


" Maaf, aku sudah membuatmu merasa takut," ucap Ricky. " Oh ya, aku masih menyimpan ikat rambutmu yang kamu pakai malam itu." Ricky menceritakan jika ikat rambut milik Anindita yang tertinggal di mobil Ricky, saat dia mengeksekusi Anindita di dalam mobilnya masih dia simpan.


" Masa sih, Mas? Ikat rambut yang mana?" Anindita sendiri telah lupa dengan ikat rambut yang dia pakai saat malam itu.


" Masih aku simpan di laci kantor. Nanti aku bawa pulang."


" Tidak usah, Mas. Sebaiknya buang saja!" Anindita tidak ingin menyimpan barang kenangan malam itu, kendati saat ini Ricky sudah menjadi suaminya.


" Ya sudah, nanti aku buang. Sebenarnya aku menyimpan agar aku dapat menemukanmu, Anin."


" Ikat rambut punyaku itu banyak dijual di pasar, Mas. Harganya murah, pasti banyak yang pakai ikat rambut seperti itu." Biarpun dia lupa ikat rambut mana yang dia pakai, namun dia tahu jika ikat rambut yang dia punya dulu adalah ikat rambut yang harganya murah.


" Ya sudah, sebaiknya kamu mandi dulu, setelah ini kita cari makan di luar." Ricky menyuruh Anindita membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


" Kita makan di luar, Mas?"


" Iya, kamu nggak usah takut dengan yang namanya Johan itu. Aku sudah melaporkan pihak pemilik resort supaya mengawasi orang bernama Johan agar tidak bersikap macam-macam kepada kita," Tutur Ricky mencoba menenangkan Anindita agar tidak mencemaskan keberadaan Johan di resort itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️