
Mama Arya memperhatikan dua kursi di depannya yang terlihat kosong, jika hanya kursi yang kosong saja, mungkin dia tidak akan serius memperhatikan. Namun, dua buah piring di atas meja di depan kursi tersebut membuatnya berpikir apa ada tamu lain yang ditunggu oleh Ricky dan juga Anindita saat ini.
" Apa ada orang yang kalian undang, Anin, Nak Ricky?" tanya Mama Arya menunjuk ke arah kursi di depannya dengan menggunakan arahan matanya.
" Hmmm, iya, Mah. Kami menunggu tamu yang aka datang kemari," sahut Anindita melirik ke arah Ricky di sampingnya.
" Tapi tamunya belum pasti akan datang atau nggak, Bu." Ricky menimpali, karena dia yakin jika Ria dan Lanny tidak akan datang menemui mereka.
Anindita kembali mendelik kearah suaminya, saat suaminya menyangsikan jika kedua orang yang mereka undang tidak akan datang.
" Apa mereka temanmu, Anin?" tanya Mama Arya.
" I-iya, Ma."
" Apa kita akan makan menunggu teman-temanmu datang?" tanya Mama Arya kembali.
" Tidak, Bu. Sebaiknya kita makan sekarang saja, biar mereka nanti ikut bergabung dengan kita jika mereka benar datang." Ricky memang tidak yakin kedua adik Arya akan datang atas undangan mereka.
" Ya sudah, kita makan sekarang saja. masalahnya Mama nggak bisa makan terlalu malam," keluh Mama Arya terkekeh.
Anindita langsung menyendokkan nasi di atas piring milik Ricky lalu mengambil lauk pauknya, setelah itu dia mengambilkan untuk mantan Mama mertuanya yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri. Sementara Tita mengambilkan makan untuk Ramadhan terlebih dahulu, setelah itu dia menyuapi Arka, baru menyantap makanannya sendiri.
Satu jam berlalu, namun kedua adik Arya tidak juga datang, padahal Ricky dan keluarganya sudah selesai menyantap menu makan malam mereka. Anindita bahkan terlihat gelisah, beberapa kali wanita itu menengok jam di ponselnya yang saat ini sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam.
" Teman kamu itu nggak jadi datang sepertinya, Nin." Mama Arya berkomentar karena tidak ada orang yang datang menjumpai Anindita dan Ricky.
" Entahlah, Ma." Anindita menatap Mama Arya. Untung saja dia menuruti apa yang Ricky sarankan, untuk tidak memberitahu terlebih dahulu pertemuan mereka dengan Ria dan Lanny. Seandainya Eyang dari anaknya itu tahu jika tamu yang ditunggunya adalah Ria dan Lanny, bisa dibayangkan betapa kecewanya Mama Arya karena kedua anak perempuannya itu tidak mau menemuinya.
" Kamu nggak hubungi mereka saja, Nin? Mereka janji mau datang tapi nggak datang dan nggak ada kabar, takutnya terjadi sesuatu di jalan." Mama Arya beranggapan jika halangan yang membuat orang yang ditunggu Anindita tidak hadir, kemungkinan tertimpa sesuatu yang buruk di jalan.
" Anin nggak punya nomer teleponnya, Ma." sahut Anindita.
" Nggak punya nomer teleponnya? Kok, aneh? Biasanya kalau berteman itu pasti saling save nomer HP." Entah kenapa saat ini Mama Arya terlihat agak cerewet dari biasanya.
" Anin baru pertama kali bertemu mereka lagi, Bu. Saking senangnya bertemu sampai lupa tukar nomer HP, karena mereka juga kemarin pergi terburu-buru." Seraya menepuk pelan punggung Anindita, Ricky menolong Anindita dari pertanyaan yang menyulitkan yang dilontarkan oleh mantan Mama mertuanya itu.
" Oh, begitu ..." Akhirnya Mama Arya mengerti setelah mendengar penjelasan dari Ricky.
" Sebaiknya kita pulang sekarang, kasihan anak-anak sudah pada mengantuk." Ricky menunjuk Ramadhan yang menyandarkan kepalanya di meja makan dan Arka yang sudah memperlihatkan mata sayu sambil menyandarkan kepala di bahu Tita.
Sebenarnya Anindita ingin meminta menunggu beberapa menit lagi, siapa tahu Ria dan Lanny benar-benar datang, namun melihat kedua anaknya memang sudah mengantuk, mau tidak mau Anindita akhirnya menyetujui suaminya yang mengajak mereka untuk segera meninggalkan tempat makan milik Koh Leo dan Sandra yang diberikan Ricky sebagai ucapan terima kasih, karena sudah menjaga Anindita dan Ramadhan setelah pemerko saan yang sudah dia lakukan kepada Anindita beberapa tahun silam.
Ricky memperhatikan Anindita yang sedang berdiri di tepi pagar balkon kamar apartemen mereka, dia memang bisa merasakan jika istrinya itu sedang kecewa berat karena ketidakmunculan Ria dan Lanny yang sangat diharapkan Anindita dapat menjadi kejutan untuk Ibu Fatma, orang tua dari Arya.
Ricky berjalan mendekati istrinya yang terlihat memandang gemerlapnya lampu-lampu malam kota Jakarta yang nampak begitu indah.
" Jangan terlalu dipikirkan ketidakhadiran kedua adik Pak Arya tadi, Anin." Ricky melingkarkan tangannya di pinggang Anindita membuat wanita itu terkesiap dengan tindakan yang dilakukan oleh suaminya itu.
Anindita mendengus keras melampiaskan kekecewaannya terhadap sikap kedua adik Arya yang seperti tidak perduli dengan Mama Arya, Mama mereka sendiri.
" Kenapa mereka bersikap seperti itu ya, Mas?" sesal Anindia penuh nada kekecewaan.
* Mereka sudah mengirim Bu Fatma ke panti jompo, seharusnya kamu nggak usah terlalu aneh dengan sikap mereka kali ini, Anin." Ricky mengomentari pertanyaan Anindita yang dia rasa Anindita pun tahu jawabannya.
" Aku pikir mereka sudah berubah, Mas. Mereka mau berziarah ke makam Mas Arya, aku pikir mereka sudah menyadari kesalahan mereka ..." Nada sedih kini terdengar jelas dalam kalimat yang diucapkan oleh Anindita.
* Untung aku mengikuti apa yang disarankan oleh Mas, nggak kasih tahu Mama lebih dahulu. Coba kalau aku cerita sama Mama kalau kita tadi menunggu kehadiran Mbak Ria dan Mbak Lanny, rasa sedih dan kecewa Mama pasti akan melebihi apa yang aku rasakan sekarang ini, Mas." Dengan hampir terisak, Anindita mengucapkan kata-kata tersebut.
" Sudahlah, Anin. Nggak usah memikirkan hal itu,! Anggap saja tadi pagi kita tidak bertemu siapa-siapa di makan Pak Arya." Ricky mengecup pucuk kepala Anindita, selanjutnya tengkuk dan ceruk leher istrinya tak terlewatkan diabsen oleh bibirnya.
" Kita lupakan soal Ria juga Lanny. Sekarang, bagaimana dengan rencana liburan kita berdua, Anin?" bisik Ricky, sementara tangannya kini sudah menggerayangi bagian-bagian sensitif tubuh Anindita seakan memberikan kode untuk melakukan hubungan in tim kepada istrinya itu.
" A-aku belum bicara dengan Mama, Mas. Aku juga nggak tega meninggalkan anak-anak." Tubuh Anindita menggeliat karena sentuhan yang diberikan suaminya di area-area yang bisa membangkitkan ga irahnya.
Ricky memutar tubuh Anindita hingga kini berhadapan dengannya. Jarinya menyentuh bibir ranum sang istri yang membuat dirinya tidak bisa berpaling dari wanita yang berasal dari desa kecil itu sejak pertama kali menyentuhnya beberapa tahun lampau.
Tak butuh waktu lama Ricky menautkan bibirnya dengan bibir sang istri, memberikan sentuhan dan saling bertukar saliva. Pertemuan bibir dengan bibir, lidah dengan lidah hingga pagutan penuh ga irah yang mereka lakukan berdua seolah tidak memperdulikan jika saat ini mereka berada di ruang terbuka.
Ricky menarik tengkuk Anindita, memperdalam pagutannya hingga suara decapan terdengar di balkon kamar mereka. Lengan berotot pria itu lalu mengangkat tubuh Anindita hingga Anindita reflek melingkarkan tangannya di leher suaminya tanpa melepas penyatuan kedua bibir mereka. Ricky pun membawa Anindita ke dalam kamar untuk melanjutkan aktivitas suami istri yang sama-sama mereka inginkan.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️