
" Sebaiknya kamu jangan ceritakan dulu pertemuan kamu dengan adik-adik Pak Arya kepada Ibu, Anin." Saat dalam perjalan pulang ke apartemennya, Ricky meminta Anindita merahasiakan pertemuan mereka dengan Ria dan Lanny kepada Ibu Fatma, Mama dari Arya.
Anindita menolehkan pandangan kepada suaminya dengan kening berkerut, dia merasa heran dengan instruksi Ricky padahal Ricky sendiri sudah membuat janji mempertemukan Ibu Fatma dengan kedua anak-anak Mama dari Arya itu malam ini di restoran milik Koh Leo dan Sandra.
" Lho, bukannya Mas tadi bilang akan kita akan bertemu dengan Mbak Ria dan Mbak Lanny malam nanti di tempatnya Ci Sandra?" tanyanya kemudian. " Memangnya kita tidak jadi pergi ke sana?" lanjutnya.
" Kita tetap akan ke sana, tapi kita nggak usah bilang ke Ibu dulu jika kita akan bertemu dengan mereka. Aku takut mereka nggak akan datang nanti malam, jika kamu mengatakan kepada Ibu terlebih dahulu, itu akan mengecewakan Ibu, Anin." Ricky menjelaskan kepada Anindita alasannya melarang istrinya menceritakan pertemuannya dengan adik-adik Arya kepada Ibu Fatma.
" Nanti jika mereka benar datang, biarlah itu jadi kejutan untuk Ibu," sambung Ricky.
Akhirnya Anindita mengerti akan maksud dari ucapan suaminya, dia juga tentu tidak ingin membuat Mama mantan suaminya itu kecewa, biarlah Ibu Fatma kecewa dengan sikap Ria dan Lanny saat mengusir dirinya dulu juga kecewa karena mengasingkan Ibu Fatma ke panti asuhan, jangan buat Ibu Fatma kembali kecewa untuk yang ketiga kalinya karena mereka tidak mau bertemu dengan Ibunya sendiri.
Setelah sampai di apartemen, Ricky bersiap untuk pergi ke kantornya.
" Jangan telat pulangnya ya, Mas." ujar Anindita saat menyerahkan tas kerja suaminya lalu mencium punggung tangan Ricky.
" Iya, aku akan pulang cepat." Ricky membalas dengan mengecup kening Anindita. " Papa berangkat dulu ya, Arka." Ricky lalu mencium pipi Arka lalu menyerahkan bocah itu kepada Anindita. " Aku berangkat dulu, assalamualaikum ..." pamit Ricky kepada Anindita.
" Waalaikumsalam ..." sahut Anindita membalas salam yang diucapkan oleh Ricky. " Daagg, Papa ..." Anindita menggerakkan tangan Arka melambaikan tangan kepada Ricky.
Ricky mengulum senyuman dan mengusap wajah berkulit lembut Arka, dia pun mencium pipi gembul putra Arya itu lalu meninggalkan apartemennya.
***
" Assalamualaikum, Eyang. Ini Arka habis dari makam Papa Arya, Yang." Anindita masuk ke dalam kamar Mama Arya selepas Ricky berangkat ke kantor.
" Waalaikumsalam. Arka habis dari makam Papa, ya?" Mama Arya yang baru selesai melaksanakan sholat dhuha melepas mukenanya saat mendengar suara Anindita dari balik pintu. kamar.
" Iya, Eyang. Arka habis kirim doa buat Papa." Anindita menurunkan Arka dan membiarkan anaknya itu mendekati Neneknya.
" Eyan, Aka akam Papa Aya ..." Arka berceloteh kepada Mama Arya seolah memberitahukan kepada Neneknya jika dia baru saja mengunjungi makam Papanya.
" Masya Allah, pintar sekali cucu Eyang ini." Mama Arya mengangkat tubuh Arka dan menaruh di pangkuannya.
" Ma, nanti malam Mas Ricky akan mengajak kita makan malam di restorannya Koh Leo." Anindita menyampaikan rencana suaminya yang akan mengajak mereka makan malam bersama, walau sebenarnya tujuan mereka adalah mempertemukan Mama Arya dengan kedua adik dari Arya.
" Kalian saja yang pergi, Nin. Mama nggak enak selalu mengganggu acara keluarga kamu." Mama Arya ingin menolak karena dia tidak enak selalu ikut jika Ricky dan Anindita pergi menikmati family time.
" Nggak apa-apa kok, Ma. Mama juga 'kan bagian dari keluarga aku dan Mas Ricky, jadi Mama harus ikut kita sore nanti makan malam bersama." Berusaha membujuk mantan Mama mertuanya, Anindita mengatakan jika Mama Arya sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.
" Ma, kenapa Mama kelihatan sedih?" Anindita mengusap pundak Mama Arya, dia heran dengan perubahan wajah Mama Arya yang terlihat murung. " Mama sakit?" tanya Anindita kemudian.
" Ah, nggak kok, Nin. Mama nggak apa-apa." Mama Arya buru-buru menepis dugaan Anindita yang mengatakan dia bersedih dan menangis.
" Ma, kalau Mama ada sesuatu yang dirasa nggak enak, Mama cerita sama Anin. Anin nggak bisa tenang kalau melihat wajah Mama murung seperti tadi." Kini Anindita mengusap lengan Mama Arya, berharap Mama Arya mau cerita padanya soal apa yang dipikirkan oleh Nenek dari anaknya bersama Arya itu.
Tangan Mama Arya menyentuh tangan Anin dibarengi dengan seulas senyuman di bibir wanita paruh baya itu.
" Mama nggak sedih kok, Nin. Mama hanya merasa bahagia dipertemukan dengan manusia berhati malaikat seperti kamu dan Nak Ricky. Kalau Mama nggak bertemu kalian, mungkin saat ini Mama masih berada di panti jompo, dan Mama nggak bisa melihat cucu Eyang yang Sholeh ini." Mama Arya kini mengecup kening dan pipi cucunya yang lucu.
Ingin rasanya mulut Anindita berkata jika dia tadi bertemu dengan Ria dan Lanny, dia juga ingin mengatakan jika rencana makan malam nanti adalah untuk mempertemukan kedua Mama Arya dengan kedua anaknya itu. Namun, jika mengingat pesan sang suami yang khawatir jika Ria dan Lanny tidak datang dan itu akan membuat Mama Arya kecewa dan bersedih, Anindita pun menjadi ragu untuk menyampaikan berita gembira ini.
" Ma, semua ini sudah diatur Allah SWT, Mama dan Mas Arya begitu baik sama Anin. Mama dan Mas Arya bisa menerima Anin dengan kisah masa lalu Anin karena dulu Anin hamil Rama di luar nikah. Sekarang saatnya Anin membalas kebaikan Mama dan Mas Arya. Lagipula, ada anak di antara Anin dan Mas Arya, jadi Anin merasa wajib mengurus Mama sebagai Eyang dari anak Anin, Ma."
" Seandainya Ria dan Lanny mempunyai ketulusan hati sepertimu, Anin."
" Ma, Mama jangan bersedih soal itu ya, Ma. Anin berdoa semoga Allah SWT mempertemukan Mama kembali dengan Mbak Ria dan Mbak Lanny."
" Entahlah, Nin. Mama sendiri tidak tahu bagaimana dan di mana mereka saat ini berada? Mama sedih, Mama merasa gagal mendidik mereka berdua, tidak seperti Arya, yang begitu patuh dan menurut dengan Mama." Terdengar nada pilu dalam kalimat yang terlontar dari mulut Mama Arya.
Anindita mengusap punggung Mama Arya, dia pun sebenarnya menyayangkan sikap kedua adik Arya yang benar-benar durhaka kepada orang tua apalagi kepada seorang Ibu. Sifat mereka berdua memang berbeda dengan Arya dan Mamanya yang baik dan begitu bijaksana.
" Ma, ini semua bukan salah Mama, Mas Arya begitu baik, itu karena bimbingan Mama juga, kan? Jika ada yang salah dengan sikap Mbak Ria dan Mbak Lanny, itu karena pengaruh pergaulan mereka sendiri, Mama jangan menyalahkan diri Mama sendiri." Anindita merangkulkan tangannya memeluk Mama Arya dari samping.
Melihat Mamanya memeluk Mama Arya, Arka pun ikut memeluk Eyangnya itu, sambil berucap, " Mama cayan Eyan, Aka cayan Eyan ..." celoteh bocah kecil itu dengan lucunya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️