HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 35 -- Hadiah Ulang Tahun ( Tamat )



Setelah semua duduk berkumpul dalam satu meja di ruang private room, Ria dan Lanny kembali mengungkapkan rasa penyesalannya karena telah menelantarkan Ibu Fatma.


" Maksud kami ingin bertemu dengan Pak Ricky dan Anin adalah karena kami ingin membawa Mama kami. Kami ingin menebus kesalahan kami dengan mengurus Mama." Ria menyampaikan niatnya untuk mengurus orang tuanya yang selama ini mereka telantarkan.


" Kalian tahu? Keserakahan, hanya akan menimbulkan penderitaan. Dulu kalian hidup enak, berkecukupan dan tidak kurang suatu apa pun. Tapi, kalian dengan tega merampas hak Anin dan bayi dari kakak kalian sendiri. Tanpa ada belas kasihan, kalian mengusir Anin yang saat itu sedang hamil muda." Ricky membuka ingatan Ria dan Lanny kala mereka berdua seolah tidak punya hati nurani mengusir Anindita.


" Apa kalian tidak pernah berpikir seandainya kalian sendiri yang diperlakukan seperti itu?"


" Mas, sudah! Tidak usah mengungkit masa lalu." Anindita tidak ingin Ricky terus mengungkit masa lalu. Karena saat ini dia melihat kedua mantan kakak iparnya sudah bertobat.


" Kami minta maaf, karena sikap kami dulu. Kami juga sadar, cobaan yang menimpa kami saat ini adalah dampak dari perbuatan kami yang dulu." Ria kembali menyampaikan penyesalannya.


" Kami sudah memaafkannya, kok, Mbak." Anindita dengan cepat menyahuti permintaan maaf Ria sebelum suaminya berkata-kata panjang lebar.


" Soal mengurus Ibu Fatma, saya tahu kalian lebih berhak daripada kami. Tapi, kami tidak ingin kalian merawat Ibu dengan sembarangan. Karena saya sudah menganggap Ibu Fatma seperti orang tua sendiri." Ricky tidak akan mudah memberikan ijin untuk Ria dan Lanny membawa pergi Ini Fatma dari tempatnya begitu saja.


" Ibu, semua keputusan ada di Ibu. Walaupun kami sangat berharap Ibu tetap tinggal di tempat kami." Ricky kini bertanya kepada Ibu Fatma. Sementara Anindita menampakkan kecemasan. Dia merasa tidak rela harus berpisah dengan mantan ibu mertuanyq itu.


" Ricky, Anin, Mama tahu, selama ini kalian berdua sangat perhatian terhadap Mama. Walaupun kalian tidak terlahir dari rahim Mama, tapi kasih sayang dan perhatian yang kalian berikan selama ini kepada Mama, tidak akan mungkin bisa Mama lupakan. Kehadiran kalian berdua juga Rama dan Arka, benar-benar membuat rasa sakit hati Mama karena kehilangan Arya, sedikit terobati." Dengan tersedu merasa haru, Mama Arya mengatakan hal yang selama ini dipendamnya.


Anindita segera mendekatkan tubuhnya ke arah Mama Arya dan mengusap punggung nenek dari Arka itu.


" Mama juga merasa berat jika harus berpisah dari kalian. Tapi, saat ini ada yang lebih berkewajiban mengurus Mama dibanding kalian berdua. Bagaimanapun juga Ria dan Lanny yang mempunyai tanggung jawab itu." Dari kalimat yang diucapkan oleh Mama Arya tersirat jika mantan mertua dari Anindita itu memilih untuk ikut bersama kedua orang anaknya.


Ricky menghela nafas panjang sementara Anindita merasa lemas mendengar keputusan Mama Arya. Mereka sama-sama kecewa, namun mereka tidak punya kuasa apa-apa untuk menolak.


Sedangkan Ria dan Lanny langsung menarik nafas lega. Karena mereka tidak menyangka jika Mamanya mau ikut bersama mereka kembali.


" Baiklah jika itu keputusan Ibu." Kini Ricky menatap kedua orang adik Arya. " Walaupun Ibu bersama kalian, bukan berarti kami berhenti mengawasi Ibu Kami ingin Ibu terjamin dalam kebutuhan dan kesehatannya. Karena itu, kami akan tetap mempekerjakan suster yang selama ini merawat Ibu. Dan saya akan memberikan kembali rumah lama Ibu yang sudah kalian jual. Ibu akan tinggal kembali di rumah pusaka itu. Kalian pun boleh tinggal di sana. Dan untuk toko pakaian kalian. Saya sedang carikan tempat baru untuk usaha kalian yang lebih besar." Seperti yang sudah diniatkan oleh Ricky, dia akan membantu usaha Ria dan Lanny agar kehidupan ekonomi adik-adik Arya lebih stabil.


Lanny dan Ria saling berpandangan dengan mata terbelalak. Mereka tidak menyangka jika mereka akan dibantu oleh Ricky dan Anindita, padahal selama ini mereka sudah bersikap buruk kepada Anindita.


" Terima kasih, Pak Rizky, Anin. Saya sungguh sangat malu menerima kebaikan Pak Ricky terutama Anin." Ria menangis haru, diikuti oleh Lanny yang tidak menyangka jika mereka masih diterima baik oleh keluarga Anindita dan Ricky.


***


Tiga bulan berlalu sudah. Mama Arya sudah tidak tinggal bersama keluarga Ricky lagi. Dua Minggu sekali, Anindita berkunjung ke rumah Mama Arya membawa anak-anak, dengan atau tanpa Ricky.


Ria dan Lanny pun sudah mulai menjalankan usaha di tempat barunya yang lebih luas dengan produk yang dijual semakin. banyak jumlahnya dan lebih bervariatif.


Hari ini adalah hari ulang tahun Ricky yang ke tiga puluh delapan tahun. Anindita dan anak-anaknya menyiapkan kejutan tepat jam dua belas malam. Ramadhan sendiri yang bersemangat ingin memberikan kejutan kepada Papanya, sampai minta dibangunkan sebelum jam dua belas malam.


" Sssttt, Rama jangan berisik dulu, ya!?" Anindita membuka pintu kamarnya dengan mengendap diikuti oleh Ramadhan dan Tita yang menggendong Arka yang mengantuk.


Setelah Anindita menyalakan lilin yang menan cap di cake ulang tahun, dia pun memberi aba-aba kepada Ramadhan untuk membangunkan Papanya.


" Happy Birthday Papa ... Happy Birthday Papa ..." Anindita diikuti oleh Ramadhan dan Tita menyanyikan lagu ulang tahun.


" Ya ampun, kalian belum pada tidur?" Ricky bangkit dan terduduk.


" Tiup dulu lilinya, Pa!" Ramadhan menyuruh Ricky untuk cepat meniup lilin di cake ulang tahun.


" Make a wish juga, Pa!" Saat Ricky sudah siap meniup lilin, Ramadhan menahannya dan menyuruh Papanya itu menyampaikan permohonan dalam hati.


Ricky tersenyum mendengar permintaan dari putranya itu. Dia lalu memejamkan matanya beberapa saat lalu meniup lilin angka tiga puluh delapan di cake itu.


" Yeeeaahh ... selamat ulang tahun, Papa." Ramadhan kembali memeluk Papanya.


" Terima kasih, Nak." sahut Ricky. Dia lalu menoleh ke arah Arka yang kembali tertidur di bahu Tita. " Jagoan Papa yang satu ini nggak mau kasih ucapan ulang tahun ke Papa, ya?" tanya Ricky meminta Tita memberikan Arka kepadanya. Setelah ini dia menciumi pipi Arka yang tetap tidak juga terjaga.


" Ya sudah, sekarang Rama bobo lagi. Po tong kue besok lagi saja, ya!?" Ricky menyuruh Ramadhan untuk istirahat karena waktu sudah terlalu larut.


" Iya, Pa." Tidak banyak protes, Ramadhan pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya itu.


" Selamat ulang tahun ya, Mas." Setelah Ramadhan, Tita dan Arka keluar kamar, kini giliran Anindita yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada suaminya itu. " Panjang umur, sehat selalu, dimurahkan rezeki dan selalu sayang sama keluarga." Anindita memberikan kecupan di pipi sang suami.


" Aamiin Ya Rabbal Alamin ..." sahut Ricky.


" Ada hadiah untukku?" Ricky menanyakan hadiah yang akan diberikan Anindita untuknya.


" Ada, dong, Mas." sahut Anindita lalu mengeluarkan sesuatu dari saku piyamanya. " Ini hadiah untuk Mas Ricky. Mas kepingin banget, kan?" Anindita tersenyum menatap sang suami.


Ricky membelalakkan matanya saat melihat alat test kehamilan yang diserahkan Anindita kepadanya.


" Kamu hamil, Anin?" tanya Ricky seakan tak percaya saat melihat alat itu menunjukkan tanda dua harus merah.


" Iya, Mas." Anindita menganggukkan kepalanya.


" Alhamdulillah ... terima kasih Ya, Allah ... terima kasih, Anin." Ricky langung memeluk dan menghujani wajah Anidita dengan ci uman.


...TAMAT...


Happy Reading ❤️


*


*


*