HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 17 -- Badai



" Mas, nanti kita ke sana naik apa?" tanya Anindita saat anak-anak sudah tertidur pulas di antara dirinya dan Ricky.


" Tentu saja naik pesawat. Memangnya kamu ingin kita berenang sampai sana?" Ricky tertawa kecil menjawab pertanyaan istrinya.


" Aku serius, Mas!" Anindita langsung memanyunkan bibirnya mendapat jawaban suaminya. " Aku tahu kita ke sana naik pesawat. Tapi, nanti kita sampai ke penginapan itu naik apa? Itu 'kan di laut." Anindita menjelaskan kenapa dia bertanya seperti itu. Karena dia tidak pernah merasakan pergi ke tempat yang unik seperti yang suaminya pilihan itu.


" Kita nanti dari bandara naik mobil ke dermaga sekitar dua jam. Dari dermaga ke resort itu baru naik perahu boat sekitar dua puluh menitan," tutur Ricky menjelaskan.


" Nanti kita bawa makanan yang agak banyak sebelum ke dermaga ya, Mas. Soalnya jauh dari daratan, pasti sudah cari makannya." Anindita sudah mengantisipasi jika mereka merasa lapar karena resort yang jauh dari daratan dan jauh dari pemukiman penduduk.


" Kenapa repot-repot cari makanan? Di sana dari pihak resort menyediakan makan untuk para tamu, Anin." Ricky lalu mengambil ponselnya. Dia lalu mencari gambar Pulau Cinta lalu menunjukkan kepada istrinya. " Kamu lihat ini, di tengah ini 'kan ada pulaunya. Aktivitas karyaran resort di sini menyiapkan kebutuhan tamu resort. Dan kamar-kamar tamu itu yang mengelilingi pulau kecil ini," lanjut Ricky.


" Oh, gitu." Anindita menganggukkan kepalanya tanda mengerti. " Ini cara membangunnya gimana ya, Mas? Kok, bisa membuat penginapan begini di atas laut?" tanya Anindita kembali. Sepertinya dia merasa penasaran dengan penginapan yang dia terasa unik, karena terapung di lautan.


" Cara bangunnya ya ada uang, ada bahan dan ada tukang." Ricky terkekeh menjawab konyol pertanyaan Anindita.


" Ck, Mas ini 'kan bekerja di perusahaan property, biasa membuat bangunan rumah dan apartemen. Masa ditanya begitu saja tidak tahu?!" Anindita memutar bola matanya mendengar jawaban tak serius Ricky.


" Ya sudah, sekarang tidur saja. Besok kika harus ke tempat Dessy terlebih dahulu menitipkan anak-anak sebelum berangkat terbang ke Gorontalo." Ricky menyuruh istrinya itu beristirahat.


***


" Rama, selama Papa sama Mama pergi. Rama jangan nakal, ya!? Harus jagain adik juga. Harus nurut apa yang Tante Dessy bilang." Saat perjalanan menuju sekolah Ramadhan, Anindita menasehati putra sulungnya itu.


" Iya, Ma. Nanti Rama nggak akan bandel kok, Ma." sahut Ramadhan, seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Mamanya itu.


" Anak pintar." Ricky mengusap kepala putranya itu.


" Papa jangan lama-lama kerjanya, ya!? Biar cepat pulang." Bocah itu lalu berkata kepada Papanya.


" Mama juga, harus bantuin pekerjaan Papa, biar perginya nggak lama." Kini giliran Anindita yang dinasehati oleh Ramadhan.


Anindita melirik ke arah suaminya yang sedang menahan senyuman mendengar celotehan putranya tersebut.


" Hmmm, iya, Papa sama Mama perginya nggak akan lama, kok." Anindita menjawab apa yang dikatakan Ramadhan kepadanya.


" Rama nanti pulang sekolah dijemput siapa, Pa?" tanya Ramadhan kemudian.


" Sama Pak Syaiful seperti biasa. Nanti pulangnya langsung ke rumah Tante Dessy," sahut Ricky.


" Iya, Pa." sahut Ramadhan.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Pak Syaiful berhenti di depan gerbang sekolah Ramadhan.


" Belajar yang benar ya, Sayang. Jangan nakal dan jangan jajan sembarangan." Anindita mencium kening dan pipi putranya itu saat Ramadhan mencium punggung tangannya.


" Iya, Ma."


Ricky pun melakukan hal yang sama kepada Ramadhan saat bocah itu menyalaminya.


" Sekolah yang pintar, ya!?" ucap Ricky.


" Iya, Pa. Rama sekolah dulu ya, Pa, Ma. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Ricky dan Anindita menjawab bersamaan.


" Rama, jangan lari-lari nanti jatuh, Nak!!" teriak Anindita saat melihat putranya itu berlari.


Setelah tubuh Ramadhan menghilang dari penglihatan mereka, mobil yang dikendarai Pak Syaiful pun melanjutkan perjalanan ke rumah Dessy.


Kurang lebih empat puluh lima menit kemudian, Anindita dan Ricky sudah sampai di rumah adik dari Ricky. Selama mereka pergi berlibur berdua, Dessy lah yang ditugaskan oleh kakaknya mengurus kedua keponakannya.


" Mbak, aku titip anak-anak, ya!? Maaf sekali jadi merepotkan Mbak Dessy." Walaupun Dessy adalah adik iparnya. Namun, Anindita terbiasa memanggil Dessy dengan sebutan Mbak.


" Nggak apa-apa, Mbak Anin. Kalau nggak begini, anak-anak 'kan susah kalau diajak menginap di rumahku. Terutama Arka ini, maunya nempel terus sama Mamanya, ya?" Dessy lalu mengangkat tubuh bocah berusia dua tahun itu lalu menghujani pipi gembilnya.


" Terima kasih ya, Mbak." ucap Anindita menyampaikan rasa terima kasihnya karena bantuan Dessy yang bersedia mengurus anak-anaknya selama dia dan Ricky menikmati bulan madu keduanya.


" Mbak Anin tenang saja. Anak-anak akan saya urus dengan baik, kok. Mbak Anin nikmati saja honeymoon nya sama Kak Ricky. Bikin adik buat Rama sama Arka di sana." Dessy tertawa menggoda Anindita.


Mata Anindita terbelalak saat Dessy berbicara tanpa malu-malu menyuruhnya membuat adik untuk Ramadhan dan Arka. Bahkan wajah Anindita sudah merona karena merasa malu mendengar ucapan Dessy.


" Kak, di sana yang rajin bikin baby nya, ya!?" Dessy justru kembali berkelakar berkata kepada Ricky.


" Untuk urusan itu, nggak usah kamu suruh pun sudah pasti Kakak pikirkan, Des." Ricky menjawab candaan adiknya.


" Wah, Mbak Anin harus banyak minum vitamin, biar nggak cepat loyo staminanya, karena akan digempur habis-habisan sama Kak Ricky." Dessy tertawa dengan renyahnya, seakan merasa kalimat yang diucapkan adalah hal yang wajar dijadikan obrolan.


Sementara Ricky pun membalas tawa Dessy seraya melirik ke arah Anindita yang terlihat melotot kepadanya. Dia tahu tatapan tajam Anindita itu ditujukan kepadanya karena dia ikut menertawakan perkataan Dessy.


***


Ddrrtt ddrrtt


Saat mobil yang membawa Ricky dan Anindita tiba di bandara, tiba-tiba ponsel Ricky berbunyi. Ricky lalu mengangkat panggilan telepon yang tidak bernama, hanya deretan angka yang tertera di layar ponselnya itu.


" Halo?" Ricky tidak tahu siapa yang menghubungi saat ini.


" Apa?" Suara Ricky tersentak.


Anindita melihat suaminya itu terlihat kaget saat menerima telepon, entah dari siapa, Anindita pun tidak tahu.


" Lalu bagaimana?" tanya Ricky kembali.


" Oke, oke, terima kasih untuk informasinya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Ricky lalu mematikan sambungan telepon tadi.


" Ada apa, Mas?" Anindita tentu merasa penasaran, apalagi raut wajah Ricky terlihat serius.


" Kita cancel menginap di resort itu, Anin." ucap Ricky dengan nada kecewa.


" Kenapa memangnya, Mas?" Dengan heran Anindita bertanya. Karena rencana mereka pergi ke sana sudah disiapkan jauh-jauh hari, tapi kenapa tiba-tiba cancel, padahal mereka sudah siap berangkat hari ini.


" Ada badai yang terjadi di sana. Air laut pasang dan hal itu merusak resort di sana," tutur Ricky menjelaskan apa yang terjadi di tempat wisata yang terkenal dengan nama Pulo Cinta Gorontalo, yang banyak disebut orang-orang keindahannya tidak kalah dengan Maldives.


Bersambung ...


Menurut info badai yg terjadi di Pulo Cinta itu terjadi Desember 2021, dan sampai sekarang belum tahu update terbarunya. Semoga bisa beroperasi kembali.


Happy Reading❤️