
Dari cermin meja riasnya Anindita memperhatikan Ricky yang sedang menggulung lengan kemeja kotak-kotak berwarna navy membalut tubuh berotot pria berprofesi sebagai executive assistant itu, terlihat sangat gagah dan tampannya sang suami hingga tanpa sadar Anindita mengulum senyuman di bibirnya.
" Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu, Anin?"
Anindita terkesiap, entah sudah tidak bisa terhitung dia kedapatan sedang mengagumi ketampanan dan kesempurnaan fisik suaminya itu.
" Ah, nggak kok, Mas." Anindita segera memoles lipstik warna merah di bibir ranumnya.
Ricky mendekat ke arah Anindita yang sedang berhias di depan cermin, lalu menyentuh pundak Anindita.
" Kenapa kamu memakai lipstik warna mencolok seperti itu?" Kening Ricky berkerut karena lipstik yang digunakan Anindita berwarna merah menyala hingga membuat bibir istrinya itu terlihat semakin sen sual.
" Oh, ini aku coba lipstik yang ditawarkan Cici pemilik restoran di ruko bawah, Mas. Berapa kali ditawari aku menolak terus, jadi tadi terpaksa aku beli, belinya juga cuma satu kok, Mas." Anindita menjelaskan.
" Kenapa pilih warna merah merona seperti itu?" Ricky memang tidak pernah melihat Anindita menggunakan lipstik merah menyala seperti itu terkecuali saat akad nikah dengan Arya dulu dan akad dengannya juga saat resepsi pernikahan mereka yang diadakan di restoran milik Koh Leo.
" Memang terlihat jelek aku pakai warna ini ya, Mas?" tanya Anindita menarik tissue untuk menghapus lipstik yang sudah melekat di bibirnya itu.
" Seperti sedang berusaha menggoda laki-laki."
Bola mata Anindita terbelalak seraya mendelik ke arah suaminya melalu cermin mendengar Ricky menyebutnya sedang berusaha menggoda laki-laki, memangnya siapa laki-laki yang ingin dia goda? Pikir Anindita.
" Memangnya aku ingin menggoda siapa, Mas?! Aku ini bukan wanita penggoda!" Anindita memprotes ucapan Ricky.
" Tentu saja suami sendiri yang ingin kamu goda, memangnya kamu berniat menggoda pria lain?" Ricky terkekeh karena berhasil membuat istrinya merajuk.
Anindita mendengus karena Ricky berhasil meledeknya, dia langsung memalingkan wajahnya karena merasa kesal dengan ucapan Ricky tadi. Anindita bahkan bangkit dari kursi di depan meja rias dan ingin berjalan menjauh dari suaminya.
" Begitu saja marah, apa ketika bersama Pak Arya kamu juga suka merajuk seperti ini?" Ricky menahan tubuh Anindita dengan lengannya.
Langkah Anindita terhenti, bukan saja karena tangan Ricky yang menghalanginya namun juga karena perkataan Ricky yang menyinggung soal hubungannya dulu dengan Arya. Sungguh, Anindita tidak suka pernikahannya dulu dengan Arya dan kini dengan Ricky dibanding-bandingkan seperti ini.
.
" Kenapa Mas membanding-bandingkan pernikahan kita dengan pernikahan aku terdahulu?" tanya Anindita dengan nada tidak suka.
" Maaf, aku nggak bermaksud meng-compare,, aku hanya merasa kamu selalu galak terhadap aku saja." Melihat istrinya memasang wajah serius, Ricky langsung mengucapkan perkataan maafnya, namun dia menyelipkan sedikit protes kepada Anindita, karena Anindita kadang masih bersikap galak dan ketus kepadanya.
Anindita mende sah, " Sudah deh, Mas. Sebaiknya kita cepat berangkat. Kasihan jika Mbak Ria dan Mbak Lanny menunggu lama." Anindita mengambil tasnya lalu berjalan ke luar dari kamarnya itu karena tidak ingin melanjutkan pembahasan soal perbedaan sikapnya terhadap Arya dan Ricky.
***
" Hai, Ci Sandra. Apa kabar?" Anindita menyapa Sandra, setibanya dia di restoran mantan bosnya saat dia masih bekerja sebagai karyawan mini market di Malang.
" Oh, hai, Nyonya Ricky ..." Sandra menggoda dengan menyapa Anindita dengan sebutan Nyonya Ricky.
" Ah, Cici ..." Anindita tersipu malu karena Sandra menggodanya. " Rama, ayo salim sama Mami Sandra." Anindita menyuruh Ramadhan untuk mencium tangan Sandra.
" Hai, Rama ... apa kabar, Nak?" Sandra mengusap kepala Ramadhan, bocah yang terlahir di rumahnya dulu.
" Selamat malam, Bu Sandra." Kini Ricky yang menyapa Sandra.
" Selamat malam, Pak Ricky. Terima kasih sudah berkunjung kemari ..." Sandra menaruh hormat kepada Ricky, bukan hanya karena Ricky telah menyelamatkan hidup Anindita, namun juga mengabulkan impiannya mempunyai restoran sendiri.
" Oh, Ibu Fatma ikut juga?" Melihat kehadiran Mama Arya yang sedang dibantu Tita mendorong kursi rodanya karena Arka berada dalam pangkuan Eyang putrinya, Sandra pun menghampiri Mantan Ibu mertua Anindita itu." Apa kabar, Ibu?" Sandra menyalami Mama Arya.
" Alhamdulillah, saya sehat-sehat saja, Bu Sandra." sahut Mama Arya.
" Wah, Arka sudah besar, ya? Sini gendong sama Mami, kasian Eyang pasti berat pangku Arka." Sandra mengambil tubuh Arka dari pangkuan Mama Arya. " Wah, sudah tambah berat Arka, sebentar lagi Mami sudah nggak kuat gendong Arka, nih." Sandra terkekeh seraya menciumi pipi gembul Arka.
" Ci, apa tamu saya sudah datang?" tanya Anindita berbisik kepada Sandra karena tidak ingin terdengar oleh Mama Arya yang kini sudah berjalan lebih dahulu di depannya bersama Tita, Ricky dan juga Ramadhan.
" Belum, Nin. Belum ada yang datang, kok." sahut Sandra.
" Semoga mereka datang dan tidak mengecewakan Mama," gumam Anindita.
" Memang mereka itu siapa, Nin?" tanya Sandra penasaran.
" Dia itu adik-adiknya Mas Arya, Ci."
Sandra membulatkan matanya mendengar pengakuan Anindita soal tamu yang sedang ditunggu Anindita, karena Anindita banyak bercerita tentang kisah hidupnya setelah meninggalkan Malang, saat mereka berjumpa kembali beberapa tahun lalu.
" Mereka adik-adik Papanya Arya yang dulu kamu bilang mengusir kamu dari rumah suamimu itu?" tanyanya kemudian.
" Iya, Ci. Mereka itu Mbak Ria dan Mbak Lanny, anak-anak Mama mertuaku."
" Memang mau apa lagi mereka itu? Bukankah mereka juga sudah 'membuang' Ibu Fatma ke panti jompo?" Walau tidak berhubungan darah, nanum Sandra pun bisa merasakan kesal mengetahui perlakuan yang pernah diterima oleh Anindita dan juga Ibu Fatma oleh kedua adik Arya itu.
" Bagaimanapun juga mereka anak-anak Mamanya Mas Arya, Ci. Seperti apa perlakuan mereka, seorang Ibu pastilah ingin bertemu kembali dengan anak-anaknya, apalagi sudah beberapa tahun nggak bertemu." Sebagai seorang Ibu, Anindita merasakan akan sangat rindu dan merasa sedih jika harus berpisah dari anak-anaknya.
" Kalau mereka masih bersikap buruk sama kamu bagaimana, Nin?" Sandra ragu jika kedua adik Arya itu sudah berubah sikapnya menjadi lebih baik terhadap Anindita ataupun kepada Ibu Fatma.
" Saya berharap mereka banyak berubah, Ci. Karena kemarin saya bertemu mereka di makamnya Mas Arya, semoga mereka menyadari kesalahan mereka selama ini yang telah salah menilai saya dan juga menelantarkan Mama di panti jompo." Anindita berusaha berpikiran positif terhadap kedua adik-adik Arya.
" Semoga saja, Anin. Semoga saja apa yang kamu harapkan itu menjadi kenyataan. Tapi, Cici minta kamu tetap harus berhati-hati, jangan sampai mereka memanfaatkan kamu, Nin. Kamu yang dulu dengan yang sekarang beda, kamu yang sekarang adalah istri seorang eksecutive muda yang kaya raya, Sikap kamu yang terlalu baik, itu bisa menjadi boomerang jika kamu bertemu dengan orang yang salah. Tapi, Cici berharap kamu selalu dilindungi dari orang-orang berniat jahat terhadapmu, Anin." Sandra menyampaikan harapannya agar Anindita selalu bersikap waspada kepada siapa pun juga.
" Aamiin, Ci. Ya sudah, saya mau menyusul yang lain dulu." Anindita ingin menyusul suami, anak dan Mama Arya yang sudah berjalan di depannya, dia pun mengambil Arka yang tadi digendong oleh Sandra.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️