HOW CAN I NOT LOVE YOU

HOW CAN I NOT LOVE YOU
Bab 19 -- Jangan Ganggu Papa Dan Mama



Dengan bersungut-sungut Ricky berjalan meraih ponsel Anindita yang berbunyi. Jika saja sang istri tak mendorongnya, mungkin saat ini mereka masih menikmati indahnya bulan madu kedua mereka itu. Namun, kemauan Anindita yang tidak bisa ditolak, membuat aktivitas pergu mulan mereka gagal total.


Wajah Ricky bahkan kini memerah, karena dia harus menahan has ratnya yang belum tersalurkan. Kepalanya pun seketika dihinggapi rasa pusing. Bahkan saat dia mendapati nama Ramadhan yang muncul di layar ponsel Anindita, Ricky pun tidak dengan cepat menjawab panggilan telepon dari putranya itu.


" Siapa yang menelepon, Mas?" tanya Anindita saat sang suami menatap ke arah layat ponsel milik Anindita beberapa saat, tanpa mengangkat panggilan masuk tersebut.


" Rama video call," sahut Ricky datar, karena ga irahnya sudah sampai diubun-ubun namun digagalkan karena bunyi telepon Anindita.


" Rama?" Anindita terkesiap, hingga membuat dia bergegas mengambil dan memakai pakaiannya kembali. " Angkat teleponnya dong, Mas! Kenapa hanya dilihatin saja, sih!?" Anindita memprotes suaminya yang tidak dengan cepat mengangkat panggilan telpon dari Ramadhan, karena Anindita merasa ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Ramadhan yang membuat anaknya itu meneleponnya.


" Assalamualaikum, ada apa, Rama?" Dengan bertelanjang dada Ricky mengangkat panggilan video call dari putranya tersebut.


" Papa Adik Arka jatuh dari tangga ..." Suara Ramadhan terdengar kencang dibarengi suara Arka yang menangis dari belakang Ramadhan.


" Astaghfirullahal adzim ...!! Arka jatuh?!" Mendengar suara Ramadhan yang mengatakan jika Arka jatuh dari tanggq, Anindita sontak terkejut dan dihinggapi rasa khawatir. Dia bahkan langsung merebut ponsel dari tangan Ricky.


" Rama, mana Adik Arka? Kenapa bisa jatuh dari tangga? Mana Mbak Tita? Apa Mbak Tita nggak mengawasi Adik Arka?" Anindita berubah menjadi senewen karena jatuh dari tangga menurutnya adalah satu hal yang paling mengerikan. Apalagi jika terjadi pada anak kecil seusia Arka.


" Tidak apa-apa kok, Mbak Anin. Arka menangis hanya karena kaget saja." Suara Dessy pun kini yang terdengar dari belakang Ramadhan.


" Mbak Dessy, Arka mana?" Anindita tetap merasa penasaran dan khawatir walaupun Dessy mengatakan Arka baik-baik saja.


" Adik Arka tidak apa-apa kok, Mbak Anin." Tak lama Dessy yang menggendong Arka muncul di layar ponsel Anindita.


" Arka sayang, kenapa, Nak?" Anindita merasa sedih melihat anaknya itu menangis. Seketika rasa bersalah menggelayuti hatinya, karena dirinya meninggalkan anak-anaknya untuk bersenang-senang.


" Nggak apa-apa, Mbak Anin. Tadi hanya terpeleset jatuh dan kaget jadi menangis," sahut Dessy menerangkan. " Mbak Anin tenang saja. Di sini kondisi aman terkendali, di sana Mbak Anin nikmati saja bulan madunya dengan Kak Ricky." Dessy mencoba menenangkan Anindita yang terlihat senewen.


" Saya nggak bisa tenang mendengar Arka terjatuh dari tangga, Mbak Dessy. Apa Arka benar baik-baik saja? Ada yang terlkilir nggak saat jatuh tadi?" Anindita masih belum yakin, meskipun Dessy sudah menjelaskan dan menyuruhnya tenang.


" Nggak apa-apa, Mbak." Dessy lalu mengelitik dada Arka dengan menciumnya, membuat Arka seketika tertawa karena merasa geli. " Tuh, lihat, Mbak. Arka nggak apa-apa, kok. Arka malah bisa tertawa. Benar 'kan, Nak?!" Dessy menunjukkan kepada Anindita jika Arka sudah membaik dan berhenti menangis.


Saat melihat tawa Arka, barulah Anindita merasa tenang.


" Mama ..." kini wajah Arka nampak memenuhi layar telepon Anindita.


" Arka, Sayang." Anindita mengusap wajah Arka di layar ponselnya. " Maafkan Mama ya, Sayang." Bola mata Anindita sudah digenangi air mata yang siap menetes.


" Mama selamat membantu Papa bekerja. Bilang begitu, Sayang." Dessy mengajarkan Arka untuk mengatakan apa yang diucapkannya tadi.


" Mama antu Papa keja, ya ... ya ... ya ...!" bocah lucu itu bahkan menganggukkan kepalanya berulang saat mengucap kata 'ya' bermaksud agar Anindita menuruti apa yang dikatakannya.


" Ya sudah, Papa sama Mama mau kerja. Arka tutup dulu teleponnya, ya!? Dadah Mama ... Assalamualaikum." Dessy berniat mengakhiri sambungan telepon dengan Anindita agar tidak mengganggu acara bulan madu kakak dan kakak iparnya itu.


" Daaggg Arka, Waalaikumsalam ..." Sambungan telepon pun akhirnya berakhir setelah Anindita menjawab salam dari Dessy.


" Apa kita bisa lanjutkan yang tadi sekarang?" bisik Ricky memainkan lidahnya di telinga Anindita.


" Mas Ricky ini kok nggak peka sekali, sih!? Aku khawatir karena Arka terjatuh, Mas malah mau melanjutkan yang tadi. Dasar egois! Apa karena Arka itu bukan darah daging Mas Ricky, lalu Mas Ricky nggak perduli terhadap Arka?!" Kesal karena Ricky kembali mengajaknya bercinta di tengah kecemasannya, akan apa yang menimpa pada Arka, membuat Anindita geram.


" Kenapa kamu bicara seperti itu, Anin?" Ricky tercengang saat Anindita marah dan mengatakan jika dirinya tidak menyayangi Arka. Padahal sejak bocah itu terlahir, Ricky selalu berusaha memberikan kasih sayang kepada Arka.


" Aku nggak pernah membedakan kasih sayangku terhadap Rama dan Arka. Sejak aku menikahimu, Arka sudah menjadi anakku juga. Dan aku tidak pernah membedakan sikapku kepada mereka hanya karena Arka itu anak sambungku, Anin!" tegas Ricky menepis tuduhan Anindita terhadapnya.


" Maaf, Mas. Aku hanya mengkhawatirkan Arka." Anindita terisak. Dia tahu telah salah menilai Ricky. Tidak dapat ditampik jika sebelum menikahinya pun Ricky selalu menyayangi anak-anaknya.


Ricky memutar pundak Anindita hingga kini menghadapnya. Bahkan Ricky memeluk Anindita dan membiarkan Anindita menangis dalam pelukannya.


" Dessy tahu apa yang bahaya atau tidak untuk anak-anak, Anin. Jika Dessy mengatakan semua baik-baik saja, artinya tidak ada yang perlu kamu cemaskan lagi.." Ricky mengusap dan mengecup pucuk kepala Anindita. Dia seolah mengerti kegelisahan seorang Ibu yang kini dirasakan oleh Anindita.


Anindita menganggukkan kepalanya, tanda dia paham apa yang diucapkan oleh suaminya itu.


Sementara itu di rumah Dessy ...


" Rama, kenapa Rama telepon Mama tadi? Mama jadinya khawatir, kan?" Dessy menanyakan alasan Ramadhan menelepon Anindita dengan menggunakan ponsel Ramadhan.


" Habisnya Adik Arka nangis terus, Tante. Rama jadi takut." Ramadhan menjawab jujur.


" Iya, tapi Mama 'kan jadi khawatir. Padahal adik Arka sudah nggak apa-apa." Dessy menegur keponakannya dengan sangat hati-hati.


" Papa sama Mama Rama 'kan sedang bekerja. Rama bilang, Papa janji mau kasih adik buat Rama sama adik Arka, kan? Makanya Rama jangan ganggu Papa dan Mama bekerja." nasehat Dessy kembali.


" Memangnya Papa sama Mama bekerja buat dapetin adik bayi untuk Rama sama Adik Arka ya, Tante?" Pertanyaan polos dari Ramadhan membuat Dessy menahan senyumannya.


" I-iya, makanya Rama jangan telepon-telepon Mama kalau bukan Mama sendiri yang telepon ke Rama, ya!?" Dessy mengiyakan agar Ramadhan tidak banyak bertanya lagi kepadanya.


" Iya, Tante. Rama nggak akan ganggu Papa sama Mama lagi, kok!" tegas Ramadhan mengerti apa yang diperintahkan oleh Dessy kepadanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading,❤️